Mempertanyakan Arti Pakar 50

Sabtu, 13 Jun '09 11:16

Saya teringat ketika pertama kali gabung di Politikana, ada beberapa diskusi tentang kredibilitas sebuah artikel, dikaitkan dengan kompetensi penulisnya. Apakah si penulis seorang pakar di bidangnya? Apakah dia bergelar Ph.D atau lulusan SMA? Seorang wartawan senior atau penulis iseng? Biasanya isu ini berkembang menjadi mana yang lebih penting, the message or the messenger? The essence or the character?

Lewat tulisan ini, saya ingin membagi rasa penasaran saya; masih perlukah menilai sebuah gagasan dari kompetensi penulisnya? Biasanya dilihat dari gelar dan/atau spesialisasi yang dimiliki (saya sendiri tidak memiliki gelar di bidang agama, politik, apalagi ekonomi, tapi saya suka menulis topik-topik tersebut). Kalau kompetensi tidak dipermasalahkan, lalu sejauh mana gagasan tersebut bisa dipertanggungjawabkan? Sejauhmana bisa direalisasikan dan dirasakan kemanfaatannya?

Jika kepakaran diukur dari gelar dan/atau spesialisasi, saya justru melihat beberapa (atau banyak?) warga Politikana yang menguasai banyak disiplin ilmu. Misalnya secara formal gelarnya di bidang engineering, tapi memiliki interest dalam bidang politik, hukum, ekonomi atau sastra (yang dituangkan dalam bentuk artikel yang mendapat rating baik, biasanya antara +5 sampai +10). Tapi seringkali orang seperti ini kurang dianggap pakar, karena hanya tahu sedikit tentang banyak hal. Sedangkan yang dianggap pakar tahu banyak tentang sedikit hal.

Dalam bidang agama pun hal ini terjadi, seseorang akan dianggap lebih kompeten jika dia seorang kiyai atau lulusan IAIN, apalagi lulusan Al-Azhar Kairo. Dan anehnya saya (dan banyak teman-teman) justru lebih bisa menerima penjelasan agama yang disampaikan oleh teman-teman saya yang background pendidikannya engineering.

Lalu sejauh mana gagasan biasa tadi bisa berdialektika dengan gagasan pakar? Sebenarnya Politikana sudah mencoba memfasilitasinya lewat penulis tamu, yang sepertinya bisa mewakili kalangan pakar yang kompeten tadi. Tapi saya menilai intensitasnya masih sangat kurang, baik dari jumlah penulisnya ataupun kesediaannya untuk berdiskusi dengan warga. Kenyataannya yang intens berdiskusi adalah sesama warga biasa yang bukan penulis tamu (yang dianggap sebagai pakar tersebut). Atau jangan-jangan banyak warga biasa yang sebenarnya adalah pakar (tapi anonim)?

Atau memang era di dot net ini makna pakar menjadi kabur?


Tag: politikana, pakar, expert

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    cosmiclawyer 0 0
    kalo misalnya tidak bersekolah dan bergelar di bidang yang dia bicarakan, ya at least pemerhati/otodidak di bidang tersebut...paling tidak dia berusaha mempunyai citra di bidang tersebut...

    Contohnya Roy Suryo...katanya orang2 IT sih dia sebenarnya gak bergelar di bidang yang dia katakan dia pakar di bidang tersebut...tapi citra yang melekat dia itu pakar ; ))
    Pedy 0 0
    cosmiclawyer: maksudnya spesialis foto artis? ; ))
    cosmiclawyer 0 0
    @ Pedy: bukan aku lho yang ngomong ; ))
    Pedy 0 0
    cosmiclawyer: wah-wah Anda nampaknya benar-benar seorang lawyer expert yah? : D
    laind 0 0
    Roy Suryo telah menjadi Anggota DPR dari RI dapil Yogyakarta dan pakar visum pula.

