Uneg-Unegku Untuk Politikana 65

Rabu, 1 Apr '09 23:45, dibaca 89 kali

Assalaamu'alaikum,

Ini adalah uneg-uneg aku untuk Politikana yang aku rasakan akhir-akhir ini. Mohon maaf kalau aku melontarkan apa yang aku rasakan ini.

Aku memang bukanlah seorang wartawan dan bukan juga seorang penulis. Tapi hanya sekadar belajar untuk mengkreatifkan diri dalam bidang menulis.

Awalnya aku sangat tertarik dengan Politikana yang deperkenalkan oleh seseorang. Karena, selain tempat untuk mengkreatifkan diri dalam hal tulis menulis, di sini aku banyak dapat pengetahuan baru dari pengalaman teman-teman yang ada di Politikana.

Agar tulisan yang aku buat tidak melenceng jauh dari tujuan Politikana yang tertuang pada ruang "tentang kami" , aku terus mengulang-ngulang maksud dan tujuan yang tertuang dalam ruang tersebut agar tulisan yang aku buat layak untuk dibaca orang banyak.

Namun akhir-akhir ini aku kok jadi merasa risih membaca artikel yang ada di sini. Isi artikelnya justru lebih banyak menyudutkan daripada memberikan pencerahan dalam pendidikan politik. Padahal yang aku bayangkan di Politikana ini, mampu memberikan pendidikan politik yang positif untuk masyarakat luas agar masyarakat mampu bersikap positif dan bertindak positif.

Masyarakat kita sudah antipati dengan yang namanya dunia politik, seharusnya Politikana mampu menjadi tempat pembelajaran politik yang positif untuk masyarakat luas.

Kalaupun isi dari sebuah artikel adalah sebuah kritikan, alangkah lebih baiknya jika kritik yang disampaikan adalah kritik yang membangun, yang bisa

Semoga ke depannya Politikana benar-benar menjadi wadah pembelajaran politik yang positif dan bersifat membangun bagi perkembangan politik yang ada saat ini. Menjadi wadah yang independen dalam penyampaian isu politik saat ini.

Demikian uneg-uneg saya.

Wassalaamu'alaikum

 

 

 


Tag: media watch, OOT, pendidikan politik

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Lantip 0 0
mbak, yuk keluar dari zona itu. zona yang bikin kita sibuk dengan diri sendiri.

kalau ada yang gak cocok, ada rating ada komentar.

dirasa kurang? mari bikin polemik, tulis artikel bantahan. asyik kan?
Leksa 0 0
Baru beberapa minggu..

efek nya mulai kerasa ya Mbak?

beginilah ruang yang bebas itu, Mbak...



saya malah menunggu efek2 selanjutnya yang lebih dahsyat... ; )
Xaliber von Reginhild 0 0
Yah, beginilah efek kebebasan berpendapat, kan, mbak. : p Ada yang begini, ada yang begitu.

Yang penting bagaimana membedakan relasi saat berargumen dan saat di luar argumen saja. : D
Upik 0 0
kebebasan berpendapat membut orang jadi kebablasan... hehehe
Edwin from the Past 0 0
Aturan ruang bebas seperti ini gampang kok; "you are free to talk and people are free to disagree, vice versa." Tidak perlu minta maaf kalau menyatakan pendapat, tapi jangan mengharap orang akan meminta maaf kalau mereka berbeda pendapat.

Kalau memang merasa nggak nyaman atau merasa disudutkan, silahkan keluarkan bantahan dengan argumen yang valid. Asal jangan main ejek atau hina-hinaan sih, menurut saya masih wajar kok.
opiniherry 0 0
Maju terus mbak...
Di sini gak semuanya galak kok...
kadang malah ada yg cuman acting...: D
kakilangit 0 0
Orangnya kebablasan atau Anda yang membatasi?

