Baiknya Pemimpin Muslim atau Non-Muslim? 142
Minggu, 29 Mar '09 15:17
Barusan tadi ada posting menarik di blog saya, silahkan di baca:
Saudara-saudaraku sebangsa setanah air, cukuplah kiranya kita memberikan kesempatan kepada kaum muslim untuk memimpin bangsa ini, cukuplah sudah !, apa yang sudah mereka berikan kepada bangsa ini ? apa ? Negara terkorup nomor satu !, negara terporno nomor satu !, negara terkaya alamnya tapi termiskin rakyatnya !. aborsi merajalela, zina merajalela, permasalahan bangsa ini berputar-putar pada sembako hilang dan bbm hilang, itulagi-itu lagi, kapan kita mau maju ? cukuplah sudah ! saudaraku cukuplah. Mohon maaf saudara-saudaraku muslim, anda selalu berkoar-koar sebagai ummat terbaik, benarkah ????, tidak sadarkah anda dengan kondisi indonesia yang seperti pengidap tbc yang sedang menunggu ajal tiba ???. inikah ummat prestasi ummat terbaik ? negara terporno ? negara terkorup ? negara yang dipenuhi para pencuri ? inikah ummat terbaik ????, sadar dirilah, anda muslim, anda sudah terbukti tidak mampu mengurus bangsa ini, sekarang saatnya ijinkan kami para hamba pelayan Tuhan mengurus bangsa ini, masalahnya bukan soal umat terbaik atau bukan terbaik, persoalannya adalah bukti ! dan anda wahai muslim sudah terbukti tidak mampu dan sudah terbukti anda adalah umat terburuk. Jadi serahkanlah kepemimpinan indonesia kepada kami yang bukan muslim. kami berjanji akan memenuhi bumi indonesia ini dengan kemakmuran dan keadilan. Hamba Pelayan Tuhan
Lalu saya balas dengan tulisan ini:
Sahabatku Pelayan Tuhan, persoalannya bukan hanya siapa yang berhak memimpin, tapi dengan sistem apa dia akan memimpin kelak? Siapa pun orangnya, tapi memimpin dengan sistem sekuler-liberal-kapital yang self-destructive seperti sekarang, maaf, percumah. Ibarat mobil bobrok hanya ganti sopir, mana bisa beres? Mau sopirnya Michael Schumacher kalo mobilnya sudah usang dan saatnya diganti, ya tidak akan membawa arti apa2, selama mobil itu belum diganti. Lihat AS, pemimpinnya selama ini non-muslim, tapi sistemnya sekular-liberal-kapital, hasilnya? Perzinaan merajalela, homoseks dilegalkan, mengirim pasukan ke Afghan dan Irak hanya untuk minyak, jurang kesenjangan ekonomi menganga lebar-lebar.. Pada saat yang bersamaan, negeri2 lain seperti Inggris, Perancis, Jerman, dll hanya bisa mengamini saja, karena mereka sejatinya se-ideologi. Apa seperti ini yang Anda inginkan? Apa yang bisa Anda janjikan sebagai non-muslim, kalau sistemnya masih sistem yang memiliki cacat bawaan untuk menyengsarakan umat manusia? Apa yang bisa Anda janjikan wahai Pelayan Tuhan? Sehingga persoalannya adalah, apakah Anda punya konsep sistem/ideologi alternatif? Apakah Anda punya konsep yang genuine, orisinal dan otentik yang dirumuskan dari Kitab Bibel Anda? Apakah Anda memiliki konsep ekonomi, politik, sosial, hukum yang detil dan operasional? Dan lebih dari itu sudah kah teruji dan terbukti dalam sejarah? DAN BUKAN COPY PASTE DARI SISTEM SEKULAR-LIBERAL-KAPITAL seperti sekarang! Punyakah Anda wahai Pelayan Tuhan? Anda paham yang saya maksud? Misalnya ketika negeri kita tercinta langganan dihempas badai krisis ekonomi yang berulang, apa tawaran solusi Anda? Menurut Anda apa akar masalahnya? Bagaimana solusinya tuntasnya? Lalu bagaimana kebijakan ekonomi-moneter tawaran Anda? Sudahkan Anda menyiapkannya? Ketika free sex merajalela, apa tawaran solusi integral Anda? Oke, kalau tidak mampu detil, garis besar sajalah, sudah kah Anda siapkan? Ketika kemiskinan meningkat, pengangguran meningkat, bagaimana tawaran solusi Anda? Mana tulisan Anda, mana argumen Anda, mana blog Anda yang memaparkan semuanya tadi!? Sahabatku, kita ini sedang membangun peradaban, jangan main-main, jangan lagi coba-coba, jangan lagi bereksperimen! Kalau Anda hanya bisa memberi slogan kosong, ketika memimpin Anda tidak akan jauh berbeda dengan apa yang tengah terjadi saat ini, bahkan bisa lebih buruk! Sekalipun secara person Anda baik, apa gunanya jika menjalankan sistem yang buruk dan destruktif!? Apa gunanya jika Anda hanya akan menjalankan sistem politik yang oportunistik, sistem ekonomi yang kapitalistik, sistem pendidikan yang sekulersitik, sistem kesehatan yang materialistik? Seperti yang tengah berlangsung sekarang. Itulah mengapa selama ini negeri kita tidak pernah bisa lebih baik. Bukan karena masalah person, tapi lebih kepada sistem yang dijalankan oleh person tersebut. Itulah mengapa kami menyerukan kepada semua pihak UNTUK BERHENTI MENDUKUNG DAN MENJALANKAN SISTEM SEKULAR-LIBERAL-KAPITAL ini, dan menggantinya dengan sistem kebalikannya, yaitu SISTEM SPIRITUAL-TRANSENDENTAL. Dan jika agama Anda tidak bisa memberikan konsep yang detil, konkret dan operasional, sudah lah, setuju dan yakin saja dengan Islam, syariah dan khilafah! Terakhir, jika Anda masih mendukung sistem sekular-liberal-kapital yang zhalim ini, jangan berani-berani sebut diri Anda PELAYAN TUHAN, karena sesungguhnya Anda hanyalah PELAYAN KAPITALIS!
Tag: islam, spiritual, muslim, nonmuslim, kapitalis, sekuler, liberal
Terkait:
-
Relativisme dan Penodaan Agama [copas]
Rabu, 17 Mar '10 14:34 -
Allah, Bukan Milikmu
Senin, 18 Jan '10 00:59 -
Berpuasa agar Anda Sehat
Rabu, 26 Agu '09 12:52
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Xaliber von Reginhild: Biasa
-
andyanto: Bagus
-
nicowijaya: Menarik
-
gunawanrudy: Biasa
-
Bu Noor: Menarik
-
pajolo: Menarik
-
yusro: Lucu
-
AndyMSE: Menarik
-
didinu: Bagus
-
Upik: Penting
-
a.di.wena: Menarik
-
Mas Paman: Lucu
-
babyloniamaria: Menarik
-
Catshade:
-
guawijaya: Menarik
-
cm4nk:
-
Ahmadmaulana: Penting
-
GaraMata: Biasa
-
ariawan: Bagus
-
Richard Fang: Menarik
-
hamatamu: Biasa
-
Ordinary Kid: Menarik
-
Rane:
-
Sri Kirana: Menarik
-
Lemon S. Sile:
-
Riyono: Menarik
-
Reinhart Velatrache:
-
opiniherry:
-
rampok: Lucu
-
wawa_khatulistiwa: Menarik
-
golinggo:
-
asep1974:
-
hmcahyo:
-
Kopral Bambang: Biasa
-
Irfani Latif: Bagus
-
tennomeiji17: Keren
-
ndableg: Bagus


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Dan saya tidak setuju jika ada generalisasi pukul rata antara "sekuler-liberal-kapital". Sekularisme (pemisahan antara negara dan agama), liberalisme (in a sense of political ideology) dan kapitalisme (sistem ekonomi), tidak mesti datang dalam satu perangkat dan tak perlu diseret-seret jadi satu kesatuan buruk.
Perkara sekuler, coba lihat Mesir. Tak ada jaminan kebaikan kalau ideologi agama dijadikan ideologi politik.
*komen pendek dulu*
Lha iya, kan memang saya bilang Mesir itu yang sekuler. Membawa sistem agama sebagai ideologi politik itu tak membawa jaminan kebaikan. IMO, sistem agama sebagai politik yang diterapkan secara literal justru malah memberi represi.
saya dukung pemimpin itu,.. apapun agamanya..
Hubungan antara kepemimpinan dengan agama adalah ketika pemimpin itu menerapkan ajaran agama dengan benar dan baik (karena saya yakin agama yang dianut manusia Indonesia adalah agama yang baik semua), bukan berdasarkan apa agamanya.
Kalo mau jadi pemimpin ya ikuti mekanisme yang ada, gak usah bawa-bawa agama
adanya kebebasan individu untuk memanfaatkan peluang bisnis (misal membuka usaha tambal ban) dan mengambil keuntungan sekaligus risiko dari usaha tsb.
kontrasnya adalah sistem dimana ada satu kelompok (biasanya pemerintah) yang membuat kuota jumlah usaha tambal ban dan menunjuk siapa yang boleh menjalankan usaha tsb.
IMO, kebebasan mengambil risiko untuk membuka bisnis adalah salah satu motor inovasi untuk sains, teknologi, & entrepreneurship.
tentunya banyak yang bisa dikritik dari sistem kapitalisme. saya hanya ingin kita tidak terpaku pada jargon2 atau label (misal kapitalisme) tanpa tahu mekanika dari suatu sistem.
dan menurut saya, mekanika ini - sperti palu- bisa dipakai oleh siapa saja; islam, kristen, hindu atau siapapun bisa menggunakan palu asal diajarkan menggunakannya dengan benar sehingga tidak melukai dirinya sendiri.
saya merasa aneh saja, dari semua tulisan Kang Pedy selalu menyalahkan kapitalisme, liberal, sekulerisme...
sementara saya tidak melihat alesan buruknya sistem tersebut dari paparan kang Pedy...
kalo kapitalisme disamakan dengan kerugian negara, tidak cinta tanah air,.. anak SMU pun tahu itu...
