KOPAS - Misteri Tragedi Trisakti, dari website PDI Perjuangan 26

Sabtu, 16 Mei '09 01:10

Tulisan ini diambil dari PDI Perjuangan Official website. (www.pdi-perjuangan.or.id)

 

Cepet cepet di kopas ke sini sebelum nanti dihapus :)

HARAPAN sejumlah pejuang hak asasi manusia (HAM) agar DPR mendesak presiden mengambil langkah-langkah untuk mendorong penuntasan kasus Tragedi Trisakti agaknya tidak berhasil. Selain Fraksi PDI Perjuangan dan Fraksi PKB, para wakil rakyat di Senayan itu tidak mendukung usulan itu. Mereka benar-benar plin-plan dan tidak memiliki nurani.

Insiden Trisakti yang mengawali huru-hara Mei 1998 adalah peristiwa bersejarah yang telah membawa Indonesia pada babak baru perjalanan bangsa. Rezim Soeharto yang telah berkuasa lebih dari tiga dasawarsa akhirnya jatuh. Tapi tragedi yang mengambil nyawa 4 mahasiswa sebagai martir itu sampai sekarang masih gelap, tidak jelas siapa yang harus dimintai tanggung jawab. Dan masih ada lagi pertanyaan penting: Apakah empat mahasiswa Trisakti memang sengaja dikorbankan untuk suatu tujuan yang lebih besar dari pihak-pihak tertentu? Siapa penembak mahasiswa Trisakti dan siapa yang memerintahkan mereka?

Mengacu pada tradisi budaya Indonesia adanya peran "wayang" dan dalang", dalam peristiwa ini pasti ada dalangnya. Tapi siapa? Yang jelas, berdasarkan kajian sejumlah peneliti, insiden Trisakti pada 12 Mei 1998 tidak terlepas dari rivalitas Wiranto dan Prabowo.

Civitas academica Trisakti, dalam pernyataan sikapnya 18 Juni 2001, berpendapat bahwa TNI dan Polri masih menghamba kepada individu dengan melindungi jenderal-jenderal seperti Wiranto (eks Pangab), Dibyo Widodo (eks Kapolri) yang jelas-jelas pada masa terjadinya peristiwa Trisakti merupakan kaki tangan kekuasaan Orde Baru. Mereka juga menuntut DPR untuk merekomendasikan Pengadilan HAM ad hoc bagi penyelesaian Tragedi Trisakti. Hampir enam tahun telah berlalu, tapi tuntutan civitas academica Trisakti itu seperti teriakan di tengah padang pasir.

Buku yang ditulis Fadli Zon-sahabat Prabowo-ini paling tidak dapat memberi pengetahuan kepada kita mengenai situasi politik pada waktu itu. Penulisan buku ini juga dipicu oleh terbitnya buku Wiranto, Bersaksi di Tengah Badai. (Buku BJ Habibie yang juga mengungkap peran Prabowo di tahun 1998, saat itu belum terbit.)

Menurut pengakuan Fadli Zon, sejak lama ia sudah 'gatal' ingin menulis buku, karena ia menilai "banyak keterangan Wiranto yang tidak sesuai dengan fakta atau kehilangan konteksnya." Fadli sebagai salah seorang saksi mata dan berada di tengah putaran badai ketika peristiwa Mei itu, tidak ingin peristiwa berejarah itu dijadikan propaganda pribadi. "Saya tidak ingin anak cucu saya membaca sejarah yang salah, sejarah yang dibuat jenderal yang menang," tuturnya tanpa menutupi rasa tidak senangnya pada Wiranto.

Menurut Fadli Zon ada dua teori tentang insiden Trisakti (penembakan mahasiswa Trisakti). Pertama, pelakunya adalah anggota Polri yang tidak disiplin dan akhirnya membabi buta menembaki mahasiswa. Kebrutalan polisi ini merupakan puncak peristiwa bentrokan antara mahasiswa dan polisi sejak beberapa bulan sebelumnya. Teori kedua, adalah adanya penembak jitu (sniper) atau penembak liar yang bukan anggota Polri, yang memang mendesain terjadinya insiden ini. Teori kedua ini didukung rumor dan analisis para pengamat asing yang sejak awal tidak menyukai tentara.