Sebenarnya kan ada fasilitas komentar dan rating, Anda juga bisa menyanggah dengan pendapat berbeda yang lebih elegan melalui artikel yang Anda tulis : )
asep1974 0 0
Ada tesis, antitesis, lalu sintesis. Itulah perjalanan yg harus kita lalui, mbak, kalo kita mau matang. Seringkali kita tak sabar, baru sampai antitesis, lalu kita bilang "wah ini sudah kebablasan".

Kebebasan pada awalnya mirip anarki, tapi hukum alam akan memberikan keseimbangan dengan logikanya sendiri. Tak ada kebebasan yang kebablasan. Kebebasan akan membatasi dirinya sendiri.

Lihatlah negara-negara Barat yang menjunjung tinggi kebebasan. Apakah di sana ada anarki? Apakah di sana terjadi baku-pukul, baku-tembak, baku-bunuh di jalanan? Ternyata tidak toh? Justru di negara2 maju yg sangat bebas, ada ketertiban yang luar biasa, ada penghargaan yang tinggi atas martabat manusia dan kemanusiaan, yang tak mungkin ditemui di negeri yang konon menganut Pancasila sebagai satu-satunya dasar negara. Kenapa? Karena negeri ini tak pernah menemukan sintesis, selalu berhenti pada antitesis. So, mari kita kawal Politikana kita ini agar sampai pada sintesis. Yiu...
DV 0 0
@Upik: inilah demokrasi!
Kalau semua harus diatur dan dibekap itu diktator!
Saya lebih setuju seperti ini ketimbang pake sistem absolutisme dan pembekapan atas nama apapun mulai dari militer hingga.. AGAMA : )

Makanya saya nggak setuju UU APP : ) *OOT maning*
gunawanrudy 0 0
Web 2.0 FTW! : D
heriyadi 0 0
Setuju Mba, , kalo mau nulis ya dilengkapi data bukan hanya lemparan tuduhan lalu didiamkan begitu saja kadang setelah dikomentari pun tidak ada komentar balasannya.

Bukan mau membatasi kebebasan berkreasi tapi tentu lebih enak kalo tulisan itu berbasiskan sesuatu yang jelas bukan tuduhan-tuduhan tanpa bukti. Jadi kalo mau nulis paling tidak ada dasarnya bukan hanya gosip atau asal dengar dari orang lain tanpa kejelasan yang lalu dilempar ke publik. Mirip di forum saja.

Berharap ini adalah proses awal menuju pendewasaan Politikana sehingga menjadi tempat berdiskusi politik yang dewasa dan dapat di percaya secara luas.
hamatamu 0 0
saya setuju dengan asep1974

"Tak ada kebebasan yang kebablasan. Kebebasan akan membatasi dirinya sendiri."
Catshade 0 0
Semuanya juga masih dalam tahap belajar kok mbak Upik. Bahkan para warga terpuji yang artikelnya sudah segudang sekalipun... ; )

Kalau merasa risih, ya tinggal dirating negatif saja. Kalau banyak yang merasakan hal yang serupa, pasti artikel itu dengan sendirinya akan turun peringkatnya kok.

Kalau mayoritas justru merasa artikel itu bagus/menarik? Ya, itulah keniscayaan dalam berdemokrasi.
Sri Kirana 0 0
Namanya juga belajar Mbak, semua di sini sama-sama belajar tho, jadi ya wajar kalau melakukan kesalahan. Kalau Mbak Upik tidak setuju silahkan komentar dan memberi rating, atau kalau perlu tulis artikel bantahan sekalian. : )
Po' 0 0
Menulis adalah membebaskan.
Pedy 0 0
Yang mana sih Mbak persisnya tulisan yang menyudutkan itu?
Harrie 0 0
jangan kapok2 mbak, teruskanlah
Benar kata Shouen...
Matt Zammy 0 0
saya pernah dengar kalimat begini, "demokrasi memang melelahkan, namun inilah proses yang harus kita lalui.."