Tapi, saya suka heran kenapa mereka melupakan saudara lain di, misalnya, Sudan. Bukankah mereka tidak kalah penting [kalau bukan tidak kalah menderita]
Sori deh, retorika agama tampak sering meleset di Indonesia
Dulu ada orang tak percaya Fidel Ramos bakal bisa jadi presiden Filipina karena dia Protestan. Nyatanya bisa.
Itu baru dari latar keagamaan, yang dalam memipun belum tentu membawa-bawa soal agama (memang pelantikannya pakai kitab suci).
Bagaimana dengan Indonesia, ketika perbedaan latar keagamaan pemimpin lebih kentara, antara muslim dan nonmuslim? Butuh waktu, butuh kedewasaan, dan ehm... sejarah tak selamanya bisa dirancang.
Itu baru dari sisi latar belakang keagamaan, belum sampai memimpin dengan cara sesuai keyakinan tafsir terhadap ajaran agama yang dianutnya.
Pelayan Tuhan yang pengecut model gitu nggak usah ditanggapi mas pedi.. komen kaya gitu nggak penting banget diladeni, gak mutu?! omongan anak balita?!
politikana jangan sampe jadi arena sinisme agama.. gak lucu..!!
Tapi karena saya non-muslim, maka saya memilih pemimpin muslim yang moderat, yang masih memperhatikan dan memanusiakan orang-orang non-muslim seperti layaknya muslim lainnya.
Saya memilih pemimpin yang berdemokrasi, bukan ber theokrasi
Ah...ah...ah....
n.b: setuju dengan comment sdr. massto: politikana jangan sampe jadi arena sinisme agama.. gak lucu..!!
Komunis nggak selalu ateis lho. Komunis-agamis seperti Haji Misbach dari SI Merah itu juga ada. Begitu pula Etienne Cabet dari sosialisme Perancis.
Mirip dengan hidup ini adalah takdir atau pilihan. Setiap pihak punya argumen utk memenangkan keyakinannya. Tapi sudahkah kita berefleksi ke dalam diri dan menonjolkan diri sebagai manusia tanpa harus, menyatakan saya umat terbaik, saya pelayan Tuhan, dan retorika sejenis lainnya.
Sistemnya yang dikedepankan bukan masalah NAMA/TAMENG. Sehingga kita tidak terjebak dalam hal yang sensitif, mari berkolaborasi demi BANGSA yang MAJEMUK ini.
sorry banget neh mas pedy,..
Jangan salah, saya juga pendukung pasar bebas, lha wong aku itu juga pedagang cilik je Mas.. Saya juga percaya mekanika pasar bebas itu bisa mensejahterakan rakyat..
Tapi menurut saya, ada perbedaan mendasar antara mekanika pasar bebas yang "bebas nilai" yang berjalan fair dan alamiah, dengan pasar bebas yang merupakan instrumen bagi ideologi kapitalisme dan liberalisme..
Contohnya, jualan di pasar atau nambal ban dipinggir jalan itu pasar bebas, tapi kalau sudah sampai bebas menjual apa pun, bebas mengkomoditaskan apa pun, sampai aurat, syahwat, pornografi, pornoaksi, bahkan lokalisasi, juga menjadi komoditas ekonomi yang bebas dan absah diperjualbelikan, nah inilah yang saya maksud dengan liberalisme ekonomi yang merusak itu...
Juga menjadikan public property seperti SDA kepada swasta ini juga pasar bebas yang sudah kebablasan alias masuk praktek liberalisme dan kapitalisme ekonomi. UU liberalisasi migas, UU PMA, UU HPH, UU BHMN yang "mengkomersialisasi" pendidikan, juga kesehatan, ini juga bentuk dari liberalisme dan kapitalisme ekonomi yang harus di lawan!
Di luar itu, seperti buka usaha tambal ban atau jualan jajan pasar, sumonggo saja!
Jelas sekarang negeri menderita akibat kapitalisasi dan liberalisasi di berbagai segi. Pernah ngerasa susah sekolahkan anak nggak sih!? Itu karena kapitalisasi pendidikan. Pernah ngerasa susah berobat nggak sih? Itu akibat komersialisasi bisnis kesehatan. Pernah ngerasa khawatir pergaulan remaja anak/adik kita nggak sih? Itu karena liberasisasi pergaulan dan regulasi pornografi dan pornoaksi...
Kalau kita merasa susah dan sumpek, lalu apa tawaran solusinya? Via-a-vis sistem kapitalisme dan liberalisme ini. Sebagai seorang muslim boleh dung saya tawarkan solusi dari perspektif keyakinan saya..
siapa tau bnyk yg berfikiran sama dengan mas pedy. Mas pedy bisa jd inspirasi bagi mereka yg berfikiran sama dengan mas pedy
salam sukses!...
Negara yang menerapkan sistem spiritual-transendental memang saat ini belum ada. Tapi dalam sejarah pernah ada. Yaitu sistem khilafah Islam yang pernah berjalan selama 13 abad lamanya itu. Jelas sekali itu peradaban yang di-inspirasi oleh gagasan-gagasan spiritual-transendental, dan bukan liberal-kapital. Lha wong hukum yang diterapkan jelas dari Quran dan Sunnah koq, bukan selain keduanya. Sejarah mencatat sepanjang 13 abad itu ideologi dan hukum agama yang diberlakukan, baru setelah terjadi kudeta oleh Kamal Attaturk tahun 1924, semuanya diganti dengan ideologi dan hukum sekuler, itu lah awal mulanya sekulerisme dan akhirnya liberalisme dan kapitalisme menjadi pedoman bagi negeri-negeri Islam.
Soal ide khilafah nggak laku di Arab, lha wong Arab Saudi itu kacungnya AS di Timteng koq Mas.. Jelas mereka berpihak sama majikannya, ketimbang status quo dan privilege-nya terancam. Udah pernah baca bukunya John Perkins kan? Yang menggambarkan polah pangeran2 arab yang memalukan itu.
Soal khilafah, jangan antipati dan mengisi benak kita dengan air yang penuh dulu. Sekali lagi, yang penting kan konsep dan solusi kan? Lagi pula kans kembalinya khilafah itu bukan ngimpi koq Mas, beberapa pakar forecasting dan futurolog setidaknya tidak sepesimis kita. Coba baca Mapping the Global Future 2020 yang dibuat oleh pakar riset independen NIC, yang menulis khilafah sebagai salah satu skenario yang mungkin terjadi pada tahun 2020.
dan apakah mereka (kesultanan islam) mampu mengharumkan nusantara seperti SRIWIJAYA MAJAPAHIT??
Padahal konsep liberal yg dianut setiap negara, bisa saja berbeda, sama halnya dengan demokrasi.
Selalu disesuaikan.
Pertanyaannya, apakah konsep AlQuran dan Sunnah juga bisa menyesuaikan dengan kebutuhan di tiap kawasan? negara? local culture? kearifan lokal bangsa Indonesia?
Jujur saja, bagi saya, tidak butuh sebuah alasan dan sebab akan "dosa" dan "pahala" .. dan banyak kelompok masyarakat selain muslim di negeri ini juga tidak peduli "surga" dan "neraka" islam.
Berikanlah sebuah konsep yang membuktikan bahwa bisa menjawab semua kebutuhan kelompok tersebut...
demikian Bung Pedy
mama lauren bukan??..wkkkkk
mohon dijelaskan..!!
Saya yakin Islam sejak awal didisain untuk bisa mengakomodir pluralitas. Terkait dengan ranah privat seperti ibadah, pernikahan, makanan, minuman dan pakaian, masing-masing diberi kebebasan untuk menjalankan sesuai dengan keyakinan dan agamanya. Orang Hindu misalnya, silahkan saja beribadah sesuai dengan agamanya di tempat ibadatnya, silahkan saja memakan dan meminum apa yang boleh menurut agamanya. Dan tidak ada paksaan untuk memeluk agama tertentu.
Tapi di ranah publik seperti pengaturan ekonomi, politik, hukum, sosial, kapitalisme jelas tidak layak untuk dipertahankan, di sinilah solusi Islam bisa dihadirkan. Detilnya akan terlalu panjang untuk dijelaskan di sini. Anda bisa berkunjung ke blog dan blogroll saya untuk mengetahui lebih jauh lagi.
Dan bukankah sejak Islam pertama kali diterapkan di Madinah, masyarakatnya sudah plural dan majemuk? Ada Nasrani, Yahudi, Majusi dan Musyrik yang pagan itu. Semuanya hidup dalam satu negeri, dan tidak ada masalah. Sejarah mencatat satu2nya masalah adalah Yahudi, itu pun karena mereka melanggar perjanjian. Yah sampai sekarang mereka juga sering buat ulah.
Lalu ketika peradaban Islam terbentuk di Spanyol pada abad ke-8 M. Itu juga masyarakatnya sangat plural. Sejarahwan biasanya menulis Spain In Three Religion; Jews, Christian and Moslems. Dan kita pun tidak pernah mendengar terjadinya massacre atau etnic cleansing atau genosida dalam sejarah khilafah bukan? Justru dalam alam kehidupan modern ini massacre atau etnic cleansing atau genosida ini marak terjadi! Tul nggak?
Indonesia sebagai identitas primordial tetap diakui dan eksis, jika itu yang dimaksud. Nabi dulu saja sempat rindu dengan "kampung halamannya" Makkah, ketika lama tinggal di Madinah. Ekspresi kecintaan kepada identitas primordial sah-sah saja dan wajar. Tetapi ketika kita mendisain ideologi berdasarkan identitas primordial ini, nah itu baru masalah.
proses berkonsensus untuk itu gimana??
jangan mudah mempersamakan dunia arab jaman nabi dengan dunia arab masa kini, apalagi sama indonesia masa kini!!..
khalifah!!!..bikin negara sendiri aja kaya kartosuwiryo,..paling juga mampus!!
