Tersesat Politik di Negeri Politik*** 43

Sabtu, 18 Apr '09 00:12, dibaca 77 kali

Membicarakan politik sungguh menggoda. Apalagi, secara naluriah, nyaris setiap hari kita selalu berhubungan dengan soal-soal yang berkaitan dengan hak-kewajiban sebagai warga negara. Sebab dikaruniai syahwat, kita begitu mudah tergoda pada apa saja, baik yang kasat mata maupun yang imajiner, dunia angan.

Seperti umumnya naluri yang dimiliki manusia normal, pemilu dan contreng-mencontreng bagai makhluk yang membuat kita mudah (maaf) horny. Syahwat lupa dikelola, sehingga kita jadi lupa memilih dan memilah mana yang sesungguhnya perlu dan penting untuk perbaikan kualitas hidup dan kehidupan kita, kini pun kelak.

Mencontreng, memaki/menyanjung Megawati, SBY, Prabowo dan partai-partai mereka menjadi topik paling dominan, tak cuma di Politikana, media-media mainstream dan tak ketinggalan: blog. Padahal kita tahu, kita bisa berubah atau juga stagnan ada atau tanpa mereka. Mengapa, misalnya, kita tak menggugat hak-hak kita, yang lebih menjamin masa depan bersama: entah lingkungan kita atau Indonesia?!?

Mungkin, sebagian besar dari kita sedang punya problem pribadi sehingga butuh 'katarsis' seadanya, sebuah escapism demi sejenak (jangan-jangan permanen) melupakan persoalan yang membelit keseharian dengan cara-cara eksibisionis menyodorkan teori-teori serta mencomot 'fakta-fakta' yang didapat dari situs-situs koran ke dalam sebuah artikel yang diposting di media terbuka semacam Politikana. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, sambil lari dari persoalan, siapa tahu bisa menangguk ketenaran dan berhadiah Pamor!

Wahai teman-teman, apakah yang akan Anda lontarkan setelah pemilu usai pekan-pekan depan nanti?

Saya kok ragu, Anda sekalian -para warga ber-Pamor tinggi, masih akan hadir di sini. Bukan sebab keterbatasan akses internet atau persoalan hidup Anda berakhir bahagia. Lebih dari itu, Anda sekalian justru kelu akibat alpa: bahwa dari setiap kewajiban yang Anda tunaikan dalam membayar pajak (yang tetek bengek dan seabrek banyaknya) itu, sejatinya menyembulkan hak yang sewaktu-waktu bisa Anda runut, lalu dijadikan sebagai bahan untuk menuntut.

Kita punya hak atas air bersih, lingkungan yang nyaman, fasilitas jalan raya yang tak compang-camping. Bahkan, hak untuk tidur nyaman pun bisa kita tuntut bila ternyata polisi yang digaji dengan duit pajak rakyat, bekerja ala kadarnya. Untuk terbebas dari rasa was-was saat memarkir motor atau mobil di ruang-ruang publik pun, rupanya kita masih abai.

Mari, kita diskusikan hal-hal yang mungkin masih dianggap remeh-temeh oleh sebagian dari kita. Percayalah, mendiskusikan para caleg, petinggi partai, calon presiden dan sebagainya itu hanya membuang-buang waktu saja. Percuma! Toh, paling banter kita cuma bisa nyukurin ketika mereka berubah status menjadi gila lantaran gagal mewujudkan ambisi dan obsesinya.

Wis, to..... Politik itu bukan semata-mata menyangkut partai politik dan politisinya. Mereka hanya sampah politik ketika gagal membuat policy yang menyejahterakan warga negaranya.

Mari, hentikan memahami politik hanya sebatas orang dan partainya. Politik itu menyangkut hak dan kewajiban negara, penyelenggara negara, instrumen politik dan sebagainya. Kembalikan politik pada hakekatnya, yaitu publik dan policy. Bukan politics, politician...... Dan, entah apa lagi (tapi terserah Anda juga, sih...)

