Maafkan kami, Ki Hadjar Dewantara... 38
Sabtu, 2 Mei '09 11:08, dibaca 849 kali
Pola "Banking Education" dianggap sebagai pola pendidikan ideal semenjak masa kolonial. Dari kecil kita diajari banyak hal di sekolah. Otak yang "kosong" ini diisi terus oleh orang-orang dewasa: guru-guru kita sendiri, agar mejadi "mereka". Di tengah kebutuhan standar global, sekolah menjadi mentereng mahal, prestisius dan menampung kelas ekonomi mampu agar menjadi "aktor global keren".
Paulo Freire sudah mengingatkan sejak tahun 1970-an bahwa dunia pendidikan tidak pernah memberikan otonomi bagi anak. Tujuan pendidikan sudah melenceng dari kebutuhan menciptakan generasi kreatif, bahagia, dan bermental bebas menjadi seperangkat metode menciptakan buruh-buruh industri siap kerja dalam sebuah kelas stagnan.
Bahkan sistem Ki Hadjar Dewantara: di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung" yang diciptakan olehnya dalam konteks kebencian pada kolonialisme yang menciptakan kelas budak berjiwa kerdil sudah kalah oleh tuntutan industri yang membutuhkan sekrup-sekrup baru "kelas pekerja". Sebuah dehumanisasi massal yang memiskinkan batin.
Anak kecil bukan orang dewasa kecil. Anak memiliki daya imajinasi luar biasa dan otonom. Mereka adalah subjek bebas yang kreatif. Beri dia pinsil maka dia akan menggambar, beri dia sekumpulan kardus bekas maka Ia membangun sarang, rumah-rumahan atau bahkan benteng pertahanan. Lalu bubur kertas jadi gunung berapi, dan satu rak sepatu jadi barisan kapal-kapal perang di Pearl Harbor. Kalau ingat Laskar pelangi, murid-murid Taman Siswa mungkin kucel dari luar, tapi batinnya kaya di dalam.
Tapi surga anak kecil pun tega direnggut atas nama standardisasi modern. Dari kecil otonominya dalam menentukan pilihan dipenjara dalam dunia politically correct orang dewasa. Sebuah dunia yang berbahasa ekonomi pasar-global. Bahkan dengan cara-cara canggih yang sistemik, yang bermuka manis "edutaiment". Sebuah wahana bermain "Taman karir" dibangun di mall kota Jakarta. Isinya adalah kota virtual penuh lapangan kerja dewasa yang hampir realistis, sehingga anak tidak perlu mengeluarkan energi untuk berimajinasi kreatif. Dengan modal sekitar 100 ribu rupiah, imajinasi itu tersedia. Instant!!
Aku melihat anakku membuat cumi-cumi raksasa, kapal bajak laut dan pesawat terbang dengan modal kertas bekas. Aku tak mau kreativitasnya tercuri oleh imajinasi instan Kidzania. Aku juga masih berhutang padanya: membantunya membuat rumah di atas pohon (kami tidak punya pohon), serta sebuah go-kart kayu (nah ini karena belum ada waktu, Bapak buruh yang sibuk).
Selamat hari Pendidikan Nasional semoga masa depan anak Indonesia lebih baik lahir dan batin.
Tag: pendidikan nasional, Paul Freire, Ki Hadjar Dewantara, kidzania
Terkait:
-
Harapan untuk Pendidikan Indonesia
Senin, 23 Mei '11 14:08 -
Anti Komunisme di Sekolah Indonesia
Jumat, 4 Jun '10 14:18 -
RSBI : Rintisan Sekolah Bertarif Internasional
Rabu, 26 Mei '10 21:12
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
hamatamu: Bagus
-
Catshade: Penting
-
Moonlight: Menarik
-
ariau: Inspiratif
-
Shouen: Bagus
-
Po': Keren
-
Google: Keren
-
gaplehExtreme: Inspiratif
-
Apprayo: Bagus
-
Irfani Latif: Penting
-
Gagah Putra Arifianto: Bagus
-
Miranda: Inspiratif
-
Wonggantenk: Inspiratif
-
Ardani P: Penting
-
kalangwan: Bagus
-
Upik: Bagus
-
AndyMSE: Menarik
-
Roby Muhamad: Keren
-
Asep Mulyana: Penting
-
Boy Avianto: Keren
-
addysrino: Bagus
-
Setan bebas: Inspiratif
-
samsara: Menarik
-
Arian: Inspiratif
-
Dh2L: Inspiratif
-
TTTH: Bagus
-
heriyadi: Keren
-
nicowijaya: Keren
-
virtri: Inspiratif
-
ksatriaberkuda: Penting
-
Yudiantoro: Bagus
-
Riri Satria: Inspiratif
-
opiniherry: Keren
-
gunawanrudy: Bagus
-
abee: Penting
-
Chellavin: Inspiratif
-
depadma: Keren
-
curiosity: Bagus
-
jangdesur: Keren
-
indira: Biasa

Komentar:
bikin sadar kalo saya masih ada hutang juga sama anak saya...Mandi hujan, main bola di becekan..
