Kekacauan Logika Gerakan “Jangan Pilih Caleg Poligami” 39
Rabu, 1 Apr '09 16:12
Baru-baru ini, Solidaritas Perempuan Indonesia (SPI) meluncurkan gerakan ”Jangan Pilih Caleg Poligami”. Ada beberapa argumen yang disampaikan SPI. Para politisi itu dianggap sangat rentan melakukan korupsi karena membengkaknya biaya hidup mereka yang menanggung lebih dari 1 keluarga.
Perilaku menikah lebih dari satu kali dianggap menunjukan laki-laki telah melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Dalam hubungan poligami dianggap tidak akan bisa sang suami berlaku adil, oleh karena itu pelaku poligami dianggap tidak dapat memberi contoh berperilaku adil kepada masyarakat.
Saya merasa ada logika yang dipaksakan dalam mendukung gerakan ”Jangan Pilih Caleg Poligami”, yaitu:
1. Bengkaknya biaya hidup tidak selalu diakibatkan poligami, namun bisa berasal dari banyak faktor, seperti karena sifat boros seseorang misalnya. Jadi seharusnya kalau mau fair, dibuatlah gerakan ”Jangan Pilih Caleg Boros”. Bagaimana pula dengan laki-laki dengan satu istri yang bengkak biaya hidupnya karena banyak anak? Apa perlu dibuat gerakan ”Jangan Pilih Caleg Banyak Anak”? Seharusnya pernyataan pelaku poligami rentan korupsi di-back up dengan hasil penelitian empiris mengenai hubungan antara korupsi dan poligami, yang berawal dari pertanyaan: apakah sebagian besar anggota DPR/pejabat yang terbukti korupsi adalah pelaku poligami?
2. Indonesia punya berbagai peraturan perundang-undangan, khususnya UU Kekerasan dalam Rumah Tangga, yang mengatur unsur-unsur suatu tindak kejahatan. Tidak ada peraturan yang menyatakan bahwa poligami adalah tindak kejahatan. Jadi bukan poligaminya yang dianggap tindak kejahatan, tapi apakah perbuatan seseorang kepada orang lain memenuhi unsur-unsur sebagai tindak kejahatan. Kekerasan bisa dilakukan siapa saja, baik oleh pelaku poligami atau monogami. Kalau ada istri dalam hubungan poligami mengadu ke polisi atau LSM pembela hak perempuan mengenai kekerasan yang dialaminya, tidak bisa dianggap begitu saja mewakili keadaan semua hubungan poligami di Indonesia dan dunia. Oleh karena itu, harus ada hasil penelitian yang menunjukkan hubungan antara poligami dan kekerasan, dengan jumlah responden yang memenuhi standar penelitian ilmiah.
3. Konsep keadilan di dunia adalah sesuatu yang relatif dan bersifat subyektif. Seseorang merasa telah bertindak adil, namun belum tentu orang lain merasa diperlakukan adil. Dalam keluarga, perlakuan seorang ayah kepada anak-anaknya bisa saja dianggap tidak adil dimata anak-anaknya, meski tidak dalam hubungan poligami. Jadi sangat absurd mempersoalkan ketidakadilan hanya untuk hubungan poligami saja.
Saya bukan pelaku atau pendukung poligami. Saya hanya mengajak masyarakat untuk lebih kritis menyikapi upaya-upaya yang dilakukan berbagai pihak selama penyelenggaraan pemilu 2009, sehingga masyarakat dapat lebih rasional dalam menggunakan hak pilihnya.
Tag: Pemilu, DPR, caleg, partai, politik, 2009, iscel, Pejabat, poligami, SPI
Terkait:
-
Malangnya Nasib KPPS
Rabu, 15 Apr '09 19:27 -
Tidak Ada Absen Mandat, Bung Eep!
Rabu, 25 Mar '09 09:50 -
Memilih itu Gampang, Lho
Selasa, 24 Mar '09 16:17
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Xaliber von Reginhild: Menarik
-
babyloniamaria: Lucu
-
Riyono: Menarik
-
Ahmadmaulana: Bagus
-
mpokb: Inspiratif
-
Iqbal Prakasa: Menarik
-
AndyMSE: Menarik
-
gunawanrudy: Menarik
-
Sri Kirana: Menarik
-
Mas Paman: Bagus
-
didinu: Menarik
-
yusro: Menarik
-
Lantip: Menarik
-
hamatamu: Biasa
-
Yudiantoro: Inspiratif
-
Red-White Porridge: Menarik
-
hersamin: Bagus
-
Pedy: Bagus
-
Richard Fang: Penting
-
boiga: Menarik
-
Lemon S. Sile: Penting
-
Catshade: Penting
-
Erbe: Biasa
-
agitdd99: Menarik
-
Sumiharjo: Menarik
-
asep1974: Penting
-
sufehmi: Bagus
-
shinte galeshka: Biasa
-
Lemink: Menarik
-
Ipam: Bagus
-
Edo Segara: Bagus
-
rakjat ketjil: Penting


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Tapi, yang jelas, pilihan poligami si caleg bisa digunakan untuk menjadi landasan pemilih untuk menentukan contrengannya. Karena sediktia tau banyak, pilihan berpoligami mencerminkan legislasi yang akan dia perjuangkan dan sikap yang akan ia pegang.
caleg poligami ma banyak tunjangan hidupnya hihihihi
sedikit banyak saya setuju dengan anda
S7 bung Ajo...
gerakan-gerakan di negeri kita ini memang ajaib!
