What's Your Ideology? 138

Senin, 13 Apr '09 22:43

Perdebatan tentang agama dan ideologi di Politikana mulai memanas belakangan ini. Harus diakui memang, seringkali perdebatan menjadi kurang sehat karena belum adanya kesepakatan yang sama tentang pengertian sebuah istilah. Mestinya, beberapa istilah pokok harus disepakati dulu definisinya, well at least kalau pun tetap tidak sepakat tentang sebuah definisi, kita toh sudah mengetahui definisi dari perspektif lain serta mencoba memahami alur tali-temali logika argumennya. Sehingga para debaters berpijak pada "bumi" yang sama, dan mudah-mudahan perdebatan akan lebih atraktif dan konstruktif.

Berangkat dari sini saya menawarkan sebuah artikel yang mencoba mendefinisikan salah satu istilah yang sering dibahas belakangan ini: Ideologi. Oh ya, agar tidak salah persepsi lagi, ideologi yang dimaksud di sini adalah ideologi dalam konteks politik, bukan dalam konteks epistimologi apalagi seni, he..he... Ok, hanya sebagai pembukaan dan pemanasan saja, akan saya kutipkan beberapa definisi yang ada tentang ideologi:

An ideology is a form of social or political philosophy in which practical elements are as prominent as theoretical ones. It is a system of ideas that aspires both to explain the world and to change it (http://www.britannica.com/EBchecked/topic/281943/ideology).
An ideology is a set of aims and ideas, especially in politics. An ideology can be thought of as a comprehensive vision, as a way of looking at things, as in common sense and several philosophical tendencies, or a set of ideas proposed by the dominant class of a society to all members of this society (http://en.wikipedia.org/wiki/Ideology).
Ideology is the combination of organise ideas which give a new direction to the people for revolution (http://wiki.answers.com/Q/What_is_ideology).

Dari sample tiga definisi di atas, setidaknya kita bisa menyarikan beberapa kata kunci dari definisi ideologi: Pertama, dia terdiri dari sekumpulan gagasan, keyakinan dan pandangan komprehensif yang menjelaskan dunia dan kehidupan. Dan kedua, dia harus mencakup aspek praktis yang mampu menggambarkan tata dunia baru yang dicita-citakannya (ekonomi, sosial, politik, hukum, pendidikan, politik luar negeri, etc), sekaligus memberikan pedoman bagaimana merubah realitas yang ada menuju yang dicita-citakan tadi.

Dari definisi di atas akhirnya bisa ditemukan beberapa contoh ideologi yang sudah ada di dunia ini, seperti kapitalisme, neo-liberalisme, komunisme, sosialisme, dan lain-lain (I'll save for "that one" latter). Jika kita lihat, masing-masing ideologi memiliki pandangan hidup dan tatanan kehidupan yang khas dan unik, yang berbeda satu dengan yang lain. Ibaratnya, mereka seperti sebuah pohon yang berbeda karena perbedaan benih dan akar yang tertanam sebelumnya. Dari sini juga bisa diamati bahwa kredibilitas sebuah definisi salah satunya dijamin dengan adanya realitas yang bersesuaian dengan definisi tersebut.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk memaksakan satu definisi ideologi yang harus Anda gunakan. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, tulisan ini setidaknya bermaksud untuk bisa memahami "dunia lain" melalui definisi atau sudut pandang orang yang memiliki definisi tersebut. Ini seperti melihat dunia yang berbeda dengan meminjam kaca mata seseorang, atau menjalani hidup dengan cara yang berbeda dengan meminjam sepatu orang. Harapannya kita bisa memiliki sikap seperti pada quote: Don’t judge a man before walking a mile in his shoes!

Karena ini adalah tulisan opini, maka sekarang saya akan menunjukkan sepatu.. err.. maksudnya definisi ideologi yang saya dan teman-teman biasa gunakan dalam dunia pergerakan. Yups, mungkin ini bukan definisi yang Anda harapkan. Dan ini bukan definisi yang dirancang dari belakang meja luks akademik kampus. Tapi ini adalah sebuah definisi yang dirancang di jalan-jalan dan gang-gang kumuh dimana sebuah revolusi dilahirkan, yang sering kali harus kucing-kucingan dengan rezim represif yang hobinya main tangkap sembarangan.

Taqiyuddin An-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, mendefinisikan ideologi sebagai pendangan hidup rasional, yang melahirkan seperangkat aturan kehidupan integral yang saling terkait kelindan, apakah itu ekonomi, sosial, politik, hukum, pendidikan, politik luar negeri, dan lain-lain. Kalau diteliti, definisi ini mirip dengan definisi-definisi ideologi sebelumnya, yang di atas saya sarikan dengan dua hal pokok: Pertama, sekumpulan keyakinan dan gagasan yang menjelaskan dunia ini (pandangan hidup). Dan kedua, aspek praktis yang menggambarkan tatanan ideal masyarakat yang dicita-citakan, serta bagaimana mewujudkannya (aturan kehidupan komprehensif).

Satu-satunya perbedaan yang cukup kontras adalah, dalam definisi yang saya tawarkan disebutkan pandangan hidup rasional atau aqidah aqliyah. Pandangan hidup rasional yang dimaksud adalah pandangan hidup yang dihasilkan dari proses berfikir, berkebalikan dengan pandangan hidup yang diambil secara taken for granted atau ditelan mentah-mentah secara dogmatis; cukup yakini saja dan jangan banyak tanya!

Saya akan membahasnya lebih detil tentang aqidah aqliyah ini pada tulisan berikutnya. Oh ya satu hal lagi, dalam definisi di atas maupun definisi yang saya tawarkan, menunjukkan sebuah persyaratan penting yang harus dimiliki oleh sebuah ideologi. Hal itu adalah kesatuan organik antara pandangan hidup dan aturan kehidupan yang dilahirkannya. Seperti yang saya sebut di atas, keduanya seperti akar pohon dan buahnya. Kalau akar mangga maka akan berbuah mangga, kalau akar jeruk maka akan berbuah jeruk. Keduanya harus nyambung dan dapat dijelaskan secara logis. Karena ideologi (dalam tinjauan ilmu meta-ideologi) adalah coherent system of ideas. Saya juga akan memberikan contoh-contoh praktisnya di tulisan yang lain.

Tapi sederhananya begini, misalnya ada sebuah ideologi yang bernama Holoholo, yang (mengaku) memiliki pandangan hidup khas Holoholo, yang (seharusnya) juga memiliki tata sosial politik ekonomi yang khas Holoholo. Tapi kalau dicermati, ternyata tatanan ekonominya neo-liberal. Maka sebenarnya yang terjadi adalah: ideologi Holoholo tidak konsisten menderivasikan sistem ekonominya dari pandangan hidupnya. Atau the most common, Holoholo bukan sebuah ideologi.

(sumber gambar: http://thesituationist.files.wordpress.com/2007/11/ideolgoy-tee-shirt.jpg)

 


Tag: politik, islam, ideologi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    GaraMata 0 0
    Pancasila itu termasuk ideologi tidak ya?

    Agak ragu juga sebab Pancasila hanya memberi petunjuk secara general saja, tidak sampai mendetail. Jika bukan ideologi, tepatnya disebut apa kira-kira Pancasila itu ?
    Pedy 0 0
    Waduh, Dana I wish I could answer that question..
    Coba tanya pakar Pancasila saja ya... Dulu P4-ku juga nggak begitu bagus nilainya... : )
    Pedy 0 0
    Ada pakar yang bilang seh (aku lupa namanya), Pancasila itu lebih tepat disebut vision of the state, sebuah cita2 negara. Nah, cita-cita ini bisa diraih dan diwujudkan dengan berbagai instrumen yang dimiliki oleh ideologi beneran. Soekarno dengan rezim orla-nya misalnya, mencoba mewujudkannya dengan sosialisme (or nasakom), lalau Soeharto dengan rezim orba-nya, mencoba mewujudkan dengan kapitalisme (we can debate this later...)
    Spoil 0 0
    Pancsila
    ketuhanan yang mahaesa
    kemanusiaan yang adil dan beradab
    persatuan indonesia
    kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam pemusyawaratan/ perwakilan
    keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia
    He... he... masih apal tapi amalannnya kurang akhirnya tidak membuahkan buah pancasila
    GaraMata 0 0
    Yah, saya mengamati dululah pendapat rekan-rekan lain mengenai apa sih ideologi itu. Takutnya malah jadi bahas Pancasila doank nih, jadinya nanti target artikel ini tidak tercapai.
    Subroto 0 0
    To Dana : Jika definisi ideologi sampai mendetail gitu, itu mah namanya JUKLAK (petunjuk pelaksanaan)

    Misal: Juklak cara masturbasi yang baik dan benar, juklak cara kawin yang baik dan benar, dll

    Semoga bisa dipahami kekekekkee...
    dony 0 0
    kaosnya lucu tuh..........kalo di pake cewek sexy, gmana yah?
    ================

    pantesan ulasannya tentang buah dan akarnya?
    BUAH apa n AKAR apa yah?

    hemmmmmmmmm............ini termasuk sekuler kali yah? * kaosnya * maksud saya......
    hik hik hik
    Sri Kirana 0 0
    Riset dulu... baru komentar... saya ambil sekulerisme saja ah~~ *back to research*
    Linx 0 0
    jika melihat dari kehidupan sehari-hari, saya lbh condong ke sekulerisme,maklum kebanyakan nonton film barat.hehe

    Kalau mas pedy ideologinya apa?

    Muda Bentara 0 0
    Akhirnya terjawab sudah kekhawatiran saya, rupanya pancasila bukan ideologi, karena pancasila hanya merupakan penjabaran general dan tak memiliki konsep aplikasi, dan konsepnya ya comot-comot dari kapitalis+sosialis ....... dan lahirlah pancasila comot-comot ....
    opiniherry 0 0
    Topik yang menarik...