------------------------------------ --------------
yup, benar sekali, great point mas!
Saat ini sepertinya banyak orang tua yang menyerahkan/merelakan anak-anaknya untuk disandera oleh TV.
Maka tak heran kalau kegiatan menonton sinetron BERJAMAAH adalah potret yang lazim yang bisa kita temukan di Keluarga-Keluarga indonesia, terlebih lagi di masyarakat kalangan pedesaan. Parahnya lagi tanpa adanya (kurang) bimbingan/pengarahan dari si penguasa Remote TV (Orang Tua).
Saya khawatir pendidikan akan tersempitkan maknanya, dan kehilangan akarnya, yaitu pendidikan yang bermula dari KELUARGA.
Emmmm, sepertinya menyenangkan ya menjadi seorang Ayah dari anak yang Lucu lagi menggemaskan, sekaligus menjadi Suami (dari satu istri) yang meneduhkan.....
?
Artikel yang mencerahkan, Knalpot Putih.
=================================
Bena r2 sekolah sekarang terlalu menunjukkan 'kementerengannya' dan mengedepankan 'prestige'. Dulu saya sekolah SMP ya namanya cuma SMP. Sekarang Adik saya bingung mau masuk sekolah ke : SMP SBI (Sekolah Bertaraf Internasional), SMP SSN (Sekolah Standar Nasional), SMP Bilingual, SMP RSBI, atau SMP Reguler, dll.
Apakah dibalik nama2 yang 'mentereng' itu juga akan dibarengi dengan mutu pendidikan yang 'mentereng' pula? Atau justru sistem pendidikan seperti itu, malah membebani anak-anak kita, dan merenggut dunia mereka...
----
Saya juga lagi pusing, Adik saya yang akan masuk SMP SBI sekitar 2-3 bulan ke depan, kabarnya DIWAJIBKAN membawa laptop saat kegiatan belajar mengajar berlangsung...
---
*mulai ngirit*
Tapi kata orang orang berduit, pola seperti kidzania itu pula yang cepat membantu proses imajinasi anak.
Bagaimana itu?
Kalau saya tetap milih nanti ngajak anak saya maen patok lele, galasin, guli, yoyo, tri ala go tri, dll yang saya mainkan sewaktu saya kecil dulu..
saya juga mau minta maaf sama Ki Hajar,saya masih suka bolos kuliah
------------
Kidzania pasti punya psikolog, antropolog, ahli pedagogi juga yang dibayar mahal. Mereka yang menerjemahkan keinginan kapitalisme modern dalam program-program bisnis edutaiment yang laku. Kapitalisme adalah mahluk adaptif dan pintar. Sayangnya hanya memihak pada kelas ekonomi mampu, tidak memihak pada hakekat pendidikan itu sendiri: membebaskan manusia dari sekat-sekat kelas...Memanusiakan manusia..!
Tidak heran kalau home schooling menjadi banyak pilihan orang... yang sayangnya tidak semua orang mampu membiayainya
Thanks Boy Avianto. Video kuliahnya menggugah hati saya.
Tak cuma itu, di sekolah setingkat SMP itu, ia membangun kelas dengan metode partisipatoris yang memandang guru bukan orang yang paling tahu dan otak siswa bukanlah sesuatu yang kosong. Metode ini mengasumsikan setiap orang adalah dewasa dan memiliki pengalaman--yang dengan pengalaman itulah mereka belajar dan bersintesis. Guru hanya berperan sebagai fasilitator yang memerdekakan.
Lagi-lagi, tak cuma itu, ia juga membangun kelas dengan kapasitas yang membuat para siswa Madrasah Tanawiyah As-Sururon itu tak beranjak dari tanahnya. Anak-anak itu dibekali dengan berbagai keahlian yang membuatnya tidak keluar dari desanya, mulai dari bengkel hingga bercocok tanam--sebuah strategi lain mempertahankan tanah dalam gerakan reklaiming di tanah konflik.
http://tunascende…archives/279
http://liberasi.w…-anak-petani
http://liberasi.w…ak-petani-2/
Orang-orang seperti Boy Fidro harusnya lebih banyak diekspos di media deh. Dibanding para pemain sinetron dan politisi yang berbondong-bondong 'peduli' saat ada bencana alam saja
Saya lebih suka memakai istilah fasilitator bukan guru karena fasilitator cuma membantu proses sedikit saja biar mereka sendiri yang berinteraksi dengan apa yang dipelajarinya.
setuju sekali mas, jadi imajinasi dan kreativitas anak terkotak-kotakkan dengan itu semua.
haruskah ada revolusi pendidikan ?
