Watak Bahasa Indonesia 37
Jumat, 22 Mei '09 20:43
Beberapa kali di Politikana ini muncul artikel tentang bahasa Indonesia. Rata-rata mengeluhkan hal yang sama: centang perenangnya perkembangan dan penggunaan bahasa Indonesia di kalangan para penuturnya.
Bahasa Indonesia ini berasal dari bahasa "Melayu Pasar", bukan bahasa "Melayu Tinggi". Melayu Pasar ini sudah berkembang jauh sebelum Sumpah Pemuda. Ia menjadi salah satu bahasa pengantar, semacam lingua-franca, dalam aktivitas perdagangan di bandar-bandar Nusantara yang sudah ramai. Dalam dirinya sendiri, Melayu Pasar mengidap watak terbuka. Ia mudah berinteraksi, mudah ditambah-kurangi, mudah memuai dan mengembang.
Riwayat macam itu memudahkan orang utk menuding-nuding ketidakjelasan identitas bahasa Indonesia. Buat saya justru tidak. Bahasa Indonesia memang identitasnya macam itu, terbuka, berkembang, dengan cepat.
Problemnya, bagaimana kita bersikap dalam gebalau bahasa yang centang perenang seperti sekarang? Saya kira, watak keterbukaan bahasa Indonesia, tidak serta merta membuat kita bisa sekenanya memperlakukan bahasa Indonesia.
Saya berharap ada yang bisa memberi keterangan ihwal perkembangan bahasa-bahasa asing, misalnya bahasa Inggris atau Jerman. Terus terang saja saya tidak banyak tahu mengenai hal itu.
Yang sepintas lalu saya paham, bahasa Inggris atau Jerman itu juga mengalami perubahan dan perkembangan. Itu sesuatu yang alamiah karena bahasa memang seperti organisme, ia hidup, berkembang, bisa juga mampus. Yang membedakan, barangkali, hanya level keterbukaannya terhadap perubahan dan perkembangan, termasuk dalam hal "infiltrasi" kosa-kata asing.
Hanya saja, sepertinya, perubahan dan perkembangan itu tidak sekacau-balau dalam pertumbuhan dan perkembangan pada bahasa Indonesia. Setidaknya, sependek pengetahuan saya, Inggris dan Jerman --misalnya-- hingga sekarang tetap serius menjaga standar bahasa nasional mereka, terutama dalam bahasa tulisan tentu saja.
Kalau kita cermati kasus Inggris dan Jerman, mereka punya akar sejarah yang sangat panjang dalam hal bahasa nasional mereka. Di sini kita bisa berdebat soal usia bahasa Melayu sbagai cikal bakal bahasa Indonesia. Tapi, setidaknya, dalam bahasa Inggris atau Jerman adalah keberadaan satu magnum opus karya yang hampir diterima dalam konvensi --tertulis maupun tidak-- sebagai peletak dasar standar bahasa nasional mereka.
Karya-karya Shakespeare dalam bahasa Inggris --pernah saya baca-- diakui acuan dalam penubuhan standar bahasa Inggris. Editor pertama project Oxford Dictionary bahkan menggunakan beberapa naskah drama Shakespeare sebagai acuan.
Dalam bahasa Jerman, terjemahan injil oleh Martin Luther punya posisi yang kurang lebih sama dengan karya-karya Shakespeare. Bahkan karya besar Luther ini diselimuti aura sakral karena status Injilnya itu. Secara politis, terjemahan Injil oleh Luther ini bahkan menjadi salah satu faktor penting dibalik tumbuhnya nasionalisme Jerman --begitu saya baca dari Ben Anderson, juga dari Eric Hobsbawm. Filsuf "kafir" macam Nietzsche sendiri bahkan mengakui keagungan tejemahan Luther ini.
Buku "The Profesor and The Madman", yang ditulis oleh Simon Winchester, orang yang sama yang menulis buku terkenal "Krakatoa", mengisahkan cerita dibalik penyusunan kamus Oxford pada pertengahan abad-19. Bagaimana mereka bersaing dengan Jerman untuk mendaku sebuah kata sebagai kata yang lebih dulu muncul di negara masing-masing. Di situ terpancar kebanggan yang begitu kuat dalam hal bahasa nasional.