Pancasila dan UUD 45 itu kan masih general sekali. Ibaratnya, visi dan cita-cita negeri kita. Dan mereka masih perlu dijabarkan agar operasional. Nah Soekarno zaman Orla dulu mencoba menjabarkan dengan ideologi Sosialisme, gagal. Lalu Pak Harto zaman Orba mencoba menjabarkan dengan kapitalisme, dan juga gagal. Orde reformasi ini juga menjabarkan dengan kapitalisme-liberal, bahkan neo-liberal (lihat betapa masifnya mereka gadai BUMN kita). Nah kalo semuanya itu belum berhasil, kenapa tidak diberikan kesempatan itu kepada Islam?
bukan coba2
Sistem Pemerintahan Islam memang sangatlah bagus
tapi kita tetap mengacu kepada Bhinekatunggal Ika
Memberikan kesempatan pada Islam yang mana nih Mas? Ada PKB, PKS, PPP, PBR, PBB, dll. Selama ini presiden RI juga sudah selalu diserahkan ke orang Islam kok. Kok kedengerannya kayak mau bikin sistem negara baru ya?
Kalo contohnya selalu mengacu pada kasus di sekian abad yang lalu, apa masih up-to-date Mas? Adakah contoh negara dengan sistem dan prinsip seperti yang Mas cita2kan itu di zaman sekarang ini (dan berhasil -- nantinya bisa pula diperdebatkan ukuran berhasil)?
baca sejarah dulu yang Khatam tentang republik ini!!
bukan mbaca sejarah arabisme nggak mutu buatan syekh puji tukang pedofili..!!
emang kau pikir cuma laskar jihad tok yang angkat senjata usir penjajah?!
baca juga sejarah piagam djakarta..!! sejarah orang2 buangan di boven digul..!! kisah sultan2 katro macam pangeran2 arab.. yang cuma mikir kawin, selir, seks..gadai tanah bumi nusantara sama kumpeni..!!
baca sejarah, bila perlu kau panggil doraemon, kau pinjam pintu ajaibnya biar Lu liat ndiri, siapa dimana apa hakikat berdirinya negara republik ini..!!
biar lu tau kebesaran jiwa founding father muslim yang nggak ngotot macam kau dan arabisme kau?!
khilafah taek kebo..!!
gw MUSLIM tp bukan macam kau..!!
Kita berjuang lewat jalur ekstra parlemen Mas, dan tidak berjuang lewat parlemen, jadi tidak ikut partai mana pun, bukan PKB, PKS, PPP, PBR, PBB, dll.
Permasalahannya bukan contoh yang sekian abad lalu, tapi kita cari sistem alternatif apa gantikan kapitalisme global yang self-destruktif ini. Lagian menurut saya sesuatu yang datang dari masa lalu tidak selalu berarti usang dan kadaluwarsa. Karena masa lalu dan masa kini, secara substansial sama saja, problem yang dihadapi sama saja, sosial, ekonomi, politik, hukum, dll Yang berbeda hanya sarananya saja yang semakin canggih. Dulu naik kuda sekarang Mitsubishi Kuda, dulu merpati pos sekarang sms dan email, dll dll. Namun secara sosiologis-antropologis, karakter dan problem asasi manusia nyaris tidak berubah. Pendapat seperti ini juga datang dari John Naisbitt dalam buku terakhirnya Mindset!
Wah gawat juga nih, mau mengganti pemerintahan tapi ekstra parlementer. Gak salah tuh Mas? Kalo saya gak salah, itu namanya kudeta lho Mas
Kalo gak ada contoh yang applicable di zaman sekarang, cuman bilang kalo solusi Mas pasti cespleng untuk zaman sekarang juga (selain katanya cespleng untuk zaman dulu, katanya lho), namanya sama saja dengan meminta orang menelan ucapan Mas mentah2 dong
Perubahan yang mengakar dan menyeluruh, iya. Tapi kudeta berdarah ala marxisian, nggak lah yauw.. Ada beberapa contoh perubahan revolusioner dalam sejarah yang tidak harus berdarah-darah..
Hm, jadi acuannya adalah 'masa lalu' ya. OK, historical evidence. Jadi memang tidak ada contoh kenapa itu tidak diterapkan sekarang.
Ada sedikit paradoks.
Pertama, kalau memang itu sistem yang sangat baik, kenapa sekarang tidak ada yang menerapkan? Apakah sesulit itu? Ataukah kita mau bicara teori konspirasi anti-Islam di sini?
Kedua, kutipan "kita ini sedang membangun peradaban, jangan main-main, jangan lagi coba-coba, jangan lagi bereksperimen!"... Dengan menerapkan sistem yang tidak pernah dipakai dalam beberapa puluh tahun terakhir (walaupun telah berjalan selama 13 abad menurut mas @Fedy), apakah tidak bisa dikategorikan eksperimen juga?
Ketiga, kira-kira kenapa sih sistem khilafah jatuh? Apakah HANYA karena Kemal Ataturk atau ada faktor lain? Sekali lagi, mau bicara teori konspirasi anti-Islam kah?
Itu dulu sih, masih ada kira-kira 4-5 paradoks lain, tapi di sini masih jam kerja (pas jam makan siang sekarang)
Makin gak jelas arah solusi yang Anda tawarkan...
Saya sih pis pis aja, yang belum jelas pis apa gak itu solusi Anda malahan, lha diminta ngasih contoh yang up-to-date aja berkelit mulu
Jika anonimitas cukup mengganggu anda, saya kira pendapat Mas Paman, Boy Avianto, Leksa, Yusro, DV dan lain - lain yang mungkin tidak terlalu anonim (paling tidak menurut saya) dapat menjadi jawaban yang menarik dari 'posting' anda dan tentunya bisa anda telaah kembali
sisanya, silahkan ber-argumen ...
Sebaliknya, sesuatu yang tidak populer tidak berarti sesuatu yang jelek kan? Terlebih lagi ketika kita melihat dalam perspektif sejarah dan jatuh bangunnya sebuah peradaban. Benih2 peradaban itu seperti benih2 pohon besar yang awalnya tidak kelihatan. Islam dulu awalnya tidak diperhitungkan tapi kemudian mampu menaklukkan dua adi daya besar saat itu, Persia dan Romawi. Contoh lain? Gagasan2 Marx ketika ia hidup menjadi bahan tertawaan dan cemoohan orang. Tapi ketika digerakkan dan diperjuangkan 2 abad kemudian akhirnya terwujud Soviet yang mampu head2head dengan adi daya AS saat itu.
Coba ketika Anda bertanya kepada mereka, ketika di awal2 mereka sedang merintis proyek besar mereka; "Mana buktinya?" "Jangan cuma berteori!" Kira2 apa yang akan dijawab oleh para arsitek peradaban tadi? Apakah sinisme itu akan menghentikan perjuangan mereka?
Err, maaf mau menanggapi. Memang, sesuatu yang banyak dipakai tidak otomatis menjadikan itu sebagai sesuatu yang baik. Tapi, dalam perkara "sistem", sebuah sistem dipakai karena ia dianggap sebagai sistem yang mampu memenuhi kebetuhan yang diperlukan oleh negara.
Menurut saya mengapa sistem khilafah tidak populer, bahkan di Iran sekali pun, ya karena agak kurang kompatibel diterapkan di zaman modern.
Tidak salah memang melihat sejarah, tapi, ya jangan hanya melihat sejarah saja. Mesti berkaca dengan keadaan kontemporer juga. Seperti kata mas Apprayo, ada atau tidak contoh yang up-to-date?
Dan omong-omong soal sejarah, saya agaknya kurang setuju kalau pemerintahan Turki Ottoman masih dikategorikan sepereti Khulafaur Rasyidin. Rasanya sistem berdasarkan syura itu sudah terputus sejak Muawiyah mendirikan Dinasti Umayyah yang bernuansa hereditary. Gagasan spiritual-transendentalâ„¢ yang murni dari Hadis itu seingat saya cuma merujuk sampai pada sahabat nabi saja.
Kalau Anda mengakui Gagasan spiritual-transendenta lâ„¢ yang murni dari Hadis itu merujuk sampai pada sahabat nabi saja... Berarti memang itu pernah ada dan layak itu dihadirkan kembali khan?
Saya setuju sepanjang sejarah khilafah, memang terjadi penyimpangan, seperti Bani Umayyah, Ustmaniyah dll, tapi to err is human dan itu tidak perlu kita contoh kan? Cukup kita ambil pelajaran dan yang perlu kita contoh yang baik2 saja kan? Tul nggak?
Kontroversi mengenai konsep dasar negara, apakah Islam atau sekular selalu menjadi perdebatan yang melelahkan sejak Indonesia merdeka.
Kebanyakan orang yang tidak setuju dengan Islam sebagai konsep negara memang memandang akan hal itu akan memunculkan sebuah sistem teokrasi seperti Eropa abad Pertengahan. Ditambah Iran sebagai model pemerintahan 'Islam" saat ini semakin mempertegas pandangan tsb. Beberapa cuplikan sejarah Islam yang monarkhi sejak Dinasti Umayyah hingga Turki Utsmani juga memberikan andil memperkuat paradigma tersebut.
Jadi, sebuah kewajaran bagi mereka (anti-khilafah) akan timbulnya sebuah sistem teokrasi yang represif jika nantinya segelintir pengusung khilafah yang berkuasa hanya mengatasnamakan Islam, sedangkan praktisnya jauh dari nilai-nilai luhur Islam.
Jadi, selama tidak ada negara di dunia ini yang mampu menciptakan sistem khulafaurrasyidin yang berdasarkan syura tersebut (IMO, sistem pemerintahan Islam yang ideal bahkan sejalan dengan demokrasi) untuk dijadikan model, selama itu pula paradigma negara teokrasi Islam akan tertancap di kepala orang. Padahal, IMO, Islam yang saya pelajari bertolakbelakang dengan konsep teokrasi.
bagaimana keadaan disana ?
