Masih Ingat SKBL? 30
Senin, 27 Apr '09 20:31
23 tahun dari Peristiwa 30 September 1965, atau 44 tahun dari sekarang di tahun 1988, setamat SMA kami diminta mengurus SKBL, entah untuk apa: aku lupa. Namun yang masih kuingat, aku mengurusnya dengan seorang teman akrab, selapik seketiduran, kata orang Minang, kami berangkat bersama. Setelah menunggu beberapa hari kamipun menjemput hasilnya, apa hendak dikata SKBL-ku terbit sementara temanku tidak.
Kulihat pandangannya menerawang jauh ke langit biru, setetes air mengalir di matanya. "Ya, syudahlah...!", hanya itu yang terlontar dari mulutnya.
SKBL adalah Surat Keterangan Bersih Lingkungan, bahasa kasarnya Surat Keterangan Lingkungan Kerabat Tak Terkait dengan PKI, Komunis.
Bicara pertentangan ideologi, kampungku termasuk yang "porak poranda" - Mamak berseteru dengan Kemenakan, Ipar dengan Besan, Mertua dengan Menantu, untung tak ada perseteruan antara Suami dengan Isteri. (Bisa jadi sudah di SKBL kan dulu, oleh Mak Datuknya)
Hancur pokoknya...!!! Sekarang, ampas-ampas kecurigaan itu masih menancap dalam. Apa hendak dikata, 32 tahun lamanya pertentangan itu merasuki otak, hati dan pikiran kami, anak Nagari.
Masjumi dan PKI memang mendapat tempat yang imbang di kampungku. Bahkan, seorang Tokoh PKI adalah warga kampung. Tidak sepamor DN. Aidit memang, tapi jadilah... Usman Keadilan, namanya. Pernah dibuang ke Digul. Namun Google, tak banyak mengindeks tentang beliau. Hanya ada di Inghist.nl, dan dalam buku Spanning A Revolution - Molly Bondan serta pada buku Memikir Ulang Regionalisme - Gusti Asnan.
Yang aku tidak mengerti adalah militansi dari kubu yang berseberangan itu, yang hingga kini masih mengurat mengakar, mungkin karena disemai secara turun temurun. Ihwal tersebut masih kentara ketika ada pembentukan Organisasi seperti Karang Taruna, LKMD, Kerapatan Adat Nagari, LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) dan seterusnya.
Anehnya, mereka yang katanya, komunis itu, dalam keseharian juga ke Mesjid, Sholat Jumát dan Taraweh. Kesimpulan sementara yang dapat kuambil adalah militansi yang mereka anut adalah "militansi taklid" - Kumaha Komandan Wae, tidak memahami esensi sebuah ideologi.
Kembali ke SKBL, aku tak tahu apakah masih berlaku hingga saat ini. Tetapi dari pengalaman ber-SKBL ini, tercetuslah satu pemikiran, kenapa Ruang Pembelajaran Ideologi itu tidak dibuka saja selebar-lebarnya, sehingga kita boleh belajar, membandingkan, menghayati dan mengamalkan dengan "haqul yaqin" sehingga tidak mudah diadu domba oleh Para Ketua-Ketua itu.
Lain cerita, coba lihat, saat ini para Ketua-Ketua yang dulu merayu meminta dukungan, seenaknya menggabungkan dukungan dengan berkoalisi, tanpa perlu bertanya kepada kita, yang telah bersuara!
*idih, mlenceng?*
Tidak juga sih, Point of Viewnya adalah, sampai kapan kita hidup dengan ideologi, Ba a kato Ketua seh/ Kumaha Juragan Wae/Depend on My Boss/ - Pokoknya Terserah yang Diatas daaah......!
Sampai kapan, kawan?
Gambar dari: OrangDalam.BlogDetik.Com
Tag: politik, PKI, ideologi, tokoh, Komunis, Masjumi
Terkait:
-
(Review) Lekra Tak Membakar Buku
Kamis, 1 Okt '09 23:49 -
Siapa Sih Yang Sebenarnya Komunis?
Selasa, 29 Sep '09 16:12 -
PKI (Pisang-Ku Ini)
Senin, 28 Sep '09 15:04
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Sri Kirana: Menarik
-
Yudiantoro: Penting
-
Striding Cloud: Penting
-
samsara: Inspiratif
-
Logical Fallacy: Penting
-
Google: Menarik
-
R A P: Menarik
-
C e l o: Menarik
-
heriyadi: Menarik
-
warjito: Menarik
-
hamatamu: Menarik
-
Catshade: Menarik
-
AndyMSE: Menarik
-
Upik: Bagus
-
Irfani Latif: Menarik
-
asep1974:
-
ancilla: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Sayangnya banyak sekali orang yang masih mudah untuk dipengaruhi tanpa memiliki keinginan untuk mencari tahu sendiri...
konteksnya seo, waktu itu metode untuk mencari tahu sendiri begitu sedikit.
Kita generasi .net segalanya serba mudah, asal ada kemauan.
Memang jaman dulu itu mau cari buku-buku yang berbeda pendapat atau yang kritis tentang penguasa itu susahnya setengah mati, tetapi sekarang masalahnya orang-orang yang macam begitu pun masih ada, itu lah konteks komentar saya...
e tapi waktu itu buku Tan Malaka gak boleh beredar Logical Fallacy.
beruntunglah engkau wahai generasi.net gitu kan Striding Cloud?
Aku Belum paham nih, dg Tumbennya samsara?
Hak-hak, kewarganegaraan gak hilang, hanya saja, apa yah istilahnya? Begini deh, kalo mereka gak punya SKBL, mo jadi PNS, TNI, Polisi, nah... Register boleh, tapi Gak Lulus pasti. Kek gitu deh!
Idih, Om Google? Tadi hadir gak, ke Loncing?
Gak hadir pak, lagi maintenance di Lincoln
Tuturan tentang PKI kan ilustrasinya saajaah...!
*pada dasarnya, kita hidup baru pada tingkat korban....*
______________
Jangankan sampai persoalan "melek ideologi", lha kalau ditanya kenapa pilih partai A atau kenapa pilih partai B saja akan banyak orang yang ngga bisa jawab kok... (kecuali mungkin yang kena "seranganfajar"
Pada generasi baru sih saya lihat sudah jauh lebih "melek" untuk tidak menelan segala sesuatunya bulat-bulat. Mungkin itu juga sebabnya jumlah golput meningkat dari pemilu ke pemilu ya ?
Dasar negara diskriminatif.
*kalem*
Ah, C e l o bisa aja...., waktu itu ngejawab soanya betul gak? kok bisa gak lulus, padahal pinter. Nah...
Siapa pun pemimpinnya baik nanti itu orang yang kita pilih atau bukan, kita harus tetap kritis dan mencari informasi sebanyak-banyaknya, bukan hanya apa yang ada di media konvensional tapi yang lebih penting apa yang tidak ada di media konvensional.
*nyiapin kayu bakar*
mulut boleh komat-kamit tapi penipuan di catet bok pasal 378 kalo ga salah
Silahkan login untuk memberikan pendapat