Kamus Oxford itu dibentuk sudah dengan semangat 2.0. Para editornya secara sadar mengajak semua orang untuk berkontribusi menyusun lema-lema di dalamnya. Formulir usulan untuk lema-lema apa saja yang perlu dimasukkan mudah didapatkan di perpustakaan-perpustakaan di seantero Inggris Raya. Kadang diselipkan di dalam buku-buku, sehingga siapa saja bisa langsung mengisi dan mengusulkannya.
[catatan tambahan: Dua orang kontributor terbanyak ternyata orang aneh semua. Orang pertama adalah seorang pasien di asylum alias rumah sakit jiwa dan orang kedua adalah seorang kriminal. Editor yang berhasil menerbitkan pertama kali kamus Oxford bahkan ternyata tak punya gelar akademik, tetapi punya minat yang hebat dalam bidang filologi]
Seingat saya, Bahasa Indonesia tidak punya yang macam itu. Gurindam Dua Belas-nya Ali Haji tak pernah bisa mencapai posisi itu, karena bahasa yang ia pakai berbeda dengan bahasa Melayu pasar yang digunakan di bandar-bandar nusantara sebagai lingua franca --padahal bahasa yang terakhir inilah yang akhirnya jadi cikal bakal Bahasa Indonesia. Bahasa ala Angkatan Pujangga Baru juga tak mungkin, karena belum apa-apa bahasa Chairil Anwar sudah keburu "menjegalnya".
Saya tidak tahu apakah ini berkah atau bukan dan saya juga tidak tahu apakah hal begitu itu ada hubungannya dengan centang perenangnya standar baku bahasa nasional Indonesia seperti yang kita alami sekarang.
Mari berdiskusi.
Tag: bahasa, Nasionalisme, bahasa indonesia, bahasa melayu
Terkait:
-
Nasionalisme atau Kolot?
Kamis, 20 Agu '09 19:47 -
Ramos Horta: Bahasa Indonesia akan menjadi bahasa nasional Timor Leste!
Senin, 29 Jun '09 17:56 -
Politik Pendidikan: "Kemampuan bahasa" first, the rest are commentary
Minggu, 14 Mar '10 14:10
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
rif: Penting
-
Wonggantenk: Menarik
-
R A P: Bagus
-
Knalpot Putih: Bagus
-
hamatamu: Bagus
-
opiniherry: Bagus
-
alakazam: Bagus
-
Logical Fallacy: Penting
-
ichanx: Bagus
-
indira: Menarik
-
Catshade: Keren
-
Upik: Bagus
-
santa luia: Menarik


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Ini respons saya terhadap permintaan anda di artikel Mencari Watak Keindonesiaan. Semoga tidak memuaskan
menarik juga usulannya
Saya curiga bahasa pasaran yang berkembang menjadi bahasa Indonesia ini adalah versi Sumatera Timur ini, bukan Riau
CMIIW, please
Gak ada padanannya dalam Bahasa?
*gus dur bilang, monggo mingkem
Ada teman saya, batak, berpostulat bahwa bahasa menunjukkan budaya.
Orang indonesia punya banyak kata untuk rice: padi, beras, nasi. Itu karena budaya kita dekat dengan budaya bercocok tanam.
Orang eskimo khabarnya punya belasan definisi untuk ES.
Bahasa inggris memiliki banyak kata untuk konsep mencabut nyawa: kill, murder, assasinate, slay.
.... dan orang batak konon tidak memiliki 1 katapun untuk konsep: "saya minta MAAF".
kenapa selalu ada yahudi ya dalam banyak artikel di politikana *mengeluh*
Menjungkal alam bawah sadar
Saya pernah baca disertasi Mikihiro Moriyama ttg perkembangan kesustraan Sunda. Di situ ada bagian tentang politik bahasa pemerintah kolonial.
Pemerintah kolonial, secara sepihak, menentukan mana bahasa-bahasa lokal yang akan dijadikan acuan. Keputusan ini diperlukan untuk membuat buku ajar dalam bahasa lokal, juga dalam korespondensi yang dibutuhkan utk kepentingan administratif.
Yang masih saya ingat, bahasa sunda standar diputuskan bahasa yang digunakan di sekitar Priangan, bahasa Jawa standar diputuskan bahasa yang digunakan di Surakarta, bahasa Melayu itu macam yang digunakan di Riau daratan.
