Katakan Saja: Cina 86

Rabu, 15 Apr '09 16:02

Banyak hal menarik bisa ditulis dengan tema, Cina. Selain Feng Shui/Hong Shui, Shio, Kung Fu, Shao Lin, Bruce Lee hingga Jet Li.

Beberapa waktu lewat, aku nguping gosip ibu-ibu belanja di Tukang Sayur Keliling bahwa anak si anu sudah dilamar. Calon suaminya bukan "orang kita" tapi Cina. Bla... bla... bla...!

Memang apa beda Cina dengan "kita"?, aku bertanya dalam hati.

"Tapi untungnya sudah, islam. Mualaf", tambah Bu Bigos itu.

Emang kenapa kalo Cina? Dan kenapa pula kalau dia telah islam?

Stereotype!?

Yap...! Etnis dan Agama adalah hal yang paling enak digosipin dan distereotipin. Entah, sejak kapan pengkotak-kotakan ini terjadi? Mungkin sejak zaman Penjajahan Belanda. Akibat, paling serem dan paling dekat dengan kita terjadi 10 tahun lewat, pada Mei 1998.

Miris... kalo inget. (:

Back to Topic. Bicara Cina dan bicara Islam, agaknya kita orang Melayu mesti membuka buku sejarah kembali. Orang Cina sudah menerima Islam bahkan sejak Muhammad saw, masih ada. Jauh lebih dahulu dari pada "kita" Melayu. Jadi, gak ada alasan untuk takut bermenantu orang Cina, kan? Apalagi kalo memang toh, dia Mualaf.

Namun, agaknya stereotip dan pengkotakan etnis ini tidak hanya di tatanan akar rumput, rakyat kebanyakan. Aku juga masih sering menyaksikan "kegamangan" ini di televisi. Bahkan oleh para tokoh sekalipun. Kegamangan itu terasa kental ketika mereka menyebut kata C I N A. Ada yang menyebut Cai Na (China), CaiNis (Chinesse) dan Tiong Hoa. 

Jujur, kegamangan itu masih terasa. Kenapa tidak sebut saja dengan lugas, Cina, gitu. Selugas kita menyebut Jawa, Padang, Ambon, Batak, Sunda, Dayak, Bugis dst.

Belum cukupkah, tokoh tokoh seperti: Yap Thiam Hien, Arief Budiman, Soe Hok Gie, PK. Ojong, Mas Agung, Rudi Hartono, Alan Budikusuma, Verawati Fajrin, Susi Susanti, Andrie Wongso, Jaya Suprana dan..... Lihat sendiri deh daftarnya!

Dan di kalangan Blogger sendiri, kita dapat menemukan tokoh-tokoh "anyar" seperti Jennie S. Bev, Herman Saksono, Rudy Gunawan, Rama Mamuaya, Christ Xu dan tentu lebih banyak lagi...!

Sampai kapan kegamangan itu akan berlanjut? Kalau memang, kita sepakat menghentikan "kegamangan" ini, mari kita katakan saja. C I N A.

(c) sumber foto: Nempel di Foto


Tag: Cina, SARA, Stereotip

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Herman Saksono 0 0
    "Dan di kalangan Blogger sendiri, kita dapat menemukan tokoh-tokoh "anyar" seperti Jennie S. Bev, Herman Saksono, Rudy Gunawan, Rama Mamuaya, Christ Xu dan tentu lebih banyak lagi...!"

    Nggggg... saya bukan Cina : p
    babyloniamaria 0 0
    mula-mula jilat katolik, lalu jilat betel, jilat betany sekarng jilat islam, lidahnya menjilat-jilat perciss ularrrr...
    arya 0 0
    herman itu cina
    arya 0 0
    duh kok kepencet kirim : )) herman itu cina? baru tau saya : p
    un-own 0 0
    sudah, nggk usah beda2in orang berdasar etnis deh
    Sri Kirana 0 0
    Begini kang tutur...
    Kalau saya ngaku cina, saya menyamakan diri dengan orang asli sini yang jorok, kasar, reseh, tuti, dlsb... makanya saya lebih memilih TiongHoa sebagai identitas saya apabila ditanya. Tetapi kalau di sini ya saya ngakunya orang Indonesia tapi peranakan loh... : p
    gunawanrudy 0 0
    waduh ada nama aseli kohaku... : ))

