Mengapa RI 1 atau RI 2 harus dari timur? 26

Senin, 27 Apr '09 12:36

Waktu kecil dulu, kedatangan mahasiswa yang akan melakukan praktek Kuliah Kerja Nyata (KKN) selalu menjadi momen yang dinanti. Mereka disambut melebih artis atau pejabat. Perpisahannya apalagi. Selalu diwarnai tangis haru, pelukan erat, di akhir pementasan drama anak-anak sekolah malam hari. Dan esoknya, isak tangis di tanah lapang yang berubah jadi pasar, kembali berulang. Di sana segala macam kardus berisi makanan khas buatan warga desa serta hasil kebun berupa buah dan sayur, siap diangkut ke truk milik mahasiswa.

Apa pasal? Selama di desa, mahasiswa KKN ngajarin ibu2 dan remaja putri berbagai keterampilan rumah tangga mulai dari bikin kue, masakan 'modern' dari kota, menyulam, menjahit, bikin usaha rumah tangga, dan sebagainya. Sementara untuk anak2, mereka diajari tarian, nyanyian atau pelajaran di sekolah yang tak didapat dari guru2 tua yang tak pernah ke kota dan tak pernah kuliah. Bagi bapak2, mereka diajari cara2 baru bertani. Intinya, mahasaiswa KKN itu dipandang sebagai kumpulan orang serba bisa. Mahasiswaaa...

Tak heran para kepala desa atau lurah dengan rela menjodohkan putrinya dengan mahasiswa KKN. Begitu pula dengan kembang desa, berebut mendapatkan kumbang kota. Walaupun pada akhirnya ternyata mereka dibawa kembali ke desa (lagi) tempat suaminya yang jauh dari kampungnya itu, tapi paling tidak mereka sudah memenangkan 'pertarungan' berebut manusia serba bisa.

Hal utama yang membuat warga desa menyambut mereka dengan suka cita adalah, perubahan yang dibawa mahasiswa itu. Perubahan yang dimaksud umumnya pembangunan fisiik berupa infrastruktur yang akan melancarkan akses orang desa.

Contohnya, yang saya ingat, dulu di desa tetangga yang termasuk salah satu daerah tertinggal, jalannya buruk sekali. Tak sepotong pun beraspal. Suatu hari mereka kedatangan mahasiswa KKN. Salah satu peserta KKN adalah anak gubernur Sulsel saat itu. Dalam dalam tempo dua minggu, jalan2 di desa itu diaspal semua. Ini berkat laporan si anak ke bapaknya. Cerita lain, soal jaringan listrik. Bertahun-tahun kepala desa bermohon program listrik masuk desa, tak pernah digubris. Begitu anak KKN datang, yang salah satunya juga anak pejabat, simsalabim, listrik masuk desa.

Hubungannya dengan judul?
Dari cerita ini ada garis besar yang bisa ditarik bahwa, suatu daerah akan lebih diperhatikan jika ada "oknum" pejabat yang memiliki kuasa di sana. Contoh nyata ya anak pejabat yang ikut KKN. Hanya jangka waktu dua bulan mereka berada di suatu daerah, mereka sudah bisa mengetahui kebutuhan di desa itu [mungkin juga itu adalah kebutuhannya sendiri], lalu meneruskannya ke pihak berkuasa [karena kedekatan], dan mimpi warga desa pun segera terujud.

Harus putra daerah? Oh, nggak juga. Yang penting adalah, dia tahu betul kebutuhan suatu daerah. bagaimana caranya ia tahu, jika ia tak pernah merasakan menjadi warga suatu daerah yang terkebelakang pembangunannya? Lalu, kata Anda, nanti toh ada kunjungan pejabat ke daerah. Sorry, setahu saya, ini sesuatu yang beda. Saat pejabat akan berkunjung, semua hal udah 'dibersihkan' agar segalanya tampak 'beres'. Jalanan diaspal [dan berlubang dua minggu kemudian], rumah kumuh digusur [atau memindahkan kekumuhan ke tempat yang tak terlihat]. Dengan begitu, si pejabat berpikir, apa lagi yang perlu saya benahi di sini? Kesemrawutan dan kemiskinan suudah dientaskan [padahal hanya dipindahkan ke tempat tersembunyi agar bapak senang].

Saya tidak berbicara tentang calon harus dari Sulawesi khususnya di Selatan. Wilayah timur yang saya maksud termasuk Kalimantan. Mengapa? Karena walaupun posisinya sebagian besar di barat, namun kue pembangunan, juga tak terasa di sana. Kondisinya malah lebih terkebelakang dibanding Sulsel meski jaraknya dari pusat kekuasaan di Jakarta lebih dekat. Roda pembangunan nyaris tak bergerak di sana. Apalagi kalau bicara soal Papua. Sudahlah. Harta mereka habis diangkut ke Jakarta, dijadikan sapi perah, tapi mereka tak pernah mencicipi hasil pajak yang mereka bayarkan.

