Soal Identitas Indonesia 33
Selasa, 26 Mei '09 23:48, dibaca 158 kali
Identitas tidak tunggal dan tidak diberikan begitu saja. Identitas kita bangun dari relasi antar individu dan berbagai aktivitas bersama.
Tag: identitas, Identitas Indonesia
Terkait:
-
Lebih Penting Mana: Merasa Benar atau Tanggung Jawab?
Jumat, 2 Apr '10 04:18 -
Reposisi Polri Perlukah?
Selasa, 24 Nov '09 16:35 -
Pameran Islamic Art Section
Jumat, 28 Agu '09 14:15
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
hamatamu: Menarik
-
mufa: Menarik
-
wawajie: Bagus
-
el afiq: Bagus
-
Knalpot Putih: Menarik
-
lat: Menarik
-
Riyono: Inspiratif
-
kakilangit: Menarik
-
Krisnaji: Keren
-
DiNGo: Inspiratif
Komentar:
tapi sialnya : kita menghadapi realitas sosial Indonesia sebuah identitas yang masyarakatnya ditengarai mempunyai persepsi "susah melihat orang lain senang, senang melihat orang lain susah"..
sehingga kita ngak maju-maju...mau maju dijegal, mau jalan di halang, mau lari dibalang....
realitas ini akan muncul dalam bentuk yg nyata : minuman palsu, alat kosmetik palsu, jamu palsu, produk2 yg membahayakan dijual secara masif kepada temen/saudara sebangsa sendiri...bahkan jual produk keuangan, jasa, profesi, tilang, sim, pajak, jabatan... yg bodong
apa ditilep
gimana ni bung ...metode menelisik akar masalah identitas ke-Indonesian kita???
realitas sosial ini juga kita (orang Indonesia) yang membentuknya, maka mulai dari kita (yang sudah sadar) inilah kita seharusnya membentuk ulang realitas ini.
Mari kita senang melihat temen senang dan senag melihat temennya temen senang dst...
Riyono: setujuuuuuuuuuu.....sapamu dah membuat seuneng...
orang jerman punya kata khusus untuk menggambarkan hal tersebut: schadenfreude.
paling tidak, kita gak sampe punya kata khusus seperti itu kan? If y'know what I mean.
Di mana letaknya orisinalitas?
Raditya Dika: klo sirik masuk g? bukan syirik loh!
1. Relasi sosial ini dimulai dari orang2 yang sangat dekat dengan kita, misal keluarga atau teman terdekat. Saya pikir umumnya setiap orang ada satu atau dua orang yang sangat dekat. Jadi semua orang bisa memulai memberi makna relasi sosial masing-masing.
2. Selanjutnya adalah memperluas jangkauan relasi sosial bukan hanya lingkaran terdekat. Seperti saya sebut di video, hal ini bisa dibangun melalui aktivitas bersama yang bermakna; dari nonton bola bareng hingga di kantor.
Tentunya ini hanya coretan saja. Tapi ide yang saya ingin sampaikan adalah komunitas sebagai basis identitas dan aksi.
Negara2 Barat yang dikenal dengan individualismenya pun sekarang mulai membangkitkan komunitas melalui media sosial atau web 2.0
Membangun dan memelihara komunitas saya pikir langkah awal yang penting karena dari situ kita bisa membangun makna bersama dan membuat gerakan sosial yang efektif.
Tentu ada masalah selanjutnya seperti bagaimana koordinasi antar komunitas, masalah kesenjangan, atau polarisasi. Ini bahan diskusi untuk lain waktu.
Tapi jangan khawatir kita kehilangan individualitas kita karena sebagai individu yang memiliki kehendak kita bisa melakukan sinstesis baru yang orisinal dari pengaruh2 sosial yang begitu banyak disekitar kita.
Disini saya melihat orisinalitas lebih sebagai kombinasi baru dari hal2 yang sudah ada sebelumnya.
Yang pasti saya nggak akan menulis karena utk refreshing dari kegiatan menulis sehari2.
wah menarik nih jadi komunitas pencinta MU, pecinta volvo, pecinta elvis, pecinta bunga, pecinta adenium, dan dst... koordinasi....ke pata pecinta2 lainnya bisa lebih efektif dong mestinya... berarti program pemerintah harus bisa mewadahi ini...
*untuk pilpres, pileg sebenarnya siiip nih bung
wah menarik nih jadi komunitas pencinta MU, pecinta volvo, pecinta elvis, pecinta bunga, pecinta adenium, dan dst... koordinasi....ke para pecinta2 lainnya bisa lebih efektif dong mestinya... berarti program pemerintah harus bisa mewadahi ini...
*untuk pilpres, pileg sebenarnya siiip nih bung
demokrasi bukan hanya pemilu. tapi juga aktif menekan pemerintah agar mendengar aspirasi rakyat.
namun demikian memang harus perlu keseimbangan khususnya di lembaga formal... gak tau bentuknya apa.... tapi kalo komunitas profesi menurutku harus dan wajib diatur formal oleh negara...misal akuntansi, dokter, dll.
khusus kasus DPD itu mewakili komunitas/kelompok apa juga belum jelas kok sebenarnya... masih perlu formulasi klo emang mewakili komunitas sosial bukan profesi...
tujuannya : supaya komunitas atau ormas itu jangan sampai dalam dua kutub yang ekstrem yang akan menjelma semacam 'triad' dalam arti luas, bisa karena ekonomi, politik, keyakinan, kecintaan yang berlebihan....
bahkan, sutradara film romeo juliet Film Romeo Juliet Dikeroyok Suporter Sepak Bola Viking....kan konyol bin mbanyol...
Tentunya setelah organisasi profesional tsb terbentuk lalu pemerintah dapat secara resmi mengakuinya dan mendengarkan pendapatnya.
Pencegahan konflik kekerasan tidak hanya tanggung jawab pemerintah. Justru pemerintah bisa menjadi penajam konflik karena menjadi pihak ketiga yang tidak netral.
Pencegahan kekerasan bisa terjadi secara organik dari komunitas sendiri. Misalnya jika komunitas mengerti benar adanya hubungan saling ketergantungan antara mereka, maka meskipun berbeda kepentingan dan nilai tidak perlu diselesaikan dengan kekerasan.
Poin penting disini adalah memberikan "tools" dan pengetahuan bagi masyarakat untuk memberdayakan diri sendiri. Sehingga masyarakat bukan menjadi peminta pasif terhadap pemerintah, tapi menjadi penuntut aktif.
Bukan dengan debu pasir arab atau keju restoran amerika
Silahkan login untuk memberikan pendapat