    *gelar tiker sambil ngopi dan ngudut menunggu hasil riset : p*
    Lantip 0 0
    Muda Bentara: kenapa harus khawatir? lagian, ideologi itu kan bisa diartikan sebagai ide dan/atau polapikir yang menggambarkan karakteristik sekelompok orang (atau seseorang); menurut saya pancasila bisa saja masuk sebagai ideologi.
    massto 0 0
    mati muda bentara
    mending ideologi comot2..,tapi asli hasil pikiran bangsa sendiri,..daripada ideologi utopia,..import asal arabia,..

    masturbasi aja kau sana..,di gurun tempat ideologi arabic insomnia kau diciptakan..!
    Pedy 0 0
    Linx:
    Saya juga suka lihat film barat, apalagi seperti Good Will Hunting (favoritnya 5cm), ato Little Miss Sunshine, tapi kelihatannya pilihan ideologi tidak ditentukan dari hobi lihat film barat deh..
    Pedy 0 0
    Dah ketemu: "Pengamat Politik LIPI, Mochtar Pabottingi, menyatakan bahwa Pancasila bukanlah ideologi negara, melainkan vision of state yang mendahului berdirinya Republik Indonesia (Republika, 1/6/2008)."
    massto 0 0
    Lha tErus piye ped???... mo mbikin demonstrasi bareng sama genk HTI mu???... biar semua orang tahu itu?!..

    silahkan saja,..mumpung ngendonesia blom jadi negara khilafah,..

    Pedy 0 0
    Thanks Massto atas dukungannya.. : )
    LCFR 0 0
    Pancasila itu punya butir-butir sebagai penegasan makna Sila itu sendiri. Butir-butir itu jelas memberikan aturan main yang nanti diperjelas secara spesifik melalui UUD '45. Ini sih yang menurut saya menjadikan pancasila sebuah Ideologi.

    Pembentukan Pancasila sendiri adalah inti dari Indonesia sebagai bangsa. Mencoba mencari jalan tengah yang bisa memuaskan sebagian besar masyarakat Indonesia. Bukan asal comot, tapi mencoba toleransi sama keberagaman.

    Jadi Muda Bentara tolong jangan asal njeplak. Pancasila sebagai ideologi sendiri nggak ada hubungannya sama kapitalisme sama sekali, malah bertentangan dengan butir sila kelima; "Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain". Tolong jangan asal ngomong kalau emang nggak ngerti.
    Linx 0 0
    @pedy

    Masa engak.Berpengaruh kok walau mungkin banyak dri kita yang gak sadar.Kan apa yg kta lihat biasanya membentuk pola pikir kita.
    Pertanyaan saya tolong dijwab ya mas,ideologi anda apa?
    Pedy 0 0
    Islam : )
    Linx 0 0
    Islam itu ideologi jg to saya kira agama 'aja' : )
    Pedy 0 0
    Saya akan menjelaskannya di tulisan2 saya mendatang, kalau tertarik stay tune ajah.. : )
    Linx 0 0
    Siap!!!

    Ditunggu tulisan selanjutnya. : )
    dony 0 0
    @pedy

    Kaosnya lucu tuh...........
    kalo (nanti) Indonesia mengadopsi ideologi islam, masih bisa pake kaos (buntung) seperti itu gak mas? bagi remaja putri yang baru mencari jati diri?
    Pedy 0 0
    Dony: ha..ha..ha.. : D
    Kayaknya pada lebih tertarik pada kaosnya (atau yang dibalik kaos itu ya??), ketimbang content artikel saya... : D
    Pedy 0 0
    Hmm..
    Koq malah jadi tertarik buat artikel tentang kaos buntung vs. jilbab ya?
    Boy Avianto 0 0
    Hm, kenapa saat saya membaca artikel ini saya, sebagai seorang manusia, dikotak-kotakkan berdasarkan cara berpikir atau pun berkeyakinan ya?

    Kalau saya berpikirnya "sekuler" berarti sikap saya akan (atau harus?) sekuler - selama saya berpikir "sekuler" tentunya.

    Rasanya seperti membaca artikel rasisme. Mengutip "Ibaratnya, mereka seperti sebuah pohon yang berbeda karena perbedaan benih dan akar yang tertanam sebelumnya." - bukankah mereka semua tumbuh di atas tanah yang sama, yaitu otak manusia? Apakah mustahil kalau sebuah ideologi bergabung dengan ideologi lain lalu timbul ideologi baru yang mungkin berisi dua ideologi yang bertentangan? Kalau membaca dari artikel ini tampaknya tidak mungkin : (

    Saya kok malah ngeri ya dengan metoda pengkotak-kotakkan ideologi seperti ini. Jadi teringat buku "1984"-nya Orwell. "Thought crime" anyone?
    Leksa 0 0
    Pancasila itu bisa jadi jalan tengah untuk menunjukkan jatidiri bangsa,...
    dulu saya juga tidak suka pancasila,..
    karena jadinya sering pancasial..

    lebih suka konsep sosialisme yang ditawarkan marx.. lebih masuk akal ..

    tapi ada banyak hal untuk dipelajari,..
    hidup saya masih terlalu muda untuk berani bilang .. SAYA KOMUNIS! ..
    Leksa 0 0
    Ah mas Boy Avianto ...
    You Got my 2 cent!! ..
    Linx 0 0
    @mas boy

    Tulisannya keren
    Tapi kenapa manusia kok suka buat -isme2 ya?brarti manusia suka mengotak2 dirinya sendiri berdasarkan suku,bangsa,ras dan pemikirannya donk.
    Mohon petunjuknya mas boy.
    dony 0 0
    @pedy
    Dony: ha..ha..ha.. : D
    Kayaknya pada lebih tertarik pada kaosnya (atau yang dibalik kaos itu ya??), ketimbang content artikel saya... : D
    ======================
    pertanyaan jadi nambah nih mas (karena pertanyaan pertama belum di jawab)
    apa di balik kaos itu mas? tu (gambar) lampu pijar yah?

    jawabannya yang simpel aja mas........
    dony 0 0
    saya engga berburuk sangka, tapi kayanya saya sudah bisa menebak kearah mana diskusi akan berjalan................
    ===============

    saya akan menunjukkan sepatu.. err.. maksudnya definisi ideologi yang saya dan teman-teman biasa gunakan dalam dunia pergerakan. Yups, mungkin ini bukan definisi yang Anda harapkan. Dan ini bukan definisi yang dirancang dari belakang meja luks akademik kampus. Tapi ini adalah sebuah definisi yang dirancang di jalan-jalan dan gang-gang kumuh dimana sebuah revolusi dilahirkan, yang sering kali harus kucing-kucingan dengan rezim represif yang hobinya main tangkap sembarangan.
    =========================

    ending nya dah bisa di tebak mas.......
    Pedy 0 0
    Mas Boy, sabar ya, nanti saya akan kasih penjelasan detil di tulisan saya berikutnya...
    Pedy 0 0
    Dony: "endingnya dah bisa di tebak mas....... "

    Wah, jangan2 ini termasuk argumentum ad tebakantum ya...? : D
    Boy Avianto 0 0
    @pediyanto, eh.. Linx, eh.. @pediyanto, eh bener Linx deng... Huhu, jadi keliru deh saya ; ): Jawabannya sederhana: "modeling". Klasifikasi itu adalah upaya 'modelling' manusia dalam mengerti dan mengapresiasi alam semesta beserta isinya. Tidak salah loh, malah bagus karena 'modeling' memungkinkan manusia untuk lebih memahami dunianya dan tentunya harus disadari pula bahwa 'model' sifatnya tidak permanen dan cenderung berubah seiring dengan peningkatan pemahaman manusia (ingat model 'bumi datar'?)

    Permasalahan timbul di kala 'modeling' ini dianggap mewakili semuanya dan bersifat permanen. Akibatnya muncul yang namanya generalisasi (termasuk labeling - seperti 'sekuler', 'kapitalis', 'Islamis' dan label-label lainnya) dan pada akhirnya malah menyempitkan dan bukan meluaskan wawasan manusia terhadap alamnya.

    Saya tidak mau masuk ke dalam dogma "kebenaran sejati" yang datang dari mana pun - karena kalau pun ada, pada akhirnya "kebenaran sejati" akan bersinggungan dengan manusia dan mengalami proses interpretasi dan menjadi "model" lagi. Perbedaan interpretasi akan berujung perbedaan "model" walaupun berangkat dari akar yang sama (makanya saya merasa tidak nyaman dengan konsep akar A berbuah A karena pemikiran manusia tidak sesederhana itu).

    Ini jawaban versi saya loh, yang juga manusia, yang senang bermain-main dengan 'model' tapi tidak mau terjebak dalam pengkotakan 'model' yang kaku, mas Pedy... eh mas Linx : )
    Linx 0 0
    @mas boy

    Sedikit konfirmasi, saya bukan mas pedy. Walau kenal sih tapi saya Linx bukan Pedy. : )

    Saya belum begitu mengerti soal tulisan anda diatas jd mohon waktu untuk mencernanya. BTW makasih atas inponya. : )
    Pedy 0 0
    Kang Leksa:
    Saya jadi penasaran Pancasial-nya apa aja Kang?
    Sial #1 ...
    Sial #2 ...
    Sial #3 ...
    Sial #4 ...
    Sial #5 ...
    Boy Avianto 0 0
    Pedy... eeeeh Linx, terima kasih konfirmasinya. Selamat mencerna : )

    Pedy, nah ini baru benar: Saya selalu sabar kok, dari dulu juga kapan sih saya tidak menunggu artikel yang mencerahkan dari anda? Sayangnya artikel anda akhir-akhir ini membuat kaki anda bolong-bolong tuh ; ).
    hamatamu 0 0
    akhirnya saya rating juga : ))
    Pedy 0 0
    Mas Boy:
    Ok sebagai pemanasan aja, akan saya tanggapi komen Anda. Tapi lengkapnya di artikel berikutnya yach! Jangan minta tambah lagi lho... : )

    Ya ini memang dunia modelling (tapi bukan yang di catwalk loh! : D), atau lebih tepatnya -meminjam istilah Stephen Covey- sebuah konstruksi paradigma. Tapi saya pake istilah Anda sajalah, modelling.

    Ustadz Boyz, coba Anda teliti lagi, permasalahannya bukan pada modelling yang kaku, permanen, tidak bisa dirubah, dogmatis atau megkotak-kotakan.

    Tapi yang lebih relevan adalah, apakah sebuah model itu bisa mewakili realitas yang digambarkannya? Persis seperti yang Anda contohkan model Geosentris itu menjadi usang dan tidak relevan, bukan karena apa yang saya sebut di atas barusan, tapi karena model tersebut tidak mewakili realitas yang sesungguhnya. Saya juga sangat setuju kalau ada model seperti ini di dunia politik dan sosial, baiknya tidak dipakai dan dibuang saja ke tempat sampah.

