Sesat-Pikir Logika Dalam Politik 96
Kamis, 9 Apr '09 14:42, dibaca 2947 kali
Terakhir Diperbaharui: Minggu, 12 April 2009. Pukul 22.00 WIB.
Logical fallacy atau sesat-pikir logis adalah suatu komponen dalam argumen, muncul dalam statement klaim yang mengacaukan logika. Sesat-pikir logis menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan karena klaim argumennya tidak disusun dengan logika yang benar.
Mudahkah menghindari sesat-pikir logika? Tidak. Justru itu sangat susah. Saya pun masih banyak melakukan kesalahan berlogika dan penyusunan argumen, baik disengaja (?) atau tidak.
Seringkali sesat-pikir logika dilakukan oleh orang-orang yang kurang memahami tentang penalaran logis, orang yang tidak bisa menempatkan dirinya pada posisi orang lain, hingga orang-orang yang berpendapat bahwa ketika pendapat diserang maka egonya diserang. Golongan yang pertama ini disebut Paralogisme, yaitu pelaku sesat-pikir logis yang tidak menyadari sesat-pikir yang dilakukannya. Namun ada juga sesat-pikir logis yang disamarkan menjadi silat lidah, yang dilakukan oleh orang-orang yang berniat memperdaya, yang disebut Sofisme.
Sesat-pikir, terutama dalam politik, akan sangat efektif digunakan dalam provokasi, menggiring opini publik, debat perencanaan undang-undang, pembunuhan karakter, hingga menghindari jerat hukum. Memang, dengan memanfaatkan sesat-pikir logis sebagai silat lidah kita dapat memenangkan suatu diskusi, namun itu menjauhkan kita dari esensi permasalahan.
Di sini saya menuliskan beberapa logical fallacy atau sesat-pikir logika yang sering ditemukan dalam kampanye, debat, maupun diskusi politik--seperti halnya di Politikana ini. Masih banyak sesat-pikir logika yang biasa ditemukan dalam politik yang ingin saya tuliskan, ini hanya sekelumit garis besarnya saja.
Contoh yang saya berikan, walaupun terdapat nama tokoh atau unsur politik yang nyata (tidak fiktif), namun sebagian besarnya hanya karangan saya sendiri saja.
***
Argumentum ad Hominem
Argumentum ad Hominem adalah bentuk argumen yang tidak ditujukan untuk menangkal argumen yang disampaikan oleh orang lain tetapi justru menuju pada pribadi si pemberi argumen itu sendiri. Argumen itu akan menjadi sesat-pikir ketika ia ditujukan menyerang pribadi lawan demi merusak argumen lawan. Kalimat populernya adalah: shoot the messenger, not the message.
Ada banyak bentuk ad hominem, namun yang paling umum dan dijadikan contoh di sini adalah ad hominem cercaan. Ad hominem termasuk dalah satu sesat-pikir yang paling sering dijumpai dalam debat dan diskusi politik, yang biasanya akan membawa topik ke dalam debat kusir yang tak ada ujung pangkal.
Catatan Tambahan: Ad hominem tidak sama dengan penghinaan, celaan, atau cercaan. Sejatinya, ad hominem ada dalam premis dan pengambilan kesimpulan berupa logika yang langsung mengarahkan argumennya pada seseorang dibalik suatu argumen. Dan tendensinya bisa saja bukan merupakan penghinaan, namun hanya mengkaitkan dua hal yang tidak berhubungan sama sekali. Sederhananya, bisa dikatakan ad hominem jika itu berupa premis dan kesimpulan, untuk menjatuhkan argumen lawan.
Contoh:
Kepada anggota dewan yang terhormat, harus saya ingatkan bahwa ketika Bung anggota Fraksi Merdeka yang menanyai saya ini memegang jabatan, tingkat pengangguran berlipat ganda, inflasi terus-menerus melonjak, dan harga sembako naik drastis. Dan Bung ini masih berani menanyai saya tentang masa depan proyek sekolah gratis ini.
