"Daurah" Kekuasaan Ala PAN 10
Senin, 23 Mar '09 09:08
Partai Amanat Nasional (PAN) yang pada Pemilu 2009 kali ini mendapat nomor urut 9 pada 9 September 2008 lalu menggelar acara peluncuran nomor tersebut. Dalam acara yang dikemas serba 9 itu Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir (SB) melontarkan tekad PAN untuk siap memimpin negeri ini jika rakyat menaruh kepercayaan terhadapnya. ”Mari satukan bakti dan tekad untuk membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Kitalah yang akan membawa perubahan yang lebih baik bagi tanah air ini,” ucapnya berapi-api.
Sebagai sebuah partai yang lahir dari rahim reformasi dan belum pernah merasakan sebagai the ruling party, maka harapan dan ambisi petinggi PAN tersebut tentu absah-absah saja, sebatas ambisi tersebut diraihnya dengan cara-cara normal, rasional, demokratis dan fair. Apalagi dalam konteks perjuangan politik, yang target utamanya memang untuk meraih kekuasaan.
Sejatinya, kalau menilik peta kekuatan PAN berdasarkan perolehan suara nasional pada Pemilu 1999 dan 2004 lalu, ambisi petinggi PAN itu tidak di luar batas kemampuan alias gedhe rumongso (GR) atau seolah-seolah “bagai si pungguk rindukan bulan” lantaran suara di luar ambang batas kewajaran.
Kalau PKB saja mampu menjadikan Gus Dur sebagai presiden meski pada Pemilu 1999 perolehan suara PKB hanya 12,61% (13.336.982), atau kalau Partai Demokrat mampu menjadikan SBY sebagai presiden padahal perolehan suaranya pada Pemilu 2004 tak lebih dari 7,46% (8.437.868). Maka, PAN yang pada pemilu 1999 memperoleh 7,12% (7.528.956) suara dan pemilu 2004 dapat 6,4% (7.303.324) suara tentu saja wajar punya mimpi untuk meraih posisi the ruling party dengan menjadikan tokoh PAN sebagai presiden atau wakil presiden.
Permasalahannya, sejauhmana akseptabilitas tokoh atau figur PAN tersebut di mata rakyat. Jadi faktor krusialnya terletak pada kualitas tokoh/figur tersebut dan bukan pada perolehan suara partai. Toh suara yang kurang memadai bisa dipoles dan disiasati dengan skenario koalisi antar partai, sebagaimana dulu yang dilakukan oleh PKB pada 1999 dan Partai Demokrat pada 2004.
Kalau memang para petinggi PAN merasakan bahwa pemilu 2009 adalah saatnya partai berlambang matahari putih bersinar itu memegang tampuk kekuasaan/pemerintahan negeri ini, maka siapa yang pantas dijadikan ikon untuk memegang amanat tersebut? Siapakah tokoh PAN yang bakal laku dijual menjadi RI-1 atau RI-2?
Persoalan figur agaknya menjadi hal pelik dan krusial bagi PAN. Sebab bagaimanapun, jika partai ini ingin menjadi the ruling party maka tidak ada jalan lain selain menawarkan tokoh/figur yang laku di bursa pemilihan presiden-wakil presiden. Lantaran tidak mungkin PAN akan mendapatkan durian runtuh untuk sebuah posisi panas tersebut.
Jika figur tersebut diambil dari tokoh-tokoh internal PAN yang ada saat ini maka hal itu akan menjadi persoalan tersendiri. Maklum, di pasar polling atau survei saat ini tokoh-tokoh petinggi PAN, seperti Soetrisno Bachir, AM Fatwa, Hatta Rajasa, Zulkifli Hasan, Abdillah Toha, maupun Didik J Rachbini, popularitas dan akseptabilitasnya masih kalah jauh dibanding tokoh-tokoh dari luar PAN semisal SBY, Megawati, Jusuf Kalla, Wiranto, Sutiyoso, Sultan HB X, dan Prabowo.
Berdasarkan beberapa hasil survei, tokoh PAN yang masih memiliki rating tinggi adalah Amien Rais, mantan ketua umum PAN yang kini berposisi sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai PAN.