    *nanti komen serius, beresin bug dulu*
    Sri Kirana 0 0
    Oh iya, baru nyadar.. : p ah, ya sudah lah... apa arti sebuah nama...
    Chika 0 0
    baru tau kalo momon itu cina...
    Subroto 0 0
    bahwa sebenarnya bangsa ini sedang beranjak remaja. Saat ini kita masih dikategorikan "anak-anak." Jadi jika ada masalah kekanak2an (seperti SARA), itu sebenarnya hanya suatu proses peremajaan (pendewasaan) bangsa ini. Mungkin 10-20 tahun lagi keadaan akan lebih baik. Mungkin sudah tidak ada istilah SARA lagi.

    Bukankan sekarang pun kita sudah masuk ke era globalisasi? Dimana SARA itu tidak diperhitungkan?
    gunawanrudy 0 0
    Btw, China (cai na) itu nggak sesuai kaidah bahasa Indonesia. Tapi CMIIW.

    IMO, pilihannya ada pada "Cina" atau "Tionghoa" doang. Kata "Cina" bagiku terlalu luas maknanya, malah bisa merujuk ke nama negara, RRC. Karena itu aku prefer ke "Tionghoa" karena itu lebih merujuk pada chinese overseas.

    Rasanya dulu ada penjelasan panjang lebarnya di blogku yang lama. Sayang udah kuhapus. Tapi sudahlah, sudah malas mempertanyakan masalah itu. : p
    opiniherry 0 0
    tapi kang, sependek yang saya tahu...kata "cina" masih sering dipersepsikan negatif.
    Masih ada juga teman saya yg keturunan "cina" tidak suka dengan sebutan tersebut. Saya jadi harus hati-hati...
    Pernah saya bercanda sama teman. Dia panggil saya "jawa" dan saya panggil dia "cina". Teman saya sih gak ada masalah karena memang sudah biasa demikian. tapi ternyata koko nya tersinggung...

    tapi saya suka topik ini diangkat...sekaligus penyegaran dari topik PKS dan Pemilu...
    Cheers...
    gunawanrudy 0 0
    Eh, arsipnya ketemu kang.

    Bisa ta rilis ulang di sini sih. Rilis nggak yah.
    memethmeong 0 0
    nenek moyangku cina lho, sumprit.
    namanya aja, the swan nio.
    tapi kenapa sampe aku yg keturunan ke5-nya, ga kliatan cina-nya, malah jawa bgt : ((

    *curcol ga penting*
    krisnov 0 0
    Seo, saya keberatan dengan kalimat "saya menyamakan diri dengan orang asli sini yang jorok, kasar, reseh, tuti, dlsb".

    Tidak semua seperti itu, dimana saja sama, ada yang jorok dan ada yang bersih, ada yang kasar dan ada yang tidak.

    Saya pernah tinggal setahun di TW, banyak juga kok yang jorok, apartemen dan mobilnya...berantakan, kotor, amburadul abis.

    BTT, mungkin mengapa gamang or sungkan, karena takut orang yang disebut sebagai CINA itu justru yang keberatan, karena merasa sudah menjadi asli Indonesia.
    IQB 0 0
    hmmm...sulit lepas tuh pengkotak2an gitu...
    sy rasa smua yg nulis di atas jg masih meng kotak2an..
    mengangap politisi kemungkinan besar busuk, menganggap polisi jalanan pasti korup, anak jalanan sering kriminal, dsb...
    kang tutur 0 0
    @all,
    Streotip itu alami atau sebuah Grand Design, untuk Devide et Imperra?

    Aku juga menemukan celetukan berbau streotip di Betawi, gini:

    Wah, pacar nye Padang?

    Lah, gue... kalo Padang ama uler, Namu bareng. Padang gue ketok duluan.