*saya jadi teringat gerakan jangan bugil di depan kamera, bugillah di belakang kamera hihi*
Yang Monogami aja buktinya banyak yang nggak bener. Istri satu tapi punya anak delapan juga biaya hidupnya sama tinggi dengan istri empat dengan masing-masing satu anak...
Poligami tidak bisa dijadikan cerminan sikap seseorang untuk berpolitik.
Yang jelas, tidak akan kembali ke jaman jahiliyah, karena kita punya UU.
Kalau mau mendata yang berpoligami, sekalian saja data anggota keluarga inti yang monogami. Siapa tahu satu keluarga ada banyak orang. Jadi yang harus dipangani akeh... Hehehe
Mau pemilu apa mau sensus ya?
Susah euy ntar nentuin ibu negaranya
*ngumpet*
Cerdas, Sob! Kalau ada pemilihan, bakalan jadi Comment of the day nih!
Cool!
kalau komitmen dia pada orang yg dia berjanji didepan Tuhan saja bisa dia abaikan, gimana dgn komitmen jadi legislatif atau presiden sekalipun?
Mas @WicakS, seseorang berpoligami belum tentu karena penyelewengan. Tidak terpikirkah kemungkinan seorang istri merelakan suami untuk punya istri yang lainnya? Yang seperti itu ada lho.
Yang istri satu saja bisa nyeleweng tanpa poligami. Jadi lebih baik tak perlu menjadikan Poligami sebagai alasan untuk tidak memilih sang caleg. Lihat individu-nya saja, kalau istri 4 tapi memang kinerjanya bagus, track record-nya nggak bermasalah, kenapa takut memilih dia?
Ada baiknya aliansi yang bikin gerakan itu menyertakan wawancara Istri-istrinya caleg yang poligami apakah diperlakukan semena-mena atau tidak biar clear gitu masalahnya.
-----------------
Kalau ada anggota legislatif yang nyeleweng / punya simpanan dimana-mana, malu juga gak ?
Kalau dibawa emosi, memang logikanya jadi bisa kacau.
Saya sendiri tidak tertarik untuk berpoligami, tapi saya juga sudah melihat kasus dimana poligami itu menaungi dan melindungi perempuan. Jadi saya setuju dengan Bung Ajo, bahwa ada kekacauan logika dalam gerakan ini.
Saya akan malu kalau punya anggota legislatif yang nyeleweng/punya simpanan dimana-mana..
dan saya juga malu kalau punya anggota legislatif yang poligami...
Tapi apa cuma ada dua jenis makhluk legislatif di sini yaitu yang nyeleweng dan yang poligami saja?
Obat untuk tidak nyeleweng ya setia, tidak terkait dengan poligami.
Saya tidak terbawa emosi, untuk apa mbahas seperti ini pakai emosi?
Atau anda bisa baca emosi saya dari ketikan saya? Hebat benar Anda ... Hehehe..
Memang nih yang bikin list kurang kerjaan. Nggak ada pekerjaan ya?
Selama ybs capable dan mengemban amanah rakyat dengan baik; dan tidak ada kezaliman / pelanggaran hukum pada operasional rumah tangganya; saya tidak peduli apakah ybs poligami atau tidak, apakah ybs beragama islam atau bukan, apakah ybs pria atau wanita, dst, dsb.
Malu memang emosi, tapi sepertinya anda melakukan kesalahan double, selain membuat tebal komentar, Anda juga salah baca.
Perhatikan "Saya akan malu" bukan "saya malu"
Gimana sih Bung, udah ditebalin sendiri masih belum jelas juga? Hehehehhe
ups dilarang ketawa ya karena ketawa juga emosi?
Pressure group yang payah!
--------
Ini sih bukan kesalahan saya, sori saja.
Kenapa bisa jadi tebal saja saya tidak tahu.
Saya minta maaf diatas hanya sopan santun lah ya
Anda juga salah baca.
Perhatikan "Saya akan malu" bukan "saya malu"
-----------
Perhatikan :
"dan saya juga malu kalau punya anggota legislatif yang poligami"
/facepalm
Silahkan login untuk memberikan pendapat