Ini Blackberryku, Mana Blackberrymu? 47

Kamis, 14 Mei '09 12:43

Barang yang canggih dipasarkan Research In Motion (RIM) Kanada, yang diperkenalkan sejak 1997 ini lama-lama jadi punya umatnya sendiri. Tahun lalu saja, alat canggih ini terjual sampai 23,5 juta unit. Wow, jumlah yang fantastis! Sekaligus bukti kalau barang ini benar-benar diminati dan dibutuhkan. Ya karena itu tadi, era globalisasi itu mengharamkan kita telat informasi, dan Blackberry mencukupi kebutuhan pokok kontemporer itu.

Blackberry juga memanjakan orang yang dituntut untuk hidup serba praktis di tengah mobilitas yang luar biasa tinggi itu. Ketika perlu cari bahan untuk tugas sekolah, kuliah, atau kantor, tinggal browsing dengan meng-klik “si sakti”. Semua data yang dibutuhkan ada. Mau menyelesaikan tugas berformast microsoft office, vendor ini menyediakannya. Mau sekadar ngerumpi via chatting, pesan pendek atau telepon, ya tinggal Blackberry aja.

Kemudahan itu didukung penuh oleh operator seluler yang gila-gilaan memurahkan tarif. Ada yang patok tarif model paket, flat, atau apa pun yang penting adu murah. Dan mengakses internet via telepon pintar semisal Blackberry bukan lagi barang mewah. Kalau pun tak punya pulsa, cukup cari tempat yang menyediakan titik panas alias hotspot gratis dan, tuuuuutttttt, Blackberry pun menyajikan internet via fasilitas Wi-Fi-nya. Benar-benar memuaskan.

Dengan kelebihan itu, Blackberry menerobos relung minat lapisan masyarakat sedunia. Blackberry pun membuat orang jatuh hati. Ya karena pesonanya dan kemasannya yang seksi itu tadi. Sejalan dengan kebutuhan manusia modern untuk berinformasi dan berkomunikasi ria. Klop.

Agak membelok sedikit, tapi ini tetap ada korelasinya dengan Blackberry. Cinta itu memang buta. Demi siapa pun atau apa pun yang dicintai, orang rela berbuat apa saja. Termasuk ketika orang sudah gandrung pada alat cuanggih ini. Demi Blackberry orang “rela mati”.

Aku membicarakan ini karena benda ini sudah bertransformasi jadi semacam kultus pemujaan yang membuat banyak orang terkeser-keser. Orang-orang ramai mendapatkannya, dengan apa pun caranya. Kalau tak punya uang, apapun dijual untuk mencukupinya.

Sekitar satu setengah bulan lalu saya naik KA Eksekutif Bima dari Jakarta ke Madiun. Di deretan seberang kursi saya, duduk seorang ibu yang tampak merenung sejak dari Jakarta. Di sebelahnya duduk seorang perempuan muda yang tampak modis. Dari keluarga kaya tampaknya.

Ketika kereta mulai berjalan, tiba-tiba ada bunyi dari tasnya. Si gadis sigap buka tas, dan mengambil sesuatu dari dalam itu. Rupanya asal bunyi itu adalah Blackberry Bold-nya yang berbunyi. Ada email masuk. Dia sigap membukanya, lalu tersenyum. Tampaknya ada kabar gembira mampir di Blackberrynya. Setelah itu telepon berbunyi. Dan si gadis bercakap dengan orang di seberang: “Iya, udah. Coba kamu lihat di Facebook. Aku udah kirim. Ok,” rupanya dia sedang berkirim pesan via email dan jejaring pertemanan Facebook yang lagi booming itu. Perantaranya Blackberry. Dia tampak riang.

Ibu murung yang duduk di sebelahnya tampak kontras dengan kegembiraan itu. Setelah si gadis selesai dengan Blackberrynya, si ibu tiba-tiba menyapa membuka percakapan. “Seperti itu harganya berapa, Mbak,” ujar si Ibu sembari menunjuk ke Blackberry.

“Oh, Blackberry. Ini 7 juta bu,” jawab si gadis kaya enteng. Si Ibu tampak mengela napas. “Semua harganya segitu?” Ibu bertanya lagi. Si gadis menjawab,”Oh, tidak Bu. Macam-macam kok, ada yang lebih murah, sekitar 4 jutaan. Itu yang paling murah.”

Si Ibu menghela napas lagi. “Itu yang paling murah?” tanyanya lagi pada si gadis. “Oh, ada yang murah lagi Bu, tapi barang bekas. Paling 2 jutaan,” jawab si gadis mantap, seperti makelar saja.

