Politik Warung Kopi 28
Rabu, 22 Apr '09 23:49, dibaca 168 kali
Bukan cuma sepakbola yang enak dibahas di warung kopi. Saya membuktikannya. duduk bercelana pendek, semilir angin masuk ke selangkangan membuat adem, menyeruput kopi bersama teman –hanya untuk tertawa. Bukan warung kopi sekelas Starbuck dengan harga secangkir espresso 10 ribu rupiah. Ini warung kopi pinggiran. Cuma bermodal kopi panas cangkir kecil, atau kopi susu. Tidak perlu cappucino, apalagi frappucino. Di warung kopi kami ini semua yang gosip menjadi fakta, berita lewat menjadi pemanis cerita. Begitupun soal politik, semua bisa jadi panggung dagelan untuk bahan tertawa.
Seperti misal, gosip soal Jusuf Kalla yang sedang teu puguh karena dia bakal pensiun dari jabatannya sebentar lagi. Sementara pensiun adalah masa-masa ditunggu banyak pekerja negara sehingga makin banyak waktu ngopi di rumah, tapi JK malah pusing tujuh keliling. Bukan sembarang pensiun memang. Kekuasaan itu seperti gula bagi semut. Dan JK seperti layaknya businessman lainnya, tahu betul apa arti itu “gula”. Dan obrolan warung kopi menyimpulkan mungkin beliau masih belum balik modal. Hahaha.. Kesimpulan warung kopi, jangan dianggap serius.
Lima tahun bisa jadi tidak memuaskan bagi JK. Catatan buruk dijidatnya, sumur bor temannya meleduk ketika dia menjabat. Bukan untung diperoleh, bukan minyak yang dihasilkan. Justru yang keluar dari petak kecil itu cuma lumpur yang tak bisa dibendung, dan sungguh-sungguh merepotkan. Atas nama pertemanan, JK harus setia kawan membantu. Utang budi dibayar budi, utang duit dibayar duit. Tapi beda cerita di politik. Utang budi bisa jadi utang duit, begitupun sebaliknya. Konon, perintah sakti bagi punggawa Golkar di dewan majelis harus berjibaku menuntaskan masalah utang budi ini. Coba meminta duit dari negara untuk menutup kerugian. Hebat! Dengan alasan gampang, alam sedang murka. Gempa yang berjarak lebih 100 km dijadikan kambing hitam. Ahli perminyakan dibikin tercengang. Tidak ada artinya ilmu mereka soal Drilling Safety Procedure dan SOP selama ini. Puluhan tahun sekolah kalah oleh kongkow politik.
Lain kopi, lain pula hokinya. Begitu kata teman saya. Entah kopi apa yang ada di dapur SBY. Senyumnya sumringah dimana-mana. Hasil perhitungan suara sementara membuatnya di atas angin bisa tunjuk pakai satu jari. Pidato kesana kemari, pilah pilih pendamping sesuka hati. Terlintas di kepala saya, SBY seperti dagang obat, “Ayoo.. ayoo yang jauh mari mendekat, yang dekat mari merapat”.
Saya ingat tukang jual obat di pelataran Mesjid Raya Baiturrahman kala saya SD. Biasanya mangkal di bawah pohon beringin. Tapi beda cerita dengan SBY, pohon beringin bisa diojok-ojok sesukanya. Golkar diminta memberikan calon lebih banyak. Apa artinya? Para semut kebingungan. Bingung mau merapat kemana. Ini soal tebu mana yang bakal jadi gula.
Padahal Demokrat bukan partai lama. Pengalamannya di bawah PDI-P, apalagi Golkar. Lihat saja para kader mereka seperti anak kemarin sore. Tidak salah jika ada yang bilang Demokrat adalah SBY, SBY adalah Demokrat. Pengkaderan instan setahun ini belum menjamin hasil mujarab Demokrat bisa bertahan tanpa SBY setelah 2014. Bahkan dua tokoh yang ditugaskan menyeleksi kader-kader karbitan itu malah bubar dengar urusan masing-masing. Yang satu dikasuskan KPK, yang lain kerepotan mengejar kursi untuk partai barunya.
Yang paling cerdas justru PKS. Mau tak mau, jika bicara soal politik sehat sampai saat ini, PKS lah berhak menyandang predikat ini. Tidak butuh analisis Insinyur minyak untuk melihat kerapihan organisasi satu ini. Saya harus salut dengan misi politik mereka di masa-masa penting ini. Bergerak lebih cepat dari JK, bahkan tanpa perlu iklan “Lebih cepat lebih baik”. Soal kader, tidak perlu diragukan keseriusan mereka mengusung kader-kader. Tua muda siap tempur di senayan. Kalaupun ada yang menghalangi kemajuan partai ini, justru itu karena soal krusial tak selesai dalam partai ini. Soal Tuhan. Hahaha…
Di sudut lainnya, ada pihak-pihak yang hipertensi. Bukan karena kopi. Justru karena hitung-hitungan modal pemilu mereka terancam tidak balik. Ini urusan serius. Modal itu segalanya dalam politik. Seperti yang saya katakan di atas, seperti gula dan semut. Kalo gula tak dapat, garam pun jadi. Manis tak dapat diraih, asin pun harus dicicip. Tak terbayang saya kalau seruput kopi terakhir saya ini bercampur garam.