Saya cuma kuatir, sebagian Anda tersesat di sini, dan tersesat memaknai 'politik'. Selamat menikmati ketersinggungan.....


Tag: Pemilu, SBY, politikana, politik, Prabowo, megawati, policy

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kang tutur 0 0
Mantaps!
Aku orang yang pertama tersinggung, ; ))

*kritik anda tentang Pamor, di Politikana patut dipertimbangkan Admin..., tagnya itu berat loh, TERPUJI...!*

**usul, sebaiknya diganti TERAKTIF...**
kak inco 0 0
di sini banyak juga lho tulisan-tulisan tentang "politik ringan" : )
samsara 0 0
Sepakat, membahas elit yg sudah kadal luarsa itu memang buang waktu (*buang duid juga, bayar warnet mahal euy, hehe*).

Mari membuka wacana, orang-orang biasa menjadi luar biasa bung!
Wonggantenk 0 0
Great posting......I do agree
kang tutur 0 0
[... Percayalah, mendiskusikan para caleg, petinggi partai, calon presiden dan sebagainya itu hanya membuang-buang waktu saja. Percuma! Toh, paling banter kita cuma bisa nyukurin ketika mereka berubah status menjadi gila lantaran gagal mewujudkan ambisi dan obsesinya....]

*melihat kedalam diri, malu hati*
Blontank Poer 0 0
para politisi itu paling senang justru ketika kita asyik mengotak-atik politik, apalagi kalau pakai mistik. senang, sebab kita lupa memperhatikan sepak terjang mereka, juga perilaku korup mereka.

gak usah jauh-jauh, deh. kita masih ingat tragedi Situ Gintung. bahwa masyarakat di sekitarnya punya kontribusi kerusakan, jelas iya. tapi, apa yang sudah dilakukan para aparatur negara, yang telah menelan makanan hasil pembelian dari uang pajak kita?

belum soal utang luar negeri yang digunakan untuk membiayai pembangunan dan perawatan waduk-waduk. utang berbunga, beranak-pinak dan yang menanggung adalah anak-cucu kita kelak.

kalau hanya diam, alangkah bodoh dan dholimnya kita.........
Haris Firdaus 0 0
pengingatan yang berharga pak blontank. tapi membicarakan caleg dan politikus besar jg menjadi hak yg sah tiap warga negara. apatah pembicaraan itu akan ngaruh pd mereka ato tidak, ya tak perlu kt ambil peduli. he2.
memethmeong 0 0
kembali ke pertanyaan saya : apa sih hakikat politik itu?
http://politikana…itik-itu-apa

IMO, politik itu emang sudah seharusnya bersinggungan ke segala aspek kehidupan, krn ada hakikatnya, politik utk kemaslahatan umat.

jadi ngomongin politik ga melulu ngomongin pemilu dan caleg capres, tp juga ngomongin soal pendidikan terjangkau tuk rakyat, kesehatan murah utk rakyat, air bersih tuk rakyat, hutan tropis, sampah, dll.

seperti aku pernah komen di mana itu, jikalau mo kasi pendidikan politik utk rakyat, IMO, penekanan utk SAY NO TO IGNORANCE.
ketika melihat tetangga ga bisa makan krn penghasilannya cuma 3rebu rupiah utk sekeluarga, ketika ada bayi yg gizi buruk, ketika sampah menumpuk di kali, ketika ga bisa nikah krn beda agama, dll...