Kalo Mas bilang bahwa to err is human, mestinya argumentasi yang sama bisa kita pakai untuk sistem dan kondisi yang ada sekarang. Bukan demokrasinya, atau kapitalismenya yang salah, tapi manusia yang menjalankannya yang salah. Betul gak?
Sekedar mengingatkan, sampai sejauh ini Mas belum menjelaskan dengan detail apa solusi yang Mas tawarkan. Malah mau ngubah pemerintahan secara ekstra parlementer. Berdarah atau tidak, menurut pemahaman saya, itu tetap saja bisa disebut sebagai kudeta.
Saya ikutin komentarnya semua debat kusir terhadap hal yang nggak jelas hehehehe
Yang jelas terprovokasi ya Mas Pedy
Kalo yang lain, saya gak tau...
Kalo saya sih cuman nagih penjelasannya Mas Pedy ajah.
Maaf mo tanya emang kongkrit khillafah tuh gmn?
trims
Ada sebuah ketakutan, mas Pedy, ketakutan yang berakar dalam. dan ketakutan ini entah disengaja atau tidak oleh para penguasa, berkaitan dengan Islam.
Ketakutan ini berkaitan dengan prinsip negara ini, apabila dijadikan Islam sepenuhnya, baik dalam hal tata cara kenegaraan, sistem perundangan, atau sistem perekonomian, banyak orang yang merasa kebebasan beragamanya tidak akan diakui lagi dan akan dipaksa untuk menganut agama yang mungkin tidak sesuai dengan hati nuraninya dan kehilangan kesempatan untuk berkembang sesuai nilai-nilai yang dipegang. Pendek kata, ketakutan akan represi. Dan selama ketakutan ini ada, menurut saya sistem yang mas Pedy ajukan ini tidak akan bisa diterima luas, kemungkinan besar akan ditentang oleh kelompok minoritas ini.
Saya bukannya anti Islam, saya punya teman2 banyak sekali orang Islam, dan mereka semua baik2 dan pluralis. Tetapi saya bertanya-tanya, kenapa Islam yang saya tahu dari teman2 saya dan Islam yang saya lihat di berita dan media massa kita berbeda sekali? Dan apakah mas Pedy punya solusi konkrit untuk mengatasi ketakutan ini agar ide mas Pedy bisa diterima?
@ Albert yang mengatakan: "Kalo Mas bilang bahwa to err is human, mestinya argumentasi yang sama bisa kita pakai untuk sistem dan kondisi yang ada sekarang. Bukan demokrasinya, atau kapitalismenya yang salah, tapi manusia yang menjalankannya yang salah. Betul gak?"
Tidak betul. Mas Albert, ada dua ranah kesalahan. Pertama, konsep atau ideologi yang sudah defect sejak lahir. Kedua, praktek dan implementasi dari ideologi itu sendiri di dunia nyata.
Kapitalisme liberalisme itu sudah defect sejak lahir. Bagaimana kita bisa membangun peradaban yang luhur dan langgeng, jika asasnya menghamba kepada materi/kapital? Sehingga setiap pihak akan saling mencabik dan memangsa halalkan segala cara. Agresi brutal Israel ke Palestina, invasi atas nama minyak AS ke Irak dan Afghan yang mengorbankan jutaan nyawa tak berdosa, termasuk mengguritanya korporasi asing yang mengisap rakus kekayaan alam kita, adalah bukti2 nyata dari kejahatan kapitalisme akibat cacat bawaannya yang self-destructive itu.
Kalo konsepnya saja sejak awal sudah keliru, maka prakteknya PASTI KELIRU! Apalagi jika konsepnya sudah keliru, prakteknya tambah kebablasan kelirunya, dengan korupsi, kolusi dll Tambah runyam dan hancur-hancuran!
Kalau Islam, jelas resisten dari motif-motif horizontal keduniaan yang memang rawan konflik horizontal itu, karena Islam menghamba kepada tujuan-tujuan spiritual-transendental-vertikal, menyembah dan beribadah kepada Allah Sang Pencipta. Tidak ada saling cakar, cabik, terkam hanya karena kepentingan dunia saja. Jelas dari konsep dan ideologi awalnya saja tidak defect khan?
To err is human adalah pada pelaksanaan dan implementasi dari konsep tersebut. Ini bisa saja terjadi. Tapi itu kan penyimpangan dari konsep yang benar, tidak seperti kapitalis yang konsepnya saja sudah salah dari lahir, dan disimpangkan pula dalam prakteknya! Ketika konsep dan ideologinya benar, penyimpangan pun akan mudah terdeteksi dan dikembalikan ke jalur semula yang benar. Dalam Islam mekanisme ini dikenal dengan amar makruf nahi mungkar, ya Anda mungkin menyebutnya check and balances.
Oooo, HTI ya? Kok gak disebut dari kemarin2 sih Mas? Pake muter2 ke sana ke sini
Kenapa bisa bilang kapitalisme menghamba pada materi atau kapital (materi dan kapital itu beda ya Mas)? Penjelasannya? Saya bukan pembela kapitalisme, tapi sepemahaman saya, kapitalisme itu intinya cuma: pengakuan atas kepemilikan pribadi. Rasanya ini sudah disinggung di atas juga sama Mas Roby. Apa yang salah dengan itu? Kok bisa melebar sampai menghamba pada materi?
Soal mengganti pemerintahan lewat jalur ekstra parlementer juga belum ditanggapi tuh Mas.
Tidak perlu phobi dan takut. Karena jika sistem Islam diberlakukan itu hanya pada ranah publik seperti kebijakan2 dalam pemerintahan, perekonomian, sosial, dll.
Sedangkan dalam ranah privat seperti keyakinan seseorang, dia mau menganut Kristen, Hindu, Budha, Shinto, Kong Hu Chu, bahkan atheis atau paganis sekalipun mereka diberi dibebaskan untuk memilih dan menjalankan keyakinan agamanya masing2. Mereka juga diperbolehkan beribadah dalam gereja2 dan biara2 mereka. Mereka menikah juga dipersilahkan sesuai dengan keyakinan mereka. Mereka memakan dan meminum apa yang boleh bagi mereka. Bahkan mereka bisa memiliki peradilan agama khusus bagi mereka.
Mengapa seperi ini? Semata-mata secara normatif Quran dan Sunnah memang seperti ini konsepnya. Prakteknya Anda bisa melihat, masyarakat Islam pertama di Madinah adalah masyarakat yang plural, di sana ada Nasrani, Yahudi bahkan orang-orang musyrik (paganis) seperti majusi (penyembah api). Mereka tidak pernah dipaksa dengan hukum pancung untuk pindah agama koq. Piss..man..piss..
Sekali lagi, apa yang perlu ditakutkan dan dikhawatirkan? Dalam konsep dan praktek kekhilafahan Islam tidak pernah terjadi massacre dan genosida. Justru di alam kapitalis liberal seperti sekarang massacre dan genosida itu menjadi laten dan marak terjadi. Ingat etnic cleansing di Bosnia dulu? Atau invasi Irak, Afghan dan terakhir agresi bringas Israel ke Gaza kemarin? Lalu mana yang lebih layak Anda takutkan saudaraku, kapitalisme yang menyuburkan kezhaliman dan massacre, atau Islam yang rahmatan lil alamin?
orang sudah takut kok dibilang jangan takut
Lha kata temen-temen: Apa yang disampaikan lebih penting ketimbang siapa yang menyampaikan? Katanya wacana dan kata-kata punya kekuatannya sendiri dan lebih layak untuk dinilai? Lagian, kalo langsung blak-blak-kan mana seruu Mas... itung2 foreplay lah..
Tentang capitalism, sederhana aja Mas. Secara etimologis tersusun dari dua kata: capital (gain) dan isme (pandangan hidup/ideologi). Maka definisinya ideologi atau pandangan hidup yang menuhankan capital gain. Tidak ada yang lebih gamblang dari pengejawantahan definisi tadi di dunia nyata, kecuali berbagai epik kerakusan ketamakan yang masif dan demonstratif yang sudah saya sebutkan berkali2.
Tentang kepemilikan pribadi dan pasar bebas sudah saya bahas dalam reply untuk Mas Roby, silahkan dilihat dulu baru kita diskusi lagi.
Tentang mengganti pemerintahan lewat ekstra parlemen, ini mengacu dan berpijak kepada sunnah Nabi ketika take-over kepemimpinan politik di Madinah saat itu. Bukan dengan people-power, bukan dengan kudeta bersenjata (sekalipun mereka mampu), tapi dengan metode damai yang kita sebut thalab an-nushrah. Singkatnya, Nabi meminta langsung kekuasaan itu dari empunya. Tanpa intimidasi, tanpa bayang-bayang ancaman militer, tanpa paksaan apa pun. Ya memang beresiko, seperti di Thaif Nabi nyaris meninggal mereka menolaknya mentah2. Tapi nyatanya berhasil di Madinah, yang kita kenal lewat Baiat Al-Aqabah. Mohon jangan lagi mengatakan ini romantisme sejarah, karena bagi seorang muslim, praktek Nabi adalah sunnah yang wajib diikuti. Lebih detil lagi, mohon bisa mencarinya sendiri karena keterbatasan sarana di sini (bisa di-googling: thalab an-nusrah).
Yakni mas pedy menggunakan pengertian dari sistem kapitalis, sekularis liberal menurut versi dia. Sedangkan ada beberapa yang menyanggah bahwa arti dari ketiga sistem tersebut sesuai dengan pengertia mas pedy.
Jadi agar diskusi ini berlanjut harus disepakati dulu pengertian dari sistem kapitalis, sekularis, dan liberal itu. Jika tidak maka diskusi ini akan sulit menghasilkan pencerahan.
Kayaknya memang betul Mas (atau Mbak, sori kalo salah) Dana, Mas Pedy punya definisinya sendiri soal kapitalisme dan kemudian dari situ berangkat untuk berupaya menimpakan segala permasalahan kepada kapitalisme. Saya mencoba melihat di wikipedia, dan sepertinya definisi Mas Pedy lain banget dengan yang ada di situ. Jangan2 nanti dijawab Mas Pedy: ya maklum kan wikipedia didanai kapitalis... Cape dehh...