    Kalau sebuah model harus dinilai kesesuaiannya dengan realitas yang diwakili, memang begitu seharusnya, dan prinsip itulah yang saya pegang sampai mati.

    Intinya; biarkan fakta berbicara.
    GaraMata 0 0
    jadi, ideologi itu adalah bisa disebut sebuah model ya?
    Pedy 0 0
    Dana: Itu istilahnya Si Boy. Tapi kurang lebih ideologi itu seperti peta di otak kita untuk bisa memahami dan akhirnya merubah realitas kehidupan ini.
    Subroto 0 0
    @Pedy: Terkejut juga membaca uraian anda yang membawa "realitas", setau saya ideologi yang anda pegang tidak realistis.
    Basi jika anda mencoba mempermanis ideologi sakit anda dengan kata "realitas"

    *ngguyu dewe*
    Pedy 0 0
    Subroto: Terima kasih masukannya. Dan, hmm, kalau menurut Anda ideologi itu apa? Coba buat artikel khusus minimal 500 kata.

    Ehh, kelupaan, harus SPORTIF dan jangan COPAS LAGI!
    GaraMata 0 0
    Hem setelah membaca diskusi di coment-commentnya saya mengambil kesimpulan bahwa Pancasila dapat disebut ideologi. Dimana orang yang berideologi pancasila, memandang hidup ini dari berdasarkan nilai-nilai pancasila.
    Boy Avianto 0 0
    Pedy: Model tidak akan pernah 100% mewakili realitas. Namanya juga 'model'. Apalagi kita bicara soal model di dunia politik dan sosial yang sangat dinamis - bicara realitas juga pada akhirnya bicara realitas yang mana? Realitas sini atau sana, atas atau bawah?

    Mengutip anda: "Saya juga sangat setuju kalau ada model seperti ini di dunia politik dan sosial, baiknya tidak dipakai dan dibuang saja ke tempat sampah. Kalau sebuah model harus dinilai kesesuaiannya dengan realitas yang diwakili, memang begitu seharusnya, dan prinsip itulah yang saya pegang sampai mati."

    Saya pegang kalimat anda yang di atas ini ya. : ) Mari sekarang kita bicara fakta.
    Pedy 0 0
    Dana, trus bagaimana tanggapan Anda tentang komentarnya Pakar LIPI di atas yang menyatakan Pancasila adalah visi dan cita2 negara?

    Dan bagaimana jika visi negara itu bisa dicapai dengan berbagai instrumen ideologi sungguhan?
    hamatamu 0 0
    Boy Avianto; ah, seseorang menembak kakinya sendiri lagi? : )
    Linx 0 0
    Ternyata ngomongin ideologi itu ribet juga ya. Gak sesimple yang saya kira.

    Enaknya sih ya terserah tiap individu mau milih ideologi yg mana yang sesuai dengan yg diyakininya asalkan tetap saling menghargai. La wong (mengambil kata2 mas boy) "sumbernya sama dari otak juga"

    Tp sayanganya kebenaran itu absolut dan tunggal sesuai kenyataan yg menurut mas Pedy "prinsip harus pegang sampai mati".

    Jadi bingung saya...
    Boy Avianto 0 0
    Linx: Bingung itu awal yang bagus dari sebuah proses pemahaman : )

    Lagipula, yakin ada kebenaran "absolut" yang tidak melalui interpretasi manusia?
    Good 0 0
    Ada seorang mahasiswa (demostran Yogya) yang berdiri di depan kelas, protes dan mengatakan,
    "Bapak melakukan kooptasi pemikiran".
    "Bapak melakukan kesalahan dengan mengatakan ada kebenaran absolut. Kebenaran itu semua relatif. Coba tunjukkan di dunia ini mana kebenaran absolut"

    Mahasiswa penggemar buku-buku kapitalis dan sosialis itu dengan gagah menodong saya. Untunglah saya "menghargai" hak orang berbicara, sehingga mahasiswa itu tidak sopan kalau diusir ke luar.

    Saya mengatakan: "contohnya? Baiklah. Saya laki-laki. Anda laki-laki. Coba keluar sana liat matahari. Ini buku. Ini kertas (sambil megang kertas). Itu langit-langit. Itu papan tulis"

    Mahasiswa itu pun protes sambil megang buku " Ini bukan kertas, tapi paper".

    Semua kelas tertawa. Kenapa? Permainan semantik.

    Kemudian, biar mahasiswa itu tidak kehilangan muka, saya langsung ulangi penjelasan saya bahwa kebenara itu ada yang relatif dan ada yang mutlak...bla..bla..bla...

    Hari itupun terasa indah bagi semua..

    *sekedar bercerita..mudah-mudahan saya tidak menembak kaki saya sendiri* : ) : )
    Alex© 0 0
    Good ;

    Cerita yang menarik, Mas. Tapi saya lebih condong pada pendapat mahasiswa Mas yang penggemar buku2 kapitalis™ dan sosialis™ itu, bahwa tak ada kebenaran absolut yang bisa disepakati secara absolut.

    Laki-laki dan perempuan itu sendiri hanya term, yang didasarkan dari klasifikasi biologis. Bagaimana dengan sifat? Belum tentu. Ada tipe khunsa, yang jadi "antara" pria dan wanita. Atau ada yang pria namun bersifat feminim dan wanita yang bersifat tomboy, misalnya.

    Permainan semantik? Ya. Inilah yang dikritiki Wittgenstein, bahwa pemahaman kita dalam hidup diatur oleh kata-kata, yang sebagian besar adalah omong kosong. Ini perdebatan filosofis dalam filsafat bahasa : )

    Kalau saja mahasiswa itu sedikit lebih menonjolkan paham agama, mungkin anda yang akan kehilangan muka. Misal, faham fana dalam beberapa corak pemikiran Islam, bahwa semua lini kehidupan adalah fatamorgana. Ilusi. Tanyakan pada Siti Jenar atau Al-Hallaj: bahwa ada adalah tiada, dan kehampaan semesta memiliki nyawa. Maka, semua sistem, semua hirarki, semua definisi, pada dasarnya adalah nihil. Mirip dengan ajaran klasik dari Plato "The Cave" yang menganggap kita ini macam dalam goa, dan terkungkung definisi yang kita anggap sudah kita pahami.

    Ada "apologi" religius utk ini: satu-satunya kebenaran absolut, adalah Tuhan. Ini pun relatif menurut masing-masing orang beriman, menurut versi masing-masing, kitab masing-masing.

    Di luar debat religius? Satu-satunya kebenaran absolut adalah tak ada kebenaran yang absolut.
    GaraMata 0 0
    @Pedy

    Yah, nggak mesti sepaham sama beliau itu kan?
    Sri Kirana 0 0
    Alex© : saya baru tahu di dalam Islam itu ada yang menggunakan filosofi "isi adalah kosong, kosong adalah isi" dalam ajaran Tiongkok sekian ribu tahun silam... : o

    Sepakat jadinya sama Alex©, boleh diambil gak quotenya di facebook? : D
    GaraMata 0 0
    @Seo Hye Ling

    Itu karena agama itu universal. Di kristen juga ada kok, asal tahu aja sih. : D

    *berdakwah*
    Sri Kirana 0 0
    GaraMata : wah, kalau yang di kristen sih saya tahunya karena ada biografi mother Theresa... : D eh, jadi OOT, saya ngikut lagi dari pinggir, permisi~
    *minggir, back to research*
    Good 0 0
    Khalifah Alex:
    Cerita yang menarik, Mas. Tapi saya lebih condong pada pendapat mahasiswa Mas yang penggemar buku2 kapitalisâ„¢ dan sosialisâ„¢ itu, bahwa tak ada kebenaran absolut yang bisa disepakati secara absolut.
    Laki-laki dan perempuan itu sendiri hanya term, yang didasarkan dari klasifikasi biologis.
    Bagaimana dengan sifat? Belum tentu. Ada tipe khunsa, yang jadi "antara" pria dan wanita. Atau ada yang pria namun bersifat feminim dan wanita yang bersifat tomboy, misalnya.

    Saudaraku Khalifah Alex. Senang membaca tulisanmu. Kamu pasti cerdas! (saya tulus).
    Saya ingin fokus dan pegang kata-katamu "tak ada kebenaran absolut yang bisa disepakati secara absolut."

    Saya ingin menjawab beberapa pertanyaan saya dengan jawaban ADA atau TIDAK untuk setiap nomer soal berikut (maaf saya tidak mendikte anda)

    1. Bila seandainya mahasiswa itu (maaf telanjang) kemudian kita semua melihat dengan mata kita (mohon maaf) alat kelamin (maaf- bentuknya seperti tongkat), adakah kira-kira yang melihat kelamin yang bentuknya seperti itu relatif jantan?

    2.Adakah kira-kira yang mengatakan itu alat kelamin betina?

    3. Di kelas itu ada buku yang kita pegang bersama, kira-kira adakah yang bilang bahwa itu bukan buku?

    4. Kalau saya katakan sekarang saya berkomunikasi dengan Khalifah Alex, adakah yang mengatakan bahwa seorang Khalifah Alex bukan manusia?

    5. Adakah peluang Khalifah Alex (yang bersoal jawab dengan saya) itu bukan seorang manusia?

    6. Kalo saya punya anak di rumah 3 orang, laki dan perempuan. Adakah peluang orang mengatakan anak-anak itu relatif sebagai manusia (secara biologis).

    Point kita adalah "tak ada kebenaran absolut yang bisa disepakati secara absolut."

    6. Adakah peluang orang berpendapat bahwa Obama itu bukan manusia secara biologis?

    7. Adakah peluang Khalifah Alex itu bukan manusia?

    8. Kita tanya pada semua penghuni politikana.com "Apakah ada peluang yang mengatakan SBY bukan seorang manusia secara biologis?"

    Point diskusi kita "tak ada kebenaran absolut yang bisa disepakati secara absolut."

    Apakah pendapat saya salah bahwa ada kebenaran absolut yang bisa disepakati secara absolut".

    Saya berpendapat bahwa ada kebenaran mutlak dan ada yang relatif.

    Tolong saya dikoreksi bila pendapat saya salah. : ) (tidak menantang...nada sedang)

    Kalo anda bicara sifat, atau tentang Syaikh Jenar, nanti kita bicarakan! Kita fokus dulu pada asumsimu.