Ini berdasar pengalaman saja, semoga pikiran saya tak menyesatkan. Berubah, itu pasti. Zaman saya KKN, sudah tak begitu heboh. Gegap gempita hanya datang dari murid2 saya di SD yang terletak di tengah kebun coklat (cacao). Di Musyawarah Pembangunan Desa, saya masih dianggap lebih baik jadi moderator ketimbang kepala desa tukang mabok. Sementara KKN zaman sekarang? Terakhir bulan Februari lalu yang saya dengar, mahasiswa malah berantem dengan induk semang, kepala desa dan berujung pada pengusiran mahasiswa. Sementara anak2 pejabat, tidak lagi memilih KKN ke desa tapi magang di perusahaan gede.

Pejabat RI 1 atau RI 2 atau pejabat lain yang saya tunggu adalah mereka yang dari timur, dari daerah yang nyaris tak tersentuh pembangunan. Entah dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, atau Papua. Tak soal pembangunan yang didahulukannya pada wilayah yang memiliki kedekatan hubungan dengannya. Asal warga masyarakatnya ikut merasakan dan diuntungkan oleh mereka. Tapi tentu saja bukan orang macam Abdul Hadi Djamal yang kami tunggu!

* catatan: tulisan ini saya posting di blog ini


Tag: Pilpres

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Catshade 0 0
    Pertanyaan #1: Selama JK jadi RI-2 kemarin, apakah pembangunan di kawasan Sulawesi lebih baik dibanding periode pemerintah2 sebelumnya?

    Pertanyaan #2: Siapa ya tokoh masyakarat kaliber nasional yang berasal dari Kalimantan? : |
    babyloniamaria 0 0
    siapa lagi abdul hadi djamal ini??
    perempuan api 0 0
    jawaban 1: dalam hal pembangunan fisik, ada tambahan sedikit, di beberapa daerah. bandara dibenerin, pelabuhan dibangun.

    jawaban 2: entah...saya juga mencari2 dan pengen ada.

    teblumphd: the next penghuni penjara, mungkin
    babyloniamaria 0 0
    banyak orang yg seharusnya dari dulu menghuni penjara tapi ga bisa ke tangkep karena deking' dan ga ada yang mau jadi saksi selain saksi korban.

    that's the truth about money politic and premanism
    Sri Kirana 0 0
    Benar, pembangunan di Kalimantan itu bisa dibilang nyaris tidak ada meskipun wilayahnya lebih dekat ke barat... Saya jadi prihatin juga, padahal saya salah satu keturunan rantau dari Kalimantan...


    *berpikir mencalonkan papa sendiri sebagai cawapres : p*
    Striding Cloud 0 0
    Catshade:
    [..
    Pertanyaa n #2: Siapa ya tokoh masyakarat kaliber nasional yang berasal dari Kalimantan?
    ..]

    1. Hamzah haz.
    2. Sutiyoso (alumni smansa pontianak)
    3. Sultan Hamid 2
    4. Papahnya Sri Kirana
    5. 50 tahun lagi: saya ? : D
    Catshade 0 0
    Striding Cloud:

    1. dia udah lewat masanya : p
    2. tapi dia Jawa banget bukannya? ^^;
    3. yang masih hidup doms!
    4. dan 5. kita lihat nanti lah : D
    Mas Paman 0 0
    Pendekatan ini merupakan konsekuensi pendekatan pusat-daerah, (pulau)jawa vs luar-jawa dalam puluhan tahun Indonesia merdeka. Jawa sentris, itulah pangkal soal. Sehingga muncullah niat tentang tingkat keterwakilan.

    Pada tingkat pemuasan ikatan emosional barbau kedaerahan mungkin berguna, tetapi pada aspek manfaat nyata memang perlu ditimbang bareng. Bisa rumit karena cara pandang "masyarakat WIB" dan "WITA" serta "WIT" boleh jadi berbeda, karena kepentingannya berlainan. Yang merasa dekat dengan Jakarta merasa lebih berhak menuntut, padahal kemajuan yang mereka petik sejak lama memang karena sumbangan saudara-saudara dari wilayah lain.

    Otonomi daerah, secara teoritis, diharapkan mengatasi itu. Kalau berjalan sehat, maka asal wilayah presiden dan wakilnya mestinya tidak penting lagi. Secara teori sih... : )
    kak inco 0 0
    tieblumphd
    banyak orang yg seharusnya dari dulu menghuni penjara tapi ga bisa ke tangkep karena deking' dan ga ada yang mau jadi saksi selain saksi korban.

