DNA Ideologi 181
Minggu, 3 Mei '09 23:28
Setelah kita menyimak definisi ideologi dalam tulisan sebelumnya: "What's Your Ideology?", biasanya akan muncul pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa saja ideologi yang ada di dunia ini? Apakah Islam agama atau ideologi? Mana yang bisa disebut ideologi dan mana yang tidak? Atau, apa yang membuat sebuah ideologi menjadi ideologi?
Sebagaimana yang saya sebutkan sebelumnya, saya tidak berniat mejadikan definisi ideologi ini sebagai satu-satunya definisi valid yang harus Anda pakai. Pertama, saya hanya berusaha menjawab ketika ada yang bertanya: Dude, what the heck is ideology? Dan kedua, saya hanya ingin mengajak Anda untuk melihat dunia secara berbeda berangkat dari definisi yang saya berikan tersebut.
Jika ideologi diartikan pandangan hidup rasional yang melahirkan aturan kehidupan integral, maka pandangan hidup tadi adalah ruh bagi ideologi tersebut. Ia seperti DNA yang memberikan cetak biru bagi organisme biologis kompleks. Ia seperti akar yang menentukan buah apa yang akan dipetik nantinya. Ia seperti iman yang membuat ideologi menjadi nyaman dan mantap diyakini, sehingga mampu tumbuhkan militansi dan konsistensi yang luar biasa.
Pertanyaan berikutnya adalah, jika pandangan hidup begitu penting bagi keberadaan sebuah ideologi, jika pandangan hidup menentukan merah hijaunya sebuah ideologi, lantas apakah pandangan hidup itu? What the heck is view of life? Apa sebenarnya yang membuat seseorang memandang kehidupan ini dengan cara yang berbeda? Dan kemudian dia bertindak, berpolitik dan berekonomi dengan cara yang berbeda? Apa yang membuat sebuah pandangan hidup menjadi pandangan hidup? Jika DNA biologis terusun dari kode-kode protein ATGC, maka DNA ideologis tersusun atas apa?
Sederhananya, pandangan hidup adalah sebuah rumusan yang menggambarkan relasi-relasi antara kehidupan manusia saat ini, dengan sebelum dan sesudah kehidupan (life after death). Seperti isu-isu tentang Tuhan, penciptaan alam semsesta, akhirat, surga dan neraka. Nampaknya setiap ideologi dalam definisi saya tadi, berusaha memberikan penjelasan rasional terhadap relasi-relasi tersebut. Yang mana rumusan pandangan hidup tersebut kemudian digunakan untuk merancang sebuah tata sosial politik yang khas dan unik.
Mari kita mulai dari Sekulerisme. Ia mengakui agama, Tuhan dan akhirat, namun ia menolak intervensi agama, Tuhan dan akhirat tadi dalam kehidupan luas, khususnya politik. Seperti yang dijelaskan oleh Prof. Barry A. Kosmin berikut:
Secularism refers to a belief that human activities and decisions, especially political ones, should be based on evidence and fact unbiased by religious influence (Kosmin, Barry A. "Contemporary Secularity and Secularism." Secularism & Secularity: Contemporary International Perspectives).
Beranjak dari sini, munculah pandangan hidup yang sekalipun tidak menolak agama, tapi mensterilkan peran agama dalam kehidupan luas. Manusia harus dibebaskan dalam menentukan sikap dan apa yang terbaik baginya, tanpa perlu tunduk dengan ketentuan agama mana pun. Halal-haram dan surga-neraka mungkin diakui, tapi tidak relevan dibawa-bawa dalam kehidupan publik.
Maka kemudian seluruh tatanan kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, hukum dan lain-lain disusun berdasarkan keyakinan separation of church and state ini. Jadi sekalipun dalam setiap lembar dollar tertulis: In God we trust, tapi God tidak boleh dibawa-bawa dalam mengatur ekonomi, yang kemudian menghasilkan corak ekonomi yang kapitalistik, yang bertumpu pada properti privat dan korporasi. Termasuk ketika presiden diambil sumpahnya di atas Injil atau Quran, tidak berarti pemerintahannya berpedoman kepada Kitab Suci tersebut. Tetap saja suara rakyat adalah suara Tuhan.
Bagaimana dengan Komunisme? Ideologi ini berangkat dari pandangan hidupnya; dialektika materialisme. Semua konsep-konsep Marx tentang politik, ekonomi dan revolusi bertumpu pada "akidah" dialektika materialisme ini. Seperti yang disebutkan Rob Sewell berikut:
Dialectical materialism is the philosophy of Marxism, which provides us with a scientific and comprehensive world outlook. It is the philosophical bedrock - the method - on which the whole of Marxist doctrine is founded (http://www.marxist.com/what-is-dialectical-materialism.htm).
Sederhananya, dialektika materialisme menganggap segala hal yang ada hanyalah dinamika materi yang berkembang, berubah dan berdialektika. Tidak ada tempat bagi Tuhan, surga ataupun neraka. Dari sinilah kemudian muncul konsep pertentangan kelas menuju masyarakat komunis yang dicita-citakan itu. Berbeda dengan Sekulerisme yang masih menerima agama, Komunisme justru menganggap agama, Tuhan dan akhirat sebagai penghambat kemajuan yang harus dihilangkan. Seperti yang dikatakan sendiri oleh Marx berikut:
Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, just as it is the spirit of spiritless conditions. It is the opium of the people (Karl Marx, Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right).
Bahkan lebih jelas lagi Lenin menyebutkan agama hanya akan menghambat jalannya revolusi yang bertumpu pada class strugle, sebab manusia rela menderita karena toh masih ada surga:
Impotence of the exploited classes in their struggle against the exploiters just as inevitably gives rise to the belief in a better life after death, as impotence of the savage in his battle with nature gives rise to belief in gods, devils, miracles, and the like (http://www.marxists.org/archive/lenin/works/1905/dec/03.htm).
Lalu bagaimana dengan Islam? Islam terdiri dari iman dan takwa. Akidah (pandangan hidup) dan syariah (aturan kehidupan). Akidah Islam itu sendiri adalah apa yang disebut dengan Rukun Iman: Iman kepada Allah, iman kepada Malaikat-malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada rasul-rasul-Nya, iman kepada hari akhir, serta iman kepada qadha dan qadar.
Dari Rukun Iman di atas dapat digambarkan relasi-relasi antara kehidupan saat ini dengan sebelum dan sesudah kehidupan: Bahwa Allah SWT telah menciptakan alam semesta dan seisinya. Tapi Dia tidak membiarkan manusia begitu saja, tanpa memberikan petunjuk untuk hidup di dunia dengan benar sesuai dengan perintah dan larangan-Nya. Sampai akhirnya manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatannya di dunia, dan ditentukan nasibnya apakah masuk surga atau neraka.
Dari prinsip halal-haram, pahala-siksa dan surga-neraka di atas, disusunlah sebuah tatanan kehidupan yang komprehensif baik pada lingkup pribadi, institusi dan negeri. Dalam ranah pribadi misalnya, seorang muslim wajib mencari nafkah dengan cara yang halal, makan minum yang halal, berpakaian dengan menutup aurat, menjalin hubungan dengan lawan jenis dengan cara yang halal (menikah), dan lain-lain. Semuanya ini dilandasi dengan kesadaran bahwa hidup adalah ibadah dengan menyempurnakan ketaatan kepada-Nya, mengharap ridha dan pahala-Nya, serta menghindari murka dan siksa-Nya.
Pada lingkup negeri misalnya kewajiban negara menjalankan Sharianomics, mengautur kepemilikan, produksi-konsumsi sampai distribusi sesuai dengan syariah. Melarang privatisasi dan praktek-praktek ekonomi berbasis riba. Termasuk juga menjalankan sistem pemerintahan Khilafah yang menempatkan kedaulatan (hak menetapkan hukum) di tangan syariat dan kekuasaan (hak mengangkat pemimpin) di tangan rakyat. Dan seterusnya.
Sampai di sini kita bisa melihat bagaimana pandangan hidup sebuah ideologi seperti sebuah DNA yang menentukan blueprint sistem politik, ekonomi, sosial, hukum yang khas dan unik. Jika DNA biologi terdiri dari kode-kode protein: Adenine (A), thymine (T), guanine (G), dan cytosine (C). Maka DNA ideologi terdiri dari relasi-relasi berikut ini:
| Sebelum Kehidupan (1) | Relasi (1)(2) |
Kehidupan Sekarang (2) |
Relasi (2)(3) | Setelah Kehidupan (3) | |
| Sekulerisme |
Pencipta |
Nggak penting |
Mengikuti kehendak bebas manusia |
Nggak penting |
Akhirat |
| Islam |
Pencipta |
Halal dan Haram |
Mengikuti halal dan haram (ibadah) |
Pahala dan Siksa |
Akhirat |
| Komunisme |
Materi |
Materi |
Mengikuti dialektika materialisme |
Materi |
Materi |
Dengan penjabaran DNA ideologi ini kita bisa mengetahui bahwa Sekulerisme, Komunisme dan Islam adalah sebuah Ideologi. Khusus untuk Islam berarti dia adalah agama sekaligus ideologi. Sekedar iseng-iseng saja, jika ada klaim sebuah ideologi baru, katakanlah Holoholo, menarik untuk menguji DNA ideologi tersebut dengan memintanya merumuskan relasi-relasi di atas.
Tag: islam, sekulerisme, komunisme, khilafah, ideologi
Terkait:
-
Saya Akhirnya Dapat Menerima Sistem Khilafah
Selasa, 5 Mei '09 04:06 -
Sharianomics: Properti
Sabtu, 25 Apr '09 00:10 -
Apa Itu Khilafah ?
