Dua Dunia: Hidup Tanpa Dikotomi Dengan Ulama Muda 64
Rabu, 22 Apr '09 14:29
Berawal dari dialog begini:
Apa agamamu?
Islam.
Apa ideologimu?
... (Diam. Di lain waktu dijawab dengan cengiran masam)
Kalau begitu kamu beragama setengah-setengah. Kalau beragama Islam, ideologi mesti Islam. Penampilan mesti Islam. Politik mesti Islam. Adat mesti Islam. Ekonomi mesti Islam. Seni mesti Islam. Mesti. Karena semua dalam hidup harus Islam. Harus Islami...
Seperti itulah kalimat yang pernah, masih dan (mungkin) akan tetap saya terima dalam hidup sehari-hari. Baik di dunia maya ataupun dunia nyata. Jenis kalimat-kalimat yang akhirnya lebih sering membuat saya memilih pamit, sambil (sesekali) setengah mati memeras otak, mengingat-ingat pelajaran agama di pesantren dan SD-SMP dulu. Mencoba me-refresh memory yang sudah menanjak uzur ini, untuk mengingat cerita tentang pertanyaan-pertanyaan yang konon akan diajukan malaikat di liang lahat.
Hasilnya?
Failed.
404 error: File not found
Saya tak menemukannya. Apa yang pernah diajarkan dulu tentang kuisioner para malaikat di liang lahat cuma semacam ini, "Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? Apa Kitabmu?..." Tak ada pertanyaan malaikat, "Apa ideologimu?", sejauh yang saya ingat.
Apa mungkin guru agama dan Teungku-teungku saya di pesantren dan sekolah dulu sudah pikun? Atau mungkin lebih dungu dari ideolog-ideolog muslim kontemporer?
Mungkin... Mungkin mereka lupa, mungkin juga sengaja menyembunyikan cerita lain, bahwa malaikat itu juga modern dan masih punya pertanyaan-pertanyaan canggih dan bahasa keren seperti, "C'mon, dude! Waz up?! Don't be fool! What's your ideology? D'ya prefer Noam Chomsky or Abu Dzar Al-Ghifari... or what?" atau... "Got an answer? Gimme some feedback! Gotta check Syariati's books! I'm out! See ya later!"
Mereka, para guru dan Teungku-teungku saya itu, sepanjang yang saya tahu, tak membaca An Islamic Response to Imperialism-nya Nikki K. Kiddie, The Process of Islamic Revolution-nya Sayyid Abul A'la Maududi, atau Social Justice in Islam-nya Sayyid Quthb. Bacaan (dan apa yang diajarkan) guru-guru agama dulu adalah buku-buku keluaran Departemen Agama atau Depdikbud (saat itu) dengan tulisan di pojok kanan atas (bukan iklan PKS!) berbunyi, "Buku ini milik Negara. Tidak Diperjual-belikan."
Sebuah klaim yang membuat saya tanpa merasa bersalah mencuri buku-buku di pustaka sekolah, dan iseng mencantumkan stiker, "Kalo pinjam balikin dong!" saat buku curian itu dipinjam teman. Ambivalensi kanak-kanak yang naif.
Di pesantren juga begitu. Kitab-kitab di sana adalah sumbangan dari Departemen Agama dan hasil swadaya sendiri. Atau warisan turun-temurun dari pendahulu pesantren. Atau barter dengan pesantren lain. Atau sumbangan dari siapa saja yang peduli pada perkembangan agama. Pada umumnya kitab-kitab tua, yang susah didapatkan di Gramedia dan pastinya tak diterbitkan sebagai komik oleh Elex Media Computindo.
Dengan segala kesederhanaan bacaan yang ndak modern, ndak update, mereka - para guru agama dan guru ngaji itu - mengajarkan nilai-nilai religius pada anak-anak di zaman itu, yang mereka harapkan tidak akan terkikis digerus zaman. Apa yang diajarkan begitu remeh-temeh jika dibandingkan betapa kompleks, abstrak dan menyudutkannya perkembangan dunia modern ini, dimana - seperti dialog di atas - seorang muslim bahkan harus memilih berideologi Islam atau tidak sama sekali.
Dan ingatan saya kembali pada seorang teman. Teman lama, yang sekarang sama-sama berdomisili di kabupaten yang sama. Kampung halaman kami sendiri.
Namanya Zamzami. Teman sejak bangku SMP, yang berbeda kelas: dia di kelas III-1 (1 angka sejak kelas I, jadi I-1, II-1) dan saya di kelas III-3. Memiliki rekor sering pingsan kalau upacara bendera, baik hari senin atau 17 Agustus-an. Dulu ceking, kurus, agak hitam kulitnya dibakar matahari, dengan rambut ikal yang dipotong rapi. Pendiam, meski sesekali bergabung dengan teman-teman lain. Tidak pernah punya prestasi mencolok di sekolah, meskipun kelas 1-nya itu didominasi anak "baik-baik dan pintar", tidak seperti kelas berangka 3 yang jadi kelasnya preman-preman-wannabe. Tipikal pelajar biasa. Tidak dipanggil ke Bimpen karena berkelahi (untuk dibimbing dan dididik dengan jeweran atau bahkan tamparan yang sungguh edukatif itu), atau karena dimasukkan daftar tim Cerdas-cermat se-kecamatan.
Sejak tamat SMP, saya tak pernah bertemu dengannya. Sebuah kebalikan berlaku: Dia yang tak pernah mengecap pesantren sebelumnya selain mengaji di pengajian kampung, memilih masuk pesantren. Saya yang sebelumnya menjalani pesantren sejak SD hingga SMP (dalam rentang waktu sejak sore hari hingga subuh tiba), memilih masuk SMA.
Sebuah keseimbangan yang kebetulan? Entah. Pesantren kami pun berbeda. Saya di pesantren Bustanul Huda, di pinggiran kota Blangpidie menuju arah desa Cot Jeurat, sementara ia masuk pesantren Khazanatul Hikam di Kemukiman* Kuta Tinggi.
Saat sudah beberapa semester kuliah, dalam beberapa kali pulang ke kampung halaman, namanya sudah mulai saya dengar kembali. Paska musibah tahun 2004, namanya makin akrab. Bukan lagi sebagai Zamzami, siswa yang sering tumbang saat upacara itu, tapi sebagai Teungku Zamzami. Ulama muda yang sudah memimpin pondok pesantren sendiri. Sebuah pesantren tradisional di pinggiran kemukiman itu, tak jauh dari lapangan bola dimana anak-anak kampung melampiaskan gairah menghajar si kulit bundar seperti kami dulu.
Reuni pertama terjadi sekitar saat deklarasi satu partai lokal di Banda Aceh. Alih-alih bergabung dalam deklarasi dimana beberapa teman lama terlibat itu, pilihan terbaik cuma ingin pulang ke kampung halaman. Kasus sengketa tanah masyarakat yang dimotori teman-teman sedaerah, jauh lebih menarik dari riak-riak politik di Banda Aceh saat itu. Saat itulah, saya bertemu kembali dengannya, dalam sebuah acara tahlilan kematian di rumah kenalan di desanya sendiri. Saat dimana saya mencocokkan kabar yang saya terima tentangnya, langsung pada orangnya sendiri.
Karena, seseorang menjadi teungku, menjadi ulama, bukanlah hal yang terlalu heboh untuk menarik perhatian. Meski bukan hal yang mudah juga, memang. Teungku, sebagai sapaan akrab untuk sesama laki di Aceh, memang tak sembarangan disematkan pada nama, karena butuh pengakuan masyarakat apakah sebagai gelar adat ataukah sebagai seorang yang dianggap mahfum ilmu agama.
Awal-awal reuni, obrolan hanyalah nostalgia lama dan diskusi tentang agama. Sebuah reuni yang membuat rasa malu tersendiri, setelah sering bicara dengannya, karena hafalan Qur'an sebagai hafizh temporer di sekolah dulu, mesti diluruskan oleh bocah pendiam yang sudah menjadi pemimpin pondok pesantren itu. Atau tertawa mengingat pembangkangan pertama di masa kecil dulu: menggugat guru ngaji masing-masing yang memecut kaki dengan rotan cuma karena ketahuan main sipak ban (sepak bola). Apa pasal karena kepala cucu Nabi disepak bala tentara Yazid di Padang Karbala, lantas kami mesti dipecut rotan pula? Sebuah pertanyaan yang diberi jawaban dengan hukuman: menghafal surah sekian dan sekian.