berjumpa dengan banyak orang, bebas saling berpendapat, memang susah, mbak. justru kita bisa melihat "sisi lain" dari pemikiran yg selama ini "selaras" dengan kita.

kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain.

untuk persoalan "suka-tidak suka" kan ada sistem rating. di sinilah crowd-moderation berlaku. bila tidak suka, tinggal rating saja. : )

oiya, kan masih versi beta, jadi kita masih "mencari bentuk" dan membangun "kultur" di sini.. : )
enda 0 0
terima kasih masukannya, tapi usul Lantip itu betul dan mengutip prabowo (ho ho ho) sing becik ketitik sing olo ketoro (yang baik akan ketahuan, yang jelek akan kentara)

artikel yg menyudutkan buat kita bisa inspiratif untuk orang lain, disini perbedaan terlihat dan politik adalah ttg perbedaan dan bagaimana menyelesaikannya

kita tidak terbiasa dan tidak pernah diajarkan mengenai perbedaan ini

kalau tidak setuju kita bisa berikan komentar dan rating yang membenarkan

dan tentunya dibalas dengan artikel yang lebih benar dan dari sudut pandang kita sendiri
Rane 0 0
Mbak Upiak.. Bisa dipahami keresahannya. Tapi jangan menyerah mbak. Terus tuliskan kegelisahan mbak disini.

Situs web 2.0 itu dibentuk oleh kita dan perlahan akan ketemu kok format yang pas dari politikana yang masih balita ini.. : )
guawijaya 0 0
setuju....mungkin pembelajaran politik dapat kita raih dengan membaca, merating, mengomentari dan kalo belum puas buat artikel tandingan.

Mungkin ARTIKEL PERJUANGAN ya....hihihi....

Bos Enda, bisa ngak ada rubrik khusus yang penulisnya adalah praktisi politik atau sejenisnya yang mengupas mengenai pola perilaku politik indonesia [khususnya] yang merujuk pada teori dan sejarah.
babyloniamaria 0 0
politik itu kejam mba, itu yang saya alami, demi uang, kekuasaan mereka itu ga takut menjelek-jelek kan dan menindas, tapi menjilat bangsa lain yang jelas-jelas punya kepentingan hanya duit.
makanya orang politik jarang dipercaya...mending dagang aja, dapat duit...
sufehmi 0 0
Lihatlah negara-negara Barat yang menjunjung tinggi kebebasan. Apakah di sana ada anarki? Apakah di sana terjadi baku-pukul, baku-tembak, baku-bunuh di jalanan? Ternyata tidak toh?
----------------

Ada kok. Kata siapa tidak ada ? : )

Saya menyaksikan langsung di Inggris. Di Amerika juga banyak.

Konten2 seperti ini yang membuat saya agak malas. Tadinya saya kira disini saya bisa menemukan artikel2 yang mencerahkan.

Ternyata, masih banyak ketemu yang fokus ke sensasi, FUD, persepsi yang keliru, dst.

Anyway, tapi komentar Catshade menyadarkan saya. Kalau artikel model begitu justru yang populer? Ya berarti itulah gambaran masyarakat kita saat ini : )

Jadi mudah2an Politikana.com bisa terus bergerak untuk mencerahkan masyarakat kita. Dan sejalan dengan waktu, maka komunitas Politikana bisa terus menjadi jauh lebih baik lagi.
tikabanget 0 0
ini wadah dimana semua orang bisa menyuarakan isi kepala.
kalo tulisan isi kepala si X dianggap menyudutkan, ada yang namanya fitur ranking.
ada yang namanya ruang komentar.
setiap orang bisa berdiskusi, bisa mengingatkan, bisa mengkritisi, bisa saling menepuk pundak.
tinggal bagaimana kedewasaan si penulis dan pemberi komentar dalam berinteraksi.
Ndoro Kakung 0 0
bukankah kekurangan itu justru bagian dari proses belajar itu?
yusro 0 0
upik: terimakasih masukannya. Politikana adalah media terbuka untuk pembelajaran bersama.