Anak itu menegaskan visi gurunya, Boy Fidro: "Sekolah ini dibangun di atas komunitas dan lulusannya akan kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan komunitas. Kami tidak ingin menjadi sekolah yang hanya mengajarkan ilmu untuk pergi."
Kapan2 mungkin bisa diagendakan oleh politikaners untuk beranjang sana ke Desa Sarimukti yang terletak di sebuah dataran tinggi di Garut
Di madrasah Assururon, Garut (sekarang sudah menyebar ke Tasik dan Ciamis), mereka membangun sebuah gerakan yang sunyi (dari publisitas) untuk sebuah perubahan kongkrit yang amat cepat di level mikro.
http://www.tribun…artikel/5877
pendidikan yang mereka bangun bagus lho, jadi percontohan buat pendidikan anak-anak petani di indonesia. sayang ketuanya menurut saya agak gak bener.
Alkisah, tapi..Saya selalu degdegan dng basis agama yg potensial memperkuat dinding perbedaan antar orang (ini pasti salah gurunya juga sih).
SPP sendiri diketuai oleh Agustiana, aktivis mahasiswa yang dulu dituduh sebagai otak kerusuhan etnis di Tasik pada 1996. Ia juga sempat jadi DPO dalam kasus pembalakan liar tahun lalu.
http://www.tempo.…7/nas3_1.htm
http://www.sinarh…5/nus01.html
Saya tidak tahu persis kabar dia sekarang. Memang ada kabar-kabar miring seiring terjadinya transformasi dari "aktivis" menjadi "elite". Saya juga mendengar peran dan keterlibatan Agustiana di sekolah ini sudah lama tak terlihat--untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali.
Knalpot putih, agama kalo dipake kelompok pendukung khilafah atau textual-minded memang bisa mengerikan. Tapi jangan kuatir, kelompok2 ini gak punya visi membebaskan. Mereka cuma punya doktrin: kamilah yang paling benar, yang lain salah, kafir, halal darahnya, dsb. Tak mungkin muncul sekolah membebaskan dari visi beragama semacam ini.
saya mah gak tau nama sekolahnya, taunya sekolahnnya spp. hihihi.
terlepas dari ketuanya cara spp mengorganisasi petani bagus.
Tadinya teologi pembebasan jadi teologi pemenjaraan...
Lalu, bukti nyata tulisan Darmaningtyas di Kompas 2 Mei: Bahkan UUD 45 pasal 31 yang diamandemen telah menyertakan "ketakwaan". Turunan pada undang2 pendidikan dibawahnya adalah formalisasi agama atau penafsiran tekstual yang justru terdapat di sekolah negeri yang seharusnya berpola nasional.
Kebangsaan Indonesia modern yang sangat multikultural dan civic, dan dipuji dalam literatur tentang nasionalisme sedang mengarah pada kegelapan...
*Anak kecil itu ideologinya liberal
jujur sejak mulai sekolah sampai sekarang kuliah, saya merasa tersiksa.. mereka eperti membunuh potensi ku secara perlahan.. hiks
Anak kecil bukan orang dewasa yang terpenjara di tubuh munngilnya. dan sekarang anak-anak dididik untuk menjadi buruh..mencari recehan. didik untuk menjiplak, bukan dididik untuk pintar berkreasi..
"pelajaran mengarang, pelajaran kesenian, pelajaran menyanyi dan tari yang memanusiakan manusia dianggap minor dan cuma pelengkap. Padahal disitulah gudang kreativitas yang akan membantu dayacipta seseorang dalam pekerjaan2 "yang lebih serius", kelak."
abi says :
weehhh setuju bgt dah.. kesenian dinomor sekiankan.. malah jadi brainwashing nasional.. anak2 pra TK klo disuruh gambar pasti sangat imajinatif dan liar.. tapi ketika lulus TK gambar pemandangan jadi "2 gunung, matahari terbit ditengah, jalan raya ditengah, sawah dikiri jalan, rumah dikanan jalan (sering kebalikan) tapi komposisinya seperti itu." anak pantai juga klo disuruh gambar pemandangan hasilnya juga seperti itu.. gimana ini???
Silahkan login untuk memberikan pendapat