    Emang Padang lebih bahaya dari pada Ular?
    Sri Kirana 0 0
    krisnov : saya cuma meniru situ kog : p
    Ok, bercanda, tetapi memang yang saya lihat itu kesannya begitu, masyarakat secara umumnya, meskipun yang terdidik juga ada, tetapi kalau jorok, bagi saya yang biasa di Indonesia, agak sulit membiasakan diri dengan kebiasaan orang lokal yang... lebih baik tidak saya bahas. Nanti saya tulis di artikel lain saja : D
    GaraMata 0 0
    Setahu saya cina itu kata makian kang, dulu ada salah satu bloger tionghoa yang memberi tahu.
    Sri Kirana 0 0
    kang tutur : : D
    yang jelas saya pencinta makanan padang : D
    GaraMata 0 0
    eh, crist hu itu siapa ya?
    Sri Kirana 0 0
    GaraMata : maksudnya saya : ) tapi kang tutur tidak memasukkannya dengan lengkap : )
    gunawanrudy 0 0
    GaraMata: sopo ki? : o

    *ngedit naskah lama*
    kang tutur 0 0
    gunawanrudy...
    Kalo dah, jadi Kopas ke Politikana yagh...!

    *ojo mikirin reting... : p *
    GaraMata 0 0
    gunawanrudy : itu mbak hanna, dalam salah satu postingan saya jaman baheula.
    gunawanrudy 0 0
    tenang, kang. ini naskah lama. arsipnya di blog yg lama udah kehapus kok.

    lagi ta edit2 dikit nih. biar lebih objektif. : p
    Mas Paman 0 0
    ya, ya, ya, ya.
    topik ini selalu menarik tapi tak membosankan karena mengajak kita menata kehidupan bersama yang lebih baik.
    http://blogombal.…/02/07/cina/
    kang tutur 0 0
    GaraMata

    Makian atau Pujian itu bisa terasa kok, dari intonasi!

    kadangkala: Jiancux, Kimax, Ngehex dan temen-temennya bisa Terasa sebagai PUJIAN.

    Jadi, thesis, Cina itu Makian. Ditolak!!!
    hamatamu 0 0
    saya lebih setuju tidak usah ada kata panggilan cina, atau tionghoa atau chaina atau singkek, kemarin saya terlibat obrolan yang seru masalah panggilan seperti ini dengan teman-teman. cuma itu cara menghentikannya. titik. kalau anda mau, peduli dan mampu tegur orang lain yang masih menggunakan kata-kata seperti itu untuk menjuluki orang atau bahkan mengejek.

    ya kita semua tahu masalah komunitas dan cara hidup yang mungkin masih tersekat-sekat di berapa tempat, orang-orang yang anda sebut cina mengelompok pada suatu daerah tertentu, tapi apakah etnis lain tidak?
    GaraMata 0 0
    @Kang Mas Udaâ„¢

    Kang anda bisa menolak, tapi bagaimana perasaan saudara-saudara kita yang memahami itu makian? Tidak usah dipedulikan gitu?
    kang tutur 0 0
    Makasih Mas Paman

    Ulasannya, jadi komplit deh...
    Seger, renyah... kriuk-kriuk...!
    Sri Kirana 0 0
    Bagaimana dengan "amoi"? : D
    Bagi saya itu penghinaan berat yang bisa dirajam... : )) (tentu saja ini hiperbola! : D)
    kang tutur 0 0
    hamatamu
    Sebagai Padang, aku juga ngerasaain... kok!

