Dinding & Demokrasi 19
Sabtu, 4 Apr '09 06:53
Beberapa waktu yang lalu, dalam posting @asep1974 tentang Demokrasi Kita: Pakaian yang Kedodoran, muncul pembicaraan tentang strategi atau gerakan kebudayaan yang ter-organisir. Dan saya kemudian menimpali, bahwa jika sebuah gerakan kebudayaan di ranah publik yang dipilih, tentu akan sangat ideal membayangkan gerakan tersebut tanpa campurtangan partai politik apa pun. Partai politik, apa pun, akan tidak segan, turuntangan, apalagi menyadari strategis sebuah gerakan kebudayaan, termasuk gerakan literasi.
Kenapa harus dilakukan, apa alasannya? Sebagai upaya menawarkan perspektif dan cara berpikir yang berbeda dengan wacana yang dipromosikan partai, pemerintah atau pemilik modal.
Dinding publik saat ini adalah sasaran empuk iklan, poster, pamflet dengan warna, simbol dan logo yang mewakili partai politik atau segala kepentingan terkait dengan pemilu 2009. Tetapi sebaliknya nyaris tidak pernah ada kesempatan bagi masyarakat kebanyakan untuk menunjukkan kepentingannya masing - masing, dengan cara estetis tapi mampu mengangkat isu - isu kontemporer.
Beruntungnya hari ini saya menemukan contoh yang bagus dimana hal - hal tersebut diwujudkan di sudut - sudut kota Yogyakarta. Targetnya jelas; kesadaran & sikap kritis.
Saya teringat saat pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta dan melihat poster cukil kayu dengan media kertas coklat murahan tertempel tak jauh dari Mall. Poster yang dibuat dengan cara - cara manual dan sederhana. Sepuluh tahun lebih kelompok seni rupa kerakyatan bernama "Taring Padi" ini mewarnai sudut - sudut Yogyakarta, dan tak pernah alpa menafaskan kritik sosial.
Dinding, sebuah pilihan ruang yang egaliter juga demokratis. Bagaimana dengan kota anda?
Tag: pendidikan, politik, demokrasi, budaya, Publik, gerakan budaya, seni, gerakan, kota
Terkait:
-
Rai Gedheg
Minggu, 5 Jul '09 18:22 -
Sun tzu.. The Art of War
Sabtu, 6 Mar '10 15:14 -
Nasib Pemerintahan “Orange” George Soros di Ukraina
Jumat, 5 Mar '10 17:49
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
gunawanrudy: Bagus
-
kang tutur: Inspiratif
-
Lantip: Bagus
-
Sri Kirana: Menarik
-
Erbe: Inspiratif
-
AndyMSE: Biasa
-
andyanto:
-
Catshade: Menarik
-
Alex©: Menarik
-
yusro: Menarik
-
Marissa:
-
Edo Segara:
-
Upik: Biasa
-
babyloniamaria: Biasa
-
Harrie: Menarik
-
arsyad: Bagus
-
Osama Umar: Menarik
-
ariau: Keren
-
yashumi:
-
indira: Menarik
-
conscientizacao: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
btw sebenarnya ada foto - foto yang lain lagi, tapi uploadnya bijimana?
Hahaa, twentu saja. Dan faktor utamanya jelas adalah masyarakat sekitar. Kita di Jogja bisa memahami, bahkan mendukung. Mau tempel di sekitar perumahan elit atau gedung bertingkat tinggi? Mariiiiii....
Gerakan seperti ini kebanyakan dilakukan oleh NGO dan menurut saya seharusnya pemerintah dapat mengapresiasi hal ini, khususnya Pemda. Toh ini pendidikan politik alternatif, pandangan alternatif selain yang ditawarkan golongan mainstream (baca : parpol dan pemerintah), seharusnya tidak ditekan.
Saya salut sama Jogja, kebebasan berpendapat diterapkan sebaik-baiknya. Coba di Jakarta, ada mural yang bagus malah dicat putih... haduh..
...
Repot juga bila "dinding" pun digarap pemilik modal
*(seneng) nemu kosa kata baru: BijiMana?
Untuk mengimbangi hegemoni melalui ruang privat kita yang dikuasai oleh TV. Ini salah satu bentuk outreach yang mungkin perlu digagas serius. Ada yang setuju?
*lirik ke jalanan, liat baliho sama poster dimana-mana*
permasalahannya; bagaimana meng-kali-lipat-kan provokasi (gerakan kebudayaan ala poster tembok) seperti itu di tembok - tembok lain, di komunitas - komunitas lain, di desa - desa lain, di kota - kota lain? benar kata Lantip, mungkin perlu digagas serius.
saya kira bolehlah SEMANGAT mereka "Taring Padi" dicontek, ditiru, dijiplak, demi ker-maslahat-an bersama
Indonesia, tak hanya jogja bung, pun tak hanya jawa!
Silahkan login untuk memberikan pendapat