(cara yang berbelit-belit untuk mengatakan "no comment", namun juga sekaligus menyerang lawan)
Red Herring
Red Herring adalah argumen yang tak ada sangkut-pautnya dengan argumen lawan, yang digunakan untuk mendistraksi atau mengalihkan perhatian orang dari perkara yang sedang dibahas, serta menggiring menuju kesimpulan yang berbeda.
Sesat-pikir ini biasanya akan keluar jika seseorang tengah terdesak. Ia akan langsung melemparkan umpannya ke topik lain, di mana topik lain ini sukar dihindari untuk tidak dibahas. Itu karena biasanya pemilihan topik lain itu 'baunya' cukup kuat seperti perumpamaan ikan merah (red herring) atau terasi bagi orang Indonesia (meminjam istilah Herman Saksono), antara lain topik yang aktual atau isu yang cukup dengan lawan debat atau audiens.
Contoh:
Andi: Polisi harusnya menindak tegas para aktivis lingkungan yang berdemo hingga menyebabkan macet di beberapa ruas jalan.
Badu: Anda merasa makin panas dan gerah saat macet kan? Kita harus peduli dengan isu global warming itu, bagaimana opini Anda?
(ketika Andi mengemukakan opininya tentang global warming, maka jatuhlah ia ke dalam topik baru)
Straw Man
Straw Man yaitu argumen yang membuat sebuah skenario yang dengan suatu imej yang menyesatkan, kemudian menyerangnya. Untuk membuat 'manusia jerami' (straw man) adalah dengan membuat ilusi telah menyangkal suatu proposisi dengan mensubstitusinya dengan sesuatu yang mirip namun dangkal dan mudah diserang, tanpa pernah benar-benar menyangkal argumen lawan yang sebenarnya.
Seperti namanya, manusia jerami adalah sasaran yang empuk dan mudah untuk diserang. Menyerang manusia jerami yang diciptakan dari manipulasi argumen lawan akan membuat argumen diri sendiri terlihat kuat dan bagus. Pada umumnya, selain terdapat dalam kampanye, manusia jerami ini akan dikeluarkan setelah lawan selesai bicara mengenai perkara yang dibahas.
Contoh:
Tono: Kita harus mengendurkan lagi status hukum ganja.
Rudi: Tidak. Obat-obatan terlarang itu akan merusak generasi muda kita.
(kalimat 'obat-obatan terlarang yang merusak' adalah manusia jerami untuk menggantikan menyerang 'ganja')
Guilt by Association
Guilt by Association berciri-ciri tipe generalisasi umum--yang terlalu cepat mengambil kesimpulan--yang meyakini bahwa sifat-sifat suatu hal berasal dari sifat-sifat suatu hal lain. Sesat-pikir ini bisa berupa ad hominem, biasanya dengan menghubungkan argumen dengan sesuatu hal diluar argumen itu, kemudian menyerang si pembuat argumen.
Ini adalah bentuk ekstrim dari majas Totum pro parte yang mana berupa seolah-olah pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. Intinya adalah mencari kesalahan seseorang dari apa saja yang berkaitan dengannya, lalu jadikan hal tersebut argumen untuk menjatuhkannya.
Contoh:
Gusdur banyak bergaul dengan golongan sekuler. Golongan sekuler itu kebanyakan berasal dari Amerika. Pasti Gusdur adalah seorang liberal dan antek-antek Amerika.
(lihat bagaimana dengan mudah menggeneralisasikan seseorang berdasarkan hubungannya dengan hal lain)
Perfect Solution Fallacy
Perfect Solution Fallacy adalah sesat-pikir yang terjadi ketika suatu argumen berasumsi bahwa sebuah solusi sempurna itu ada, dan sebuah solusi harus ditolak karena sebagian dari masalah yang ditangani akan tetap ada setelah solusi tersebut diterapkan.
Asumsinya, jika tidak ada solusi sempurna, tidak akan ada solusi yang bertahan lama secara politik setelah diimplementasi. Tetap saja, banyak orang tergiur oleh ide solusi sempurna, mungkin karena itu sangat mudah untuk dibayangkan.
Contoh:
Penerapan UU Pornografi ini tidak akan berjalan dengan baik. Pemerkosaan akan tetap terjadi.
