Ide Sederhana Tentang Wacana Pembatasan Kendaraan Pribadi 53

Jumat, 3 Apr '09 00:05

Akhirnya, setelah dua kali masa jabatan Sutiyoso di Jakarta yang malah membuat proyek-proyek tambal sulam setengah jadi, ada juga wacana yang menurut saya benar-benar dapat mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta. (Artikel lengkap : http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/04/02/07572026/siap-siap.mobil.pribadi.bakal.dibatasi)

Saya hanya mau menyampaikan ide saya yang sangat simple dalam hal pembatasan kendaraan pribadi. Ide ini saya lihat dari cara Pemerintah Kota Beijing membatasi jumlah kendaraan pribadi selama Olimpiade sampai sekarang.

Di Beijing, nomor polisi yang angka terakhirnya genap atau ganjil memiliki hari-hari tertentu di mana mobil tersebut tidak boleh dipergunakan, apabila terlihat digunakan, maka pengemudi mobil tersebut akan ditindak sesuai hukum yang berlaku. Misalnya : Hari Senin yang mobil pribadi yang diijinkan turun ke jalan hanya yang angka terakhirnya 1 dan 3, hari Selasa hanya 2 dan 4, hari Rabu hanya 5 dan 7, hari Kamis hanya 6 dan 8, hari Jumat hanya 9 dan 0. Hanya pada hari Sabtu dan Minggu semua pemilik mobil pribadi diijinkan untuk menggunakan mobil pribadinya.

Saya rasa hal-hal yang membuat keberhasilan peraturan ini di Beijing adalah : 

1. Transportasi massal yang tertata dengan baik dan menjangkau hampir seluruh bagian kota, baik pemukiman maupun sentra bisnis.

2. Mentalitas warga dan pemerintah yang tidak ingin dibicarakan yang buruk-buruk , maka mereka bertingkah laku baik meskipun untuk ukuran ketertiban masih semrawut, menurut saya pemimpin mereka setidaknya sudah memiliki niat yang baik.

Ide sederhana saya ini, apabila diterapkan di Jakarta, kira-kira akan berlangsung berapa lama? Satu minggu? Satu bulan?


Tag: jakarta, Pembatasan, Kendaraan, Pribadi, Beijing

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    GaraMata 0 0
    Kalo ide saya mohon agar disediakan jalur khusus untuk sepeda. Niscaya hampir separoh teman kantor saya akan memakai sepeda untuk bekerja.
    gunawanrudy 0 0
    Kaum beruang banyak, tentu akan punya mobil dengan nomor plat yang berbeda-beda sehingga bisa digonta-ganti seiap hari.

    Sementara kaum beruang menengah, tentu akan mengkambinghitaman sarana kendaran umum yang mereka nilai masih belum layak (alesan).

    Kaum tidak beruang? Tetap misuh-misuh di warung kopi.
    Sri Kirana 0 0
    Oh iya, usul mas GaraMata itu saya ndak kepikiran tadi... besok sore saja baru saya edit artikel saya ini... jam 1 pagi, nanti tambah error saya jadinya... bukan TPU, bukan TPS, malah TPA nanti saya ngetiknya... : p
    kang tutur 0 0
    +1 terkini
    Untuk Indonesia...
    Leksa 0 0
    @gunawanludy :
    Begini, Dek Gun.. kalau kaum beruang, walo mobilnya banyak, ada bagusnya ide Shouen ini.. paling tidak 1-2 mobil keluar dari garasi perhari. Nah, kalo sekarang, semua mobil bisa keluar. Si bapak mobil sendiri, si Tante sendiri, tiap anak dapet satu mobil balap, si Eyang pun ga mau kalah, minimal kijang lahh..

    Kaum beruang menengah :
    Dengan kondisi mobil yg diijinkan sedikit, penggunaan angkutan umum adalah mutlak disediakan. Dengan jalanan yang semakin sepi, semoga infrastruktur jalanan busway bisa makin baik dan banyak disediakan, pihak swasta bisa mengerjakan ini dengan tanggung jawab kepada pemerintah.. ANgkutan selain "Buy Service" sekelas angkot, metromini wajib mendapat perhatian penuh Pemerintah dan aparat.

    Kaum tidak beruang?
    masih ada kaki, atau maksimal Speda. Sepeda juga menjadialternatif untuk berbagai kelas sosial.


    Nah, tinggal gimana aturanya dibikin oleh pemerintah, dan konsistensinya itu juga.


