Perlunya Kejelasan Identitas Penulis 97
Senin, 15 Jun '09 23:02, dibaca 605 kali
Dalam tulisan-tulisan yang muncul di berbagai situs internet, terutama yang berbau politik atau menyangkut kepentingan umum, nama penulisnya sering sekali ditulis sebagai anonim atau tanpa identitas jelas, misalnya dengan menggunakan "nick name". Memang, anonimitas di internet adalah hak yang di A.S. bahkan dijamin dengan UU. Akan tetapi, harus disadari media yang memberlakukan azas ini secara penuh akan berkurang kredibilitasnya. Tidak ada media massa terkemuka yang merahasiakan sumbernya tanpa alasan jelas. Apalagi, kalau sumbernya sendiri yang menulis tanpa identitas jelas.
Media massa dengan reputasi tinggi jelas hanya akan memuat tulisan dari mereka yang memiliki reputasi pula. Reputasi di sini tidak harus terkenal, tapi kompeten di bidangnya. Tidak diungkapnya identitas narasumber atau penulis biasanya karena alasan keselamatan. Namun, redaksi pasti tahu siapa sebenarnya nara sumber atau penulisnya. Jadi, tidak dibenarkan redaksinya bahkan tidak tahu siapa nara sumber atau penulisnya. Dalam hal ini, andaikatapun pengadilan memanggil redaksi yang diwakili pemimpin redaksi (pemred)-nya, sang pemred tetap dapat menolak mengungkapkan siapa sebenarnya nara sumber suatu tulisan. Hak ini disebut "hak tolak" dan diakui oleh hampir semua negara terutama yang menganut sistem demokrasi liberal.
Menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya The Rise of Anonymous Sourcing, hanya ada 7 kriteria yang dapat membenarkan penggunaan sumber anonim atau disembunyikan identitasnya. Ketujuh kriteria itu adalah:
- Sumber tersebut berada pada lingkaran pertama berita. Dia bisa pelaku, korban, atau saksi mata.
- Keselamatan sumber terancam bila identitasnya dibuka.
- Motivasi sumber murni untuk kepentingan publik. Bukan lempar batu sembunyi tangan.
- Integritas sumber utuh. Orang yang suka berbohong tidak diberi status anonim.
- Harus seizin redaktur.
- Keterangan anonim sumbernya minimal dua atau bisa diverifikasi secara independen.
- Perjanjian keanoniman akan batal dan nama sumber dibuka bila terbukti berbohong atau sengaja menyesatkan
Kesemua kriteria itu adalah upaya perlindungan nara sumber oleh redaksi dengan menjadikannya anonim dalam penulisan berita. Sebaliknya, menurut kaidah jurnalistik universal, suatu opini haruslah diketahui jelas siapa penulisnya. Ini agar pelanggaran terhadap kaidah nomor 3 di atas tidak terjadi. Sementara, saya memperhatikan di politikana.com ini banyak sekali penulis tanpa identitas. Padahal, biasanya penulis anonim itu justru yang keras tulisannya.
Agar politikana.com makin berkualitas, apalagi sekarang masih versi beta, perlu diadakan razia identitas penulis. Atau cara lain, bila memang masih mau mengakomodir penulis dengan "nickname", adalah memberikan tingkatan. Misalnya penulis yang terpercaya dan dikenal luas reputasinya diberi rank "gold" atau "master" atau apalah. Sementara yang tetap mempertahankan "nickname" mendapat rank jauh di bawahnya.Buat saja ada 10 tingkat kepenulisan misalnya.
Demikian pula dengan sistem rating yang saat ini seenaknya dan tidak adil, seharusnya terdapat pengimbang dengan sistem juri yang dipilih oleh redaksi politikana.com. Di Indonesia, sering sekali orang yang seharusnya berkualitas tidak mendapat tempat, semata karena adanya sistem penilaian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya dalam pemilihan "bintang televisi via sms", apapun jenis pemilihannya. Sering sekali mereka yang lebih layak menang harus kalah karena mendapat sms lebih sedikit. Apalagi di internet, trolling amat mungkin terjadi. Penggunaan identitas lebih dari satu untuk menaikkan rating dirinya sendiri atau kenalannya mudah sekali dilakukan.