Si Ibu, lagi-lagi, menghela. Saya tak menanya si Ibu kenapa menghela, tapi dari petunjuk mimiknya, saya merasa, dia tidak setuju dengan angka “murah” yang dibilang si gadis.

“Memang kenapa Bu? Mau beli? Memang ini sekarang barang penting lho Bu, apalagi buat yang kuliah atau kerja,” katanya sok menasehati.

“Bukan buat saya, Mbak. Tapi anak saya yang masih kuliah. Anak perempuan saya satu-satunya. Dia mogok nggak mau kuliah kalau tidak dibelikan yang seperti itu (Blackberry). Tapi saya kan tidak punya uang,” si Ibu mulai menjelaskan alasan helaannya.

“Semua temannya punya yang seperti itu. Makanya dia kepingin. Padahal dia sudah punya HP, tapi dia minta diganti sama yang itu. Dan saya tak punya uang. Makanya, saya ke Jakarta ini pinjam uang 1 juta sama adik saya. Ternyata masih kurang ya..?” Wah, si Ibu benar-benar “ibu”. Demi anaknya dia mau apa saja. Sampai-sampai dibelain ngutang sampai Jakarta (tapi aku nggak tahu di mana rumahnya dan apa pekerjaannya, dan nggak tahu juga bagaimana cara si ibu bisa naik KA eksekutif sementara dia sedang kesusahan), demi memenuhi keinginan anak perempuannya yang kepincut sama gadget yang cukup fenomenal itu.

Si gadis tak banyak berkomentar. Dia langsung speechless. Tampaknya dia baru sadar salah ngomong dan menambah beban si ibu. Saya juga bisa membayangkan, bagaimana kalau akhirnya si Ibu pulang nanti tapi duitnya masih belum cukup untuk membeli Blackberry? Bagaimana nanti anak perempuannya itu menyambut si Ibu yang “gagal” cari duit cukup untuk membelikannya Blackberry? Marahkah si anak? Tetap mogokkah, kendati si Ibu sudah berusaha? Ah, kalau memang ketika si Ibu sampai nanti tak disambut ramah, Blackberry rupanya lebih penting daripada kasih anak untuk ibu.

Saya miris mendengar itu. Saya pun coba sejenak memalingkan kemirisan tentang usaha Ibu membelikan Blackberry anaknya itu dengan mengalihkan perhatian pada majalah Tempo yang kebetulan saya beli di Stasiun Gambir untuk teman di kereta.

Tapi rupanya ironi Blackberry memang ada di mana-mana. Ketika saya membaca berita tentang dua jaksa wanita, satu dari Kejaksaan Negeri Jakarta Utara, satunya dari Kejari Kuningan, Jawa Barat, penjual barang bukti ekstasi, ealah, kok ada juga cerita miris tentang Blackberry di situ.

Tahu apa motivasi dua jaksa itu jual barang bukti itu? Karena mereka pengin punya Blackberry! Kalau mengandalkan gaji, mereka tak akan bisa beli. Maka dari itu mereka cari sambilang jualan ekstasi! Masyaallah. Lagi-lagi cerita ngenes tentang Blackberry... Tambah pusing saja kepalaku.

Di luar cerita itu, di sekelilingku, cerita miris yang dipicu obsesi pada Blackberry itu seperti cerita jamak yang lazim terjadi. Ada yang sampai menjual harga diri demi mendapatkan alat itu, ketika dia tak mampu membeli kalau hanya mengandalkan gaji. Atau gara-gara Blackberry yang didapatkan dengan cara yang tak semestinya, suasana sebuah kelompok atau organisasi jadi panas dan sama sekali tak nyaman. Dan banyak lagi kisah miris seperti itu.

Yah, Blackberry memang sudah ditempatkan sebagai mitos yang sakral, sebagai kebutuhan primer di samping sandang, pangan, papan dan pendidikan. Jadi simbol masyarakat modern yang ingin diakui lingkungannya. Atau apalah, yang jelas mulai melenceng jauh dari relnya sebagai sarana komunikasi.

Seakan-akan, ketika seorang ber-Blackberry berjumpa dengan orang lain, mereka akan bilang; “Ini Blackberryku, mana Blackberrymu?” Dan, cling, orang-orang pun berbondong mendapatkannya, dengan cara apa pun, agar bisa menjawab pertanyaan itu.

