Katakan Saja: Cina 86
Rabu, 15 Apr '09 16:02
Banyak hal menarik bisa ditulis dengan tema, Cina. Selain Feng Shui/Hong Shui, Shio, Kung Fu, Shao Lin, Bruce Lee hingga Jet Li.
Beberapa waktu lewat, aku nguping gosip ibu-ibu belanja di Tukang Sayur Keliling bahwa anak si anu sudah dilamar. Calon suaminya bukan "orang kita" tapi Cina. Bla... bla... bla...!
Memang apa beda Cina dengan "kita"?, aku bertanya dalam hati.
"Tapi untungnya sudah, islam. Mualaf", tambah Bu Bigos itu.
Emang kenapa kalo Cina? Dan kenapa pula kalau dia telah islam?
Stereotype!?
Yap...! Etnis dan Agama adalah hal yang paling enak digosipin dan distereotipin. Entah, sejak kapan pengkotak-kotakan ini terjadi? Mungkin sejak zaman Penjajahan Belanda. Akibat, paling serem dan paling dekat dengan kita terjadi 10 tahun lewat, pada Mei 1998.
Miris... kalo inget. (:
Back to Topic. Bicara Cina dan bicara Islam, agaknya kita orang Melayu mesti membuka buku sejarah kembali. Orang Cina sudah menerima Islam bahkan sejak Muhammad saw, masih ada. Jauh lebih dahulu dari pada "kita" Melayu. Jadi, gak ada alasan untuk takut bermenantu orang Cina, kan? Apalagi kalo memang toh, dia Mualaf.
Namun, agaknya stereotip dan pengkotakan etnis ini tidak hanya di tatanan akar rumput, rakyat kebanyakan. Aku juga masih sering menyaksikan "kegamangan" ini di televisi. Bahkan oleh para tokoh sekalipun. Kegamangan itu terasa kental ketika mereka menyebut kata C I N A. Ada yang menyebut Cai Na (China), CaiNis (Chinesse) dan Tiong Hoa.
Jujur, kegamangan itu masih terasa. Kenapa tidak sebut saja dengan lugas, Cina, gitu. Selugas kita menyebut Jawa, Padang, Ambon, Batak, Sunda, Dayak, Bugis dst.
Belum cukupkah, tokoh tokoh seperti: Yap Thiam Hien, Arief Budiman, Soe Hok Gie, PK. Ojong, Mas Agung, Rudi Hartono, Alan Budikusuma, Verawati Fajrin, Susi Susanti, Andrie Wongso, Jaya Suprana dan..... Lihat sendiri deh daftarnya!
Dan di kalangan Blogger sendiri, kita dapat menemukan tokoh-tokoh "anyar" seperti Jennie S. Bev, Herman Saksono, Rudy Gunawan, Rama Mamuaya, Christ Xu dan tentu lebih banyak lagi...!
Sampai kapan kegamangan itu akan berlanjut? Kalau memang, kita sepakat menghentikan "kegamangan" ini, mari kita katakan saja. C I N A.
(c) sumber foto: Nempel di Foto
Terkait:
-
Ruhut sekarang Gundul
Rabu, 3 Mar '10 16:54 -
Imlek : Menyongsong Indonesia Baru
Sabtu, 13 Feb '10 20:20 -
Cina bisa, Indonesia bisa apa?
Minggu, 24 Jan '10 18:36
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Herman Saksono: Penting
-
babyloniamaria: Penting
-
arya: Menarik
-
Sri Kirana: Penting
-
Subroto:
-
Rizma Adlia: Penting
-
hamatamu: Bagus
-
sufehmi: Bagus
-
opiniherry: Penting
-
dodi: Menarik
-
Lemon S. Sile: Penting
-
yusro: Menarik
-
dilla: Biasa
-
Reinhart Velatrache: Penting
-
le thole: Lucu
-
Ghazi Tjokroamidjojo: Bagus
-
Alderina: Keren
-
Hedi: Bagus
-
kalipaksi: Penting
-
LCFR: Penting
-
Harrie: Penting
-
Upik: Bagus
-
gunawanrudy: Menarik
-
ndarualqaz: Penting
-
Arie: Penting
-
Catshade: Penting
-
arsyani: Keren
-
AndyMSE: Menarik
-
Dony Alfan: Bagus
-
conscientizacao: Penting



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Nggggg... saya bukan Cina
Kalau saya ngaku cina, saya menyamakan diri dengan orang asli sini yang jorok, kasar, reseh, tuti, dlsb... makanya saya lebih memilih TiongHoa sebagai identitas saya apabila ditanya. Tetapi kalau di sini ya saya ngakunya orang Indonesia tapi peranakan loh...