(argumen yang tidak memperhatikan penurunan tingkat kriminalitas asusila)
Argumentum ad Verecundiam
Argumentum ad Verecundiam terjadi ketika mengacu pada seseorang yang dianggap positif sebagai pakar atau ahli sehingga apa yang diucapkannya adalah sebuah kebenaran.
Otoritas kepakaran seseorang yang mengucapkan suatu hal tersebut kemudian otomatis diakui sebagai sesuatu yang pasti benar, meskipun otoritas itu tidak relevan
Contoh:
Banyak ahli mengakui kapitalisme itu telah runtuh dan banyak boroknya. Jadi mana yang sebaiknya saya percaya, para ahli terkemuka itu atau Anda yang kuliah saja belum lulus?
(tembakan plus ad hominem, dan ya, bisa juga menambahkan sederet nama orang terkenal dalam argumennya)
Poisoning the Well
Poisoning the Well adalah sesat-pikir yang mencegah argumen atau balasan dari lawan dengan cara membuat lawan dianggap tercela dengan berbagai tuduhan bahkan sebelum lawan sempat bicara.
Teknik meracuni sumur ini lebih licik dari sekadar mencela lawan karena akan membuatnya menghina diri sendiri karena menyambut argumen yang telah diracuni tersebut.
Contoh:
Kami menduga Sintong akan melakukan negative campaign untuk menjatuhkan Gerindra.
(dan apa yang Sintong tulis tentang Prabowo dalam bukunya akan dianggap sebagai upaya menjatuhkan Gerindra)
Argumentum ad Temperantiam
Argumentum ad Temperantiam adalah kesesatan yang menyatakan bahwa pandangan pertengahan adalah sesuatu yang benar tanpa peduli nilai-nilai lainnya. Serta juga menganggap jalan tengah sebagai pertanda kekuatan suatu posisi.
Meskipun dapat menjadi nasihat yang bagus, namun kesesatannya disebabkan karena ia tak punya dasar yang kuat dalam argumen karena selalu berpatokan bahwa jalan tengah adalah yang benar. Penggunaannya kadang dengan membuat-buat posisi lain sebagai posisi yang ekstrim.
Contoh:
Daripada mendukung komunisme atau mendukung kapitalisme, lebih baik ideologi Pancasila yang merupakan jalan tengah keduanya.
(sedikitpun tidak menjabarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem)
Ipse-dixitism
Ipse-dixitism adalah argumen dengan dasar keyakinan yang dogmatis. Seseorang yang menggunakan Ipse-dixitism mengasumsikan secara sepihak premisnya sebagai sesuatu yang disepakati, padahal tidak demikian.
Premis yang diajukan dalam argumen seolah-olah merupakan fakta mutlak dan telah disepakati bersama kebenarannya, padahal itu hanya dipegang oleh pemberi argumen, tidak bagi lawannya. Sesat-pikir ini akan berujung pada debat kusir.
Contoh:
Ideologi liberalis dan kapitalis telah terbukti gagal dan hanya menyengsarakan rakyat, karena itu harus diganti dengan sistem spiritual.
(ideologi yang gagal itu belum disepakati lawan bicaranya, jadi bagaimana langsung dapat menggulirkan solusi?)
Proof by Assertion
Proof by Assertion adalah kesesatan dimana suatu argumen terus-menerus diulang tanpa mengacuhkan kontradiksi terhadapnya. Kadang ini diulang hingga diskusi pun jenuh, dan pada titik ini akan dianggap sebagai fakta karena belum dikontradiksi.
Sesat-pikir ini sering digunakan sebagai retorika oleh politikus, atau dalam debat sebagai usaha menggagalkan penetapan suatu undang-undang dengan pidato yang amat panjang dan tak habis-habis. Dalam bentuk yang lebih ekstrim lagi, juga bisa menjadi salah satu bentuk pencucian otak. Penggunaannya dapat diamati dari penggunaan slogan politik yang terus-menerus diulang.
