SBY-Akbar: Sejarah Terbalik Pilpres 2004 & 2009 10
Rabu, 22 Apr '09 14:04
Konstelasi politik nasional sangat menarik belakangan ini. Golkar dipastikan menutup pintu untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat setelah usulan Golkar untuk men-cawapres-kan JK ditolak oleh partai demokrat (Detik.com). Akankah Pilpres 2009 “mengulang secara terbalik” fenomena Pilpres 2004?
Saya yakin Demokrat tidak menolak Golkar. Mereka hanya menolak aspirasi elit-elit Golkar pro-JK yang ngotot menyandingkan kembali JK dengan SBY. Tentu Demokrat tak akan mengabaikan Golkar. Suara yang besar (14 persen) dan mesin partai yang masih terjaga adalah modal sosial Golkar yang menggiurkan bagi SBY dan Demokrat. Bagaimana mendapatkan semua itu? Tak ada cara lain bagi SBY dan Demokrat kecuali merekrut kader Golkar yang punya akar kuat di Golkar. Siapa lagi kalau bukan Akbar Tanjung!
Jika langkah ini yang dilakukan SBY dan Demokrat, maka hal ini menjadi sangat menarik karena menunjukkan sebuah pengulangan sejarah yang terbalik.
Pada pemilu 2004, Golkar pun tak memilih bersanding dengan SBY dan Demokrat. Akbar yang sudah meminang PDIP ternyata kalah dari Wiranto dalam konvensi Partai Golkar. Padahal Wiranto sendiri sebetulnya tak punya akar yang kuat di Golkar. Kemenangan Wiranto dalam Konvensi Golkar diduga karena faktor “gizi”. Koalisi Mega-Akbar tak terjadi. Wiranto pun menjadi capres Golkar dengan menggandeng Salahudin Wahid (NU). Namun mesin politik Golkar yang kader-kadernya sangat loyal dengan Akbar tidak bekerja untuk Wiranto. Wiranto harus bekerja sendirian dan akhirnya kalah.
Lalu untuk siapa mesin politik Golkar bekerja pada Pilpres 2004? Tak lain dan tak bukan: untuk JK yang ketika itu punya akar yang sama kuat dengan Akbar di Golkar, terutama untuk kader-kader di wilayah Indonesia Timur. JK mundur di tengah Konvensi dan berbalik arah ke SBY. Dan ternyata SBY-JK menjadi pasangan capres terpilih pada pilpres 2004 berkat dukungan mesin politik Golkar. Situasi ini kemudian berpengaruh pada konfigurasi politik di internal Golkar. Golkar berpaling ke JK dan memilih JK sebagai ketua umum pada Munas Golkar Desember 2004. Setelah itu, Golkar pun, secara institusi, melebur dengan partai-partai pendukung SBY-JK sebagai partai pemerintah.
Kini, pada Pilpres 2009, Golkar tak memilih untuk koalisi dengan Demokrat. Ia akan memasang satu kakinya (JK) di satu sudut. Tapi Golkar pun tak bisa pula menahan hasrat untuk berkuasa dengan meletakkan kakinya yang lain (Akbar) di sisi Demokrat. Akbar akan disambut Demokrat karena partai SBY ini sangat membutuhkan mesin politik Golkar bekerja memenangkan SBY pada Pilpres 2009 (satu-satunya ganjalan bagi Akbar hanyalah kasus Buloggate). Jika ini yang terjadi, hampir bisa dipastikan pasangan SBY-Akbar tak terbendung.
Saya ingin berandai-andai lagi: apabila SBY-Akbar terpilih dalam Pilpres 2009 dan Akbar menjadi wapres, maka pada Munas Golkar berikutnya akan memilih Akbar kembali sebagai Ketua Umum Golkar karena tak ada lagi figur lain yang kuat selain Akbar setelah kekalahan Golkar pada pileg 2009. Secara institusional Golkar pun akan merapat lagi ke SBY, melebur lagi dengan partai-partai koalisi SBY dan menjadi partai pendukung pemerintah.
Satu lagi yang sangat penting: konstelasi Pilpres 2014 tentu akan sangat ditentukan seberapa kuat Akbar dan Golkar menyusun kembali mesin politik Golkar yang agak porak-poranda pada Pileg 2009. Akbar yang dikenal sebagai administrator yang baik sudah berpengalaman dan terbukti mampu mengonsolidasikan partai Golkar dan memenangkan Pileg 2004 justru di tengah arus utama reformasi menghendaki pembubaran Partai Golkar. Golkar akan besar pada 2014 dan begitu pula Akbar.
Bagaimana dengan Partai Demokrat? Partai ini akan mengecil menyusul turunnya SBY dari gelanggang politik pada 2014. Satu-satunya ancaman bagi Akbar pada Pilpres 2014 hanyalah Prabowo yang saat ini sudah memiliki modal social yang cukup untuk membesarkan dirinya lima tahun lagi. Itu pun jika masih ada dukungan sumber daya dari Keluarga Cendana sampai lima tahun ke depan.
Ah, Golkar memang tak bisa lepas dari kekuasaan. What do you think?
Tag: SBY, Golkar, partai, Demokrat, koalisi, Akbar
Terkait:
-
Pilpres Putaran I – Pertarungan Sebenarnya: Jk-Wiranto Vs Mega-Pro
Rabu, 1 Jul '09 16:10 -
Langkah JK dan 'sinyal' SBY untuk Golkar
Kamis, 23 Apr '09 01:16 -
Malu Hati: JK Gunakan Kaki Tangannya
Sabtu, 11 Apr '09 02:54
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Pak Dee: Terkini
-
Herman Saksono: Menarik
-
hersamin: Menarik
-
dony: Bagus
-
C e l o: Bagus
-
gunawanrudy: Bagus
-
Gagah Putra Arifianto: Bagus
-
opiniherry: Bagus
-
Nenda Fadhilah: Bagus
-
Upik: Bagus
-
AndyMSE: Bagus
-
Catshade: Menarik
-
Roy Suryo: Bagus
-
Darsina: Menarik
-
hamatamu: Menarik
-
Alex©: Bagus



Budi Agus Riswandi SH. M.Hum., Kepala Pusat Studi Hak Kekayaan Intelektual UII

Komentar:
Tapi lihat situasi dan kondisi sih nanti yang muncul jadi cawapres Golkar adalah orang yang bisa lebih disetir lagi sama Demokrat dan orang itu adalah Aburizal Bakrie. Demokrat sudah terlalu yakin dengan kemenangan dan popularitas SBY sehingga mereka menilai siapapun pasangannya SBY pasti menang, jadi mending mengambil cawapres yang bisa lebih dikendalikan
Wait and see.
Apakah ada satu lembaga internasional yang memuji penyelenggaraan pemilu kali ini?
Mudah2an ini hanya praduga yang salah.......
Masalahnya tinggal bagaimana Akbar maju tanpa berkonfrontasi dg kubu JK.
Masih ada sentimen kuat di akar rumput golkar yang merasa kesal telah diremehkan oleh Demokrat. Ini bisa jadi senjata untuk menghadang SBY-Akbar.
namun jika golkar maju sendiri maka tidak perlu mengangkat akbar jadi wapres.. karena berbahaya bagi PD di 2014, seperti membesarkan anak macan.. namun tetap menarik akbar menjadi menteri di kabinet, untuk menjaga suara golkar di kabinet..
kalo koalisi sby-akbar terjadi maka kedepannya kekuasaan golkar menjadi milik akbar lg nih...
Silahkan login untuk memberikan pendapat