Bagaimana bisa misalnya, tulisan yang ditulis serius mendapat rating lebih jelek dari tulisan yang dibuat asal saja? Contohnya seperti tulisan hari ini oleh seseorang dengan identitas tidak jelas. Lebih-lebih isi tulisan dengan rating tinggi itu cuma omong kosong bercerita soal kondisi dirinya. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan politik sesuai visi politikana.com.
Maka, kalau politikana.com mau jadi rujukan para politikus dan pengambil kebijakan, bukan cuma orang-orang frustrasi yang gemar memaki, mencaci sambil kritik sana-sini atau curhat tentang dirinya, seharusnya dimoderasi lebih ketat. Identitas penulis harus jelas. Karena bagaimanapun, tulisan opini seperti di politikana.com adalah produk jurnalisme. Maka, sudah seharusnya pula patuh pada kaidah jurnalisme sejati. Barulah politikana.com layak menjadi rujukan.
Penulis adalah pemilik blog LifeSchool
Tag: politikana, opini, anonim, identitas, jurnalisme, jurnalistik, penulis, Bill Kovach, Tom Rosenstiel, redaksi
Terkait:
-
Mengenang Mas Syubah
Senin, 25 Jul '11 12:03 -
Politikana sudah telampau OOT kah?
Jumat, 9 Apr '10 18:35 -
Lebih Penting Mana: Merasa Benar atau Tanggung Jawab?
Jumat, 2 Apr '10 04:18
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Forlorn Hermit: Lucu
-
hamatamu: Lucu
-
Chairman Mao: Penting
-
Striding Cloud: Lucu
-
samsara: Biasa
-
dimsci: Lucu
-
alakazam: Lucu
-
tkp: Lucu
-
sawung: Lucu
-
lat: Lucu
-
kak inco: Menarik
-
Shouen: Lucu
-
LCFR: Lucu
-
Riyono:
-
boiga: Lucu
-
NOS: Menarik
-
C e l o: Lucu
-
R A P: Biasa
-
Yudiantoro: Biasa
-
Pedy: Biasa
-
botaksakti:
-
daengrusle: Menarik
-
taraman :
-
yusro: Penting
-
rizki:
-
amalthea: Penting
-
supra: Menarik
-
Ibnu Muslim: Bagus
-
sevenco:
-
Nenda Fadhilah: Lucu
-
krisnov:
-
just_me:
-
si_jliteng: Penting
-
The Crow:
-
Neof Ana: Biasa
-
rohanisyawaliah:
Komentar:
Okay, bye bye. I will not vote for you.
Jadi begini. Ada penelitian bahwa kemampuan menghargai "Satire" itu berbanding lurus dengan "intelligence" dan berbanding terbalik dengan "Dogmatism".
Dhanis adalah penulis jelek. No doubt about it. Ratingnya sendiri adalah -SATIRE-(yang dengan mudah dilihat dari commentaries).
ergo...
peng-recruitan anggota juri dipilih dari user dengan prilaku baik, dan dilakukan secara anonim sehingga tidak ada orang yang tahu dia anggota partai.. *ehm* maksud saya anggota juri atau tidak. sebagai gebrakan launching, seret satu user yang nakal ke pengadilan. seterusnya roda akan berputar dengan sendirinya karena the fear of being watched, tanpa tahu user itu kawan atau lawan akan dengan sendirinya menggiring user untuk tidak melanggar batas yang telah ditentukan.
Lah itu penulis tamu? Pilihan moderator?
[ Contohnya seperti tulisan hari ini oleh seseorang dengan identitas tidak jelas. Lebih-lebih isi tulisan dengan rating tinggi itu cuma omong kosong bercerita soal kondisi dirinya. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan politik sesuai visi politikana.com. ]
Jika merasa artikel curhat itu memang ndak penting, kenapa nggak dirating ndak penting saja?