Dari sini bisa ditegaskan bahwa tokoh PAN yang masih bisa “dijual” mungkin hanya Amien Rais. Ketokohan figur yang satu ini masih cukup kuat karena dia adalah lokomotif reformasi Indonesia. Cuma persoalannya, Amien Rais pasca kekalahannya dalam Pilpres 2004, jauh-jauh hari sudah menyatakan tidak akan maju lagi dalam arena Pilpres 2009, mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi. Dia beberapa kali malah menyatakan ingin memberikan kesempatan kepada figur-figur muda untuk maju memimpin negeri ini.
Karena itu, dalam kalkulasi penulis, cara yang paling aman bagi PAN untuk memuluskan ambisinya menjadi the ruling party pada ajang Pilpres 2009 nanti adalah dengan meng-endorse tokoh lain di luar PAN. Sebab kalau mengajukan tokoh-tokoh internal sendiri tidak mungkin ambisi tersebut akan mampu terpenuhi.
Dengan satu catatan, dalam mendukung tokoh luar tersebut posisi PAN harus sebagai inisiator/pelopor, dan jangan hanya sebagai pengikut/pengekor dari partai lain. Sebab antara inisiator dan pengekor itu memiliki suasana psikologi atau konsekuensi yang berbeda-beda.
Saat ini dari hasil survei maupun polling beberapa lembaga riset politik terdapat nama-nama yang memiliki peluang besar untuk menjadi RI-1 dan RI-2 pada Pilpres Juli mendatang, seperti SBY, Megawati, Prabowo, Sultan HB X, dan JK. Nah, jika PAN bisa membuat kalkulasi yang cerdas tidak ada salahnya kalau ia mengusung, menyokong, dan meng-endorse tokoh-tokoh tadi.
Yang pasti, sekarang PAN sudah punya kartu truf dan modal politik yang cukup, tinggal sejauhmana para petinggi partai tersebut lihai memainkan kartu tadi agar bisa memenangkan permainan politik tingkat tinggi, dan bukan malah melakukan blunder sehingga kesempatan tersebut akan hilang percuma.
Golkar, PDIP, PKB, PD dan PPP sudah berkesempatan mengendalikan pemerintahan negeri ini, sekarang saatnya beralih kepada partai lain yang belum pernah merasakan kesempatan berharga tersebut. Dan PAN punya peluang besar melakukan “daurah kekuasaan” (pergantian kepemimpinan nasional) agar terjadi sirkulasi kekuasaan secara sehat, aman dan damai.
Mengingat, kekuasaan yang hanya berputar-putar pada partai itu-itu saja akan sangat berpotensi memunculkan oligarki kekuasaan, yaitu kekuasaan/pemerintahan yang hanya berpusat pada segelintir individu/kelompok. Juga terjadi plutokrasi kekuasaan, yaitu kekuasaan yang hanya berpusat pada orang-orang kaya atau orang-orang yang kuat secara materi/modal.
Yang kita inginkan terjadi di negeri ini adalah meritokrasi kekuasaan, yaitu kekuasaan yang dijalankan oleh individu/kelompok yang paling pantas untuk memimpin negeri dalam bingkai pemerintahan yang demokratis. Dan PAN, salah satu partai yang punya kapasitas untuk itu. Semoga! []
Tag: Soetrisno Bachir, Amien Rais
Terkait:
-
Nestapa Amien Rais
Kamis, 4 Mar '10 22:26 -
Polemik soal kriminalisasi kebijakan
Kamis, 28 Jan '10 21:58 -
Ketua Umum PAN di Bawah Ketiak SBY, PAN Tetep Anak Nakal bagi Koalisi
Sabtu, 9 Jan '10 15:45
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
AndyMSE: Menarik
-
eshape: Menarik
-
aramichi: Menarik
-
Herman Saksono: Keren
-
yusro: Menarik
-
aplikasi politik:
-
didinu: Menarik
-
denologis ybs: Inspiratif


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
tapi kita ambil ulasannya yang cukup jernih
kita kan sudah sepakat
semua partai mirip banget
serba tidak jelas arahnya
salam
Tapi kita dijual, dengan kasus2x terdahulu dll, pasti dihajar kanan-kir. Jadi selamat tinggal PAN
Silahkan login untuk memberikan pendapat