Sayang, buku Moriyama sedang tak bisa diakses, jadi ndak bisa akurat. Saya di mana, itu buku juga di mana. hehehehe
Boleh juga kalau ada waktu senggang dicoba dilacak di Leiden
Kalau bahasa Riau Daratan itu masih varian dari logat Minang Rantau, jauh sekali dari bahasa Indonesia, sebagai orang Minang, saya dengan orang Riau Daratan saling paham satu sama lain, kalau di sini kayak Bahasa Belanda logat Utara vs logat Selatan....sementara bahasa Riau Daratan vs Bahasa Indonesia kayak Bahasa Belanda vs Bahasa Jerman
saya curiga bahasa melayu yang dipakai di banyak Perkebunan di Sumatera Timur lah yang menjadi bahasa Indonesia standar
Buku STA itu memang penting dalam sejarah bahasa Indonesia baku, tapi sebenarnya itu tak banyak mengubah. Yang dilakukan STA tak lain membukukan apa yang sudah jadi kebiasaan dan dgunakan dalam tulisan-tulisan di surat kabar.
kalau ke Riau Daratan, jika bisa berbahasa minang, anda survive di pasar
cuma bahasa daerah aslinya di Riau Daratan cuma varian dari bahasa Minang Rantau, lihat saja bahasa Orang Siak, Kampar, dan Pelalawan
Begitu toh. Ya ya ya, mungkin saya salah mengingat Moriyama.
Ya sih, kalau ke Jakarta juga bisa memakai bahasa Minang di pasar
[kalau ke Riau Daratan, jika bisa berbahasa minang, anda survive di pasar ]
bener banget tuh, banyak bahasa minang & baudrate nya 9600, sementara gw cuman 1200
enggak juga, sudah banyak sekali sumber yang menyebutkan bahasa Indonesia berasal dari Riau daratan, cuma saya bingung dari daerah mananya di Riau...
kalau Rokan Hulu, bahasanya mirip dengan logat Payakumbuh di bahasa Minangkabau
Kalau Kesultanan Siak, cukup pakai bahasa Minang Rantau di Pekanbaru
Kampar, Pelalawan juga begitu
Mungkin Moriyaman berasumsi dari daerah taklukan Kerajaan Siak, di mana Sumatera Timur masuk taklukannya (Kesultanan Langkat dan Deli), cuma mungkin beliau menganggap logat Melayu di semua daerah taklukan Siak sama, padahal berbeda - beda. Kalau Moriyama Ke Siak, dia tidak akan bingung kalau berkunjung ke Padang, misalnya, tetapi akan bingung kalau berkunjung ke Medan
Moriyama itu tidak melakukan penelitian ke sana, tp mana yg standar dalam bahasa Melayu [sbg bahasa lokal] itu merujuk beleid pemerintah kolonial. Sayang buku Moriyama tak terakses, kalo ada, bisa dicantumkan di sini pada staatblad no berapa dan tahun berapa keputusan itu diambil pemerintah kolonial
jadi penasaran nih mas, kalau ada rekam staatbladnya, Insya Allah kalau ada waktu, kami bisa mencari keterangan tambahan di Leiden.
Kok saya jadi punya hipotesis bahwa pemerintah kolonial hanya menyebutkan Sumatera Timur yang bisa saja ditafsirkan sebagai Riau ataupun Kerajaan - Kerajaan Pesisir Timur di Sumatera Utara, masalahnya bahasa Indonesia modern lebih mirip bahasa melayu pasar di Medan dan sekitarnya
Hipotesis yang bisa saja salah, kalau ada keterangan lebih lanjut, mohon diinformasikan mas
kalau kita ingat, bahasa itu memainkan posisi penting dalam imajinasi ttg kebangsaan. tanpa bahasa yang bisa memediasi kebhinekaan bahasa lokal, mustahil ada imajinasi yg serempak ttg indonesia sbg sebuah bangsa.
tentu bahasa di situ tidak jadi satu-satunya faktor. peran media massa dan mesin cetak itu memainkan peranan yang tak pernah dimiliki dulu oleh para pedagang dan pelaut yang singgah ke bandar-bandar yang jauh.
bahasa melayu yang digunakan di banyak media massa saat itu, meminjam istilahnya ben anderson, memungkinkan lahirnya kesadaran betapa saya yang di minang dan kau yang di makasar itu hidup dalam ruang dan waktu yang homogen.
menariknya, watak taksa bahasa Indonesia itu bahkan sudah mencuat sejak deklrasai sumpah pemuda. mayoritas perbincangan dan diskusi dilakukan dalam Belanda. bahkan, beberapa d antara mereka, lbh fasih berbicara belanda ketimbang Melayu.
