Sudah Saatnya Plaza Indonesia Berembuk dengan Bloggers 16
Minggu, 5 Apr '09 22:05
Sudah beberapa pekan, bloggers Bunderan Hotel Indonesia (BHI), dihalau satpamwan Plaza Indonesia (PI) dari tempat mereka nongkrong setiap Jumat malam. Tempat itu adalah "buk" (dinding beton setinggi kursi) berlapis marmer, yang menjadi batas antara trotoar dan PI, Jakarta Pusat.
Ada kabar dari mulut ke mulut, pengusiran oleh satpamwan mulai menggejala setelah ada kafe baru di dekat pintu masuk. Para penongkrong, kata kabar, tak diinginkan oleh juragan kafe.
Pihak Plaza Indonesia akhirnya menanggapi. Kepada Primaironline, Marketing Executive Promotion PI Surya Sinaro menyatakan, ""Kita tidak akan sampai mengusir, walaupun konsumen itu melakukan kerusuhan." Yang dimaksud "kita" itu tentulah "kami". :D
Tapi nanti dulu. Betulkah hanya bloggers yang disasar? Sejauh saya dengar,siapa pun yang nongkrong di sana akan dihalau. Bahkan dulu satpol PP pun menggebah orang-orang yang nongkrong di sana pada suatu malam. Kebetulan dalam kasus ini salah satu kaum penongkrong adalah bloggers, dan bloggers bisa bersuara. Kebetulan pula sebelum ada pengusiran, tersedia hotspot dari Telkom.
Persoalan kita bersama adalah siapa yang mesti belajar lagi arti kata "plaza" sebagai tempat terbuka? Jangan-jangan satpol PP dan satpam mengartikan plaza sebagai gadung. Atau arti kata itu mungkin tak penting, karena pengembang pun boleh tak peduli, sehingga sebagai orang suruhan maka kaum penjaga itu hanya punya pilihan patuh kepada majikan -- untuk itulah mereka digaji.
Warga kota butuh ruang publik. Dipakai bersama, dan dirawat bersama. Hanya dengan ikut merasa memiliki maka orang bisa dianggap bertanggung jawab. Teman-teman BHI, misalnya, selesai nongkrong pada dini hari biasanya mengumpulkan sampah ke dalam kantong plastik.
Manajemen PI sudah menjawab. Seterusnya adalah berembuk bareng dengan khalayak, antara lain bloggers, dalam hal ini BHI (dan mungkin juga komunitas lain).
© Foto: BHI
Tag: ruang publik, Plaza Indonesia, BHI, bloggers, kopdar
Terkait:
-
Demo 100 Hari Pemerintahan Presiden SBY
Rabu, 27 Jan '10 19:05 -
Dongeng “Politikini”
Kamis, 14 Jan '10 14:08 -
Komik ndableg: Kopdar Langsat (2)
Selasa, 12 Jan '10 11:29
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
hamatamu: Bagus
-
hersamin: Penting
-
Sri Kirana: Menarik
-
Hedi: Penting
-
kang tutur: Penting
-
ekowanz: Penting
-
Lantip: Penting
-
SanKo: Penting
-
Riyono: Penting
-
mpokb: Penting
-
Ronsen: Penting
-
babyloniamaria: Biasa
-
Yudiantoro: Penting
-
yusro: Menarik
-
suprie: Penting
-
tikabanget: Bagus
-
Indrayana MB.: Penting
-
Herman Saksono: Penting
-
gunawanrudy: Penting
-
AndyMSE: Menarik
-
Knalpot Putih: Inspiratif
-
9olda: Penting
-
Upik: Menarik
-
gurumutant: Inspiratif
-
ksatria: Penting



Budi Agus Riswandi SH. M.Hum., Kepala Pusat Studi Hak Kekayaan Intelektual UII

Komentar:
Mmmm... saya kenal kata "mall" dari dua brand pada tahun 70-an: rokok impor cap Pall Mall (waktu itu belum merokok) dan Surabaya Mall (waktu itu belum pernah ke Surabaya).
Adapun plaza saya dengar juga dari tahun 70-an: Kartika Plaza di Jakarta. Saat itu saya kadung memahami plaza sebagai pelataran yang berundak. Seperti di TMP Kalibata dan "Taman Proklamasi" (ada yang tahu nama yang benar?).
Plaza berarti pusat perbelanjaan mungkin mulai mengemuka saat di Jakarta ada Aldiron Plaza, Ratu Plaza, dan Gajah Mada Plaza akhir 70-an/awal 80-an.
Kenapa Jakarta? Yah pusat media kan di Jakarta.
Tapi perjuangan belum berhenti.
bubarin aja rePublik-nya.
apa nongkrong pake topi bareskrim aja
mall itu ruang publik, makanya mbayar ..
BHI ndak membayar tho?
ya wajar di gusur...
*dikemplangi Zen..
Silahkan login untuk memberikan pendapat