Transformasi dan Kelompok Pembaharu 31
Rabu, 17 Jun '09 14:15, dibaca 642 kali
Our greatest challange is to transform - not just change - Indonesia. SBY
Sejarah menunjukan bahwa keberhasilan proses transformasi menuju masyarakat yang makmur, demokratis, dan terbuka ditentukan oleh keberadaan kelompok pembaharu.
Kelompok inilah yang menjadi ujung tombak dan pengawal proses transformasi itu. Tanpa mereka, proses transformasi akan beresiko mandek atau keluar dari jalur yang kita inginkan.
Pertumbuhan ekonomi akan membantu tumbuhnya kelompok pembaharu, tetapi dengan dua syarat, yaitu : (1) pertumbuhan itu menyentuh dan dapat dinikmati oleh sebagian besar rakyat (broad based), dan (2) prosesnya lebih mengandalkan kegiatan berdasarkan hasil kerja, inisiatif dan ingenuitas sumber daya manusianya, dan BUKAN semata mengandalkan hasil penjualan kekayaan alam, bantuan luar negeri, atau rejeki nomplok lainnya. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja tidak cukup. Dua syarat itu harus dipenuhi.
Siapa saja kelompok pembaharu itu dan apa peran mereka dalam proses transformasi? Sejarah mencatat, kelompok ini bisa datang dari latar belakang sosial yang berbeda. Di Inggris inti kelompok pembaharu adalah pengusaha. ... Di Jerman justru kaum birokrat. Di Jepang, cikal bakalnya adalah kaum samurai yang mentransformasikan diri menjadi penggerak modernisasi.
Bagi negara berkembang, barangkali akan terlalu lama menunggu terbentuknya kelompok pembaharu secara alamiah seperti di negara-negara tersebut. Seyogyanya juga tidak mengandalkan pada satu atau dua kelompok sosialnya saja. Jadi, yang terbaik adalah mendorong terbentuknya koalisi luas, yang terdiri atas para demokrat dari semua segmen sosial.
Kelompok pembaharu ini dapat meliputi unsur-unsur reformis dari kaum pengusaha, intelektual, profesional, birokrat, pemuda, aktivis LSM, dan lain-lain.
Mereka diikat oleh kesamaan platform, yaitu memperjuangkan nilai-nilai demokrasi seperti hak asasi manusia, keterbukaan, kebebasan berusaha, good governance, rule of law, dan sebagainya.
Di sebagian negara berkembang, termasuk Indonesia, kelompok macam ini sydah mulai terbentuk dan berperan, meskipun masih terbatas. Mereka adalah elemen strategis dalam proses modernisasi dan demokratisasi.
Apakah anda termasuk kelompok pembaharu ?
Salam,
Boediono
Tag: demokrasi
Terkait:
-
Bahan Pemikiran untuk Memperingati Sumpah Pemuda
Kamis, 27 Okt '11 12:08 -
Demokrasi menuju kehancurannya
Sabtu, 27 Agu '11 14:43 -
[copas] Pendidikan Kewargaan Lewat Film
Jumat, 19 Agu '11 01:13
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
yusro: Penting
-
BMH: Biasa
-
Fadhil: Penting
-
LCFR: Penting
-
mendoan: Biasa
-
hamatamu: Menarik
-
heriyadi: Penting
-
NOS: Biasa
-
daengrusle: Lucu
-
Pedy: Biasa
-
Tunjung: Penting
-
flightless bird:
-
Jimbaran: Menarik
-
Dhanis: Biasa
-
maskubambang: Biasa
Komentar:
Ya saya termasuk kelompok pembaharu. Apakah Anda termasuk kelompok yang mesti diperbaharui?
tapi sebenarnya gw bingung, harusnya kan kelompok memperbaharu menimbulkan pertumbuhan ekonomi yang lebih adil
Dan yang jelas dalam perjalanannya pasti ada yang pro dan kontra...contoh gerakan reformasi di Indonesia menjelang abad 20 ..juga sudah dirintis lama...ketika itu tokohnya mungkin Amin Raiz, GUs dur dll.
Namun apakah semangat pembaruan itu terus ada??? itu yang harus kita tanyakan?? Karena dalam perjalanannya semangat pembaharuan hanyalah semangat para tokohnya...dan tidak menjadi jiwa setiap elemen yang terlibat.
Saya ikut bung yusro, juga ah... saya juga ingin ikut dalam pembaharuan...he..he... Kira-kira pembaharuan apaya ...