    *lirik Herman Saksono*
    sawung 0 0
    Hi Roy! : D

    jadi anggotan dewan komisi pornomatika tuh : D
    cosmiclawyer 0 0
    @ laind: Roy Suryo ternyata antek Demokrat ; )) *ternyata rajin di tv itu sekalian kampanye gratisan tho ; ))
    Samz 0 0
    Dengan semakin sering menulis atau bicara pada suatu bidang, seringkali akan dianggap sebagai pakar bidang tersebut. Begitu sudah dianggap pakar, tulisan atau omongan sang pakar akan mendapat perhatian utama masyarakat, dan sering jadi rujukan orang.

    Yang perlu diwaspadai adalah jika pendapat pakar itu akan dijadikan landasan untuk kebijakan umum atau untuk keputusan pengadilan (dalam kasus saksi ahli).
    tkp 0 0
    yang jelas kita warga politikana ini mau nggak mau jadi tahu banyak hal kendati nggak punya background titel akademik tentang hal itu. Dan akhirnya malah jadi pakar; pakar kritik... Asal membangun dan nggak dianggap subversif, no big deal to... :>
    cosmiclawyer 0 0
    hmm...kayaknya semua tulisan gw mesti gw tulisan sans prejudice d...& disclaimer...secara gw suka nulis tentang hukum ; ))
    GaraMata 0 0
    katanya kan serahkan pada yang ahli. gimana tuh? ; ))
    hamatamu 0 0
    GaraMata: kata siapa? krisnov? ; ))
    GaraMata 0 0
    hamatamu:

    Hus! setahuku ada AQ atau hadist gitu. : p
    Pedy 1 suka | 0
    GaraMata: Ya "serahkan kepada yang ahli" itu hadist. Tapi itu berlaku untuk masalah2 expertise. Kalo masalah teknis non ekspertise bisa diserahkan kepada suara terbanyak, istilahnya ra'yul akstariyah. Tapi kalo persoalan teologis, ya diserahkan ke wahyu.
    hamatamu 0 0
    GaraMata, ya itu kan seingat saya bung ; ))
    GaraMata 3 suka | 0
    Pedy:

    Saya sepenuhnya sependapat dengan anda dalam perkara teologis ini.

    Dan saya juga berpendapat bahwa setiap orang bisa diwahyukan oleh Tuhan. Jadi tidak ada yang dapat mengklaim hanya dia yang berhak dalam perkara teologis ini.
    Pedy 0 0
    GaraMata said "Jadi tidak ada yang dapat mengklaim hanya dia yang berhak dalam perkara teologis ini."

    Setuju. Hanya saja mana yang lebih benar secara teologis, jurinya adalah kekuatan dalil (instimbat) dan kejelian dalam menlihat fakta (tahqiqul manath).

    Sebagaimana mana yang lebih benar secara empiris, jurinya adalah fact and evidence.
    suryosumirat 0 0
    indonesia...indonesia..., banyak lulusan ekonomi kok ekonominya semrawut, banyak lulusan hukum kok juga iya..... kayaknya ganti sistem dech...
    perempuan api 0 0
    jadi inget seseorang pernah berkata pada saya: "mutiara tetaplah mutiara meski keluar dari mulut anjing" ketika dengan keras kepalanya saya menanyakan identitasnya ketika dia menasehatkan sesuatu.
    ah, jadi malu mengingat itu : (
    laind 0 0
    GaraMata:
    Macam Jakarta? Banjir? Serahkan pada ahlinya! ; ))
    Striding Cloud 1 suka | 0
    Pedy:
    [__Tapi seringkali orang seperti ini kurang dianggap pakar, karena hanya tahu sedikit tentang banyak hal. Sedangkan yang dianggap pakar tahu banyak tentang sedikit hal.__]