Selasa, 14 Apr '09 00:49
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Fikirkan: Penting
-
ichanx:
-
Google:
-
Jaka Sembung Bawa Golok: Menarik
-
hamatamu: Lucu
-
babyloniamaria: Bagus
-
LCFR: Biasa
-
Irfani Latif: Menarik
-
adi: Menarik
-
heriyadi: Menarik
-
Wonggantenk: Bagus
-
Sri Kirana: Menarik
-
krisnov: Bagus
-
Good: Keren
-
kalangwan: Bagus
-
refi: Menarik
-
kalipaksi: Bagus
-
mandolo02: Menarik
-
asep1974:
-
iloenx: Biasa
-
dony: Biasa
-
gunawanrudy: Menarik
-
AndyMSE: Bagus
-
Catshade: Menarik
-
Syarif: Keren
-
Upik: Bagus
-
Jeka: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
[...Termasuk juga menjalankan sistem pemerintahan Khilafah yang menempatkan kedaulatan (hak menetapkan hukum) di tangan syariat dan kekuasaan (hak mengangkat pemimpin) di tangan rakyat...]
Kok balik kesini lagi? Perasaan udah entah berapa puluh kali didebat masalah ini... Bentuk khilafah atau tidak adalah suatu khilafiyah dalam ijtihad para pemikir muslim... Bahkan pengertian khilafah pun menghasilkan bermacam pengertian yang berbeda-beda pula. Hanya HT doang yang keukeuh membatu untuk menterjemahkan syariat itu harus dalam bentuk khilafah... secara global pula.... ckck...
Sekali lagi, itu penafsiran mas.... Gak ada pernyataan tertulis di Al-Qur'an tentang kewajiban membuat khilafah.... Lain halnya dengan perintah shalat atau puasa misalnya, yang jelas-jelas tertulis di Qur'an, dan tidak menimbulkan debatable sama sekali mengenai kewajiban menjalankan ibadah itu.
Penafsiran itu bisa beda-beda... Imam mahzab yang jenius masalah agama aja bisa mentafsirkan suatu hal dari dalil yang sama, namun dengan pengertian yang bertolak belakang mas.... Muhammadiyah bisa beda lebarannya dengan NU... Pun HT ataupun IM... Gak bisa dipaksain...
Islam yang Anda jabarkan sebetulnya adalah faham Sunniisme - Khalifah.. spesifiknya isme-isme.. paham-paham pemikiran Hizbut Tahrir!
Apabila Anda jeli membaca Quran, Anda akan menemukan ide-ide sekuler disitu; misalnya:
1. Tidak ada paksaan dalam kepercayaan, Truth Stands out Clear From Error!
2. Tidak ada nya sistem kependetaan / kerahiban (Arab: Rahbaniyah)
3. Kritik-kritik pedas terhadap kemunafikan kaum-agama / sektarian (dalam hal ini diwakili oleh kaum Yahudi dan Kristen, karena sekte Sunni, Shiah, Ahmadiyah belum ada pada waktu itu)
4. Jaminan bahwa seluruh manusia baik dari sekte / agama manapun akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Sang Pemelihara Seluruh Alam. (Faith must not judged by human!)
Tabel Anda seharusnya juga direvisi; terutama dalam baris Sekuler.
Sekuler: Relasi (1)(2): Diserahkan kepada individu masing-masing (Tidak ada paksaan dalam kepercayaan)
Sekuler: Kehidupan Sekarang (2) : Menghormati kehendak bebas manusia dalam batasan kehendak bebas tersebut tidak mengganggu kehendak bebas dan hak-hak asasi manusia lian.
Contoh: Tidak ada masalah apabila ada orang yang percaya bahwa dengan mengelilingi batu 7 kali di tengah gurun bisa masuk surga asalkan orang tersebut tidak memaksa orang lain untuk percaya atas kepercayaannya tersebut apalagi sampai melemparkan batu tersebut ke orang lain!
Sekuler: Relasi (2)(3): Diserahkan kepada individu masing-masing (Tidak ada paksaan dalam kepercayaan)
Salam
Tentang Sekulerisme, ada baiknya kita sepakati dulu pengertiannya. Saya mengutip definisi Sekularisme sebagai faham yang menihilkan peran agama dalam kehidupan. Para ulama juga mendefinisikan sekulerisme sebagai fashl ad-din anil hayah: pemisahan agama dengan kehidupan. Ato sering juga disebut separation of church and state. Pengertian ini sudah sangat lazim dan diterima banyak orang.
Kalo kita berangkat dari definisi ini, AFAIK, Sekulerisme bertentangan sepenuhnya dengan Islam. Karena setiap muslim wajib taat dan tunduk terhadap segenap syariah dan hukum2Nya. Dalam Quran disebutkan jika kita tidak berhukum dengan hukum Allah maka kita termasuk fasik, zhalim bahkan kafir.
Oh ya soal tidak ada paksaan dalam agama saya setuju itu: la ikraha fi din. Tapi begitu masuk Islam ia tidak boleh murtad kan? Kalo murtad maka termasuk riddah dan sanksinya death penalty. Nah dari sinilah persoalan ahmadiyah itu didudukkan. Kalo mereka mengaku agama baru dengan Nabi yang mereka yakini, Islam gak ada masalah. Seperti gak masalahnya Islam dengan Hindu, Buddha, Majusi dll. Masalahnya mereka mengaku Islam tapi menolak doktrin fundamental rukun iman.
------------
Gedubrak..brak..
Begitu yang namanya tidak ada paksaan
Saya suka dengan bahasan ayat2, lanjutkan!!
@pedy koq jadi hoax again??
tapi tulisannya bagus koq
Dan Tuhan memang tidak dibawa-bawa dalam sistem kenegaraan tapi.. yah biar gampangnya tulis kayak gini:
"Gw nggak mau ngatur-ngatur lo mau ngapain di agama lo, asal jangan ngeganggu orang lain. Gw respek sama lo, gw harap lo respek juga sama gw."
Sekulerisme bisa lahir karena berabad-abad konflik beragama, sehingga mulai dipikirkan bagaimana menciptakan sistem yang bisa meminimalisir konflik itu. Jadi sekulerisme bukannya menihilkan agama dalam keseharian, tapi lebih ke memberikan batas ruang di mana agama tidak boleh dibawa demi menghindari konflik.
Macan Whee~ said, "Gw nggak mau ngatur-ngatur lo mau ngapain di agama lo, asal jangan ngeganggu orang lain. Gw respek sama lo, gw harap lo respek juga sama gw."
Saya kira saya sepakat dengan apa yang Anda sampaikan, hanya saja point of view Anda dari individu. Sedangkan ketika saya menyatakan bahwa pengaturan negara harus steril dari agama, sehingga agama menjadi tidak begitu penting keberadaannya, point of view saya dari negara.
Agama memang untuk individu. Tapi kalo individu tsb jadi kepala negara, gimana tuntunan agamanya? Kalo individu itu hakim, dengan apa dia memutuskan perkara? Kalo individu itu jadi menteri ekonomi, privatisasi dan riba boleh nggak diterapkan? Bahkan kalau individu itu hanya rakyat jelata, seperti apa pemimpin dan sistem yang layak didukung, menurut keyakinan agamanya? Dan jika individu tsb menilai sistem yang sekarang keliru, bagaimana sunnah Nabi saw mencontohkan merubah masyarakat? dst..dst..
Tidak sepakatnya dimana?
Menurut Anda apa itu ideologi?
> Berarti yg diperlukan bukan ideologi, tapi pengetahuan tentang agama. Knapa tdk mengusulkan agar pejabat negra itu nyantri aja? Kenapa bukan individunya saja yg diubah?
Ya Anda boleh lah menyebut itu pengetahuan agama. Tapi bagi saya "pengetahuan agama" yang menjelaskan konsep2 politik, ekonomi, sosial, hukum, militer dan kebijakan LN, termasuk memberikan panduan bagaimana merubah masyarakat menuju yang dicita-citakan, maka "pengetahuan agama" tsb adalah sebuah ideologi.
Menurut saya idelogi itu tidak harus detail memuat segala hal. Makanya Pancasila saya masukkan sebagai ideologi. Kita tidak sepakat dalam hal ini bukan?
Janganlah dengan kepintaran kita, kita menganggap diri lebih pintar dari Tuhan, jika anda sendiri masih percaya akan adanya Tuhan. Kalau anda tidak percaya Tuhan, itu hak anda....
Berhati - hatilah di masalah sensitif ini......
Wonggantenk: Yang ngerasa lebih pinter dari Tuhan itu adalah orang yang ngerasa paling ngerti maunya Tuhan itu apa.
rasanya nggak ada yang menganggap lebih pinter dari Tuhan.
[... Negara tidak menihilkan agama, hanya memberikan batasan di mana mereka tidak bisa dibawa-bawa karena, biar bagaimanapun juga, setiap manusia memiliki pandangannya masing-masing mengenai agama yang dianutnya. Sekulerisme itu mengembalikan agama ke ruang-ruang personal, bukan mengatakan bahwa hubungan dunia dan akhirat itu nggak penting ...]
Ya itulah yang saya maksud dengan sekulerisme, membatasi agama, mengembalikan agama ke ruang-ruang personal, dst. Sedangkan dalam ranah publik agama tidak berhak menentukan hukum. Terserahlah apa istilahnya. Tapi kurang lebih kenyataannya seperti itu.
Saya sih ok2 aja. Asal tetap mengacu kepada konsep dan praktek agama tidak boleh membuat hukum di ranah publik.
Kan itu sudah diusulkan, "nggak penting" itu diganti dengan "urusan pribadi"?
Sedangkan pendukung Khilafah percaya kepada Tuhan yang menciptakan bumi ini beserta dengan seluruh aturan Tuhan yang berlaku di wilyah private dan wilayah publik.
Lalu apakah ada jaminan kalau agama itu 100% benar? Itu kembali kepada kepercayaan, yang berbeda dimiliki setiap orang. Keyakinan itu berbeda dengan fakta, anda bisa-bisa aja percaya kalau agama anda yang paling benar, saya boleh nggak percaya. Baik menurut anda, bukan berarti baik menurut saya.