: )
mira mulia 0 0
saya sambut ajakan blontank...
mari kita diskusi tentang topik2 kongkrit yang langsung terkait dg kepentingan kita sehari2.
kita kubur dalam2 diskusi2 soal parpol, tokoh, dan sistem (khilafah) tai kucing itu yg cuma menghabiskan naluri onani kita!
GaraMata 0 0
Semua orang ada bagiannya masing-masing. : D
kang tutur 0 0
Aku suka cara GaraMata "menggoda"

*angetin, lageee...* ; ))
Dony Alfan 0 0
Haha, benar2 diskusi wedangan yang inspiratif, bukan? Yuk, nyruput teh lagi : D
Blontank Poer 0 0
inspiratif? maksude piye?
Dony Alfan 0 0
Bahkan memutuskan untuk tidak berpolitik pun sebenarnya kita sudah mengambil sebuah keputusan politik.
PS: Sugeng ndalu, man. Kok belum pulang? : D
Dony Alfan 0 0
Lha bubar caturan ning wedangan, terus iso dadi bahan posting : D
Leksa 0 0
saya sih santai saja...
apa yang rame dan menentukan hajat kita semua di pekan2 depan dengan momentum sekarang? ya Pemilu ini. Sah saja kita berbicara soal ini dan meramaikannya sekarang. Itu bukan hal berat, dan bukan pula remeh temeh...

Say percaya jika pun saya tersesat dsini, maka akan banyak rekan2 di politikana bisa menyarankan jalan keluar,.. ; )
Herman Saksono 0 0
Kalau saya memang percaya kalau perubahan yang besar dan menyeluruh atas negara ini tergantung kepada pemimpin yg kita pilih. Bagaimana wajah negara ini tanpa Sukarno, Hatta, Soeharo, Megawati, SBY?

Tentunya saya tidak menafikan pentingnya politik dalam skala mikro. Cuma saja politik dalam skala makro dan mikro sama pentingnya.

Di politikana memang terlalu banyak artikel dalam skala makro. Tidak perlu dikurangi, cukup diimbangi saja.
mr_revois 0 0
mendiskusikan para caleg, petinggi partai, calon presiden dan sebagainya itu hanya membuang-buang waktu saja. Percuma! memang kalau kita melihat dari kaca mata politik sekuler..berpolitik sekuler pada hakekatnya hanya demi kepentingan kekuasaan dan kepentingan diri dan partainya tapi ketika kita menegok kepada politik islam maka politik adalah bagian dari sebuah sistem yang sempurna yang akan memberikan kedamaian tidak hanya bagi umat islam tetapi juga kpd non islam..cobalah anda baca literatul2 tentang politik islam dimasa lalu..bagaimana kemiskinan adalah hal yang langka, tidak sperti sekarang ini kemiskinan bejibun dimana2, tidak hanya di indonesia tetapi didunia pengusung politik sekulerpun kemiskinan rupanya sudah menjadi hal yang mengkhawatirkan..
nicowijaya 0 0
setuju dengan ini pak, "Kita punya hak atas air bersih, lingkungan yang nyaman, fasilitas jalan raya yang tak compang-camping. Bahkan, hak untuk tidur nyaman pun bisa kita tuntut bila ternyata polisi yang digaji dengan duit pajak rakyat, bekerja ala kadarnya. Untuk terbebas dari rasa was-was saat memarkir motor atau mobil di ruang-ruang publik pun, rupanya kita masih abai."
AndyMSE 0 0
Lihat FAQ:
T: Apa itu Politikana.com?
J: Politikana.com adalah situs tentang politik pertama di Indonesia yang mengimplementasikan prinsip Web 2.0....
TUIIIING.....
Sepertinya di sini belum tuntas apa itu politikana, maksud dan tujuannya, dlsb...
Hoi admin!!! piye kih??
DIARRRRR...