    *ini diposting, guna memcoba mencari solusi, kalau memang tidak bisa mengeliminasi...
    di Amrik sendiri, juga kental (katanya)
    Negro: Resek, bikin rusuh
    Italy: Mafia
    Arab: Teroris
    dst...
    gunawanrudy 0 0
    hamatamu: begitu pula dengan kalangan "chinese overseas" yg tidak lagi menjuluki "native" dengan sebutan Tiko, Fankui, Huana, dll. ; )

    bosen saya sama golongan tua yg mendoktrin anak2nya dengan ajaran begitu. : |
    tapi memang, anak2nya tidak mengalami apa yg dirasakan generasi tua itu sampai segitunya. : ))
    Sri Kirana 0 0
    gunawanrudy : setuju kalau anak2 tidak mengalami apa yang dirasakan generasi tua, mungkin karena ada filosofi ini yang saya dengar dari orangtua saya...
    Begini bunyinya : "Anak yang berada di dalam rumah keluarganya ibarat berada di dalam taman bunga yang indah, terlindung dari dunia luar. Namun lama kelamaan, orang tua akan membiarkan anak-anak tersebut pergi dari taman bunga untuk tumbuh dewasa dan membangun taman bunga lagi untuk anaknya." Jadi sedikit banyak, orangtua menanggung atau memfilter apa yang diterima anaknya : D

    BTW, chinese overseas itu ada termnya sendiri loh di bahasa mandarin : D meskipun saya tidak menggunakan term ini kalau tidak ditanya.

    Tetapi golongan muda memang tidak mengalami masalah diskriminasi parah, dan memang sudah lebih terbuka untuk pluralitas, kalau saya lihat : )
    le thole 0 0
    saya juga chai-na loooh,..
    eh kazakhstan dink! : p
    hamatamu 0 0
    gunawanrudy; yah kesadaran bareng-bareng lah, seharusnya itu bisa terjadi kok. begitu suatu kelompok merasa diterima, mereka bisa mencair. entah benar atau tidak, tapi pem-beda-an ini justru bagi saya terasa kental di jawa.

    di masa kecil saya di pulau di luar jawa, saya sedikit sekali melihat hal-hal ini. saya juga tidak pernah dipanggil huana di rumah orang tua mantan pacar saya misalnya. dan orang yang saya anggap ayah angkat saya malah seorang dokter yang kang tutur sebut cina.
    kang tutur 0 0
    hmm... aku jadi tahu, kalo ada istilah Toku - Fankui - Huana (Ada yang mau menjelaskan istilah itu?)
    Sri Kirana 0 0
    kang tutur dan semua yang tidak mengerti :

    Tiko, fankui, huana = tiga kata ini artinya sama, merujuk kepada suku atau ras di luar HuaYi (Tionghoa peranakan). Yang membedakan hanyalah lafal atau dialek daerah saja. Fankui ini berasal dari warga yang menggunakan bahasa Hakka/Khek yang mayoritasnya di Singkawang. Sementara Huana berasal dari warga yang menggunakan bahasa Hokkian atau Tiociu, hanya saja kalau Tiociu ada sedikit perbedaan lafal dari Hokkian. Kalau tiko... yang ini saya tidak tahu asal katanya, ada yang bisa membantu? : D
    hamatamu 0 0
    Sri Kirana; coba tanya herman : )) *ngakak keras*
    kunderemp 0 0
    Generasi Tua Tionghoa biasanya tidak menyukai istilah "Cina". Selain kental dengan unsur rasisme, lalu kental dengan penghinaan terutama di masa Jepang ( saat itu Jepang sengaja menulis nama 'Cina' dengan kanji lain yang bernada merendahkan), dan dalam sejarah pergerakannya sendiri, mereka menggunakan istilah Tionghoa, misalnya seperti PTI (Persatuan Tionghoa Indonesia) yang didirikan di masa Sutan Sjahrir, atau THHK yang bersaing dengan sekolah-sekolah Belanda dan Muhammadiyah atau tentu saja INTI.

    Generasi muda sendiri tidak terlalu perduli tentang itu.

    Oh ya, sebenernya untuk orang Jawa, istilah "Cino" jauh lebih membumi.

