Mampukah Politikana? 17
Senin, 30 Mar '09 04:40
Hari ini kebetulan membaca sebuah berita menarik (bisa di baca di sini) tentang Mendagri inggris yang menggunakan uang negara untuk membayar tagihan TV dan internetnya. Beritanya jadi bertambah seru karena di dalam tagihan tersebut ada biaya untuk pembayaran dua buah film porno yang ditonton oleh suaminya (mungkin karena sang mendagri, sang istri, terlalu sibuk maka sang suami "terpaksa" menonton film porno).
Hal yang menarik perhatian saya bukanlah kelakuan sang suami yang menonton film porno (dari satu sisi ini lebih baik dari selingkuh), melainkan tentang akses media (masyarakat) terhadap kinerja dan perilaku seorang pejabat publik.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, ada sebuah hasil riset menarik mengenai efek dari liputan media di dunia poltik (artikel ilmiahnya bisa di lihat di sini). Riset tersebut menyimpulkan bahwa jika suatu daerah/distrik pemilihan memiliki media khusus yang membahas politik (dan sepak terjang politisi distrik tersebut) secara detail, mereka umumnya memiliki perwakilan (anggota parlemen) yang mau bekerja keras demi kepentingan masyarakat daerah tersebut. Hasil riset itu juga menyimpulkan bahwa semakin luas cakupan sebuah media, maka efek tekanan yang dihasilkan akan semakin berkurang. Kesimpulan lainya adalah bahwa liputan TV tidak memberikan efek yang cukup berarti atas kinerja seorang anggota parlemen dan berbagai liputan di internet memberikan efek yang beragam.
Ketika sebuah media memiliki akses yang memadai dan mampu memberikan sebuah liputan/bahasan yang intensif tentang performa seorang pejabat publik/wakil rakyat(dan dapat dipertanggung jawabkan) hasilnya adalah sebuah dorongan (tekanan) besar agar individu tersebut bisa bekerja lebih baik.
Penulis bukanlah praktisi media dan tidak tahu bagaimana kondisi aktual akses informasi saat ini, tetapi dengan perkembangan teknologi yang ada, mungkin hal tersebut bukanlah sebuah hambatan besar. Yang perlu ditekankan mungkin adalah konsentrasi pembahasan dari media yang ada. Jika suatu hari ada sebuah media yang mampu mengakomodasi penilaian publik terhadap wakil-wakilnya atau para pelayannya (pejabat publik) secara efektif, bukan tidak mungkin kita akan memiliki wakil-wakil rakyat yang tetap terjaga walau sidang telah berlangsung cukup lama.
Pertanyaannya sekarang: mampukah Poltikana?
-EN-
Tag: politikana, wakil rakyat, media, Pejabat Publik
Terkait:
-
Apakah Penulis Politikana adalah Jurnalis?
Senin, 22 Feb '10 09:48 -
Politikana - Politikini
Kamis, 13 Agu '09 23:30 -
Ahmadinejad Adalah Hitler Keturunan Yahudi!
18 jam yang lalu
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Mas Paman: Inspiratif
-
AndyMSE: Menarik
-
babyloniamaria: Penting
-
Roby Muhamad: Penting
-
guawijaya: Inspiratif
-
Catshade: Inspiratif
-
edo: Menarik
-
gunawanrudy: Inspiratif
-
didinu: Keren
-
yusro: Inspiratif
-
Ahmadmaulana: Penting
-
enda: Menarik
-
GaraMata: Inspiratif
-
dragz: Bagus
-
Bung Ajo: Menarik
-
bonardomaulana: Inspiratif
-
hersamin: Penting
-
hamatamu: Biasa
-
Riyono: Inspiratif
-
opiniherry: Inspiratif
-
Xaliber von Reginhild: Inspiratif
-
judotens: Menarik
-
Upik: Bagus


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Sebetulnya bukan itu sih. Media hanya terbjti dayanya jika bisa menggerakkan partisipasi khalayak. Jika cuma berisi kritik (dan pujian), maka abdi negara cuma cuek, "Emang gue pikirin? Sebodo amat kalian ngomong apa, yang penting dapur gue ngepul."
Kapankah saat itu (partisipasi berupa gerakan) meluas? Butuh waktu. Kita menanam pohon untuk anak, keponakan, bahkan cucu.
Duh lama banget.
Mampu tho ya....
*kemaki*
mari menjadi kotrol sosial via internet
bebas tapi sopan lah
Silahkan login untuk memberikan pendapat