Tapi ada hal lain yang diam-diam saya amati pada dirinya. Tentang apa yang saya dengar dari kerabat dan teman-teman. Tentang kelantangan suaranya menyikapi masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Suara-suara yang masih terdengar hingga kemudian hari. Ia, tak segan bicara tentang aspal goreng yang disulap dengan trik jitu agar tahun depan jalanan yang diaspal itu bisa menjadi proyek yang berulang, dan membuat masyarakat pelintas jalan macam keledai terperosok di lubang yang sama. Ia tak segan bicara tentang dana bantuan tsunami yang dinikmati oleh mereka yang terbirit-birit menyelamatkan diri, di saat seharusnya mereka bertanggung-jawab sebagai aparatur negara. Ia juga tak menahan diri bicara tentang laku-laku para wakil rakyat yang menjelang Pemilu 2004 "Assalamu'alaikum" kiri dan kanan setiap lewat di depan rakyat, tapi saat sudah duduk di parlemen, melintasi jalanan dengan kaca mobil mewah yang ditutup rapat. Belum lagi hujatannya pada dewan yang menaikkan tunjangan rumah untuk diri mereka sendiri, sementara mereka tinggal di rumah-rumah pribadi.
Apa yang menarik adalah kelantangan itu tak tebang pilih. Apakah kerabatnya sendiri atau bukan. Disikat-rata dalam khutbah jum'at, khutbah singkat seusai shalat berjamaah, bahkan dalam pertemuan-pertemuan organisasi Islam di sini. Baik di depan umat, atau secara face-to-face dengan sasaran tembak.
Konsekuensi tentu datang: dimusuhi sekaligus disayang. Dimusuhi oleh mereka yang merasa kepentingannya dianiaya, dan disayang oleh masyarakat yang merasa dibela. Hunjaman kata-kata yang tak berhenti, hingga saya mendengarnya mengatakan "laku zalim" pada mereka yang meruntuhkan rumah seorang perempuan tua, sehingga si perempuan tua pingsan.
Beberapa kali pertemuan, dan melihat gerak-gerik matanya yang tegas, ucapannya yang lugas, saya percaya bahwa zaman telah mengubah seorang bocah pendiam di bangku sekolah menjadi salah satu tokoh ulama muda di daerah ini, yang patut diperhitungkan.
Ia adalah orang yang saya ceritakan dalam postingan saya yang menggugat tentang fatwa. Dia, satu dari beberapa tokoh-tokoh agama - baik tua atau muda - di tanah ini, yang saya hormati. Ada yang pengurus Muhammadiyah, ada yang pengurus Perti. Ada yang masih menjadi anak seorang ulama besar pondok pesantren (dimana saya dulu mondok), namun sudah lebih kritis bahkan terhadap sedikit pola ortodoks yang dimiliki ayahnya yang pengurus Perti. Ada yang cuma menjadi pengurus muda Ikatan Remaja Muhammadiyah, namun menohok kecenderungan elit-elit organisasi tersebut untuk terlalu dekat dengan para pemegang kekuasaan di negeri. Mereka memang tidak menonjol benar di propinsi ini, apalagi skala nasional. Tapi jelas mereka punya arti tersendiri.
Cerita belum usai sampai di situ.
Hasil diskusi dengan teman-teman, yang menggiring kaki untuk pulang dan masuk ke struktur DPW Partai Rakyat Aceh, memberikan surprise lain di tahun lalu. Dalam pertemuan sambil minum kopi dengannya, tahulah saya bahwa ia sudah terjun ke dunia politik pula. Masuk dalam struktur kepengurusan Partai Daulat Aceh. Partai yang didominasi kaum ulama.
Seperti halnya politik lama yang mencoba merintangi peranan ulama dalam kehidupan sosial-politik, ia pun tak luput dari sasaran tembak, sebagai balasan (terutama) dari barisan sakit hati. Dari ceritanya, saya mendengar serangan-serangan yang menghujat, "Ulama macam apa terjun ke politik? Bukannya ngurus pesantren saja!" Sejenis kalimat yang sama yang diterima rekan lainnya, Amin, seorang tokoh muda dari kaum Muhammadiyah yang naik menjadi calon legislatif dari partai Hanura.Teman yang sejak SMP hingga SMA langganan jadi khatib itu, dicerca oleh lawan-lawan politik agar mundur dari pentas. Ya, ia kalah. Terbanting dalam hasil Pemilu yang lalu, jauh terpuruk di bawah partai kami berdua. Tapi, penghormatan tetap ada. Karena tanpa uang dan tanpa membawa serta atribut-atribut Islami sebagai jualan, ia berani maju meski kalah.
Karena, seperti obrolan saya dengan teman-teman dari barisan "agamis" ini, politik hanyalah sarana semata. Bukan ambisi, bukan tujuan pasti. Teungku Zamzami, punya alasan kenapa ia terjun dalam kepengurusan partai kaum ulamanya itu: Sebagai unta tunggangan dalam melintasi jalur-jalur birokrasi yang sering jumud dengan legalitas formal dan hobi memanipulasi informasi.Tentu mesti hati-hati, agar tak pula dijadikan unta tunggangan mereka yang suka mendompleng kaum ulama.
Apakah ia menggunakan dalil-dalil agama? Tentu saja. Namun dalil-dalil itu bukan sekedar kutip untuk sekedar nampak Islamis, militan, atau pembenaran tanpa asbabun nuzul, tanpa sebab-musabab. Tapi apa yang membuat saya suka dengan orang-orang sepertinya adalah keputusan untuk tidak berhenti pada simbolisasi semata. Tidak berjingkrak riang dan merasa sudah Islami, ketika UU No. 44/1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh menjadi euforia kantor-kantor dinas untuk menyematkan aksara Arab-Melayu sebagai tanda sudah bersyariah Islam. Untuk apa tulisan Arab-Melayu di palang-palang kantor dinas, jika laku mereka di dalam dinas masih sebusuk masa lalu? Seperti itu sentilannya dan orang-orang sekaum dengannya dalam menyikapi ragam polah berkenaan dengan Syariah Islam di negeri ini. Syariat Islam tanpa melibatkan peranan masyarakat adat cuma menjadi syariat penutup laku bejat para elit negeri ini. Islamisasi yang tebang-pilih, dimana jelata dicambuk sebagai tontonan masyarakat dan mereka yang pintar bermain hukum bisa menggunakan pengadilan negeri untuk melompat cari selamat. Hasil polling Syariat Islam oleh Yayasan Keumala Lhokseumawe dan review singkat di Indonesianmuslim.com merepresentasikan penerapan yang tidak kaffah ini. Simpang-siurnya pemahaman dan kental nuansa politisnya Syariat Islam ini, membuat seorang mahasiswa Pascasarjana dari Sudan menggagas fiqih Aceh sebagai satu solusi.
Lalu bagaimana dengan ideologi?
Saya pernah bertanya ini padanya. Apakah menurutnya Islam itu ideologi atau bukan?
Ia tak menjawab. Selain tawa kecil saja. Tak pula membuka-buka kitab fiqih siyasah atau bahkan kitab kuning untuk menjawab ini. Ia cuma menjawab singkat, "Islam itu agama". Jawaban itu dan itu saja, meski saya mendesaknya. Sampai sekali waktu ia menjawab lebih panjang, "Islam itu agama. Mazhab, tarekat, ideologi, bisa jadi lebih agama daripada agama. Bahkan simbol agama terkadang jadi lebih penting daripada Tuhan..."
Selesai. Dan saya puas dengan jawabannya itu. Jawaban ulama muda dari pesantren tradisional yang sama persis dengan jawaban dari beberapa tokoh agama lainnya di kampung halaman sendiri. Padahal, sebagai orang Perti yang kadung lebih "puritan" dibanding Muhammadiyah, ia termasuk fanatik dalam hal agama. Menolak untuk permanen mengadaptasi gaya hidup yang lebih modern, seperti mengganti kain sarung dengan celana kain dan baju putih biasa dengan baju koko seperti layaknya aktifis muslim di kota-kota. Dia tak kenal internet, ketika saya bercerita bahwa saya menulis tentang aksi dan gagasannya beberapa kali di blog dan situs-situs yang pernah saya miliki. Dia cuma punya ponsel merek China yang memudahkannya untuk dihubungi. Lebih sering berjalan kaki daripada naik sepeda motor. Pesantren pun cuma dibiayai secara swadaya dari hasil ladang dan iuran lampu para santri.