Yah, modernisasi memang menghadirkan dua wajah; yang penuh senyum senang dan cibir satir. (*)


Tag: Sosial

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Catshade 0 0
Kok yang pertama kali kepikiran oleh saya: Si ibu itu nggak bisa mendidik anaknya. : |
uceenk 0 0
Catshade
kalo sy sih mikirnya : ini koq si anak kebangetan yah, minta blackberry tapi gak liat kondisi keuangan keluarganya ^_^
Catshade 0 0
uceenk: Klo si ibu nyuekin atau malah marah2in anaknya karena gak peka kondisi keuangan keluarga sih, saya rasa masalah akan berenti di situ. Lha ini si ibu sampe bela2in pinjem duit ke Jakarta... lha anaknya malah makin ngelunjak ke depannya. *ngenes* : (
LCFR 0 0
*lirik kiri-kanan cari Harbinger Of Death*

Koreksi dikit, speechless mas.
Retno I Palupi 0 0
Mungkin si ibu selalu memenuhi keinginan anaknya bagaimanapun caranya termasuk ngutang.. Jadinya si anak ngelunjak

karimj 0 0
ini fenomena budaya masyarakat indonesia yg makin konsumtif
kalipaksi 0 0
aku suka banget artikelmu....
dhika rossifumi 0 0
satu kata buat anda : MANTAB !!
satu kalimat buat anak si ibu : MATI AJA LO !!!
spidolhitam 0 0
hal yg sama bisa dipasang ke benda lain, mobil, laptop, hp mahal, rumah, dst


yang punya biasanya trus mati rasa (terhadap yg ga punya maksudnya)
Gamal 0 0
gw sampe skrg masih pake ericsson r520 made in sweden, dan 'jimat' ini membawa gw ke negeri asalnya : D
Sri Kirana 0 0
Jujur, bukannya mau mamer, tetapi saya punya BB... : p cuma karena HP rusak, apa mau dikata, ganti darurat. Tetapi saya nyesel banget beli blekberi... keypadnya kekecilan, enakan HP konvensional ke mana2, meskipun kalau untuk surfing internet memang lebih enak blekberi.

Dan buat si Ibu itu, saya tidak setuju caranya mendidik anak, anak tidak boleh dimanja begitu, apalagi sampai ngutang, itu sih namanya menyesatkan, bukan mendidik.

*jadi pengen jual ajah blekberinya, duitnya pake buat benerin HP...*
C e l o 0 0
Ibunya gitu banget ya? Dia ngebesarin anaknya gimana sih sampe berusaha membeli cinta anaknya dengan uang gitu.

Anaknya nggak bisa disalahin juga dong, yang membentuk sifat anak kan keluarga.
Irfani Latif 0 0
+1 Ispiratif...

===========

Tapi...

¿nʇı ʎɹɹǝqʞɔɐ1q ɥıs ɐdɐ : )
tennomeiji17 0 0
salah sapa?
Ibu ?
ato anak nya?

ko sampe kaya gtu...?
suneo 0 0
Hedon...euy

ibu, anak dan lingkungan sama2 salah...

menuhankan materi

untuk beberapa teman dari segi fungsional BB sangat membantu,...

yang bikin cape BBers yang buat hedon ...
(orang2 inferior terjajah materi...)

*setia sama Motorola Razr V8, tipis, praktis, nyaman, layar gede, tombol gede.. : D*
Ridwan 0 0
saya g punya blackberry.
mungkin di antara warga poltikana ada yang mau beliin?
: D
Wonggantenk 0 0
saia juga belum punya, punya hape cuma seharga 21 euro, yang penting bisa nelpon dan layarnya berwarna
Wonggantenk 0 0
dan satu lagi, mereknya tetap nokia
iscab 0 0
Koperasi adalah sokoguru ekonomi bangsa.


Teringat tahun 2004, demi kamera seharga 6 juta kurang dikit, aku meminjam uang kepada suatu koperasi.

Jadi bentuklah koperasi, baik di lingkungan keluarga, tetangga, teman, dll. Maka dikau akan sulit kekurangan uang.
Ridwan 0 0
nasib saya sama seperti wonggantenk. tapi hanya muka saya saja belom menjadi wonggantenk : D
Wonggantenk 0 0
Admin
Kalau masalah ketampanan sudah rezeki masing - masing : D
tkp 0 0
hehehe,, blackberry oh blackberry,, salam buat semuanya,, kalau menurut saya, alat itu justru bikin kita jadi "autis", terlalu asyik dengan dunia sendiri, tak peduli orang di sekitarnya. Coba amati sekitar Anda, mungkin Anda sedang nongkrong atau menghadiri sebuah acara dan di situ ada orang ber-blackberry. Amati saja, sebagian besar pasti terlalu asyik dengan alat itu, entah membalas email, sms atau telepon, atau cuma memandangi "indahnya" bodi si blackberry, yang jelas, perhatiannya fokus pada si alat tak peduli orang sekitarnya. Saya sendiri seringkali menjumpai, ada sekelompok orang sedang berkumpul, tapi beberapa di antara mereka tampak terlalu asyik sama alatnya sendiri, tak peduli orang di sekitarnya. Terlalu asyik dengan dunianya sendiri, tak peduli orang lain. Mungkin anak si ibu di kereta juga sedang dalam proses menuju "autis", nggak peduli perasaan ibunya demi si BB. Mungkin sedang mempersiapkan diri sebelum punya BB. Hehehe,, shock culture yang aneh..
cK 0 0
ih, mau domz
barter boleh ngak?
Google 0 0
tkp Mereka cuma korban, demi FB, FS dan social network lainnya : ))

