Ichlasul Amal: Golput itu Sudah Tidak Relevan! 14
Minggu, 5 Apr '09 12:09
Catatan: Tulisan ini adalah sekelumit dari acara "Dialog Politik Sambut Pemilu 2009" yang diselenggarakan UQISA (University of Queensland Indonesian Student Association) di Brisbane, Australia, pada hari Minggu, 29 Maret 2009 kemarin.
Yang ngomong begitu bukan orang sembarangan. Ichlasul Amal, mantan rektor UGM itu, mengaku bahwa ia selalu golput di pemilu era Orde Baru. Bersama dengan para polopor Golongan Putih lainnya seperti Arif Budiman, ia menganggap pilihannya itu sebagai bentuk perlawanan terhadap pemilihan umum yang hasilnya telah diatur sebelumnya.
"Lha, kalau sekarang kan orang sudah bebas bikin partai… sudah bebas memilih… jadi buat apa lagi golput?"
Ia juga merasa tak kuatir dengan kecenderungan golput yang meningkat di pemilu mendatang, "Golput 30 sampai 40 persen itu biasa. Di negara-negara maju seperti Amerika juga pemilihnya sekitar 60an persen dari jumlah penduduk. Justru pemilu yang pemilihnya 99 persen [dari jumlah penduduk] seperti zaman Orde Baru itu nggak bener juga."
Tapi bukannya banyak orang golput karena bingung dengan partai dan caleg yang sedemikian banyak, Pak Amal?
Ia mengamini hal itu. "Di Jogja saja ada puluhan caleg untuk DPR, padahal jatah kursi untuk Jogja cuma 6 kursi." Analisisnya, jumlah caleg yang banyak itu adalah strategi partai untuk meraup suara sebanyak-banyaknya dengan memanfaatkan jaringan dan sumber daya yang dimiliki caleg, apalagi para caleg itu harus bersaing satu sama lain karena nomor urut tidak lagi menjamin keterpilihan mereka.
Partai-partai besar banyak merekrut artis untuk tujuan itu. Sementara ada pula sejumlah partai kecil, tutur Pak Amal, yang merekrut pengamen atau tukang bengkel sebagai caleg dengan harapan mereka bisa meraih suara para pelanggan mereka. Tapi ia sendiri memperkirakan, sekitar sepertiga suara pemilih bakal 'hangus' karena partai-partai pilihannya tidak lulus electoral threshold.
Di sisi lain, menurut Pak Amal, sistem pemilihan langsung ini bisa berakibat buruk terhadap kesolidan partai. Friksi internal timbul karena persaingan para caleg itu, begitu pula para kader atau simpatisan partai yang terpecah karena mendukung caleg yang berbeda. Padahal, caleg yang sudah terpilih sekalipun sebenarnya masih bisa diutak-atik para petinggi partai dengan ancaman hak recall nantinya.
Akibat buruk lainnya, tentu saja, adalah kebingungan masyarakat luas atas pilihan yang begitu membludak. Ini tidak saja dialami oleh orang yang awam politik tapi juga kaum terpelajar, bahkan oleh pakar politik seperi Pak Amal sendiri.
"Banyak mahasiswa saya di Jogja bingung mau memilih apa. Saya saja bingung."
Lalu, kalau bingung begitu, bagaimana Pak Amal tidak golput untuk Pemilu nanti?
"Saya pilih adik ipar saya, soalnya ya cuma dia yang saya kenal betul," jawabnya sembari terkekeh-kekeh.
Tag: Pemilu, caleg, partai, golput, ichlasul amal
Terkait:
-
Pengalaman Pemilu
Rabu, 8 Apr '09 23:22 -
Nasib Partai Bulan Bintang Tergantung Munas
Senin, 12 Okt '09 11:01 -
Sijahat Itu Bernama Kekuasaan
Kamis, 30 Apr '09 12:28
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
hersamin: Menarik
-
Taufan: Penting
-
hamatamu: Bagus
-
Ipam: Lucu
-
Herman Saksono: Lucu
-
Upik: Bagus
-
Chika: Lucu
-
gunawanrudy: Lucu
-
TEDDY TH: Biasa
-
Sri Kirana: Lucu
-
Bung Ajo: Menarik
-
Mas Paman: Lucu
-
sufehmi: Inspiratif
-
AndyMSE: Lucu


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Kan boleh. Wong bikin partai bebas kok. Masak dari 38 partai nasional nggak ada yg cocok.
Kalo nggak cocok ya bikin sendiri. Partai Golput gitu. Nanti kan nggak ada yang milih
*masihcariwangsituntuk9apr il*
ikhlas
pak amal mah enak, ada adik iparnya yang dikenal.. lha saya ndak ada yang kenal satupun itu caleg DKI 2.. (untuk pemilih LN)
Silahkan login untuk memberikan pendapat