Contoh:
Tapi Bapak Menteri, seperti yang telah saya jelaskan selama dua bulan terakhir ini, tak mungkin kita memotong anggaran biaya departemen ini. Tiap posisi dan jabatan di dalamnya amat penting bagi efesiensi kerja dan prestasi departemen. Lihat saja office boy yang selalu mengantarkan kopi, atau mereka yang memunguti penjepit kertas di ruang kerja, maka blablablablablaaa... [dan seterusnya, berbelit-belit]
(selama dua bulan cuek terhadap argumen balasan dan terus mengulang perkara yang sama)
Two Wrongs Make a Right
Two Wrongs Make a Right adalah kesesatan yang terjadi ketika diasumsi bahwa jika dilakukan suatu hal yang salah, tindakan salah yang lain akan menyeimbanginya.
Sesat-pikir ini biasa digunakan untuk menggagalkan tuduhan dengan menyerang tuduhan lain yang juga dianggap salah.
Contoh:
Dedi: Soeharto merebut kekuasaan dari Bung Karno dan akhirnya ia berkuasa dengan tangan besi.
Amir: Tapi Soekarno juga mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup!
(ya, tapi itu bukan berarti apa yang dilakukan Soeharto itu benar)
Argumentum ad Novitam
Argumentum ad Novitam muncul ketika sesuatu hal yang baru dapat dikatakan benar dan lebih baik, dengan mengasumsikan penggunaan hal yang baru berbanding lurus dengan kemajuan zaman dan sama dengan kemajuan baru yang lebih baik.
Sesat-pikir ini selalu menjual kata 'baru', dengan menyerang suatu hal yang lama sebagai hal yang gagal dan harus diganti dengan yang lebih baru.
Contoh:
Mengganti golongan tua dengan golongan muda serta wajah baru di parlemen akan membuat negara ini lebih baik.
(tapi masalah seperti korupsi bukan perkara tua atau muda)
Argumentum ad Antiquitam
Kebalikan dari Argumentum ad Novitatem, ketika sesuatu benar dan lebih baik karena merupakan sesuatu yang sudah dipercaya dan digunakan sejak lama. Argumen ini adalah favorit bagi golongan konservatif. Nilai-nilai lama pasti benar. Patriotisme, kejayaan negara, dan harga diri sejak puluhan tahun silam.
Sederhananya, sesat-pikir ini adalah kebiasaan malas berpikir. Dengan selalu berpatokan bahwa cara lama telah dijalankan bertahun-tahun, maka itu dianggap sesuatu yang pasti benar.
Contoh:
PDI-Perjuangan telah memperjuangkan nasib wong cilik sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, maka pilihlah moncong putih.
(berpuluh-puluh tahun berjuang, lalu apa hasilnya?)
False Dichotomy
False Dichotomy atau False Dilemma terjadi apabila argumen hanya melibatkan dua opsi, yang seringkali berupa dua titik ekstrim dari beberapa kemungkinan, di mana masih ada cara lain namun tidak disertakan ke dalam argumen.
Biasanya sesat-pikir ini menyempitkan opsi menjadi dua saja, walaupun masih ada opsi lain. Bahkan kadang-kadang menyempitkan opsi menjadi satu, sehingga seolah-olah mau tidak mau harus menyetujuinya.
Contoh:
Sistem pendidikan yang fraksi kami ajukan harus segera disahkan dan dilaksanakan, jika tidak, kemerosotan moral pasti akan menghinggapi generasi muda kita.