Lazimnya media, tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang, begiu juga sebaliknya. Jadi ada yang senang ada pula yang tidak senang,sedih, bahkan miris. Wajar. Dan kita bisabelajar dari semua rasa itu. Belajar tidak hanya dari yang benar dan lurus. Belajar bisa dari kesalahan, keburukan, kekejian juga kekotoran....

eh.... jadi ingat iklan sabun: kalau nggak kotor ya nggak belajar.

salam
aplikasi politik 0 0
Bagaimana kita mengetahui politik lebih jauh mbak, baru mulai saya kita sudah enggan untuk melihat yang tidak mbak sukai, apalagi mbak terjun langsung ke lapangan mungkin langsung mati berdiri
enda 0 0
guawijaya betul, nantikan lebih banyak "pakar" dan public figure di bagian penulis tamu

ini untuk mengimbangi dan memberikan dasar teori yang akan memperkaya politikana nantinya
sufehmi 0 0
enda - amin, ditunggu pencerahan2 dari para pakar juga.

Mudah2an pakar yang betulan : ) (bukan pakar 68%, haha) sehingga kualitasnya jadi berbeda dengan media massa biasa.
Lantip 0 0
sufehmi: gimana kalau; ditunggu para so-called pakar itu tercerahkan politikana? : p
asep1974 0 0
sufehmi saat ini saya tinggal di Oslo, ibukota Norwegia. Kebebasan hadir di sini utk waktu yg sangat panjang. Dan kebebasan inilah yang mengasah setiap individu untuk menegakkan tanggung jawab dan kejujuran dalam dirinya sebagai nilai keseharian mereka. Kalo Anda ke stasiun kereta (Metro), Anda akan kaget karena tidak ada mekanisme apapun yang mengontrol orang beli tiket atau tidak. Di semua stasiun Metro tidak ada penjagaan sama sekali. Negara menyerahkan kepercayaan bulat2 kepada integritas Anda, pada kejujuran Anda. Inilah High Trust Society! Angka korupsi dan kriminal di negeri2 Scandinavia terendah sedunia!

Anda bisa saja gak beli tiket selama kapanpun Anda mau dan bisa jalan bebas ke mana pun. Tapi apakah itu terjadi? Ternyata tidak. Ternyata mayoritas orang Norway jujur dan bertanggung jawab. Lebih dari 90 persen dari mereka beli tiket. Kalo ada yg gak jujur biasanya imigran dari Dunia Ketiga, spt negeri kita ini, hehehe...
Pedy 0 0
@ Asep:
Koq kayaknya silau banget deh sama Negara orang? Saya sering banget juga ketemu sama orang2 yang baru lulus Ph.D, wuihh.. ngelem (muji) luar negerinya itu lho... setinggi langit.. mbok moderate ajah knapa?

Kalo cuma contoh kejujuran beli tiket naik kreta nggak usah jauh2 sampai Scandinavia Mas, di sini juga ada tipikal kejujuran ala warung Padang, kita bisa makan sepuasnya, pake rendang, ayam, ikan bakar, tapi kalo mau kita bisa bo'ong bilang makan cuma lauk tahu tempe. : D Kayaknya nggak pernah terjadi tuh, karena kalau jadi modus pasti bankrupt deh itu semua warung padang... : D

