MEGAWATI, KESEMPATAN TERAKHIR DAN BERPELUANG TIPIS 15
Senin, 27 Apr '09 22:18
Melihat PDIP tidak jauh beda dengan Golkar, sama-sama partai peninggalan Orba dan punya kultur yang hampir sama yaitu sangat tergantung tokoh dan figur, Cuma bedanya Golkar masih cukup maju dan kreatif serta gudangnya intelek, sementara PDIP masih kuat dengan ststus quo dan minim intelek dan tokoh.
PDIP sangat tergantung nama besar Mega dan kultur Sukarnoisme, tanpa Mega dan Sukarno PDIP seperti ayam kehilangan induk, bahkan kedepan PDIP diprediksi masih akan tergantung dengan trah Mega, dan Puan Maharani diprediksi menjadi "juru selamat" PDIP dimasa yang akan datang.
Karena ketergantungannya pada ketokohan sejarah itulah maka PDIP mungkin adalah satu-satunya partai paling kolot dan unik dimasa reformasi. PDIP menjadi tidak kretif dan mengabaikan pengkaderan yang intelek. Semenjak ditinggalkan tokoh-tokoh intelek yang dulu pernah ada seperti Laksamana Sukardi dan Kwik Kian Gie praktis PDIP seperti kehilangan SDM yang tangguh, sekarang yang terlihat agak lincah hanyalah Pramono Anung sendiri.
Diprediksi Pilpres 2009 juga belum menjadi keberuntungan PDIP, minimnya SDM dan mungkin juga ambisi dan keinginan untuk "balas dendam" atas kekalahan 2004 menjadi penyebab Megawati dicalonkan kembali di Pilpres 2009. Padahal secara hitungan matematis Megawati cukup berat untuk mengalahkah Demokrat / SBY rival bebuyutannya.
Alasan pertama, kalau perolehan suara Pileg 9 April 2009 adalah sebagai indikator, maka suara yang diperoleh PDIP sudah sangat anjlok dibanding pemilu 2004, artinya entah karena apa, PDIP sudah mulai tidak disukai rakyat. Ini sudah cukup menjadi sinyal kuat bagi PDIP untuk tarung di Pilpres 2009. Tetapi karena sudah terlanjur mendeklarasikan Capres sendiri dan sudah cukup lama menjadi oposisi yang tidak menikmati kue kekuasaan akhirnya nekat mengadu untung dengan modal suara minim tetap maju jadi calon presiden.
Alasan kedua, dari segi histori Mega pernah menjadi Presiden dengan prestasi minim bahkan bisa disebut gagal, rakyat masih punya kenangan kuat terhadap prestasi kinerja Mega ketika menjadi Presiden, kondisi keamanan amburadul, ketegangan politik dan yang paling mengecewakan adalah banyaknya BUMN yang dijual kepada asing. Sehingga apapun yang dikatakan PDIP ketika berkampanye kemarin dengan slogan "sembako murah" tetap tidak membuat rakyat tertarik karena khawatir yang akan dipakai untuk sembako murah dari menjual BUMN.
Yang terakhir, Pilpres kali ini adalah taruhan terakhir bagi Mega. Menang ataupun kalah harus tetap tunduk pada hukum alam karena usia sudah mulai senja.
Keberuntungan Mega / PDIP kita lihat di Pilpres 2009, siapa yang tangguh dan dipilih rakyat untuk memimpin negri ini? Kalau tidak dipilih berlapang dada-lah, kalau mau marah, marahlah kepada rakyat bukan kepada calon yang lain, karena sekarang rakyat sudah pintar memilih siapa yang membual dan siapa yang sungguh-sungguh.
Terkait:
-
Jangan Pernah Menyerah tetapi juga jangan pernah serakah dan takabur?.
Kamis, 4 Mar '10 10:07 -
PEMILU 2009 DAN KEDAULATAN RAKYAT*
Kamis, 4 Feb '10 22:11 -
Manusia bawah tanah: sebuah kebingungan pemikiran Maya
Selasa, 15 Des '09 18:49
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Sri Kirana: Menarik
-
hersamin: Menarik
-
kang tutur: Biasa
-
Kucing Neolib: Keren
-
warjito: Lucu
-
Google: Menarik
-
hamatamu: Biasa
-
uceenk: Bagus
-
Catshade: Menarik
-
kak inco: Bagus
-
opiniherry: Bagus
-
Nenda Fadhilah: Menarik
-
R A P: Menarik
-
Yudiantoro: Menarik
-
heriyadi: Menarik
-
AndyMSE: Menarik
-
kalipaksi: Menarik
-
Raden: Menarik
-
Upik: Bagus
-
ndableg: Bagus



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
*Mega Mendung*
~hiks... OOT ~
AndyMSE; bagaimana kabarnya budiman sudjatmiko dan kawan-kawan ya bung?
masa' cuman mega saja sih kandidat terbaik dalam pengusungan capres ? apakah tidak ada yang lainnya ? masih banyak loh generasi muda yang mumpuni ... he he he he ...
Silahkan login untuk memberikan pendapat