Tapi ia tak menolak untuk beradaptasi dengan saya atau dengan teman-teman dari garis yang lebih moderat. Dia tertawa ketika saya bergurau, "Hati-hati. Orang macam aku ini sudah pernah dicap kiri, sosialis, antek-antek kapitalis, mungkin juga binaan misionaris..."
Hidup memang tidak hitam dan putih. Ada ragam warna. Ada ragam gaya. Antara dua partai yang berbeda, kami punya cara tersendiri menjembataninya sebagai individu-individu merdeka. Dia me-refresh ingatan saya tentang kitab Masaailal Mubtadin-lihwanil Mubtadin, kitab Bidayah dan Asbabu Nuzulil Qur'an. Sementara saya bercerita padanya tentang Tahafut al-Falasifah-nya Ghazali yang di-counter dengan Tahafut al-Tahafut-nya Ibnu Rusyd. Dia berbicara tentang luka sejarah Islam di Aceh yang dibersihkan kaum Nuruddin Ar-Raniry dan Islamisasi yang berkutat pada simbolisasi, membuat "lembek" sehingga militansi khas dari akar Syi'ah yang pernah ada tergerus zaman. Dan saya bercerita tentang Eslamshenasi-nya Ali Syariati, tentang bagaimana sebaiknya seorang penganut Islam bersikap dalam peradaban kontemporer, sebagai gagasan yang dipadukannya dari mistisme Maurice Maeterlinck, nihilistisnya Sadeeq Hedayat dan Masnawi-nya Maulawi.
Pertukaran ide yang timbal-balik dari ironisnya posisi masing-masing. Individu-individu dari partai yang diisukan Kiri dan partai yang digosipkan Kanan (membuat mereka kerepotan pada isu tentang nasionalistisnya PDA sebagai buah dari pidato Letjen (Purn.) Kiki Syahnakri). Dikotomi-dikotomi menjemukan dalam hidup, yang memaksa individu untuk memilih apakah jadi Amrozi dan Farrakhan ataukah tidak sama sekali.
Tapi apa perlu ambil peduli? Pengkotak-kotakkan posisi dalam hidup, cuma akan menghadirkan sekat-sekat tak penting dalam hidup bermasyarakat dan bersahabat.
Dia mungkin masih akan tetap melintasi lapangan sepak bola untuk pulang ke pesantrennya, selepas belanja di pasar, dan berhenti sejenak memandangi anak-anak bermain bola. Dan jika saya ada di sana, duduk di tunggul kayu dan batu, sambil bercakap tentang tanah ini. Dan berkelakar, "Rotan mana yang enak buat memecut kaki kanak-kanak ini?" dengan mimpi lucu bahwa satu hari nanti, jiwa-jiwa kritis yang berani bertanya karena rasa tak puas dipecut kakinya akan terus muncul. Apakah dengan mengepalkan tangan kiri di jalanan ataukah mengacungkan jemari tangan kanan dari mimbar acara keagamaan.
Ini, adalah Islam yang kami pahami, yang saya lamunkan pada artikel tentang puisi Mustofa Bisri dan Mohammad Sobary, dalam kehidupan berbudaya, bersosial-politik di negeri ini. Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa dibelah ragam dikotomi yang basi...
Kenapa artikel yang pantas diberi rating "Bosenin", "Gak Penting" dan "Promisi Diri" ini muncul begini?
Sebagai jawaban bagi tipikal yang doyan sekali bertanya Islam atau tidak. Bahkan untuk sebuah kriteria keadilan seperti artikel KKR Aceh pun, pertanyaan ini masih juga keluar, "Keadilan menurut Islam atau bukan?"
Pertanyaan menjemukan ...
Nah, mudah-mudahan bagi anta-anta bertipe demikian, bisa puas dengan ini. Jika tidak, well... hidup adalah pilihan seperti yang saya dan teman-teman saya pilih dengan kesadaran sendiri. Tak ada paksaan. Tak ada kemestian.
Catatan Kaki:
* Kemukiman, adalah sistem pembagian wilayah dalam adat Aceh. Satu kemukiman terdiri dari beberapa desa. Mesjid untuk shalat Jum'at didirikan di dalam satu kemukiman karena asumsi jumlah jamaah Jum'at sudah mencapai 40 orang. Sementara untuk desa-desa cuma ada meunasah (sejenis surau) untuk melakukan ibadah dan urusan musyawarah gampong.
Tag: islam, aceh, ideologi, ulama, dikotomi
Terkait:
-
Haruskah Kutanggalkan Keyakinanku ?
Selasa, 11 Agu '09 07:45 -
Gagasan Sebagai Senjata
Minggu, 24 Mei '09 01:40 -
Facebook Haram: Fatwa Ulama Ottoman Abad 21?
Jumat, 22 Mei '09 16:49
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Pedy: Inspiratif
-
LCFR: Keren
-
hersamin: Menarik
-
R A P: Inspiratif
-
dony: Bagus
-
shinte galeshka: Inspiratif
-
gunawanrudy: Inspiratif
-
sufehmi: Keren
-
Logical Fallacy: Inspiratif
-
Gagah Putra Arifianto: Inspiratif
-
kak inco: Inspiratif
-
Davi: Inspiratif
-
Boy Avianto: Inspiratif
-
Nenda Fadhilah: Inspiratif
-
Leksa: Inspiratif
-
opiniherry: Keren
-
Lemon S. Sile: Keren
-
uceenk: Bagus
-
asep1974: Bagus
-
Upik: Menarik
-
Ainun Nazieb: Inspiratif
-
Casper: Keren
-
Kucing Neolib: Inspiratif
-
kakilangit: Bagus
-
Sri Kirana: Inspiratif
-
Herman Saksono: Inspiratif
-
ndarualqaz: Keren
-
Wonggantenk: Menarik
-
Mas Paman: Bagus
-
Kamerad Syllachtea: Inspiratif
-
Catshade: Inspiratif
-
Striding Cloud: Inspiratif
-
Yudiantoro: Inspiratif
-
Red-White Porridge: Bagus
-
jensen99: Inspiratif
-
babyloniamaria: Biasa
-
ksatriaberkuda: Inspiratif
-
adi: Biasa
-
rampok: Inspiratif
-
denologis ybs: Inspiratif
-
Haris Firdaus: Bagus
-
hamatamu: Menarik
-
pico: Menarik
-
Bee: Bagus
-
boiga: Bagus
-
tikabanget: Keren
-
Marissa: Menarik
-
ErwienSamantha: Menarik
-
ichanx: Keren
-
Muda Bentara: Menarik
-
17aPriL: Inspiratif
-
ircham: Menarik
-
AndyMSE: Bagus
-
yudi:
-
Google: Keren
-
HTS: Bagus
-
Rizma Adlia: Inspiratif
-
ancilla: Menarik
-
Herman: Menarik
-
Ardani P: Keren
-
indira: Inspiratif
-
l. wiji widodo: Inspiratif


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Hati saya sejuk membaca tulisan Anda....
*hembus-hembus*
--------
Luar biasa. Ini ulama kampung, tapi wawasannya begitu melangit.
Saya amat terharu membacanya. Sambil berdoa, mudah-mudahan makin banyak ulama kita yang juga tercerahkan seperti beliau ini. Sehingga kemudian jadi bisa mencerahkan umatnya.
Terimakasih banyak Alex untuk sharingnya.
huehehehe... ups!
salam hormat buat Khalifah Alex
semoga damai Allah senantiasa menyertaimu...
orang2 romantis seperti kau makin sedikit, bang...
orang2 romantis seperti kau makin sedikit, bang...
Setidaknya film dokumenter lah...
