Menggunakan Jalan Demokratis untuk Membunuh Demokrasi 29
Rabu, 15 Apr '09 16:24
Iya, ya. Ini pasti sebuah sesat pikir, tapi entah termasuk kategori yang mana. Kalau orang boleh menggunakan jalan demokratis untuk membunuh demokrasi, berarti ada juga kebalikannya. Yaitu membunuh unsur demokrasi atas nama keutuhan demokrasi.
Untuk contoh yang kedua, saya ingat gagasan yeng beredar setelah Soeharto jatuh: bekukan (bahkan bubarkan) Golkar selama sekian waktu demi kelancaran proses demokratisasi. Lho demokratisasi dimulai dengan membungkam sesuatu yang berbeda?
Untuk contoh pertama, seperti dinyatakan oleh judul? Maaf, berhubung saya malas dan miskin rujukan, maka saya tak menampilkan contoh-contoh historis untuk bukti. Padahal kata orang pintar, contohnya ada.
Saya hanya ingat obrolan tak mutu saya dengan seseorang, temannya teman, ketika saya masih remaja.
"Kalo aku jadi presiden, semua harus nurut aku dan caraku. Yang nggak setuju aku masukin penjara. Atau aku usir dari Endonesa!" kata anak yang selalu bersemangat itu.
Saya pun bertanya dengan cara apakah dia jadi presiden?
Jawabannya mantap, dan kalau saya rumuskan sekarang jadi begini bunyinya: dengan cara demokratis, melalui cara yang simpatik, mengikuti kepantasan yang dirujuk banyak orang, tapi setelah dia mendapat mandat maka akan menyenyahkan apapun yang berbeda...
Itu memang obrolan tak mutu antarremaja naif. Waktu itu saya belum bisa merumuskan kegalalaun dengan kalimat yang manis. Saya hanya bisa bilang, "Oh, kalau begitu asal dapat suara terbanyak lantas dikasih kekuasaan kita boleh semaunya ya? Termasuk menghambat orang lain yang bisa menggantikan kita?"
Saya ingat jawabannya, "Lho kita kan melakukan itu melalui cara demokratis. Ya boleh to?"
"Menggunakan cara demokratis tapi kemudian membunuh demokrasi, anggap saja genting apa darurat itu ndak ada selesainya?"
"Ya salah sendiri kenapa sediakan jalan demokratis buat kita?"
"Walah kok seperti kita dikasih masuk ke sebuah jalan tapi habis itu jalannya kita palang supaya orang lain nggak bisa pakai."
"Lha salahnya sendiri kenapa kita dikasih?"
"Wah kalo gitu demokrasi itu salah, gitu?"
"Iya salah."
"Tapi sudah tahu salah kenapa kamu pakai?"
"Soalnya menguntungkan."
"Menghalalkan segala cara itu!"
"Kok menghalalkan to? Kita ini justru memghormati orang lain dengan cara mengikuti aturan mereka. Setelah kita masuk ke rumahnya lalu penghuni yang ndak cocok sama kita itu kita usir. Yang kompak sama kita ya jadikan teman, boleh makan terus sampai kenyang."
"Wah curang! Itu mau menangnya sendiri!"
"Ndak curang! Mosok menang bareng-bareng? Ndak mungkin. Kamu ini tahu yang namanya strategi dan taktik ndak?"
"Ndak."
Kami pun tertawa bersama.
Ternyata sampai sekarang saya masih naif. Adapun si entah siapa itu di mana sekarang. Pasti dia sudah menjadi cerdik-cendekiawan –– setidaknya kecerdikannya bertambah terus. Saya ingin berguru kepadanya.
Siapa tahu dia bisa menjelaskan maksud George Orwell dalam Animal Farm yang dialihbahasakan oleh H. Mahbub Djunaedi menjadi Binatangisme. Ada yang bilang, buku lucu itu mengajarkan cara memanipulasi kekuasaan atas nama kebaikan bersama.