Anonim itu enak dan perlu...
ehm, kaidah jurnalisme mana ni? kaidah jurnalisme pasar ato real jurnalism? kalo pilihan pertama, bukan di politikana tempatnya, karena memang di sini bukan ajang press release yang penuh sensor untuk kepentingan pihak tertentu. kalo opsi yang kedua, tampaknya beberapa warga, contohnya rusdi mathari, udah memenuhi kriteria itu. Kaidah jurnalism bukan soal siapa yang memproduksi, tapi bagaimana hasil produk itu. Bukankah dengan menulis warga politikana itu sudah jadi seorang "jurnalis" karena sudah menghasilkan produk tulisan? jurnalis=seorang pembuat jurnal=pembuat tulisan=penulis.
So, di dunia politikana ini bukan soal siapa yang membuat, tapi esensi bahasannya. Namanya juga ajang diskusi bebas, siapa saja boleh berkecimpung dong. Soal yang mau merujuk, silahkan, kalo yang ragu, ya pilih saja opsi lain. Gitu aja kok repot.
-1 Promosi Diri
[2. Keselamatan sumber terancam bila identitasnya dibuka.]
diberlakukannya UU ITE merupakan alasan yg jelas bagi saya untuk tetap berlindung di balik anonimitas,.
Tapi, tapi.... foto anda mudah ditrace dari face recognition program......
Waduh razia? kok mirip gerak gerik satpol.pp ya?
user yang melanggar peraturan juga dapat diberi peringatan terbuka terlebih dahulu di halaman home, apabila masih melanggar peraturan maka diberi hukuman terbuka juga.
*sigh..*
@Bhayu MH: klo pake razia, kayak jaman Orla aja ada BABINSA, KOPKAMTIP... atau screening test...ntar pake surat kelakuan baik...waduh...padahal aku ngak baik2 amat..
dimsci: setali tiga uang lah..
[Tapi, tapi.... foto anda mudah ditrace dari face recognition program...... ]
hahaha,.
definisi anonimitas tidak terpatok dari "nama" saja kan bung?
atau ada istilah lain utk pmalsuan avatar??
sprti avatar hamatamu misalnya,.
bergabung di forum2 politik nan kritis sprti politikana ini saya rasa mayoritasnya sgt mngrti akan pentingnya anonimitas,.
hamatamu:
hahaha,.setuju,. ^^
Batman ajah kagak usah pake identitas tapi memerangi kejahatan..
~salah jalur ngak ni~
Trus kalo sudah dek Chairman Mao datangi, mau diapakan pengiat Politikana itu?
Aha mungkin diajarkan menulis yg benar ya? atau..?
Sabar sen, gak usah esmosi... biarin aja orang kayak gini, nyari tenar...
[http://politikana…mimpin.html]
Ini ad hominem kan?
masalah ratting. Lah itu pan masalah standarisasi aja. Baik bagi ketua suku di pedalaman papua pun bisa jadi nggak penting bagi anak-anak gawul ibukota.
masalah rujukan. Setau saya, bila ada yang salah rujuk dia akan mengubah rujukannya.
heh....ngomong ajah.....udah cepet ganti nama lo yg sebenernya.....
ini nama gue yg slai.....
sumpah demi alm bokap gue
ayoo mas tunjukkan dirimu yg sebenarnya
habis ini mau diganti lagi juga ngak papa
hayoooo semuanya ...berani ngaaakk>>>///???
kalo memang yakin dng apapun yg anda2 perjuangkan kenapa harus takut......
ayoooo...mariiii....
ehh om momod bisa nunjukin nama aslinya ngak yaaahhh....hehehhehee
yaaah mas gitu siiihhhhh
yaa sudah saya juga gantiii lageeee
untuk yg sudah terlanjur melihat , anggap saja saya ini khayalan yah
its a pleasure to know you, Sir
yaaah minimal yg beneran gitu looh mas
kwkwkwkwkwkw
guling2 nih mas beneran
ngakak ampe laptop ku ampir jatuhhh
khahahahahahahahahaaaa
yang bener..????
"Ilusi kebebasan berpendapat yang kita rasakan sekarang, belum tentu bertahan selamanya."