    Btw, kalo sampai ada indikasi peraturan serupa muncul di Jakarta, saya mungkin akan memulai untuk bisnis "Joki Plat Kendaraan" : D
    gunawanrudy 0 0
    [...] Nah, tinggal gimana aturanya dibikin oleh pemerintah, dan konsistensinya itu juga. [...]

    Sebetulnya masalahnya cuma di kata "konsistensi" ini tho ya. : p
    Boy Avianto 0 0
    gunawanrudy: Ingat konsistensi jadi ingat peraturan lampu motor harus menyala di siang hari dan motor harus selalu berada di jalur kiri... Sempat ramai, dilakukan beberapa hari, setelah itu... Ya, gitu deh.
    Mas Paman 0 0
    Akar masalahnya memang ketidakserisuan pemerintah dalam menata sistem transportasi, termasuk kendaraan transportasi publik.

    Pertumbuhan pemilikan mobil pribadi, tampaknya, memang dikejar untuk menunjukkan pertumbuhan ekonomi (duh, menuduh). : p Akibatnya kebijakan transportasi selalu menghamba pada pemilikan kendaraan pribadi (terutama mobil). : )

    Lihat saja, pemerintah lebih bersemangat membangun jaringan tol di Jawa karena mengandaikan semua orang akan memakai mobil pribadi. Padahal yang terjadi nanti jalan tol juga macet karena diisi truk-truk yang berjalan 60 km/jam ke bawah. Lihat kasus jalan tol dalam kota Jakarta dan jalan tol Jakarta-Cikampek.

    Sepur antarkota untuk barang? MRT untuk kota besar? Subsidi untuk angkutan umum? Lupakan. Sekian studi banding ke luar negeri tak membuahkan hasil.

    Selebihnya, ya gitu deh, idem sama Boy! : D
    Wonggantenk 0 0
    Pindahkan ibukota
    Wonggantenk 0 0
    Ke Papua misalnya
    Wonggantenk 0 0
    Saya membayangkan ada ibukota bergilir setiap 20 tahun di Pulau2 besar Indonesia........2015 di Fakfak atau Sorong, 2035 di Palangkaraya, 2055 di Medan, 2075 di Kendari, 2105 balik lagi ke Jawa
    Wonggantenk 0 0
    kalau Jawa nggak muat lagi 2095 ibukota di Palangkaraya lagi, bebas gempa
    sufehmi 0 0
    Poin nomor 1 itu kuncinya.

    Tapi, justru itu yang TIDAK dilakukan : (

    Jadi?

    Kalangan atas : beli mobil baru lagi

    Kalangan menengah : kelabakan karena peraturan baru ini.

    Kalangan bawah : "jalanan tetap macet kok, sama saja" : )

    Sayang juga ya kok dari dulu solusi TANGGUNG melulu - 3 in 1, busway, peningkatan pajak kendaraan, dst.

    Padahal, kota dengan kelas dibawah Jakarta saja SUDAH mengimplementasi Mass Rapid Transport System; seperti kereta bawah tanah / subway.
    Tapi Jakarta dari dulu cuma bermain2 dengan solusi tanggung melulu.

    Boy Avianto 0 0
    Vote "YES" for Public Transportation. Eh, caleg DaPil Luar Negeri ada yang programnya ini tidak ya? Masih bingung milih nih hehehe, mayan kalo ada satuuu saja poin yang "menjanjikan".
    Yudiantoro 0 0
    Hmm.. dulu sudah pernah ada ide seperti ini,justru jauh sebelum china menerapkan pada saat Olimpiade lalu, tapi entah kenapa koq ya ndak jadi diujicobakan di Jakarta, mungkin karena ada konsekuensi mobilnya SBY (RI 1) yang notabene ganjil ga bisa ngantor setiap hari.. hehehe, ada juga ada ide lain yaitu menerapkan model Singapura, yaitu membatasi bahwa kendaraan bermotor mobil di Jakarta hanay boleh berkeliaran yang buatannya model 2000 ke atas, tapi baru jadi wacana belum2 udah diprotes sama komunitas mobil antik, terus idenya melenyap lagi... tau deh kayaknya negara ini kebanyakan ide, tapi ga pernah direalisasikan.
    Yudiantoro 0 0
    Hmm.. dulu sudah pernah ada ide seperti ini,justru jauh sebelum china menerapkan pada saat Olimpiade lalu, tapi entah kenapa koq ya ndak jadi diujicobakan di Jakarta, mungkin karena ada konsekuensi mobilnya SBY (RI 1) yang notabene ganjil ga bisa ngantor setiap hari.. hehehe, ada juga ada ide lain yaitu menerapkan model Singapura, yaitu membatasi bahwa kendaraan bermotor mobil di Jakarta hanay boleh berkeliaran yang buatannya model 2000 ke atas, tapi baru jadi wacana belum2 udah diprotes sama komunitas mobil antik, terus idenya melenyap lagi... tau deh kayaknya negara ini kebanyakan ide, tapi ga pernah direalisasikan.
    Taufan 0 0
    Kalau angkutan umumnya masih seperti Mayasari Bakti, Metro Mini, Kopaja dan teman2nya nggak bakalan mau orang yang punya mobil pribadi naik angkot.