Tag: demokrasi, demokratisasi, animal farm, manipulasi kekuasaan, george orwell, tirani, mahbub djunaidi
Terkait:
-
Demokrasi Yang Kian Menghasilkan Buah
Jumat, 24 Apr '09 18:52 -
Demokrasi Milik Siapa: Kembalinya Demos dalam Demokrasi
Kamis, 18 Mar '10 12:13 -
Menukar Kebebasan dengan Keamanan Semu
Jumat, 5 Mar '10 21:48
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
paquin: Menarik
-
Sri Kirana: Menarik
-
GaraMata: Bagus
-
yusro: Bagus
-
Reinhart Velatrache: Inspiratif
-
Subroto: Inspiratif
-
hamatamu: Bagus
-
gunawanrudy: Menarik
-
Apprayo: Bagus
-
laind: Inspiratif
-
Logical Fallacy: Lucu
-
pico: Bagus
-
Lantip: Inspiratif
-
Xaliber von Reginhild: Menarik
-
Upik: Bagus
-
Muda Bentara: Bagus
-
Catshade: Keren
-
AndyMSE: Bagus
-
Bung Ajo: Menarik
-
Alex©: Menarik
-
kak inco: Inspiratif
-
Dony Alfan: Lucu
-
indira: Menarik
-
LCFR: Bagus



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
wah, atau sudah?
Eeeh, tapi nanti para pengikut HTI copas loh caranya?
HTI punya cara sendiri yang dicontohkan oleh Rasul MUhammad SAW.
*noleh kanan kiri, nyari Herman Saksono"
-- masih ada dialog, musyawarah untuk mufakat, diplomasi.. terlalu mulukkah?
Memangnya demokrasi pemilu doank?
Anda bisa bilang dan mengusulkan di depan umum soal mengganti sistem pemerintahan dan tidak ada pasukan bersenjata lengkap menangkap anda pada esok harinya adalah bagian dari demokrasi. Namanya, kebebasan berbicara.
Try that in China, and see what happen. >
pak buk pak!
jadi inget sebuah cerita lama tentang sebuah negri, entah cina entah jepang, dimana awalnya kekuasaan itu bukanlah tujuan. kekuasaan semata-mata mandat dan membebani, sehingga dua keluarga yang sudah bersepakat bergantian/giliran berkuasapun pada akhirnya malah bergiliran menolak/menunda giliran. hingga kemudian muncullah ide bahwa "kekuasaan itu capital" dan blam.. muncullah dinasti
Kangen sama HTI ya mbak ?
@ Dana
mank selain pemilu apalagi bang ?
@ dnial
indonesia bukan negara komunis kan mas ? di cina itu gak make perang pemikiran kan ?
apakah umat muslim sama seperti budha ? ooo tidak tentunya kan ...
salam kenal mas
bukan cina maksudnya
Itu, kebebasan berbicara dan berorganisasi yang dinikmati oleh HTI.
"Itu, kebebasan berbicara dan berorganisasi yang dinikmati oleh HTI. "
setahu saya, di negara monarki dan otoriter sekalipun HTI itu tetap ada mas, kalau ndak salah udah lebih 60-an negara tuh .
*berharap dihujat banyak orang*
Saya bicara di Indonesia mas, itu buah dari demokrasi. Tapi saya tidak menyebutkan, bahwa di sistem lain HTI tidak akan mendapat perlakuan yang sama dalam demokrasi. Intinya kebebasan bersuara dan berorganisasi di Indonesia itu ya buah dari demokrasi.
# setahu saya, di negara monarki dan otoriter sekalipun HTI itu tetap ada mas, kalau ndak salah udah lebih 60-an negara tuh .
=====
Oh ya. Mereka kan belum mencoba seekstrim Ikhwanul Muslimin di Mesir jaman Anwar Sadat dulu. Masih adaptasi dan lihat-lihat utk "makar" terang-terangan.
Dan paradoks (cocoknya hipokrit, malah) dari HT ya itu: yel-yel bahwa sistem baru harus didirikan, demokrasi harus ditumbangkan, tapi justru berkembang-biak dalam demokrasi itu sendiri. Dalam hal negara otoriter dan monarki, ini berbenturan dengan klaim bahwa kekuasaan tertinggi ada di tangan Tuhan. Untuk apa patuh pada monarki? Apa Islam itu kerajaan?
Persoalan kita adalah: apapun nama dan jenis sistem di luar demokrasi itu, yang dicapai melalui jalan demokratis, masihkah menyisakan tiket buat kembali ke demokrasi?
Jangan-jangan hanya ada karcis sekali berangkat, tak ada jalan pulang, karena baru usul sudah dibunuh.
tapi kita bisa bersama-sama membangun negeri ini...
itu inti demokrasi!
Tapi kalo contoh yang diambil sama sodara Mas Paman: repot juga. Ntar malah jadi seperti presiden antah brantah yang pernah membubarkan MPR-DPR dengan dekrit dan bilang, "Negara adalah saya".
*nyambung ndak ya
Silahkan login untuk memberikan pendapat