SBY dan Brutus [copas] 57
Kamis, 18 Jun '09 23:33
Marcus Brutus adalah kawan, anak buah dan orang yang dipercaya Julius Caesar, kaisar Romawi. Tapi Brutus pulalah yang menusuk sang kaisar dengan pisau dari belakang hingga mati. Karakter Brutus akhirnya dipakai untuk menggambarkan seorang yang berkhianat terhadap orang yang menolongnya, melindunginya dan bahkan mempercayainya. Karakter Brutus ini hampir selalu muncul dalam pergulatan politik. Dalam perbincangan politik Indonesia sekarang ini, salah satu figur yang dijuluki Brutus adalah Jenderal SBY.
SBY telah menjadi Brutus bagi tiga presiden yaitu Soeharto, Abdurrahman Wahid dan Megawati. Bedanya, Brutus di zaman Romawi akhirnya mati bunuh diri, sedangkan Brutus SBY terbilang Brutus yang masih beruntung.
Di akhir zaman Presiden Soeharto, SBY menjabat Kasosspol ABRI di bawah Panglima ABRI Wiranto. Tanggal 16 Mei 1998, MABES ABRI di Jalan Merdeka Barat dipenuhi wartawan karena ada siaran pers Wiranto yang meminta Soeharto mundur. Tapi Wiranto tak muncul-muncul.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) ABRI, Wahab Mokodongan, membagikan siaran pers itu yang isinya menimbulkan kontroversi, yaitu: ABRI Mendukung Pernyataan PBNU. Padahal isinya adalah minta Soeharto untuk turun. Wiranto kaget, kok ada siaran seperti ini. Kemudian baru diketahui bahwa SBY-lah yang membuat dan mengkonsep pernyataan itu. Dengan cara itu, SBY bermaksud mendorong dan menjebak Wiranto untuk ambil alih kekuasaan. Akibatnya, Wiranto sempat kena tuding mau mengkudeta Soeharto. Seperti ditulis dibukunya, SBY bahkan sempat bertanya pada Wiranto, "Apakah Bapak akan ambil kekuasaan?" Ambisi SBY memang besar. Targetnya ketika itu adalah Pangab. Kalau Wiranto bisa jadi Presiden dengan mengambil alih dari Soeharto, tentu ia akan ditunjuk jadi Pangab, orang nomor satu di ABRI. Tapi Wiranto memang dinilainya penakut. Tapi, setelah Soeharto jatuh, peristiwa ini dieksploitasinya sebagai bentuk keberpihakannya pada kelompok reformis. Ke mana-mana ia mengatakan bahwa ia adalah ABRI yang reformis dan ABRI perlu paradigma baru. Dengan tampil sebagai sosok seolah-olah reformis, SBY tampil dalam elit politik pada pemerintahan pasca Soeharto.
Pada masa pemerintahan Habibie (1998-1999), SBY menjabat Kepala Staf Teritorial (Kaster) ABRI. Jabatan ini sama sekali tak memuaskannya karena tak ada peluang untuk bermanuver politik secara leluasa. Ia sangat gerah pada pemerintahan Habibie karena pada dasarnya SBY sama sekali tak percaya pada pemerintahan sipil. Namun karena ABRI masih berada di bawah Pangab Wiranto, SBY tetap loyal pada Jenderal Wiranto. Apapun kata Wiranto, ia patuhi.
Sebaliknya, ia bisa juga memanfaatkan Wiranto. Dalam kasus Jajak Pendapat Agustus 1999 di Timor Timur, contohnya, SBY mendukung Wiranto yang setuju agar dilakukan Jajak Pendapat itu. Ia pula yang meyakinkan Wiranto agar Jajak Pendapat itu dilaksanakan. Sementara itu, Presiden Habibie setuju-setuju saja dengan rencana ini karena ia memang sedang mendambakan Hadiah Nobel Perdamaian yang bisa membuatnya terpilih lagi dalam Sidang Umum MPR, Oktober 1999. Hasilnya: Timor Timur lepas dan hingga kini masih menyisakan masalah dengan pengungsi dan lain-lain. Ribuan tentara yang berkorban dalam aneksasi Timor Timur terbuang sia-sia. SBY dipuji Amerika karena telah menjalankan misi dengan baik. Sudah lama, AS dan negara sekutunya, Australia, ingin Timor Timur pisah dari Indonesia. SBY dan Wiranto telah berhasil mendorong Habibie yang ultraliberal untuk Jajak Pendapat yang hasilnya pasti kemerdekaan untuk Timor Timur.