    Belum lagi kepentingan industri otomotif. Pernah terbayang ASTRA Group bangkrut gara2 separuh orang Jakarta naik angkutan umum?

    Atau Mayasari Bakti bangkrut gara-gara Trans Jakarta berfungsi maksimal? Atau orang-orang pada naik KRL Jabotabek?

    Semua UUD = Ujung-Ujungnya Duit.

    Kalau mengancam kelangsungan Sumur Duit bagi mereka ya..... SIKAT!

    Caranya? Ya.... berpolitik..lobi...

    Korban ya Kita lagi...
    sufehmi 0 0
    Taufan - ... dan sekarang sudah mulai muncul perusahaan lobi profesional pula.

    Duh Indonesia... di Amerika, para pelobi profesional sudah mulai di berangus. Disini malah pada bermunculan.
    didinu 0 0
    Mari dukung wacana ini
    Boy Avianto 0 0
    sufehmi Amerika sudah merdeka 400an tahun, Indonesia baru 64 tahun. Kejadian di film "Gangs of New York" terjadi tahun 1860an, di Indonesia tahun 1998... Susah kalau mau dibandingkan antara kematangan sistem.

    Tapi bukan berarti pesimis loh, justru kita harus bisa buktikan kalau kita bisa ikutan kelas Akselerasi! Semangat yuk : )
    Herman Saksono 0 0
    Bagaimana jika pajak kendaraan bermotor, dan harga bbm untuk kendaraan pribadi. Lalu gunakan surplusnya (nggak banyak sih kalau akhirnya pengguna kendaraan pribadi menyusut) untuk mendanai sistem transportasi publik yang nyaman, komprehensif, dan reliabel.
    Boy Avianto 0 0
    Herman Saksono Idealnya sih begitu, idealnya dana dari pajak juga bisa digunakan untuk keperluan itu. Dan BISA kok... selama tidak dikorupsi, balik lagi kan masalahnya bukan TIDAK ADA dana, tapi dananya KEMANA?
    mpokb 0 0
    kalau ada caleg yang memperjuangkan penghapusan kejar setoran untuk angkutan umum, kemungkinan besar saya contreng.. saat ini sopir dan kenek jadi sasaran caci maki penumpang, padahal perilakunya di jalan akibat harus kejar setoran.. kalau pelayanan angkutan umum bagus, dengan sendirinya pemakaian kendaraan pribadi berkurang. boleh saja punya mobil banyak, tapi tidak harus dipakai setiap hari.
    sufehmi 0 0
    mpokb - wah itu musti pasang badan berhadapan dengan Organda : D kayaknya agak berat deh, hehe. Tapi saya akan ikutan contreng juga.
    sufehmi 0 0
    Soedibjo - betul banget. Malah sebetulnya kita (kalangan menengah ke bawah) tidak perlu bayar pajak - hasil SDA indonesia saja sudah sangat besar.

    Tapi ya itulah, seperti kata Anda, SEMUA DUIT ITU KEMANA ? : )
    asep1974 0 0
    Untuk masalah transportasi, kita butuh solusi menyeluruh yang melibatkan keterkaitan dan pendekatan multisektor dan antarbidang. Pembatasan kendaraan pribadi saja jadinya akan tambal sulam dan akan melahirkan masalah2 turunan baru yang tak kalah pelik
    Boy Avianto 0 0
    asep1974 Setuju, tapi semua itu perlu modal. Masalahnya modalnya ada, tapi entah di kantong siapa...
    matriphe 0 0
    beli mobil pribadi kenapa dibatasi? mampu, kok!