(opsi lainnya tidak disertakan sehingga membuat argumennya mau tidak mau harus disetujui)
***
EDITED: Beberapa komentator menyarankan saya agar menuliskan tentang cara menghadapi sesat-pikir, klasifikasi lain, dan juga kaitan dan penggunaannya dalam politik lebih jauh lagi. Dalam waktu dekat saya akan menuliskannya... Salam. :)
Tag: politik, diskusi, debat, fallacy, logika, sesat-pikir, provokasi, pembunuhan karakter, ad hominem, tuduhan, silat lidah, argumen, cacat, retorika
Terkait:
-
DEBAT
Jumat, 1 Okt '10 12:02 -
[copas] The lost art of democratic debate
Sabtu, 12 Jun '10 08:43 -
Serba-serbi diskusi
Senin, 18 Jan '10 01:10
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
hamatamu: Bagus
-
GaraMata: Penting
-
Harrie: Penting
-
Apprayo: Bagus
-
Xaliber von Reginhild: Penting
-
choro: Bagus
-
Ipam: Penting
-
Fauzan: Penting
-
masoglek: Penting
-
shinte galeshka: Menarik
-
enda: Bagus
-
pico: Keren
-
K. Lensa: Keren
-
rukia: Penting
-
Boy Avianto: Penting
-
Herman Saksono: Penting
-
kang tutur: Keren
-
aramichi: Bagus
-
Asep Mulyana: Penting
-
fisto: Keren
-
Shouen: Keren
-
Taufan: Penting
-
Pedy: Bagus
-
kakilangit: Penting
-
AndyMSE: Bagus
-
Gagah Putra Arifianto: Penting
-
iscab: Penting
-
mpokb: Bagus
-
Gamal: Inspiratif
-
curiosity: Menarik
-
Mas Paman: Menarik
-
Upik: Menarik
-
opiniherry: Keren
-
skyscraper: Menarik
-
LCFR: Keren
-
Bee: Keren
-
Bu Noor: Menarik
-
Good: Keren
-
Riyono: Penting
-
Lantip: Penting
-
Moonlight: Penting
-
C e l o: Bagus
-
sufehmi: Penting
-
dony: Bagus
-
laind: Penting
-
Yudiantoro: Penting
-
ali_rizard: Inspiratif
-
babyloniamaria: Bagus
-
Catshade: Penting
-
arsyad: Bagus
-
isman: Penting
-
TTTH: Menarik
-
Lemon S. Sile: Penting
-
Wonggantenk: Penting
-
Dony Alfan: Penting
-
Nenda Fadhilah: Penting
-
Osama Umar: Menarik
-
Riri Satria: Penting
-
Google: Keren
-
Pinandito: Penting
-
RizqanAdhima: Penting
-
Coulrophobia: Penting
-
muhipro: Penting
-
Chairman Mao: Penting
-
abah: Bagus
-
Forlorn Hermit: Penting
-
conscientizacao: Penting
-
empis2: Penting
-
parasit: Inspiratif
-
ipool: Penting
-
em je: Penting
Komentar:
hamatamu: contoh manakah yang dimaksud?
Jika tidak poligami pasti zina.
Tul nggak?
aku aja ngasih contoh masih yg halus2
menarik dan mumet
Contoh kejadian:
Ada seorang anak naik keledai, keledainya dituntun ayahnya.
Frame 1:
Si anak kurang ajar ya, masak ayahnya yang disuruh jalan.
Frame 2:
Si bapak baik bener, memang kasihan anaknya, kan masih kecil, capek kalo disuruh jalan juga.
Satu kejadian yang sama, bisa ditawarkan untuk dipandang dari berbagai sudut yang berbeda dengan 'framing' yang berbeda pula.
Eh.. nyambung gak sih dengan topik ini? Hehehe...
*save as*
Tambahin cara menangkalnya, bos.
Itu kayak kasus Palestina vs Israel kemarin ya?
Orang yang gak biasa mikir ndak bisa debat lagi ntar.
Betul juga..
Terus orang pada ributin framingnya, bukan mikir gimana biar konflik segera kelar
Mengenai "appeal to novelty", itu kayaknya sering banget dipakai di spanduk-spanduk caleg muda, dengan slogan macam "saatnya membiarkan kader muda berbicara" atau apaaaa gitu, lupa.
"Liverpool mencuri satu gol di babak pertama, namun usaha keras MU dibayar dengan layak di babak kedua ketika C. Ronaldo menyarangkan bola ke gawang...."
Pilihan istilahnya itu lho.
Xaliber von Reginhild: hush hush, kamu ini mancing ya.
Herman Saksono: aku juga kadang gak bisa mikir kok, Mon.
*pentung Herman*
masoglek: biasalah, artikelku kadang jadi lahan chatting gini.
K. Lensa: maunya sih nulis banyak, cuma kayaknya disambung aja ke bagian lain. ad populum memang menarik dan sangat serin dijumpai dalam politik. Itu senjata khas orator dan penggerak massa.
Ya memang sah2 saja sih, kan gak dilarang ya
Tapi kadang (atau malah sering) membuat orang terjebak pada framingnya itu, dan memang disengaja agar orang lupa pada isu intinya.