    ==============

    deking? bahasa mana pula itu? bahasa kimia jeng?
    Casper 0 0
    Demokrasi,..jumlah jadi penting,..jawa adalah koentji. Solusi yg mungkin adalah, jangan KB. Beranak pinaklah layaknya kelinci, dan pastikan terdaftar DPT : D
    Google 0 0
    Casper
    berpoligami lah : ))
    perempuan api 0 0
    paman,

    sekedar sharing aja: saat menulis artikel ini saya sempat ragu jangan2 tulisan ini akan direspon dengan 'jawa vs non jawa' dengan sentimen rasis. daerah timur yang saya maksud semata-mata soal pemerataan pembangunan. kalo pun saya terpaks ngasih contoh tentang sulawesi di bagian selatan, itu karena saya melihat realitas yang ada di sana.
    setuju, teorinya memang seperti itu : )
    Mas Paman 0 0
    dear perempuan api,
    saya paham kok. : )
    tapi, yeah, mau tak mau urusannya jadi jawa sebagai wilayah dengan (maaf) luar jawa. itulah sebabnya dalam komen sebelumnya saya menyertakan kata "pulau".

    istilah "luar jawa" pun, sebagai pelengkap vis a vis dari "jawa", kayaknya aneh, seolah indonesia cuma dibagi jadi dua bagian.
    Logical Fallacy 0 0
    perempuan api - Kalaupun bukan berasal dari daerah tersebut (atau pernah tinggal di sana) juga bisa, asalkan mau membaca realitasnya di media dan blog-blog misalnya.
    HTS 0 0
    Perumpuan api, bersabarlah dalam pengharapanmu, suatu saat sinar itu akan bercahaya dari Timur.: )
    Leksa 0 0
    akui atau tidak paman,..
    stigma 2 bagian indonesia itu udah ada diotak bagian dalam manusia Indonesia...

    jawa dan luar jawa...
    ichanx 0 0
    katanya bhineka tunggal ika... ngapain sih masih beda2in barat-timur, jawa-non jawa, and so on?
    uceenk 0 0
    sebetulnya dari timur atau dari barat itu menurut saya tidak terlalu penting

    yg penting dia bisa memahami apa yg terjadi pada daerah tertinggal

    masalahnya kalo bicara daerah tertinggal bukan hanya ada di timur saja, saya rasa di barat juga masih ada
    spidolhitam 0 0
    harus dari timur, jawa timur maksudnya
    rampok 0 0
    makin ke timur makin gak ke-urus. Makassar punya bandara baru semata-mata karena JK? Wah .. kasian orang-orang Papua itu ya, kesempatan mereka jadi presiden/wapres hampir nggak ada. Jadi sama sekali gak maju deh : (
    yourfriend 0 0
    atau pilih ratno timur aja...........:-D

    btw saya setuju fallacy, yang penting bisa membaca realitas
    jensen99 0 0
    ichanx: Dikotomi itu memang ada kok. Orang Jawa itu 42% dari seluruh populasi, dan memang dominan secara politik & budaya. Tentu saja mereka jadi "fraksi" sendiri di Indonesia : D

    uceenk: di 'barat', yang tertinggal itu level desa/kelurahan mas, tapi kalo di 'timur' yang tertinggal itu level kabupaten. : D
    ichanx 0 0
    @jensen : iya, dominan emang orang jawa... tapi, apa orang jawa satu suara semua? enggak kan... SBY ama Mega panas2an loh, padahal sama2 jawa...

    bukan persoalan jawa atau non jawa sih kalo menurut gw... tapi hanya perasaan ingin exist dari oknum2 pencari kekuasaan di daerah2 tertentu.... hebatnya, taktik yang dipake berhasil memobilisasi rakyat2 di daerah2 itu... akhirnya kembali lagi ke semangat kedaerahan, gak ada semangat kebangsaannya kan? : D
    eckyy 0 0
    hmm..menurut saya kalo untuk pembangunan,gak mesti dari timur sih..tapi itu mungkin bisa sebagai katalis, hehe
    asmar 0 0
    Betul, sebagai 'katalis', itu yang paling tapat.

    Bukan soal Jawa dan Non Jawa. Kalau tema ini yang diangkat, debatnya pasti seru. Di atas, ada kawan yang bilang, orang jawa itu 42% dari populasi. Berarti orang Non Jawa 58%, masih lebih banyak kan? Kalau begitu seharusnya yang jadi presiden orang 'Non Jawa', wakilnya barulah 'Orang Jawa'. Gimana, gak setuju lagi?

    Itulah sebabnya, ada istilah geo politik. Intinya sebenarnya keseimbangan. Kalau presidennya Jawa, ya wakilnya kasihlah ke orang Non Jawa (jangan Jawa lagi). Selain itu, untuk menghindari kesan Jawa 'menguras' SDA luar jawa untuk mempercantik Pulau Jawa saja....

    Sederhana sih, tapi kalau semua mengangkat tinggi-tinggi egonya, jadi susah deh....
    Raden 0 0
    Hmmm ...

    Gimana kalo ibukota dipindah ke Papua yah ?
    Apakah yang menjadi presiden tetap orang Jawa ?

    Silahkan login untuk memberikan pendapat