+1 keren
semakin anda belajar islam, maka anda semakin terbuka cara pandangnya. vice versa: semakin sedikit anda belajar islam, anda akan semakin sempit pikirannya, merasa dirinya paling benar.
saya melihat orang2 islam yg belajar lama di pondok2 puritan di desa2 (di jawa, misalnya), lebih menyukai ilmu2 sosial, lebih terbuka pikirannya untuk menerima gagasan2 yang beragam, lebih kontekstual, dan inklusif.
sebaliknya, saya melihat orang2 islam di kota, sejak 80-an banyak yg rindu dg islam. biasanya mereka belajar di fakultas2 eksak, kemudian timbul giroh utk belajar islam, mereka menghadiri satu pengajian ke pengajian berikutnya, membentuk lembaga2 dakwah di kampus2 umum, cenderung terjebak pada simbolisasi, tekstual dan, kemudian, eksklusif
Love this one +1
Edan baca ini psot, kirain psingkat ternyata masih cukup panjang tapi rasanya bagus sih. Coba dishare lagi pengalaman macam ini.
Polemik kaum Adat dan kaum Paderi berujung pada pertumpahan darah...!
Dari kesepakatan awal Adat Bersanding dengan Syara' - Syarak Bersanding dengan Adat, (setara) menjadi...
Adat bersendi syarak - syarak bersendi kitabullah. (Agama lebih tinggi)
Namun hiprokisi umat tetep jalan, Adat bak kato Adat, Agamo bak kato agamo...
Aden bak kato den pulo... [Aing mah kumaha aing...
*begadang, nungguin lanjutannya*
Khalifah, kalau situ tralu males nulis, biar saya saja yang bukukan...
Man, ain't I love their views... mutiara yang paling menawan memang tidak ditemukan di tambak-tambak, tetapi di perairan yang masih tertutup dan terpencil...
So inspiring...
However, as a moslem, we should depend this religion, but it is up to you as well Khalifah Alex
Great.....
However, as a moslem, we should defend this religion, but it is up to you as well Khalifah Alex
Khalifah Alex membuat saya yang tadinya malas kalau harus berwisata ke Aceh jadi niat untuk melancong ke sana.
God Bless You, Lex!
Terima kasih..
Postingan ini jadi jawaban atas khutbah jum'at yang selalu saya rindukan..
Lain kali sekalian promosi buku ya, lex!
Selain pertanyaan di atas, salut buat artikelnya
what have you done Alex?
Agama itu apa?
Pertanyaan bagus, Mas.
Sebuah sistem yang kompleks dan sempurna? Lalu seperti apa? Sebuah tatanan dimana sosial-ekonomi-politik dsb sudah ada, sudah maujud?
Jika demikian, kenapa Tuhan mengizinkan ada Abduh, ada Maududi, ada Al-Banna, ada Khomeini, ada juga Musa Ash-Shadr utk menjelaskan ragam penerapannya. Dan saya cuma sampai pada kesimpulan sendiri: pondasi untuk hidup, sampai saat ini. Cuma itu bisanya, Mas
adi
Ya, lamunan.
Apa yang sudah saya lakukan? Ya melamun, seperti anda melamunkan Realitas War On Terror ala Amerika itu. Kita sama-sama tidak terlibat dalam dunia nyata utk perang itu, bukan?
Ah, saya mahfum. Anda sepertinya meminta hal-hal yang lebih nyata daripada artikel?
Kecil, Mas. Cuma sudah melakukan hal-hal kecil, yang tidak sebesar cerita perangnya Amerika itu. Saya tidak jihad dengan gagah berani di perang2 suci. Cuma bergabung utk sengketa tanah masyarakat macam di artikel ini, karena saya diajarkan bahwa dalam agama tidak diizinkan merebut tanah orang lain tanpa seizin pemiliknya, bahkan Ustman sekalipun mesti beli sumur milik Yahudi meski itu utk perang. Bahkan mesjid pun dilarang didirikan tanpa izin atau waqaf dari pemilik tanah. U got it?
Hal remeh-temeh lainnya, adalah bersama teman2 pengurus mushala induk, menurunkan derajat meriahnya pesta pora hari2 besar agama, Maulid atau Isra Mi'raj, dan mengalihkan dananya utk tabungan pendidikan anak2 yatim dan miskin sejak 1999 dulu sampai sekarang. Sulit mengubah kebiasaan turun-temurun utk merayakan hari besar agama dengan megah, kue2 tercampak, khotbah2 dengan speaker besar, dan umat datang untuk makan-minum dan manggut... sementara kemiskinanan beselemak dimana-mana. Siapa peduli pada anak2 miskin di kampung kami? Baitul Mal? Amil zakat? Kesadaran zakat saja mesti awak pacu di sini.
PS: Maaf, jika bau2 ad-hominem. U sale I buy lah
denologis ybs
Saya akan beli di pasar tradisional jika itu bentuknya rujak cingur. Dan saya akan beli itu di swalayan jika itu bentuknya baterai HP Nokia. HP dan ideologi saya citarasanya ndak sama
they were great...really... then Islamkah saya???
Saya cuma mau bilang, Subhanaallah keren!!!!
Ini mungkin artikel terbaik yang ada di politikana, paling gak yang bikin merinding....mencerahkan sekali...dan artikel ini bisa menjawab begitu banyak kritik dan argumen dengan elegan, salute to you, mr Alex©!
Tika dadi jago boso londo sejak di Jakrta!
> they were great...really... then Islamkah saya???
Nah, ini pertanyaan sama dari saya juga, untuk saya sendiri. Apa saya sudah Islam? Siapa yang bisa mendefinisikannya? Saya memilih untuk berfikir dan bersikap seperti panduan2 sederhana dari masa kecil. Ndak rumit2. Ndak pake 1001 jargon dan simbol2, pembelahan kiri - kanan, depan-belakang. Para pembaharu Islam sejak Jamaluddin Al-Afghani sampai Musa Ash-Shadr juga meragukan Keislamannya sendiri. Perasaan yang bisa membuat kita berbuat banyak dalam hidup sehari-hari, sebenarnya.
Ada hadist Nabi yang diceritakannya pada Muadz ibn Jabal, bahwa Islam itu jika sudah melaksanakan ibadah saja, tidak lebih dan tidak kurang, sudah cukup.
Anda bisa baca tentang MUSLIM TANPA EMBEL-EMBEL itu di sini :
http://perisaidak…/view/25/38/
Artinya? Islam itu sederhana, ndak usah dibikin blibet. Gairah utk berbuat benar karena nilai-nilai yang sederhana itu yang penting, bukan pada simbol dan label. Kita menolak takaran dicurangi, karena itu nilai keadilan yang sudah menjadi fitrah manusia, apapun agama dan suku bangsanya. Siapa yang mau dicurangi dalam niaga? Kita menolak ada ketimpangan perlakuan, sehingga Nabi mengisyaratkan bahwa "Sesungguhnya hancurnya umat sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada orang mulia yang mencuri mereka biarkan, dan jika ada orang yang lemah mencuri mereka tegakkan hukum." Siapa yang mau hidup dalam perlakuan hukum yang timpang?
Dan sampai sejauh itu, saya juga masih bertanya, apa saya sudah Islam? Now, jika menjiplak iklan motor, "I'm not a Hero, how about you?"
*jadi khotbah begini...*
Karena ada interpretasi masing-masing, ada budaya masing-masing.
Misal, Muhammad Abduh, salah satu tokoh pembaharu Islam, menolak pemakaian purdah, dan agak terbuka dalam hal posisi wanita karena posisinya di Mesir, yang tidak terlalu Timur Tengah dibanding dengan Maududi yang agak menafikan permasalahan posisi wanita dalam Islam.
Sama seperti regulasi berpakaian. Purdah ditolak oleh Abduh dan dianjurkan oleh Maududi. Di Indonesia, sebelum Orba itu, tidak ada pemaksaan mengenakan jilbab, kebaya pun cukup. Karena apa, ada banyak faktor. Misal, gairah seks yang lebih tinggi di negeri Timur Tengah (konsumsi dagingnya gila2an) berbeda dengan gairah seks di Indonesia yang rata-rata (saya lupa baca analisa begini di mana-mana saja, tapi sepertinya banyak di internet).