See, sekarang sudah mulai razia-razia segala....
mungkin harus log out truzz restart com dulu
coba ajah dulu
waaakkk kok begitu namanya
whahahahha ada2 ajah loooh
its a honor for me, to know all of u
termasuk yg belum mau memberitahukan nama aslinya masing2
sekarang kembali ke perjuangan masing2....
ayoo doong mas....
hahahahhahahaha
kwkwkwkkwkwkww
masi h ngak tahan ketawa niiihhhhhh
kwkwkwkkwkwkwkkwkkw
Saya ndak tau sama sekali!
*bukan jawa*
lalu kenapa blem surotitil itu saru ? berikan pencerahan
ooohh...selama ini jadi mbak toooohh
waaaa...
maaf yah
*bengep ditabokin hamatamu, Striding Cloud, LCFR. NOS, laind, Shouen, MosheDayan*
beraninya keroyokan! ayo sendiri-sendiri
*ngutip Dhanis*
Eh, tapi si penulis beridentitas jelas ini kok belum kasih tanggapan apa2 ya?
Panjangnyo... cerita tentang kehidupannya.
Lho, kan biar jelas
[Btw, contoh identitas yang jelas mungkin ini: http://tinyurl.com/nlqmuo : D
Eh, tapi si penulis beridentitas jelas ini kok belum kasih tanggapan apa2 ya? ]
*nunggu tanggapan penulisnya juga*
masalah yg diungkap memang bukan masalah baru, dunia blog pun terkena masalah ini, justru karena itu politikana mencoba memberikan alternatif solusi terhadap masalah yang namanya REPUTATION SYSTEM ini.
intinya adalah masalah reputasi, bukan masalah nama benar atau nama nick
reputation system yg sudah built in di dalam politikana ini namanya PAMOR, coba cek masing2x halaman profil kita, maka kita akan menemukan angka pamor disitu.
PAMOR seseorang menentukan reputasi seseorang tersebut, bisa disimpulkan bahwa makin tinggi pamor seseorang maka seseorang tersebut makin layak percaya, karena pamor yg dia dapat dihitung berdasarkan kontribusi yang sudah dia lakukan di politikana
posting yg sudah dilakukan, dan apakah mendapat rating positif atau tidak, komen, rating dll
*kabur lagi..., cari nickname baru
Tujuh syarat anonim dari Bill Kovach memang sangat penting diingat oleh para Jurnalis. nah, tulisan berkualitas dan memenuhi kriteria Bill Kovach itulah yang jadi bahan diskusi di politikana. Politikana bukan situs berita, ga ada wartawannya di sini. walopun member politikana yang berprofesi sebagai wartawan memang ada yang aktif ikut berdiskusi di sini.
belajar menulis dengan baik dan benar, memang iya. belajar berdiskusi dengan santun juga iya. namanya tempat belajar, kesalahan sangat mungkin timbul, maka sangat wajar pula ada ketakutan pada UU ITE
so... mo ngomong apa tadi ya? LAWAN UU ITE!
not whats your name, whos your daddy, and what you do for a living
we dont care who you are
hey, wikileaks yang anonimous aja bisa jadi rujukan
tapi dunia internet adalah dunia yang dinamis... "content is the king" yang penting adalah isinya .... dan bagaimana isi tersebut dapat merangsang diskusi yang seru serta menambah wawasan orang2nya...
[---PAMOR seseorang menentukan reputasi seseorang tersebut, bisa disimpulkan bahwa makin tinggi pamor seseorang maka seseorang tersebut makin layak percaya, karena pamor yg dia dapat dihitung berdasarkan kontribusi yang sudah dia lakukan di politikana---]
bagaimana dengan profil Admin dengan pamor infinity, padahal nulis aja belum..
*peace*
Pamornya gak turun turun.... orangnya kemana ya?
...miss your funny post kang tutur
Sayang, baru buka sekarang!
Setuju dengan semua yang mengatakan klo g penting sapa yang nulis yang penting isinya.
Hargai perbedaan....yang mau blak-blakan, terang-terangan sambil bernarsis ria ya silahkan...yang mau anonim ya silahkan juga....gitu aja kok terusik...he..he..he..
itulah mengapa anonimitas perlu, agar kita tidak prejudice duluan. "adil sejak dalam pikiran"
Silahkan login untuk memberikan pendapat