Jika Prita Menulis di Blog 10

Rabu, 3 Jun '09 11:29

Tulisan ini berawal dari rasa penasaran saya; apakah kasus yang menimpa Prita Mulyasari (yang jelas-jelas tidak adil itu) lebih disebabkan karena tulisannya atau eskalasi penyebarannya yang meluas tak terkendali itu? Apakah karena isi pesannya atau bagaimana pesan itu ter-deliver? Apakah karena "the what" atau karena "the how"? Apalagi melihat kenyataan bahwa Prita awalnya hanya mengirim ke temannya, dan tiba-tiba, boom! Berita itu menyebar ke mana-mana lewat milis yang membernya bisa mencapai ribuan.

Seandainya Prita menulis di blog, apakah hasilnya sama seperti sekarang?

Jika Prita menulis di sebuah blog, dia bisa mengendalikan sepenuhnya, apakah dengan mengedit atau menghapus berita. Tapi coba dengan email, sekali dikirimkan, kita hanya bisa sepenunhya pasrah degan hukum buzz, ideavirus, lonjakan eksponensial dan efek multiplikasi tak terduga. Seseorang bisa melakukan damage control pada blog, tapi coba lakukan itu pada sent mail.

Dan jangan lupa, berita di blog akan dibaca banyak orang (mungkin sebanyak penerima email Prita), jika dan hanya jika blog itu sudah terkenal. Atau bisa juga dengan bantuan social bookmarking seperti digg.com atau lintasberita.com. Tapi tetap saja si pemilik blog tetap memiliki kendali penuh atas isi blognya, dengan mengedit atau menghapus artikel misalnya. Seandainya Prita menulis keluhannya di blog, dan asumsikan saja dia bukan blogger terkenal, apakah beritanya akan menyebar dan dijerat dengan muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik Pasal 27 ayat (3) UU ITE?

Dalam dunia online marketing nampaknya email terbukti lebih unggul daripada blog dalam menyebarkan dan menjaring pembeli. Seorang online marketer John Chow membuktikan ia menerima order lebih banyak melalui email ketimbang blog. Order pertamanya datang tidak lebih dari lima menit setelah mengirimkan email. Seorang online marketer lain, John Reese mengatakan list alamat emai seperti mesin ATM baginya.

Jadi sepertinya tidak hanya content yang berpengaruh, tapi how to deliver the content juga punya pengaruh signifikan. Anda bebas memilih, but make sure that you know what you're doing.

(sumber gambar http://blog-en.tamtamy.com/tag/wiki/)


Tag: kesehatan, blog, Prita Mulyasari, ITE, pritamulyasari, UU, email, RS Omni

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Catshade 0 0
    Tapi isi blog kan bisa dipromosikan lewat e-mail juga : D
    Yudiantoro 0 0
    problemnya memang pada belum adanya ukuran pasti untuk muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana yang tertera di UU ITE... juklak dalam bentuk PP harus segera didorong.....
    Pedy 0 0
    Catshade: ya tapi blog owner tetap punya kendali besar kan?
    mendoan 0 0
    saya rasa yang buat UU lebih mengedepankan "ketika orang menyebarkan berita di internet maka asumsinya sudah pasti akan menyebar dengan skala yang tidak jelas", jadi kayaknya lebih ke arah muatannya, tidak peduli apakah blognya akan dibaca atau dibiarkan
    Asbun 1 suka | 0
    Sebenarnya dengan dipidananya Prita justru lebih merugikan RS Omni sendiri, sekarang pasti berkembang opini negatif terhadap RS itu. Terlepas dari siapa yang benar atau salah di mata hukum tapi publik pasti bersimpati pada Prita. Dalam jangka waktu beberapa bulan RS Omni pasti akan merasakan akibat dari langkahnya terhadap Prita

    Ini bisa jadi pelajaran bagi institusi yang melayani publik supaya hati-hati terhadap costumernya karena hanya dari email keburukan sebuah pelayanan bisa tersebar sangat luas.

    Rumah saya dekat dengan RS Omni, dan setelah kasus ini muncul jadi ada perasaan negatif tiap kali melewati RS itu
    gunawanrudy 0 0
    [...] Jika Prita menulis di sebuah blog, dia bisa mengendalikan sepenuhnya, apakah dengan mengedit atau menghapus berita. [...]

    Tembolok (cache) Google kadang bisa menjatuhkan juga. : p

    *ahsudahlah*
    Logical Fallacy 0 0
    gunawanrudy: Berarti Google itu semacam sapi ya? ; ))
    Sri Kirana 2 suka | 0
    Asbun: Sepakat... saya sekarang rasanya miris kalau mengingat RS Omni itu yang letaknya sangat dekat dengan rumah tante saya, dan bangunannya yang menurut saya cukup mewah, tetapi ternyata pelayanannya terhadap konsumennya mengecewakan dan tanggapannya juga tidak bijaksana menurut saya. Yah, tinggal dilihat saja efek lanjutannya...
    choro 0 0
    Berarti terbukti bahwa RS Omni sangat amat gaptek, karena Omni meminta prita menarik e-mail yang sudah di sebarkan, sedang seperti yang ditulis barusan, berbeda dengan blog, kuasa flow sebuah mail bukan ditangan penulisnya
    opiniherry 0 0
    Jika si Ibu menulis di dalam blog, artikelnya juga bisa dicopas oleh siapa saja. Lalu juga bisa di spread via milis.
    Kalau sudah begitu, si empunya blog juga tidak punya kendali penuh atas artikel tsb.

    Bahkan disclaimer pun belum tentu ampuh...

    Silahkan login untuk memberikan pendapat