Tanggapan atas iklan "andai aku bukan seorang Indonesia" 45
Rabu, 20 Mei '09 10:19, dibaca 647 kali
Melihat sebuah iklan hari ini diharian KOMPAS halaman 5 http://epaper.kompas.com/
Ntah mengapa saya merasa sedih kalimat.
"Masa bodoh dengan menara BCA-nya, yang mengapai mega-mega angkasa atau Grand Indonesia shopping Mall yang menjanjikan seribu satu pengalaman baru atau Kempinski Private Residences yang menghembuskan pesona keindahan nan abadi"
Betapa kita menjual kemewahan, walau saya mungkin termasuk salah satu yang sering menikmati shopping mall itu tapi melihat tulisan seperti ini tersentak hati saya berapa banyak rakyat disekelilingnya yang masih tidak mampu, bahkan untuk membeli secangkir kopi di mal tersebut?
Tampaknya hati kita memang telah mati, tak peduli kita hidup mewah ketika kemiskinan tampak jelas disekeliling kita. Pemilik-pemilik shopping mall adalah raja-raja penguasa baru ketika ruang publik pun diaku sebagai milik pribadi dengan diusirnya blogger yang berkumpul disekitar bundaran HI.
Lalu dia paragraf terakhir
"Tapi aku adalah seorang Indonesia yang pada hari ini bergetar hatinya saat melihat kebanggaan Hotel Indonesia Kempinski sebagai bagian dari Grand Indonesia Shopping Town, selesai dipugar dan dibuka kembali untuk mengumandangkan kejayaan Indonesia Raya.
Aku adalah seorang Indonesia yang percaya negeriku tak pernah takluk oleh zaman. Dan aku percaya bahwa sekecil apapun yang aku lakukan pada negeriku, akan membuat bangsaku semakin besar."
Hotel Indonesia adalah hotel bintang 5 pertama di Indonesia dan hotel yang penuh sejarah karena berawal dari inisiatif Presiden Soekarno. Sudah habiskah orang pintar bangsa ini sehingga hotel yang penuh sejarah ini harus digandengkan dengan Kempinski? Inikah Indonesia yang harus dibanggakan saat ini, saat situs yang bersejarah pun harus dikontrol dan dikelola oleh asing?
Belum lagi perjanjian yang hanya BOT (build, operate, transfer) tampaknya sudah berubah menjadi pengalihan hak seperti yang diprotes Forum Masyarakat Peduli Aset Negara. (http://www.detiknews.com/read/2009/05/18/114023/1133198/10/mantan-karyawan-demo-tolak-peresmian-hi)
Akan diresmikan hari ini pada hari kebangkitan nasional. Tujuan awal yang menyatakan kebangkitan nasional adalah untuk semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tampaknya kita baru setengah merdeka dan belum merdeka terutama dalam bidang ekonomi.
Tag: Kebangkitan Nasional, hotel Indonesia
Terkait:
-
Menjejak Ulang Sejarah Kebangkitan Bangsa
Jumat, 20 Mei '11 17:14 -
Masih adakah Semangat itu ?
Kamis, 20 Mei '10 14:52 -
Kuta Karnaval Blood Donor 26 September 2009
Selasa, 22 Sep '09 22:53
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Miss Q: Menarik
-
TTTH: Menarik
-
LCFR: Menarik
-
Herman Saksono: Terkini
-
Wonggantenk: Menarik
-
mufa: Menarik
-
opiniherry: Penting
-
ichanx: Menarik
-
cK: Penting
-
retrotika: Menarik
-
Matt Zammy: Menarik
-
Mita: Penting
-
babyloniamaria: Biasa
-
boiga: Menarik
-
Retno I Palupi: Menarik
-
singgih: Terkini
-
Po': Menarik
-
perempuan api: Menarik
-
Roby Muhamad: Terkini
-
Shouen: Menarik
-
arno: Menarik
-
Xaliber von Reginhild: Terkini
-
Alvin Yudistira: Penting
-
Brahmasta: Penting
-
ace: Menarik
-
Catshade: Menarik
-
hamatamu: Biasa
-
Ical'el: Penting

Komentar:
*menunggu komen Casper *
Kontrak awal dulu memang BOT (http://www.thejak…nesia.html), jadi isu lahan HI menjadi hak milik ini adalah berita baru. Kita tunggu respon dari manajemen HI.
