Gagasan Sebagai Senjata 45
Minggu, 24 Mei '09 01:40
Terjadinya penggrebekan tempat maksiyat, penghukuman pelaku maksiyat, teror dan sejenisnya yang dilakukan oleh kelompok, jamaah atau ormas Islam, telah menjadikan Islam sangat lekat dengan dunia kekerasan dan kesewenang-wenangan.
Sebenarnya dalam Islam, setiap tindakan harus didasarkan kepada dalil Quran dan Sunnah, karena hanya dengan keduanya itulah tindakan tersebut akan bernilai ibadah. Nabi pernah bersabda: Man amila amalan laisa alaihi amruna fahuwa raddun (barang siapa yang beramal tanpa mendasari kepada ketentuanku, maka perbuatan itu akan tertolak).
Perlu diketahui bahwa taklif (pembebanan) syariah Islam itu diberikan kepada tiga pihak: pribadi, kelompok dan negara. Masing-masing ada jatah dan porsinya sendiri-sendiri. Pribadi misalnya ada kewajiban shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Kelompok ada kewajiban dakwah amar makruf nahi munkar. Negara ada kewajiban menjalankan hukum-hukum pemerintahan, perekonomian, pendidikan, pidana, jihad, dan lain-lain. Nah apa yang menjadi jatah negara seperti memberikan sanksi dan hukuman, seharusnya tidak boleh diambil alih oleh kelompok.
Lalu apa sebenarnya tugas kelompok tadi? Tugas mereka semata-mata berdakwah, melakukan amar makruf (menyuruh kepada kebaikan) dan nahi munkar (saling mencegah melakukan keburukan). Jelas aktivitasnya adalah pemikiran dan penyadaran, bukan aktifitas fisik, apalagi angkat senjata. Nabi saw dan para sahabat dahulu ketika 13 tahun di Madinah mereka berjuang dengan cara pemikiran dan penyadaran ini.
Mengapa pemikiran dan penyadaran? Karena begitulah permintaan Allah: Yad'una ilal khair (menyeru kepada kebaikan), wa ya'muruna bil makruf (menyuruh kepada kebaikan), wa yanhauna anil munkar (saling mencegah kepada keburukan). Sederhana saja; bagaimana caranya agar orang tersadar dan mau masuk Islam? Atau menjadi lebih Islami dari sebelumnya? Atau menyadarkannya dari pola fikir dan pola sikap yang keliru? Dengan menyampaikan argumen (dakwah) kepadanya bukan?
Oleh karena itu, sekalipun Islam sangat mengecam praktek penyembahan berhala, adakah berhala-berhala itu yang dihancurkan selama periode Makkah? Saat itu disekitar Ka'bah ada 360 berhala yang disembah, adakah diantara mereka yang dihancurkan? Dicuil kupingnya pun tidak. Sekalipun Islam sangat membeci judi dan zina, adakah para ahli maksiyat itu dipukuli dan dihukum? Adakah terjadi peristiwa teror dan intimidasi fisik atas pelaku kemaksiyatan dan kemusyrikan? Tidak. Mereka hanya terus berdakwah, berdakwah dan berdakwah.
Tindakan fisik atau seruan angkat senjata itu tidak pernah terjadi. Tidak hanya setahun dua tahun, tapi selama 13 tahun mereka berdakwah di Makkah. Justru yang terjadi sebaliknya, Nabi dan para sahabat yang diteror, diintimidasi, disiksa bahkan diembargo oleh Quraisy. Sekalipun umat muslim saat itu tertindas, apakah terjadi Nabi memobilisir para sahabatnya untuk angkat senjata melakukan perlawanan? Tidak. Bukan karena mereka takut atau lemah, karena saat itu dua orang kuat telah masuk Islam: Hamzah dan Umat bin Khathab.
Nabi saw tidak melakukannya karena tindakan fisik itu tidak diizinkan Allah jika dilakukan kelompok. Ketika Nabi ditawari untuk menyerang Quraisy, Nabi hanya menjawab: Lam nukmar bidzalik (kita belum diperintah untuk itu). Bahkan ketika detik-detik Nabi saw akan dibaiat menjadi kepala negara, berbagai intimidasi dan teror diterima Nabi dan sahabat-sahabatnya. Itu pun tidak mengubah thariqah (metode) dakwah mereka dengan kudeta berdarah misalnya. Padahal saat itu, pedang selalu terselip di pinggang, tetapi mereka tetap memilih gagasan sebagai senjata.
Barulah ketika Nabi saw hijrah dan menjadi kepala negara di Madinah, turun ayat-ayat tentang muamalah, uqubah (pidana), jihad, dan lain sebagainya. Disinilah negara diizinkan untuk melakukan tindakan fisik (termasuk pemberian sanksi dan hukuman), yang sebelumnya dilarang jika dilakukan oleh kelompok. Jadi jika saat ini ada kelompok yang melakukan tindakan fisik seperti penggrebekan, pemukulan, penghukuman, teror atau intimidasi fisik, maka itu menyalahi ketentuan Allah dan RasulNya.
Tag: SBY, indonesia, Sosial, PKS, buku, PD, Teroris, islam, agama, ideologi, fundamentalisme, Pluralisme, teror, Ilusi Negara Islam
Terkait:
-
'Ilusi Negara Islam' dan Teror
Sabtu, 23 Mei '09 18:30 -
Facebook Haram: Fatwa Ulama Ottoman Abad 21?
Jumat, 22 Mei '09 16:49 -
Pameran Islamic Art Section
Jumat, 28 Agu '09 14:15
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
heriyadi: Menarik
-
alakazam: Penting
-
Red-White Porridge: Keren
-
Knalpot Putih: Biasa
-
GaraMata: Menarik
-
Apprayo: Biasa
-
Catshade: Menarik
-
curiosity: Bagus
-
rif: Menarik
-
Retno I Palupi: Menarik
-
ichanx: Menarik
-
hamatamu: Biasa
-
indira: Biasa
-
Sri Kirana: Menarik
-
Denni: Bagus
-
boiga: Bagus
-
hoho: Menarik
-
Logical Fallacy: Menarik
-
Upik: Bagus
-
LCFR: Menarik
-
Ardani P: Menarik
-
Ferry ZK: Menarik
-
bung jopi: Keren



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Btw, adakah beda antara "ide" dan "gagasan"?
-----------------------
Koreksi, amruna = "dari kami", bukan "dariku" (merujuk pada kelompoknya, bukan muhammad)
Bertolak dari ayat yg anda angkut asal jeplak ini, apakah sudah sesuai dengan AD/ART kelompok anda?
---------------
Mungkin anda salah baca sejarah, atau sengaja membelokkan cerita sejarah? *mencium aroma taqqiya
Pembebasan Mekkah (bahasa Arab: فتح مكة, Fathu Makkah) merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan 8 H, dimana Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah
http://id.wikiped…basan_Mekkah
Mengakui orang lain benar? Maksud ente?
Saya kadang terperangah jika melihat orang yg satu ini menuliskan ayat2 atau cerita sejarah islam dalama artikelnya2 kemaren.
Sepertinya isu pencitraan cukup baik dipahami oleh tante Pedy, sampai harus mengotak atik materi
Oh iyo ding, sorry gk nyambung, nyambi nge localhost
*kemplang!
~siapa yang memelintir apa ini~
Dhamir nahnu memang berarti 'kami'. Tapi maknanya bisa berubah menjadi 'aku' tergantung pada konteks kalimatnya.
Seperti ayat: Nahnu narzuqukum, bukan berarti 'kami' yang memberi rizki kepada kalian, tetapi 'aku' (Allah) yang memberi rizki kepada kalian. Dalam ilmu balagah, kata nahnu atau kami itu dipakai sebagai penghalusan. Sama seperti kita sering mengganti 'saya' dengan 'kami' untuk menghaluskan.
Lagian matan hadist tersebut adalah mendudukan perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi sebagai sumber hukum Islam (As-Sunnah), jadi tidak mungkin diartikan sebagai kelompok.
Ini hal yang umum kok. Terjadi di banyak tempat dan pada berbagai kelompok / golongan.
Dhamir nahnu memang berarti 'kami'. Tapi maknanya bisa berubah menjadi 'aku' tergantung pada konteks kalimatnya.
------------
Justru karena dibaca secara kontekstual maka artinya tidak berubah menjadi "aku," tetapi tetap "kami"
Karna penyampaiannya didasarkan pada kelompok ajaran muhammad, bukan muhammad secara pribadi. Secara pada saat itu masih ada kelompok2 lain yg masih bertikai pada masa itu
Tapi sekali lagi, terserah penafsiran anda, gk ada yang maksa
Baru kemudian setelah dirasa pengikutnya cukup banyak dan kuat, barulah masuk pada Fathu Makkah dimana Muhammad beserta 10.000 pasukannya menuju Mekkah dan menguasainya Mekkah secara keseluruhan sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah
Pesan yang ingin disampaikan tante Pedy disini adalah bahwa belum saatnya bagi kelompok2 Islam sejenis FPI mengusung kekerasan sebagai jalan untuk menegakkan jalan bagi islam. Lam nukmar bidzalik (kita belum diperintah untuk itu)
Tunggu sampai kelompok2 tsb mendapat legitimasi publik berupa kekuasaan atau sejenisnya, baru kekerasan dapat ditegakkan.
Terinspirasi dari apa yg sudah dilakukan oleh sang nabi, menghancurkan berhala dan membersihkan Ka'bah setelah menjadi kepala negara di Madinah
Guru kencing berdiri, murid terkencing2..eh kencing berlari
Termasuk berdakwah agar bernilai ibadah harus ikuti ketentuanNya, sebagaimana shalat juga ada ketentuanNya nggak bisa ngarang atau diubah2 semaunya sendiri.
Jadi kalo dakwah wajib tanpa tindakan fisik, ya seperti itu lah ketentuan yg harus diikuti. Bukannya kita mau berbaik2 ato cari simpati. Tapi semata2 tunaikan perintah Allah SWT. Begitu pula ketika sudah punya negara diwajibkan menerapkan hukum2 muamalah, pidana dan jihad, maka itupun akan ditunaikan tanpa reserve walaupun dikecam oleh banyak orang.
negara ? negara yang mana ?
http://id.wikiped…basan_Mekkah
Hehehe...
Mas Pedy, sebagai orang yang berada di luar lingkup pemahaman agama Anda, saya cuma berusaha melihatnya dari logika awam saja. Nothing more, nothing less...
Dan, saya melihat itu pada banyak golongan dan kelompok, bukan hanya kelompok agama saja lho.
Jika Anda memiliki pemahaman seperti yang telah Anda jelaskan, saya tidak mempermasalahkannya kok, boleh2 saja. Kita hidup di alam demokrasi, jadi tenang aja
Nah, apakah dalam hal tersebut, seharusnya mereka bersabar saja?
Jgn hanya fokus ke sebab dan akibat, yg jadi problem adalah proses perbaikannya. Klo sebab akibat sih, semua juga tau.
Berdakwah lebih tepatnya. Dakwah yang berorientasi kepada penyadaran dan pemberdayaan politik masyarakat. Masyarakat menjadi sadar, ooo ternyata kebijakan A merugikan dan seharusnya kebijakan B yang dijalankan, dan apa yang harus mereka lakukan agar tatanan yang lebih baik tsb bisa terwujud, dst...
Betul mereka itu sedikit. Ya itu kebetulan ekspose media aja. HTI dulu pernah running dengan 100.000 massa di GBK, alhamdulillah aman2 aja. Begitu juga dengan PKS waktu demo Gaza (walaupun saya tdk sepakat politisasi isunya) yang katanya menurunkan 600.000 massa, juga damai2 sahaja.
"Bahkan ketika detik-detik Nabi saw akan dibaiat menjadi kepala negara"
negara ? negara yang mana ?
Terlebih dahulu kita lihat definisi negara:
1. Punya wilayah
2. Berdaulat penuh pada wilayah tersebut
3. Ada penguasa yang memimpin rakyatnya
Maka Madinah saat itu bisa dikategorikan sebagai negara.
sebagai sesama muslim apa yang bisa kita lakukan kepada umat islam yang malu2in islam itu? (FPI)
ini gejala apa ya?
Saya tidak tahu persis bagaimana pembinaan mereka. Tapi yang jelas buah perbuatan mereka berasal dari benih2 yang telah disemaikan lama sebelumnya. Ya sebenarnya yang dibutuhkan sekarang adalah Islam konsep, bukan tindakan fisik. Pemikiran harus dilawan dengan pemikiran, dan tidak ada cara untuk menyadarkan manusia kecuali dengan komunikasi.
Pemikiran harus dilawan dengan pemikiran,
...]
Wohh... iya... kali ini saya sepakat juga!
Makan2, yasudah, saya makan disini, anda makan disana, sama-sama makan2 tho ?
mung mangan thok karo kenalan.
...]
mungkin itu yang ditakutkan: dikenali.
Jadi sebenarnya perjuangan Anda mestinya menghapuskan stigma itu. Perjuangan yang masih jauh bung.
"Bahkan ketika detik-detik Nabi saw akan dibaiat menjadi kepala negara"
....
"Barulah ketika Nabi saw hijrah dan menjadi kepala negara di Madinah"
wadu..nda runut ya ? back to the future ?
mungkin harus dimulai dengan gerakan anti FPI, atau bikin class action ke kepolisian karena penegakan hukum kepada FPI kurang berjalan.
anyway, terus terang saya gemes banget sama organisasi ini
*pernah ngeliat salah satu anggotanya pake baju koko, pake peci, pake sorban bawa2 motor gede polisi...*(aneh kan?)
FPI mesti banyak belajar sama Pedy
lihat di www.banksy.co.uk
toppp karyanya.
liat karyanya yang ditempok pembatas palestina israel? mestinya ini bisa jadi publikasi yang keren. di indonesia daripada foto2 mayat mulu.
Iya, aku juga gak suka gambar mayat kepala pecah otak berderai, usus perut semburat, dll. Benci aku, kayaknya koq murahan dan kampungan banget untuk bangkitkan kepedulian. Kayak gak ada cara yang lain ajah.
Silahkan login untuk memberikan pendapat