*nanti komen serius, beresin bug dulu*
Bukankan sekarang pun kita sudah masuk ke era globalisasi? Dimana SARA itu tidak diperhitungkan?
IMO, pilihannya ada pada "Cina" atau "Tionghoa" doang. Kata "Cina" bagiku terlalu luas maknanya, malah bisa merujuk ke nama negara, RRC. Karena itu aku prefer ke "Tionghoa" karena itu lebih merujuk pada chinese overseas.
Rasanya dulu ada penjelasan panjang lebarnya di blogku yang lama. Sayang udah kuhapus. Tapi sudahlah, sudah malas mempertanyakan masalah itu.
Masih ada juga teman saya yg keturunan "cina" tidak suka dengan sebutan tersebut. Saya jadi harus hati-hati...
Pernah saya bercanda sama teman. Dia panggil saya "jawa" dan saya panggil dia "cina". Teman saya sih gak ada masalah karena memang sudah biasa demikian. tapi ternyata koko nya tersinggung...
tapi saya suka topik ini diangkat...sekaligus penyegaran dari topik PKS dan Pemilu...
Cheers...
Bisa ta rilis ulang di sini sih. Rilis nggak yah.
namanya aja, the swan nio.
tapi kenapa sampe aku yg keturunan ke5-nya, ga kliatan cina-nya, malah jawa bgt
*curcol ga penting*
Tidak semua seperti itu, dimana saja sama, ada yang jorok dan ada yang bersih, ada yang kasar dan ada yang tidak.
Saya pernah tinggal setahun di TW, banyak juga kok yang jorok, apartemen dan mobilnya...berantakan, kotor, amburadul abis.
BTT, mungkin mengapa gamang or sungkan, karena takut orang yang disebut sebagai CINA itu justru yang keberatan, karena merasa sudah menjadi asli Indonesia.
sy rasa smua yg nulis di atas jg masih meng kotak2an..
mengangap politisi kemungkinan besar busuk, menganggap polisi jalanan pasti korup, anak jalanan sering kriminal, dsb...
Streotip itu alami atau sebuah Grand Design, untuk Devide et Imperra?
Aku juga menemukan celetukan berbau streotip di Betawi, gini:
Wah, pacar nye Padang?
Lah, gue... kalo Padang ama uler, Namu bareng. Padang gue ketok duluan.
Emang Padang lebih bahaya dari pada Ular?
Ok, bercanda, tetapi memang yang saya lihat itu kesannya begitu, masyarakat secara umumnya, meskipun yang terdidik juga ada, tetapi kalau jorok, bagi saya yang biasa di Indonesia, agak sulit membiasakan diri dengan kebiasaan orang lokal yang... lebih baik tidak saya bahas. Nanti saya tulis di artikel lain saja
yang jelas saya pencinta makanan padang
*ngedit naskah lama*
Kalo dah, jadi Kopas ke Politikana yagh...!
*ojo mikirin reting...
lagi ta edit2 dikit nih. biar lebih objektif.
topik ini selalu menarik tapi tak membosankan karena mengajak kita menata kehidupan bersama yang lebih baik.
http://blogombal.…/02/07/cina/
Makian atau Pujian itu bisa terasa kok, dari intonasi!
kadangkala: Jiancux, Kimax, Ngehex dan temen-temennya bisa Terasa sebagai PUJIAN.
Jadi, thesis, Cina itu Makian. Ditolak!!!
ya kita semua tahu masalah komunitas dan cara hidup yang mungkin masih tersekat-sekat di berapa tempat, orang-orang yang anda sebut cina mengelompok pada suatu daerah tertentu, tapi apakah etnis lain tidak?
