Uneg-Unegku Untuk Politikana 65
Rabu, 1 Apr '09 23:45, dibaca 89 kali
Assalaamu'alaikum,
Ini adalah uneg-uneg aku untuk Politikana yang aku rasakan akhir-akhir ini. Mohon maaf kalau aku melontarkan apa yang aku rasakan ini.
Aku memang bukanlah seorang wartawan dan bukan juga seorang penulis. Tapi hanya sekadar belajar untuk mengkreatifkan diri dalam bidang menulis.
Awalnya aku sangat tertarik dengan Politikana yang deperkenalkan oleh seseorang. Karena, selain tempat untuk mengkreatifkan diri dalam hal tulis menulis, di sini aku banyak dapat pengetahuan baru dari pengalaman teman-teman yang ada di Politikana.
Agar tulisan yang aku buat tidak melenceng jauh dari tujuan Politikana yang tertuang pada ruang "tentang kami" , aku terus mengulang-ngulang maksud dan tujuan yang tertuang dalam ruang tersebut agar tulisan yang aku buat layak untuk dibaca orang banyak.
Namun akhir-akhir ini aku kok jadi merasa risih membaca artikel yang ada di sini. Isi artikelnya justru lebih banyak menyudutkan daripada memberikan pencerahan dalam pendidikan politik. Padahal yang aku bayangkan di Politikana ini, mampu memberikan pendidikan politik yang positif untuk masyarakat luas agar masyarakat mampu bersikap positif dan bertindak positif.
Masyarakat kita sudah antipati dengan yang namanya dunia politik, seharusnya Politikana mampu menjadi tempat pembelajaran politik yang positif untuk masyarakat luas.
Kalaupun isi dari sebuah artikel adalah sebuah kritikan, alangkah lebih baiknya jika kritik yang disampaikan adalah kritik yang membangun, yang bisa
Semoga ke depannya Politikana benar-benar menjadi wadah pembelajaran politik yang positif dan bersifat membangun bagi perkembangan politik yang ada saat ini. Menjadi wadah yang independen dalam penyampaian isu politik saat ini.
Demikian uneg-uneg saya.
Wassalaamu'alaikum
Tag: media watch, OOT, pendidikan politik
Terkait:
-
Dari Malaysia menuju Nusantara,dari indonesia menuju kehancuran dan perbudakan
Minggu, 7 Feb '10 11:54 -
Uga Wangsit Siliwangi
Minggu, 7 Feb '10 00:34 -
Budaya Barbarisme
Jumat, 27 Agu '10 07:40
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
hamatamu: Biasa
-
Edwin from the Past: Biasa
-
Xaliber von Reginhild: Biasa
-
gunawanrudy: Lucu
-
heriyadi: Menarik
-
Sri Kirana: Menarik
-
Catshade: Bagus
-
Po': Lucu
-
Pedy: Biasa
-
Matt Zammy: Penting
-
AdityaWirawan: Penting
-
guawijaya: Menarik
-
Arten®: Penting
-
sufehmi: Inspiratif
-
babyloniamaria: Bagus
-
tikabanget: Menarik
-
ariawan: Menarik
-
nicowijaya: Menarik
-
rampok: Penting
-
agitdd99: Menarik
-
Indrayana MB.: Menarik
-
asep1974: Penting
-
kang tutur: Keren
-
Marissa: Keren
-
didinu: Menarik
-
Tango Alpha: Penting
-
AndyMSE: Menarik
-
shinte galeshka: Menarik
-
Riyono: Penting
-
edo: Menarik
-
skyscraper: Menarik
-
republikfoto: Penting
-
Irfani Latif: Menarik
Komentar:
kalau ada yang gak cocok, ada rating ada komentar.
dirasa kurang? mari bikin polemik, tulis artikel bantahan. asyik kan?
efek nya mulai kerasa ya Mbak?
beginilah ruang yang bebas itu, Mbak...
saya malah menunggu efek2 selanjutnya yang lebih dahsyat...