Sebaliknya restoran fastfood di sono ada nggak yang menerapkan kearifan dan kejujuran ala restoran Padang? Kayak franchise2 itu harus bayar di muka dulu deh. Jangan2 mereka nggak percaya kita ini jujur, dikiranya abis makan langsung ngaciiiirrr...
asep1974 0 0
@Pedy sangat cuma ngasih contoh kecil. Coba pemberlakuan soal tiket itu diberlakukan di KRL jabotabek. Apa yang akan terjadi? Wong, skrg aja, dg kontrol ketat dari aparat polsuska, polisi, dan tentara, masih banyak kebocoran (utk tiket aja, di luar korupsi ya). Apalagi kalo gak ada penjagaan sama sekali?
ekowanz 0 0
err kan malah belajar menerima yg "beda"....kl semua mau sesuai dgn apa yg kita pikirkan dan angankan cm ada di "utopia" aj donk : p
GaraMata 0 0
Mencerahkan itu yang bagaimana sih?
Eko 0 0
@ibu Upik, Saya selalu ingat pesan guru mengaji kami, "ambil yang baik dan tinggalkan yang jelek", semenjak dulu Saya dan temen2 selalu coba amalkan, sehingga setiap bulan puasa kami selalu punya sendal baru lebih dari satu. Mungkin hal yang sama juga bisa diterapkan disini.

@bang Enda: Bagaimana kalo status kepakaran seorang pakar di politikana juga diatur secara demokratis, berdasarkan kualitas postingannya saja. Klo beberapa postingannya gak bermutu - ya gak perlu di anggap pakar lagi. Mudah-mudahan dengan begitu setiap pakar juga bisa lebih termotivasi sekaligus berhati-hati.
Sekedar usul, maaf kalau ada salah kata.
Upik 0 0
Terima kasih atas semua inputnya.. Saya akan terus belajar ..
sufehmi 0 0
Lantip - idealnya sih demikian : D
sufehmi 0 0
c1nk - komentar Anda yang sebelumnya itu generalisasi. Itu sendiri saja sudah keliru ("all generalizations all false")

Sebagai yang sudah tinggal di luar negeri, mustinya Anda sudah lebih tercerahkan dan bisa mencerahkan kita semua. Bukannya malah terjerumus kepada hal-hal seperti ini.

Anyway - ada satu lagi masalah dengan statement Anda tersebut, yaitu simplifikasi.
Memangnya bisa dengan membuka keran kebebasan lalu LANGSUNG **poof** semuanya aman damai sejahtera ?
Terlalu naif.

Saya yakin pasti ada proses yang cukup panjang yang dilalui oleh negara2 Skandinavia tsb.

Contoh kasus apesnya sudah pernah kita alami sendiri lho .... ketika kebebasan pers dibuka, namun masyarakatnya belum siap --- maka terjadilah kebablasan pers.

Kebebasan pers justru dimanfaatkan untuk keuntungan institusi pers itu sendiri. Bukan untuk kemaslahatan masyarakat.

Jadilah kita sekarang menikmati berita2 gosip : ( infotainment : ( berita2 yang cuma sensasional : ( dan berbagai berita2 tidak penting lainnya, yang tidak ada menguntungkan masyarakat.

Nah, dengan sarana-sarana pendukung, seperti Politikana.com ini, mudah2an kita bisa mempersiapkan masyarakat kita menuju situasi ideal. Seperti yang sampeyan sudah alami di sana.

Sehingga pada saatnya, maka kita bisa menikmati kebebasan secara penuh. Dan bukannya kebablasan lagi.

Jadi ya, mari kita saling berkontribusi sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Misalnya; dengan saling berbagai pengetahuan dan pencerahan disini.

Thanks.
sufehmi 0 0
maaf ralat - komentar saya sebelum ini adalah untuk ASEP MULYANA (bukan untuk c1nk)