    *beruang*
    Catshade 0 0
    Salah satu kreatifnya orang Indonesia adalah kebisaan mereka untuk mengakali sistem demi kenikmatan pribadi. Jadi saya rasa kalau peraturan ini berlaku, usaha pembuatan plat nomer palsu (mungkin sekalian dengan SIM/STNK-nya) akan meningkat. : p
    Lantip 0 0
    ide menarik, tapi mungkin idenya bisa disederhanakan lagi: perbaiki sarana transportasi. kalau saya bisa (misalnya jogja nih) darimana saja ke mana saja di jogja, naik transjogja, tentu saya pilih itu. naik motor (apalagi mobil) sendiri lebih boros. : D

    tapi memang, ide sederhana seringkali implementasinya tidak bisa sederhana, soalnya nyangkut kemana-mana. : )
    hamatamu 0 0
    Herman Saksono; pajak ya, kalo ga salah baca di Thailand sana juga begitu kendaraan yang model sedan misalnya pajaknya lebih tinggi daripada SUV atau truk misalnya

    Boy Avianto; bukan cuma masalah pengawasan pajak tapi juga besarannya, jangan sampai nanti dituduh memperlemah posisi industri otomotif atau PMA di bidang otomotif.

    matriphe; jangan dibatasi tapi pajaknya bolehlah naik. tandanya orang mampu gituloh!
    kang tutur 0 0
    taksalahlagi Sri Kirana emang brilian kan?
    ...
    oi pemirsa!!!
    : p
    sufehmi 0 0
    Jadi saya rasa kalau peraturan ini berlaku, usaha pembuatan plat nomer palsu (mungkin sekalian dengan SIM/STNK-nya) akan meningkat : p
    -------

    Don't start giving us ideas, will you ? : D
    Sri Kirana 0 0
    Lah ide saya jadi membuka peluang bisnis baru.. : )) sayangnya bisnis ilegal.. : D
    almascatie 0 0
    orang indonesia sangat kreatip!
    salut beneren hehehehe
    mpokb 0 0
    sufehmi : mungkin perlu fatwa MUI untuk organda dan pengusaha angkutan lain bahwa sistem setoran itu haram karena memperbudak awak angkutan dan menyiksa penumpang, hehe. duh, cari untung tanpa merugikan orang lain itu susah banget yak?
    sufehmi 0 0
    Sebetulnya sih gampang kok. Cuma, kalau sudah ditambah dengan sifat rakus.... nah ini dia.

    Semuanya jadi halal : (
    memethmeong 0 0
    kuncinya mnrt saya :
    1. rubah mentalitas manja masyarakat yg lbh suka naik kendaraan pribadi drpd angkutan umum
    2. perbaiki fasilitas angkutan umum
    3. penegakan hukum secara konsistenh
    memethmeong 0 0
    eh nambahi dong : subsidi angkutan umum
    arsyad 0 0
    kasi saran saja sama Bang Foke biar dia pikirkan gimana cara terapkan sistem seperti di Cina itu....
    itung2 ada blogger yg punya masukan bagus buat sitem transportasi kita yg masih amburadul
    sawung 0 0
    nunggu jakarta lalu lintasnya mati total baru dilaksanin neh aturan.
    sufehmi 0 0
    sawung - nunggu jakarta lalu lintasnya mati total baru dilaksanin neh aturan.
    ------

    Para pejabat yth tinggal rame2 carter helikopter, he he
    sufehmi 0 0
    sawung - nunggu jakarta lalu lintasnya mati total baru dilaksanin neh aturan.
    ------

    Para pejabat yth rame2 carter helikopter, he he
    sufehmi 0 0
    memethmeong - rubah mentalitas manja masyarakat yg lbh suka naik kendaraan pribadi drpd angkutan umum
    -----------

    saya punya mobil pribadi, tapi kalau memungkinkan, saya lebih pilih naik kendaraan umum.

    Enak euy, gak pusing. Tinggal duduk manis sampai di tujuan.

    Kalau di luar negeri malah saya bisa naik bis sambil bawa 4 anak saya - sendirian. Istri tidak perlu ikut. 2 dari 4 anak itu bayi : )
    No problem. Padahal saya punya mobil juga.