Yang penting bagaimana membedakan relasi saat berargumen dan saat di luar argumen saja.
Kalau memang merasa nggak nyaman atau merasa disudutkan, silahkan keluarkan bantahan dengan argumen yang valid. Asal jangan main ejek atau hina-hinaan sih, menurut saya masih wajar kok.
Di sini gak semuanya galak kok...
kadang malah ada yg cuman acting...
Sebenarnya kan ada fasilitas komentar dan rating, Anda juga bisa menyanggah dengan pendapat berbeda yang lebih elegan melalui artikel yang Anda tulis
Kebebasan pada awalnya mirip anarki, tapi hukum alam akan memberikan keseimbangan dengan logikanya sendiri. Tak ada kebebasan yang kebablasan. Kebebasan akan membatasi dirinya sendiri.
Lihatlah negara-negara Barat yang menjunjung tinggi kebebasan. Apakah di sana ada anarki? Apakah di sana terjadi baku-pukul, baku-tembak, baku-bunuh di jalanan? Ternyata tidak toh? Justru di negara2 maju yg sangat bebas, ada ketertiban yang luar biasa, ada penghargaan yang tinggi atas martabat manusia dan kemanusiaan, yang tak mungkin ditemui di negeri yang konon menganut Pancasila sebagai satu-satunya dasar negara. Kenapa? Karena negeri ini tak pernah menemukan sintesis, selalu berhenti pada antitesis. So, mari kita kawal Politikana kita ini agar sampai pada sintesis. Yiu...
Kalau semua harus diatur dan dibekap itu diktator!
Saya lebih setuju seperti ini ketimbang pake sistem absolutisme dan pembekapan atas nama apapun mulai dari militer hingga.. AGAMA
Makanya saya nggak setuju UU APP
Bukan mau membatasi kebebasan berkreasi tapi tentu lebih enak kalo tulisan itu berbasiskan sesuatu yang jelas bukan tuduhan-tuduhan tanpa bukti. Jadi kalo mau nulis paling tidak ada dasarnya bukan hanya gosip atau asal dengar dari orang lain tanpa kejelasan yang lalu dilempar ke publik. Mirip di forum saja.
Berharap ini adalah proses awal menuju pendewasaan Politikana sehingga menjadi tempat berdiskusi politik yang dewasa dan dapat di percaya secara luas.
"Tak ada kebebasan yang kebablasan. Kebebasan akan membatasi dirinya sendiri."
Kalau merasa risih, ya tinggal dirating negatif saja. Kalau banyak yang merasakan hal yang serupa, pasti artikel itu dengan sendirinya akan turun peringkatnya kok.
Kalau mayoritas justru merasa artikel itu bagus/menarik? Ya, itulah keniscayaan dalam berdemokrasi.
Benar kata Shouen...
berjumpa dengan banyak orang, bebas saling berpendapat, memang susah, mbak. justru kita bisa melihat "sisi lain" dari pemikiran yg selama ini "selaras" dengan kita.
kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain.
untuk persoalan "suka-tidak suka" kan ada sistem rating. di sinilah crowd-moderation berlaku. bila tidak suka, tinggal rating saja.
oiya, kan masih versi beta, jadi kita masih "mencari bentuk" dan membangun "kultur" di sini..
artikel yg menyudutkan buat kita bisa inspiratif untuk orang lain, disini perbedaan terlihat dan politik adalah ttg perbedaan dan bagaimana menyelesaikannya
kita tidak terbiasa dan tidak pernah diajarkan mengenai perbedaan ini
kalau tidak setuju kita bisa berikan komentar dan rating yang membenarkan
dan tentunya dibalas dengan artikel yang lebih benar dan dari sudut pandang kita sendiri
Situs web 2.0 itu dibentuk oleh kita dan perlahan akan ketemu kok format yang pas dari politikana yang masih balita ini..
Mungkin ARTIKEL PERJUANGAN ya....hihihi....