    "tak ada kebenaran absolut yang bisa disepakati secara absolut."
    Boy Avianto 0 0
    Good: Bukan kaki kok, kali ini kepala : ). Anda mempermasalahkan soal 'semantik' di komentar anda sebelumnya tapi sekarang justru anda yang bermain 'semantik'.
    Good 0 0
    Jawab saja Boy, Anda laki2 yang punya kepala?
    Itu relatif?
    Anda dan SBY punya mulut? (itu lho mulut untuk makan) relatif?
    Anda sekarang punya tangan? relatif?
    Kita sekarang tinggal di bumi. Itu relatif?
    Kalo itu sampai relatif itu. Terserahlah...
    (rupanya anda sendiri yang menembaki kaki dan kepala. Tidak malu?)
    Good 0 0
    Kelupaan ...*dengan nada sedang, gak marah, maaf kalo tersinggung* : ) jawab saja Boy.
    Boy Avianto 0 0
    Good: Hahaha, tidak lah, ngapain juga tersinggung : p Sensitif sekali anda.

    Tapi saya cuma mau bilang itu aja sih, jawabnya nanti kalau janji-janji anda mengenai artikel-artikel yang menurut anda akan memberikan 'pencerahan'. Boleh dong berharap, paling tidak sekarang kita punya posisi tawar-menawar ; ). Mexican Standoff...
    Good 0 0
    Ya Boy..gue jadi tau elu...
    he he..: ) : )
    Boy Avianto 0 0
    Good: Kan saya sudah pernah bilang, you seems to know more about me than myself ; ). Good for you.

    Tapi kalau saya nagih janji anda dengan melakukan yang saya inginkan boleh dong atau menurut anda saya salah?

    Btw, anda minta maaf takut saya tersinggung kenapa ya? Apakah anda merasa kalau anda melakukan sesuatu yang bisa menyinggung perasaan saya?
    Good 0 0
    Ha ha..karena gue orangnya berperasaan halus.. Oya, Jangan lupa dijawab pertanyaan gue yang sulit ini :

    Anda laki2 yang punya kepala? Itu relatif?
    Anda dan SBY punya mulut? (itu lho mulut untuk makan) relatif?
    Anda sekarang punya tangan? relatif?
    Kita sekarang tinggal di bumi. Itu relatif?

    (kebetulan kalo 2 anak gue yg lagi disamping main game (TK dan SD) sudah menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban yang sama..Rupanya semakin dewasa kita semakin...) he he.. : ) : )
    BTW, gue dah liat blog loe. Loe orang kreative... : )) : ))
    Good night Boy!

    Boy Avianto 0 0
    Good: Pasti dijawab kok kalau janji anda sudah dipenuhi : ). Malah mungkin bentuknya jadi artikel dibandingkan 'komentar menjawab'.

    Pertanyaan: Apa hubungan antara blog saya, kreativitas dan keinginan saya untuk tidak menjawab sebelum anda memenuhi janji saya ya? Kok dibawa-bawa ke sini?
    Boy Avianto 0 0
    koreksi:

    *memenuhi janji saya* = memenuhi janji anda
    laind 0 0
    Good

    Aku tawarkan cara berpikir yang berbeda dengan cara pikir anda.

    --
    Anda laki2 yang punya kepala? Itu relatif?
    Anda dan SBY punya mulut? (itu lho mulut untuk makan) relatif?
    Anda sekarang punya tangan? relatif?
    Kita sekarang tinggal di bumi. Itu relatif?
    --

    Misal aku bilang iya aku punya mulut, jawabnya "iya aku punya mulut", maka tetap tidak bisa secara absolut mendefinisikan mulutku. Apakah bibir tipis atau tebal? giginya besar atau kecil? punya gingsul nggak? gigiku ada yang ompong tidak? Kebenarannya hanya aku punya mulut.

    Trus anda bertanya punya gingsul? aku tanya balik, gingsul itu apa? anda jelaskan, ada kesepakatan definisi gingsul di sini.

    Jika aku bilang ini pensil, masih belum menjelaskan apa warnanya, tipenya (2B, HB), fungsinya?

    Bahasa itu simbol untuk bertukar ide, model atas suatu realitas. Air yang mengalir mungkin disebut sungai, bisa jadi disebut "basah cepat" di tempat lain.

    Kita punya kata padi, bulir, beras, gabah, nasi dan bahasa Inggris cuma punya rice.

    Sebuah suku di pedalaman mungkin tidak punya kata untuk lautan, mungkin dia cuma bilang "air banyak", atau dalam bahasa Jawa tidak ada kata untuk "salju", karena salju nggak ada di Jawa. Bahasa Jawa butuh meminjam kata untuk konsep yang belum dikenal di masa lalu.

    Simbol-simbol itu juga perlu disepakati dan dipahami kedua pihak, thus ada bahasa. Cara bertukar simbol itu pun perlu disepakati, thus ada grammar, ungguh-ungguh boso, dll.

    See... bahkan cara kita berkomunikasi butuh kesepakatan.

    Tapi dari segi praktis, "aku punya tangan" adalah kebenaran.

    Atau jawaban yang menyederhanakan masalah. Misal ada yang tanya tinggal dimana? jawabku "Jakarta" padahal di Bekasi. Tapi orang Surabaya mungkin nggak tahu bedanya dan nggak penting. Benar? relatif.
    Boy Avianto 0 0
    laind: Good thought : ). Pada akhirnya bicara 'semantik' kan? Padahal siapa ya yang diawal-awal mengangkat masalah semantik ; ).
    Pedy 0 0
    Dnial said:
    "Tapi dari segi praktis, "aku punya tangan" adalah kebenaran."

    Nah itulah kebenaran yang absolut! ; )
    Pedy 0 0
    Boy dan Dnial:
    Intinya ada yang absolut ada yang relatif.

    Jangan secara serampangan merelatifkan semuanya kan? Ini kurang kerjaan namanya. : )
    GaraMata 0 0
    Hem... sebenarnya itu kebenaran absolut atau kebenaran hasil kesepakatan ya?

    Misalnya tangan, bagaimana jika ternyata semua orang di indonesia sepakat mengganti namanya jadi jari, berarti kebenarannya menjadi kita punya dua jari.

    *ikut berfilsafat*
    GaraMata 0 0
    Nambah dikit:

    Dan perkataan kita punya dua tangan itu menjadi tidak benar.
    Boy Avianto 0 0
    Pedy: Saya tidak serampangan mengatakan bahwa ada kebenaran absolut : ).
    laind 0 0
    Jangan secara serampangan merelatifkan semuanya kan? Ini kurang kerjaan namanya. : )
    ----

    Fakta bahwa aku nulis di sini menandakan aku memang kurang kerjaan. : p
    Alex© 0 0
    Sri Kirana ;
    [...saya baru tahu di dalam Islam itu ada yang menggunakan filosofi "isi adalah kosong, kosong adalah isi" dalam ajaran Tiongkok sekian ribu tahun silam... : o ...]

    Jangan heran : D

    Asimilasi peradaban sudah berlangsung sejak lama, termasuk pertukaran gagasan dan transfer filosofi antar peradaban. Islam berhutang pada filsafat Hellenisme Yunani, seperti halnya berhutang warisan dari ajaran Judeo warisan Musa. Dalam hal konsep "kehampaan", itu umumnya corak ide dari gaya hidup asketik yang dimiliki rata-rata agama. Pernah dengar Seni Buddha-Yunani, misalnya?

    http://wapedia.mobi/id/Seni_Buddha-Yunani

    [ ...boleh diambil gak quotenya di facebook? : D ...]

    Silakan. Saya tak punya hak paten pun itu : ))

    Good ;

    [...Saudaraku Khalifah Alex. Senang membaca tulisanmu. Kamu pasti cerdas! (saya tulus)...]

    Mestinya ada guru dan dosen saya yang shock baca tulisan anda. Sering diusir dari kelas dulunya. Nggak akan jadi orang, katanya : ))

    [...Saya ingin fokus dan pegang kata-katamu "tak ada kebenaran absolut yang bisa disepakati secara absolut."...]

    Silakan pegang. Tapi saya memberi anda satu isyarat, bahwa karena klaim itulah, saya pragmatis. Saya bisa tidak konsisten, dan sesuatu yang saya anggap absolut akan saya anggap absolut, tanpa melupakan bahwa ada orang lain yang menganggapnya tidak absolut. Orang yang konsisten cuma orang mati : )

    [...Saya ingin menjawab beberapa pertanyaan saya dengan jawaban ADA atau TIDAK untuk setiap nomer soal berikut (maaf saya tidak mendikte anda)..]

    Tak apa pun kalau berkesan mendikte, silakan. Dulu saya tukang dikte juga di kelas : D

    [1. Bila seandainya mahasiswa itu (maaf telanjang) kemudian kita semua melihat dengan mata kita (mohon maaf) alat kelamin (maaf- bentuknya seperti tongkat), adakah kira-kira yang melihat kelamin yang bentuknya seperti itu relatif jantan?...]

    Ha! Bagus logikanya. Jalan itu logika anda, memang. Hampir tak akan ada orang yang mengatakan itu kelamin perempuan, benar. Tapi ingat, definisi suatu benda itu tergantung pengalaman dari mereka yang mendefinisikan. Dengan perbandingan, misalnya. Boleh jadi seseorang yang sudah melihat bentuk kelamin wanita, akan membandingkan dulu, tidak serta merta setuju bahwa itu layak disebut jantan. Kebenaran itu akan diakui kebenaran saat ada kesepakatan saat itu utk jangka waktu yang tidak bisa dipastikan.

    Absolutisme itu sendiri masih relatif. Dari segi bahasa, misalnya. Saya balik argumen, "Kalau itu disebut jantan dan ada yang kukuh menyebutnya dengan kata lain, dalam bahasa lain, apa anda akan bersikukuh bahwa itu jantan?" Ini permainan bahasa, permainan definisi. Tidak serta merta turun begitu saja kesadaran, "Oh! Yang macam pepaya itu payudara namanya!" atau "Oh, yang lonjong macam terong itu penis adanya". Bahasa beserta definisinya diciptakan oleh budaya, Mas.

    [2.Adakah kira-kira yang mengatakan itu alat kelamin betina?]

    Sudah terjawab di atas.

    [3. Di kelas itu ada buku yang kita pegang bersama, kira-kira adakah yang bilang bahwa itu bukan buku?]

    Saya bisa bilang itu kitab, bagaimana? : )

    [4. Kalau saya katakan sekarang saya berkomunikasi dengan Khalifah Alex, adakah yang mengatakan bahwa seorang Khalifah Alex bukan manusia?]