Dalam masalah demokrasi dan pemerintahan juga begitu. Hukum rajam tidak pernah berlaku di Aceh, karena kehidupan makmur dulunya, dan urusan menikah tidak sesulit sekarang. Demokrasi diterimau oleh Maududi karena itu jalan terbaik untuk mengimplementasikan konsep, sementara Ikhwanul Muslimin Hasan Al-Banna terlanjur oposan terhadap sistem, hingga kudeta pada Anwar Sadat
Setiap agama itu diperkaya dengan budaya dimana ia berada lho. Kristen Koptik dan Kristen Katolik Roma, misalnya. Memiliki ragam yang berbeda juga
Logical Fallacy ;
kadang jika dipikir-pikir adalah hal yang ironis bahwa, "imperialisme budaya" (jika boleh disebut begitu) yang dialami oleh saudara-saudara muslim nusantara sekarang justru berasal dari Arab mungkin bukan dari Amerika atau Israel
Semoga ke-bhinneka-an itu bisa menjadi sumber harapan nyata. soal dimana ada kesatuan nasional yang datang dari keberagaman kepercayaan itu sangat tidak Arab, tidak tribal dan mungkin cocok dengan kondisi postmodern saat ini. mungkin entah berapa waktu lagi dari sekarang adalah praktek jenis Islam lain (dari Islam gaya Arab) di negeri ini.
@ khalifah alex: siip boss.....
(...tanpa membawa serta atribut-atribut Islami sebagai jualan...)
saya jadi ingat baleho caleg yang didampingi foto2 kyai se-jawa timur......
---------
Yg sebel, org2 tertentu yg sok Arab dgn menggunakan bhs Indonesia/daerah di-campur2 dgn bhs Arab, seperti antum, ana, afwan, dlsb. Plis deh, kita org Indonesia, bukan org Arab. Menggunakan bhs Arab dalam interaksi sosial yg plural justru terkesan eksklusif. Apalagi kata2 itu bukan kata2 khusus yg memang perlu dikatakan dlm bhs aslinya, bukan pula menunjukkan ciri atau identitas keislaman. Apa salahnya sih dgn menggunakan bhs Indonesia/daerah?
Ini juga seperti org2 yg (biar keliatan) pintar dgn men-campur2 bhs Indonesia dgn bhs Inggris dalam percakapan se-hari2.
salam kenal Seo hyo ling, apakah anda berkenan membaca artikel ini ?
http://forum.dudu…804.0%3Bwap2
Saya baru baca sekilas buku "No god but God: The Origins, Evolution, and Future of Islam" (Reza Aslan, 2005) dan ada kutipan menarik: "Religion is not faith. Religion is the story of faith… that provides a common language with which a community of [believers] can share with each other their numinous encounter with the Divine Presence."
Setuju atau tidak, paling tidak ada definisi lain yang juga menyejukkan
Boy Avianto - Maksudnya kenapa pondasi hidup harus agama?
1. satupun kata lamunan tidak ane ucapkan dalam artikel ane, tapi ente bilang " Ini, adalah Islam yang kami pahami, yang saya lamunkan pada artikel tentang puisi Mustofa Bisri dan Mohammad Sobary,....". So, yang ngelamun dan tidak silakan ente nilai sendiri.
2. Bukannya Imam Syafii pernah bilang, "...kita kaum mukminin tidak diragukan lagi keimanannya saat ini. Sedangkan akhir hidup itu kita tidak tahu. Dengan demikian yang masih diragukan itu apa yang bakal terjadi pada masa yang tidak kita ketahui dan bukan pada keimanan kita yang ada saat ini." Ente pernah belajar di pesantren mungkin tahu (atau malah tidak?) hal ini. Puisi Islamkah Saya memang bagus dalam konteks mengajak tuk merenung, tapi apakah beliau Mustofa Bisri meragukan keimanannya saat itu? Ane ragu akan hal itu.
3. Jika memang bener jamaludin al afghani dll meragukan keislamannya sendiri, ya itu bukan dalil untuk nyuruh orang melakukan begitu atau untuk ente jadikan sikap ente. Yang namanya dalil itu ya quran dan hadis, jadi kalo ente memilih bersikap untuk memahami islam secara sederhaha, tidak blibet dengan dalil sunnah yang ente sebutkan itu, maka itu baru betul.
4. Tapi, kalo asumsi ane bahwa ente setuju dengan hadis mengenai arab badui di dalam ISLAM TANPA EMBEL-EMBEL maka komentar ane...Nabi tentunya orang yang bijaksana...beliau kasih saran ya sesuai dengan siapa yang beliau hadapi. Di kali lain, terhadap orang yang pemarah beliau kasih saran supaya Jangan Marah. Kalo Jangan Marah dipakai justifikasi bhw yang penting dalam Islam jangan marah saja...tidak perlu yang lain-lain....ya... bisa ente kira-kira sendiri lah pemikiran yang ngomong begitu. Saya yakin seandainya ente yang nanya ke nabi kayaknya beliau akan kasih saran sesuatu yang ente anggap blibet tadi itu (padahal sih nggak blibet2 amat).
C mon buddy you can be better than that! Masak mau di level arab badui....artikel2 ente tidak mencerminkan itu. As tika said you are bloody brilliant...
5. Who am I? (wah kayak filmnya Jackie Chan nih)...ane hanya seorang pengemban dakwah yang suka memungut hikmah dari siapa saja...
> Ya, berarti sebenarnya kalau ada yang maksa-maksa pakai jilbab atau segala macamnya itu berarti arabisasi kan? Bukan Islam lokal dengan segala macam seluk beluk dan keunikannya?
=====
Kalau pemakaiannya mutlak harus meniru seperti di Timur Tengah, misal, dengan menggunakan tambahan cadar atau gaya yang sama, ya semacam itu.
Untuk dipakai tidak masalah. Keluarga saya yang perempuan juga berjilbab, tapi ya disesuaikan dengan busana sehari-hari. Gak mesti mutlak berbaju kurung.
hamatamu
> ya masalah katolik roma dan ritus-ritus gereja timur itu anda benar, sedikit menambahkan, sekalipun ritus-ritus tersebut lahir dari budaya yang berbeda tetapi mereka tetap tunduk pada satu magisterium (dengan catatan sejarang pergolakan yang panjang tentu saja) : )
=====
Benar. Agama lain juga memiliki ketundukan yang sama pada pokok2 ajarannya. Tidak setiap penganut Buddha berbusana biksu, tidak semua
muslim juga harus berbudaya seperti muslim di Arab. Ada pola budaya masing-masing.
> kadang jika dipikir-pikir adalah hal yang ironis bahwa, "imperialisme budaya" (jika boleh disebut begitu) yang dialami oleh saudara-saudara muslim nusantara sekarang justru berasal dari Arab mungkin bukan dari Amerika atau Israel
=====
Di sinilah yang saya keberatan sebenarnya. Setiap orang bisa menganut agama apapun, tanpa harus meninggalkan identitas budayanya masing-masing. Ini yang terjadi salah kaprah, sampai ke penampilan pun dijiplak. Lha, kalo Nabi-nabi turun di Jawa, tiap laki-laki mesti pakai blangkon?
> Semoga ke-bhinneka-an itu bisa menjadi sumber harapan nyata. soal dimana ada kesatuan nasional yang datang dari keberagaman kepercayaan itu sangat tidak Arab, tidak tribal dan mungkin cocok dengan kondisi postmodern saat ini. mungkin entah berapa waktu lagi dari sekarang adalah praktek jenis Islam lain (dari Islam gaya Arab) di negeri ini.
=====
just wait and see
ircham
> ya pada dsarnya berjilbab atau tidak adalah suatu pilihan dan itu bukan suatu takaran pasti tentang ke-islam-an seorang wanita, tapi merupakan salah satu simbol yang menunjukkan bahwa ia seorang muslimah (mungkin)
=====
Amen to that.
Untuk identifikasi diri. Di tahap begini, ya tidak masalah. Memang menggampangkan untuk dibedakan. Ini kan sama seperti menandai orang Jawa dari blangkon, orang Aceh dari rencong. Identifikasi diri itu no problem. Yang sulit, ketika sudah dipaksakan.
> saya jadi ingat baleho caleg yang didampingi foto2 kyai se-jawa timur......
=====
Sepertinya jadi fenomena senusantara itu
Bee
> Kebanyakan muslim Indonesia memang masih terjebak dalam simbol2. Bahkan kadang rada kelewatan, gak bisa membedakan mana Arab dan mana Islam.
