Mengorbankan Pendidikan 5
Sabtu, 6 Jun '09 10:31
Karena salah memanajemeni pekerjaannya dengan baik, maka aparat / birokrat pendidikan yang tergabung dalam Diknas / BNSP / Dinas Pendidikan, memilih untuk mengorbankan siswa daripada buruknya kerja mereka dalam menangani UAN ketahuan. Mereka memilih untuk mengorbankan pendidikan, daripada mereka yang ketahuan berbuat kesalahan. Luar biasa bukan kelakukan pengelola pendidikan kita ini?
Kutipan dari Kompas.com :
Ujian nasional ulang yang penuh ketidakpastian menimbulkan kecemasan buat para siswa SMAN 2 Ngawi, Jawa Timur, yang berjumlah 315 siswa. Kecemasan serupa dialami ribuan siswa yang tersebar di 33 SMA/MA yang ada di delapan provinsi.
”Kami tidak tahu, salah kami apa sehingga harus mengikuti ujian nasional ulangan? Kami tidak nyontek, tidak juga berbuat curang,” kata Eki Okta Frianto, murid kelas III IPS 3 SMAN 2 Ngawi.
”Kami bisa mengerjakan soal dengan baik dan jujur. Mengapa harus diulang,” kata Fenita, murid kelas III IPA 4 SMAN 2 Ngawi, yang termasuk langganan juara di kelasnya. SMAN 2 Ngawi merupakan SMA favorit dan kebanggaan di Jawa Timur. Banyak lulusannya yang diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan (PMDK).
Bupati Ngawi Harsono mengatakan, dalam perbincangannya melalui telepon dengan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Mungin Eddy Wibowo, dinyatakan ujian nasional ulang di SMAN 2 Ngawi bukan karena murid curang, tetapi ada permasalahan dalam sistem pemindai jawaban siswa.
Namun, persoalan ini tidak pernah disampaikan secara resmi kepada siswa. Akhirnya kabar yang beredar, siswa-siswa sekolah tersebut berbuat curang. Tak heran jika kemudian DPR menolak ujian nasional ulang bagi siswa atau sekolah yang secara sistematis melakukan kecurangan.
Saya sendiri adalah seorang pelaku pendidikan, yaitu seorang dosen di perguruan tinggi, walaupun tidak tetap. Saya merasa sangat prihatin dengan kondisi ini, karena sejatinya pengelola pendidikan berprinsip jangan sampai merugikan peserta didik (murid, siswa, mahasiswa) yang benar-benar serius dalam belajar. Kasus seperti ini akan membuat kondisi mereka sangat demotivasi serta kehilangan kepercayaan diri. Apakah ini yang ingin dicapai?
Kalau memang karena kesalahan sistem dan prosedur, apakah tidak bisa dipikirkan jalan lain untuk mengatasinya selain mengorbankan siswa?
Begitulah pendidikan, kalau diurus oleh mereka yang tidak punya jiwa pendidik. Mereka akan memperlakukan pendidikan itu penuh dengan tipu daya, intrik, untuk menyelamatkan diri mereka ...
Semoga hanya sekali ini saja terjadi ... mudah-mudahan tidak terjadi lagi.
Tag: pendidikan
Terkait:
-
Ada Pelanggaran UN, Adukan!
Sabtu, 20 Mar '10 00:20 -
Ibu Guru Cantik
Kamis, 18 Mar '10 04:52 -
PENDIDKAN UNTUK RAKYAT ? NONSENS
Rabu, 3 Mar '10 21:37
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
hamatamu: Menarik
-
Catshade: Penting
-
Yudiantoro: Menarik
-
Red-White Porridge: Penting
-
yusro: Menarik
-
Sri Kirana: Menarik
-
boiga: Menarik
-
Knalpot Putih: Penting
-
LCFR: Menarik
-
deldut: Menarik
-
adnan mubarak: Menarik


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
ini sih OMNI versi sekolah
Soal kesalahan pindai, menurut pihak pemindai, tidak ada kesalahan dalam hal pemindaian lembar jawaban (jawa pos hari ini).
kesimpulan : hapuskan UAN...
perempuan api: lah, berarti prita-nya para siswa gitu... tapi tetep aja yang harus disalahkan pemerentah...
Untuk perempuan api dan MFH, yup, saya setuju, hal seperti itu ada, tapi fokus bahasan saya di sini adalah perilaku birokrat dalam menyikapi kesalahan mereka, yaitu dengan mengorbankan siswa ....
Untuk zafa, terima kasih atas tambahan infonya ...
Silahkan login untuk memberikan pendapat