Celeng Bermoncong Darah 2

Rabu, 15 Apr '09 15:56

'Ada pepatah lama, Tuan-tuan, di kalangan pedagang di pasar Macellum, bahwa ikan membusuk mulai dari kepala ke ekor, dan jika ada yang busuk di Roma saat ini-dan siapa yang meragukan hal itu?-terang-terangan aku mengatakan bahwa kebusukan itu dimulai dari kepala. Kebusukan itu dimulai di puncak. Kebusukan itu dimulai di senat.'

Ia yang mengungkapkan itu sungguh pasti seseorang dengan karakter kuat dan integritas tinggi. Ia mesti bukan seseorang yang cuma menghayalkan segala hal dari belakang meja. Namun, seandainya saja dugaan ini salah, setidaknya ia memiliki jendela kamar kerja yang bertetangga dengan los pasar ikan yang amis dan riuh dengan teriakan dan percakapan, yang membuatnya mampu mendengarkan cakap para pedagang.

Kiranya kita juga takkan sungkan membayangkan bahwa si penguar kata-kata itu sangatlah berpengaruh. Nada yang meruap dari kalimat-kalimatnya sungguh tak menyiratkan adanya ketakutan, jika bukan wibawa. Apalagi jika mempertimbangkan perkataan selanjutnya: 'Dan hanya satu hal yang pantas dilakukan pada kepala ikan yang busuk dan bau, kata para pedagang (di pasar), yakni memotongnya dan membuangnya! Tapi diperlukan pisau yang baik untuk memenggal kepala itu, karena ini kepala aristokrat, dan kita semua tahu seperti apa kepala itu! Kepala itu bengkak akibat racun korupsi dan menggembung oleh sikap angkuh dan pongah. Diperlukan tangan yang kuat untuk menggunakan pisau itu, juga saraf yang mantap, karena leher mereka terbuat dari kuningan.'

Ia seorang pengacara. Ia tak kaya, tak dikenal, dan amat dibenci kaum aristokrat. Namanya sontak bikin gandrung ketika ia memutuskan untuk membela seorang pria yang ketakutan, seorang penduduk Sisilia yang menjadi korban perampasan seorang gubernur Romawi korup; seseorang yang akhirnya diberikan atap tempat berlindung. Sejarah mengenalnya dengan Marcus Tullius Cicero. Hobinya adalah menentang korupsi.

Sang gubernur Romawi itu tercatat sebagai Gaius Verres. Ia seorang yang keji dan memiliki selera rendah. Ia menjadi kaya karena menjarah. Dan dengan kekayaan beraroma neraka itu, ia menyuap warga Roma yang memiliki pengaruh untuk mendukungnya. Cicero menjulukinya sebagai celeng bermoncong darah.

Pidato Cicero yang meminjam perumpamaan ikan busuk itu diucapkan ketika sang pengacara ingin meyakinkan para senator, yang berfungsi sebagai juri, untuk memutuskan si celeng bersalah. Salah satu bagian dari pidatonya: 'Ada satu kepercayaan - yang berbahaya bagi republik ini dan bagi Anda sendiri - bahwa pengadilan ini, dengan Anda para senator bertindak sebagai juri, tidak akan menghukum seseorang, sebesar apapun kesalahannya, jika ia memiliki cukup uang.'

Para juri memilih membangkang dari kepercayaan itu dan memutuskan Verres bersalah. Hukum menang. Ia akhirnya di kemudian hari terpilih menjadi konsul dan loyal kepada senat.

Tapi politik tidak pernah alpa mencatat kemuraman. Beberapa tahun kemudian, setelah melalui pengasingan, Cicero dipenggal kepalanya dalam suatu pengejaran.

Saya membaca kisahnya di Imperium, sebuah novel politik karya Robert Harris. Dalam novel itu, sang penulis Inggris itu melukiskan politik Roma dan menampilkan Cicero bagi zaman kita, orang yang menjadikan politik sebagai karir, yang baginya terpantul pada diri Clinton atau Blair.

Di negara tempat saya beroleh kegirangan, juga kesakitan, apakah hak untuk memiliki seorang negawaran semacam Cicero itu masih mungkin? Setidaknya ia yang mampu memiuh kata-kata menjadi senjata untuk menekuk yang bathil; menerjemahkan pikirannya tanpa ampun menjadi tindakan; berbuat tidak untuk dirinya sendiri; ia yang mampu membekap dan merantai banyak celeng.  

Itu mungkin naif. Tapi saya yakin itu juga tak salah.  


Tag: Publik

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Sri Kirana 0 0
    Tidak ada salahnya bermimpi : )
    Setahu saya Cicero dipenggal oleh Julius Caesar?
    bonardomaulana 0 0
    lehernya ditebas oleh segerombolan pembunuh bayaran yang disewa Mark Antony.

    Silahkan login untuk memberikan pendapat