Kendaraan Tempur Di-KO Cuaca 11

Senin, 8 Jun '09 18:21

 

Lagi-lagi kendaraan TNI celaka. Dan, lagi-lagi juga, yang dituding jadi biang kerok adalah cuaca. Senin 8 Juni 2009 sekitar pukul 14.05 WIB, helikopter latih jenis Bolkow BO-105 miliki Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat jatuh di kawasan Pagelaran, Cianjur, Jawa Barat. Dan yang dituding sebagai "pihak yang harus salah" adalah cuaca.

Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Christian Zebua, untuk sementara jatuhnya helikopter akibat cuaca buruk. "Pesawat yang kami ketahui dalam kondisi layak terbang, dan diduga akibat cuaca buruk," ujar Christian Zebua, seperti dikutip VIVAnews.

Dalam kejadian itu, dua orang tewas, dua luka berat dan satu lukan ringan. Salah satu korban tewas adalah Komandan Pusat Pendidikan Kopasus Kolonel Ricky Samuel.

Memang Senin ini cuaca di sekitaran lokasi kejadian sedang tak bersahabat. Hujan deras turun disertai angin kencang dan petir. Dan, menurut hipotesa TNI AD, kondisi inilah yang membuat helikopter terjerambab.

Cuaca. Coba kita kilas balik kejadian yang dulu-dulu. Berapa kali kendaraan tempur, khususnya udara, di-KO cuaca? Ingat kasus jatuhnya Fokker 27 milik TNI AU di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, awal April lalu? Dalam kasus itu, cuaca juga yang ditunjuk jadi tersangka.

Dalilnya ketika itu begini; karena cuaca ekstrim, pesawat tua produksi Rusia tahun 1975 (yang diklaim masih layak terbang) itu jadi hilang kendali dan nyungsep di hanggar. Itu terjadi setelah pesawat diempas cross wind, atau angin menyamping yang datang tiba-tiba. 24 orang tewas. Ketika itu Panglima TNI Jenderal Joko Santoso menegaskan cuaca lah yang salah, dan diamini saja sama Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Subandrio. Pokoknya, cuaca salah.

Tentang perawatan pesawat yang kurang maksimal -karena bukan kali pertama pesawat militer jatuh membawa serta korban jiwa- tak tersentuh. Soal mesin-mesin pesawat tua yang kemungkinan dikanibal karena dimakan usia, sama sekali tidak disebut. Peringatan Presiden yang menyarankan sebaiknya pesawat militer berusia di atas 20 tahun dikandangkan saja, tak diingat sama sekali apalagi digubris. Pokoknya, kecelakaan itu murni kesalahan cuaca.

Kasihan cuaca. Padahal, fenomena alam ini datang dalam perwujudannya yang paling ekstrim, juga karena ulah manusia sendiri. Spesies inilah yang membuat bumi makin panas, yang membuat ozon jebol, yang membuat siklus iklim jadi acak akibat panas yang minta ampun ini. Yang menyebabkan hujan angin datang tanpa bisa diprediksi, juga ulah manusia sendiri.

Terlepas dari semakin garangnya cuaca, bukankah ada Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang bisa memprediksi kapan cuaca yang ekstrim datang?

Soal cross wind yang datang tiba-tiba barengan hujan deras di Husein Sastranegara April lalu, bukankah itu sebenarnya sudah bisa diramalkan? Apa pemantau cuaca di bandara tidak berfungsi, sehingga tidak bisa memperingatkan cuaca hari itu bagaimana?

Apalagi melihat Fokker yang diterbangkan itu sudah sangat sepuh. Tentunya bakal terpelanting kalau menghadapi cuaca yang ekstrim. Tapi kenapa diterbangkan juga?

Dalam kasus itu kemungkinan ada dua pihak yang kurang berfungsi; pemantau cuaca tak berfungsi sebagaimana mestinya -sehingga tak bisa meramalkan situasi untuk penerbangan- atau karena ada yang nekat menerbangkan pesawat tua, sok yakin pesawat itu bakal kokoh bertahan di tengah hantaman cuaca yang ekstrim. Ada perhitungan yang meleset. Tapi, apa pun itu, human error sama sekali tak tersentuh. Tahunya, cuaca yang salah.

Sedangkan pesawat Hercules yang jatuh di Magetan, Jawa Timur, 20 Mei lalu, sampai sekarang penyebabnya belum bisa dipastikan. Jangan-jangan nanti cuaca lagi yang dituding...

 

Soal Bolkow

Yang jelas, untuk kasus paling anyar, helikopter latih jenis Bolkow BO-105 TNI AD yang terjerembab itu, lagi-lagi karena diduga di-KO cuaca. Sementara tidak dijelaskan detail bagaimana kondisi dan perawatan heli itu sebelum terbang. Kadispen TNI AD hanya mengatakan heli itu layak terbang. Sudah itu saja, tanpa menjelaskan apakah sebelum terbang berkonsultasi dengan pemantau cuaca atau tidak.