@ Pedy:
Malah jadi kepikiran nih, kenapa kok HTInya disembunyikan. Hihihi...
Di website HTI malah terang2an ditulis kalo penggunaan sarana demokrasi tidak dianjurkan. Pake jalur mana berarti? Ketika saya bilang ekstra parlementer berarti kudeta, Mas Pedy berusaha ngelak. Berarti kita sudah beda jalur nih Mas, karena saya masih percaya pada demokrasi. Kalo gak ada demokrasi, belum karuan saya dan Mas bisa ngobrol enak2 gini di sini lho. Peace!
Setuju.
@Pedy
Berhenti berputar - putar bung, sejak awal sudah diingatkan oleh ekowanz diatas.
Coba tata lagi penjelasan anda tentang hubungan "Demokrasi" dan "Baiknya Pemimpin Muslim atau Non-Muslim?"
Meskipun Pak Pedy bilang kalau tidak perlu takut karena pada HAKIKATNYA Islam adalah pluralis, tetapi kenyataan yang saya lihat di lapangan, dari orang2 yg mengatasnamakan Islam, tidak mencerminkan hakikat sesungguhnya dari agama yg mereka anut.
Jadi menurut saya, lebih baik agama tidak dijadikan landasan atau pondasi dari sebuah negara, entah itu llingkup sosial, ekonomi, maupun keamanan, karena menurut saya, itu tidak cocok di Indonesia yang masyarakatnya majemuk. Apabila ada ideologi yang mengatasnamakan sebuah golongan tertentu yang lebih mayoritas dibanding golongan lain, bukankah hal ini secara tidak langsung mengintimidasi kelompok2 lain yang minoritas dan menciptakan kondisi yang represif?
agama kok dibawa2
Dalam keyakinan saya, agama itu wajib dibawa2 ke mana2; privat, publik, politik, ekonomi, sosial, hukum, dll.
Karena hampir setiap saat saya berikrar: inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati, lillahi rabbil alamin, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku, semata2 untuk Allah Rabb Alamin.
Hidup dan mati aja buat Dia, apalagi segala hal yang ada di dalam domain kehidupan dan kematian tadi, pasti juga buat Dia dong...
Silakan dilanjut, saat ini saya duduk di pinggir dulu. Urusan duniawi
Titik.
Isu paling gampang untuk bikin kerusuhan/demo di Indonesia apa sih? You know the answer.
Pedy:
""Kalau Anda mengakui Gagasan spiritual-transendenta lâ„¢ yang murni dari Hadis itu merujuk sampai pada sahabat nabi saja... Berarti memang itu pernah ada dan layak itu dihadirkan kembali khan? ""
Masalahnya, masih kompatibel nggak dengan keadaan kontemporer sekarang? Masih masuk akal nggak? "Sistem" kan diterapkan pada keadaan yang sesuai saja. Yaa, tentunya akan lebih jelas jika Anda bisa menjelaskan seperti apa "sistem khilafah kontemporer" yang mau diterapkan.
---
Dan, ya, saya rasa definisi kapitalisme ini mesti diluruskan dulu. Karena rasanya nyari-nyari di mata kuliah Sistem Ekonomi maupun di buku-buku senada juga ndak ditemui definisi seperti yang Pak Pedy tawarkan.
Seriously, membawa agama ke panggung politik adalah sesuatu yang amat-sangat menyusahkan. Kecuali dalam sebuah negara yang homogen. Lha kenapa jadi melantur?
Saya mendukung pemerintahan sekuler. Apalagi untuk negara Indonesia. Tetapi sekuler yang beragama. Kita punya sila pertama, "Ketuhanan yang Maha Esa" itu sudah cukup. Negara kita secara filsafat dasarnya sudah mengakui keberadaan Tuhan (tentunya secara tidak langsung juga keberadaan agama dalam masyarakat) TAPI BUKAN BERARTI POLITIK HARUS DIDOMINASI AGAMA TERTENTU. Tak usahlah meributkan mau pemimpin muslim kek, non-muslim kek. Siapa yang beragama apapun agamanya dan agamanya dijalankan dengan benar layak menjadi pemimpin. Tak usah pusing apa agamanya, toh semua agama mengajarkan kebaikan. Kalau ybs menjalankan agama dengan benar tentunya moralnya akan baik, dan tentunya juga pemimpin yang baik haruslah mempunyai moral yang baik.
Sudah ah..komennya ngelantur.
Baiklah, semoga pandangan utopis tentang apa itu demokrasi, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI tetap berrada dalam angan - angan saya
Ya, saya tahu jawabannya dan itu membuat kita semua tertawa getir terutama jika masih ada yang mempertanyakan pemimpin berdasarkan agama.
Toh kita sama - sama tahu apa jawabannya dan bagaimana cara orang menjawab
Ah, ngomong opo tho aku iki, sekolah wae ra cetho ...
Percaya, saat itu dan saat kita akan datang. Mari sama-sama satukan cita-cita Indonesia yang jauh lebih baik
"Isu paling gampang untuk bikin kerusuhan/demo di Indonesia apa sih? You know the answer. "
Yes I know the answer. Tidak hanya kerusuhan, amuk massa, dan anarkisme di Indonesia saja, tapi di belahan bumi manapun, semua itu terjadi karena karena mereka putus asa akibat pengangguran dan tidak adanya lapangan kerja. Jelas penyebabnya adalah kapitalisme dan globalisasi yang pro konglomerat dan pro pemilik modal!
Mas, Anda pintar!
Menebak akar masalah dengan baik dan benar...
Saya setuju!
Tapi apa kaitan antara lemahnya sistem kapitalisme/globalisasi dengan agama?
Apakah Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila masih dirasa kurang?
Pemikiran alternatif yang sangat membuka mata
*And no, this is not April Mop*
Tapi... Seandainya terjadi kerusuhan, amuk massa dan anarkisme AKIBAT pengangguran KARENA kapitalisme/globalisasi... yang diuntungkan sebenarnya siapa ya?
Saya baru tahu kalo pengangguran disebabkan oleh kapitalisme. Setahu saya, adanya kapital (modal) itulah yang membuka lapangan kerja. Dengan punya modal, kita bisa buka usaha toko, bisa mempekerjakan orang, dan bisa menggaji karyawan.
Justru ketiadaan kapital (modal) itu yang membuat banyak orang jadi menganggur.
Saya mengartikan kapital = modal, sesuai dengan kamus Inggris Indonesia lho Mas. Kalo diartikan lain, saya gak tau deh Mas Pedy pake kamus apa
Ya jelaslah modal itu yang membuka lapangan kerja, kalau nggak pake modal fulus, apa mau pake daun? (he..he..
Problemnya bukan di modal, tapi di sistem yang mendistribusikannya. Nah kapitalisme itu sistem yang gagal mendistribusikan modal tadi, karena hanya berpihak kepada konglomerat, bukan rakyat. Mau bukti? Lihat UU 22 Thn 2001 tentang Liberalisasi Migas yang melacurkan SDA migas kita ke korporasi asing, bukan dikelola negara untuk sebesar2 kemakmuran rakyat. Lihat UU PMA kita yang juga membolehkan swasta alias konglomerat untuk berhak perpanjang kontrak karya pe' 95 tahun! Lihat UU hutan kita yang gadaikan kekayaan hutan lewat HPH! Ini jelas sistem yang berpihak kepada konglomerat, bukan rakyat! Dan ini akar masalahnya mengapa banyak orang desperate dan terpancing berbuat anarkis.
Mas, Anda sedang mencampuradukkan kapitalisme dengan liberalisme. Jadinya ya kayak jawaban Mas itu
Kita balik ke contoh tukang tambal ban kemarin aja, itu kapitalisme juga apa bukan? Bagi saya sih iya, karena dia buka usaha itu pake modal (= kapital). Kalo keberpihakan secara tidak adil pada konglomerat dan pihak asing dicoret, namanya masih kapitalisme kan?
Nah, sekarang apa sih definisi Mas tentang kapitalisme? Dari kemarin belum dijawab2 lho. Juga soal yang ekstra parlementer itu. Saya penasaran banget dengan jawaban Mas.. Jangan cuma nanggapi yang gampang2 aja dong Mas, nanti malah jadi melebar kayak sekarang ini
Kaitannya adalah kapitalisme menjadi dektruktif karena menghamba kepada material-kapital. Jangankan negara, seorang anak kecil saja yang sudah dibutakan oleh nafsu materialistik rela melakukan apa pun, termasuk melukai bahkan membunuh! Tidak heran ketika faham ini merasuki negara seperti AS sehingga tega membunuh dan merampok negeri2 lain dalam skala yang masif!
Jika problemnya dalah ideologi yang menuhankan capital, berarti kita butuh ideologi yang mampu membebaskan kita dari cengkraman belenggu capital tadi. Ideologi yang mampu menafikkan semua pihak yang dipertuhankan, dan hanya menuhankan Allah Sang Pencipta saja. Inilah idelogi laa ilaha ilallah; tidak ada tuhan (termasuk capital) selain Allah.
Tentang Pancasila sudah saya jawab di atas Mas.
Kapitalisme itu menuhankan materi atau capital atau keuntungan atau apa pun yang sifatnya materialistk yang bertolak belakang dengan sifat2 spiritualistik.
Apa tanda2 orang yang menuhankan materi? Ia BEBAS melakukan apa pun asal bisa capai tujuannya, apa pun, nyaris tanpa batasan. KEBEBASAN dalam melakukan apa pun inilah yang disebut dengan liberalisme. Contoh, manifestasi liberalisme dalam ekonomi adalah kebebasan kepemilikan termasuk kebebasan dalam menjadikan APA PUN sebagai komoditas bisnis! Bahkan termasuk aurat dan syahwat (industri pornografi, pornoaksi, dan lokalisasi), juga SDA yang sejatinya milik rakyat.