    Boleh jadi : ))

    Siapa tahu saya ini antek Dajjal dari Segitiga Bermuda yang sedang mencoba menyesatkan anda. Anda tidak bisa mendefinisikan pasti siapa dan bagaiman seorang Alex Hidayat cuma dari sebatas kata-kata yang diketikkannya di sini : D

    [5. Adakah peluang Khalifah Alex (yang bersoal jawab dengan saya) itu bukan seorang manusia?]

    Wait!

    Anda percaya dengan makhluk halus lain? Jin, misalnya? Ini agar sepadan dengan pemahaman anda. Jika anda percaya, maka probabilitas - dari sudut anda - boleh jadi saya bukan manusia. Tapi jika anda tidak percaya, maka tak ada pilihan tersisa utk memberi kata lain selain manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Kecuali anda percaya bahwa binatang dan tumbuh2an bisa mengetik di keyboard : D

    [6. Kalo saya punya anak di rumah 3 orang, laki dan perempuan. Adakah peluang orang mengatakan anak-anak itu relatif sebagai manusia (secara biologis).]

    Idem sama jawaban di atas.

    Saya menebak, bisa jadi salah ini, bahwa anda termasuk golongan yang percaya pada alam gaib. Pernah dengar hasil perkawinan antara Jin dan manusia? Atau lahirnya Ya'juj dan Ma'juj dalam mitos di beberapa keyakinan Islam? Kembali lagi pada apa yang anda percayai dan apa yang anda pernah alami jawaban untuk pertanyaan ini.

    [Point kita adalah "tak ada kebenaran absolut yang bisa disepakati secara absolut."]

    Oh ya. Jelas. Saya masih pegang poin itu ; )

    [6. Adakah peluang orang berpendapat bahwa Obama itu bukan manusia secara biologis?]

    Ini pertanyaan berulang. Retoris. Jawaban saya juga berulang pada pertanyaan2 di atas.

    [7. Adakah peluang Khalifah Alex itu bukan manusia?]

    Anda sudah menanyakan ini berapa kali? : |

    [8. Kita tanya pada semua penghuni politikana.com "Apakah ada peluang yang mengatakan SBY bukan seorang manusia secara biologis?"]

    Boleh jadi ada. Boleh jadi tidak. Inilah relatifisme itu : ))

    [Point diskusi kita "tak ada kebenaran absolut yang bisa disepakati secara absolut."]

    Oh ya! Sekali lagi: saya masih ingat. Anda tak perlu repot2 mengingatkan : )

    [Apakah pendapat saya salah bahwa ada kebenaran absolut yang bisa disepakati secara absolut".]

    Pendapat anda tidak salah, di mata anda. Di mata saya, tergantung apakah saya menerima dan percaya atau tidak. Kita mendefinisikan matahari sebagai matahari, karena mayoritas percaya matahari adalah matahari. Ini macam filsafat Hume tentang angsa putih dan angsa hitam. Silakan pelajari : )

    [Saya berpendapat bahwa ada kebenaran mutlak dan ada yang relatif.]

    Silakan berpendapat. Saya juga memiliki pendapat serupa. Tapi apa yang mutlak bagi anda (atau sebaliknya) haruskah berlaku mutlak bagi yang lain? : D

    [Tolong saya dikoreksi bila pendapat saya salah. : ) (tidak menantang...nada sedang)]

    Saya sudah koreksi, menurut keimanan saya : )
    (nada mayor, birama 4/4, andante)

    [Kalo anda bicara sifat, atau tentang Syaikh Jenar, nanti kita bicarakan! Kita fokus dulu pada asumsimu.]

    Sudah bisa anda baca sendiri asumsi-asumsi saya. Justru penolakan saya pada poin-poin anda, dan penolakan anda pada poin-poin saya, membuat absolutisme itu tidak absolut adanya.

    ["tak ada kebenaran absolut yang bisa disepakati secara absolut."]

    Amen to that! : )
    Pedy 0 0
    Dana said: "Misalnya tangan, bagaimana jika ternyata semua orang di indonesia sepakat mengganti namanya jadi jari, berarti kebenarannya menjadi kita punya dua jari."

    Ya, kebenaran absolutnya adalah kita punya "dua jari". Kesalahan absolutnya ketika kita mengatakan sebaliknya.

    Jangan dikacaukan antara kesepakatan bahasa, dengan fakta yang diwakili oleh bahasa tersebut.

    Bahasa bisa berbeda2, tapi kebenaran absolut berpijak pada faktanya.
    GaraMata 0 0
    @Pedy

    Fakta yang mana? Fakta kita punya dua tangan atau fakta kita punya dua jari?
    Sri Kirana 0 0
    Pedy : coba mas Pedy baca komentar Alex©... saya saja tercerahkan sekaligus tertawa terpingkal2... : D
    Boy Avianto 0 0
    Pedy, senang baca cerita-cerita misteri/detektif kan? Atau nonton CSI?

    Faktanya bertaburan dimana-mana, tapi interpretasi serta hasilnya bisa beda, tergantung pada pengetahuan (dibantu teknologi dan pemahaman akan sosiologi) yang melakukan interpretasi.

    Ada kan orang tidak bersalah yang dihukum akibat salah interpretasi fakta (yang benar).
    Pedy 0 0
    Dana said: "Fakta yang mana? Fakta kita punya dua tangan atau fakta kita punya dua jari?"

    Fakta yang "ini"!

    * sambil menjulur-julurkan kedua tangan saya di depan kedua mata Dana *

    Terserah Anda menyebutnya jari, wsqt, dkol, zxvfqwr, atau yang lain...

    Kebenaran absolutnya adalah saya memilikinya. ; )
    GaraMata 0 0
    @Pedy

    Ini itu apa? : D
    laind 0 0
    =))
    Derrida pasti ketawa lihat debat kayak gini...

    Bahasa... bahasa... cuma simbol yang disepakati. Masalahnya manusia belum sampai tahap evolusi yang memungkinkan sinkronisasi pikiran.

    Pedy
    Jangan dikacaukan antara kesepakatan bahasa, dengan fakta yang diwakili oleh bahasa tersebut.
    ---
    Masalahnya, untuk menyampaikan fakta kita butuh bahasa. Jadi pesan kita akan terdistorsi oleh bahasa. Itu barus satu distorsi, belum persepsi kita.

    Contoh:
    Jantan bagi seseorang mungkin hanya bermakna "dia yang menyemprotkan sperma". Tapi bagi orang lain jantan berarti kuat, macho, pokoknya alpha male.

    Satu kata beda makna.
    laind 0 0
    Eniwei...
    Aku pernah baca cerita (blognya siapa ya, geddoe atau gentole ya?) bahwa seorang guru Zen saat ditanya muridnya, "apa itu sungai?" hanya menunjuk ke arah sungai tanpa kata-kata.
    mira mulia 0 0
    hm...makin absurd
    Alex© 0 0
    laind ;

    Hahaha... benar. Derrida bisa keselek terong™ kalo baca debatan ini : D

    Jangan lupakan Jean Francois Lyotard, yang akan mencengir karena melihat debatan ini bicara hal-hal besar : D

    Benar. Satu kata beda makna. Oh, ini bisa jadi sablonan di baju oblong nih : p
    GaraMata 0 0
    laind

    Jadi pengen tahu apakah jawaban sang guru ketika muridnya bertanya "apa benar itu sungai?"
    Pedy 0 0
    Boy said: "Senang baca cerita-cerita misteri/detektif kan? Atau nonton CSI? Faktanya bertaburan dimana-mana, tapi interpretasi serta hasilnya bisa beda."

    Interpretasi atas bukti2 bisa relatif dan berbeda, saya setuju.

    Tapi ADANYA berbagai barang bukti di crimescene, seperti pisau atau pistol adalah absolut kan? Si Crime Lab Supervisor Horatio "H" Caine tidak akan melakukan "perdebatan-bodoh-seperti-anak-TK" dengan Assistant Si Crime Lab Supervisor Calleigh Duquesne yang berselisih apakah "pistol" dan "pisau" yang mereka genggam itu ADA atau TIDAK? Bahwa ini adalah "pistol" dan itu adalah "pisau"? Ini absolut kan?

    Tidak ada yang bersedia menonton serial CSI jika separuh session hanya melakukan perdebatan bodoh seperti ini.

    Intinya, ada yang absolut dan ada yang relatif.
    Alex© 0 0
    Pedy ;

    [...Kebenaran absolutnya adalah saya memilikinya. ; ) ...]

    Anda memilikinya, ya. Itu absolut bagi anda. Tapi bagi veteran perang yang kehilangan tangan, mereka tidak lagi memiliki, tapi pernah memiliki. Seperti halnya kulup di ujung penis, pernah awak miliki, tapi disulap oleh mantri/dukun/dokter dalam apa yang disebut sunat. Anda masih punya kulup? Tidak lagi kan? : D
    mira mulia 0 0
    mau tambah absurd lagi?

    Tangan yang kalian pegang, apakah sungguh2 tangan?

    Seandainya mata anda sebesar atom, apakah anda akan melihatnya sebagai tangan? tidakkah kita hanya akan melihat rongga-rongga, tak ada lagi bentuk, bahkan tak ada lagi batas antarruang
    GaraMata 0 0
    Bagus, makin absurd, suka saya.

    Apalagi ketika seekor nyamuk yang melihat, rasanya ini itu bukan tangan, juga bukan jari.
    Pedy 0 0
    Dnial said, "Jadi pesan kita akan terdistorsi oleh bahasa. Itu barus satu distorsi, belum persepsi kita. Contoh: Jantan bagi seseorang mungkin hanya bermakna 'dia yang menyemprotkan sperma'. Tapi bagi orang lain jantan berarti kuat, macho, pokoknya alpha male."

    Tapi dia yang jantan dan menyemprotkan sperma itu bukan wanita kan?

    Intinya, ada yang undistortable dan ada yang distortable.
    laind 0 0
    GaraMata
    Jadi pengen tahu apakah jawaban sang guru ketika muridnya bertanya "apa benar itu sungai?"
    ---
    Kalau aku jadi gurunya sih, aku angkat trus lempar ke sungai itu.
    Kebenaran itu harus dialami. : ))
    Alex© 0 0
    mira mulia

    Setuju.

    Ah ya, saya jadi ingat diskusi lama di salah satu blog teman tentang ini.

