Saya Pilih Soeharto 49
Kamis, 2 Apr '09 20:39
Pagi ini berangkat ke kantor naik taxi, saya mendapat pembelajaran politik dari pak sopir.
"Saat kampanye, semua partai itu bagus ya pak, semua berjuang untuk rakyat," ujar Marbun, sopir taxi membuka pembicaraan.
"Kan memang mereka baik, bagi-bagi kaos, bagi-bagi sembako," kata saya memancing.
"Ya, baiknya cuma kampanye. Setelah itu, gak ada yang peduli sama rakyat. Sekolah dan kesehatan mahal. Harga sembako tidak stabil. Banyak PHK, cari kerja susah," kata lelaki berusia 50 tahunan ini. "Padahal dulu ketika Megawati nyalon presiden, saya bela-belain ikut kampanye pake ongkos sendiri. Beli kaos, bendera, makan pun beli sendiri. Saya pingin tahu anak Soekarno jadi presiden," tambahnya.
Igin Mega jadi presiden lagi? "Ah, tidak. Mega bukan Soekarno," katanya. "Wong yang berjuang untuk dia aja nggak diurusi," tambahnya. Maksudnya? "Itu yang nyerbu kantor PDI kan nggak ketangkap. Orang-orang PDI yang hilang juga nggak ketemu," katanya.
Trus bapak mau milih partai apa? "Yang lama aja. Mereka terbukti lebih baik," ujarnya.
Kebetulan jalanan macet,taxi berhenti cukup lama. Diseberang jalan kebetulan ada baliho PKS. Spontan saya tanya, Kalo PKS termasuk lama apa baru? "PKS itu baru. Baik juga dia, di kampung saya pendukung PKS juga ongkos sendiri kalo kampanye. Tapi PKS kan nggak punya calon presiden," katanya.
Kalau pilihan presiden, nanti milih siapa? "Sudahlah yang ada sekarang aja, kasih kesempatan lagi, mudah-mudahan yang kedua kali bisa memperbaiki kehidupan rakyat," katanya.
Lho kalau yang sekarang belum bisa memperbaiki kehidupan rakyat kok dipilih lagi? "Sudah cape, yang baru belum tentu lebih baik dari yang lama. Apalagi calon presiden yang baru sekarang ini kan orang yang keras," ujarnya. Maksud bapak siapa? "Prabowo. Bapak pasti lebih tahu lah, siapa Prabowo itu," jawabnya.
Kalau dibanding Soeharto, apakah eSBeYe dan Mega lebih baik? "Pak Harto, ada kekurangannya. Tapi kalau Soeharto masih hidup saya akan milih dia," katanya.
Lho ada kekurangannya kok sampean pilih lagi itu gimana? Sopir taxi ini makin antusias. Kekurangan Soeharto menurut dia, adalah kecurigaannya yang berlebihan. "Mau kotbah di masjid aja harus ijin, materi kotbah diperiksa. Orang nggak boleh demo, nggak boleh njelek-njelekin pemerintah.Pengajian diawasi intel. Jadi banyak orang yang gerah," katanya.
"Tapi di bidang lain Soeharto sangat bagus, sekolah murah, obat murah, sandang pangan murah,cari kerja gampang," katanya. "Kalo sekarang, semuanya bebas, orang bisa ngomong apa saja, bicara keras. Tapi ekonomi susah, semua serba mahal,kerja cari duit susah. Lha buat apa merdeka tapi susah cari kerja."
Tapi jaman Soeharto kan banyak korupsi? "Katanya memang begitu. Tapi orang kecil nggak susah-susah amat. Lha sekarang korupsi tetap banyak, orang kecil tak terurus."
Taxi sudah sampai di kantor. Hm.. saya kepikiran, buat orang seperti pak Marbun, kebebasan politik, bukanlah sebuah kemewahan yang dicari-cari. Kesejahteraan ekonomi lebih utama. Dia trauma dengan perubahan yang ternyata tak memperbaiki hidupnya.
Tag: Pemilu, caleg, rakyat, presiden, Soeharto, Soekarno, sopir taxi
Terkait:
-
Nasib Partai Bulan Bintang Tergantung Munas
Senin, 12 Okt '09 11:01 -
....Kemanakah Mereka???