Jadi kapitalisme dan liberalisme ibaratnya seperti craniophagus (kembar identik yang menyatu di bagian kepala). Satu ide, satu asas, satu gagasan dasar. Adalah tingkah polah kaki tangannya yang merusak dunia ini!
Tentang tambal ban sudah saya tulis sebagai jawaban atas Mas Roby. Yang mana dari jawaban saya itu dirasa kurang pas?
Mohon maaf atas keterbatasan saya dalam me-reply, karena saya juga manusia biasa yang harus berjuang agar dapur tetap mengepul! Stay tune ajah..
Mas, dapat definisi kapitalisme yang seperti itu dari mana yah? Biar saya bisa baca juga. Kalo ternyata Mas ngarang sendiri, jadi repot dong. Nanti tiap2 istilah kita bisa beda penafsiran, karena Mas punya definisi sendiri
Sekali lagi, soal ekstra parlementer, masih ngelak lagi nih Mas?
Saya juga manusia biasa kok Mas, masih berjuang biar dapur saya juga bisa ngepul.
Ideologi yang menuhankan capital?
Ideologi mana?
Ideologi negara kita bukankah tidak seperti itu?
ideologi kita menuhankan Tuhan YME, apa itu tidak cukup?
Kalaupun iya perlu diganti jadi ideologi agama, agama apa yang dipilih? Kenapa harus agama tertentu? Justifikasi apa yang dipakai untuk memilihnya?
contonya si pedy ini..
angan2nya mo mbikin negara ini kaya khalifah apa mbuh ga jelas..?!
model begini nggak ada beda sama orang2 yang mendambakan kehidupan "sama rasa sama rata"
ato orang2 yang mendambakan keberlimpahan dari MLM,..
kalo ditanya pasti punya jawaban, walopun sebenernya jawaban yang bukan jawaban dari pertanyaan yang diajukan..
kebanyakan kurang habluminannas,.. menganggap kaumnya, tafsirannya, syariatnya, adalah yang paling benar,..sementara yang lain?????
wong jowo kok nggak ketok jowone mas??..nek avatarmu koyo osama bin laden yo wajar,..aku yo mesti maklum nek nduwe "keyakinan" koyo ngono kuwi?!
masalah kapitalisme itu wajar, wong dunia sudah begini jalannya.., wis nggak mungkin banget berharap kapitalisme hilang dari muka bumi,..karena pangkal pokok kapitalisme adalah uang sebagai alat tukar perdagangan resmi di seluruh muka bumi.., lha coba kalo mung barter2an koyo jaman "pitekantropus erektus" mesti nggak muncul penghisapan ekonomi kaya sekarang??
si pedi mungkin gak sadar kalok perkembangan kapitalisme di nusantara juga dipengaruhi sama pedagang islam (sambil nyebarin agama baru) jaman baheula..!!
mengenai khilafah, si pedi ini nggak pernah menjawab pertanyaan saya diatas yang menunjuk pada perjalanan sejarah republik ini?? mungkin dia anggap bahasa vulgar saya bukan pertanyaan, ato mungkin karena takut nggak bisa jawab???
mo ngganti sistem tapi nggak jelas visi misine,.. isine mung maksake kalo khilafah pasti sukses!!!.. mbuh mo lewat kudeta nggak, mo ikut parte juga nggak,..nggabunge karo HTI sing isine mung beberapa gelintir makhluk hidup?!..
saya salut sama dedengkot2 HTI yang mampu mencuci otak pengikut2nya macam si pedi ini..!!
saya setuju kalo penghisapan pelacuran pengrusakan yang terjadi di bumi ngendoneisia sekarang dihapuskan,.. tapi yo opo mesti ngganti sistem koyo keyakinanmu kuwi?!
utopis banget seh Lu??!!
jadi wong ngendonesia saiki isine mung perang sama sodara sendiri..,
fiss ah menn.. fuegeLL ane,..
Jangan mengacu pada Wikipedia, mas, nanti disanggah karena disangka anonim, lagi...
Kalau menurut Encarta yang menurut mas Pedy lebih valid sih,
"economic system in which private individuals and business firms carry on the production and exchange of goods and services through a complex network of prices and markets."
Kalau kapitalisme itu jadi ideologi yang "menuhankan" kapital, saya jadi bertanya-tanya: kapitalisme itu ideologi ekonomi atau agama ya?
mengulang DV
Ideologi yang menuhankan capital?
Ideologi mana?
Ideologi negara kita bukankah tidak seperti itu?
ideologi kita menuhankan Tuhan YME, apa itu tidak cukup?
*ngakak*
pedy mungkin lupa, yang menuhankan Tuhanpun bisa berbuat seenaknya atas nama Tuhan.
"Capitalism:economic system in which private individuals and business firms carry on the production and exchange of goods and services through a complex network of prices and markets."
private individuals and business firms = konglomerat rakyat
Itulah kapitalisme yang hanya mengakui private property (swasta/konglomerat). Dan tidak pernah mengakui public property (rakyat).
RALAT:
private individuals and business firms = swasta/konglomerat
Itulah kapitalisme yang hanya mengakui private property (swasta/konglomerat). Dan tidak pernah mengakui public property (rakyat).
Artinya "private individual" dan "business firms" itu opo to, mas?
Saya mau coba pendekatan penerjemahan secara literal seperti yang digunakan mas Pedy. "Private individual" berarti "individu pribadi". "Business firm" berarti "perusahaan bisnis". Lho, berarti yang berperan masing-masing itu individu juga dong? Seperti contoh pada usaha tambal ban di komentar-komentar sebelumnya.
Dan betewe, public property itu kan artinya properti yang dimiliki oleh negara. Private properti ya properti yang dimiliki oleh individu (sesuai namanya). Rasanya ini basic sekali kok, ada di Pengantar Ilmu Ekonomi.
Ayo-ayo, kembali ke masalah awal, atau bikin trit baru
hehehehe...
Kita harus rumuskan dulu definisi ideologi. Ideologi adalah pandangan hidup yang secara alamiah akan melahirkan tatanan kehidupan yang komprehensif.
Misalnya kapitalisme tadi, karena pandangan hidupnya hanya berorientasi pada keuntungan materi, maka tatanan politiknya misalnya, hanya menjadi instrumen bagi pemilik modal untuk langgengkan hegemoninya, lewat political donation etc, sistem ekonominya misalnya, ya semuanya boleh jadi komoditas bisnis, nyaris tidak ada batasan apa pun, seperti yang sudah saya sebut di atas. Dalam lingkup individu misalnya, seseorang juga bebas dalam berpakaian. Mau telanjang atau pake tank top nggak masalah. Berarti kapitalisme adalah ideologi. Karena punya pandangan hidup dan cara hidup yang unik dan komprehensif, baik pada ranah pribadi maupun negeri.
Islam juga ideologi. Karena memiliki pandangan hidup, yaitu menyembah dan beribadah kepada Allah SWT, dan juga memiliki tatanan kehidupan komprehensif. Dalam ekonomi misalnya tidak hanya dikenal kebebasan kepemilikan individu/swasta, karena menurut syariat SDA adalah milkiyah 'aamah atau public property yang menjadi milik rakyat. Dalam lingkup individu Islam misalnya mewajibkan pemeluknya untuk menutup aurat, jadi tidak ada kebebasan berpakaian kan? Berarti Islam juga ideologi. Karena punya pandangan hidup dan cara hidup yang unik dan komprehensif, baik pada ranah pribadi maupun negeri.
Pancasila? Coba dicek apakah pancasila memiliki pandangan hidup, yang mampu melahirkan tatanan kehidupan yang komprehensif? Ekonomi, politik, hukum, sosial, dll. Kalu ada dan ada kesatuan organik antara pandangan hidup dan aturan kehidupan, berarti dia adalah ideologi.
Caranya kalo mau follow comment gimana ya? Biar gak harus refresh tiap kali mo liat comment.
@ Pedy:
Ternyata bukan cuman ngarang definisi, ngarang terjemahan juga. Ayo Mas, yang fair dong
Masak "private individuals and business firms" = swasta/konglomerat. Kesannya diarah2kan ke konglomerat (gak ditambahin "asing" atau malah "barat" sekalian?). Padahal di situ jelas2 ada tulisan individuals.
nih aku kasih tahu
ideologi didefinisikan oleh mbah Taqiyuddin dalam bukunya peraturan hidup dalam islam Bab Kepemimpinan berfikir sebagai "Aqidah aqliyah yang daripadanya keluar seperangkat aturan kehidupan".
sedangkan aqidah aqliyah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, Manusia, dan kehidupan dengan Sebelum Dunia dan Setelah Dunia serta hubungannya dengan pencipta
ringkasnya dari definisi aqidah aqliyah tersebut terdapat 5 pertanyaan mendasar, yaitu:
1. Sebelum dunia?
2. Di Dunia?
3. Hubungan no 2 dengan no 1
4. Setelah Dunia?
5. Hubungan no 2 dengan no 4
Jawaban Kapitalisme:
1. ada Pencipta yang menciptakan Alam semesta, Manusia dan kehidupan
2. Manusia Bebas (liberal)
3. hubungan yang terputus artinya ada pengakuan adanya pencipta tapi tidak mengakui aturan dari pencipta (Sekuler)
4. ada kehidupan setelah dunia
5. adanya pengakuan bahwa ketika orang mati maka akan langsung masuk surga.
Jawaban Komunisme.