Fadli Zon tidak menyebutkan teori mana menurut pendapatnya paling benar. Tapi ia mengatakan, Jenderal Wiranto sebagai Pangab ketika itu tidak mampu bertindak tegas untuk mengusut siapa pelaku penembakan dan siapa yang harus bertanggung jawab. Masalahnya, karena menurut dia, "Lamanya proses pengungkapan penembakan mahasiswa Trisakti telah mengaburkan fakta-fakta dan membiarkan rumor, gosip dan fitnah merajalela. Korban utama dari lambannya proses pengusutan ini adalah Letjen TNI Prabowo Subianto, salah satu rival Wiranto di ABRI... Selama bertahun-tahun, Prabowo sempat dianggap orang yang bertanggung jawab di belakang kasus Trisakti."

Tentang rumor yang menimpa Prabowo ini Fadli Zon menyebut ada tiga teori atau skenario. Pertama, teori konspirasi yang lahir dan berkembang dari rivalitas Prabowo dan Wiranto. Dalam hal ini, "Prabowo merekayasa suatu kerusuhan yang diawali dengan jatuhnya martir di kalangan mahasiswa. Dengan adanya kerusuhan, pamor Wiranto akan luntur dan Prabowo akan lebih mudah jika harus mengambil alih kekuasaan alias kudeta."

Teori kedua yang juga diarahkan pada Prabowo adalah adanya penembak jitu (sniper). Dalam skenario ini Prabowo dituduh memerintahkan Kopassus untuk menembak mahasiswa dari atap tertinggi di gedung-gedung di sekitar Universitas Trisakti.
Teori ketiga yang menyudutkan Prabowo adalah penembakan Trisakti dilakukan tentara, dalam hal ini Kopassus.

Tapi Fadli Zon berusaha membela Prabowo sahabatnya itu dengan menunjukkan kelemahan-kelemahan dari ketiga teori itu. Lemah atau tidak, yang menjadi pertanyaan kita, kenapa DPR tidak mendukung upaya penuntasan Tragedi Trisakti? ?

Tentang Penulis:

FADLI ZON, SS. Msc, lahir di Jakarta tahun 1971. Menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Indonesia Program Studi Rusia (1997) dan S2 dari London School of Economics and Political Science (LSE) Inggris untuk bidang Development Studies. Menjadi Direktur Eksekutif Center for Policy and Development Studies (CPDS) tahun 1995-1997, dan Direktur Eksekutif Institute for policy Studies (IPS) sejak 1997 hingga sekarang. Pernah menjadi wartawan di beberapa majalah dan suratkabar, dan hingga kini masih tercatat sebagai Dewan Redaksi "Majalah Sastra "Horison". Di dunia politik, ia pernah menjadi Anggota MPR RI (1997-1999) dan Ketua DPP Partai Bulan Bintang (19982001). Sehari-hari, ia kini aktif sebagai Direktur Umum di sebuah perusahaan minyak dan gas nasional. Buku-buku yang telah diterbitkan antara lain: "Gerakan Etnonasionalis: Bubarnya Imperium Uni Soviet (Sinar harapan, 2002) dan "The IMF Game: The Role of the IMF in Bringing Down the Soeharto Regime in May1998" (IPS, 2004).

-----

 

Deklarasi MEGA PRO? nah lho?

 

 


Tag: Prabowo, PDI perjuangan, wong cilik, belief, Gerindra Deklarasi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    hamatamu 0 0
    Red-White Porridge; bung, screenshot nya pls dijadiin slideshow, cepetan : D
    Red-White Porridge 0 0
    hamatamu

    gak ada screen shortnya, maksudnya gambarnya gitu? ma'ap Neo Gaptekisme...
    hamatamu 0 0
    Red-White Porridge; tinggal pencet tombol PrtSc di keyboard kalau pake micro$oft window$, buka m$-paint trus ctrl + v dan save-as jpg
    Red-White Porridge 0 0
    ohhh begitu. iya pernah sih... siip,
    terus cara bikin slide show di politikana gimana?