Jumat, 1 Mei '09 21:24 -
Kritik itu Membangun Untuk Perubahan
Rabu, 16 Des '09 11:10
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Marissa: Inspiratif
-
asep1974: Bagus
-
Mas Paman: Menarik
-
Sri Kirana: Menarik
-
hamatamu: Bagus
-
didinu: Penting
-
gunawanrudy: Penting
-
borsalino: Bagus
-
Yudiantoro: Bagus
-
Pedy: Lucu
-
Herman Saksono: Biasa
-
mpokb: Penting
-
Indrayana MB.: Penting
-
Erbe: Inspiratif
-
andyanto: Bagus
-
matriphe: Inspiratif
-
babyloniamaria: Biasa
-
Catshade: Inspiratif
-
rampok: Bagus
-
dragz: Penting
-
Ndoro Kakung: Menarik
-
Ahmadmaulana: Penting
-
boiga: Bagus
-
AdityaWirawan: Menarik
-
pak aming: Menarik
-
AndyMSE: Bagus
-
Xaliber von Reginhild: Menarik
-
esdynoa: Menarik
-
opiniherry: Inspiratif
-
Riyono: Bagus
-
Bung Ajo: Menarik
-
edo: Menarik
-
a.di.wena: Menarik
-
hirany: Inspiratif
-
abee: Menarik
-
dony: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Saya sudah mati ide bagaimana caranya memberikan pencerahan pada mereka bahwa rezim Soeharto lah yang sebenarnya bertanggungjawab atas kesulitan yang kita alami sekarang ini... Tapi mungkin masalah yang sama juga akan dihadapi oleh Obama di US saat ini... Mungkin kita bisa belajar dari dia. Mungkin loh...
Dari dulu dibiasakan untuk tidak berpikir sebab akibat... dan tentunya ini menguntungkan elit politik karena ada unsur 'amnesia' di dalamnya.
Btw, saya bukan pendukungnya Soeharto dan Prabowo lho ya
Masalahnya: apakah yang berkuasa sekarang berusaha menuju ke yang lebih baik (ya pasti ada niatnya sih) atau mau mengambil kesempatan sebanyak-banyaknya sebelum negara ini karam total?
Kasian bener ya, yang lagi menjabat pas kondisi nggak enak
Sebetulnya di sinilah alasan mengapa rakyat perlu diberi pendidikan politik, agar bisa melihat semua yang ada di balik harga2 murah dan terjangkau itu.
Eh, saya kok jadi inget film2 karya Michael Moore ya? Rasanya itu sebentuk pendidikan politik juga.
Jadi memang beresin ekonomi dulu baru pendidikan, baru deh bisa mikir Indonesia jadi negara yang lebih baik dan ngga karam seperti kata Avianto.
Karam yang saya takutkan adalah pecahnya Indonesia jadi banyak negara. Cuma suka sedih orang Indonesia suka take everything for granted disangkanya Indonesia ngga bakal kaya Rusia atau Yugoslavia yang akhirnya pecah-pecah jadi banyak negara, ini yang saya paling takutkan kalo melihat kondisi saat ini dan jujur saja orang-orang yang tinggal di Jakarta banyak yang seperti katak dalam tempurung, karena hanya melihat sebatas Jakarta dan sekitarnya.
Hanya saja, memang suasana dulu itu hanya fatamorgana, dan sayangnya fatamorgana itu tidak benar-benar dibuat jelas apa yang ada dibalik itu semua.
@boyavianto : saya salut sama Mas Boy yang masih mau memberikan pencerahan
Maka ketika ditanya seorang pekerja bangunan, mau kembali ke zaman (sepeti) Soeharto "yang ekonominya nggak berat" atau tetap di "era reformasi tapi ekonomi sulit", jawaban saya pun mirip caleg sok cerdas. "Saya milih yang kedua, Mas."
Alasan saya, "Ketika ada kebebasan, saya masih boleh menjerit ketika ditindas, bisa mengadu ketika nafkah saya digerogoti oleh korupsi, dan berhak mencari keadilan misalkan saudara saya diculik bahkan dibunuh."
Bahwa jeritan saya tak didengar, bahwa upaya saya mencari keadilan tak membuahkan hasil, itu lain lagi. Yang penting saya memiliki proses ke arah sana -- suatu hal yang mahal di era Soeharto.
asep1974 & Apprayo; wah bung, kalau begitu harus ditambah pelajarannya. bukan cuma pendidikan politik. pendidikan sejarah juga harus diperbaiki, supaya bangsa kita tidak jadi cepat lupa
Anyhow, percakapan spt itu sdh sering saya alami, dan sayangnya tidak cuma sopir taksi tapi jg kalangan terpelajar.
Hal yang paling saya idolakan dari Pak Harto adalah Klompencapir-nya yang dengan sukses mampu membimbing petani untuk sukses dalam pertaniannya. Dan benar saja, korupsi sih korupsi, tapi ketika itu Rp. 25 masih laku untuk beli permen.
Kan saya bilang, itu pemikiran naif saya.
Ketika semua orang di Indonesia jadi naif mereka pasti akan mengatakan hal yang sama. "Ah, mendingan jaman Soeharto dulu, Korupsi tapi rakyatnya gak susah hidupnya..."
Namanya juga pikiran naif.
toh kita lantas tidak bisa mendebat si bapak supir taksi tadi dan menanamkan sudut pandang kita padanya kan?
pertanyaannya, bagaimana memindahkan ruang seperti "politikana" ke halaman rumah bapak supir taksi tadi?
*jadi inget, dulu dosenku pernah bilang,"ron, gimana caranya supaya orang bisa ngobrolin fisika di gardu ronda, kayak politik itu lho" wadaw*
seandainya pola obrolan gardu ronda dan supir taksi ditiru caleg apalagi capres kita, syukur alhamdulilah ya kan bung Lantip?