Terimakasih
Sumiharjo 0 0
iya memang banyak comment tentang keburukan negeri sendiri berasal dari orang-orang yang hidup di negeri lain.
Bagaimanapun juga ini negeri kita suka atau tidak, ga mungkin kalo bukan kita yang bangun. Berpikir positif dan kontribusi itu yang penting.
suatu saat kita pasti kembali ke negeri ini, kecuali mau pindah kewarganegaraan.
GaraMata 0 0
Tapi tidak pada tempatnya juga kita mengatakan negeri kita sudah bagus padahal belum bukan?
asep1974 0 0
@sumiharjo Saya justru semakin mencintai tanah air setelah hidup di negeri lain. Bahwa ada kritik, itu adalah tanda cinta (piss, dulu ah). Semakin terbuka atas kritik, maka kita kian berpeluang menemukan jalan perbaikan. Semakin bebal dan defensif kita, maka kesempatan untuk maju kian tertutup
asep1974 0 0
sufehmi Anda benar, ada proses yang sangat panjang di Scandinavia, makanya di komen saya di atas, saya tulis begini, "Kebebasan hadir di sini utk waktu yg sangat panjang. Dan kebebasan inilah yang mengasah setiap individu untuk menegakkan tanggung jawab dan kejujuran dalam dirinya sebagai nilai keseharian mereka".

Kebebasan yang punya usia sangat panjang itu telah menggerus anarki dan kemudian menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga kejujuran dan tanggung jawab kuat mengakar di dalam individu dan terinternalisasi dalam kehidupan sosial mereka.

Anda benar, mereka butuh waktu panjang.
Pun kita.
Mas Paman 0 0
Politikana masih dalam tahap forming. Kita sedang bersama-sama membentuknya. Wajar jika ada tarik-menarik di sini.

Yang lebih penting lagi adalah: apakah politikana ini bisa mewakili keragaman kita atau akhirnya cenderung terungkung dalam sebuah arus?

Kita semualah yang menjawab dan sekaligus membuktikannya.
isman 0 0
c1nk Mulyana: OOT, berkaitan kebiasaan kita berbahasa: sebaiknya kalau mau ngomong "peace" ya menggunakan ejaan yang sebenarnya. Tidak rancu dengan "piss" yang walau secara pembacaan begitu, tapi berarti beda. Karena dua hal itu konotasinya bertolak belakang, lho. Yang pertama mengajak damai. Yang kedua ngajak ribut, hehehe.

Ini OOT yang mengajak kita memerhatikan bahasa tulisan dalam berdiskusi. Jangan sampai kita nanti malah terjebak dalam debat yang ternyata akarnya hanya karena kesalahpahaman pemaknaan kata.

Damai di bumi, pikiran, dan jari tangan.
isman 0 0
Buset saya mengetikkan simbol "AT" + Asep ternyata langsung diubah jadi c1nk, ya? Itu di atas maksudnya teruntuk Asep Mulyana. (Agar tidak salah dimaknai.)
Boy Avianto 0 0
Generalisasi memang cenderung menjerumuskan, tapi generalisasi juga memudahkan. Familiar ya dengan situasi kehidupan : ).

Saya percaya kok, pada dasarnya semua Politikaners, baik yang tinggal di luar negeri, dalam negeri bahkan luar bumi, cinta Indonesia dan ingin Indonesia menjadi lebih baik lagi. Kita semua sudah lelah dengan permainan politik tidak jelas, korup dan mementingkan diri sendiri.

Memang jalan dan idenya beda-beda, ada yang memilih jalur spiritualis, sosialis, liberalis, kapitalis dan berjuta -is lainnya. Justru di sini kita belajar menerima pendapat-pendapat tersebut dan membuka pikiran bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa besar dengan kemajemukan tingkat tinggi. Secara 'natural' (masih bisa diperdebatkan loh) Indonesia itu tidak punya alasan untuk berdiri, sukunya saja 300+, bahasanya banyak dan budayanya beragam - tapi toh mampu berdiri selama lebih dari setengah abad walaupun jatuh bangun - dan tentunya kita tidak mau kalau Indonesia akhirnya cuma jadi catatan sejarah sebagai negara yang "pernah" berdiri (atau ada yang mau? Boleh loh berpendapat).