=====
> Yg sebel, org2 tertentu yg sok Arab dgn menggunakan bhs Indonesia/daerah di-campur2 dgn bhs Arab, seperti antum, ana, afwan, dlsb. Plis deh, kita org Indonesia, bukan org Arab. Menggunakan bhs Arab dalam interaksi sosial yg plural justru terkesan eksklusif. Apalagi kata2 itu bukan kata2 khusus yg memang perlu dikatakan dlm bhs aslinya, bukan pula menunjukkan ciri atau identitas keislaman. Apa salahnya sih dgn menggunakan bhs Indonesia/daerah?
=====
Again
> Ini juga seperti org2 yg (biar keliatan) pintar dgn men-campur2 bhs Indonesia dgn bhs Inggris dalam percakapan se-hari2. : p
=====
Ah, kita sepaham dalam hal ini agaknya. Makanya saya juga bilang, jangan2 malaikat itu modern, ketika anggapan bahwa agama (Islam) ketinggalan zaman cuma karena boso Arab thok. Bahasa kan budaya masing2. Benar apa betul?
Muda Bentara
> jadi islam ndak ada symbol bang ?
=====
Ada. Tapi kau beragama simbol atau beragama dalam artian beragama? Kalau kau memilih mengagungkan simbol, ya silakan.
FYI, dalam sejarah Islam awal, bendera Islam tidak punya simbol apa-apa, seperti bulan dan bintang. Cuma dua warna hijau, sebagai tanda damai, dan hitam, untuk dikibarkan saat perang. Silakan dikoreksi.
Masalahnya, kau terpaku pada kata ISLAM. Tapi, ya itu masalahmu, bukan masalahku. Silakan saja.
Artikel tentang jilbab itu?
Benar, kalau dipahami menggunakan jilbab itu utk menimbulkan rasa aman pada wanita. Terutama di Timur Tengah sana, yang kulturnya dulu barbar, biadab, dan menganggap perempuan itu kelas dua. Jadi budak. Boleh dirampas. Itu sebabnya Nabi-nabi diturunkan di sana, bukan di Banda Aceh.
Tapi kalau dengan paham membebaskan itu lalu jilbab dipaksakan, maka kata membebaskan itu cuma jadi jargon saja. Orang terpaksa, bukan karena kesadaran pakainya....
Boy Avianto
> Agama = "pondasi untuk hidup, sampai saat ini." Menarik, lex - cuma nanti akan keluar pertanyaan lain seperti "apakah pondasinya harus agama?" dan seterusnya...
=====
Pertanyaan pasti akan terus keluar, Mas. Di artikel saya yang "melamun" itu - dan cuma lamunan thok, bukan pameran aksi seperti yang diharapkan bung adi - ada artikel dari Mohammad Sobary.
Ada sentilan di sana. Kita berpaku pada kata ISLAM. Lalu mengajarkan bahwa I = Isya, S = subuh, L = Lohor, A = Asar, M = Magrib.
Ini definisi murahan, cuma untuk kanak-kanak. Kata beliau sih
Pondasi, menentukan sikap dalam sehari-hari. Saya juga tidak sempurna menerapkannya, tapi setidaknya mencobalah utk hidup dalam masyarakat. Lha, kalo Islam cuma buat cari selamat sendiri atau sekelompok, bikin suluk dan komunitas sufi di bukit-bukit saja, demikian kalo menurut saya
> Saya baru baca sekilas buku "No god but God: The Origins, Evolution, and Future of Islam" (Reza Aslan, 2005) dan ada kutipan menarik: "Religion is not faith. Religion is the story of faith… that provides a common language with which a community of [believers] can share with each other their numinous encounter with the Divine Presence."
====
Menarik. Saya mesti punya bukunya itu
> Setuju atau tidak, paling tidak ada definisi lain yang juga menyejukkan : )
=====
Benar. Definisi yang sejuk yang lebih dibutuhkan. Saya sudah cape sama rusuh2an
Syarif
> no coment dulu
=====
Saya juga no comment dulu
Logical Fallacy ;
> Bukannya agama itu akhlak? Tapi bisa juga sih, akhlak disebut sebagai pondasi hidup.
=====
Bisa. Kenapa tidak? Setiap orang memiliki ide masing-masing, definisi masing-masing. Tapi kan penerapannya dalam keseharian juga yang menentukan
adi
> 1. satupun kata lamunan tidak ane ucapkan dalam artikel ane, tapi ente bilang " Ini, adalah Islam yang kami pahami, yang saya lamunkan pada artikel tentang puisi Mustofa Bisri dan Mohammad Sobary,....". So, yang ngelamun dan tidak silakan ente nilai sendiri.
=====
Ya, saya melamun. Anda keberatan?
Saya juga bisa keberatan dengan artikel realitas terror ala Amerika anda itu, karena anda juga menuliskannya sambil berfikir. Dan bagi saya berfikir dan melamun itu dua sisi mata uang. Otak bekerja. Ya sama saja, menurut saya. Kalau menurut anda tidak sama, ya silakan. Inilah demokrasi itu
> 2. Bukannya Imam Syafii pernah bilang, "...kita kaum mukminin tidak diragukan lagi keimanannya saat ini. Sedangkan akhir hidup itu kita tidak tahu. Dengan demikian yang masih diragukan itu apa yang bakal terjadi pada masa yang tidak kita ketahui dan bukan pada keimanan kita yang ada saat ini." Ente pernah belajar di pesantren mungkin tahu (atau malah tidak?) hal ini. Puisi Islamkah Saya memang bagus dalam konteks mengajak tuk merenung, tapi apakah beliau Mustofa Bisri meragukan keimanannya saat itu? Ane ragu akan hal itu.
=====
Ente mencampurkan antara Iman dengan Islam. Ente mungkin pernah baca (mungkin juga tidak) pertanyaan tentang Apa itu Iman dan apa itu Ikhsan? Di sana saja dibedakan. Itu hadist juga, Bung.
Rukun saja ada dua: Rukun Islam dan Rukun Iman. Bisa berabe kalo dicampur-campur. Macam nyampur tugas Rukun Tetangga dan Rukun Warga itu.
> 3. Jika memang bener jamaludin al afghani dll meragukan keislamannya sendiri, ya itu bukan dalil untuk nyuruh orang melakukan begitu atau untuk ente jadikan sikap ente. Yang namanya dalil itu ya quran dan hadis, jadi kalo ente memilih bersikap untuk memahami islam secara sederhaha, tidak blibet dengan dalil sunnah yang ente sebutkan itu, maka itu baru betul.
=====
Saya tidak suruh ente menjadi jamaluddin al-afghani atau maududi atau tifatul sembiring atau siapa sajalah. Ente mau jadi siapa itu urusan ente, saya mau jiplak yang mana ya itu urusan saya. Gampang kan?
> 4. Tapi, kalo asumsi ane bahwa ente setuju dengan hadis mengenai arab badui di dalam ISLAM TANPA EMBEL-EMBEL maka komentar ane...Nabi tentunya orang yang bijaksana...beliau kasih saran ya sesuai dengan siapa yang beliau hadapi. Di kali lain, terhadap orang yang pemarah beliau kasih saran supaya Jangan Marah. Kalo Jangan Marah dipakai justifikasi bhw yang penting dalam Islam jangan marah saja...tidak perlu yang lain-lain....ya... bisa ente kira-kira sendiri lah pemikiran yang ngomong begitu. Saya yakin seandainya ente yang nanya ke nabi kayaknya beliau akan kasih saran sesuatu yang ente anggap blibet tadi itu (padahal sih nggak blibet2 amat).
=====
Ente bawa Nabi? Lha, nabi saja bijaksana dalam menghadapi umatnya. Ente tau tidak kalo Umar bin Khattab itu termasuk "nyinyir" dengan wahyu? 3 kali beliau tanya hukum khmar, apa ente marah. Malah wahyu turun membenarkan Umar. Ada koreksi sesuai kondisi zaman. Ini artinya, dalam Islam itu tak ada taqlid. Lha ini saya ngeritik saja je
> C mon buddy you can be better than that! Masak mau di level arab badui....artikel2 ente tidak mencerminkan itu. As tika said you are bloody brilliant...