1. Tidak ada pencipta
2. Manusia bebas
3. tdiak ada hubungan
4. tidak ada kehidupan setelah dunia
5. tidak ada hubungan
Jawaban Islam
1. ada pencipta yang menciptakan Alam semesta, Manusia dan kehidupan
2. Manusia tidak bebas ia terikat aturan dari pencipta
3. Hubungan yang mengikat
4. Ada kehidupan setelah Dunia
5. manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ia di dunia (Hisab)
dari sini kita akan mendapatkan bahwa Kapitalisme, Komunisme, dan Islam itu sebuah Ideologi (ingat ideologi itu Aqidah aqliyah yang daripadanya keluar seperangkat aturan kehidupan). Kapitalisme punya seperangkat aturan kehidupan, komunisme juga punya seperangkat aturan untuk mengatur kehidupan manusia
and Islam juga punya seperangkat aturan kehidupan (tidak hanya aturan kerohanian) mis tentang pidana, ekonomi, aturan sosial dll.
sedangkan agama kristen, hindu budha, konghucu dll tidak memiliki aqidah aqliyah yang dimiliki aqidah ruhiyah(spiritual) saja juga tidak memeiliki aturan kehidupan yang di miliki hanya aturan kerohania semata, sehingga agama2 tsb (selain Islam) tidak dapat di katagorikan sebagai ideologi.
tahukan maksud ketikan ini?
ntar tak sambung lagi. sabar yo
mudah2an memberikan pencerahan
private individuals = individu boleh memiliki komoditas apa pun, mulai dari tambal ban sampe SDA misalnya, tidak ada batasan.
(individu disini termasuk business firm yang dimiliki secara individual)
Maka kebalikannya, dalam kapitalisme DILARANG segala bentuk pembatasan atas akses kepemilikan individu ke komoditas apa pun! Masalahnya kan di sini.
Misalnya, ketika akan dibuat UU yang melarang individu memiliki komoditas SDA, kira2 dibolehkan nggak dalam kapitalisme? Pasti nggak boleh khan? Karena basisnya adalah private individuals and business firms. Itulah mengapa kita dulu harus cabut subsidi BBM, karena itu menghalangi capital gain yang akan diraup oleh business firm yang mau dagang BBM seperti Shell. Begitu subsidi dicabut, mereka baru bisa leluasa masuk dan dagang BBM di Indonesia, termasuk buka SPBU2. Itu sebenarnya skenario yang terjadi dalam UU Liberalisasi Migas.
saya membaca dari kemarin, masih mengikuti. Karena saya juga belajar disini, bukan sekedar mengkritisi...
Pertama, dari awal, bung pedy sudah mengangkat bahasan ini bahwa ideologi Islam yang PASTI membawa rahmatan lil alamin. Dan bung Pedy sendiri yang menyatakan jelas-jelas, "Karena saya Muslim, maka itu yang harus saya percaya" .. Pernyataan ini satu sisi seperti memangkas kesempatan diskusi -seperti menggambarkan Islam yang pemaksa "POkoknya ini paling benar" dan persis ini lah yang ditakutkan Mbak Shoun diatas, Islam yang represif begini. Kekhawatiran tidak ada ruang mendebat apa yg salah dan tidak tepat dari pendapat2 bung Pedy. Padahal saya suka dengan daya tahan anda menjawab semua pertanyaan disini
Kedua : Islam sebagai sistem, saya tidak pungkiri secara sistem ada niat baik untuk mencapai tujuan kemakmuran dalam Islam. Karena nilai-nilai luhur Nabi menggambarkan hal tersebut. Tetapi dalam konteks yang semakin kompleks seperti sekarang, penerapan nya akan menjadi lebih luas dan butuh pemahaman, kalau menurut saya.
Konsekuen sejati dalam pola kehidupan sehari-hari saja, dengan latar belakang majemuk Indonesia, entah suku, ras, cara pandang, termasuk juga bacaan yang memperkaya ruang pikir, tentunya Islam Modern harus mempertimbangkan ini. Saya tidak memasukkan kemajemukan Agama lain disini. Karena buat saya, semua agama mengajarkan toleransi beribadah. Jadi tidak perlu Bung Pedy menganggap diskusi ini sebagai perang ideologi agama satu dengan lain. Kita becara sistem, sebuah sistem besar yang mengatur kemajemukan luar biasa di dunia (Indonesia masih tercatat sebagai negara yang sangat mejemuk di berbagai sisi, Mas.. musti diinget itu) .
Ketiga : Jika dan hanya jika Islam lah yang paling pantas menjadi Ideologi di negara majemuk ini, kemudian seperti apa Islam mengatur kesempatan berpendapat setiap warga negaranya? Kita bicara soal kemakmuran bersama disini. Saya masih konsisten bicara soal jaminan kesejahteraan bersama bagi seluruh warga negara.
Terbayang oleh saya dengan model Khilafah begini, maka kelompok yang berada diluar ideologi Islam (agama lainnya, contoh kelompok paling simple) berjalan diluar sistem negara, cuma numpang hidup menerima aturan dari pemegang pemerintahan khilafyah. CMIIW.
Itu dulu, ...
@Pedy
Jika benar memang saat ini indonesia terjerumus kepada kapitalisme, sekularisme, liberalisme (sesuai pengeritan anda)maka saya kira tinggal kembali ke nilai-nilai Pancasila. Semua akan beres.
Sepemahaman saya, Indonesia memang tidak menganut paham kapitalisme seutuhnya. Nyatanya, menurut UUD 45, tidak semua hal bisa bebas diperjualbelikan, seperti misalnya SDA. Di Indonesia, ada hal2 yang haknya hanya bisa dipegang oleh negara. Bahwa muncul kesan ada keberpihakan yang kuat terhadap modal asing, menurut saya memang itu yang jadi tugas kita memperbaiki.
Memperbaiki tidak harus dengan mengubah segala sesuatunya kan? Apalagi dengan cara2 ekstra parlementer
sedangkan agama kristen, hindu budha, konghucu dll tidak memiliki aqidah aqliyah yang dimiliki aqidah ruhiyah(spiritual) saja juga tidak memeiliki aturan kehidupan yang di miliki hanya aturan kerohania semata, sehingga agama2 tsb (selain Islam) tidak dapat di katagorikan sebagai ideologi.
Waduh, saya mau nanggapi postingan ini kog rasanya berat ya... soalnya ini kesannya SARA sekali.
Mas Pedy, menurut saya Pancasila sudah mencukupi sebagai ideologi. Mengapa? Karena Pancasila sudah mencakup dasar-dasar kehidupan dari manusia. Kelima sila Pancasila benar-benar mencukupi dan asal Pancasila ditegakkan dengan benar dan dijalankan dengan sebaik-baiknya, saya rasa Indonesia dapat makmur.
Bagi yang lupa sila Pancasila apa saja, silahkan buka buku kecil UUD 1945 yang pasti dimiliki setiap pelajar
yang jadi masalah adalah bagaimana sistem yang akan digunakan nanti nya..
dan memang saya lebih mempercayai bahwa umat islam HARUS BISA menjadi pemimpin yg baik..namun juga saya tidak ingin menutup kesempatan bagi yang nont muslim..
HANYA SAJA,apakah dalam ajaran selain Al-Qur'an memuat tentang tata kehidupan,hukum,serta kepemerintahan seperti yg terkandung dalam kitab suci umat islam? saya tidak tahu..
ngomong2 ini kok bahasan nya SARA banget ya..kita kan negara kesatuan,bukan negara perpecahan..jangan sampe masalah ginian doang bikin kita pecah sebagai sebuah negara..
saya mau ngeluarin ini susah amat dari tadi...
persoalannya bukan label menurut saya...
jika memang nilai2 luhur dari ideologi dan system itu diambil dan disinergiskan, kenapa harus memaksakan satu label saja?
Bahkan,
sejarah negeri ini mencatat ada pemikir-pemikir Islam negeri ini mampu mengewajantahkan polemik ideologi2 diawal Indonesia berdiri.
Tidak heran pernah muncul istilah NASAKOM, bahkan ada partai Serikat Islam Merah...
Terlepas dari konspirasi yg meliputinya, tetapi pendahulu kita menyadari persinggungan idealisme yang pantas untuk negeri ini...
demikian *lagi
Pertama:
Bung Om Leksa:"Pokoknya ini paling benar dan persis ini lah yang ditakutkan Mbak Shoun diatas, Islam yang represif begini. Kekhawatiran tidak ada ruang mendebat apa yg salah dan tidak tepat dari pendapat2 bung Pedy.."
Kalau saya pake kaidah "pokoknya paling benar" tanpa reasoning, tentu saya nggak perlu repot meladeni argumen teman2 sampai sejauh ini khan?
Kedua:
Tentang kemampuan Islam mengakomodir kemajemukan bukankah sudah saya bahas di atas. Keberatannya dimana? Apa karena saya berdalih dengan sejarah? Mestinya dilihat dulu mana dari sejarah yang tetap relevan, mana yang kadaluwarsa? Tidak semua harus dibuang kan? Perjalanan panggung sejarah manusia ini kan berputar pada tema2 yang sama. Problem asasi manusia juga sama. Butuh sandang, pangan, papan (maka butuh sistem politik-ekonomi distribusikan pendapatan), butuh keamanan, pendidikan, kesehatan. Hal itu tidak berubah kan? Yang berubah hanyalah berbagai sarana penunjang kehidupan, yang kita sebut teknologi. Sedangkan ideologi tidak mengalami perubahan, hanya teknologi yang berubah. Ini bukan pandangan bias kepercayaan buta seorang muslim lho. Sebagai pembanding, seperti yang sudah saya katakan di atas, coba baca Mindset karya John Naisbitt tentang isu apa yang tetap apa yang berubah ini.
Ketiga:
Bung Om Leksa:"Maka kelompok yang berada diluar ideologi Islam (agama lainnya, contoh kelompok paling simple) berjalan diluar sistem negara, cuma numpang hidup menerima aturan dari pemegang pemerintahan khilafah"
Sebenarnya apa sih yang dikehendaki dari umat agama lainnya ketika hidup dalam sistem Islam? Sudah saya sebutkan, mereka bisa bebas beribadah, makan, minum, menikah sesuai dengan keyakinannya. Sama seperti sekarang kan? Hanya saja dalam ranah publik yang dijalankan adalah syariah Islam. Tapi itu tidak menjadi soal yang penting rakyat makmur sejahtera kan?
