Siswa tak Lulus? Walkot Bekasi akan Mencopot Kepsek! 42
Selasa, 21 Apr '09 12:40
Ujian adalah jalan searah menuju lulus -- tanpa putaran U pula. Bukan penyaringan. Maka Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad pun mengancamkan pencopotan kepala sekolah negeri jika ada muridnya yang tak lulus ujian nasional. Pak Wali punya target: 100 persen siswa Bekasi lulus. Nah, dari yang lulus itu kalau berasal dari sekolah yang punya kelas internasional harus diterima di PTN bonafide. Demikian laporan Koran Tempo.
Lucu? Konyol? Ambisius? Menyedihkan? Aneh? Absurd? Silakan Anda timbang.
Tak ada yang salah dengan target dalam urusan tertentu, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Tetapi jika menyangkut pendidikan, padahal sekolah bukanlah pabrik, mematok target seyogyanya tak sesederhana menentukan jumlah produksi keripik tempe dan tingkat ke-laku-an eh penjualan.
Memang, pemkot ikut mengongkosi pendidikan, namun itu tak berarti bisa main genjot semaunya tanpa melihat dimensi yang lebih luas. Jika prosedur dan kepantasan jalan mencapai impian tak ditata sejak awal, padahal target kadung terpatok, maka kecenderungan untuk mencari jalan pintas adalah sebuah kemungkinan.
Lihatlah kasus-kasus yang dulu terjadi, semata agar target tercapai, agar konduite guru terjaga, agar orangtua siswa tidak gusar. Hasilnya koreksi rumus kelulusan (supaya lebih banyak yang lulus), contekan, pembocoran, bahkan koreksi jawaban oleh guru. Salah satu catatan lama soal itu ada di sini.
Sekian lama kita diformat bahwa lulus itu prestasi dan tak lulus atau tak naik adalah aib. Jika itu terjadi pada sekolah negeri, ketidaklulusan berarti pengkhianatan terhadap setoran pajak rakyat. Para guru akan diperlakukan sebagai semprul sontoloyo yang menghambat kemajuan.
Sebagian (besar) orangtua juga tak pernah disiapkan untuk menerima ketidaknaikan maupun ketidaklulusan. Tak naik atau tak lulus adalah alasan untuk murka, sama seperti ketidakpuasan terhadap bengkel las yang bikin pagar dengan hasil tidak siku.
Memang, sebuah ketertundaan kelas berarti biaya. Tetapi di luar biaya (yang memang berat) adalah penyiapan soal kualitas manusia. Ini tak sesederhana, "Biarlah mepet terus nilainya, bahkan anak saya pindahkan ke sekolah ecek-ecek biar selalu naik kelas, dengan begitu perkembangan jiwanya bagus karena dia selalu mengalami hal positif..."
Setiap orang butuh tangga ke surga. Kalau bisa tangga lipat aluminium pendek yang gampang diperoleh di mana-mana. Bahkan bisa dicangking ke mana pun sambil membonceng motor.
© Ilustrasi: www.socialistunity.com
Tag: bekasi, ujian, wali kota, mochtar mohamad
Terkait:
-
HKBP BERTANYA KEPADA PEMERINTAH
Kamis, 7 Jan '10 10:37 -
Mencegah Pro Dan Kontra Keberadaan Patung Obama
Selasa, 15 Des '09 10:34 -
Blogger Bekasi Peduli Aids
Senin, 30 Nov '09 05:34
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Catshade: Penting
-
Herman Saksono: Menarik
-
denologis ybs: Inspiratif
-
Sri Kirana: Penting
-
GaraMata: Penting
-
hersamin: Menarik
-
Red-White Porridge: Menarik
-
yusro: Penting
-
Lemon S. Sile: Penting
-
C e l o: Penting
-
gunawanrudy: Penting
-
Logical Fallacy: Penting
-
Harrie: Menarik
-
samsara almeida: Penting
-
Haris Firdaus: Lucu
-
Gagah Putra Arifianto: Penting
-
ndarualqaz: Lucu
-
eshape: Penting
-
kak inco: Penting
-
uceenk: Penting
-
AndyMSE: Menarik
-
K. Lensa: Lucu
-
Upik: Bagus
-
Yudiantoro: Penting
-
hamatamu: Penting
-
mataharitimoer: Menarik
-
HTS: Penting
-
babyloniamaria: Biasa
-
Knalpot Putih: Penting
-
indira: Penting



Budi Agus Riswandi SH. M.Hum., Kepala Pusat Studi Hak Kekayaan Intelektual UII

Komentar:
Coba paman ke hotel horison bekasi.
pada waktu-waktu tertentu bapak walikota mengujungi kamar tertentu dihotel tersebut untuk pesta [sensor].