Hanny mengatakan, Kempinski tak menguasai hotel bersejarah itu. Hotel Indonesia tetap aset negara. "Kami hanya BOT (Bangun, Operasi, Transfer) selama 30 tahun," ujarnya. "Terhitung sejak 2004 lalu."
http://metro.viva…ena_renovasi
*namanya juga iklan pasti lebay, tpi nek sing iki wagu*
Yah mungkin ada pihak-pihak yang berkompeten untuk menjawab atau mencari jawaban rasanya ngga enak dari biasanya Hotel Indonesia (yang kebetulan juga merupakn ikon Indonesia) menjadi Hotel Indonesia Kempinski.
Serahkan semua ke asing/swasta demi pembangunan, Meh berasa dengar slogan orang neolib, serahkan pada pasar.
Biar bagaimanapun Hotel Indonesia itu adalah ikon nasional, saya tidak keberatan ada investasi asing di Indonesia tapi jangalah sampai masuk ke daerah dimana itu adalah ikon bangsa.
Yang bernegosiasi dulu, sekarang memakai baju "katanya" pro rakyat/ pengusung ekonomi kerakyatan, harus ditanya pada mereka, rakyat mana yang dibela?
Kebetulan beberapa hari yang lalu saya berdiri di depan hotel Nikko, memandang ikon bangsa... kok jadi tenggelem yah... arsitekturnya ngga nyambung, hehehe...
Mudah-mudahan yang berkepentingan ada yang baca dan bisa menanggapi
Sudahlah, relakan saja, buat apa mengingat-ingat kejayaan mercusuar masa lampau.
Sentimentilisme terjadi di sini,..
Jadi mulai hari ini sebutan "Bundaran HI" kita ganti jadi "Bundaran HIK"?
Ditunggu deh ntar sekalian aja Gelora Bung Karno jadi GBK McDonald atau mau sekalian Istana Negara jadi Istana Negara Burger King asal dibayar naming rights-nya dibayar dan jadi duit?
Ikon buat saya penting karena itu adalah simbol dan kebanggan bangsa.
*bagi yang tidak tahu dimana waterloo park, cari sendiri yaaa
emang wajib harus diganti jadi bundaran HIK sebutannya. Ah, .. silakan panggil apa aja toh. Klo emang HIK ya ndapapalah. Kayaknya jargon 'biar kere asal sombong' nya disimpan dulu.
(Atau malah mabuk karena kesedihan)
HIK... HIK... HIK...
huehehehe
eksmud: "guys, lunch yuks!"
rekan2: "kemana?"
eksmud: "ke HIK"
icon itu perlu dilesarikan.
jangan sampe besok monas dibikin kempinski juga
(satir mode on)
Karena kebanggaan seperti itu bukan kebanggaan mati. Itu kebanggaan yang produktif.
Tapi ini sekedar sebuah hotel masalalu yang salah urus, salah perencanaan. Apa yang harus dibanggakan dari sebuah hotel mercusuar yang didirikan ketika soekarno menyarankan rakyatnya makan tikus sawah?
Apa yang harus diingat2 dari sebuah hotel yang sempat dipasangi spanduk "Soekarno, feed your people!" ?
MALU!
Jika ada yang harus kritisi mungkin lebih ke nilai kontraknya, apakah uang yang diterima negara itu cukup pantas mengingat lokasi HI adalah lokasi paling prima Indonesia. Andaikata pendapatan negara dari situ memang oke punya, bukankah itu justru berarti Indonesia telah memperkerjakan Kempinski untuk mengelola asetnya.
Oke kalo pengelolaan tidak mampu diserahkan ke asing, tapi koq saya lebih curiga bukan kita memperkerjakan mereka, tapi kita dikerjain dinegeri sendiri seperti yang sering terjadi selama ini, tapi apa iya namanya mesti diganti jadi Hotel Indonesia Kempinski?
Lalu kalo iklannya dibaca lagi, nyesak ngga sih, kesannya Indonesia itu inferior sekali dan mesti bangga cuma dengan hal-hal yang bersifat komersialisme dan kemewahan mesti bangga karena Hotel Indonesia menjadi bagian dari Shopping Town?
syaifuddin
Hmmm yah pokoknya ada kesempatan tampil dimuka TV dengan kesempatan menjual image ya jangan dilepaskan dong.
Klo ada kempinskinya, ya wajar utk marketing ke luar. Pasarnya kebanyakan manca kan. Secara hotel bintang 5 pusat kota gitu loh..
Iklannya bagus juga. Indonesia sudah belajar survival. Keluar dari mental "biar kere asal sombong".
Btw, sejak dulu hotel itu tdk pernah untuk rakyat. Itu buat ngelayanin bule. Apa yg mau dibuat bangga? Untuk saya yg jauh dari jakarta apalagi.
hal itu berlaku juga untuk properti lainnya bangsa ini?
Gajah putih, gajah putih... ada yang mau beli?
*gaya pedagang asongan.
Silahkan login untuk memberikan pendapat