    Bagi yang sudah lama nyetir di Jakarta, bisa naik angkutan umum yang nyaman itu benar2 serasa di surga, he he.
    Tapi ya itu, sayangnya saat ini belum ada : (
    Lantip 0 0
    yak, sepakat dengan mas fehmi, masyarakat lebih memilih naik kendaraan pribadi bukan semata-mata kemanjaan. ada unsur copet, kebersihan, ketepatan waktu, dan masih banyak lagi. : D
    skyscraper 0 0
    Maaf saudara sebangsa setanah air, duit untuk membangun transportasi massal udah tergadai buat ngadain pemilu... : D

    Setuju dengan solusi transportasi massal, tapi yang terencana. Juga harus ada public relationnya juga lewat web 2.0. Hehehe...

    Tapi karena waktu terus berjalan, mobil terus bertambah dan jalan raya tak bisa diperbesar...
    abee 0 0
    MACET..?? hmm.. ini karena pemerintah selama ini selalu menganak emaskan pemilik kendaraan bermotor.. Sehingga ruang hijau kota dan jalur pedestrian selalu saja dikorbankan...

    OKE lah, kota kan makin lama makin tambah gede.. kita perlu kendaraan bermotor.. tapi kalo transportasi massal lebih handal, murah, aman, dan tepat waktu, ngapain juga beli mobil??

    Menarik rasanya kalau kita melihat gagasan dari guru sekaligus saingan saya : D , Le Corbusier dalam Le Ville Radieuse.. dimana sebuah kota dirancang seefisien mungkin.. walaupun disitu masih ada kekurangannya tapi gagasannya sudah mengilhami banyak orang.. termasuk saya... hihihi : D
    dodi 0 0
    kalo sistem ini diterapkan, jangan kaget banyak orang bawa plat item dua biji. yang satu plat asli, satu lagi plat palsu. yang satu nomor genap, yang satu nomor ganjil. ganti hari, ganti plat deh.

    sistem di beijing itu bisa diterapkan di sini kalau ada cara murah dan efektif untuk mencegah orang mengganti platnya, dengan sesedikit mungkin pelanggar yang lolos.
    BapaJali 0 0
    kalo nggak salah di BeiJing juga ada aturan hanya nomor2 tertentu yang bisa masuk kawasan tertentu...misalnya no kendaraan sekian sampe sekian hanya bisa masuk kota BeiJing sebatas Ring Road 4, no sekian sampe sekian boleh masuk sampe Ring Road 2...dan seterusnya...

    tapi itu semua di-dukung sama sarana transportasi Subway yang mampu mencapai ke daerah pinggirian kota, selanjutnya bisa disambung sama bis2 antar kota via tol (yang gratis)...

    Jakarta...?
    IQB 0 0
    ini ide sy udah denger lama banget, beberapa tahun yg lalu, pastinya pemerintah jg udah tau ttg ini, cuma kenapa gak dijalanin ya, mungkin kaarena:
    1. kepala dinasnya repot kalo pake angkot, malu donk kalo pake ojeg, naik taksi ntar diculik lg...
    2. emang gak bisa diterapkan di jakarta, mgkn krn metode pengawasannya yg bakal ribet dan diyakini bakal gak mampu, maka gak jaddilah...
    Abu Faiz 0 0
    Sebenarnya kenapa sih... pengguna jalan kog suka pake kendaraan pribadi? ada beberapa alasan (menurut saya nih) :
    1. Belum adanya sarana angkutan umum yg memadai
    2. Jalan Angkutan umum yg terlalu mutar-muter jadi lama
    3. (Nah ini yg hrs diperhatikan para sopir angkutan umum) Tidak ada jam yg pasti utk angkutan umum, jadi pengguna angkutan umum tidak bisa memprediksi berapa lama dia di perjalanan. Seringkali para sopir menunggu penumpang yg tdk pasti dengan lama sekali.

    Kalau sarana angkutan umum memadahi dan tepat waktu... org akan lebih suka memilih angkutan umum dr pada kendaraan pribadi....
    andika 0 0
    saya ngaku ngga suka kalau harus panas2an atau berdesak2an di kendaraan umum. atau berangkat lebih pagi atau malah pindah kerja yg lebih dekat. pengennya ngga diatur2 tp jalanan jangan macet. kalau byk yg seperti saya, wah memang ngga bisa ya ?? kapan ya saya bisa sadar he3x
    ancilla 0 0
    eh tapi ga bisa diterapkan di indo juga...
    pan banyak tuh tukang buat plat nomor.. hehehe...

    Silahkan login untuk memberikan pendapat