*warga bekasi
Namanya juga orang gaul, orang radio
ada paman, tampaknya pas die ngomong mau mencopot kepsek itu masih "on".
hipokrit banget tampaknya m2
btw, sawung ada barang gak?
*jangan2 krn dia punya anak yg ikutan UN*
gak ada paman, jeksanya lagi diawasi
omong-omong tentang sepak terjang M2 kemaren pas pemilu guru bantu di bekasi paksa memilih salah satu parpol sama M2 kalo mau diangkat, diceritain si ibu yang jadi kepsek.
Kalo saya sih lebih yakin bahwa semua yang lulus itu mungkin cerdas, dan yang pasti, beruntung; sementara yang tidak lulus itu belum tentu tidak cerdas, dan mungkin kurang beruntung.
Soal ancaman begini saya membayangkan ada cara yang bisa ditempuh kepsek untuk siswa2 yang diperkirakan tidak lulus. Dilakukan sebelum siswa mengikuti ujian. Tapi terlalu absurd
Kembali ke iklan deterjen aja deh, "gak ada noda gak belajar" namanya siswa masih dalam proses belajar ya kenapa harus malu kalau gagal?
For the better future!!! Masa udah 2009, masih ada aja yang nggak lulus. Negara apa ini!!!
kalo UN model kek sekarang berarti hampir semua kepsek masuk penjara dan tidak lulus kan bukan kriminal. sekarang mah sekolah mau ga naikin kelas aja mikir jatah kursi diangkatan bawahnya masih ada atau engga. kalo ga ada sekolah mikir juga ga naikin seorang anak, mau ditaruh dimana coba anak itu. mau ga pemerintah nambah kursi buat si anak tidak naik kelas.
saya dan kawan-kawan (leksa juga ikut) pernah mengurusi anak-anak yang tidak lulus UN. wedew repotnya minta ampun. anak-anak tersebut dari keluarga tidak mampu dan berasal dari sekolah gurem yang kemudian bubar
Tapi kalau dia cuma mengancam doang, itu kurang adil.
Nanti tiap tahun KEpala Sekolah kehilangan pekerjaan terus.
Sebetulnya kalau ingin meluluskan UAN 100%, pendidikan sekolah harus diterapkan dengan benar sejak kelas 1.
Negara harus memberi dana cukup kepada sekolah supaya seorang siswa terdidik dan terajar dengan benar sejak siswa dari kelas 1 hingga kelas akhir ketika menghadapi UAN.
rasa-rasanya biadab sekali menjadikan nasib anak-anak yang mengikuti UAN sebagai bahan untuk menaikkan pamor.
dasar Walkot Bekasi PEKOK!!!...
hmm.... ideal banget kawanku itu ya...
Ngg, salah. Maksudnya, UN yang sekarang sudah tidak ada bedanya dengan tahun lalu. Bocoran dimana-mana, dan guru pun pro ini, yayyyy.
Duh Walkot Bekasi itu yah. Gak ngerti arti belajar kali yah. lulus tidak lulus kan ndak penting kalo dalam konteks belajar. kan setiap kejadian, peristiwa, bisa diambil pelajarannya. ada hikmahnya.
aaahhh bikin males ajah nih.
Kepada para Capres, ayo tunjuk gua jadi Mendiknas, serius nih
bukan lagi wadah penghasil para terdidik..
emang otak manusia segitu canggihnya sampe bisa LULUS dua kurikulum??
gimana kalau pelajaran selain yg diujikan di UN ga perlu lagi diajarkan di sekolah, bahkan kalau perlu selain materi yang diujikan juga ga usah diajarkan, mesti banyak yang lulus gan ...
terus murid2 jadi tukang kerjain soal UN dah...
jujur saja, sejak adanya UN ini, pelajaran2 UN memang lebih diutamakan, sampai2 ada angapan di antara saya dan teman-teman saya bahwa pelajaran non-UN adalah "pengganggu" atau "nggak penting". Mau gimana lagi? Kasian saya ama guru saya, udah kayak orang kerja rodi, bahkan harus ngajar di malam hari di kelas khusus dg sukarela, ibaratnya mereka itu harus kejar setoran.
Yaa ibarat Hukum Hess mengenai perubahan entalpi, "Hanya dipengaruhi keadaan awal dan akhir", karena UN yang berpatokan pada hasil akhir itulah, cara dan proses yang dipakai menjadi tidak penting.
hehe ... bukannya begitu maunya bapak-bapak ma ibu-ibu disono?
Kalau si ... atur aja lah ... toh manusia bakal menemukan jalan sendiri buat yang dia rasa terbaik buat hidupnya
trus kasihan dia
www.tatacip.com
Harga bupati atau walikota lebih mahal dari kepala sekolah. Berani taruhan, abis mecat kepala sekolah balik dia dipecat juga oleh massa.
Kalo itung-itungan dia sendiri yang rugi
Silahkan login untuk memberikan pendapat