Bos Enda, bisa ngak ada rubrik khusus yang penulisnya adalah praktisi politik atau sejenisnya yang mengupas mengenai pola perilaku politik indonesia [khususnya] yang merujuk pada teori dan sejarah.
makanya orang politik jarang dipercaya...mending dagang aja, dapat duit...
----------------
Ada kok. Kata siapa tidak ada ?
Saya menyaksikan langsung di Inggris. Di Amerika juga banyak.
Konten2 seperti ini yang membuat saya agak malas. Tadinya saya kira disini saya bisa menemukan artikel2 yang mencerahkan.
Ternyata, masih banyak ketemu yang fokus ke sensasi, FUD, persepsi yang keliru, dst.
Anyway, tapi komentar Catshade menyadarkan saya. Kalau artikel model begitu justru yang populer? Ya berarti itulah gambaran masyarakat kita saat ini
Jadi mudah2an Politikana.com bisa terus bergerak untuk mencerahkan masyarakat kita. Dan sejalan dengan waktu, maka komunitas Politikana bisa terus menjadi jauh lebih baik lagi.
kalo tulisan isi kepala si X dianggap menyudutkan, ada yang namanya fitur ranking.
ada yang namanya ruang komentar.
setiap orang bisa berdiskusi, bisa mengingatkan, bisa mengkritisi, bisa saling menepuk pundak.
tinggal bagaimana kedewasaan si penulis dan pemberi komentar dalam berinteraksi.
Lazimnya media, tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang, begiu juga sebaliknya. Jadi ada yang senang ada pula yang tidak senang,sedih, bahkan miris. Wajar. Dan kita bisabelajar dari semua rasa itu. Belajar tidak hanya dari yang benar dan lurus. Belajar bisa dari kesalahan, keburukan, kekejian juga kekotoran....
eh.... jadi ingat iklan sabun: kalau nggak kotor ya nggak belajar.
salam
ini untuk mengimbangi dan memberikan dasar teori yang akan memperkaya politikana nantinya
Mudah2an pakar yang betulan
Anda bisa saja gak beli tiket selama kapanpun Anda mau dan bisa jalan bebas ke mana pun. Tapi apakah itu terjadi? Ternyata tidak. Ternyata mayoritas orang Norway jujur dan bertanggung jawab. Lebih dari 90 persen dari mereka beli tiket. Kalo ada yg gak jujur biasanya imigran dari Dunia Ketiga, spt negeri kita ini, hehehe...
Koq kayaknya silau banget deh sama Negara orang? Saya sering banget juga ketemu sama orang2 yang baru lulus Ph.D, wuihh.. ngelem (muji) luar negerinya itu lho... setinggi langit.. mbok moderate ajah knapa?
Kalo cuma contoh kejujuran beli tiket naik kreta nggak usah jauh2 sampai Scandinavia Mas, di sini juga ada tipikal kejujuran ala warung Padang, kita bisa makan sepuasnya, pake rendang, ayam, ikan bakar, tapi kalo mau kita bisa bo'ong bilang makan cuma lauk tahu tempe.
Sebaliknya restoran fastfood di sono ada nggak yang menerapkan kearifan dan kejujuran ala restoran Padang? Kayak franchise2 itu harus bayar di muka dulu deh. Jangan2 mereka nggak percaya kita ini jujur, dikiranya abis makan langsung ngaciiiirrr...
@bang Enda: Bagaimana kalo status kepakaran seorang pakar di politikana juga diatur secara demokratis, berdasarkan kualitas postingannya saja. Klo beberapa postingannya gak bermutu - ya gak perlu di anggap pakar lagi. Mudah-mudahan dengan begitu setiap pakar juga bisa lebih termotivasi sekaligus berhati-hati.
Sekedar usul, maaf kalau ada salah kata.
Sebagai yang sudah tinggal di luar negeri, mustinya Anda sudah lebih tercerahkan dan bisa mencerahkan kita semua. Bukannya malah terjerumus kepada hal-hal seperti ini.