Contoh-contoh yang saya kemukakan di sini...errr... sudah dicoba agar tidak nyerempet langsung ke artikel atau orang yang terkait. Hahaa...
untuk dibaca lagi, mbesok-mbesok
Kebayang kan ada satu artikel plus komentarnya punya lebih dari 5 fallacies. Dan semuanya berbeda tipe.
ad hominem + straw man + ipse-dixitism + false dichotomy... combo deh.
Hal yang akan saya lakukan jika pelaku fallacy terus menerus memberondong dengan peluru fallacy walaupun sudah diperingatkan, ya 'case closed'. Sudah mencoba menyanggah dengan penalaran logika yang tepat, sayangnya pihak lawan bersikeras dengan berbagai macam fallacy. Toh pemecahan masalah tak akan kunjung selesai jika argumen fallacious yang dipakai.
"Saya diminta memilih pada pemilu ini, tapi saya yakin tidak ada caleg yang ideal."
Kesalahannya logikanya adalah: apapun yang terpilih/menang nantinya dan apapun yang si pemenang lakukan, pasti akan dianggap salah.
Ya tinggal bagaimana membungkus argumen saja.
Wah nanti jangan2 saya dituduh menerapkan fallacy baru di sini (apa? combo? quatro? ato pedro?
But to be honest, this is really a good article! Thanks Gunawan..
Ah, ya. Ada, Mas, argument from fallacy.
Bagaimanapun, yang perlu diperhatikan adalah, apabila argumen kita memang lurus adanya, berarti bisa diutarakan secara baik (i.e. sound) tanpa menggunakan fallacy. Apabila merasa terkena argument from fallacy ya solusinya jelas memperbaiki argumentasi yang telah kita susun.
Gagah Putra Arifianto: silakeun diapakeun.
Sekarang saya berharap ada yang memberikan teori lain sebagai kritik atau bantahan atas teori ini.
Sebagaimana melihat Hegel, Marx, Trotsky, Lenin dll.
Cheers...
Sayangnya cara berlogika filsafat timur itu hampir nggak dipakai di zaman sekarang.
*nulis part2-nya*
Tulis lagi seperti ini dan amalkan untuk memahami syariah... ha ha...: p
gimana ya, syariah sama sekali gak paham lah saya. ada alasan khusus kenapa saya harus memahaminya?
Leksa: sorry, jal.
gwa gak liat blogmu.
*menamatkan buku kedua mengenai filsafat logika*
gimana ya, syariah sama sekali gak paham lah saya. ada alasan khusus kenapa saya harus memahaminya? : p
kaum pemakan babi, bahkan pemakan buaya pun butuh syariah...Serius ini... : ))
Soalnya syariah bisa menyelesaikan problem global warming (apa hubungannya?. tapi serius syariah bisa menyelesaikan problem global warming)
Islam sebagai ideologi tidak hanya untuk wong Islam. Francis Fukuyama dah tau ini (walo ia belum paham banget Islam). Ia pernah bilang:
"Adalah benar bahwa konstitusi Islam merupakan sebuah ideologi sistemik dan koheren, seperti halnya liberalisme dan komunisme, dengan kodenya sendiri mengenai moralitas dan doktrin keadilan politik dan sosial. Seruan Islam secara potensial adalah universal, yang menjangkau semua manusia sebagai manusia dan bukan hanya untuk anggota-anggota dari kelompok etnis atau bangsa tertentu.”
Francis Fukuyama aja belajar Islam, masak Gunawanrudy pemakan babi tidak padahal ia pakar logika lho : D
Jadi kemalaman --tidur ahhhh, jurus macan menerkam bantal--
Yakin saya memang ada bagian di syariah yang dibutuhkan oleh siapa saja (termasuk kaum pemakan babi) , tapi ada juga bagian dari syariah yang tidak mereka butuhkan.
*salah satu logical fallacy favorite*
coba tebak, komen saya ini masuk yang mana? ada di atas lho uraiannya.
woof, harus kembali back to topic agar tidak terlalu melenceng...