AndyMSE 0 0
preketek...reketek...
"Kembalikan politik pada hakekatnya, yaitu publik dan policy. Bukan politics, politician......"
DIARRRR....
Nyatanya tulisan yang laris manis selalu tulisan yang "ngrasani" poli tikus...
Blontank Poer 0 0
Safria Andy: biarin aja kalau sukanya di situ... apalagi, bila taunya baru itu. hidup kalau sudah nyaman, ngapain mikirin hak? wikikikikk...

kan emang ada perbedaan jelas, antara rakyat dan warga negara, to?
AndyMSE 0 0
Blontank Poer: kalau hidup sudah nyaman, enaknya memang mengkonsumsi infotainment... nah... sepertinya infotainment untuk politikus ya politikana ini : D
*saya rakyat wae ah*
Wonggantenk 0 0
ha ha ha ha (ngakak baca komen om AndyMSE)
Blontank Poer 0 0
Andy rada wagu! Mbok jangan subversif....
Marissa 0 0
Blontank Poer mau cari masalah sama politikna atau sama siapa???
andyanto 0 0
artikel di politikana seringkali merupakan cuplik sana cuplik sini yang anehnya sumbernya dari internet juga.
bikin sebel, kalau cuma begitu kan lebih baik baca dari sumbernya, ngga perlu politikana, kecuali namanya diganti cuplikisana :lol:
andyanto 0 0
artikel di politikana seringkali merupakan cuplik sana cuplik sini yang anehnya sumbernya dari internet juga.
bikin sebel, kalau cuma begitu kan lebih baik baca dari sumbernya, ngga perlu politikana, kecuali namanya diganti cuplikisana :lol:
GaraMata 0 0
Ini kok jadinya serasa terlalu banyak tuntutan ya? Jadinya mau nulis artikel jadi pada takut-takut. Entar kalo bikin yang gini takutnya mengganggu perasaan si anu, kalo yang gongo mengganggu perasaan si ono.

Maka saya sarankan, jika anda tidak suka pada topik tertentu, ya perbanyak donk tulis artikel dengan topik yang anda suka. Beres kan?
Blontank Poer 0 0
Marissa: sama kamu juga boleh. aku berani kok.... : p
Blontank Poer 0 0
walah-walah.... gimana mau kelai... Marissa gak tampak mukanya, gak berani pasang avatar. ngakunya jakarta. jangan-jangan cuma Marissa jadi-jadian?!?

@Dana: sepenuhnya setuju. makanya, saya sedang belajar kepada Anda untuk bisa menulis yang topik beragam dan semoga asyik. tapi saya masih belajar menulis, harap dimaklumi kalau ada salah-salah kata. yang jelas, Marissa wagu!
gaplehExtreme 0 0
kembali ke KKN POLITIKANA, piye sido ora Mas, Mba?
http://politikana…litikana-com
Ndoro Kakung 0 0
aku tak sabar menunggu tulisan mas Blontank Poer ingkang mbois berikutnya. misalnya tentang nasib para seniman solo pasca pemilu 2009
dhruva 0 0
ooohhh jadi gini ya dunia politik?
denologis ybs 0 0
wadoh, kok salah pencet sih. pas ngrating tadi maunya Inspiratif eh salah Biasa. : )

anyway, saya juga bertanya pada diri saya sendiri. mau aktif di Politikana ndak?
AndyMSE 0 0
Ndoro Kakung: kenapa harus dikaitkan dengan Pemilu 09?
Ndoro Kakung 0 0
AndyMSE, halah dibahas. itu kan cuma misal
tikabanget 0 0
masalahnya memang yang lagi hips itu pemilu.
nanti abis pemilu, pasti ada berita baru lagi yang hips untuk dibahas.
un-own 0 0
uhuy
racheedus 0 0
Kayaknya ngajak mundur ke belakang, nih. Duduk manis seperti zaman Orde Baru. Tidak boleh protes.
boiga 0 0
wah, seru ini.. pengingatan yang sangat positif.. tapi saya suka komen Dana, kita imbangi saja, toh bahasan otomatis menjadi beragam dan kreatifitas semakin berkembang... hehehee... sok bijak..
Mone Thamrin 0 0
Keren...maju terus Tank..
HP 0 0
Pamor = Karma di plurk.com ya? Kapan ya sampai nirwana, eh istana?

Silahkan login untuk memberikan pendapat