Pedy: Kalau itu yang anda maksud, kenapa anda menuliskan kalau itu "nggak penting"? Saya melihat itu adalah tendensi anda untuk mendiskreditkan sekulerisme sebagai pandangan kaum "malas beragama". Sri Kirana sudah bilang kalau itu adalah "urusan pribadi", atau kalau menurut saya "kembali ke pandangan manusianya". Begitu juga dengan nomer 2, sekuleris tidak pernah bilang kalau kehidupan dunia itu tergantung manusia, anda jangan ketuker antara kaum sekuler sama kaum agnostik.
Kalau menurut saya sih yang paling pas untuk hubungan itu ya "urusan pribadi", secara dalam sebuah negara yang sekuler, mau beragama kek, mau nggak beragama kek, itu pilihan orangnya masing2 kan? Selama tidak melanggar undang-undang yang berlaku.
Ah, untuk mandolo02, klon ya? Saya kasih satu quote menarik dari Alex©
"Tidak ada kebenaran yang absolut di dunia ini."
Coba direnungkan dengan pikiran terbuka dan tidak dibatasi oleh kerangka-kerangka yang anda buat, apakah itu agama, doktrin, dogma, atau apapun itu. Kecuali anda sudah dicuci otak.
Bung Pedy berhasil membuat mapping sehingga Komunisme, Sekulerisme dan Islam ditempatkan sebagai ideologi. Ini menurut saya kerja luar biasa.
Kalau misalkan ada yang tidak sepakat dan mengatakan Islam bukan ideologi, maka saya MENUNGGU pemetaan anda bahwa Islam itu bukan Ideologi sementara Komunisme, Sekulerisme, Pancasila dan Holoholo adalah ideology.
Aktivitas pemetaan ini , baik pemetaan Bung Pedy maupun pemetaan anda nantinya, sah-sah saja. Benar atau tidaknya pemetaan itu nanti tergantung pada fakta Kapitalisme, Sekulerisme, Pancasila dan Islam. Dari mana fakta itu kita temukan? Fakta itu kita temukan tentu dari sumber rujukannya.
***sambil nyenggol Dana nanggapi tulisan sebelah "Kemustahilan Agama sebagai Sistem Bernegara". Dah banyak tuh yang antri nunggu Dana
Seo : "Tidak ada kebenaran yang absolut di dunia ini."
Hallo Seo??
Anda dilahirkan oleh seorang perempuan? Anda memiliki mata? Anda butuh bernafas untuk bisa hidup? Anda punya mata? Anda berada di bumi saat ini? Ada siang dan ada malam?
Ah, saya kan cuma mengutip, tidak usahlah anda melempar red herring ke sini..
Lebih baik fokus dikembalikan kepada Ideologi, bukan begitu Good?
Mari kita fokus ke ideologi.
Kita tunggu lanjutan diskusinya..
Sebaliknya menurut Pendapat saya ini cukup fokus. Para komentator (termasuk saya) banyak yang tidak sepakat dengan pendefinisian sekulerisme versi bung pedy.
Dalam pandangan saya, pendapat bung pedy itu sama saja dengan misrepresentasi terhadap sesuatu, kemudian menyerang misrepresentasi tersebut.
Bagi saya, menjadi sekuler tidak berarti menghilangkan spiritualitas maupun religiositas saya. Menjadi sekuler hanyalah berarti bahwa saya mengakui bahwa orang lain memiliki perjalanan spiritual yang berbeda dari saya.
Maka dari itu, Saya akan merasa sangat egois jika Saya berusaha membuat sebuah badan penguasa yang mengharapkan/mengharuskan setiap orang melalui jalan spiritual yang sama dengan saya, betapapun jalan spiritual saya berkoar-koar bahwa ini jalan inklusif.
Begini deh....kalo soal riba itu haram, kamu sepakat gak ? Kalo soal judi, miras, zina itu haram, kamu sepakat gak ?
Kalo kamu sepakat, seandainya kamu jadi seorang mentri keuangan or mentri agama di Indonesia ini, bagaimana caranya kamu bisa merealisasikan ajaran agama Islam tentang riba, judi, miras dan zina itu ? Apakah bisa ?
Untuk itulah perlu adanya Khilafah, yang menolak dengan tegas dan secara sistematis perekonomian yang berbasis riba, menolak bisnis judi, miras dan zina buat seluruh muslim.
Itu ada yg protes dgn pendefinisian sekuler...
pernah tau hukum perkawinan di indonesia? penerapan hukum islam lebih logis seperti itu... dan itu bertahap... musyawarah baik-baik, saling buka pandangan semua komponen bangsa ini... baik yang islamnya soleh, islam biasa aja, islam gak pernah solat, termasuk juga non muslim....
dengan cara begitu, secara bertahap, umat islam bisa menjalankan keyakinannya dalam koridor negara indonesia, sementara non islam juga nerima dan mereka pun berhak untuk menjalankan keyakinan agamanya dengan dukungan negara.
kalo elo SEBAGAI MINORITAS PENDUKUNG KHILAFAH tetep "berdakwah" seperti itu... jangankan non islam... umat islam pun bakal takut duluan
Khilafers, belajar dong sama kapitalis,.. atau komunis. Keduanya nggak butuh pembenaran buat menancapkan pengaruhnya. Wacana khilafah ini berputar - putar terus.
========
Ho oh....gak butuh pembenaran...karena cuma butuh penjajahan dan invasi militer untuk mempertahankan dan menyebarluaskan komunisme dan Kapitalisme.
--------------------------------- --------------------------
Macam Kerajaan Islam nggak pake invasi aja >_>
Iya,..susah betul dialog sama mereka ni..
@ Krisnov
"seandainya kamu jadi seorang mentri keuangan or mentri agama di Indonesia ini, bagaimana caranya kamu bisa merealisasikan ajaran agama Islam tentang riba, judi, miras dan zina itu ? Apakah bisa ?"
Ya bisalah. Sulit? Iya sulit, sama sulitnya dgn membuat khilafah jadi ideologi negara. Paham maksud saya?
Ada pertanyaan saya untuk bung pedy di atas. Anda bisa menjawab?
[Ho oh....gak butuh pembenaran...karena cuma butuh PENJAJAHAN dan INVASI MILITER untuk mempertahankan dan menyebarluaskan komunisme dan Kapitalisme.]
-------------
as long as i remember.... some of our religion's khalifah, did the same thing to expand their KHILAFAH' territory....
[...
Ho oh....gak butuh pembenaran...karena cuma butuh penjajahan dan invasi militer untuk mempertahankan dan menyebarluaskan komunisme dan Kapitalisme.
...]
Sebaiknya sebelum melempar batu, pastikan Anda tidak tinggal didalam rumah kaca.
Postinganmu gak menjawab pertanyaanku.
Saya sebagai muslim yang menyadari hidup di dunia ini cuma sebentar, menyadari sepenuhnya bahwa setiap saat saya bisa mati, di akhirat kelak harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan saya, dan memahami bahwa kehidupan Islami itu hanya bisa terwujud dalam Khilafah.
Maka, saya memilih mendukung perjuangan untuk menegakkan Khilafah, saya tidak ingin mati dalam keadaan mendukung sistem kufur, sistem yang menghalangi tegaknya ajaran Islam, ajaran yang justru menjamin dan memayungi semua agama di dunia ini.
Terimakasih.
Alasan yg sama juga dikemukakan amrozi, imam samudra, dkk, dan mereka juga sama yakinnya dgn anda kalau apa yg mereka lakukan itu benar sesuai kehendak Allah.
Wacana khilafah memang nampak indah, tapi dampak yg ditimbulkan bisa jadi lebih pelik daripada jatuhnya 200an korban bom bali. Teguh dlm agama utk diri sendiri itu bagus, tapi kalau sudah menyangkut orang lain, apalagi orang banyak, keteguhan thd kriteria benar - salah itu harus dipandang dengan lebih cermat dan obyektif. Dan lagi, jangan mempersiapkan diri di akherat dgn berbekal ideologi. Itu nggak akan ditanyakan nanti
Bang Nop : Anda belum komentar saya lihat. Yang lain ada yang berusaha fokus dan ada yang -maaf- 'olok-olok'. Tapi gak apa, yang olok-olok tidak perlu ditanggapi.
Tuvok : Dalam pandangan saya, pendapat bung pedy itu sama saja dengan misrepresentasi terhadap sesuatu, kemudian menyerang misrepresentasi tersebut.
Bang Nop : Bung Pedy saya lihat tidak berusaha menyerang, cuman berusaha menjelaskan apa yang ia pahami tentang sekulerisme.
Saya yakin beliau berusaha menjelaskan, bukan menjatuhkan.
Tuvok : Bagi saya, menjadi sekuler tidak berarti menghilangkan spiritualitas maupun religiositas saya. Menjadi sekuler hanyalah berarti bahwa saya mengakui bahwa orang lain memiliki perjalanan spiritual yang berbeda dari saya.
Bang Nop : Dalam kapasitasnya sebagai ideologi yang melahirkan konsep ekonomi, politik, hukum, sosial (masalah publik), maka dalam sekuler keberadaan Tuhan tidak diindahkan(menurut yang saya pahami). Tapi urusan private orang sekuler ada yang memperhatikan perintah/larangan Tuhan dan adapula yang tidak (atheis).
Anda setuju atau tidak pernyataan saya?
Secularism refers to a belief that human activities and decisions, especially political ones, should be based on evidence and fact unbiased by religious influence (Kosmin, Barry A. "Contemporary Secularity and Secularism." Secularism & Secularity: Contemporary International Perspectives).
Mungkin anda bisa menunjukkan rujukan dari pendapat anda tentang sekulerisme.
Saya rasa, dari kutipan yang anda berikan, bisa dikatakan bahwa sekularisme adalah
"Sebuah kepercayaan bahwa aktivitas dan keputusan manusia, terutama keputusan politik, seharusnya didasarkan berdasarkan faksa dan bukti yang tidak DIKABURKAN oleh pengaruh religius." (saya sengaja caps lock untuk menegaskan saja)
Jadi hemat saya, kutipan anda dan pernyataan anda bahwa Tuhan tidak diperlukan di ranah publik itu bertentangan, no?