Kembali lagi ke topik, memang mengakui perbedaan itu sulit tapi justru membuat kita menjadi jauh lebih baik lagi dalam berpikir dan bertindak. Di sinilah saya pribadi berharap pada Politikana, menciptakan individual-individual dengan intelektualitas tinggi dan toleransi tinggi serta mampu berdiskusi secara dewasa dan matang tanpa harus gontok-gontokan seperti yang dilakukan elit politik saat ini.

Yuk, sama-sama membangun diri sendiri menjadi individual yang lebih baik karena sebuah bangsa akan menjadi lebih baik bila individu-individu di dalamnya, terutama kaum cendikiawan seperti Politikaners semua, juga sudah baik. Dari sini, kita bawa diri kita untuk terjun ke masyarakat. Perjalanan masih panjang, tapi kalau bukan mulai dari kita, dari siapa lagi?

Terimakasih untuk Politikana : ).
kang tutur 0 0
Politikana juga mengajar kita membaca yang tidak tersurat, eh yang tersirat...

...
Bakilek ikan dalam ayie, lah tantu jantan batinonyo ; )
sufehmi 0 0
@sumiharjo - iya memang banyak comment tentang keburukan negeri sendiri berasal dari orang-orang yang hidup di negeri lain.
----------------

Wajar sih, karena otomatis jadi terbandingkan dengan situasi di negara tersebut.

Yang penting, seperti kata mbak Upik, gimana supaya perspektif baru ini kemudian disalurkan menjadi kritik yang konstruktif.
Atau, syukur-syukur, mendorong untuk berkontribusi nyata.

Bukan malah cuma ngedumel kiri-kanan dan menjelek-jelekkan saja.

Bagi yang beragama Islam, setahu saya kita dianjurkan untuk bertandang ke negara lain dan saling berkenalan dengan suku bangsa lainnya juga. Karena ini ternyata akan sangat membantu membuka wawasan kita.
DV 0 0
@sumiharjo:
sufehmi:
Saya baru tinggal di luar negeri dan ketika saya berteriak-teriak di Politikana, misalnya, itu semata-mata bukan membandingkan dengan situasi negara ini lho.

Saya berkata demikian karena saya masih baru, orang yang baru biasanya kena sindrom membandingkan, tapi sejauh ini saya masih cukup kontrol terhadap hal yang satu ini.

Mungkin justru karena perasaan rindu dan cinta tanah air yang membuat jadi terkesan seperti itu...
sufehmi 0 0
Bagi yang beragama Islam, setahu saya kita dianjurkan untuk bertandang ke negara lain dan saling berkenalan dengan suku bangsa lainnya juga. Karena ini ternyata akan sangat membantu membuka wawasan kita.
--------------

Ini salah satu hikmah mengapa haji menjadi rukun islam. Salah satu contohnya adalah Malcolm X, yang tadinya rasis (dan berbagai sikap negatif lainnya), kemudian menjadi terbuka wawasanya setelah naik haji.
Boy Avianto 0 0
sufehmi: Mengutip "Bukan malah cuma ngedumel kiri-kanan dan menjelek-jelekkan saja."

Saya kok masih yakin ya bahwa mayoritas yang 'cuma ngedumel dan menjelek-jelekkan' itu sebenarnya masih cinta Indonesia (Kecuali mereka yang jadi tinggal di luar negeri karena terusir atau teraniaya selama di Indonesia ya.. tapi mungkin juga mereka sebenarnya masih cinta Indonesia) tapi tidak tahu harus bagaimana atau melakukan apa untuk Indonesia. Kalau tidak cinta ngapain juga ngabisin energi untuk tetap memperhatikan Indonesia ; ).