* kok jadi binggung sendiri hi..hi...*
kampanye nya obama kan sangat inspiratif +1 bagi semua orang, termasuk sby.
cuman sby agak-agak nggak sreg dgn tema utama nya obama: "change" (change we believe in, change we need).
lalu sby maksa boediono untuk bikin tulisan yang agak akademis, otak atik definisi "change".
hasilnya ya kayak gini... garing.
Ya saya , salah satunya mbak, setuju, asalkan konstitusional....
Sebuah negara bangsa harus punya apa yg disebut dng idiologi pendorong....
itu fundamental mbak...sebagai contoh....amerika serikat, mereka mendominasi bumi saat ini (bila ada orang atau negara lain yg tdk setuju, itu hal lain), mengapa mereka bisa seperti itu, karena mereka memiliki idiologi pendorong yg telah hampir 300san tahun mereka yakini (itu harus kita hormati hak mereka).
Akankah kita memilih untuk seperti mereka (AS) itu kembali ke diri kita masing2, akan tetapi dalam sebuah negara yg memiliki idologi tersendiri seperti contohnya Indonesia ini, sudah seharusnya kita menghayati, menjalankan dan mengamankan idiologi kita.
Sampai suatu hari nanti, kita putuskan bersama bahwa kita harus memperbaharuinya secara KONSTITUSIONAL.....
Baru kita semua menjalankannya secara mantap dan nyaman apapun hasil perubahan / pembaharuan tersebut.
Asalkan itu konstitusional, mengapa tidak....daripada kita hidup dalam ke pura2 an seperti sekarang....??????? (aka munapik
Yg menjadi akar masalah itu adalah, seberapa banyak orang yg seperti saya (yg berkesempatan dan mampu untuk berolah pikir) dan yg tidak....bukan begitu...?????
Selama hal tersebut belum termaterialisasi dlm bentuk idiologi dan UUD kita,...........apapun itu nantinya...
Saya akan tetap menghormati yg ada sekarang....dan sebisa mungkin mengamalkannya dlm kehidupan sehari2.(lengkap dng segala kemunafikannya
Karena saya yakin, sebuah organisme makhluk hidup haruslah memiliki harapan / panduan jiwa raganya masing2 bila ingin mencapai suatu tujuan.....
Dan mas, bgimana...???
Kalo saya hmmm mudah-mudahan pembaharu, orang lain yang bisa menilai, paling tidak saya menolak pekerjaan yang kerjaannya sangat KKN.
wkwkwkkwkwkwkwkkwkw
abis mas ngak jelas sihhh hihihihihih
kalo begitu, saya mungkin moderat ke konservatif, gitu yah ,mas....tdk progresif maksudnya......boleh kaaaannn ????
hehehheheee:d
hihihihihih......maklum mas blom tidur
sdng ada kerjaan (yg tdk KKN berat maksudnya)
hihihihihihihihi
lha wong itu terjadi setelah laksamana perry dng skuadron black ship nya memasuki teluk yokohama dan menembakkan meriamnya kok.......bagaimana bisa itu disebutkan sebagai pembaharuan....hihihihihihihihihihihihi
ituuu namanya dipaksa untuk "...memperbaharui..." diri namanya....
wah wah wah .......
untung ....saya rajin membaca wikiped
hihihihihihihihihihihihih
mud ah2 an hal tersebut tdk menimpa bangsa kita....
Panglima Besar Jenderal Soedirman
”...Lebih baik kita di ATOM daripada merdeka kurang dari 100 persen...”
Bila kita, sebagai bangsa... secara sadar sepenuhnya akan hal tersebut, apapun hal yg dimaksud adalah kehendak kita sendiri....ndak masalah.....bukan begitu bukan...????? akan tetapi bukan dng didiktekan oleh kehendak bangsa lainnya.....
...
Commodore Matthew Perry
teluk tokyo bukan yokohama
ehmmmm
Setelah di sambangi "black ship" nya sang commodore, dulu kan tapinya....????
coba lihat wikiped dan baca2 zaman shogunate itu, panjang memang, saya saja tahunan baru mengerti....sedikit hafal maksudnya...
mereka itu (japanese) , memang seperti hidup di planet tersendiri, suka atau tdk suka, memang begitu kenyataannya,...
dan hal tersebut yg membuat saya tdk yakin, bila tanpa tekanan yg luar biasa kuatnya, mereka mau merubah tata cara kehidupan mereka.....
oleh sebab itu, hingga hari ini, perhatikan saja tingkah polah hidup mereka, sampai hari ini...
bukan yg harajuku atau shibuya style yaaahhhh:d
...ihihihihihihihihihihi
dalam lima tahun restorasi Meiji & terhapusnya kelas 'samurai', secara otomatis para samurai yang telah 'dibuang' mencoba mencari pekerjaan lain untuk menghidupi dirinya. para samurai tersebut melebur ke dalam masyarakat, amenjadi seniman, petani, pedagang, maupun pejabat pemerintahan (dan ada beberapa golongan samurai yang masih melestarikan seni-seni berperang dengan mendirikan perguruan-perguruan kendo). hal ini pun adalah suatu perubahan.