    Sebuah meja datar, yang sudah dipernis mengkilap di mata manusia, akan terlihat sebagai ruang datar. Ilmu ukur euclid bisa digunakan untuk pengukuran di atas meja ini.

    Tapi di mata amuba yang mendiami pori-pori lubang tersebut, ia tidak lagi terlihat datar, melainkan berlekuk, seperti kurva. Ilmu ukur Euclid bisa jadi berantakan dalam perhitungan di ruang yang tak lagi rata begitu. Maka dibutuhkan ilmu ukur non-euclid.

    Relatif benar : ))
    Boy Avianto 0 0
    Pedy: Haha, sepertinya harus sepakat untuk tidak sepakat nih. Saya mengerti landasan berpikir anda dan saya juga pernah di posisi anda.

    Tapi bukan berarti saya sekarang benar loh (kan relatif) cuma saya merasa lebih nyaman dengan posisi saya sekarang yang kebetulan berseberangan dengan anda yang percaya kebenaran absolut : ). Atau anda merasa semua orang harus sepakat dengan anda?
    GaraMata 0 0
    laind

    : ))

    Dan setelah tenggelam si murid tercerahkan, bahwa kebenarannya adalah untuknya. Dan kebenaran itu bukan kebenaran bagi yang lain.
    Sri Kirana 0 0
    Wakakaka, ini makin absurd, makin seru, lanjutkan... : D
    Pedy 0 0
    Dnial said, "Seorang guru Zen saat ditanya muridnya, 'apa itu sungai?' hanya menunjuk ke arah sungai tanpa kata-kata."

    Ya itulah kebenaran absolutnya, adanya fakta "sungai" yang ditunjuk. Tidak ada yang mendebat apakah sungai itu ada atau tidak. Terlebih ketika sungai itu akan dipakai untuk mandi misalnya. Ini menjadi tidak relevan. Kecuali kalau memang kurang kerjaan.
    Good 0 0
    @ Khalifah : Pantasan Loe diusir sama dosen loe. Kalo gue jadi dosen kagak cuma diusir tapi dah gue DO sebelum masuk kuliah...
    PERLU BELAJAR MENGENAL NAMA-NAMA BENDA!


    Soedibjo : Gak sakit tuh menampar wajah sendiri? Sayang lho http://avianto.com/ -nya!

    laind:
    Idem dengan Khalifah.
    Belajar berpikir sederhana.
    Apa itu makan?
    Apa itu Jari?
    Bagaimana masukkan nasi ke mulut, bukan ke hidung.
    Dnial dan Khalifah belajar saja ama ato adik TK ya!

    Dana ? Ya.. terserahlah mau pilih yang mana.

    ha ha ha... : )) : )) : ))
    Orang-orang super cerdas
    ha ha... Kalian Menyenangkan


    Dah..sekarang tidur semua biar besok seger.
    Gak salah ngasih uang jajan anak ato istri. Jangan ketuker...

    he he... Benar firasat gue...
    Good 0 0
    *** sedang menerkam bantal ***
    kang tutur 0 0
    It's Great!!! : D

    Boleh jadi Wasit gak?

    Pedy = 0 vs @alexcobai = 8

    *ah, filsafat emang ngambang kalo dibahas - dipikir-pikir, enakan "sami'na wa atho'na kali yeh?* : D
    kang tutur 0 0
    Pedy = 0 vs Alex© = 8

    *buru-buru, sih?*
    Pedy 0 0
    Alex said: "Sebuah meja datar, yang sudah dipernis mengkilap di mata manusia, akan terlihat sebagai ruang datar. Tapi di mata amuba yang mendiami pori-pori lubang tersebut, ia tidak lagi terlihat datar, melainkan berlekuk, seperti kurva."

    Datar atau kurva itu relatif.

    Tapi datar itu ADA, kurva itu ADA, dan mereka adalah bagian dari MEJA, itu absolut. Saya kira tidak ada yang mendebat kebenaran ini, apakah itu manusia atau amuba.
    laind 0 0
    Pedy
    Ya itulah kebenaran absolutnya, adanya fakta "sungai" yang ditunjuk. Tidak ada yang mendebat apakah sungai itu ada atau tidak. Terlebih ketika sungai itu akan dipakai untuk mandi misalnya. Ini menjadi tidak relevan. Kecuali kalau memang kurang kerjaan.
    ---

    Nah itu dia... bukan kebenaran absolut. Tapi kebenaran yang bisa digunakan (ada namanya harusnya konsep ini). Kebenaran yang relevan sesuai konteks. Konteks praktis, itu benar sungai.

    Sungai itu sendiri kan hanyalah apa yang kita tangkap dari persepsi kita dan diterjemahkan oleh otak. Saraf dari retina yang menangkap cahaya mengirim sinyal yang diterjemahkan otak, mencocokkan dengan database pengalaman kita dan mengatakan "itu sungai". Desiran alirannya ditangkap oleh saraf di kaki kita, suara percikan air ditangkap saraf di telinga kita.

    Apa yang kita lihat, bau, dengar, rasa dan sentuh kan sebenarnya hanya impuls syaraf.

    Mungkin suatu saat Morpheus akan menawarkan kita pil biru dan pil merah. Kita mengambil pil biru dan terbangun dengan selang di tengkuk kita yang fungsinya mengubah impuls saraf itu jadi energi listrik.[1]

    [1] lihat film The Matrix.

    *kepala meledak, pingsan... : p*
    Boy Avianto 0 0
    Good: Saya tetap tidak mengerti kenapa anda bawa-bawa URL website saya dan hubungannya dengan menampar wajah sendiri... Ada apa? I am getting into your nerve? Good.
    Pedy 0 0
    Alex said, "Anda memiliki tangan, ya. Itu absolut bagi anda. Tapi bagi veteran perang yang kehilangan tangan, mereka tidak lagi memiliki, tapi pernah memiliki."

    OH MY GOD! Duh Gusti paringono sabarrr...

    Bagaimana kalau veteran perang yang sekarang buntung itu mengatakan bahwa dia punya dua tangan seperti dulu sebelum buntung? Yang biasa dia gunakan untuk mengangkat kursi atau push up misalnya. Anda akan berdebat dengannya atau menyarankannya cek kesehatan jiwa? Just for real guys, what's you're suggesting here..??
    Alex© 0 0
    Good ;

    [Pantasan Loe diusir sama dosen loe. Kalo gue jadi dosen kagak cuma diusir tapi dah gue DO sebelum masuk kuliah...]

    : ))

    Ahaha... akhirnya sama seperti guru/dosen saya juga. Nah kan... penilaian anda pun tidak absolut jadinya. Langsung berubah : ))

    BTW, anda tak perlu repot2. Saya, alhamdulillah, sudah DO duluan : ))

    [PERLU BELAJAR MENGENAL NAMA-NAMA BENDA!]

    Oh jelas. Tapi saya tak perlu belajar mengenal nama semua benda di muka bumi. Saya belajar apa yang saya pandang penting saja, atau apa yang saya alami saja. Jujur saja, saya dikenalkan apa itu salju, tapi sampai hari ini, saya tak pernah berinteraksi dengan salju : D

    [...Dnial dan Khalifah belajar saja ama ato adik TK ya!...]

    Oh ya, saya juga kadang2 suka belajar dari anak2 TK. Mereka naif dan lucu-lucu. Mengingatkan pada orang2 dewasa yang naif memandang bahwa gagasannya adalah gagasan seluruh semesta. Dari anak-anak TK saya paham, life's just a game : ))

    [...Orang-orang super cerdas
    ha ha... Kalian Menyenangkan...]

    Saya pribadi juga senang dengan anda, Mas Nop. Setidaknya anda masih bisa bercanda : )

    [...Dah..sekarang tidur semua biar besok seger.
    Gak salah ngasih uang jajan anak ato istri. Jangan ketuker...]

    Selamat tidur. Salam buat istri dan anak-anaknya. Mudah2an keluarga yang (dugaan saya) sakinah mawaddah warrahmah : )
    Sri Kirana 0 0
    Pedy : dari yang saya tangkap sewaktu mengikuti diskusi yang makin lama makin absurd tapi makin seru, bahwa sesungguhnya tak ada kenyataan yang benar-benar absolut. Semuanya hanyalah permainan semantik. Semuanya hanya permainan otak, permainan pikiran belaka. : D

    Itu yang saya tangkap sih...
    Boy Avianto 0 0
    Alex©: "Jujur saja, saya dikenalkan apa itu salju, tapi sampai hari ini, saya tak pernah berinteraksi dengan salju"

    Bersyukurlah karena kenyataan tidak seindah yang terlihat di film-film atau buku-buku.
    Good 0 0
    *** bangun lagi ****
    Boy... I like your style (really), so I learn it.
    I also like your page...(really)
    Something wrong with my words? : ) : )

    BTW, sebelum gue benar-benar tidur....
    Itulah kira-kira rahasia mengapa teman-teman filsafat UGM kagak bisa ngajar agama di Teknik.
    Teman2 Filsafat gue pinter bicara atom dan nuklir tapi gak bisa buat generator nuklir
    Sementara teman2 teknik gue gak bisa bicara filsafat atom tapi pinter buat nuklir.
    Selamat direnungkan sebelum tidur!
    Alex© 0 0
    Pedy ;

    [...OH MY GOD! Duh Gusti paringono sabarrr...]

    Iya, Mas. Sabar itu baik. Saya juga bersabar kok. Bersabarlah. Imam Syafi'ie dulu juga sakit benar utk mendapatkan setetes ilmu dari Imam Malik : )

    [...Bagaimana kalau veteran perang yang sekarang buntung itu mengatakan bahwa dia punya dua tangan seperti dulu sebelum buntung? Yang biasa dia gunakan untuk mengangkat kursi atau push up misalnya....]

    Tentu saja dia bisa mengatakannya, dan saya sepakat. Dia PERNAH punya tangan yang lengkap dan BERFUNGSI. Tapi adalah fakta bahwa di saat dia sudah buntung dia TIDAK LAGI memiliki tangan. Fakta itu temporer.

    [Anda akan berdebat dengannya atau menyarankannya cek kesehatan jiwa? Just for real guys, what's you're suggesting here..?? ...]

