Penanaman Modal Asing 22

Kamis, 23 Apr '09 14:39

Setelah jatuhnya orde lama. Runtuh juga kebanggaan identitas yang selalu digadang gadangkan. Berdikari. Berdiri di atas kaki sendiri. Jauh sebelum kemerdekaan, ide berdikari Swadesi dari Mahatma Gandhi sudah memikat Soekarno.

Tentu sebagian masih ingat retorika pidatonya, “ Go to hell with your Aid “.
Akhir kekuasaannya, ia meninggalkan hutang sebesar 2 milyar dollar yang sebagian besar merupakan pembelian persenjataan yang membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang kekuatan senjatanya patut diperhitungkan.
Kebijakan rezim baru memang bertolak belakang. Tawarkan negeri ini ke seluruh dunia. Kalau perlu gadaikan isi dan kekayaan alamnya. Tidak ada yang salah jika intinya adalah mencari sumber sumber kemakmuran bagi rakyatnya.

Poster di bawah ini adalah, sebuah iklan mengenai ‘ Republic of Indonesia ‘ pada tanggal 17 January 1969 di harian New York Times, Amerika Serikat. Dalam iklan itu ditulis murahnya harga buruh sebagai salah satu daya pemikat modal investasi asing. Kemudian ada juga pemanis, mengatakan sebagai salah satu negara di muka bumi yang sangat kaya dengan cadangan alamnya. We’re still not sure exactly how rich, only 5 % our country has been geologically prospected.

Setelah hampir 40 tahun. Mungkin iklan yang bisa disampaikan adalah harga buruh tetap murah. Kemudian hanya 5 % yang cadangan alam yang masih tersisa, karena 95 % lainnya sudah habis minyak buminya serta sudah digunduli hutan hutannya.

Warisan hutang ratusan milyar dollar – tidak tahu kapan bisa dilunasi – yang rakyatnya masih jauh dari kemakmuran. Masih antri minyak goreng dan bahan pangan. Suku Amungme di Papua masih menjadi tamu di tanahnya sendiri menyaksikan raksasa Freport terus bertambah kaya raya. Terakhir, jumlah orang miskin di negeri ini terus bertambah sampai 40 juta manusia sementara korupsi semakin merajalela.

Sungguh kado yang indah bagi bangsa yang akan tinggal landas.

Indonesia Ad2


Tag: Orde Baru, Papua, Penanaman Modal Asing, Freeport, Hamengkubowono, Iman Brotoseno

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    denologis ybs 0 0
    masih ada sedikit waktu sebelum bahtera ini benar2 karam. selamatkan!

    **ngelirik liriknya KBF**
    Gagah Putra Arifianto 0 0
    Setelah mempelajari dan terus membaca2 tentang Soekarno, saya jadi sadar, bahwa apapun bisa dilakukan oleh seorang pemimpin yang pintar berorasi, dan kesan yang ditinggalkan akan tetap positif. : D

    Selain itu saya juga sadar bahwa iklan diatas itu keren! : p
    Striding Cloud 0 0
    iya keren iklannya.

    Seharusnya kita bisa buat hal yang sama dengan turisme. Visit indonesia eyar 2008, segalanya serba malu maluin.
    matriphe 0 0
    mas iman dapat iklannya dari mana??? KEREN!!
    heriyadi 0 0
    Yah gimana mau maju kalo mimpi aja udah ngga berani.
    The Joke is "Indonesia is a great potential and always will be."

    http://bit.ly/23wzD
    heriyadi 0 0
    Ups maaf mestinya linknya ngga ada, gara2 copas dari status facebook, ngga bisa diedit pula
    Pedy 0 0
    One hell of good article I've read this day! : )
    Logical Fallacy 0 0
    Saya pernah baca artikel soal arsitektur finansial global:

    http://ochyid.wor…sial-global/

    Menarik.
    hamatamu 0 0
    Logical Fallacy; ah poin-poin di artikel itu mengingatkan saya pada kartun "Money as a Debt" : )