*minus fallacy loh, kalau itu dipake juga ya sami mawon hehehe*
Di politikana kan semuanya orang-orang yang sedikit banyak paham soal perpolitikan di Indonesia. Benar komentar dari Mas hamatamu, bagaimana cara kita yang sudah paham dengan apa yang kita diskusikan di politikana ini mengajarkan kepada masyarakat di luar sana yang masih belum mengerti. Membagikan ilmu kan kewajiban kita sebagai sesama manusia. Apalagi untuk kemaslahatan bangsa...
*nggak ngerti sama apa yang diomongin diri sendiri*
Eh ada yang ingat acara di RRI dulu? Yang tiap minggu pagi membahas P4 itu, itu nama bapaknya siapa ya? Medok jawa abis!
Jaman ORBA semua radio swasta diharuskan merelay acara atau berita RRI, kemudian muncul fenomena radio swasta ramai - ramai menolak kewajiban merelay. Tapi, belakangan ini radio swasta beramai-ramai membangun jaringan berita, dimana 1 radio me-relay radio lainnya.
seandainya ruang - ruang seperti itu yang dimanfaatkan, seandainya
aku membayangkan, politikana nantinya mengeluarkan outreach yang mencerdaskan dan tergapai oleh semua orang
*ngekek, gojeg bung hihi*
tapi serius, satu saat nanti, politikana mungkin perlu memikirkan outreach yang bisa dijangkau umum. gak semua orang melek internet, dan gak semua orang yang kenal internet mau masuk ke sini. lha judulnya saja sudah pake kata politik hihi. coba ceritaseruindonesia.com *ngakak*
Dialah yang sudah membuatkan rumah besar, indah, mewah, dan damai buat Marbun. Sebuah rumah dengan pagar kokoh, halaman luas dan rimbun, kolam renang berair melimpah, tembok beton, pintu dan jendela dari kayu jati kualitas wahid, lantai marmer mengkilat, lampu kristal, sofa nyaman, dapur penuh bahan makanan terbaik, kamar tidur berkelambu dengan ranjang empuk, dan seterusnya, dan seterusnya.
Tapi Marbun tidak menyadari bahwa rumah itu dibangun dengan empat fondasi yang sangat labil: utang luar negeri, korupsi, nepotisme, dan pelanggaran HAM. Setelah 30 tahun, fondasi itu mulai kropos dimakan rayap. Bahkan jika Soeharto tetap berkuasa.
Kesalahan kita, menurut saya, adalah terlalu cepat menurunkan Soeharto dari singgasananya. Mestinya kita membiarkan ia lebih lama di sana, supaya ikut mati tertimpa bangunan rumah yang dibangunnya sendiri. Dan kemudian kita bisa membangun rumah baru, yang mungkin lebih sederhana, namun dengan fondasi jauh lebih kokoh.
Akibat kesalahan kita itu, sekarang dan ke depan, siapa pun pemimpin bangsa ini mesti mau bersusah-payah dulu memperbaiki sekaligus mengganti fondasi rumah ini perlahan-lahan, supaya bangunannya tidak roboh. Padahal Marbun tetap ingin terus menikmati kenyamanan tinggal di rumah ini, tanpa tahu suatu saat rumah ini akan roboh membunuh ia dan seluruh keluarganya.
Marbun yang malang....
Hahaha...
Semoga pemilu ini bisa mengembalikan kepercayaan rakyat kecil yang sudah terkubur mas
bayangpun, udah berapa ribu anak SD yang dikibuli lewat PSPB! (eh mata pelajaran ini masi ada di SD?)
*ngakak*
Lantip; wah berarti kita saudara satu partai
"Yach begitulah PELAKSANAAN hukum Indonesia... Tidak pernah bisa mengadili pemimpin negara..."
kasihan kalau ada yg terjebak dengan kalimat sebelumnya
Sudahlah, yang sudah terjadi sudah - mau berteori 'seandainya dulu' rasanya malah bikin lelah, apalagi sampai bilang 'ini salah kita dulu!'
Kembali ke realita, sejarah jadi pelajaran
Katanya kerusuhan itu, dan juga gonjang-ganjing di seluruh Indonesia pasca Soeharto jatuh, adalah sudah dirancang dengan baik. Tujuannya adalah agar situasi keamanan memburuk, ekonomi macet dll.
Dengan begitu maka:
1.Pemerintah baru sibuk meredakan kerusuhan dan menstabilkan ekonomi. Sehingga usaha mengadili Soeharto dan kroninya tidak menjadi prioritas. Dan juga ada waktu yang cukup buat mereka menyiapkan strategi serangan balik.
2.Di tengah kondisi yg masih belum stabil, mereka akan muncul kembali dengan mengatakan, "Tuh kan, mendingan juga jaman saya berkuasa...semua serba murah!"
Tidak heran belum lama reformasi berjalan sudah keluar istilah "repotnasi". Dan pada pemilu 2004, Golkar punya slogan"Mari bung rebut kembali...!"
Silahkan login untuk memberikan pendapat