Mending dipake mantau imel klien atau currency chart
sevenco 0 0
saya juga pernah melihat seorang ibu yang dengan tampang putus asa mencoba memanggil anaknya gadisnya (seumuran anak sma) dari luar sebuah toko yang khusus menjual blackberry di sebuah sentra handphone di bandung. sia-sia saja, sang anak sudah asyik melihat-lihat di meja etalase.

anak seumuran sma/kuliah harusnya sih belum membutuhkan fungsi lebih yang ditawarkan blackberry. tapi toh tidak semua membelinya karena fungsi lebihnya, lebih karena 'me too' effect.
Harbinger Of Death 0 0
Google, emangnya metatrader ada yang buat blackberry? baru tahu...
rakjat ketjil 0 0
kejam..
Harbinger Of Death 0 0
Yang saya pikirkan, kenapa harus pake KA ke jkt? eksekutif lagi. pake tilpun bu, tilpun...
Google 0 0
Harbinger Of Death, ada koq, tapi kudu pake lup ngeliatnya : D

Kalo ane sih ambil API nya aja trus dibikin web based biar gmpang diakses utk ngeliatin aja, bukan untuk trade
Harbinger Of Death 0 0
IC.

Loe pedagang professional?]

Kalau API based, loe dah pernah coba dedicated server lum?
Google 0 0
: D

Masang EA emang mau dimana klo bukan di DS?
le corbeau 0 0
Google & Harbinger Of Death; halah dua orang ini ... ckck
Harbinger Of Death 0 0
currently gw di komputer ndiri, pake koneksi lokal sini. very costly la, metatrader based.

Gw thinking mau sewa DS tapi di server luar. Trus biar safer setting remah2 banget.

Tapi remah2 juga lumayan banget dari itung2an gw. Asumsi 0.1%/d aja, dana ngendon sekarang dah bisa steady $100. Pengen pensiun, capek nangis darah.
Harbinger Of Death 0 0
ups, ok maap deh ndaru... pindah.. pindah
Google 0 0
Masya allah, kompie idup 24/5 dong yah? Kalo ane pasang di DS, yg cheaper di VPS jg bisa, kayak vpsland.com punya

Ane mainnya remah2 juga, semua robot colongan diangkut ke DS : D
le corbeau 0 0
Harbinger Of Death; ya pindah, bikin topik jual beli atau sewa dedicated server di tempat lain yah : D
Harbinger Of Death 0 0
Oh shEEETTTT murah! ongkos koneksi gw bulanan bisa 1000-1500!!!! SHEEEETTT....
le corbeau 0 0
Harbinger Of Death; njrit, kasian sampai histeris gitu : D
le corbeau 0 0
Harbinger Of Death & Google; sekali lagi ada perbincangan jual beli dedicated server, EA dan tetek bengeknya, saya BAN kalian dari surga! : D
Harbinger Of Death 0 0
soale segitu itu dah bisa invest ke pedagang kebab dorong2, 2-3 orang/month.
Google 0 0
Harbinger Of Death
dapat berapa sheet tuh : ))
Harbinger Of Death 0 0
Baiklah dewandaru, maapkan.
rikigede 0 0
Alhamdulillah, makin banyak yang make BlekBerih..
9olda 0 0
koq si ibu ngga bisa ndidik anak unt ngga iri sama temen? usaha dong, nak.. bukannya minta ma ortu sampe maksa2 dan si ibu jadi 'ngga enak' harus ngutang unt meluluskan permintaan anak.

si anak bodo juga ya.. ngga mikir, handset aja ngutang, gmana biaya bulanannya?
elsara 0 0
Now it's no more function makes fashion, but fashion makes function.
sawung 0 0
ckckck segitunya. gw aja punya hp dipaksa nyokap gara-gara gak pernah pulang dan susah dihubungi : D. Dan sampe sekarang seneng banget kalo hp ketinggalan : D.
sevenco 0 0
9olda
kan belum tentu BISnya diaktifin, bu. : ) sebagian pengguna handset blackberry hanya menggunakannya utk telepon, sms dan fesbuk. push mail? apa itu? buat apaan sih?

Silahkan login untuk memberikan pendapat