=====
Di level Arab Badui? Saya mah bicara tentang kondisi temporer di sekitar saya saat ini, tentang Islamisasi yang salah kaprah macam di Aceh ini. Yang justru mengulang zaman Arab Badui kemari.
We can do better, not only me. Pinjam iklan mashyur dari sepatu kapitalis bermerek Nike: Just do it! Dan itu berlaku untuk anda dan saya. Kalo cuma mentok muter2 di definisi saja, ya sama. Sebagai sesama pemain definisi, jangan mendahului berdefinisi ....
Ucapan Tika gak usah diambil hati. Nona itu lupa kalo saya DO
> 5. Who am I? (wah kayak filmnya Jackie Chan nih)...ane hanya seorang pengemban dakwah yang suka memungut hikmah dari siapa saja...
=====
Ane bukan pengemban dakwah. Cuma pelamun yang kecantol ucapan Ali, "Hikmah itu milik muslim yang hilang, ambillah dimanapun kau menemukannya..."
Sri Kirana ;
> Muda Bentara : itu kan pandangan masing-masing pribadi... : D dan tulisannya panjang bener padahal intinya cuma satu... sampe saya harus pencet pgdn berkali-kali untuk nyari intinya doang.. : p
=====
Jum'atan dulu. Ntar disambung. Penting ini, mana tahu ketemu bocah yang ilangin sandal saya di jum'at bulan lalu. Kali aja bisa ditanya, "Khotbah jum'at itu apa nggak ngaruh dengan kebutuhan hidupnya sampai mencuri sandal segala"
Ini argumen standar golongan anti-agama terutama agama sebagai institusi (semacam Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Yahudi, Scientology dst dst - ini dianggap mewakili 'institusi'). Tapi ini diluar topik artikelnya Alex© dan sepertinya bisa memancing debat joki (kusir sudah tidak trendy)
Alex©: Selamat Jum'atan. Baru masuk Jum'at kalau di sini. (PS: Beneran minat buku itu? - mau aja sih dikirimin dari sini, masalahnya ongkos kirimnya lebih mahal dari bukunya
Hm, cukup jelas sih sikap anda tapi boleh kan kalau saya tidak menyia-nyiakan kemampuan saya untuk berpikir dan beranalisa dalam memahami agama? Boleh ya
Sampai saat ini masih mencari makna dibalik turunnya ayat Al Qur'an pertama yang bunyinya "Iqra!"... kenapa bukan "Shalat!" ya?
Benar, Mas, tentang argumen bahwa manusia itu punya pondasi utk hidup tanpa agama sekalipun. Memang tak bisa memungkirinya. Sehingga kita bisa kenal istilah "atheis saleh", yang bisa hidup baik-baik seperti orang beragama yang saleh. Cuma hehehe... agaknya memang di luar topik itu. Bisa pada ribut jualan obat lemah syahwat masing-masing nanti
Untuk komentar tentang agama itu bisa dibawa sederhana, saya percaya bahwa memang demikian adanya. Dialog Nabi dengan Muadz bin Jabal saat JJS di atas unta malah mengatakan bahwa syahadat saja sudah cukup, seperti yang saya berikan tautan kepada Mas Adi di atas itu. Tentu dengan asumsi mencari selamat sendiri-sendiri, ngejar surga dan ngelak dari neraka.
Namun bahwa dalam hidup mesti dinamis, itu yang membuat saya beranggapan tak ada salahnya berfikir, menganalisa, mencari tahu dan tidak terbentur pada kata ISLAM thok. Kita sependapat dalam hal ini. Seperti pertanyaan kenapa ayat pertama itu "Iqra" bukan "shalat"
Dan, ya tentu, dalam berfikir dan menganalisa ini, setiap orang menempuh caranya sendiri-sendiri. Maka ada ragam interprestasi, ada ragam penafsiran, ada ijtihad masing-masing. Dari artikel ini, itu yang sebenarnya mau saya sentil. Tidak semua orang mesti jadi Imam Syafi'i atau semua orang jadi Imam Malik. Islam gak bisa dipegang klaim cuma oleh sekelompok orang atau institusi, karena Islam ini sendiri didatangkan untuk merobohkan bentuk-bentuk institusi yang sering terkooptasi kepentingan.
Anehnya kan di situ, Mas. Saat ada sekelompok orang atau individu yang karena pegang dalil-dalil, memiliki konsep sendiri, lantas yang lain mesti ikut. Ini yang menjemukan. Imam Syafi'i saja bisa beda penafsiran dengan Imam Malik, gurunya sendiri. Tentang membaca Qunut, misalnya. Namun beliau tidak memaksa mesti baca qunut saat jadi imam shalat dan Imam Malik menjadi makmum. Sebaliknya juga begitu.
Taqlid itu menjemukan bukan, Mas?
Logical Fallacy ;
Ha! Tautan menarik. Ya, benar... itu salah satu hadist tentang agama sebagai akhlak. Sahih setahu saya.
Nah, apa itu hadist ada bicara sistem atau bagaimana merumuskan akhlak dalam ideologi? Hehehe... AFAIK, tidak ada yang merumuskan sistem-sistem itu seperti apa. Dijadikan akhlak atau pondasi dalam hidup, itu (IMHO) lebih utama
Asal jangan macam diatas itu tadi, Iman dan Islam dicampur-baur, seperti mencampur istilah liberalisme-kapitalisme-sekularisme. Ya ndak nyambung jadinya. Pak lurah bisa marah kalo Rukun Tetangga dicampur sama Rukun Warga, bukan?
Harapan saya untuk Indonesia ini sih sederhana, seperti bayaran yang diminta Mas Boy di Ideologi Balsem: Indonesia yang lebih baik. Dengan keyakinan beragama masing-masing, ya diwujudkanlah seperti apa implementasinya dalam hidup. Ini mungkin harapan utopia, tapi tidak terlalu membumbung sampai mendirikan kekhalifahan lah. Setidaknya bagi saya...
Org2 yg taklid (patuh tanpa reserve) itu juga menyebalkan, selain tentu menjemukan. Apa gak mati otak mereka itu ya? Wong ulama2 yg mereka jadikan referensi gak gitu2 amat, kok ya mereka melebihi para ulama itu. Kadang sampe pake acara kafir-mengkafirkan lagi. Duh... heran deh.
Setuju. Pada akhirnya semua dikembalikan lagi kepada manusianya. Yang mau makmur kita, yang mau damai kita, yang mau surga juga kita. Kalau kita mau rukun sepertinya cita-cita bersama itu bisa lebih cepat terwujudnya. Bila tidak, jangan-jangan nanti malah menciptakan neraka dunia. *Kayak sekarang udah di surga aja*
Cara pandang? Implementasi cara pandang, sejenis tarekat kalo di agama? Bagi saya seperti itu. Bentuknya bisa macam-macam. Mau kiri, silakan, mau kanan, silakan. Asal jangan lupa kata Vety Vera: Yang sedang-sedang saja
Nah, menurut anda apa, Mas?
1. Ane tidak keberatan kalo ente ngelamun kok. Hmm..menarik...ngelamun = mikir (karena otak sama-sama bekerja). Barangkali nanti muncul statement dari antah berantah... bajaj = mobil mercy (karena kalo jalan ban mereka sama2 muter)...he..he
2. Alex said "Ente mencampurkan antara Iman dengan Islam. Ente mungkin pernah baca (mungkin juga tidak) pertanyaan tentang Apa itu Iman dan apa itu Ikhsan? Di sana saja dibedakan. Itu hadist juga, Bung."
"Rukun saja ada dua: Rukun Islam dan Rukun Iman. Bisa berabe kalo dicampur-campur. Macam nyampur tugas Rukun Tetangga dan Rukun Warga itu."
=============================
Ente barangkali lupa pelajaran di pesantren kalo Imam Hanifah pernah bicara,"dari sudut bahasa memang terdapat perbedaan antara Iman dan Islam. Akan tetapi tidak mungkin terdapat Iman tanpa Islam, dan tidak mungkin pula terdapat Islam tanpa Iman. Kedua-duanya menyatu bagaikan perut dengan punggung."
Jadi Alex, pembedaan memang perlu tapi bukan berarti mereka nggak bersatu.