    Mas Suma Mihardja pernah bercanda, kalau hanya karena sentimen generasi tua lalu setiap istilah Cina harus diganti Tionghoa, apakah "petai Cina" juga dipanggil "Petai Tionghoa"? :LOL:
    kunderemp 0 0
    Koreksi bila aku salah:
    Cina perantauan - huaqiao
    atau di versi dahulu - Tang Ren (atau tenglan dalam bahasa hokkien)
    gunawanrudy 0 0
    Sri Kirana:
    Tiko >> 豬哥 Ti Ko (Hokkian) ; )
    Kasar sekali.
    kang tutur 0 0
    Petai TiongHoa? : D

    *jadi laper*
    kang tutur 0 0
    COMMENTS CLOSED

    * mo maghrib, dulu*
    Sri Kirana 0 0
    Benar, tidak salah apabila disebut HuaQiao, tetapi HuaQiao di sini adalah sebuah terminologi yang merujuk kepada orang Cina daratan asli (bukan keturunan) yang merantau ke luar negeri dan masih mempertahankan kewarganegaraannya. Sementara HuaYi adalah sebutan untuk keturunan dari orang-orang Cina daratan yang merantau dan mengganti kewarganegaraannya, terminologi ini memang sering dikaburkan dengan HuaQiao.
    Alderina 0 0
    Saya keturunan CINA : ) tapi saya orang Indonesia : )
    Hedi 0 0
    berarti harus manggil momon dengan sapaan "koko"
    Sri Kirana 0 0
    gunawanrudy : yeap... itu istilah yang sangat parah. Dan jangan pakai tulisan tradisional kenapa? gue gak bisa baca tau! dan gue baru nyadar saat dipindahin ke translator gue...
    arya 0 0
    Hedi
    kata gunawan, nama herman itu a souw
    gunawanrudy 0 0
    Hahaa...
    Itu istilah sebelas-duabelas lah sama zhū gǒu. Selevel parahnya.

    *pake pinyin aja*
    kunderemp 0 0
    gunawanrudy: Waks.. Kasar banget. Biasanya ditujukan pada siapa? (pakai babelfish)
    gunawanrudy 0 0
    arya:
    Woi woi, namanya Ma Oen Souw. : ))

    *seenaknya ngubah nama orang*
    Sri Kirana 0 0
    kunderemp : perlu dijawab ya? : D baca saja bahasan2 di atas, saya sudah mendefinisikannya kog... : )
    Sri Kirana 0 0
    gunawanrudy : itu cara orang singapur manggil, nama belakang doang, ditambahin 'a'
    misal : nama Herman Saksono : ma wen sou => a sou
    nama gue : xu hui ling => a ling
    nama temen gue : huang qing lan : a lan
    dst : )
    gunawanrudy 0 0
    kunderemp:
    Dalam konteks sosialnya kadang digunakan oleh orang-yang-merasa-cina kepada orang-yang-dianggap-pribumi, di Indonesia.

    Zaman saya main game online, sering tuh maki-makian kayak gitu.

    Ex:

    A: dasar lu cina,,,udah pelit, serakah pula mau nguasain game ini!

    B: woi,, ngaca dong lu tiko! dasar bangsa babu

    ---

    Yang di atas cuma contoh. Yang kayak gitu sering saya temui di game online dulu. Whew... Menyedihkan. : (
    gunawanrudy 0 0
    Sri Kirana: udah tau kok, tapi itu arya di milis sebelah tadi mempelintir nama "a souw" jadi a s u. : ))
    Sri Kirana 0 0
    Huadoh _ _"
    jangan begitu lah... nanti perang loh... : p
    Sri Kirana 0 0
    Dan itulah jeleknya orang singapur... manggil nama orang bagus2 belakangnya doang ditambah 'a' doang lagi! Mending kayak orang lokal sini, manggil masih lengkap dari depan ke blakang atau at least dua kata terakhir...
    laind 0 0
    Sri Kirana
    Bukannya diganti a itu menunjukkan keakraban. Seperti memanggil Jamie bukan Mr. Anderson?

    *menurut translation note di komik Ravages of Time sih : p*
    Sri Kirana 0 0
    Ada betulnya, tetapi ini kebiasaan khusus orang SG doang, soalnya saya tidak pernah menemukan hal ini di Cina daratan... maupun teman-teman Korea saya...