Ada contoh kecil di Bulukumba (try googling this
RALAT:
(try googling this "perda syariah bulukumba")
dalam turunan nya nanti, ada peraturan yg membatasi. Entahlah dengan aturan yg situ katakan tadi, non muslim bisa hidup dengan cara mereka.. itu kalau agama berbeda..
Pertimbangan bahwa Islam di negeri ini beragam bentuk kearifan lokalnya, belum lagi pemahamannya. Paling sederhana pemahaman soal pakaian dan minuman keras tadi.
Entahlah kalau nanti Bung Pedy mengatakan, muslim dilarang minum minuman beralkohol karena dosa, atau harus menggunakan baju kerudung bagi wanita muslim. Atau berhijab antara laki-laki dan wanita ketika berdiskusi.
Belum lagi nanti ada benturan pemikiran feminis dan konflik horizontal lain. Karena saya percaya kearifan lokal kita sudah ada sebelum Islam masuk ke negeri ini.
Sri Kirana
DV
Pancasila & ke-arif-an lokal, saya kira cukup.
sepertinya bung Pedy & bung Jeka cuma ingin orang yang ber-argumen dengannya tentang masalah "baiknya-pemimpin-muslim-atau-non-muslim" menggunakan Quran & Haddits sebagai acuannya, sampai sekarang (116 komentar) cuma itu yang baru saya tangkap, maafkan kebodohan saya ini dalam mencerna
tabik ...
saya saja hampir lupa point dari tulisan Bung Pedy ini adalah "Soal Pemimpin yang muslim atau Non-Muslim" ..
ayo..ayoo,.. balik ke topik utama
Apapun argumen Anda, Anda menang kok bahwa pemimpin Indonesia pasti muslim.
Itu kan yang Anda ingin nantikan?
Apapun argumen-argumen kami, kondisi di Indonesia pun sepertinya juga akan mengarah ke pelaksanaan hukum syariah ke dalam tatanan hukum positif kok.
Jadi, kita sudahi saja ya, dan selamat untuk Anda
Anda pintar, anda jago, anda hebat
Kesalahan definisi (sembarangan interprestasi)
Pemahaman sejarah terutama penyebaran islam sendiri pun salah kaprah. Full represi mas dan itulah yang membuat phobia bermilyar orang.
Di mana letak pengakuan eksistensi non islam melihat dari sejarah munculnya agama ini?
Bahkan idenya tentang Khilaffah pun masih diperdebatkan di kalangannya sendiri, kok mau diimplementasikan di indonesia yang carut marut, bukan karena sistem tapi karena sifat rata2 manusia indonesia.
Saya lebih setuju kita lebih banyak berdoa saja agar Tuhan merubah sifat2 egois dari bangsa kita ini karena cuma Dia saja yang mampu melakukannya. Sedangkan untuk kita sendiri mari kita belajar untuk mampu menjaga integritas diri sendiri dulu. dan jika semua orang di indonesia sudah sadar menjaga integritas diri saya yakin keadaan akan berbalik 180 derajat dari sekarang. ITU SAJA CUKUP Saudara2x
Jika tidak, maka politik Islam macam itu adalah omong kosong. Apanya yang plural? Keberagaman keyakinan tradisional dan kearifan lokal di nusantara saja sering diributkan atas nama agama Islam.
Dan saya sudah jemu melihat wanaca khilafah/syariah macam di tanah saya ini. Seringnya cuma mengurusi selangkangan saja... dengan alasan moralitas....
hush, pelankan suara anda
*apakakabar bung? lama tak terlihat*
Eh iya, kabar baik, bung Ndaru. Ya, lama tak terlihat. Awak diseret masuk dunia politik juga di aceh sini
Welcoming you, Tgk. Alex
Internationale!!!
menurut saya sih gak penting pemimpinnya dari islam atapun non islam.
yang terpenting adalah ketegasan sistemmya, kita ambil contoh di negara tetangga terdekat kita singapura atau malaysia, kalau saya gak salah walaupun negara tersebut bekas jajahan inggris, tetapi ada beberapa hukum atau sistem yang diadopsi dari sistem ataupun hukum islam, seperti hukuman cambuk dan gantung disana itu katanya masih diterapkan.
padahal kalo kita lihat mungkin sepuluh persen penduduk singapura itu mayoritas dari cina rantau, juga di malaysia antara orang melayu malaysia dan orang etnis china tidak ada terjadi benturan walaupun di malaysia di terapkan mungkin tidak semuanya hukum islam, coba kalo kita lihat disana perekonomiannya maju, masyarakatnya juga tertib.
padahal dimalaysia juga mereka baru pada tahap belajar berdemokrasi sama seperti di indonesia, demikian mas pedy, kayaknya gak perlu pake label islam dulu lah, karena banyak orang islam sendiri yang phobia dengan hukum islam, pelan pelan aja, sedikit demi sedikit syariat itu di masukan ke dalam sistem ataupun aturan hukum.
bukankah al qur'an juga diturunkan secara bertahap, tidak langsung sekaligus; seperti larangan untuk khamr(minuman keras) dulu sebelum ayatnya turun kayaknya pengikut rasulallah masih banyak yang mengkonsumsinya, tetapi setelah ayatnya diturunkan, baru kemudian khamr itu di haramkan.
mungkin juga seperti yang di aceh yang masih baru pada tahap ngurusin selangkangan (info dari Tgk. Alex), mungkin kedepan kita akan melihat pencuri atau koruptor akan dicambuk bahkan mungkin digantung di aceh entah 3 atau 5 atau mungkin 10 tahun kedepan barangkali, yang pasti sistem syariat islam itu kayaknya gak bakalan bisa diterapakan sekaligus, banyak yang Phobia mas!
wadow kayaknya melenceng jauh nih, komentar saya jauh dari soal2 kapitalisme dan liberalisme, yah hanya kasih sedikit masukan, habisan seru banget nih obrolannya di warung kopi, tapi lebih luas jangkauannya, terima kasih
By the way, kalau mau mencontoh Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam memberantas korupsi, berarti:
1. Ada inventarisasi aset-aset yang dikorupsi (di awal jabatan khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak keluar kamar berhari - hari hanya untuk urusan ini)
2. Kesempatan untuk memulangkan aset yang terbukti dikorupsi, disertai amnesti umum (ya, amnesti umum)
3. Setelah periode amnesti umum, baru deh, hukum ditegakkan dengan tegas dan konsisten
4. Khalifah hidup sangat sederhana, bahkan sampai terlambat sholat Jumát karena menunggu bajunya kering dahulu
5. khalifah dengan tegas melarang pemakaian harta negara/fasilitas negara untuk kepentingan pribadi (untuk membaca saja khalifah pantang pakai lampu dengan minyak dari baitul Maal). Apakah pejabat Indonesia sudah siap kehilangan fasilitas dinas?
6. Khalifah tidak mau anak - anaknya jadi khalifah.
7. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat kekhalifahan, tanpa memandang agama (Islam, Kristen, Zoroaster atau Yahudi). fakir miskin benar - benar ditanggung baitul maal (kalau di Indonesia baru sebatas teori di konstitusi).
8. Dan berbeda dengan Obama dan Bush di AS, khalifah Umar Bin Abdul Aziz juga menghadapi krisis ekonomi di negaranya pada awal berkuasa, lalu beliau berinisiatif untuk berdamai dengan musuh, bertukar tawanan perang, menempatkan pasukan di perbatasan negaranya saja, dan fokus membenahi korupsi dan kemiskinan walaupun yang dilawan adalah keluarganya sendiri.
Hasilnya, 2 tahun pemerintahan fakir miskin habis dan susah mencari orang yang mau menerima zakat.
Konsekuensi bagi Umar Bin Abdul Aziz:
1. yang bersangkutan justru dijungkalkan keluarganya sendiri (bani Umayyah) yang kehilangan banyak hak istimewa dan pemerintahannya hanya berumur 2 tahun lebih sedikit...
Terlepas pemimpin muslim atau non muslim, apakah pemimpin kita mau mencontoh Umar bin Abdul Aziz dari bani Umayyah, in practice?
Kalau ya, mudah - mudahan Indonesia terlepas dari korupsi dan kemiskinan.
Bukan Islam dan non Islam isunya, tetapi kepemimpinan yang kredibel dan berpihak pada kesejahteraan rakyat
btw... agak OOT mas pedy
saya pernah dapat dokumen HTI itu ormas... tapi nggak boleh disebut ormas oleh pengurus HTI... tapi harus disebut sebagai parpol...
mohon pencerahan neh
Anda sebaiknya belajar sejarah lagi
"Contohnya, jualan di pasar atau nambal ban dipinggir jalan itu pasar bebas, tapi kalau sudah sampai bebas menjual apa pun, bebas mengkomoditaskan apa pun, sampai aurat, syahwat, pornografi, pornoaksi, bahkan lokalisasi, juga menjadi komoditas ekonomi yang bebas dan absah diperjualbelikan, nah inilah yang saya maksud dengan liberalisme ekonomi yang merusak itu..."
Saya menulis:
Wah, ini bener2 sudah ngawur. Mas Pedy harus belajar lagi apa yang namanya liberalisme dan kapitalisme
yg ini dah tenggelam,..
bung pedy sudah siapin tret lainnya buat dibahas..
segitu saja
sendiri sempat terjadi saling membunuh antara kelompok Islam santri dan Islam abangan, namun kesemuanya dirahasiakan karena ajaran Islam melarang keburukan2 umat Islam itu disebar luaskan melainkan harus ditutupi menjadi se-olah2 baik.
Semua agama dilindungi dalam deklarasi HAM, tidak ada agama yang lebih mulia dan agama yang kurang mulia seperti halnya syariah Islam yang cuma memuliakan Islam aliran penguasanya yang menang dan membasmi aliran2 Islam lainnya yang dianggapnya merusak akidah Islam yang dianutnya.
saya ndak komentar tentang islam atau ndak islam..
tapi kayaknya lebih enak dibaca kalo ada paragrap-paragrapnya, mas pedy..
(tolah-toleh, udah sepi orang disini..)
Silahkan login untuk memberikan pendapat