Saya coba rumuskan ulang kesimpulannya saya tentang sekulerisme.
Sekulerisme adalah paham atau ideologi yang memisahkan pengaturan urusan kehidupan (masalah publik seperti ekonomi, sosial, politik, hukum dll) dengan agama.
Jadi dalam urusan pubik tidak ada relasi antara Penciptaan dengan urusan kehidupan (publik) dan tidak ada relasi antara kehidupan (publik) dengan akherat.
Walaupun menjadi seorang sekuler bisa saja orang yang beragama (mengakui Tuhan dan menyembahnya) ataupun orang yang atheis.
Ini yang saya pahami. Jadi pemetaan Bung Pedy tentang Ideologi saya berikan Jempol (+1). Bung Pedy disini berusaha menjelaskan pemetaan ideologi...
Apa yang tidak anda pahami dari kutipan saya? Saya hanya menerjemahkan kutipan berbahasa Inggris yang anda berikan dari Barry A. Kosmin itu saja kog? Kecuali anda dan saya menerjemahkannya dengan kamus yang berbeda?
lalu apakah ada jaminan kalau agama itu 100% benar? Itu kembali kepada kepercayaan, yang berbeda dimiliki setiap orang. Keyakinan itu berbeda dengan fakta, anda bisa-bisa aja percaya kalau agama anda yang paling benar, saya boleh nggak percaya. Baik menurut anda, bukan berarti baik menurut saya.
Kita disini bicara idology bukan agama lho... Artinya batasan yang kita bangun adalah Idology sbg world view. Makanya bung pedy mensejajarkan deng sosoialis dan sekulerisme.
Jaminannya: segala hal ikhwan konsep idoloi itu harus memuaskan akal, menentramkan jiwa dan sesuai dengan fitrah manusia.
Jadi hemat saya, kutipan anda dan pernyataan anda bahwa Tuhan tidak diperlukan di ranah publik itu bertentangan, no?
Paham. Masalahnya saya tidak termasuk sekuler. Berarti saya tidak sepakat bahwa Tuhan tidak diperlukan dalam ranah publik.
Menurut saya Tuhan sangat diperlukan di ranah publik. Begitu Hye Ling..
Yang berbeda dengan saya.
Maksud saya begini, anda mengatakan bahwa sekularisme menihilkan Tuhan di ranah publik, tetapi kutipan yang anda berikan hanyalah memberikan gambaran bahwa fakta dan bukti yang tidak dikaburkan oleh pandangan religius yang bisa dipakai. Bukankah itu bertentangan? Kutipan yang anda berikan tidak menyatakan menihilkan Tuhan di ranah publik.
Berarti "kebenaran" anda hanya sah 100% benar di kaum anda sendiri. Kaum lain belum tentu menganggap itu benar (bisa, tapi tidak pasti).
Let's back to the real world to understand Barry's statement.
Dari yang saya pantau tentang praktek sekulerisme, religious belief dianggap tidak berhak mempengaruhi ranah publik. Itulah makna dari unbiased by religious influence.
Mengapa pengertiannya seperti ini? Karena Barry melihat religious belief yang mana untuk masalah publik? Maka kembali saja pada fact and evident...
BTW, anda sepakat tidak dengan definisi sekuler saya :
Sekuleris me adalah paham atau ideologi yang memisahkan pengaturan urusan kehidupan (masalah publik seperti ekonomi, sosial, politik, hukum dll) dengan agama.
Jadi dalam urusan pubik tidak ada relasi antara Penciptaan dengan urusan kehidupan (publik) dan tidak ada relasi antara kehidupan (publik) dengan akherat.
Walaupun menjadi seorang sekuler bisa saja orang yang beragama (mengakui Tuhan dan menyembahnya) ataupun orang yang atheis.
Lalu ada Tuvok yang mengatakan ada misinterpretasi, dimana? Separation of church and state yang saya kemukakan adalah sesuatu yang paten deh. Semua pihak agreed dengan definisi sekulerisme tsb. Lebih baik kita kembali ke diskusi saya dan Macan dkk aja gimana?
Saya sepakat dengan definisi anda tentang sekularisme, dan saya juga sepakat untuk tidak sepakat dengan anda.
Saya rasa ideologi yang membawa agama itu rentan sekali untuk disalahgunakan dan dapat memicu konflik horizontal berkepanjangan apabila penyelewengan sudah terjadi. Tetapi sekularisme murni saya juga tidak setuju, tetap harus ada peraturan berdasarkan nilai-nilai moralitas agama untuk isu-isu sensitif seperti aborsi.
* nongkrong ah... *
Saya sepakat dengan definisi anda tentang sekularisme, dan saya juga sepakat untuk tidak sepakat dengan anda.
Gak apa Seo Ling. Tugas saya memang menjelaskan bahwa Islam lebih baik dalam memperlakukan anda ketimbang sekuler maupun sosialis. Tugas saya hanya berusaha menjelaskan itu..
But..it is under process....!
Anda semua punya penafsiran masing - masing dan telah menjadi fitrah bahwa manusia memiliki pemahaman yang berbeda - beda. Kalau Tuhan berkehendak, tentu Tuhan menjadikan kita satu umat.
Tuhan tentu punya maksud, bisa saja Tuhan ingin kita lebih mengenal diri kita sendiri dan orang lain, dan juga lebih mengenal-Nya. Pemahaman saya sangat mungkin untuk salah.
Kalau kita merenungi semua yang terjadi dalam hidup kita pribadi, akhirnya kita sadar bahwa tidak ada sesuatu yang diciptakan Tuhan sia - sia.
Namun, egoisme, ketidaksabaran dan kekerasan hati kita menyebabkan kita terlambat menyadari, seringkali jauh setelah peristiwa itu terjadi.
Saya orang munafik, orang yang banyak dosa dan kesalahan, dan cinta dunia. Namun, doa yang berulang - ulang kita ucapkan setiap sholat ada baiknya kita renungkan...
"Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Segala Puji bagi Tuhan Semesta Alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik Hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmatkepadanya;bukan jalan mereka yang dimurkai;bukan jalan mereka yang sesat. Amiiin."
Itu yang saya tangkap dan (mungkin) Tuvok juga tangkap.
Saya agak sensitif dengan isu itu karena menurut saya itu penggeneralisasian yang merugikan banyak pihak. Saya ingin minta maaf kepada mas Pedy kalau kata-kata saya ada yang cenderung ofensif di atas. Diskusi saya dengan orang-orang di dalam politikana dan di luar politikana sebelum ini membuat saya cenderung menjadi landak.
Saya akan menjelaskan sekulerisme menurut apa yang saya pelajari, pahami, dan praktekkan selama ini, dan kenapa saya bisa bilang mas pedy ada sedikit salah interpretasi yang cukup bikin beberapa orang kesal.
Tapi tunggu sebentar yah, nasi goreng saya lagi dimasak
Relasi Manusia dan Manusia yang kekuatan pada kata kata Alam Desiran ombak ,gemercik air terjun kadang kadang alam itu tidak bersahabat Marah, Ideologiku di mana Jiwa raga bersahabat dengan alam yang menimbulkan Kedamaian Hati.
Sudah dikatakan di komentar di atas, daripada "nggak penting" lebih baik diganti menjadi "urusan pribadi"
Saya sepakat bro...Dengan akal, Tuhan memberikan sarana untuk memahami ciptaan-Nya, dan dengan hati, untuk merenungi hikmah dari setiap kejadian dan untuk bercermin dan refleksi diri....Mudah - mudahan Tuhan mengampuni dosa - dosa kita
Sebenernya agak ribet kalau klasifikasinya begitu, tapi biar saya coba, kalau ada yang sekuler juga dan nggak setuju, silahkan sangkal.
(Ini saya lihat dari sudut pandang negara)
(1)
Urusan pribadi, percaya-nggak percaya tergantung agamanya.
(2)
Hidup berdasarkan hukum manusia yang berdasarkan HAM. Agama, dosa, dan pahala urusan manusianya masing-masing.
(3)
Sama dengan (1)
relasi (1)(2)(3)
Urusan pribadi. Tergantung kepercayaan manusianya.
Yah segitu dari saya, kalau ada yang kurang sepakat silahkan dikoreksi, kalau ada yang mau ditanyakan silahkan
Agama islam lebih bersifat kolektif, berjamaah..., jadi menurutku, untuk individu iya, untuk bersama iya, untuk negara (sebaiknya) iya juga.
Kenapa kukatakan begitu, ada katabijak yang mengatakan, individu yang terpisah dari kebersamaannya (baca: jemaah) ditamsilkan, seperti DOMBA yang terlepas dari Kelompoknya, resikonya diterkam serigala...
Maka mari selamatkan Domba-domba yang tersesat itu, dari serigala... dan bila cara Demokrasi belum (tak) mampu mari kita coba ala Islam...
*btw: panitia konsumsi mana nih? : hmmm....hausss...
Saya rasa penjelasan anda sudah cukup memadai, setidaknya bagi saya..
Itu tetap individu-individu kang, bukan negara. Negara itu kan benda mati.
bener Logical Fallacy, namun nanti akan ada individu-individu terpilih, macam yang Syahid itu, mereka boleh membantu, memberi pembelaan, penyelamatan di hadapan Tuhan. Sampai disini sifat kolektif/kebersamaan itu masih ada kan?
Saya nggak pakai "Tuhan" dan "akhirat" itu lebih karena pandangan agama--bahkan manusia--mengenai Tuhan itu beragam. Negara sendiri cenderung cari aman suapa tidak ada pertanyaan klasik "Tuhan yang mana?"
Saya sih percaya kalau Tuhan itu cuma satu dan semua agama menyembahnya tapi dengan cara yang berbeda, tapi kan nggak semua orang sepakat dengan saya
Kalau masalah sumpah di bawah kitab suci itu, saya punya pandangan sendiri soal ini. Itu adalah cara negara untuk mengingatkan orang yang disumpah itu bahwa mereka punya Tuhan yang mereka percaya dan mengharapkan mereka untuk bertindak jujur.