Good: Saya sudah sering dengar penjelasan seperti itu. bagi saya itu sama aja kayak kesaksian mereka yang akhirnya menerima Kristus, dan pengakuan para Muallaf.
Saya perlu "penceraheun", tentunya bukan di kolom komentar ini, karena selain OOT tentu bukan media yang pas untuk memberi penjabaran yang lengkap dan sistematis.
Ditunggu arikelnya lagi. Suwun.
Ah, mas Nop... saya rasa syariah atau bukan, selama ada keteraturan dan bisa menjamin rakyat makan enak, tentu akan diterima dengan baik oleh semua golongan bukan?
Shouen: *nagih janji*
*halah, jadi makin OOT ini mah*
makan heula!
sorry, I eat no meat
#sandalian... kamu pasti siwi™
#gun... yang OOT itu yang bahas logical falacynya atau yang menanggapi bang nop tho sebenarnya?
Sudah lurus. Semoga.
*menahan diri untuk tidak menanggapi hamatamu dan @sandlian*
Yak, komen yang lurus-lurus saja...
Saya suka sekali artikel ini.
------------
**gdubrak**
btw; terimakasih banyak untuk rangkumannya ini. Saya usul ini dicantumkan juga (paling tidak, ada link ke artikel ini) di FAQ Politikana. Ini artikel penting & bagus.
Sebenarnya ada teknik-teknik memelintir logical fallacy ini sehingga terlihat kayak argumen yang valid, padahal cuma silat lidah.
Mau ta kirim bukunya?
sufehmi: Kenapa gdubrak, mas?
Apa mas sufehmi termasuk korban? Oh yang di forum MyI***m jadi korban juga kah?
Ini cuma rangkuman singkat dari beberapa yang sering keluar di politik saja. Niat saya sih, nulis rangkuman yang mencakup banyak jenis dan contoh.
Mas sufehmi pernah terkena kasus fallacy di postingan geddoe kalo tidak salah.
GaraMata: cek TKP dulu. suwun bro.
Jadi banyak pesanan tulisan.
Apalagi kalau Gunawanrudy jadi mau belajar Islam dan tidak lagi makan babi serta memeluk Islam, InsyaAllah gue dapat pahala banyak..Amien
Honestly, maaf yang sabar ya atas permintaan tulisannya yang terlambat.
*baru update bagian ad-hominem*
Good: Amen. *bikin tanda salib*
Eits, situ bukannya agnostik?
ekselent artikel.......hik hik hik
gunawanrudy; saya hari ini terpingkal-pingkal bung, terimakasih anda layak dapat traktiran babi guling
Genetic Fallacy.
Misal,
Tahukah kamu bahwa Natal berasal dari hari raya pagan. Berarti orang Kristen yang merayakan natal itu bodoh.
atau,
Easter itu sebenarnya bukan Paskah. Tapi hari raya pagan yang berdekatan dengan Paskah. Yang hari raya Paskah sebenarnya adalah Passover. Jadi orang Kristen yang bilang Happy Easter itu sesat.
dlsb...
negara ini udah mengalaminya sejak 03
lempar batu dari kerumunan,
tambah gaduh honornya tambah,
ahhhh, jangan kita lengah,
masturbasi dulu ahhhh
Sana bikin artikel jualan kecap sendiri, jangan ngerusuh di lapak orang, gan!
Shouen:
Lu beli aja di Beijing sonoh, aslinya buku luar kok.
Moga terbit di sana, ntar gw kasih tau judul dan pengarangnya.
ekowanz & hamatamu:
MLM dan babi ada kaitannya ya?
laind:
Siplah, buat part2 ntar.
Thanks.
babyloniamaria & massto:
Hahaaa, ada-ada saja.
Btw, arikel ini saya rencanakan akan terus di-update sesuai perkembangan di politikana.
Bagian ad hominem sudah saya tambahkan, agar nggak terjadi miskonsepsi lagi.
Jika ada usulan bagian mana yang kurang jelas, atau ingin menambahkan jenis fallacy baru dalam kategori politik, silakeun bantu saya di sini.
Terima kasih.
keren. baca ini gua gak usah masuk kelas.
Silahkan login untuk memberikan pendapat