3. Alex said, "Ente bawa Nabi? Lha, nabi saja bijaksana dalam menghadapi umatnya. Ente tau tidak kalo Umar bin Khattab itu termasuk "nyinyir" dengan wahyu? 3 kali beliau tanya hukum khmar, apa ente marah. Malah wahyu turun membenarkan Umar. Ada koreksi sesuai kondisi zaman. Ini artinya, dalam Islam itu tak ada taqlid. Lha ini saya ngeritik saja je"
==========================
Alex, ingat ente pernah mengatakan,"Ada hadist Nabi yang diceritakannya pada Muadz ibn Jabal, bahwa Islam itu jika sudah melaksanakan ibadah saja, tidak lebih dan tidak kurang, sudah cukup."
Ane hanya mengikuti pendekatan ente saja kok yang lebih dulu membawa2 nabi.
Pertanyaan saya Alex, ketika hukum khamer akhirnya fix setelah diprotes 3 kali oleh Umar, akhirnya Umar ikut nggak / terima nggak dengan ketentuan itu? Kalo jawabannya iya, sikap Umar itu taqlid nggak?
Boy;
ente bilang, "Menurut anda agama (Islam) cukup dipahami dengan sederhana dalil-dalilnya - dan justru yang berpikir (belibet istilah anda) adalah cara yang kurang tepat dalam memahami agama (Islam)."
==============================
Tol ong dibaca lagi statement saya, terutama jangan dipisahkan dengan kalimat sebelumnya....kayaknya agak beda dengan yang saya maksud. Barangkali juga ada kesenjangan pengertian ttg "dalil". Anyway, I'll be back insya allah to explain further if you need that. Jadi nantinya nggak perlu ente tanya seperti ini:
"Hm, cukup jelas sih sikap anda tapi boleh kan kalau saya tidak menyia-nyiakan kemampuan saya untuk berpikir dan beranalisa dalam memahami agama? Boleh ya ; )"
> Ane tidak keberatan kalo ente ngelamun kok. Hmm..menarik...ngelamu n = mikir (karena otak sama-sama bekerja). Barangkali nanti muncul statement dari antah berantah... bajaj = mobil mercy (karena kalo jalan ban mereka sama2 muter)...he..he
=====
Alhamdulillah, ente tidak keberatan. Untunglah ente cukup demokratis.
Bajaj = mobil Mercy? Kalo itu model logika ente dan ente memang haqqul yakin, ya silakan
> Ente barangkali lupa pelajaran di pesantren kalo Imam Hanifah pernah bicara,"dari sudut bahasa memang terdapat perbedaan antara Iman dan Islam. Akan tetapi tidak mungkin terdapat Iman tanpa Islam, dan tidak mungkin pula terdapat Islam tanpa Iman. Kedua-duanya menyatu bagaikan perut dengan punggung."
=====
Ah, Abu Hanifah. Ente mengutipnya dalam kasus ini, bagus. Apa saya harus menuruti pendapat seorang Abu Hanifah, seperti ente tidak harus menuruti sosok-sosok yang saya sebut di atas itu? Ini masalah pilihan
> Jadi Alex, pembedaan memang perlu tapi bukan berarti mereka nggak bersatu.
=====
Itu yang saya maksud jangan dicampur-campur. Membingungkan jadinya. Kebiasaan mencampur-campur ini yang sering jadi polemik, yang mana wajib mana sunnah mana bid'ah.
> Alex, ingat ente pernah mengatakan,"Ada hadist Nabi yang diceritakannya pada Muadz ibn Jabal, bahwa Islam itu jika sudah melaksanakan ibadah saja, tidak lebih dan tidak kurang, sudah cukup."
=====
Ah, benar
> Ane hanya mengikuti pendekatan ente saja kok yang lebih dulu membawa2 nabi.
=====
Benar... benar. Terimakasih koreksinya
> Pertanyaan saya Alex, ketika hukum khamer akhirnya fix setelah diprotes 3 kali oleh Umar, akhirnya Umar ikut nggak / terima nggak dengan ketentuan itu? Kalo jawabannya iya, sikap Umar itu taqlid nggak?
=====
Taqlid atau tidak itu darimana saya memandang? Jika saya berasumsi Umar hanya karena takut untuk bertanya lebih jauh, ya...dia taqlid. Tapi ia menerima kebenaran wahyu ketiga karena ia merasa itu benar. Itu pendapat saya lho
Jadi, Mas/Mbak/Kang... artikel ini sebenarnya saya maksudkan: Jangan pernah memaksakan pilihan atau pendapat. Ada sementara orang diluar sana marah2 dengan demokrasi, dan beranggapan bahwa suara utama adalah suara Tuhan. Sementara ironisnya adalah klaim demikian justru diucapkan dalam alam demokrasi, ada masalah lain: bahwa tujuan manusia diciptakan itu jadi khalifah pun masih jadi pertanyaan, siapa yang khalifah di atas khalifah. Siapa yang punya klaim sebagai penguasa dunia sehingga bisa menghilangkan segala perbedaan, segala pola pikir, segala definisi menurut masing-masing, dan setiap pilihan utk jalan hidup.
Kita menanggung resiko neraka dan surga atas diri masing-masing. Setiap pilihan adalah hak setiap individu. Dan itu yang saya ceritakan di sini, bahwa dengan posisi yang berbeda dengan teman saya yang jadi pengurus pesantren itu, kami menghargai pendapat dan posisi masing-masing. Islam bagi kami sederhananya cuma ibadah sesuai rukun Islam (kecuali naik haji saja yang kami belum lakukan
Kalau sudah omongan masalah definisi, pemahaman Islam, konsep-konsep tersendiri, cuma akan jadi debat kusir. Apalagi ideologi. Karena saya percaya, "Who needs ideology if ideas are for everyone?" Setiap orang bisa memiliki gagasan sendiri-sendiri. Dan saya percaya, bahwa siapapun yang mengklaim dirinya/kelompoknya pemimpin bumi, adalah pendusta....
And religion?
Religion is our personal business...
*kembali teringat pengalaman di Aceh yang indah itu*
hemmm...
semoga malaikat baca juga artkel ini
Lho? Pernah di Aceh?
hamatamu
....
Absennya kosong
arsyani
> hemmm...
semoga malaikat baca juga artkel ini
=====
Semoga saja, Mas
Ente berkata,"Taqlid atau tidak itu darimana saya memandang? Jika saya berasumsi Umar hanya karena takut untuk bertanya lebih jauh, ya...dia taqlid. Tapi ia menerima kebenaran wahyu ketiga karena ia merasa itu benar. Itu pendapat saya lho : )
Wah ente bisa dimarahi nabi dan sahabat2 lain yang tidak mau tanya2 kayak Umar lho...masak nabi dan yang lain disimpulkan taqlid sedangkan Umar seorang saja yang tidak...
Alex, memang bener bahwa kita menanggung sorga dan neraka atas resiko masing-masing. Dan tidak ada paksaan dari Islam untuk menerima suatu jenis pemikiran/mazhab tertentu. Yang ada adalah kewajiban tunduk patuh taat terhadap hukum syara yang pernah ente singgung; wajib, sunah, mubah dll.
Khilafah itu wajib (empat mazhab yang kita kenal mewajibkan itu), riba itu haram, membunuh itu haram . Semua yang saya sebut bukan Rukun Islam. Lalu, rejeki itu Allah yang memberi, haram putus asa terhadap rahmat Allah, ada keharusan cinta kepada Allah dan RasulNya. Itu semua juga bukan Rukun Iman. Namun semuanya tetap kita terima dan jalankan. Artinya, Rukun Iman dan Rukun Islam saja belum cukup kalau kita mau menjalankan Islam.
Coba jawab dengan jujur, apakah Alex dan yang lain merasa dipaksa menerima pemikiran2 dari mereka yang pro syariah dan khilafah? Ane rasa sih tidak. Kalo iya pun toh itu hanya perasaan saja (jangan terlalu perasa lah yauw). Tapi masih bisa menolak, iya khan?
Jadi kalo agama hanya urusan personal ya, konsekuensinya tidak usah bicarakan agama di politikana. Kalo ane sih tidak berkeyakinan begitu.
Satu lagi, siapa sih yang mengklaim dirinya/kelompoknya pemimpin bumi? Jadi pengen tahu....
Silahkan login untuk memberikan pendapat