    Pernah dengar tentang konsep "Manusia Rennaissance" atau "Polymath/polyhistor" ?
    Pedy 0 0
    Striding Cloud: Semacam The Medici Effect gitu ya? Itu juga dari masa Rennaissance.
    dhekawans 0 1 tidak suka |
    http://politik.vi…a_dengan_sby
    alakazam 0 0
    dhekawans: bikin artikel tersendiri aja mas...
    alakazam 0 0
    wak, kalo harus ahli, lah saya yang lulusan IT gak boleh nulis soal politik dung..... ogaaaaahhhhhh...
    Veuillez entrer 0 0
    @Pedy-iyya ko tau bgtsss*ini Roy Suryo* lho?
    wakakkakakkakkakka...kuacian Si Roy yh
    Ridwan 0 0
    gimana g terkenal si roy. udah jangan dibahas lagi. nanti malah terbang lagi dia
    : D
    alakazam 0 0
    hari ini saya ke Yogyakarta, begitu masuk kota, langsung eneg saya, tau kan apa penyebabnya, terlalu banyak foto "pakar" di jalanan Yogyakarta
    alakazam 0 0
    : )) : ))
    boiga 0 0
    Pedy: Dan anehnya saya (dan banyak teman-teman) justru lebih bisa menerima penjelasan agama yang disampaikan oleh teman-teman saya yang background pendidikannya engineering
    __
    justru itu. umumnya kita lebih menerima penjelasan dari orang yang kita pandang tidak memiliki kejelasan kepakaran, karena kita tidak jadi merasa digurui atau 'inferior'.. karena pemaparan yang seringkali berupa sharing pengetahuan saja..
    MFH 0 0
    boiga: Salah satu faktornya mungkin biar ga merasa digurui he..he..

    Kembali bicara soal pakar, yang jelas track record akademis tentu punya andil besar, tapi jika tidak dipedalami lebih lanjut dan tidak disampaikan kepada publik atau kalangan tertentu tentu belum bisa dikatakan pakar, jadi intensitas kita untuk menyampaikan gagasan dari pengetahuan kita serta keinginan untuk lebih memperdalam pengetahuan itu sangat menentukan kita dibilang pakar atau tidak. Makanya dari sisi akademik orang-orang yang merasa dirinya ahli dan ingin menunjukan keahliannya harus menulis dulu di Jurnal atau buat buku.

    Ya ga salah juga sih kalau Roy Suryo disebut sebagai pakar dibidangnya...saoale hanya dia yang suka berkoar-koar...yang lain mana?
    Apprayo 0 0
    MFH:
    "Ya ga salah juga sih kalau Roy Suryo disebut sebagai pakar dibidangnya...saoale hanya dia yang suka berkoar-koar...yang lain mana?"

    Saya setuju dengan bagian ini. Media merasa tidak memiliki tempat lain untuk bertanya soal IT, karena orang selain Roy Suryo gak ada yang nongol, entah bagaimanapun tingkat akurasi hal2 yang disampaikannya.

    Kembali ke soal pakar, bila selama ini mungkin kita memandang pakar itu semata sebagai seseorang yang dianggap mumpuni di bidangnya (yang bisa dilihat dari banyak variabel, misal dengan gelar akademik yang disandangnya, atau sejumlah karya ilmiah yang pernah dibuatnya, atau dari temuan2 yang sudah diwujudkannya), seharusnya kita juga melihat seseorang sebagai pakar bila ia dapat dengan sederhana dan gamblang memaparkan ilmu yang dia miliki agar dapat dipahami oleh orang awam. Tidak ada gunanya seseorang memiliki ilmu sebegitu tinggi dan lengkap, bila ia tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskannya pada orang lain. Balik ke kemampuan komunikasi lagi kan?
    iloenx 0 0
    pada akhirnya bukan soal siapa yang mengatakan, tetapi apa yang dikatakan.
    Telur dan (maaf) telek sama-sama keluar dari dubur ayam yang sama. Telur ayam bisa kita makan, sedang teleknya juga bisa dimakan............ ikan.

