3 Warna 3 Pilihan 3
Rabu, 3 Jun '09 11:27
Terdapat 3 pilhan dalam perhelatan akbar pilpres kali ini. 3 Orang Sipil berpasangan dengan 3 Orang Militer membawa 3 Pilihan yang berbeda. Untuk negara yang semiskin Indonesia perekonomian tentu menyita hal penting dalam benak para pemilih. Ketiga pasangan ini (untungnya) membawakan tiga alternatif yang cukup berbeda satu sama lain. Megawati-Prabowo mengusung ekonomi kerakyatan yang oleh negatifnya dapat disebut dengan perekonomian sosialis. SBY-Budiono dikenal dengan kebijakan yang pro modal asing, yang pihak kompetitornya selalu bilang neo-lib. Sedangkan pasangan nomor urut terakhir JK-Wiranto membawakan kebijakan tema kemandirian ekonomi yang dalam bahasa negatifnya sering disebut anti modal asing.
Yang harus dilihat oleh para wasit (alias rakyat biasa yang berminat untuk mengikuti pemilu dan tertarik dengan masalah ekonomi) menurut penulis adalah tidak ada sistem ekonomi yang dapat diterima oleh 100% masyarakat Indonesia dan tidak ada sistem ekonomi yang tanpa kelemahan, kalau ada pasti sistem ekonomi tersebut akan mampu bertahan tanpa adanya resesi dan guncangan-guncangan. Tulisan ini tidak ditujukan untuk membela maupun menghujat salah satu sistem ekonomi yang diusung para kandidat, karena walaupun penulis punya pilihan sendiri atas sistem ekonomi pilihannya namun tidak pernah ada obat 1001 penyakit, yang ada hanya obat untuk penyakit tertentu. Untuk itu diperlukan diagnosa sebenarnya dimanakah letak penyakit perekonomian Indonesia ini. Satu pihak (terutama para konspirationis) lebih senang menyalahkan pihak luar (termasuk modal dan kepentingan asingnya) sebagai penyebab penyakit ini sehingga obatnya mungkin lebih ke arah ekonomi kemandirian ala JK-Win. Pihak lain mendiagnosa penyakit ekonomi Indonesia terletak pada rakyat kecil yang selalu ditindas dan tidak didayagunakan sehingga obat yang mereka tawarkan adalah ekonomi kerakyatan ala Mega-Pro. Ada lagi pihak yang menganggap bahwa persaingan dengan dunia luar tidak dapat dihindari, dan modal asing juga dapat memberikan multiplier effect yang baik bagi perekonomian cenderung setuju dengan solusi ala SBY-Budiono.
Namun apabila ditilik lebih jauh, dari track record masing-masing pasangan. Megawati yang pernah berkuasa memprivatisasi Indosat pada modal asing. Di pemerintahan SBY, walaupun konsesi minyak Cepu diberikan pada Exxon namun di konsesi Natuna setelah waktunya habis dipindahtangankan dari Exxon pada Pertamina, serta pemaksaan Newmont untuk divestasi. Peran serta JK dalam pembangunan monorel yang menyetujui penggunaan dana dari luar juga mencerminkan bahwa kemandirian tidak dalam segala hal. Sehingga apabila ditilik dari sejarah masing-masing pasangan dapat dilihat bahwa tidak ada satupun pasangan yang idealis terhadap solusinya masing-masing, hal yang wajar karena tidak ada satupun negara yang menerapkan murni kapitalisme maupun sosialis.
Tapi terlepas dari ketidak idealisan sejarah masing-masing pasangan dalam solusi sistem ekonominya masing-masing, bagi penulis keberanian para masing-masing paket untuk menawarkan obat yang berbeda dan jelas merupakan satu kemajuan dalam demokrasi Indonesia terutama jika dibandingkan dengan pilpres sebelumnya yang tidak terlalu jelas jualan obat yang ditawarkan. Jadi terlepas siapapun anda selama anda punya keyakinan terhadap diagnosa anda penyebab sakit ekonomi Indonesia sebenarnya, maka anda dapat memilih diantara 3 pilihan obat untuk 5 tahun ke depan. Tepat atau tidaknya si obat hanya dapat dilihat ketika obat telah diminum (dengan asumsi si pasangan terpilih akan konsekuen memberikan obat yang dijanjikan). Yah semoga saja kita memilih obat yang benar :)
Tag: Pemilu \'09 Pasangan Capres-Cawapres Ekonomi
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Catshade: Biasa


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
http://www.kapanl…i-asing.html
Saya sepakat dengan maksud ucapan JK.
Sekali-kali kita harus bikin gimana bangsa asing menjadi 'pelayan' bagi bangsa ini.
Silahkan login untuk memberikan pendapat