Yah, semacam kontrak moral dengan Yang Di Atas deh. Jadi kalau dia nggak jujur dan nggak ketahuan, dia punya semacam tanggung jawab dengan Tuhannya dia juga.
Sangat setuju kang. Itulah yang saya bilang agama itu adalahuntuk pribadi saja. Nanti setelah para pribadi itu sudah beragama yang bener, maka mereka akan otomatis membawanya ke ruang publik.
wah, itu kan wilayah tafsir. Saya nggak ikutan jika sudah masuk wilayah tafsir.
Masalahnya Islam mewajibkan pemeluknya untuk berhukum dengan utuh dan menyeluruh: Wahai orang2 yg beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (21:107). Termasuk berpolitik, bernegara, berekonomi dst. Besok di akhirat kita akan ditanya: Lho mengamalkan Islam kop gak utuh? Koq politiknya berdasarkan hukum buatan manusia?
==========
Coba cari lokasi di belahan bumi ini yang agak luas dan tidak tersentuh hukum buatan manusia, terus bentuk komunitas anda disana
Insya allah madani
Gak apa Seo Ling. Tugas saya memang menjelaskan bahwa Islam lebih baik dalam memperlakukan anda ketimbang sekuler maupun sosialis. Tugas saya hanya berusaha menjelaskan itu..
But..it is under process....!
=========
Ini yang pas....berusaha menjelaskan dan memperjuangkan ...bukan malah menolak dan menentang.
Kelak posisi yang mendukung, netral, atau menentang...membawa risikonya masing-masing.
@Kang Tutur,
Alhamdulillah....posisi akhi bertambah bijak dari hari ke hari. Syukron.
Usul saya begini:
(A) Sebelum Kehidupan: Pencipta (OK)
(B) Relasi (A-B): Etika sosial
(C) Kehidupan Kini: (1) akal sehat; (2) Pilihan bebas; (3) tanggungjawab sosial
(D) Relasi (C-D): (1) Hati Nurani; (2) Keadilan; (3) Damai-sejahtera (ini tidak ada hubungan partai lho....)
(E) Setelah Kehidupan: Akhirat.... (OK)
Menyebut relasi-relasi antara Sebelum Kehidupan, Kehidupan Kini, dan Kehidupan Nanti, itu sebagai TIDAK PENTING bagi orang2 sekuler, saya kira, sungguh tidak adil.......
Demikian juga, Untuk tabel KHIDUPAN KINI, dalam diskusi di artikel sebelah, Dana dan sebagian teman berbuih2 mengusung argumen akal sehat untuk menghasilkan pikiran terbaik bagi landasan sistem bernegara dan kemanusiaan. Saya kira buah pikiran itu membutuhkan atau bersumber dari akal sehat, dalam kebebasan berpikir disertai tanggung jawab. Saya kira begitu........
(A).... oke
(B) Relasi A - C (bukan A-B) : .... oke
(C)..... oke
(D) Relasi C - E (bukan C-D): ..... oke
(E)..... oke
Saya usul 'nggak penting' itu diganti dengan 'tidak ada relasi' (untuk publik) serta
tergantung keyakinannya (untuk private).
Jadi Kehidupan yang dimaksud pada tabel itu adalah kehidupan publik dan private.
Untuk sekulerisme memang beragam keyakinannya untuk urusan private (ada yang nyembah Tuhan, Dewa, dll bahkan ada yang atheis).
Namun untuk urusan publik mereka tidak pake agama...
Bagaimana ?
Bahkan kalau individu itu hanya rakyat jelata, seperti apa pemimpin dan sistem yang layak didukung, menurut keyakinan agamanya? Dan jika individu tsb menilai sistem yang sekarang keliru, bagaimana sunnah Nabi saw mencontohkan merubah masyarakat? dst..dst..
Kalimat ini untuk anda, lha kalo untuk yang non muslim???
Sedangkan pendukung Khilafah percaya kepada Tuhan yang menciptakan bumi ini beserta dengan seluruh aturan Tuhan yang berlaku di wilyah private dan wilayah publik.
Masalahnya : Manusia (yang tidak sempurna) juga yang menafsirkan aturan yang dari Tuhan (yang sempurna) itu, untuk di terjemahkan ke wilayah publik.....
Atau (kalau di Indonesia) ada anjuran untuk tidak makan-minum di tempat umum dan penutupan tempat hiburan selama Ramadhan.
Jadi tidak sepenuhnya nol juga. Ada batas toleransi tertentu yang berusaha mengakomodir kepentingan seluruh warga secara merata.
[.....
Mungki n anda bisa menunjukkan rujukan dari pendapat anda tentang sekulerisme.
....]
Saya hanya akan mengutip konstitusi dari negara demokrasi modern pertama yang sering ditunjuk-tunjuk sebagai contoh negara sekuler:
"We hold these truths to be self-evident, that ALL MEN are created EQUAL, that they are endowed by their CREATOR with certain unalienable RIGHTS, that among these are Life, Liberty, and the Pursuit of Happiness"
Berarti "kebenaran" anda hanya sah 100% benar di kaum anda sendiri. Kaum lain belum tentu menganggap itu benar (bisa, tapi tidak pasti).
Untuk mencegah subyektifitasan kebenaran. saya mengusulkan blueprint DNA Idologynya bung pedy kita uji dengan akal,naluri dan fitrah manusia. Bagaimana?, kan nga ada tendensi agama tertentu
Sambil merem, entah sadar atau tidak, kepala saya manggut-manggut... bang nop emang benar. Benar sekali.
Tetapi, ketika bangun subuh tadi, pikiran saya me-review lagi kseseluruhaan note Pedy yang diapresiasi bang nop sebagai "kerja luar biasa" ini, tetapi dengan sangat hati-hati saya kasih rating "biasa". Dan saya menemukan kesalahan mendasar seorang Pedy dalam note ini.
Kalau saya menuduh Pedy melakukan ini dg sengaja, mungkin saya suudzhon. Tetapi, saya kira Pedy lupa, bahwa kita berdiskusi soal ideologi ini, dalam rangkaian diskusi dg topik senada di artikel lain di politikana ini, seperti negara syariah (ichank), Kemustahilan agama dalam sistem negara (dana), dan Menggali Kembali Pancasila (gm), itu dalam konteks ke-Indonesia-an.
Artinya, kita berupaya mencari solusi terbaik bagi dasar negara terbaik bagi Indonesia. Para khilafaers menunjuk khilafah, sedang yang lain (baik eksplisit maupun implisit) mempertahankan Pancasila.
Nah, di situlah kesalahan Pedy ketika dia memasukkan sekularisme dan komunisme untuk dibandingkan dengan Islam, tetapi mengabaikan Pancasila. Mengapa? Itu pertanyaan hanya pedy yg bisa jawab.
Saya tidak ingin mendiskusikan apakah Pancasila itu ideologi atau bukan dalam paradigma yang dibangun Pedy. Tetapi, faktanya, Pancasila itu sdh menjadi pandangan hidup bangsa (dan jelas, dasar negara Indonesia) sejak kita merdeka. Itu saja sebetulnya sudah cukup bagi Pedy untuk memasukan Pancasila dalam perbandingan itu.
Mengapa itu penting?
Hemat saya, Pancasila sebetulnya memberikan jawaban bagi paham sekularisme yang sama sekali tidak mau ada campur tangan Tuhan dalam urusan publik. Karena itu, dalam banyak diskusi, kita bersepakat bahwa dengan Pancasila, maka Indonesia ini bukan negara sekuler (karena masih mengakui Ketuhanan) dan juga buka negara agama (karena agama bukan menjadi dasar negara tetapi diakui dan diberi tempat terhormat, sehingga para pemeluk agama bebas menjalankan syariat agama dalam batas tertentu di kehidupan publik. Ingat ada UU Perkawinan, hari libur agama yang ditetapkan negara, policy menghargai orang berpuasa di bulan ramadhan, bahkan ada depag dg KUA-nya, dll).
Karena itu, saya berharap Pedy bersikap adil. Adil sejak dalam pikiran.................................. (saya suka sekali kutipan dari Roman Tetralogi Pram ini..... adil sejak dalam pikiran...... karena sangat Qur'ani: janganlah kebencian kamu pada satu kaum membuat kamu bersikap tidak adil. bersikap adillah..........)
Atas pertimbangan itu dulu, bang nop, the founding fathers kita tidak mau menjadikan sekularisme sebagai dasar negara, sebagai ideologi bangsa, sebagai sumber dari segala sumber hukum. Mereka memilih Pancasila, dan sampai saat ini, bangsa Indonesia menganggap Pancasila merupakan solusi.
Dengan Pancasila, statemen Anda menjadi tidak berlaku. Pancasila mengakui ada Tuhan dalam setiap kita menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi bukan Tuhan dengan wahyu-wahyuNYA yang ditafsir secara sepihak oleh khilafers...... The founding fathers mengakui Tuhan yang memberkati bangsa ini hingga merdeka ("...Atas berkat rahmat Tuhan yang Maha Kuasa....").
Tuhan bagi siapa saja, kata Ebiet dalam salah satu lagunya yang sangat menggugah.
Tuhan yang menurunkan rahmatan lil alamin...
Tuhan yang memberikan manusia pilihan bebas.....
Tuhan yang mengajarkan kemanusiaan yang adiil dan beradab..... dan memerintahkan kita untuk mengembangkan keadilan sosial. Sekali lagi, ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN.....
"teman-teman mungkin menambahi Tuhan yang bagaimana yang dalam konteks Pancasila membimbing kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena Indonesia bukan negara sekuler..................................
Gimana kalo Pancasila mengisi tabel DNA Ideologi di atas?
@Pedy... iya harus adil dong. Pancasila lebih relevan dalam perbandinghan dengan Islam sebagai ideologi, daripada sekularisme dan komunisme.
Jadi, cukup bandingkan ISLAM DAN PANCASILA saja, mantaps, saya kira.... dua ideologi lain gak dimasukkan juga gpp, wong tdk relevan dg kehidupan kita di Indonesia, kecuali sekadar intellectual excercise...
