SUDAH TAU SALAH LANJUT TERUS 3
Rabu, 3 Jun '09 02:13
Tulisan dibawah ini sudah saya tulis di http://jambikita.multiply.com/journal/item/3/SUDAH_TAU_SALAH_LANJUT_TERUS pada bulan Maret tgl 14 2009 yang lalu, waktu itu terdorong rasa jengkel, marah, kasihan, dan segala macam rasa yang campur aduk menjadi satu akibat mendengar, melihat, membaca berita keluh kesah orangtua yang kebingungan memikirkan anaknya menghadapi UAN.
Kemarin membaca lagi berita tentang 33 SMA yang siswa mereka tidak lulus 100%, pada buang badan saling menyalahkan. Mudah2an tulisan dibawah ini tidak dianggap basi, mohon maaf kalau pembaca merasa tersinggung disuguhi tulisan basi. Sekali lagi ma'af.
SUDAH TAU SALAH LANJUT TERUS
Semakin banyak saudara kita yg berkerut keningnya akhir-akhir ini, bukan karena pemilu sudah dekat dan kebingungan pilih caleg. Tetapi berkerut karena dibebani hal konyol yang rutin terjadi dan dibiarkan terus terjadi.
Orangtua yang memiliki anak bersekolah di kelas akhir, kalang-kabut tiap sebentar dimintai biaya oleh sekolahan dengan ancaman "KALAU ANAK ANDA TIDAK LULUS UAN JANGAN SALAHKAN SEKOLAH" mulai dari biaya les tambahan, biaya try out, bantuan dana penyelenggaraan UAN, dan seribu satu biaya lagi yang dipungut oleh oknum kepala sekolah bekerjasama dengan oknum diknas.
Selain orang tua, guru juga ikut-ikutan stress, karena ditekan kepala sekolah, dengan target kelulusan, belum lagi guru juga "DIPAKSA" supaya bersedia ikut "MENEROR DAN MEMERAS" orang tua siswa dengan embel-embel sudah diketahui dan disetujui pihak diknas.
Sungguh sangat kejam kelakuan oknum-oknum yang memanfaatkan kesempatan, dengan memeras orang tua siswa, tanpa memikirkan apakah mereka punya duit untuk beli beras.
Pendidikan kita bagai menyembah berhala yg namanya "NILAI KELULUSAN" dipuja, disembah dan dibanggakan sebagai sebuah keberhasilan, padahal kalau mau jujur, sistem pendidikan kita tidak menghasilkan apa-apa, kecuali selembar kertas yang namanya NEM, IJAZAH, SURAT TANDA KELULUSAN, entah apa lagi namanya pada kabinet berikut.
Dunia pendidikan kita dikangkangi oleh segelintir manusia yang "NGEYEL". Tidak mau mengakui kalau ada yang salah, tidak percaya bahwa kita sedang menghancurkan generasi mendatang dan tidak berusaha merubah yang salah. Tetap ngotot dengan sebuah jimat yang diberi nama UAN, menguji hal yang salah, hal yang sangat menggelikan dan menyesatkan.
Kita menghabiskan dana milyaran, trilyunan, gembar-gembor Kurikulum Berbasis Kompetensi, Standar Internasional, dll dll dll.............. sementara yang menjadi bahan ujian tidak memiliki nilai kompetensi sama sekali, tidak memiliki nilai untuk persaingan internasional, sungguh membingungkan, kemana lulusan kita akan dibawa.
Satu hal lagi yang sangat menyedihkan, sistem pendidikan kita sekarang sama sekali tidak ada mengajarkan nilai moral, budi pekerti, etika, kepekaan sosial, dan dianggap bukan hal yang penting, makanya jangan heran kalau tawuran antar sekolah, kampus tiap sebentar terjadi, jangan kaget kalau mahasiswa demo kemudian bertindak anarkis, jangan aneh kalau ada video porno siswa siswa SMU beredar di-mana2. Jangan salahkan siapa-siapa kalau di IPDN terjadi premanisme.
Jangan katakan bahwa itu cuma kasus, jangan katakan bahwa orang tua tidak pandai mengawasi dan mendidik anaknya, atau dalih gaji guru kecil, ini semua alasan yang dimunculkan untuk alasan pembelaan dan pembenaran sistem pendidikan kita yang salah kaprah, paradigma pendidikan kita yang mementingkan gengsi, bukan isi.
Makanya saya sangat setuju dengan pendapat seorang "guru virtual" saya yang mengatakan bahwa pendidikan kita sekarang ibarat orang yang sibuk memanjangkan dasi, membesarkan jas, mengkilatkan sepatu, memberatkan jari jemari dengan emas dan intan permata, sibuk menyiapkan pentas untuk show, walhasil saat tampil, penonton pada sakit perut karena tertawa melihat sang badut naik panggung tanpa mengenakan celana.
Kita butuh Revolusi Sistem Pendidikan yang sangat drastis untuk menyelamatkan generasi mendatang, atau kita cuma duduk berpangku tangan menghitung hari menunggu datangnya sebuah bangsa hasil PEMBODOHAN YANG DIBUAT SENDIRI.
Ayooo...... Siapa yang berani mulai ???? Jangan muluk-muluk, mulailah dari diri kita sendiri, keluarga kita, anak-anak kita, saudara kita, tetangga kita, kampung kita, murid kita, siswa kita.
Tag: pendidikan, indonesia, opini
Terkait:
-
Pengaruh-Pengaruh Buruk pada Televisi
Kamis, 18 Feb '10 18:05 -
Konglomerat Langsat
Senin, 12 Okt '09 18:08 -
Pendidikan dan Kekerasan
Sabtu, 5 Sep '09 23:08
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Sri Kirana: Biasa
-
alakazam: Biasa
-
xvader: Biasa
-
Catshade: Biasa
-
LCFR: Biasa


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Kalo yang sekolah di sekolah gua dulu pasti lebih senang dengan sistem sekarang, orang nilai rata-rata yang dikasih sekolah gua dulu rata-rata lebih kecil dari nilai Ebtanas kami.
Jadi memang ada yang salah dengan pendidikan di sekolah-sekolah yang muridnya tidak lulus, dengan adanya UAN ini jadi kelihatan kejelekannya dan kurangnya mutu pendidikan tinggal bagaimana cara memperbaikinya.
Kalo dipendam dan diberi asal lulus saja tampaknya hanya menyembunyikan bau busuk yang akhirnya akan keluar juga.
Nah kenapa jumlah mata pelajaran UAN sampai sedikit ditambah aja (huahahaha tambah banyak yang protes) terus iya jangan cuma pas mau lulus aja UAN-nya tiap tahun aja pas tiap naik kelas atau kalo perlu tiap semesteran
ps: saya orang yang muak dengan rendahnya mutu SDM orang Indonesia secara umum padahal secara kemampuan mestinya tidak kalah.
Silahkan login untuk memberikan pendapat