Menurut Wikipedia, BO 105 adalah helikopter ringan, serbaguna, bermesin ganda yang dibuat PT DI dengan lisensi Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), yang sekarang jadi bagian dari Eurocopter.

Eurocopter hanya memproduksi BO 105 sampai tahun 1997. Jalur produksi Bo 105 diganti EC 135. Untuk PT DI produksi NBO 105 masih berlanjut sampai sekarang. Rata-rata helikopter jenis NBO 105 ini dibuat untuk sipil dan Polri.

Ada juga versi militer yang di gunakan oleh TNI Angkatan Darat namun dengan kemampuan terbatas, hanya untuk serang darat dengan dilengkapi roket FFAR, yang juga buatan dari PT DI. Helikopter ini adalah Bolkow terakhir yang diproduksi di dunia. Sekaligus  pesawat NBO-105 ke 122 yang diproduksi PT DI

Spesifikasinya seperti ini:

  • Kru= 1 atau 2 pilot
  • Kapasitas= 4
  • Panjang= 11.86 m
  • Lebar= 9.84 m
  • Tinggi= 3.00 m
  • Bobot kosong= 1,301 kg
  • Beban Muatan = 1,199 kg
  • Berat maksimum lepas landas (MTOW)= 2,500 kg
  • Mesin (prop)= Allison 250-C20B
  • Tipe prop= turboshaft engines
  • Jumlah prop= 2
  • Power= 298 kW
  • Power pada ketinggian= 400 shp
  • Kec.maks = 242 km/j
  • Kec maks pada ketinggian= 131 knots
  • Jarak= 564 km

 

Melihat spesifikasi itu, bukankah seharusnya TNI AD bisa mengukur kekuatannya? Jadinya bisa diprediksi juga seberapa daya tahan alat latih itu menghadapi cuaca. Sebelum terbang juga kan ada perhitungannya. Apa langsung terbang saja tanpa ada perhitungan?

Payah. Kalau tak mau (atau tak mampu) mengenali atau memperhitungkan penggunaan kendaraan tempur sendiri, bagaimana nanti kalau kendaraan itu suatu saat diperlukan untuk benar-benar bela negara di medan tempur? Bisa nggak memprediksi kekuatannya, kemudian memfungsikan? Menghadapi cuaca saja keok, bagaimana kalau nanti benar-benar terjadi "ganyang Malaysia"?.

 

 

 


Tag: tni, alutsista, helikopter, bolkow

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    sawung 0 0
    kalo saya gak percaya karena cuaca. lah militer itu kan mesti bertempur disegala cuaca. perhitugan angkutan militer juga sangat memperhitungakan cuaca, sudah sering operasi gagal karena cuaca. masak sih gak belajar kalau memang sebabnya cuaca.
    agoos 1 suka | 0
    tidak salah lagi.........
    cuaca harus segera ditangkap, karena membahayakan penerbangan di indonesia.....
    tkp 0 0
    agoos: dan jangan lupa, cuaca ini juga "dituduh" jadi penyebab jebolnya situ gintung n jatuhnya pesawat latih Curug di Bogor... ; )
    Logical Fallacy 0 0
    tkp: Cuaca itu ciptaan Tuhan. Tangkap saja... ; ))
    tkp 0 0
    Logical Fallacy: hahaha,, upaya lepas tanggung jawab para komandan.. btw, kalo bener2 diseret ke meja hijau kena berapa pasal ya.. : D
    Red-White Porridge 0 0
    Another Blek kembing... : (( namanya CUACA : D
    Logical Fallacy 0 0
    tkp: Sepertinya bisa satu buku saku mungkin. : p

    *rasa simpati sedalam-dalamnya bagi prajurit TNI yang menjadi korban*
    jack bloom 0 0
    klasik,
    'kita' banget
    gampang kan sulit
    sulit kan gampang
    jack bloom 1 suka | 0
    agoos: seharusnya pemerintah segera mengeluarkan TravelWarning bagi tentara: p
    OliverCain 0 0
    Maka dari itu, pemangkasan anggaran sudah seharusnya dihentikan, memang dalam kondisi ini RI masih punya hutang menumpuk, dan "mungkin" tidak mempunyai dana ekstra untuk meremajakan alat perangnya (Utang yang 400 T itu lari kemana yah?)
    Presiden yang saat pemilu 2004 ini berjanji hanya 1 kali menjabat, sudah terbukti banyak melakukan kebohongan publik / menutupi fakta, dan hasilnya... satu persatu mulai dari korban LAPINDO, TNI, Anak sekolah... semua dibuai janji manis... dan herannya.. janji janji di 2004 saat dirinya kampanye tidak ada yang mengingatkan beliau untuk di penuhi.
    jack bloom 0 0
    OliverCain: hehehehe, penggiringan opini publik neh. bisa masuk kategori black campaign ga ya: D

    pisss

    Silahkan login untuk memberikan pendapat