    OOT dikit, laind, komik itu bagus ga? kalo lo berpikiran luas, baca komik ini deh, saint young men, di onemanga.com, itu sumpah kocak abis... : D
    gunawanrudy 0 0
    laind: eh ada nama gw http://dnial.word…rongan-lagi/

    : ))

    *dul kaget nama gw masuk remnant warriors gara2 ngereview itu komik*
    gunawanrudy 0 0
    di atas cuman OOT.

    serius dulu.

    Sri Kirana: Ma Oen Souw itu bukan beneran nama Herman Saksono lho, itu cuma karangan gw aja pas di milis sebelah Herman ditanya namanya. : p

    dan mengenai dialog panas tadi... well, itu kenyataan yg terjadi. dan memang MENYEDIHKAN. : ( dan itu keluar dari golongan muda sendiri. membayangkan bagaimana generasi mendatang didoktrinkan seperti itu
    Arten® 0 0
    yang pasti, Made in Bali bukan Made in China.. : D


    *dah telat, gak nyambung lagi*
    kalipaksi 0 0
    aku pernah menulis tentang Tidak Ada Kata Cina di Koran Jawa Pos, di sini:

    http://kalipaksi.…an-jawa-pos/
    Subroto 0 0
    kunderemp: Bangsa babu? Biasanya term ini ducapkan oleh bangsa Malingsia untuk Indonesial

    Beneran bangsa babu!
    dony 0 0
    saya orang Indonesia, orang tua saya orang Indonesia (cina) juga, sebab punya KTP Indonesia (keturunan)
    kang tutur 0 0
    emang ditandain gitu KTP nya bung dony?
    Sri Kirana 0 0
    gunawanrudy : soalnya anak muda tidak semua berpikiran luas. Tidak semua pergaulannya luas. Tidak semua berpandangan ke depan. Dan tidak semua orang tuanya demokratis dan tidak menerapkan sistem "play victim" tersebut. Sistem play victim itu saya rasa tidak dapat dihapus dengan mudah, pasti terbawa. Terutama dengan kerusuhan Mei 98, play victim itu masih akan terus berlanjut. Sampai kapan, saya tidak tahu. Tetapi tindakan nyata sangatlah diperlukan untuk menyadarkan orang-orang seperti ini. Kalau ini rasis.
    Boy Avianto 0 0
    Bicara ras memang absurd ya? Saya sering bilang, di Indonesia, jangankan beda ras, beda suku (padahal kulit sama-sama coklat, rambut hitam, mata hitam) saja bisa berkelahi 7 turunan... apalagi beda ras.

    Parahnya mayoritas rakyat Indonesia hidup di daerah yang homogen... jadi cenderung xenophobic : (
    GaraMata 0 0
    Soedibjo Avianto

    Pembaurannya kurang ya? Jadinya tidak bisa belajar untuk bertoleransi dalam kehidupan sehari-hari.
    Boy Avianto 0 0
    GaraMata bisa jadi, harus diakui kemampuan toleransi bangsa ini rendah sekali : (
    Lantip 0 0
    GaraMata kalau saya gak salah ingat, ini memang warisan sejak jaman penjajahan. 350 tahun budaya itu terbentuk hingga ke anak cucu. Dan ditambah 32 tahun penganaktirian dan penganakemasan di sisi lain oleh suharto ikut pula menyumbang.

    Contoh bentuk lain yang cukup nyata adalah di daerah Maluku. Bukan antar etnis sih, tapi antar agama. Kampung bisa terbelah dengan nyata, ada sirisori kristen ada sirisori islam, sampai sekarang.

    Mengubahnya? Ya melalui budaya lagi. Lama? tentunya!

    *eits OOT neh komentar*
    biar gak oot, saya tambahi: yoi yoi, herman saksono itu cina, keturunan yunan, wangsa pithecantropus : p
    GaraMata 0 0
    iya, euh, warisan jelek yang terus dibawa. Paling nyata adalah di daerah asal saya, di setiap sekolah negri dipastikan sangat sedikit ada orang tionghoanya. Dari 200 siswa satu angkatan, paling ada 2-3 orang. Bahkan kadang ada angkatan yang tidak ada etnis tionghoanya. Pembauran macam apa diharapkan dari hal itu coba? Entah jika jaman sekarang, apa masih begitu.
    kang tutur 0 0
    Apalagi kalo udah urusan kawin?
    Sunda maunya Sunda, Jawa maunya Jawa, Minang maunya Minang, Batak juga, Cina juga, Arab juga, apa saja juga...
    Mestinya, yang kaya kawin dengan yang miskin, yang raja dengan yang jelata ... dst

    klo gak kapan, mbaurnya?

