Ngijo - ngomongin lingkungan hidup sambil lalu saja 5
Minggu, 29 Mar '09 12:01
Ini bukan tulisan ilmiah, cuma sesuatu yang saya tulis dari… err, ‘narrative experience’. Saya jadi kepingin nulis ini gara-gara banyak yang ngrasani teman-teman yang mendukung Earth Hour. Ada yang bilang orang-orang itu kebanyakan makan budaya populer [cant blame them, green is sexy], ada yang bilang konyol karena salah sasaran [lha wong yang mulai duluan itu wong Barat kok kita yang disuruh ikut nanggung], ada yang merasa kalau earth hour itu cara penghindaran dari isu utama [halah, lebih efektif penekanan terhadap konsumsi secara permanen dong], ada juga yang langsung bilang itu kontra-produktif [tapi ini tidak masuk akal, biasanya kalau gelap malah lebih banyak yang produksi]
Jujur saja mas, mbak… saya kok merasa kurang sreg ya. Buat saya itu affirmative action. Seperti yang dilakukan Bono lewat kampanye glamor dia untuk memerangi kemiskinan itu… memang tidak efektif tapi hal tersebut bisa memunculkan kesadaran-kesadaran baru, dan dengannya datang pula dana-dana baru dan ide-ide baru.
Soalnya masih banyak yang kurang sadar terhadap akibat kehidupan mereka terhadap lingkungan. Misalnya saja, ihwal pemakaian ponsel untuk hal yang kurang penting, padahal ponsel itu masih diberi tenaga listrik. Kalau pakainya tidak bijaksana, ya sama saja buang-buang listrik tho. Jikalau yang melakukan hal itu cuma satu orang memang tidak terlalu mengerikan jumlahnya… tapi bayangkan, maaf saya tidak tahu persis jumlahnya, ada berapa banyak remaja tanggung yang tidak tahan untuk curhat kepada temannya tiap malam? [kalau dalam kasus nyaris bunuh diri atau nyaris bunuh dosen, mungkin dapat dimaklumi yaaa]
Saya nggak akan menasehati, saya cuma akan mengritik diri sendiri. Saya masih menyetir mobil, walaupun itu city car di bawah 1000 cc dan digunakan untuk kegiatan sosial atau antar jemput orang yang disayangi. Saya juga masih mengetik menggunakan laptop, walau saya beranikan untuk bergelap-gelap dengan lampu minimalis di rumah. Saya masih membeli koran kertas, karena saya tahu kalau pelanggan tukang koran itu makin berkurang semenjak makin mudahnya akses internet. Saya belum memakai pupuk organik buatan sendiri, karena selalu gagal saat membuatnya [terlalu basahlah, terlalu banyak cairan apa-itu-yang-hijau-hijau, terlalu IPS untuk program IPA?] Saya memang bukan environmentalis yang baik.
Tapi saya mencoba.
Lebih lanjut, mas dan mbak sekalian, kata orang bijak dari negeri Kung-Fu Panda, ‘yesterday is history, tomorrow is mystery, today… is a gift. Thats why they call it present’
Ada banyak yang harus kita pikir ulang saat dihadapkan dengan masalah lingkungan. Apalagi yang ngglobal seperti jaman ini. Misal, sepenting apa ‘Timur’ dan ‘Barat’ kalau dua-duanya sama-sama kebanjiran kalau kutub utara meleleh? [karena kutub selatan akan lebih lama melelehnya] Ya, sejarah kita di Indonesia, dan sub-altern lain, dengan negara maju sempat bersinggungan dengan sangat menyakitkan. Negara maju menjadi apapun mereka saat ini setelah mengambil paksa semua yang bisa mereka ambil di halaman belakang rumah kita. Dan, hanya memberikan emisi gas buang yang membuat dunia sekarang kelimpungan. Saya setuju kalau negara maju harus membuat skor seri sebelum kita bisa benar-benar mencari solusi yang membagi beban rata untuk sama-sama dipikul.
Tapi mas, mbak… itu ada di ranah politik antar negara.
Orang item, keriting, lucu seperti saya tidak beda dengan orang bule di negeri Belanda dalam hal kita memiliki kewajiban untuk benar-benar berhati-hati akan apapun yang kita lakukan. Sebagai individu. Kami sama-sama harus memikirkan tentang sampah, penggunaan kertas, atau berapa keluaran listrik hari ini. [terutama bagi saya, yang tinggal di Indonesia. Pembangkit listrik di sini masih jauh dari bersih] Mudah-mudahan setelah kami terbiasa BERPIKIR… kami mulai sadar tentang TINDAKAN yang bisa diambil. Untuk itu, mas dan mbak yang terhormat, saya mohon doa restunya. Agar saya mampu menjadi environmentalis bukan hanya pada tingkat pribadi, tapi juga komunitas. Suapaya bumi bisa lebih terjaga…
Karena masih banyak teman saya yang belum bisa berenang.
Tag: kampanye, earth hour, hijau, lingkungan hidup, sambil lalu, environmentalis
Terkait:
-
Earth Hour itu Copas Hari Raya Nyepi?
13 jam yang lalu -
PILKADA dan POLITIKANA
Kamis, 24 Des '09 22:48 -
Menggugat Media dalam Kasus Bank Century
Rabu, 25 Nov '09 10:24
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
hersamin: Keren
-
andyanto: Bagus
-
gunawanrudy: Bagus
-
yusro: Bagus
-
AndyMSE: Bagus
-
mpokb: Lucu
-
didinu: Keren
-
Boy Avianto: Bagus
-
Mas Paman: Bagus
-
Xaliber von Reginhild: Bagus
-
warnapastel: Menarik
-
Catshade: Inspiratif
-
babyloniamaria: Bagus
-
Sri Kirana: Inspiratif
-
Riyono: Bagus
-
timpakul: Menarik
-
NW: Bagus


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Saya suka kalimat itu.
sudah mulai dari pribadi, itu bagus sekali...
Yup, mulai dari mana kalau tidak mulai dari mengubah diri sendiri
"Be the change you want to see" (Gandhi)
Silahkan login untuk memberikan pendapat