Gempa Bumi Vulkanik:Ada suatu Mechanism.Magma pada Perut Bumi Energy berupa Tekanan yang belum mendapat Lapisan Tanah Lunak dengan segala Unsur.
Gempa Bumi Tektonik.Pusat Gempa Dibawah Daratan,Laut Up To You Bijak ada Di bawah dan Diatas
DNA Ideal O gi _ni
gimana dengan usulku
Maksud saya begini, saya mem-propose sebuah definisi ideologi, dan mengujinya dengan realitas, akhirnya ketemu Sekulerisme, Komunisme dan Islam. Ketiga2nya punya konsep dan praktek yang koheren dan konsisten, ketiga2nya pernah membentangkan ideologinya dalam sejarah, Islam 1300 tahun (Khilafah), Kapitalisme 300 tahun (AS), dan Komunisme 80 tahun (Uni Soviet).
Karena dibangun dengan pemikiran yang mendasar, ideologi2 ini sangat kuat militansi dan pengaruhnya. Sangking kuatnya, negara2 yang tidak memiliki ideologi (beneran) yang kuat pasti akan terwarnai dan tersubordinasi oleh ideologi2 sungguhan tadi.
Makanya ketika Pancasila disebutkan, saya jadi bertanya, adakah Pancasila itu memiliki pandangan hidup khas dan aturan kehidupan integral khas, seperti ketiga ideologi tersebut. Kalau tidak, maka wajar Pancasila itu dalam praktek bernegara banyak diwarnai oleh ideologi2 sungguhan.
Dan kalaupun mayoritas muslim setuju kalau hukum tsb kurang fair atau bagaimana, katanya sudah harga mati, saklek, tidak boleh dirubah.
Ata s pertimbangan itu dulu, bang nop, the founding fathers kita tidak mau menjadikan sekularisme sebagai dasar negara, sebagai ideologi bangsa, sebagai sumber dari segala sumber hukum. Mereka memilih Pancasila, dan sampai saat ini, bangsa Indonesia menganggap Pancasila merupakan solusi.
Tanggapan :
Harus diakui the founding fathers kita tidak mau fanatik dengan sekulerisme bahkan mereka juga tidak mau menyebut sekulerisme.
Nah, rumusan bung Pedy adalah menuju pada DNA ideologi atau kalau saya menyebutnya idealitas pada ideologi. Karena turunan ideologi saya kira begitu banyak dalam kamus politik makanya dibutuhkan ideologi yang paling mendasar itu apa. Itulah 3 rumusan tadi? Bagaimana dengan Pancasila, karena ia tidak mendasar maka wajar Pancasila bisa dipengaruhi oleh apa saja dan warnanya bisa menjadi apa saja.
Pancasila lebih tepat ideologi campuran sana-sini.
Tapi saya koq tetap pas kalau kata "ngga' peduli" diganti dengan kata " tidak ada relasi" untuk kehidupan publik dan "tergantung" untuk kehidupan private.
*ngelirik2 Dana*
Saya hanya akan mengutip konstitusi dari negara demokrasi modern pertama yang sering ditunjuk-tunjuk sebagai contoh negara sekuler:
"We hold these truths to be self-evident, that ALL MEN are created EQUAL, that they are endowed by their CREATOR with certain unalienable RIGHTS, that among these are Life, Liberty, and the Pursuit of Happiness"
Sekulerisme tetap mengakui adanya Pencipta, tapi tidak merumuskan kebijakan publik berdasarkan aturan dari Sang Pencipta. Asumsinya Pencipta tidak memberikan rumus bagaimana kebijakan publik harus diambil.
Kenapa? Kalau sekulerisme mengambil aturan Pencipta maka aturan Pencipta yang mana? makanya kembalinya..Pencipta tidak memberikan rumusan bagaimana kebijakan publik harus diambil.
Menurut saya ini sangat tidak fair karena sepantasnya agama adalah pilihan, bukan warisan. Seseorang bisa saja tidak percaya Islam meskipun dia dibesarkan di keluarga yang taat beribadah. Jika dia memutuskan untuk murtad, apakah itu salah? Dan jika darahnya menjadi halal karena itu, apakah ini tidak ironis? Dia tidak pernah meminta dilahirkan menjadi seorang muslim, bukan?
Ini salah satu poin yang dari dulu selalu ingin saya tanyakan sih.
Saya pingin tau dari rekan-rekan Fisipol atau Filsafat, apakah dalam literatur standar Pancasila itu merupakan ideologi. Atau itu hanya pengakuan kita-kita orang Indonesia...
UUD 45 P (Ego Dari Bangsa Indonesia )
Ilustrasi Klasik:Kincir Air (Ego) .Rem Cakram( Ideologi/Idealitis)Tembus Pandang Tidak Utuh
Mobil Kontemporer:Roda (Ego) Rem Cakram(Ideologi/Idealitis) Tembus Pandang 95%
Bang Nop.Pemimpin Karena Di Daulat Rakyat
PILPRES,PILGUB,Pilih BUPATI
Rakyat Indonesia Tidak "Buta"
"Pedy: Dengan penjabaran DNA ideologi ini kita bisa mengetahui bahwa Sekulerisme, Komunisme dan Islam adalah sebuah Ideologi. Khusus untuk Islam berarti dia adalah agama sekaligus ideologi. Sekedar iseng-iseng saja, jika ada klaim sebuah ideologi baru, katakanlah Holoholo, menarik untuk menguji DNA ideologi tersebut dengan memintanya merumuskan relasi-relasi di atas."
Saya comot kutipan itu dari ending artikel pedy. Pedy menyebut mungkin ada ideologi Holoholo.... ehm, sebutlah itu PANCASILA, dan kita coba petakan dalam relasi-relasi dlm skema yang dibuat Pedy....
Skrg mari kota coba (saya mengikuti logika pedy, nih...) mengisi PANCASILA dalam skema realsi-relasi itu:
1. Sebelum kehidupan: Pencipta (OK).
2. Relasi (1-3):
(A) Publik : Etika sosial hasil pemikiran manusia yang mengakomodasi nilai-nilai agama sepanjang disepakati bersama.
(B) Privat : pilihan Individu berdasarkan keimanan masing-masing
3. KEHIDUPAN SEKARANG: (mengacu pada lima sila dalam Pancasila (OK)
4. Relasi (3-5):
(A) Publik : Hati Nurani Manusia, Kehendak Bebas, Tanggungjawab Sosial yang diimplementasikan dengan mengoptimalkan pikiran manusia dalam merumuskan nilai-nilai kehidupan, termasuk dengan menyerap nilai-nilai agama.
(B) Privat : Pilihan individu berdasarkan keimanan masing-masing.
5. Setelah Kehidupan : Akhirat (OK).
”Pedy : Maksud saya begini, saya mem-propose sebuah definisi ideologi, dan mengujinya dengan realitas, akhirnya ketemu Sekulerisme, Komunisme dan Islam. Ketiga2nya punya konsep dan praktek yang koheren dan konsisten, ketiga2nya pernah membentangkan ideologinya dalam sejarah, Islam 1300 tahun (Khilafah), Kapitalisme 300 tahun (AS), dan Komunisme 80 tahun (Uni Soviet)...”
Bung Pedy, saya berkali-kali mengutip ajaran Pram yang sangat Qur’ani itu: adil sejak dalam pikiran. Anda dalam artikel sejak awal bicara ideologi sebagai pemikiran, bukan sebagai praxis. Saya kutip definisi Anda: ideologi adalah pandangan hidup rasional yang melahirkan aturan kehidupan integral, maka pandangan hidup tadi adalah ruh bagi ideologi tersebut.
Saya ikuti alur pikiran Anda. Kata kuncinya adalah Melahirkan Pandangan Hidup Integral. Itu artinya meliputi beberapa aspek kehidupan publik seperti Politik, Ekonomi, Sosial. Sekarang mari kita pertanyakan satu demi satu.
Apakah ada sistem politik Pancasila? Jawab : Ada.
Buktinya apa? Jawab: Lha sistem politik lengkap dengan perangkat perundangan dan institusi politik yang sekarang berjalan di Indonesia.
Lanjutkan...
Apakah ada sistem ekonomi Pancasila? Jawab : Ada.
Buktinya apa? Jawab: Lho sistem ekonomi yang existing di Indonesia.
Bukankah itu sama dg sistem kapitalisme? Bukankah itu sistem ekonomi ribawi? Jawab: Pertanyaan itu OOT.
Lanjutkan...
Apakah ada sistem sosial Pancasila? Jawab : Ada.
Buktinya apa? Jawab: Lho lihat aja pola-pola interaksi sosial di Indonesia, lengkap dengan segala pranata sosial yang eksis sampai sekarang.
Kesimpulan: Pancasila adalah Ideologi berdasarkan definisi Perdy.
Puas?
Belum, kita belum puas nih. Sistem2 yang berdasarkan ideologi pancasila itu terlalu lemah, banyak mencomot sana sini, tidak asli, banyak penyimpangan di sana sini. dsb, dsb, dsb.
Jawab: tidak ada masalah, sistem itu masih bisa kita sempurnakan. Islam sudah berusia 1.400 tahun. Sekularisme 300 tahun (sejak revolusi Prancis dan Amerika), Komunisme 150 tahun (sejak Marx), lho Pancasila baru berumur 65 tahun, dan mengalami pasangan surut karena berbagai faktor dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tetapi sebagai sebuah ideologi alternatif bagi sekularisme dan komunisme, Pancasila it’s OK. Dibandingkan dengan ideologi Khilafah..... ups sori, khilafah itu bukan ideologi (OOT nanti.......
Jadi, bung pedy... juga bang nopi, adil sejak dalam pikiran... jangan anggap enteng Pancasila, meskipun praktk kehidupan berpancasila kita selama ini tidak memuaskan. Lho apa praktek para khilafah dalam sejarah itu juga memuaskan semua? apa praktek sekualrisme dan komunisme itu memuaskan semua? Komunisme malah sudah tumbang duluan sebagai ideologi negara......