Jika anda pny akses ke peprustakaan Leiden, bisakah tolong dicek-kan dua karya novel Mas Marco Kartodikromo yang judulnya MATA GELAP dan SEMARANG HITAM?
maaf OOT
hmmm, semakin menarik untuk dijadikan objek penelitian ulang
kalau di Riau tahun 1870-an - 1945, penduduknya relatif homogen, jarang yang berprofesi sebagai pedagang ke tempat - tempat jauh, berbeda dengan orang Minangkabau, tetapi bahasa Melayu versi Minangkabau justru tidak dijadikan standar oleh Pemerintah Belanda
Penduduk Sumatera Timur mirip Jakarta sekarang, campuran dari berbagai suku bangsa setempat dan yang didatangkan oleh Belanda (dari Jawa, Banjar, perantau dari Sulawesi), sehingga logat Melayu tinggi di Deli dan Tanjung Pura tidak dipakai untuk percakapan pasaran, yang timbul justru varian baru yang sekarang paling mirip dengan bahasa Indonesia modern....
Setuju mas, mungkin untuk penelitian bahasa ini kita bisa mengkaji koran - koran yang timbul pada masa itu, sehingga informasinya yang diterima lebih lengkap dengan triangulasi yang lebih banyak
saya di wageningen mas, tetapi Insya Allah bisa minta bantuan teman - teman di Leiden, jika mereka ada waktu
Masyarakat aja masih sering salah dan ngga ngerti bahwa yang baku itu detail bukan detil, analisis bukan analisa, praktik bukan praktek. Kalau koran bekerja keras dan konsisten untuk menggunakan bahasa yang baku lama lama masyarakat akan ikut juga. Terus terang saja nih Kalangwan, berbahasa yang benar itu melelahkan, orang lebih cenderung ingin santai termasuk di Politikana.
Itu cuma soal minat, Brother. Oya, masak orang Jawa lbh buruk dibanding NTT atau Papua? Ada ilustrasi?
jika pun media massa, pasti bkn kompas atau tempo yg jadi harapan.
cara wicara orang-orang seakrang lbh banyak dibentuk oleh apa yang ia lihat dan dengar di tv, bkn yg ia baca di buku atau koran. sebaik2nya kompas atau tempo dalam berbahasa, nyaris akan kalah efeknya jika tayangan2 di tivi penuh dengan cara wicara yang centang perenang.
Dulu sebutan Riau itu hanya mengacu ke Kepulauan Riau. Daerah yang sekarang jadi provinsi Riau di zaman Belanda jadi bagian dari Sumatera Timur. Sebenarnya Riau daratan mungkin lebih tepat disebut sebagai provinsi Siak-Kampar-Indragiri
wah saya keceplosan rasis dan saya bukan Jawa. Maaf. Ada illustrasinya. Bapak Pembangunan kita. Pembangunan dalam arti luas artinya menyangkut kultural dan linguistik. Bapak kita, grammarnya sampai-sampai menciptakan "bahasa baru" yang tentunya menjadi wacana terkuat dalam berbahasa, ditiru, dicopy-paste dalam sistem politik nasional Orba.
"yang mana daripada pendapat saya".
Mati-matian guru bahasa kita mengajarkan ngomong yang benar dan mati-matian pula kuping ini disodorkan dengan bahasa beliau. Seorang presiden, harusnya punya anggaran untuk belajar berbahasa standar agar tidak menciptakan kebingungan bagi publik. Kalau the utmost nation leader saja bikin bingung tak mampu berasimilasi secara linguistik untuk meluruhkan kedaerahannya demi bahasa nasional, apa yang mau diharap? Ini bukan masalah dialek, tapi juga ketepatan berbahasa yang harus dibela.
Seorang kawan dari NTT (tembak langsung) pernah tanya ke saya: Eh, kamu orang Jawa kenapa bahasa Indonesiamu tidak bagus?
Seorang sopir truk Jawa di perbatasan Sarawak-Indonesia: "wah, itu kemaren saya hampir nabrak wong Ibhan... " Maksudnya orang Iban.
Silahkan login untuk memberikan pendapat