Perlu sarana memang untuk menyalurkan 'dumelan' rakyat Indonesia untuk menjadi gerakan nyata dan memang tidak semua orang akan mampu menggerakkannya juga. Cuma saya ingin berpikir positif saja bahkan dengan 'dumelan dan jelek-jelekan' itu justru ada masukan dan tantangan bagaimana supaya Indonesia bisa digerakkan menuju negara yang lebih baik.
Upik 0 0
Komentar dari teman-teman dari politikana, akan sy jadikan utk lebih berkarya lebih nyata lagi
Boy Avianto 0 0
Upik ditunggu : ) Sama-sama menjadikan Indonesia yang lebih baik (pertanyaan "untuk siapa" disimpan dulu ya ; ) - yang penting lebih baik dari sekarang) - satu tujuan, cara dan pemahaman berbeda : )
balidreamhome 0 0
karena masyarakat kita sudah lebih cerdas, biarkan saja Mbak Upik, jadi bisa terlihat mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang bermutu dan mana yang kelas kecap, mana yang kritik membangun dan mana yang cuma apriori...

No hard feeling : )
memethmeong 0 0
seperti yang dibilang teman2 di atas, proses pembelajaran.
bagii saya sendiri, lebih penting untuk memahami daripada mencapai kesepakatan/membuat orang lain setuju apa kata saya.

mencoba memahami dan menyadari bahwa apa yang ada di balik perasaan dan hati tiap individu itu berbeda-beda, termasuk dalam mengungkapkan pendapatnya ttg politik.

tapi untuk diri saya sendiri, saya belajar untuk lebih menahan diri menyalahkan daripada memberi solusi.yeah, errr, walo rasa kesal dan frutasi atas keadaan lingkungan sosial sekeliling saya seringkali membuat saya misuh2 dan nyampah dan itu memang ga kasih pencerahan sedikitpun : D
Upik 0 0
Setiap ada perbedaan dalam cara pandang itu hal yang wajar. Namun itu harus didasari atas dasar data-data yang valid.. tidak asal memberi komentar atau posting tanpa ada maknanya.
Boy Avianto 0 0
Upik Datanya tidak valid juga tidak apa-apa kok, nanti juga terkoreksi/dikoreksi oleh rekan-rekan yang lain. Posting tanpa makna juga tidak apa-apa, justru membuat kita jadi bisa membedakan mana individu yang bermakna mana yang tidak.

Berat... berat... semua dilihat dari sisi positif... berat memang : )
massto 0 0
yang pasti saya selalu kangen tulisan+komen bung pedy.., selalu menggairahkan jhe...

oiya,..mbak upik keliatannya gak suka kalo PKS dinyeki yaa??..tenang aja lagi mbak?!.. ini mah belum seberapa dibanding perang di "dunia nyata". Pengalaman pribadi; mbantuin sodara ikut nyaleg.
Upik 0 0
Terima kasih untuk Semua komentar dari tman-teman. Dan sekarang saya mulai posting tulisan lagi... Sebagai bahan pembelajaran diri agar lebih kreatif lagi...
sofiakartika 0 0
Menurut saya politikana sudah mencoba memberikan ruang pembelajaran untuk tidak antipati dengan politik, yaitu dengan menulis. satu poin penting, perbedaan kan tidak perlu ditakuti, gak perlu gontok-gontokan juga kan?, lewat menulis , dengan sendiri pembelajaran itu akan terbuka. seperti kata fatimah mernisi, kalau menulis itu mujarab untuk menghilangkan stress : D , dan yang positif dan membangun itu akan tercipta dengan sendirinya, saya percaya itu : D
republikfoto 0 0
Mungkin juga masyarakat disini ingin yang ringan2 saja..... kan nulis & mbacanya disambi kerja : )
abee 0 0
dengerin lagu "EAGLE FLY FREE - HELLOWEEN"
cermati juga liriknya..
masak kita harus dibatasi??
apa karena kita manusia??
aahh siaall, aku terlahir jadi manusia.. :'-(
Dony Alfan 0 0
Kebebasan yang bertanggung jawab, yes? : ))

Silahkan login untuk memberikan pendapat