    Justru saya yang sakit jiwa jika memaksanya berkata, "Hei, you! Anta tak pernah punya tangan. Astaghfirullah! Darimana anta dapatkan foto2 yang mengatakan anta pernah punya tangan?! Itu pasti posotop!" misalnya. Logika saya akan percaya, bahwa sebelum perang, ia PERNAH punya tangan. Got it? : )
    GaraMata 0 0
    @Pedy

    Mungkin biar bisa menangkap maksud teman-teman bisa baca buku dunia sophie. Di situ malah diragukan bahwa aku ini benar-benar ada. Jangan-jangan aku ini adalah hasil dari mimpi seseorang, dan jangan-jangan orang yang memimpikanku itupun adalah hasil impian orang lain lagi, dst mimpi hingga tidak terhingga.

    Jadi sebenarnya mas @Pedy ini ada tidak?
    Good 0 0
    *** bertekad bisa tidur nyenyak, mimpi ketemu orang-orang cerdas...I really love your page Boy ***
    Boy Avianto 0 0
    Good: Terima kasih atas pujiannya. Nothing wrong, saya cuma tanya ada relevansi apa antara faktor-faktor tersebut sampai dibawa ke sini ; ).

    Soal teknik vs. filsafat. Beda topik. Panjang pembahasannya. Cuma bicara fakta bahwa di dunia akademis mau teknik ataupun non-teknik, gelar tertinggi ada Ph.D alias Doctor of Philosophy. Tanya kenapa.

    Selamat tidur.
    Alex© 0 0
    Good ;

    [... Itulah kira-kira rahasia mengapa teman-teman filsafat UGM kagak bisa ngajar agama di Teknik.
    Teman2 Filsafat gue pinter bicara atom dan nuklir tapi gak bisa buat generator nuklir
    Sementara teman2 teknik gue gak bisa bicara filsafat atom tapi pinter buat nuklir.
    Selamat direnungkan sebelum tidur! ...]

    *merenungi*

    Dan saya makin percaya, apa yang dianggap absolut oleh orang teknik, bisa jadi nihil bagi orang filsafat. Sebaliknya demikian.

    Tapi interaksi keduanya juga bukan mustahil. Entah di UGM anda itu. Ludwig Wittgenstein, misalnya, yang berkutat dalam filsafat bahasa, adalah orang yang mempelajari teknik mesin di Berlin dan melanjutkan pendidikan ke Victoria University of Manchester utk meraih dokter dalam bidang teknik. Ketertarikannya pada filsafat dimulai dari pertanyaan sederhana, "Apa itu angka?" dan Principia Mathematica-nya Bertrand Russell : )

    Cuma sharing informasi, maaf jika basi : D

    Boy Avianto ;

    Saya bersyukur kok, Mas. Teman-teman saya yang pernah dan masih di luar negeri juga bilang hal serupa : ))

    Balsem susah di sana buat pilek, benar ya? : ))
    Boy Avianto 0 0
    Alex©: Itulah kebenaran tentang 'salju' : p Soal balsem tergantung kota/negara sih, kalau di sini gampang cari benda-benda seperti itu. Cuma bakal diprotes orang satu gerbong subway kalau nekat pakai itu.

    Lah, ini kok malah bahas balsem. Ideologi Balsem? Menghangatkan tapi belum pasti menyembuhkan? : ))
    Pedy 0 0
    Dnial said, "Nah itu dia... bukan kebenaran absolut. Tapi kebenaran yang bisa digunakan (ada namanya harusnya konsep ini). Kebenaran yang relevan sesuai konteks. Konteks praktis, itu benar sungai."

    Apa pun istilahnya, saya hanya ingin menegaskan, bahwa merelatifkan semuanya adalah itu perbuatan keliru dan ceroboh.

    -=-=-=-=-=-The Matrix Trilogy-=-=-=-=-=-

    Morpheus:
    "What is real? How do you define real? If you're talking about what you can hear, what you can smell, taste and feel then real is simply electrical signals interpreted by your brain."

    PedyNEO:
    Well what I felt maybe RELATIVE.

    But this is ABSOLUTELY REAL for me; there must be something that generates electrical signals to my brain. Whatever it is a AI-super-computer-freaks-with-disgusting-tenta cles or just a real things around me.

    It doesn't change that some thing are absolute and other are relative.

    You fool Morpheus! I'm not taking your stupid pills, I'm taking sate wae with my lovely Trinity! : D

    Now I'm tired with all this silly and stupid topics, I'm gonna hanging around with Trinity, see you tomorrow.. ; )
    Boy Avianto 0 0
    Pedy: "Apa pun istilahnya, saya hanya ingin menegaskan, bahwa merelatifkan semuanya adalah itu perbuatan keliru dan ceroboh."

    Saya masih tidak sepakat dengan penegasan anda. Boleh kan? : )
    GaraMata 0 0
    lah, gimana sih, bahkan keberadaan Pedy saja masih bisa diperdebatkan.
    kang tutur 0 0
    Membaca debat ini bagai menonton pilem-pilem, arghh... (kok bisa lupa sih?) itu tuh..., yang dari Turki:?????

    *Harun Yahya*
    {terpaksa, nanya Google dulu}
    Boy Avianto 0 0
    GaraMata: Clone? *here we go again* : p
    Muda Bentara 0 0
    Lantip

    Muda Bentara: kenapa harus khawatir? lagian, ideologi itu kan bisa diartikan sebagai ide dan/atau polapikir yang menggambarkan karakteristik sekelompok orang (atau seseorang); menurut saya pancasila bisa saja masuk sebagai ideologi.
    ------------------------------------ -----------------------
    Buaknkah ide dasar itu biasanya bersifat unik dan memiliki karakteristik tersendiri bang ? lalu dengan pancasial bagaimana ? apakah di dalam pancasila ide dasarnya murni bikinan pak karno CS ? Apakah sebelumnya pak karno menggunakan ideologi pancasila saat pra kemerdekaan ? lalau pak karno berkiblat ke ideologi mana juga ? lalau ideologi mana tersebut bersumber dari mana ?

    itu dari konsep ide, kalau ekonominya gmana ? tentunya anda tahu gaya ekonomi indonesia dari jaman soeharto, tuh bapaknya azas tunggal, privatisasi ladang minyak, tambang emas ke korporasi amerika itu gaya apa ? lalau memakai sistem apa ?
    ndak merakyat kan ? ndak sesuai dengan pasal 33 kan bang ?

    salam kenal bang .

    @mastoo

    muda bentara
    mending ideologi comot2..,tapi asli hasil pikiran bangsa sendiri,..daripada ideologi utopia,..import asal arabia,..

    masturbasi aja kau sana..,di gurun tempat ideologi arabic insomnia kau diciptakan..!
    __________________________________

    jadi ideologi itu bisa cocom-comot mas ? baru tahu aku nih mas , bararti kalau comot-comot, tentunya ada yang dicomot kan ? kalau anda tadi bilang mending ideologi comot-comot tentunya anda tahu kan yang dicomot itu yang mana ?

    Utopia ? hemm .... dari mana anda tahu itu utopia ? pernah dibuktikan sampe anda nyerah ? jikalau utopia kenapa juga tetap ada yang memperrjuangkan ? kalau dibilang utopiaberarti demokrasi juga utopia juga kan ? sudah puluhan tahun diterapkan tapi tetap tidak memberikan kesejahteraan bagi mahluk bumi .

    tentang ideologi import itu, heran juga aku bang, berarti anak-anak sosialis sampe konghlomerat kapitalis itu juga korban importir juga dong ? mungkin mas juga , ideologi anda apa mas ? apakah ideologi comot itu ?

    terima kasih mas atas tawaran masturbasi itu, tapi saya tolak dengan santun mas, biar anda saja , mungkin anda membutuhkan ejakulasi ideologis .

    salam kenal mas

    @lcfr

    Jadi Muda Bentara tolong jangan asal njeplak. Pancasila sebagai ideologi sendiri nggak ada hubungannya sama kapitalisme sama sekali, malah bertentangan dengan butir sila kelima; "Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain". Tolong jangan asal ngomong kalau emang nggak ngerti.
    -------------------------------------- ----------------------
    maaf bang kalau saya salah ngomong, maklum masih muda, tapi real nya gimana bang ?
    sekarang yang ada di indonesia kapitalis kan ?
    jadi kemana aturan-aturan kerakyatan itu ? yang namanya ideologi itu kan pandangan hidup, ia memiliki konsep dasar dan aplikatif pelaksanaan, jadi gmana banga ? bung karno yang dulu jadi mbah peng-create pancasila itu ideologinya apa ?

    salam kenal bang ...
    Kopral Bambang 0 0
    Kok omongannya jadi posmo begini? :-? Sejak kapan sih berubah jadi debat semantik? Bukannya salah, sih.

    * * *
    Mari rekapitulasi dulu. Sudah lebih dari seratus komentar ini. : )


    Kalau dari yang saya cerna, yang menarik adalah klaim Masbro Pedy bahwa suatu ideologi itu dinyatakan tidak sah apabila tidak mencapai level kompleksitas tertentu. Mesti imersif/kumplit/kaffah/apalah istilahnya.

    Lalu Masbro Avianto menambahkan bahwa pendekatan seperti itu cenderung mengkotak-kotakkan. Saya sepakat dengan sentimen ini.

    Lalu ada yang bertanya soal pengkotak-kotakan; saya asumsikan ini masih relevan dengan topik. Lalu; jeder! Ratusan komentar.

    Hehehe, tapi, saya mesti agak ambivalen. Saya kurang menggemari posmo. : D Tapi begini, intinya 'kan sebetulnya sudah dinyatakan di komentar awal-awal;

    "[...]kalau pun ["kebenaran sejati"] ada, pada akhirnya "kebenaran sejati" akan bersinggungan dengan manusia dan mengalami proses interpretasi dan menjadi "model" lagi.[...]"

    Buat saya ini sudah lebih dari cukup. Bukankah semua yang kita rasa dan terima itu aproksimasi saja?

    * * *

    Tapi saya masih lebih tertarik dengan isu awalnya. Yaitu yang diprotes dengan komentar "mirip 1984" di atas. Apa masih diperbincangkan?
    dony 0 0
    @alex, boy, dnial n dana

    menurut pedy (ada gak yah?)
    kebenaran yang absolut itu ideologi islam, yang tidak bisa diperdebatkan

    Sedangkan Ideologi yang lain cuma karya manusia.......begitu kan mas pedy?