    *sebab perkawinan, jalan pembauran paling elegan menurutku*
    aditya sani 0 0
    eh Saya cina tapi ndak disebut..huh.
    Sri Kirana 0 0
    aditya sani : minta kang tutur editin... : D
    gunawanrudy 0 0
    *serius*


    Lantip:
    [...] ini memang warisan sejak jaman penjajahan. 350 tahun budaya itu terbentuk hingga ke anak cucu. Dan ditambah 32 tahun penganaktirian dan penganakemasan di sisi lain oleh suharto ikut pula menyumbang. [...]


    Saya jadi ngeri membayangkannya... Jauh setelah Chineezenmoord (peristiwa pembantaian 1740), warga keturunan Tionghoa mulai diposisikan berbeda dengan pribumi nusantara. Orang Tionghoa yang kebanyakan pedagang dan pebisnis mulai meningkat derajatnya, sehingga golongan Timur Asing dan Inlander diberi perlakuan yang berbeda.

    Belanda menjual berbagai macam hak pengelolaan jalan tol, candu, rumah gadai, dan lain-lain kepada orang Tionghoa. Sementara kepada Inlander diberikan hak-hak yang sangat terbatas. Ini mau tidak mau menimbulkan rasa iri dan dengki kepada pihak yang dimarjinalkan. Karena perlakuan istimewa dari Belanda itulah akhirnya golongan Tionghoa, beberapa diantaranya menjadi sangat kaya atas perlindungan penguasa, kedudukan ekonominya cukup mapan, namun dibenci oleh rakyat pribumi, serta kegiatan ekonomi kalangan Tionghoa juga menguntungkan bagi penguasa.

    Orde Baru pun mengikuti skenario pemerintah Hindia-Belanda ini, antara lain dengan perlakuan istimewa kepada segelintir orang Tionghoa yang sukses dalam bidang ekonomi. Ironisnya penguasa yang memberi perlakuan istimewa kepada segelintir (tidak semua) orang Tionghoa tersebut menjadikan Tionghoa sebagai ‘perisai’ atau ‘kambing hitam’ disaat terjadi kerusuhan menentang penguasa. Kerusuhan Kudus 1916 (masa pemerintahan Hindia-Belanda) dan Mei 1998 mencatat hal ini, ketika kemarahan rakyat kepada penguasa kemudian 'dialihkan' ke kalangan Tionghoa. Romo Sindhunata menceritakan dengan ciamik skenario ini secara tersirat lewat bukunya, Putri Cina.
    ndarualqaz 0 0
    Aku JAWA, tapi pacarku yang paling cakep namanya Tian Wei Ling...

    *hiks hiks... dimana dirimu sekarang*
    DV 0 0
    IMHO, sekarang cina - pribumi bukan issue utama deh, yang terutama justru muslim - non muslim : )

    Btw saya kaget, emang Herman Saksono cina? : )
    arsyani 0 0
    Arab Cina Eropa Hindia
    kalau disingkat huruf pertamanya jadi apa, Hayo??? : D
    Dony Alfan 0 0
    Antara Orang Cina atau Chinese, dan Saya Yang Bukan Keduanya: http://tinyurl.com/cfo5mv
    HTN 0 0
    busyet ternyata Christy Xu temen gw chatting itu terkenal..wow wow..minta tanda tangan!! : ))
    Sri Kirana 0 0
    HTN
    Buka japri, lanjut di sana aja...
    HTN 0 0
    Sri Kirana: anda siapa ya?
    ki baraja 0 0
    gempaaa !!!

    Silahkan login untuk memberikan pendapat