Bakumatsu (幕末, bakumatsu?) are the final years of the Edo period when the Tokugawa shogunate came to an end. It is characterized by major events occurring between 1853 and 1867 during which Japan ended its isolationist foreign policy known as sakoku and transitioned from a feudal shogunate to the Meiji government. The major ideological/political divide during this period was between the pro-imperialist ishin shishi (nationalist patriots) and the shogunate forces, including the elite Shinsengumi (newly selected corps) swordsmen.
Treaty of Peace and Amity (1854)
When Commodore Matthew C. Perry's four-ship squadron appeared in Edo Bay (Tokyo Bay) in July 1853, the bakufu (shogunate) was thrown into turmoil. The chairman of the senior councillors, Abe Masahiro (1819–1857), was responsible for dealing with the Americans. Having no precedent to manage this threat to national security, Abe tried to balance the desires of the senior councillors to compromise with the foreigners, of the emperor who wanted to keep the foreigners out, and of the feudal daimyo rulers who wanted to go to war. Lacking consensus, Abe decided to compromise by accepting Perry's demands for opening Japan to foreign trade while also making military preparations. In March 1854, the Treaty of Peace and Amity (or Treaty of Kanagawa) maintained the prohibition on trade but opened three ports (Nagasaki, Shimoda, Hakodate) to American whaling ships seeking provisions, guaranteed good treatment to shipwrecked American sailors, and allowed a United States consul to take up residence in Shimoda, a seaport on the Izu Peninsula, southwest of Edo.
http://en.wikiped…wa_shogunate
Seperti kita lihat diatas, ada dua kejadian penting yg disebutkan. Salah satunya dan yg PERTAMA adalah
Kesimpulan,
"Mereka DIPAKSA untuk menerima peradaban barat, yg lebih tepatnya lagi sesuai dng misi utama
Done that a million times
ihihihihihihihihihi
Naaah kalo itu saya setuju....karena mereka pun sebenarnya dng terpaksa menerima sistem "kasta samurai tersebut"......dimana manusia yg bukan samurai dianggap / diletakkan hanya sebagai faktor produksi saja (kasian yah
Saya hanya ingin menerangkan bahwa bila tdk ada suatu kekuatan asing (yg mampu) , yg dlm hal ini baik untuk rakyat jelatanya, buruk bagi kasta samurainya......seperti skuadron black ships tersebut , mungkin kita tdk akan pernah dijajah oleh mereka
Kembali ke artikel Pak Boed, seperti yg telah saya tuliskan diatas, selama kita sebagai bangsa... secara sadar sepenuhnya akan hal tersebut, apapun hal yg dimaksud adalah kehendak kita sendiri....ndak masalah.....bukan begitu bukan...????? akan tetapi bukan dng didiktekan oleh kehendak bangsa lainnya.....
begitu loooh
Mudah2an IMF atau apapun itu juga tdk akan berperilaku seperti "black ship" tersebut....dalam artian men dikte kan ...kita looohh...
hihihihihihihihihihi,
peace
Khusus mengenai substansi pidato yang disampaikannya, saya merasa agak
kesulitan menemukan pribadi Boediono yang pada awal 1980-an pernah
menjadi sahabat dekat Prof Mubyarto. Yang terasa menonjol dalam pidato
tersebut ialah pribadi Boediono sebagai sahabat dekat William Liddle,
yang menurut informasi yang saya peroleh, memang turut terlibat
sebagai pembahas penulisan isi pidato itu. Akhirul kalam, saya ucapkan
selamat kepada Pak Bud. Semoga perbedaan sudut pandang ini tidak
mengganggu kehangatan persahabatan kita......>>>>Jangan2 postingan di atas ditulis oleh Rizal Mallarangeng.
Hihihihi, iya yah mas jangan2.......
*diamuk massa*
indonesia... kayak PC aja kali ya... software-software harus di-update... rutin, dan terus-menerus... ta[i saat OS harus di-update? saat hardware harus di upgrade?
NOS: sepertinya begitu mas
Silahkan login untuk memberikan pendapat