    Karena itu, pada akhirnya juga bergantung pada kapasitas publik untuk memilah-milah kata-kata si komunikator, atau pakar atau awam. Apakah publik bisa memilah2 atau tidak. Apakah publik mau makan telur saja atau melahap teleknya juga......

    Jadi kenapa mesti repot... (sekadar menghindari kesan klise ikut2an istilahe gus dur).
    GaraMata 0 0
    Roy suryo pakar media komunikas untuk bidang IT. Belum ada di Indonesia yang sepakar roy dalam hal ini. Bahkan Onno sendiri gagap jika d depan media.
    hamatamu 0 0
    GaraMata: itulah bedanya geek dengan media*l*t
    laind 0 0
    GaraMata:
    [__
    Roy suryo pakar media komunikas untuk bidang IT. Belum ada di Indonesia yang sepakar roy dalam hal ini.
    __]

    Err... budi rahardjo? http://rahard.wordpress.com ?
    Emang wartawannya aja yang males + si Roy lebih ramah dan ngasih amplop juga kali.
    GaraMata 0 0
    laind:

    Nggak bro, aku pernah lihat Onno W Purbo coba di wawancarai televisi dalam salah satu acara mereka. Dan wawancara tidak bisa mengalir seperti yang tentu diinginkan media. Terasa Onno gagap saat itu.

    GaraMata 0 0
    laind:

    Btw, budi rahardjo belum pernah aku lihat dalam wawancara televisi. Jadi tidak bisa menilai.
    Apprayo 0 0
    GaraMata: laind:
    Dari perbandingan itu (RS dan BR), keliatan kan pentingnya kemasan? Ok, katakanlah banyak di antara kita yang mungkin kurang suka sama RS, tapi seberapa banyak di antara kita yang memiliki info lebih baik dan juga kemasan yang baik untuk disuguhkan ke media? Tidak banyak gunanya kita punya sesuatu yang baik, tapi tidak mampu mengungkapkannya secara baik dan menarik kepada khalayak.
    alakazam 0 0
    Apprayo: lebih tidak berguna jika kita punya sesuatu yang tidak baik, malah kita bagikan ke masyarakat...
    Striding Cloud 0 0
    Apprayo: Bung, ada istilah untuk orang yang punya kemasan baik, tapi tidak punya kepakaran/pengetahuan yang sebenarnya, istilahnya: charlatan.
    Wonggantenk 0 0
    Striding Cloud: : D
    Pedy 0 0
    Dari dulu saya sebenernya penasaran, gimana ya komentar para pakar (by title & specialization) kalo membaca artikel2 di sini?
    Striding Cloud 0 0
    ketawa paling...
    Apprayo 0 0
    alakazam:
    Hehehe... Tidak baik kan bagi Mbak, kalo dia merasa itu baik gimana hayo... : )

    Striding Cloud:
    Ternyata untuk banyak hal, sudah ada istilahnya ya.
    Yudiantoro 0 0
    ikutan komen ah.. BR yang saya kenal sebenernya seorang pembicara yang menyenangkan dan pintar membawa suasana..setidaknya dalam pelatihan-pelatihan maupun perkuliahan. Saya memang belum liat beliau diwawancara TV, tapi kl wawancara radio sama media cetak doang saya anggap kemasannya ngga kalahlah sama RS, hanya memang orangnya (BR) low profile sekali...
    abah 0 0
    Yudiantoro: alumni EL ya? : )
    lat 0 0
    Pedy: ...gologan yang nggak "pakar" berlindung di balik kata mujarab "pemerhati"....

    ~spt aku - pemerhati politikana~
    Sri Kirana 0 0
    Terus... emang kenapa kalau bukan pakar? :/
    Lulusan SMA nggak boleh nulis? Ogaaaahhhh... >
    Yudiantoro 0 0
    abah: jelas-jelas saya lulusan hukum bung : D kecuali kalo di itebeh ada jurusan law engineering : ))

    Silahkan login untuk memberikan pendapat