Kang anda bisa menolak, tapi bagaimana perasaan saudara-saudara kita yang memahami itu makian? Tidak usah dipedulikan gitu?
Ulasannya, jadi komplit deh...
Seger, renyah... kriuk-kriuk...!
Bagi saya itu penghinaan berat yang bisa dirajam...
Sebagai Padang, aku juga ngerasaain... kok!
*ini diposting, guna memcoba mencari solusi, kalau memang tidak bisa mengeliminasi...
di Amrik sendiri, juga kental (katanya)
Negro: Resek, bikin rusuh
Italy: Mafia
Arab: Teroris
dst...
bosen saya sama golongan tua yg mendoktrin anak2nya dengan ajaran begitu.
tapi memang, anak2nya tidak mengalami apa yg dirasakan generasi tua itu sampai segitunya.
Begini bunyinya : "Anak yang berada di dalam rumah keluarganya ibarat berada di dalam taman bunga yang indah, terlindung dari dunia luar. Namun lama kelamaan, orang tua akan membiarkan anak-anak tersebut pergi dari taman bunga untuk tumbuh dewasa dan membangun taman bunga lagi untuk anaknya." Jadi sedikit banyak, orangtua menanggung atau memfilter apa yang diterima anaknya
BTW, chinese overseas itu ada termnya sendiri loh di bahasa mandarin
Tetapi golongan muda memang tidak mengalami masalah diskriminasi parah, dan memang sudah lebih terbuka untuk pluralitas, kalau saya lihat
eh kazakhstan dink!
di masa kecil saya di pulau di luar jawa, saya sedikit sekali melihat hal-hal ini. saya juga tidak pernah dipanggil huana di rumah orang tua mantan pacar saya misalnya. dan orang yang saya anggap ayah angkat saya malah seorang dokter yang kang tutur sebut cina.
Tiko, fankui, huana = tiga kata ini artinya sama, merujuk kepada suku atau ras di luar HuaYi (Tionghoa peranakan). Yang membedakan hanyalah lafal atau dialek daerah saja. Fankui ini berasal dari warga yang menggunakan bahasa Hakka/Khek yang mayoritasnya di Singkawang. Sementara Huana berasal dari warga yang menggunakan bahasa Hokkian atau Tiociu, hanya saja kalau Tiociu ada sedikit perbedaan lafal dari Hokkian. Kalau tiko... yang ini saya tidak tahu asal katanya, ada yang bisa membantu?
Generasi muda sendiri tidak terlalu perduli tentang itu.
Oh ya, sebenernya untuk orang Jawa, istilah "Cino" jauh lebih membumi.
Mas Suma Mihardja pernah bercanda, kalau hanya karena sentimen generasi tua lalu setiap istilah Cina harus diganti Tionghoa, apakah "petai Cina" juga dipanggil "Petai Tionghoa"? :LOL:
Cina perantauan - huaqiao
atau di versi dahulu - Tang Ren (atau tenglan dalam bahasa hokkien)
Tiko >> 豬哥 Ti Ko (Hokkian)
Kasar sekali.
*jadi laper*
* mo maghrib, dulu*
kata gunawan, nama herman itu a souw
Itu istilah sebelas-duabelas lah sama zhū gǒu. Selevel parahnya.
*pake pinyin aja*
Woi woi, namanya Ma Oen Souw.
*seenaknya ngubah nama orang*
misal : nama Herman Saksono : ma wen sou => a sou
nama gue : xu hui ling => a ling
nama temen gue : huang qing lan : a lan
dst
Dalam konteks sosialnya kadang digunakan oleh orang-yang-merasa-cina kepada orang-yang-dianggap-pribumi, di Indonesia.
Zaman saya main game online, sering tuh maki-makian kayak gitu.
Ex:
A: dasar lu cina,,,udah pelit, serakah pula mau nguasain game ini!
B: woi,, ngaca dong lu tiko! dasar bangsa babu
---
Yang di atas cuma contoh. Yang kayak gitu sering saya temui di game online dulu. Whew... Menyedihkan.
jangan begitu lah... nanti perang loh...
Bukannya diganti a itu menunjukkan keakraban. Seperti memanggil Jamie bukan Mr. Anderson?