    Iman Brotoseno; mungkin akan lebih baik jika dilengkapi gambaran situasi pada masa iklan tersebut dimuat.
    inflasi yang nyaris 635% pada tahun 1965 harus dikendalikan terlebih dahulu sampai ekonomi bertumbuh 6% pada tahun 1968. penjadwalan kembali hutang- hutang luar negeri, membuka kembali ekonomi pada dunia luar (UU PMA th 1967 & UU PMDN 1968).

    kabinet pembangunan I mensyaratkan stabilisasi politik dan ekonomi sebagai syarat pembangunan, dan fokusnya sengaja diarahkan pada pertumbuhan produksi.
    Sri Kirana 0 0
    Sampai mengiklankan negara... memangnya negara itu komoditas perdagangan kah...?
    Apa ini tidak ada di buku sejarah karena dianggap memalukan?
    hamatamu 0 0
    melihat Sri Kirana; seperti harus ada artikel tentang sejarah sosial-ekonomi republik.
    mungkin karena langkah tersebut dianggap lazim pada jamannya? buku sejarah pada masa siapa?

    melirik aramichi ; )
    jensen99 0 0
    Bukannya harga buruh sekarang makin mahal? Dan juga mereka makin kritis & militan, menolak sistem kontrak. AFAIK kalo soal buruh kita kalah murah dari beberapa negara ASEAN lain, dan konon beberapa PMA malah sudah pindah kesana. : |
    Catshade 0 0
    *lirik iklan*

    Dan yang 'menandatangani' iklan itu adalah bapak dari salah seorang bakal capres pemilu ini... yang kemarin ngumpul2 bersama anak dari orang yang bilang 'go to hell with your aid' itu : ))
    hamatamu 0 0
    Catshade; IX atau X? : )
    uceenk 0 0
    entah pemerintahan yg nanti terpilih

    apakah akan menggadaikan kekayaan alam yg tersisa 5% itu ?
    babyloniamaria 0 0
    warisan utang itu lho..siapa yang bikin hutang? yang jeals investor cina kaya raya dan siap membodohin...menipu...apa lagii??

    kotak pos 41 itu di baca gak yah?
    suryosumirat 0 0
    revolusi yooook
    hamatamu 0 0
    suryosumirat; kalo belum mampu bikin 'puch' jangan mimpi bisa 'coup d'état' : )
    Striding Cloud 0 0
    putsch.

    Dah nonton "Hitler: rise of evil" ?
    hamatamu 0 0
    Striding Cloud; NGC bukan? lagi nonton inside: FARC hostage rescue : ))
    Striding Cloud 0 0
    dulu di CBS kalo ndak salah, cuma tonton sekilas. Saya cari dvdnya di indonesia tak ada. DONLOT deh jadinya lewat rapidshare.
    *pembajak ngaku... apaboleh buat demi mendidik diri, membajak pun terpaksa dilakukan.
    lat 0 0
    ...krn kita sendiri gak pernah concern dng UUD, khususnya psl 33 'bumi dan air dan kekayaan alam,dst' iklan itu th 1969 dan UUPA 1960, tanah dan bumi yg mempunyai hak baru eks barat, yg bekas adat dan negara kita nggak punya (paling hasil nasionalisasi), konyolnya sampe th 1997 aja dari sekitar 90 jt bidang milik rakyat baru 24 jt yg sertifikat, gimana mau nyoba usaha lha asetnya ga bisa diagunkan kok... mestinya ya dalam kredo; wadah dan isi, bumi air itu wadah, jadi harus jelas dulu ini bumi milik siapa. klo udah ok, baru rakyat yg ada diatas bumi ini bisa beraktifitas mau ngapain.. sekarang aja mungkin baru 50 jt yg sertifikat.. jangan kita berkata dalam wacana yg muluk2 lha urusan wadah aja kita gak bisa kasih keabsahan rakyat dan ketenagan tidur diatas buminya....

    Silahkan login untuk memberikan pendapat