Memberantas Korupsi Cuma Omong Kosong 8

Rabu, 13 Mei '09 12:52

Korupsi adalah salah satu isu terutama dalam hidup bernegara di Indonesia. Nggak cuma jelang pemilu atau pilkada. Setiap mendekati pemilihan ketua lembaga ini itu, polri, polda dan sebagainya, selalu ada pertanyaan "Si dia korupsi nggak?".

Masyarakat luas geram terhadap korupsi. Selalu ingin melihat pemberatasan seperti di China atau Korsel terjadi. Tapi kadang terlihat masyarakat lupa apakah mereka juga siap untuk tidak korupsi.

Nyaris nggak ada jaminan manusia Indonesia tak akan korupsi ketika sedang menjabat, siapapun dan dimanapun itu. Sebagai contoh nyata, seorang satpam bank BUMN dengan gaji sekitar Rp 2 juta pun masih "mau" ngemplang uang tabungan konsumen lewat kartu ATM yang tertinggal di mesin.

Contoh lain, orang-orang dengan kredibilitas bagus seperti Mulyana W. Kusuma dan beberapa kawannya pun melakukan korupsi ketika bekerja di KPU. Setidaknya, vonis pengadilan mengatakan begitu.

Jadi, yang membedakan si koruptor dengan yang tidak hanyalah kesempatan!

Korupsi di Indonesia memang sudah mendarah daging dan membudaya. Bahkan sistematik. Saya pernah dengar (memang selalu kabar burung sih) kantor pelayanan publik di Bogor melakukan korupsi ramai-ramai. Setiap Sabtu, "uang panas" akan dibagi rata sesuai jabatan -- dari bos sampai cleaning service!

Jika ada satu orang yang tak mau ikut sistem, saya yakin dia minimal akan dikucilkan sampai resign atas kemauan sendiri. Itu masih lebih baik karena cuma "karakter-nya" yang dibunuh. Bagaimana bila nyawanya atau nyawa anggota keluarganya?

Memberantas korupsi di Indonesia lebih sulit ketimbang melakukan korupsinya sendiri. Gus Dur pun sampai dikudeta. Mungkin penyebab kudeta bisa bermacam-macam, tapi yang paling jelas adalah karena niatnya memberantas korupsi. Kwik Kian Gie yang jadi think tank anti korupsi-nya pun digusur ke Bapenas hingga akhirnya benar-benar didepak.

Yang terbaru, pejabat sekelas ketua KPK pun harus jadi pesakitan. Sedangkan direktur perusahaan BUMN harus menyerahkan nyawa. Saya 100 persen nggak yakin dan percaya ini cuma urusan rebutan caddy. Ini soal pemberantasan korupsi. Bahkan kasusnya tergolong sangat akbar. Sayang, (pengetahuan minim) yang saya punya harus masuk off the record. Terlalu beresiko jika diceritakan.

Dari contoh-contoh yang ada, saya semakin yakin bahwa pemberantasan korupsi bisa berjalan normal sesuai harapan bila ada konsensus nasional. Namun entahlah, apakah masyarakat luas siap mendukung. Sebab, sebuah sistem yang korup hanya bisa dilawan oleh sistem yang bersih pula.


Tag: korupsi, nasional, Tewas, Pemberantasan, Sulit, Omong Kosong, Konsensus

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    kang tutur 0 0
    Tapi Caddy itu Manis loh, bung Hedi... ; ))
    Red-White Porridge 0 0
    kang tutur

    pasti maksudnya caddy yang di jogja ya kang? ; )
    Catshade 0 0
    Saya rating -1 Jelek karena hal yang penting justru malah anda off-the-record-kan. Kan bisa bikin kloningan... ; ))
    Hedi 0 0
    kang tutur: manis kalo bisa bikin sengsara mah percuma, kang : p

    Catshade: hahaha, saya ogah mati konyol, mas...kasus itu melibatkan petinggi sih ; )
    yusro 0 0
    Gak usah omong kosong, omong isi pun korupsi memang susah dibrantas : )
    R A P 0 0
    dan resikonya di kehidupan riil : siapa yang berani berantas korupsi akan tidak bisa omong lagi... Hiiii.... : ((
    hamatamu 0 0
    R A P; jadi, isi dan kosong, sama saja : D
    ichanx 0 0
    [...Gus Dur pun sampai dikudeta. Mungkin penyebab kudeta bisa bermacam-macam, tapi yang paling jelas adalah karena niatnya memberantas korupsi....]

    agak kurang berkenan dengan pernyataan diatas.. : D

    Silahkan login untuk memberikan pendapat