Pesan Deklarasi Capres-Cawapres 0
Selasa, 19 Mei '09 21:33, dibaca 673 kali
Akhirnya, setelah tarik-ulur beberapa minggu, tiga pasang tokoh sudah memastikan diri berkompetisi menjadi calon pemimpin negeri ini untuk lima tahun ke depan. Muhammad Jusuf Kalla dan Wiranto, yang pertama mendeklarasikan kesiapan mereka untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI 2009-2014. Yah, setidaknya sebagai calon lah.
Selanjutnya, menyusul Susilo Bambang Yudhoyono yang manuvernya dengan memilih Boediono sebagai Cawapres sempat mengagetkan elit PKS dan PAN. Terakhir, Megawati Soekarnoputri yang akhirnya berhasil meminang Prabowo Subianto sebagai Cawapresnya setelah mengalami deadlock beberapa kali. Sejauh ini, tidak ada yang spesial dengan tiga pasang Capres ini. Karena mereka semua memang orang lama di pemerintahan, dan pemberitaan.
Yang berbeda dari mereka adalah Deklarasinya. Persis mempraktikkan slogannya, Lebih Cepat Lebih Baik, pasangan JK-Win memang benar-benar yang paling giras. 1 Mei, mereka sudah mendeklarasikan pasangan JK-Win di Slipi, Jakarta. Sembilan hari kemudian, 10 Mei, JK-Win mengukuhkan kesiapannya di Tugu Proklamasi, Jakarta. Yang patut dicatat dari deklarasi dan pengukuhan ini adalah kesederhanaan. Tidak ada persiapan seremonial yang wah.
Suasana yang sama sekali berbeda ada dalam Deklarasi SBY-Boediono (yang beberapa hari lalu sempat populer dengan SBY Berboedi). 15 Mei, bertempat di Sasana Budaya Ganesa Institut Teknologi Bandung, SBY-Boediono resmi menjadi pasangan Capres menyusul JK-Win. Hebatnya, acara deklarasi yang konsepnya memang dibuat mirip dengan deklarasi Obama-Biden itu, konon menghabiskan dana tak kurang dari Rp. 10 Miliar!
Lain lagi dengan pasangan terakhir, Mega-Pro Rakyat. Dua tokoh yang selama ini paling pedas mengkritik kinerja pemerintah, merencanakan deklarasi yang akan diselenggarakan di TPA Bantar Gebang, Bekasi pada 24 Mei. Dengan maksud menyatu dengan konstituennya yang mayoritas wong cilik, Mega-Pro Rakyat sekaligus mengkritik SBY-Boediono yang menghabiskan banyak dana "hanya" untuk "sekedar" deklarasi.
Saya iseng-iseng membedah, ternyata deklarasi yang tiga macam itu memiliki pesan-pesan khusus. Yang pertama adalah event deklarasi dan pengukuhan JK-Win yang sederhana dan cenderung mengingatkan masyarakat pada Bapak Proklamator, Soekarno-Hatta, dengan memilih lokasi pengukuhan di Tugu Proklamasi dan sedikit mengutip naskah proklamasi.
Jika memang JK-Win ingin benar-benar meniru semangat Soekarno-Hatta seandainya terpilih sebagai presiden dan wakil presiden, ya baguslah. Semoga saja Indonesia bisa kembali bertaring di komunitas dunia, sebagaimana Indonesia era Soekarno-Hatta yang bisa memelopori Gerakan Non-Blok dan OKI, menyelenggarakan Ganefo, bahkan sempat keluar dari PBB. Namun, kalau pesan ini meleset, ya Mari bersama-sama mengenang sejarah tanpa mengambil langkah untuk masa depan!
Kemewahan deklarasi SBY-Boediono juga membawa pesan. Baiknya, jika SBY-Boediono terpilih, maka Indonesia bisa semakin meningkatkan bargaining position-nya. Bisa selevel dengan Amerika Serikat, Perancis, dan Jerman yang acara-acara kepemerintahannya selalu elegan -seperti disampaikan oleh Choel Mallarangeng, eo deklarasi tersebut pada Kompas. Kalau meleset? Hahaha, saya membayangkan kembalinya ruh kapitalisme Soeharto di negeri ini.
Mega-Pro Rakyat, yang menganggap partainya, PDI-P dan Gerindra adalah Partainya Wong Cilik, tentu saja akan banyak berpesan dengan deklarasi ini. Jika menjadi presiden dan wakil presiden kelak, semoga Mega-Pro Rakyat akan benar-benar pro-rakyat dan menyelenggarakan program-program yang berpihak pada rakyat. Sepertinya, pesan deklarasi Mega-Pro Rakyat ini yang paling aman. Sebab, kalau meleset sekalipun, paling-paling juga Indonesia 2009-2014 tak jauh beda dengan Indonesia 2004-2009, atau 2001-2004.
Tag: deklarasi, capres, cawapres
Terkait:
-
Penghinaan Terhadap Lagu Padamu Negeri
Jumat, 5 Jun '09 10:12 -
Deklarasi Kampanye Damai 10 Juni nanti
Rabu, 3 Jun '09 19:01 -
Pendukung MEGAPRO tidak Merakyat
Selasa, 2 Jun '09 13:26
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat