Manuver Para Capres-cawapres 2
Senin, 25 Mei '09 16:55
Persaingan menuju kursi orang pertama dan kedua di negeri ini mulai menghangat. Masing-masing calon presiden dan calon wakil presiden terus melakukan konsolidasi dan silaturahim ke konstituennya. Mereka sibuk menggalang dukungan dari berbagai kalangan, termasuk dari kalangan ulama.
Pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto terlihat yang paling aktif dalam melakukan silaturahim ke berbagai daerah. Mereka bertemu para ulama, para pedagang pasar, saudagar, serta berdiskusi dengan para pemilik perusahaan. Tanpa kenal lelah mereka terus melakukan aktivitas politiknya.
Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono juga begitu. Susilo banyak bertemu lewat pertemuan terbatas dengan tokoh-tokoh yang dia undang. Tetapi, dia juga tak lupa melakukan silaturahim dengan para ulama di Surabaya. Boediono yang selama ini lebih banyak 'jaga warung' di pemerintahan, kini juga aktif 'menjual diri'.
Hanya pasangan Megawati-Prabowo yang sampai saat ini masih relatif sepi dari aktivitas silaturahim. Prabowo yang seusai pemilihan legislatif begitu lincah menggalang koalisi lewat berbagai manuver politiknya, kini belum terlihat lagi kegesitannya. Pasangan ini masih adem ayem menunggu deklarasi pada akhir pekan ini.
Kampanye memang belum dimulai. Tapi, masing-masing pasangan capres dan cawapres sudah mulai memperkenalkan diri ke publik. Ada yang lewat aktivitas silaturahim, iklan di media massa baik cetak maupun elektronik, serta ada pula yang melakukan secara gerilya lewat kaki tangan mereka di lapis bawah.
Sah-sah saja bagi para pasangan ini untuk bermanuver. Namun, perlu diingat pula bahwa dua orang di antara enam orang yang masuk dalam bursa capres-cawapres itu adalah incumbent yang masih menjabat. Mereka tidak lain adalah Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden dan Jusuf Kalla sebagai wakil presiden.
Posisi empat kandidat lainnya relatif steril dari tugas-tugas yang terkait dengan rakyat. Prabowo dan Wiranto sudah pensiun dari tentara sehingga bebas menggunakan waktunya. Megawati, jadi mantan presiden bebas untuk menjalankan aktivitasnya. Boediono, setelah mundur dari gubernur Bank Indonesia (BI) juga sudah menjadi pengangguran sehingga waktunya tak terbebani tugas negara.
Beda memang dengan SBY dan JK. Mereka masih memegang posisi sebagai presiden dan wakil presiden. Semestinya, aktivitas mereka dalam berpolitik jangan sampai mengorbankan pekerjaan yang menjadi tugas-tugasnya. Jangan sampai tugas kenegaraan menjadi terbengkalai hanya karena para penguasa tertinggi di negeri ini sibuk melakukan kampanye yang sebetulnya belum saatnya berkampanye.
Manuver dalam politik untuk bersaing memperebutkan posisi sebagai presiden dan wakil presiden tidak dilarang. Akantetapi, bagi yang masih memegang tampuk kekuasaan, jangan memanfaatkan kekuasaannya untuk menarik simpati dari pemilih. Jangan sampai mendompleng acara kenegaraan untuk aktivitas politik pribadinya.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) mungkin agak sulit untuk menindak mereka, karena bukan domain mereka jika para incumbent menomorduakan tugas dibanding mempromosikan diri. Etika dan moral, serta sanksi masyarakat yang diandalkan untuk mengawasi para calon yang masih aktif dalam tugas kenegaraan itu. Intinya jangan sampai tugas negara terabaikan lantaran kesibukan mencari pendukung.
Tag: Boediono, KPU, Komisi Pemilihan Umum, SBY, Jusuf Kalla, kampanye, presiden, politik, deklarasi, capres, Prabowo, megawati, sby-jk, wakil presiden, manuver, cawapres, Susilo Bambang Yudhoyono, wiranto, ulama, Surabaya, BI, konsolidasi, silaturahim, konstituenn, dukungan, incumbent, mantan presiden, gubernur bank indonesia
Terkait:
-
Jangan Memilah Suku Bangsa
Rabu, 27 Mei '09 16:39 -
Hanya Mantan Presiden Habibie yang hadir di Senayan
Selasa, 20 Okt '09 12:36 -
Akhirnya Pelantikan Presiden-Wapres Terlaksana Juga
Selasa, 20 Okt '09 12:19


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
melupakan tugas negara= melupakan rakyat.
Silahkan login untuk memberikan pendapat