    @kang tutur
    Ada bahan tambahan kang untuk nambahin artikel di sebelah........enakan kawin berbeda jenis kelamin
    hehehehehehehehe

    Tambah skor kang
    pedy n bang nop = 0
    dana, boy, alex = 8.5 / 9.0

    *cari masalah*
    Boy Avianto 0 0
    Kopral Bambang: Haha, ya namanya mencari "kebenaran sejati" biasanya muter-muter dulu kan? ; )

    "Tapi saya masih lebih tertarik dengan isu awalnya. Yaitu yang diprotes dengan komentar "mirip 1984" di atas. Apa masih diperbincangkan?"

    Masih kok, saya beri contoh nih:

    "Oceania was at war with Eurasia: therefore Oceania had always been at war with Eurasia" bisa diterjemahkan menjadi "Ideologi xx sekarang sedang kalangkabut: berarti ideologi xx selalu kalangkabut". Familiar dengan ide tersebut?
    hamatamu 0 0
    Boy Avianto; familiar : ))
    Dan 0 0
    Ini Diskusi yang paling mumet. Dah pada GILA. Semua dipaksa relatif. Ei semua...Bangun-bangun..Anda semua di alam nyata. Tonjok pipi masing-masing.
    Sebagian besar masalah bahasa. Semantik. Kalo ada anak es-em-pe liat, mereka jadi bingung sama orang dewasa seperti ini.
    Jumlah jari aja dipersoalkan?
    Kenapa jadi gila ya?? Apa karena bahasanya sudah canggih lantas boleh gila?

    =sambil merenung=
    Pedy 0 0
    Skor sementara:
    Muda Bentara: 10
    vs.
    Tua Kelara-lara: 0
    : D
    Pedy 0 0
    Jelaslah sudah bahwa pemuja relativisme ini hanyalah orang2 yg pandai memelintir bahasa. Sama sekali tdk membumi!

    Mereka lupa bahwa kebenaran mutlak itu ada, dan tidak hanya dari sisi fakta saja, tapi juga dari sisi fungsi. Bahwa kebenaran absolut itu tidak hanya hadir secara faktual, tapi juga secara fungsional.

    Pernah nggak seh melihat seorang insinyur sipil yang meragukan dan mempertanyakan apakah batu bata dan besi dihadapannya nyata, ketika dia sedang membangun gedung pencakar langit? Atau seorang dokter bedah di Emergency Room yang terus berfikir apakah saat ini dia sedang bermimpi? Padahal pasiennya sedang sekarat hampir mati?
    Ya mungkin ada insinyur dan dokter seperti ini, mereka itulah insinyur dan dokter kentèr alias uedhan! *gaya Tukul*

    Sudah lah, bagi pemuja relativisme, dunia Anda bukan di sini. Lebih baik Anda menulis skenario film Matrix Tetralogy dan serahkan kepada sang sutradara Wachowski Brothers. Siapa tahu laku. Jelas manfaatnya lagi, bisa menghibur orang banyak. : D
    Alex© 0 0
    @peydanto

    Saya juga bisa katakan hal yang sama pada keyakinan ideologi anda. Khilafah Islamiyah itu, misalnya. Itu juga tidak membumi. Persoalannya, di bumi mana anda berpijak?

    Matahari umumnya muncul di langit selama 12 jam di bagian bumi lain, tapi tahukah anda bahwa di kutub bumi lain, matahari bisa bersinar lebih lama lagi, sehingga siang bisa lebih panjang daripada malam?

    Pada dasarnya kebenaran absolut itu berpegang pada kesepakatan, Mas. Dunia tidak hitam putih, ada banyak warna. Apa yang Mas inginkan, adalah keseragaman pola pikir, yang membuat dunia jadi sama rata. Dalam hal ini, jangan campur-adukkan nalar dengan keimanan dulu utk percaya pada sesuatu. Iman pada sesuatu, mendahului pengalaman dan nalar. Kalau tidak begitu, itu bukan iman namanya.

    Sudahlah, baiknya bagi pemuja ideologi juga saya katakan, mungkin dunia anda bukan di sini. Lebih baik anda tulis skenario tentang film "Our Ideology Is The Best. Ever!" misalnya. Siapa tahu bisa menyaingi tetralogi Tariq Ali, dari The Book of Saladin sampai A Sultan in Palermo. Mungkin bisa menghibur banyak emir-emir di Timur Tengah sana : D
    Alex© 0 0
    Duh... typo.

    Maksudnya tadi itu utk Mas Pedy : )
    kang tutur 0 0
    *sejauh ini, makin asyik aja...*

    di dalam adat Minang, ada 4 filosofi:

    Adat yang sebenar adat
    Adat istiadat
    Adat yang di adatkan
    Adat yang t,eradat

    Nah, yang absolut itu, ada didalam Adat sebenar Adat...
    contoh:

    Adat Api Membakar
    Adat Air Membasahi

    *nyambung gak, ra mudheng, filsafat uey!*
    GaraMata 0 0
    Walah, jadinya sama saja toh. *tercerahkan*
    Alex© 0 0
    Muda Bentara ;

    Saya coba jawab lah ini : )

    # jadi ideologi itu bisa cocom-comot mas ? baru tahu aku nih mas , bararti kalau comot-comot, tentunya ada yang dicomot kan ?

    =====

    Yang pertama mengatakan ideologi comot2 itu bukannya kamu sendiri? Coba baca dulu komen2nya. Jangan melemparkan taggung-jawab pada yang lain. : )

    # kalau anda tadi bilang mending ideologi comot-comot tentunya anda tahu kan yang dicomot itu yang mana ?

    =====

    Hampir semua ideologi Pancasila itu ideologi yang bongkar-pasang. Dirumuskan. Digali dari budaya yang pernah ada di Indonesia. Tidak melulu impor dari luar negeri. Jangan lupakan peranan adat-istiadat yang juga menjadi salah satu pertimbangan perumusan Pancasila.

    Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya. Itu universal. Meng-cover (hampir) semua lini agama. Tak butuh impor2an utk mengenal ide semacam ini.

    # Utopia ? hemm .... dari mana anda tahu itu utopia ? pernah dibuktikan sampe anda nyerah ? jikalau utopia kenapa juga tetap ada yang memperrjuangkan ?
    =====

    Karena masih diperjuangkan lah, maka eksistensinya belum pernah ada. Belum pernah wujud secara kaffah di muka bumi. Jangan terpaku pada nostalgia masa lalu. Turki Ustmaniyah itu juga tidak melulu sempurna, ada friksi-friksi dalam pemerintahannya. Ada ragam dinasti yang mengklaim perwujudan sistem Islam, tapi tumbang dan muncul dan tumbang dan muncul lagi. Pelajari sejarah2 Islam dulu, ada banyak di pustaka itu. Dari Dinasti Fathimiyyah, Bani Seljuk, Dinasti Mameluk sampai Kekhalifahan Abbasiyah.


    #kalau dibilang utopiaberarti demokrasi juga utopia juga kan ? sudah puluhan tahun diterapkan tapi tetap tidak memberikan kesejahteraan bagi mahluk bumi .
    =====

    Boleh jadi demokrasi Utopia. Tapi setidaknya pernah dan masih punya peran dalam sejarah kontemporer. Kamu bisa berbeda pendapat saat ini juga karena hidup dalam demokrasi. Kalau saja kamu hidup dalam Dinasti Fathimiyyah yang pro-Syiah, bisa dijegal. Atau hidup dalam era Muawiyah dan kamu mengelukan Ali bin Abi Thalib, hidupmu bisa macam Abu Dzar Al-Ghiffari: Diasingkan. : )

    #tentang ideologi import itu, heran juga aku bang, berarti anak-anak sosialis sampe konghlomerat kapitalis itu juga korban importir juga dong ?
    =====

    Ya, sama. Ideologi yang kamu yakini juga impor itu. Saya sudah pernah kasih komen: Sejak kapan Aceh, misalnya, mengenal purdah. Baca sejarah. Baca sejarah. Baca sejarah. Baca sejarah. Baca sejarah. Baca sejarah: Tidak ada potret2 wanita sejak Sri Ratu Safiatuddin hingga era akhir kejayaan Cut Nyak Dhien yang pakai purdah, cadar dan hijab. Sampahkan dulu ulama2 besar Aceh, dari Syeikh Syiah Kuala sampai Tgk. Muda Wali, sebelum kamu yakini pahammu. Mereka tidak pernah memaksakan penerapan syariat, apalagi cuma menyangkut sebuah budaya dan ideologi.

    Corak gagasanmu ini mirip dengan gaya Nuruddin Ar-Raniry, yang sudah membuat perkembangan Islam di Aceh stagnan sejak Hamzah Fanshuri dipancung kepalanya, cuma karena berbeda faham dalam proses mengenal Allah SWT.

    Padahal dunia penuh ragam dan warna. Pernah dengar Ain Al-Qudat? Sufi Persia abad 12 itu, murid dari 2 Ghazali yang saling berbeda pemahaman: Abu Hamid Al-Ghazali dan Abu Ahmad Al-Ghazali.

    Nih, ideologi berbasis syariat Islam yang sudah pernah menuai protes di Aceh:

    http://tinyurl.com/konvoirazia

    Silakan baca.
    Alex© 0 0
    Maaf, salah tautan. Mestinya ini:

    http://tinyurl.com/cqyc4u
    Kopral Bambang 0 0
    @ Avianto

    Hahahaha. Kok rasanya deja vu, ya. ; )
    Good 0 0
    Wah tambah seru. Gue tadi pagi dapat ilham untuk merangkum dan menjawab dari diskusi meriah ini. Liat dan rating sesuai hati nurani!

    http://politikana…vs-alex.html
    Wonggantenk 0 0
    Ideologi gua:
    1. Gua yang tampan ini harus bisa hidup sejahtera dan penuh kuasa, kalau yang lain bisa gua musti bisa, ngapain gua jauh - jauh berkelana sampai ke Belanda.
    2. Cita - cita: Kaya, bebas hutang, berkuasa, punya perusahaan dengan pegawai lebih dari 100 000 orang
    3. Walapun begitu, gua juga ingin rakyat sejahtera (dengan catatan gua duluan yang kaya ya), sehingga mereka bisa hidup nyaman dan tidak membuat gangguan keamanan,menatap pagi dan sore hari dengan senyuman, dan yang penting belanja barang - barang yang gua produksi
    4. Gua banyak dosa, gua sangat berharap Tuhan mengampuni gua, minimal enggak menggoreng gua di neraka
    Fikirkan 0 0
    Penting nii.. dibaca warga politikana yg sering debat ideologi..

    Silahkan login untuk memberikan pendapat