“Buat kita orang, ada istilah adat siri’. Dilarang menjilat ludah sendiri”, celetuk teman ngopi saya malam ini. Sambil ngisep rokok lintingnya dengan gaya pede. Kopi pesanannya pun khas, harus kopi toraja pahit. “Cerai pun jadilah kalau bicara soal harga diri, bung!”. Kaget saya dengan kata-katanya. “Tapi ini soal modal, bro. Harga diri bisa digadai”, saya berkelit. “Tergantung, bos. Kau lihatlah koalisi Teuku Umar itu. Harga diri atau harga minyak Ambalat?”, tutupnya sambil menyeruput sisa kopi, berdiri, memasukkan lighter Nobilis ke kantong jeans bututnya. Pergi.
Tinggal saya sendiri yang kebingungan. Bukan karena soal politik. Tapi soal memodali 2 cangkir kopi pahit kami tadi. Sial..
---
*Gambar berasal dari jepretan didut (tukangmakan.com)
**Cerita ini adalah rekaan semata. Satu-satunya kenyataan adalah soal kopi disini.
Tag: politik, kopi, warung kopi
Terkait:
-
Politik Media dan Media Politik
Selasa, 7 Sep '10 09:35 -
Munir, Kemana Para Pejabat BIN Itu?
Selasa, 7 Sep '10 02:56 -
Acara TV..Hal Sepele..?
Senin, 30 Agu '10 13:45
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Lemon S. Sile: Bagus
-
kodama: Menarik
-
Wonggantenk: Bagus
-
AndyMSE: Menarik
-
uceenk: Inspiratif
-
Kamerad Syllachtea: Menarik
-
Davi: Menarik
-
Sri Kirana: Menarik
-
kak inco: Lucu
-
Catshade: Menarik
-
Gagah Putra Arifianto: Menarik
-
Yesterday is Today: Menarik
-
Po': Bagus
-
adi: Lucu
-
Moonlight: Menarik
-
Matt Zammy: Keren
-
Nenda Fadhilah: Menarik
-
Yudiantoro: Menarik
-
retrotika: Lucu
-
iphan: Inspiratif
-
memethmeong: Menarik
-
rampok: Keren
-
Imam Samudera: Bagus
-
denologis ybs: Lucu
-
hamatamu: Menarik
-
boiga: Bagus
-
Eijaz: Lucu
-
GaraMata: Lucu
-
Edo Segara: Menarik
-
Marissa: Menarik
-
Alex©: Keren
-
opiniherry: Menarik
-
Harrie: Menarik
-
le thole: Menarik
-
Upik: Bagus
-
kutaraja: Bagus

Komentar:
Sekarang SBY di sedang di atas angin....But I understand what JK feels right now....However, if AB gets, JK must as well
*ngantri di Sturbucks buat dapet kopi setengah harga*
Saya ga bilang mundur,..
tapi kalo demokrat masih make mesin instan sperti sekarang, mereka akan kehilangan momen di 2014...
Matt Zammy : Asem ik!
Pengen ke starbucks ntar, tapi tetep aja muahal, Zam!
*baca kompas hari ini*
agak susah bos untuk mengatakan bahwa salah untuk mengejar kekuasaan dalam politik. Karena filosofisnya sendiri, politik itu adalah ilmu "menguasai" .. dan "mempertahankan"
Mungkin.. soal sehat tidaknya dalam menguasai ini yang perlu dibenahi..
Hubungan bersih sama ambisius apa bos? Aneh...
juga secangkir kopi pahit untuk menemani bersantai di sore hari..
Setuju! PKS-lah yang paling cerdas. Banting setir dari partai arabis menjadi partai pluralis, juga partai bersihis.
**tapi, kalo tak pikir2 kok malah jauh dari cerdas tho....apalagi dengan semakin banyak orang kepencot silaunya "kebersihan" PKS yang menutupi aselinya**
ini cuma analisa warung kopi kok...
soal mana yg bersih jadi relatif,.
soal kuasa jadi subjektif,..
Jahe anget bikin otot2 jadi kendur,..
kopi joss bisa buatsitu ketawa sampai pagi...
*btw, starbucks ngasih setengah harga kopi, hari ini. Dan tadi ada yg ribut2 disana... hahaha
Haha... ini nusuk benar memang
Silahkan login untuk memberikan pendapat