    : D maap ya...
    ichanx 0 0
    sekedar mengingatkan satu hal : tidak ada hitam dan putih dalam politik... sekarang lawan, besok bisa jadi musuh, lusa jadi kawan lagi, dan begitu seterusnya : ))
    hamatamu 0 0
    Red-White Porridge; ah kalau itu bukannya tinggal bikin berita foto? klik-klik
    hamatamu 0 0
    ichanx; ini bukan masalah hitam putih, ini masalah rekam jejak, mana komitmen untuk tidak 'amnesia'? kalau media sudah mabuk dengan menggiring opini publik, lantas siapa lagi yang peduli?

    Red-White Porridge; ini screenshotnya http://yfrog.com/0xpdipj
    samsara 0 0
    @ichax;

    Kalo Tragedi Trisakti (yg dipolitisasi sama website pdi-p ne) itu fakta sejarah. Pensiunan Jendral-Jendal O, lagi, (http://politikana…l-jendral-o) "memang terlibat dalam tindak kejahatan HAM dan menginjak-injak nilai kemanusiaan, sejelas beda warna hitam dan putih!"
    samsara 0 0
    Lah komentar gw sepikiran sama si hamatamu

    Klop!
    Casper 0 0
    Hehe, ... efek kampanye negatif emang repot.
    hamatamu 0 0
    Casper; sebentar, kampanye negatif yang mana nih?
    gunawanrudy 0 0
    Hore sudah ada skrinsyutnya!

    Mari memantau. : )

    *ngupi dulu, lalu balik ke kerjaan*
    Red-White Porridge 0 0
    Rekam jejak lebih penting untuk belajar politik setuju... : D
    Casper 0 0
    Si PDIP. Kan biasa menunjuk2 negatifnya pihak lain. Repot deh,... malah berteman. Malah jadi bahan tertawaan....
    hamatamu 0 0
    Casper; lepas dari masalah pdi-p ternyata malah jadi berteman atau para mantan jendral suatu saat nanti akan nangis sesenggukan di depan rakyat mengaku itu saya kira masalah yang berbeda dari usaha melihat sejarah.
    badoer 0 0
    **dooh** tapi koq momennya pas banget yah?? disaat baru deklarasi capres-cawapres.. habis deklarasi, perang pun ditabuuh... : D
    hamatamu 0 0
    badoer; kata siapa? mungkin anda perlu lihat lagi, disana tertulis "Friday, 09 March 2007" http://yfrog.com/0xpdip2j
    Casper 0 0
    @ ndaru
    Yg diberitakan sbnarnya bukan hal baru...
    Jadi menarik karena ada Mega - Bowo. Kayaknya itu inti artikel ini.
    kang tutur 0 0
    ada yang begini yaks?

    *deja vu* : D
    dony 0 0
    Nah lo............????

    http://nasional.k…ling.Dukung.
    hamatamu 0 0
    Casper; pernah ada yang baru? : )
    dony 0 0
    http://nasional.k…ling.Dukung.
    Mas Paman 0 0
    sudah langsung langsung di-PDF-kan. : D

    di sini (http://www.scribd…di-Trisakti)
    C e l o 0 0
    Ha ha, iya sih ini bukan hal baru, mungkin semua orang juga udah tau, rahasia umum.

    Masalahnya adalah Mega-PRO itu. Jadi aneh : p
    Apprayo 0 0
    Baru tahu saya kalo Fadli Zon itu dulu aktif di PBB.
    666 0 0
    Jangankan Kasus Trisakti Bro..Kaus intern PDIP sendiri aja dikubur dalem2 kok..Bro n sis mungkin ingat Tragedi di Jalan Diponegoro 58 Jakarta Pusat,Pada tanggal 27 Juli 1996.Tragedi berdarah masalah perebutan kekuasaan antara Kubu PDIP dgn PDI(Pimpinan Soeryadi).KLo Bro n Sis Lupa Nie aq kasih URL-nya (http://www.antara…ia-politik/) Buat Me-reload lagi kejadian itu..So,Masih mw pilih MEGAPRO??Think about it.

    Silahkan login untuk memberikan pendapat