Bung Pedy, saya berkali-kali mengutip ajaran Pram yang sangat Qur’ani itu: adil sejak dalam pikiran.
...]
Orang prancis pincang itu ya mas?
Bukan sih, sebenarnya poin yang saya pertanyakan adalah masalah Murtad. CMIIW, tapi dalam Syariat yang dari kemarin dipromosikan, orang murtad darahnya adalah halal.
Menurut saya ini sangat tidak fair karena sepantasnya agama adalah pilihan, bukan warisan. Seseorang bisa saja tidak percaya Islam meskipun dia dibesarkan di keluarga yang taat beribadah. Jika dia memutuskan untuk murtad, apakah itu salah? Dan jika darahnya menjadi halal karena itu, apakah ini tidak ironis? Dia tidak pernah meminta dilahirkan menjadi seorang muslim, bukan?
Ini salah satu poin yang dari dulu selalu ingin saya tanyakan sih.
================
It's written on Koran! Mereka tidak bisa lari dari dicederainya humanitas dalam kitab mereka itu. Mending gk usah dioertanyakan pak, tau sama tau aja
Saya pingin tau dari rekan-rekan Fisipol atau Filsafat, apakah dalam literatur standar Pancasila itu merupakan ideologi. Atau itu hanya pengakuan kita-kita orang Indonesia... : ) : ) "
Saya baru terpikir justru dalan konteks ini, ajakan GM "Menggali Kembali Pancasila" menjadi relevan.... ketika berhadap dg para khilafers. Saya kira ini memang tantangan bagi siapapun saja, terutama para filsuf dan intelektual Indonesia, yang menentang ide kebenaran tunggal khilafah kaum khilafers itu.
Tapi, sebagai catatan, hanya karena tdk menerima Pancasila sebagai ideologi (konseptual), atau tidak suka Pancasila menjadi ideologi bangsa Indonesia (aktual), Anda tidak bisa lantas dengan cara arbitrer mendegradasi Pancasila dari sebuah ideologi menjadi sebuah vision of state atau apapun lah, Anda memberi istilah yang ketok mentereng tapi, yach........
Apa sih keberatan Anda kalau Pancasila itu ideologi? Pemerintah dan rakyat Indonesia masih menganggap Pancasila sebagai ideologi, kecuali, tentu saja, para khilafaers itu....
@tuvox... seyogyanya tdk menyinggung sesuatu yang invalid di sini. Selain OOT, Anda jangan lupa bahwa Gusti Allah Niku Mboten Sare.....
Saya cuman nanya, itu kata-katanya Jean Marais dalam bukunya pram Bumi Manusia bukan?
Baiklah! Tak mengapa.
Apa sih keberatan Anda kalau Pancasila itu ideologi? Pemerintah dan rakyat Indonesia masih menganggap Pancasila sebagai ideologi, kecuali, tentu saja, para khilafaers itu....
Persoalannya bukan masalah keberatan atau tidak. Bung Pedy menawarkan framing ideologi, yang dengan framing itu Islam, kapitalisme serta komunisme masuk dalam frame itu.
Kemudian kita membahas tentang relasi2 itu, yang mungkin perlu dicocokkan dengan realitasnya.
Nah, sekarang anda atau siapa (saya lupa) ada yang menawarkan Pancasila.
Menurut saya dengan framing itu Pancasila tidak masuk. Ada kata-kata yang bagus dari Pedy, Oh..ternyata dari Muchtar Pabotinggi. Nah..malah itu cocok untuk Pancasila.
Silahkan buat framing sendiri tentang ideologi agar Pancasila, Sekulerisme dan KOmunisme masuk dalam frame. Itu saja..
Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang
(sori juga OOT, nih)
saya tdk berada pada posisi dan berkepentingan untuk menjual pancasila sbg ideologi. Saya kira khilafers yang justru berkepentingan utk menjual idel khilafah di politikana ini. Jadi, saya tdk merasa perlu membuat semacam relasi sendiri utk pancasila dibanding dg ideologi lain atao Islam.
Dalam salah satu koment, bang nop bilang artikel Pedy ini hasil kerja luar biasa, dan bisa menjadi model yg bagus untuk disosialisasikan ke komunitas yg lbh luas (intinya begitulah, mungkin rumusan kalimatnya beda). Dalam konteks Indonesia, ide Pedy kan disosialisasikan kepada mereka yg selama ini sdh dg sendirinya menerima Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa (apapun istilah yang Anda gunakan, kami bangsa Indonesia adlah bangsa yang ber-Pancasila, bukan berkhilafah).
Anda berkepentingan jualan ideologi khilafah (maaf saya tdk bisa menyebut ideologi Islam sebagaimana Anda juga tdk mau menyebut Ideologi utk pancasila). Kalo Anda mau jualan ideologi khilafah, yang Anda klaim paling Islami, mestinya cara jualan Anda pun ya Islami dong.
Betul atau tidak?
Saya asumsikan Anda jawab betul: cara jualan harus Islami. Bagaiamna cara jualan Islami? Jawabnya: cara berjualan yang dcontohkan nabi SAW. Betul kan.... (harap buru-buru dicatat, saya tdk sedang masuk ke wilayah sharianomics dg konsep yang dakik-dakik, saya sekadar bicara soal contoh atau tauladan Rasul SAW dalam perniagaan, sebagaimana nanti akan saya singgung...).
Kebetulan ibu (alm) dulu pedagang kain di pasar kecil. Saya sesekali sepulang sekolah datang ke tempat dia jualan dan membantu atau memperhatikan dia jualan. Saya ingat, kalau ada pembeli tanya ttg kain yang dia tertarik, ibu saya akan menjelaskan barang itu apa adanya, juga kalau dibandingkan dg barang lain. Bahkan, dia sjak awal mengatakan "ini luntur, ini gampang robek, ini bagus, ini kurang bagus."
Wktu itu saya tanya, kenapa ibu kok cerita sama calon pembeli keburukan dan kebaikan barang itu... kalau kebaikan saja, gak papa, tapi cerita keburukan, kan bisa membuat orang gak jadi beli. Ibu saya menjawab, "Begitulah kata tuan guru dahulu cara Nabi saw berjualan."
Artinya, penjual harus jujur ttg barang yang dia jual kepada calon pembeli, termasuk jika dibandingkan dg barang lain. Itu cara Nabi saw, dan itu cara Islami. Betul?
Nah, saya kembali ke laptop. Kalau Pedy dan bang nop mau jualan khilafah di (politikana) Indonesia, ya Anda mesti jujur dong dg kebaikan dan keburukan khilafah. Mungkin Anda akan mengatakan, "khilafah tidak ada buruknya, semua yang ada dalam konsep khilafah adalah baik semata." kalau Anda yakin begitu, gak ada masalah.
Tetapi bagaimana khilafah dibandingkan dg 'barang' yang dimiliki orang Indonesia: Pancasila. kalau mengikuti cara nabi SAW, ya, bandingkan dong.... Anda harus jujur (jujur sejak dalam pikiran, hayah, kurang jitu rasanya). Itulah cara Islam. Kalau dalam soal jualan khilafah saja Anda tdk jujur membandingkan dengan Pancasila.... bagaimana orang Indonesia mau percaya?
Tidak usahlah bersembunyi di balik teori ilmiah, textbook, pakar, mochtar pabottingi, dan sejuta alasan lain hanya untuk tidak berani bersikap jujur membandingkan khilafah dengan pancasila, mengupas baik buruk keduanya. kalau sekadar membandingkan sistem khilafah dengan sistem sekuler dan komunis, maka Anda hanya sekadar mengajak orang berexcercise. Tapi, kalau membandingkan dg Pancasila, nah itu baru kontekstual dg kondisi Indonesia.....
Karena itu, 6 jam lalu saya coba usulkan agar Anda memasukkan Pancasila ke dalam tabel relasi-relasi itu. Saya bahkan sudah merinci bagaimana posisi Pancasila dalam relasi-relasi itu (lihat koment di atas). Tetapi anda selalu ngelesi. Kenapa? Saya khawatir Anda tidak berani membandingkan ideologi khilafah dg Pancasila karena Anda akan memperlihatkan komparasi yang menghasilkan ternyata Pancasila lebih lengkap daripada khilafah. Tepatnya, Pancasila ternyata lebih cocok dan bisa diterima mayoritas penduduk Indonesia daripada khilafah. Karena alasan itukah Anda tdk berani membandingkan khilafah dengan Pancasila? Kalau iya, berarti Anda tidak jujur.
Pertanyaan saya, apakah Anda berani jujur?
Ideologi itu berisi aturan hidup yang menyeluruh, yang mengatur:
1. Hubungan individu dengan Tuhannya,
2. Hubungan individu dengan dirinya sendiri,
3. Hubungan individu dengan individu lainnya.
Khilafah punya aturan yang mengatur ke-3 hubungan tsb. diatas.
Apakah PANCASILA juga punya aturan yang mengatur ke-3 hubungan tsb. ?
Jika menurut khilafah miras dilarang dan diharamkan bagi muslim, bagaimana menurut PANCASILA ? Apakah PANCASILA mengatur masalah miras ?
Jika menurut Khilafah ada opsi hukuman mati bagi orang yang membunuh, bagaimana menurut PANCASILA ? Apakah PANCASILA mengatur tentang hukum pidana khususnya dalam kasus pembunuhan ?
Terimakasih.
Kalau saya tulis Kapitalisme, yang dimaksud sekulerisme.
Irfan : Yang sabar ya... Anda memasukkan Pancasila sebagai Ideologi gak apa. Tidak ada yang menyalahkan. Saya cuman tidak baca saja tulisan anda tadi.
Sayangnya saya tetap tidak setuju. Bolehkan?
Karena secara konsisten Pancasila itu tidak bisa melahirkan sistem-sistem di atasnya.
Seperti Islam, misalnya, jelas Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW bisa dijadikan rujukan untuk membangun sistem ekonomi, politik, hukum dan lain-lain.