Anyway - ada satu lagi masalah dengan statement Anda tersebut, yaitu simplifikasi.
Memangnya bisa dengan membuka keran kebebasan lalu LANGSUNG **poof** semuanya aman damai sejahtera ?
Terlalu naif.
Saya yakin pasti ada proses yang cukup panjang yang dilalui oleh negara2 Skandinavia tsb.
Contoh kasus apesnya sudah pernah kita alami sendiri lho .... ketika kebebasan pers dibuka, namun masyarakatnya belum siap --- maka terjadilah kebablasan pers.
Kebebasan pers justru dimanfaatkan untuk keuntungan institusi pers itu sendiri. Bukan untuk kemaslahatan masyarakat.
Jadilah kita sekarang menikmati berita2 gosip
Nah, dengan sarana-sarana pendukung, seperti Politikana.com ini, mudah2an kita bisa mempersiapkan masyarakat kita menuju situasi ideal. Seperti yang sampeyan sudah alami di sana.
Sehingga pada saatnya, maka kita bisa menikmati kebebasan secara penuh. Dan bukannya kebablasan lagi.
Jadi ya, mari kita saling berkontribusi sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Misalnya; dengan saling berbagai pengetahuan dan pencerahan disini.
Thanks.
Terimakasih
Bagaimanapun juga ini negeri kita suka atau tidak, ga mungkin kalo bukan kita yang bangun. Berpikir positif dan kontribusi itu yang penting.
suatu saat kita pasti kembali ke negeri ini, kecuali mau pindah kewarganegaraan.
Kebebasan yang punya usia sangat panjang itu telah menggerus anarki dan kemudian menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga kejujuran dan tanggung jawab kuat mengakar di dalam individu dan terinternalisasi dalam kehidupan sosial mereka.
Anda benar, mereka butuh waktu panjang.
Pun kita.
Yang lebih penting lagi adalah: apakah politikana ini bisa mewakili keragaman kita atau akhirnya cenderung terungkung dalam sebuah arus?
Kita semualah yang menjawab dan sekaligus membuktikannya.
Ini OOT yang mengajak kita memerhatikan bahasa tulisan dalam berdiskusi. Jangan sampai kita nanti malah terjebak dalam debat yang ternyata akarnya hanya karena kesalahpahaman pemaknaan kata.
Damai di bumi, pikiran, dan jari tangan.
Saya percaya kok, pada dasarnya semua Politikaners, baik yang tinggal di luar negeri, dalam negeri bahkan luar bumi, cinta Indonesia dan ingin Indonesia menjadi lebih baik lagi. Kita semua sudah lelah dengan permainan politik tidak jelas, korup dan mementingkan diri sendiri.
Memang jalan dan idenya beda-beda, ada yang memilih jalur spiritualis, sosialis, liberalis, kapitalis dan berjuta -is lainnya. Justru di sini kita belajar menerima pendapat-pendapat tersebut dan membuka pikiran bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa besar dengan kemajemukan tingkat tinggi. Secara 'natural' (masih bisa diperdebatkan loh) Indonesia itu tidak punya alasan untuk berdiri, sukunya saja 300+, bahasanya banyak dan budayanya beragam - tapi toh mampu berdiri selama lebih dari setengah abad walaupun jatuh bangun - dan tentunya kita tidak mau kalau Indonesia akhirnya cuma jadi catatan sejarah sebagai negara yang "pernah" berdiri (atau ada yang mau? Boleh loh berpendapat).
Kembali lagi ke topik, memang mengakui perbedaan itu sulit tapi justru membuat kita menjadi jauh lebih baik lagi dalam berpikir dan bertindak. Di sinilah saya pribadi berharap pada Politikana, menciptakan individual-individual dengan intelektualitas tinggi dan toleransi tinggi serta mampu berdiskusi secara dewasa dan matang tanpa harus gontok-gontokan seperti yang dilakukan elit politik saat ini.