*menurut translation note di komik Ravages of Time sih
OOT dikit, laind, komik itu bagus ga? kalo lo berpikiran luas, baca komik ini deh, saint young men, di onemanga.com, itu sumpah kocak abis...
*dul kaget nama gw masuk remnant warriors gara2 ngereview itu komik*
serius dulu.
Sri Kirana: Ma Oen Souw itu bukan beneran nama Herman Saksono lho, itu cuma karangan gw aja pas di milis sebelah Herman ditanya namanya.
dan mengenai dialog panas tadi... well, itu kenyataan yg terjadi. dan memang MENYEDIHKAN.
*dah telat, gak nyambung lagi*
http://kalipaksi.…an-jawa-pos/
Beneran bangsa babu!
Parahnya mayoritas rakyat Indonesia hidup di daerah yang homogen... jadi cenderung xenophobic
Pembaurannya kurang ya? Jadinya tidak bisa belajar untuk bertoleransi dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh bentuk lain yang cukup nyata adalah di daerah Maluku. Bukan antar etnis sih, tapi antar agama. Kampung bisa terbelah dengan nyata, ada sirisori kristen ada sirisori islam, sampai sekarang.
Mengubahnya? Ya melalui budaya lagi. Lama? tentunya!
*eits OOT neh komentar*
biar gak oot, saya tambahi: yoi yoi, herman saksono itu cina, keturunan yunan, wangsa pithecantropus
Sunda maunya Sunda, Jawa maunya Jawa, Minang maunya Minang, Batak juga, Cina juga, Arab juga, apa saja juga...
Mestinya, yang kaya kawin dengan yang miskin, yang raja dengan yang jelata ... dst
klo gak kapan, mbaurnya?
*sebab perkawinan, jalan pembauran paling elegan menurutku*
Lantip:
[...] ini memang warisan sejak jaman penjajahan. 350 tahun budaya itu terbentuk hingga ke anak cucu. Dan ditambah 32 tahun penganaktirian dan penganakemasan di sisi lain oleh suharto ikut pula menyumbang. [...]
Saya jadi ngeri membayangkannya... Jauh setelah Chineezenmoord (peristiwa pembantaian 1740), warga keturunan Tionghoa mulai diposisikan berbeda dengan pribumi nusantara. Orang Tionghoa yang kebanyakan pedagang dan pebisnis mulai meningkat derajatnya, sehingga golongan Timur Asing dan Inlander diberi perlakuan yang berbeda.
Belanda menjual berbagai macam hak pengelolaan jalan tol, candu, rumah gadai, dan lain-lain kepada orang Tionghoa. Sementara kepada Inlander diberikan hak-hak yang sangat terbatas. Ini mau tidak mau menimbulkan rasa iri dan dengki kepada pihak yang dimarjinalkan. Karena perlakuan istimewa dari Belanda itulah akhirnya golongan Tionghoa, beberapa diantaranya menjadi sangat kaya atas perlindungan penguasa, kedudukan ekonominya cukup mapan, namun dibenci oleh rakyat pribumi, serta kegiatan ekonomi kalangan Tionghoa juga menguntungkan bagi penguasa.
Orde Baru pun mengikuti skenario pemerintah Hindia-Belanda ini, antara lain dengan perlakuan istimewa kepada segelintir orang Tionghoa yang sukses dalam bidang ekonomi. Ironisnya penguasa yang memberi perlakuan istimewa kepada segelintir (tidak semua) orang Tionghoa tersebut menjadikan Tionghoa sebagai ‘perisai’ atau ‘kambing hitam’ disaat terjadi kerusuhan menentang penguasa. Kerusuhan Kudus 1916 (masa pemerintahan Hindia-Belanda) dan Mei 1998 mencatat hal ini, ketika kemarahan rakyat kepada penguasa kemudian 'dialihkan' ke kalangan Tionghoa. Romo Sindhunata menceritakan dengan ciamik skenario ini secara tersirat lewat bukunya, Putri Cina.
*hiks hiks... dimana dirimu sekarang*
Btw saya kaget, emang Herman Saksono cina?
kalau disingkat huruf pertamanya jadi apa, Hayo???
Buka japri, lanjut di sana aja...
Silahkan login untuk memberikan pendapat