Sekulerisme, misalnya, dengan pikiran manusia tanpa bersandar Agama manusia bisa membuat sistem-sistem berdasarkan pertimbangan manfaat tidak manfaat.
Kalau Pancasila??? Begitu mas Irfan..
Baca dulu komentar si irfan...
Good
Kenapa harus melahirkan sistem apabila mengadaptasi sistem yang ada sudah cukup? Itu dulu.
Ini tidak benar, yang benar itu ideologi adalah ide dasar yang menjiwai aturan-aturan hidup yang dipilih untuk dipakai.
Sekulerisme , misalnya, dengan pikiran manusia tanpa bersandar Agama manusia bisa membuat sistem-sistem berdasarkan pertimbangan manfaat tidak manfaat.
Kalau Pancasila??? Begitu mas Irfan.
================
soal sistem ekonomi, politik, sosial yang diturunkan dari Pancasila itu bisa lihat koment saya 9 jam lalu.
Sebetulnya, kalau dipetakan, pancasila itu berada di tengah, di antara Agama dan Sekularisme. Dulu saya termasuk yang memandang sebelah mata pada wacana posisi Pancasila yang tengah-tengah itu: kanan tidak, kiri bukan. Tetapi membandingkan Pancasila apple to apple dengan ideologi khilafah, saya memilih berada di garis pembela Pancasila, kecuali jika para khilafers mampu memberikan penjelasan yang memenuhi ekspektasi saya.
krisnov... saya ingin masuk pada aspek-aspek teknis dalam kehidupan publik menurut sistem khilafah. Ada beberapa pertanyaan berkenaan dg implementasi sistem khilafah.
1. Saya muslim karena orang tua yang melahirkan saya juga muslim. Karena beragama hanya karena keturunan, saya tidak menjalankan syariat agama Islam dg kaffah. Saya misalnya tidak menjalankan sholat wajib 5 waktu, bagaimana hukumnya dalam sistem khilafah?
2. Kalau saya tidak berpuasa di bulan ramadhan, apa saya akan dikenai hukuman menurut sistem khilafah?
3. Kalau ada remaja yang berpacaran melewati batas, sehingga hamil, bagaimana sistem khilafah menegakkan syairah?
Masih banyak pertanyaan saya, tetapi sementara itu dulu. Saya berharap mendapat jawaban yang sejujurnya.... terimakasih.
Good:
Kalau begitu, saya minta tolong lain kali jangan disamaratakan seperti itu, domo arigatou gozaimasu
iloenx:
Saya juga punya pertanyaan yang serupa dengan anda tapi belum dijawab sama mas Pedy. Entah, mungkin terlewat
"Oh ya soal tidak ada paksaan dalam agama saya setuju itu: la ikraha fi din. Tapi begitu masuk Islam ia tidak boleh murtad kan? Kalo murtad maka termasuk riddah dan sanksinya death penalty."
Bisa ditunjukkan DIMANA DI QURAN ADA ORANG MURTAD HARUS DIHUKUM MATI???
Itu konsep 'bohong', hasil tipuan/karangan manusia yang turun temurun dipercaya lewat kitab Gossip (baca:Hadith) yang dibilang 'wajib' dipercayai oleh ulama-ulama / pendeta / petinggi agama Sunni!, yang katanya si anu denger dari si anu yang juga denger dari si anu bahwa si anu ngomong gitu...
Harus jelas dibedakan mana yang dari ideologi Suniisme (yang sektarian) mana yang dari ideologi Shiaisme (yang juga sektarian) dan mana yang dari Quran.
Malu diliat orang
1. Kitab2 itu bukan gw atau pedi yang ngarang.. jadi jelas bukan 'kitab sendiri'...
2. Apa yang harus dimaluin? Debat is healthy.. an ongoing process to learn and correct our view.. Kalau pukul-pukulan, bunuh-bunuhan (kaya kasus Nasrudin) apalagi gara2 cewek, nah itu baru malu-maluin..
Quran 4:89
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong
Quran 9:74
Sahih Bukhari: Volume 9, Book 84, Number 57
Some Zanadiqa (atheists) were brought to 'Ali and he burnt them. The news of this event, reached Ibn 'Abbas who said, "If I had been in his place, I would not have burnt them, as Allah's Apostle forbade it, saying, 'Do not punish anybody with Allah's punishment (fire).' I would have killed them according to the statement of Allah's Apostle, 'Whoever changed his Islamic religion, then kill him.
Sahih Bukhari: Volume 9, Book 84, Number 58
Sahih Bukhari: Volume 9, Book 84, Number 64
Sebenarnya gk susah nyari2nya, di Google cukup search : murtad dibunuh
http://www.google…=KqtEvp1-d7s
Monggo dibaca2 kalo mau
Seperti yg sudah saya peringatkan diatas, gk usah bantah2an mengenai kitab sendiri, malu dilihat orang, aplg ampe dibahas, tapi si japar kayaknya kurang puas. Sorry OOT jadinya. Mari bobok
[4:88] Why should you divide yourselves into two groups regarding hypocrites (among you)? GOD is the one who condemned them because of their own behavior. Do you want to guide those who are sent astray by GOD? Whomever GOD sends astray, you can never find a way to guide them.
[4:89] They wish that you disbelieve as they have disbelieved, then you become equal. Do not consider them friends, unless they mobilize along with you in the cause of GOD. If they turn against you, you shall fight them, and you may kill them when you encounter them in war. You shall not accept them as friends, or allies.
[4:90] Exempted are those who join people with whom you have signed a peace treaty, and those who come to you wishing not to fight you, nor fight their relatives. Had GOD willed, He could have permitted them to fight against you. Therefore, if they leave you alone, refrain from fighting you, and offer you peace, then GOD gives you no excuse to fight them.
Spesifik 4:89, Itu declaration of war sama orang2 munafik yang doyan nusuk dari belakang pada waktu perang. Hukum yang sama SUDAH DITERAPKAN sekarang di hampir semua negara, terutama di lingkungan militer dan pada waktu darurat perang.
Jika di waktu perang ada tentara TNI yang desertir dan bergabung dengan musuh, maka jangan ragu-ragu perangi mereka! Walaupun mungkin masih 'teman sendiri' ataupun masih 'saudara'.
The rest.. Anda mengutip sampah-sampah hadith..
Ini lengkap yesus sendiri yang bilang: jangakan murtad, ngga dengerin kata pendeta atawa pastor aja kudu dibunuh koq. nape lu melengos:
(1) "... Janganlah engkau merasa sayang kepadanya (orang yang murtad); janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya."
(2) "Tetapi bunuhlah dia: Pertama-tama tanganmu sendirilah yang bergerak untuk membunuh dia ..." (Injil -Ulangan 13: 8,9).
(3) Potong kaki dan tangan orang yang menyesatkan ke arah dosa (Matius l8:8-9)
(4) Bunuhlah manusia yang tidak mendengarkan perkataan imam
Orang yang berlaku terlalu berani dengan tidak mendengarkan perkataan
imam yang berdiri di sana sebagai pelayan TUHAN, Allahmu, ataupun
perkataan hakim, maka orang itu harus mati. Demikianlah harus
kauhapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.. (Ulangan 17:12 )
moderator mana nih?
ya....memang ada juga di injil....
untuk itu diperlukan ilmu perbandingan agama
Ulangan 17:12
17:12 Orang yang berlaku terlalu berani dengan tidak mendengarkan perkataan imam yang berdiri di sana sebagai pelayan TUHAN, Allahmu, ataupun perkataan hakim, maka orang itu harus mati. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.
============== ==============
Pengan tar Alkitab Ulangan:
Tema pokok buku ini ialah bahwa Allah telah menyelamatkan dan memberkati umat pilihanNYA, bangsa yang dikasihiNYA. Jadi bangsa Israel tak boleh lupa akan hal itu.
Matius 18:8-9
18:8 Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal.
18:9 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.
(Alkitab terjemahan baru 1974, Lembaga Alkitab Indonesia)
ini tidak menganjurkan untuk memotong tangan dan mencungkil mata orang lain, tetapi terhadap diri sendiri
Every religion has its own backwardness. Ngebanding-bandingin agama itu kaya ngebanding2in istri: "Istri gw lebih cantik!"
Acknowledge the differences, refrain from attacking faith.
Kalau mau perang ayat, saya rasa banyak yang beragama Islam yang siap, namun kami sebagai umat Islam disuruh mendebat dengan cara yang baik kepada non muslim, begitulah menurut Al Qur'an.....kewajiban hanyalah menyampaikan, hidayah adalah dari Allah
To be honest, i couldnt care less.
Gw cuman ngetawain google.
Coz debating faith is pointless, it wont be called "faith" if it's debatable.
Itulah iman....
"Tuhan, tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan orang - orang yang Engaku berikan nikmat kepadanya, bukan jalan orang yang Engkau marahi, dan bukan jalan orang yang Engkau sesatkan. Amiiin"
mana krisnov dan khilafers lainnya?
Pertanyaan saya 7 jam yang lalu belum dijawab.
Saya sdh tiga kali ini mencatat khilafers tinggal gelanggang colong playu.....
1. Wktu khilafers diserang balik soal Kerajaan Islam masa lalu yg juga menggunanakan senjata dalam "memaksakan" penyebaran ideologi, setelah krisnov (?, atau khilafer lain) menuding Barat menggunakan senjata dan penjajahan untuk menyebarkan sekularisme dan komunsme. Setelah itu, saya amati tdk ada penjelasan.
2. di artikel sebelah Krisnov memberi stigma Arab saudi dan Iran tdk menjalankan Islam secara kaffah, antara lain, karena menerapkan ekonomi ribawi. Saya minta penjelasan contoh2 ekonomi ribawi apa saja yang diterapkan Saudi dan Iran, dan krisnov atau khilafers lain juga tdk memberi penjelasan....
3. Iya pertanyaan saya 7 jam yang lalu..... dan saya masih banyak pertanyaan seputar hal2 elementer berkaitan dg seumpama saya hidup dalam sistem khilafah.....
Silahkan login untuk memberikan pendapat