Yuk, sama-sama membangun diri sendiri menjadi individual yang lebih baik karena sebuah bangsa akan menjadi lebih baik bila individu-individu di dalamnya, terutama kaum cendikiawan seperti Politikaners semua, juga sudah baik. Dari sini, kita bawa diri kita untuk terjun ke masyarakat. Perjalanan masih panjang, tapi kalau bukan mulai dari kita, dari siapa lagi?
Terimakasih untuk Politikana
...
Bakilek ikan dalam ayie, lah tantu jantan batinonyo
----------------
Wajar sih, karena otomatis jadi terbandingkan dengan situasi di negara tersebut.
Yang penting, seperti kata mbak Upik, gimana supaya perspektif baru ini kemudian disalurkan menjadi kritik yang konstruktif.
Atau, syukur-syukur, mendorong untuk berkontribusi nyata.
Bukan malah cuma ngedumel kiri-kanan dan menjelek-jelekkan saja.
Bagi yang beragama Islam, setahu saya kita dianjurkan untuk bertandang ke negara lain dan saling berkenalan dengan suku bangsa lainnya juga. Karena ini ternyata akan sangat membantu membuka wawasan kita.
sufehmi:
Saya baru tinggal di luar negeri dan ketika saya berteriak-teriak di Politikana, misalnya, itu semata-mata bukan membandingkan dengan situasi negara ini lho.
Saya berkata demikian karena saya masih baru, orang yang baru biasanya kena sindrom membandingkan, tapi sejauh ini saya masih cukup kontrol terhadap hal yang satu ini.
Mungkin justru karena perasaan rindu dan cinta tanah air yang membuat jadi terkesan seperti itu...
--------------
Ini salah satu hikmah mengapa haji menjadi rukun islam. Salah satu contohnya adalah Malcolm X, yang tadinya rasis (dan berbagai sikap negatif lainnya), kemudian menjadi terbuka wawasanya setelah naik haji.
Saya kok masih yakin ya bahwa mayoritas yang 'cuma ngedumel dan menjelek-jelekkan' itu sebenarnya masih cinta Indonesia (Kecuali mereka yang jadi tinggal di luar negeri karena terusir atau teraniaya selama di Indonesia ya.. tapi mungkin juga mereka sebenarnya masih cinta Indonesia) tapi tidak tahu harus bagaimana atau melakukan apa untuk Indonesia. Kalau tidak cinta ngapain juga ngabisin energi untuk tetap memperhatikan Indonesia
Perlu sarana memang untuk menyalurkan 'dumelan' rakyat Indonesia untuk menjadi gerakan nyata dan memang tidak semua orang akan mampu menggerakkannya juga. Cuma saya ingin berpikir positif saja bahkan dengan 'dumelan dan jelek-jelekan' itu justru ada masukan dan tantangan bagaimana supaya Indonesia bisa digerakkan menuju negara yang lebih baik.
No hard feeling
bagii saya sendiri, lebih penting untuk memahami daripada mencapai kesepakatan/membuat orang lain setuju apa kata saya.
mencoba memahami dan menyadari bahwa apa yang ada di balik perasaan dan hati tiap individu itu berbeda-beda, termasuk dalam mengungkapkan pendapatnya ttg politik.
tapi untuk diri saya sendiri, saya belajar untuk lebih menahan diri menyalahkan daripada memberi solusi.yeah, errr, walo rasa kesal dan frutasi atas keadaan lingkungan sosial sekeliling saya seringkali membuat saya misuh2 dan nyampah dan itu memang ga kasih pencerahan sedikitpun
Berat... berat... semua dilihat dari sisi positif... berat memang
oiya,..mbak upik keliatannya gak suka kalo PKS dinyeki yaa??..tenang aja lagi mbak?!.. ini mah belum seberapa dibanding perang di "dunia nyata". Pengalaman pribadi; mbantuin sodara ikut nyaleg.
cermati juga liriknya..
masak kita harus dibatasi??
apa karena kita manusia??
aahh siaall, aku terlahir jadi manusia.. :'-(
Silahkan login untuk memberikan pendapat