Ketika SU MPR Oktober 1999, Wiranto sempat maju jadi capres meskipun waktu itu belum melepas jabatannya sebagai Pangab. Adalah SBY yang mendorong Wiranto untuk maju. Bahkan ketika dia menyatakan mencabut pencalonannya sebagai capres, orang yang paling menonjol berdiri di belakang Wiranto adalah SBY. Gambar ini bisa dilihat dalam iklan-iklan Wiranto beberapa waktu lalu. Di situ, kelihatan SBY seperti ajudan Wiranto dengan pandangan lurus ke depan tak berkedip. SU MPR akhirnya dimenangkan oleh Abdurrahman Wahid yang didukung Poros Tengah. Aliansi Poros Tengah berhasil menjegal Megawati yang partainya, PDIP, menang Pemilu pada bulan Juni 1999.
Presiden Abdurrahman Wahid mengangkat SBY jadi Menteri Pertambangan dan Energi (Mentamben) pada tanggal 26 Oktober 1999. Ini adalah hasil deal dengan ABRI. Waktu itu dia masih jenderal aktif. SBY berhasil mendapat simpati dan kepercayaan dari Gus Dur. Ia mendapat pekerjaan dan tugas di luar kewenangannya sebagai Mentamben. Gus Dur memperlakukannya seperti anak emas dan bahkan menunjuknya sebagai negosiator dengan pihak Keluarga Cendana untuk mengembalikan harta kekayaan Soeharto yang diduga hasil korupsi saat menjadi Presiden RI. Bolak-balik SBY datang ke rumah Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) untuk menyampaikan keinginan Gus Dur. Tapi, tak ada upaya serius kecuali ngobrol-ngobrol ringan dengan beberapa anggota Keluarga Cendana. Sebagai Mentamben pun tak ada prestasi apa-apa. Ia cuma melakukan kunjungan-kunjungan dan pidato-pidato yang normatif. Untunglah ada Dirut Pertamina yang cukup handal ketika itu: Martiono.
Ketika Gus Dur merombak kabinetnya 26 Agustus 2000, SBY tetap dipercaya dan mendapat promosi sebagai Menteri Koordinator Politik, Sosial dan Keamanan (Menko Polsoskam). Kepercayaan ini diberikan Gus Dur karena SBY pernah bersumpah akan mendukung Presiden Gus Dur hingga selesai. Tapi harapan Gus Dur itu bertepuk sebelah tangan.
Pemerintahan Gus Dur terus digoyang oleh DPR karena kasus Buloggate dan Bruneigate. DPR sudah mengeluarkan Memorandum I dan Memorandum II sebelum diputuskan perlunya Sidang Istimewa (SI). Memorandum II dikeluarkan tanggal 30 April 2001 dan berakhir satu bulan. Bayang-bayang Sidang Istimewa mengancam pemerintahan Gus Dur. Ia benar-benar sudah diujung tanduk.
Sebagai langkah antisipatif, Gus Dur berunding dengan SBY untuk mencegah pemerintahannya jatuh. Reputasi Gus Dur ketika itu sudah sangat jelek di masyarakat dan di kalangan DPR. Gus Dur meminta SBY tetap mendukung langkah-langkahnya menghadapi DPR. SBY menyatakan dukungan sepenuhnya. Maka, pada awal Mei 2001 dibentuklah Tim Tujuh (7) yang diketuai SBY. Tim ini diberi mandat oleh Gus Dur untuk merumuskan dan mengambil tindakan segala langkah politik yang perlu guna mengatasi ketegangan antara Presiden dan DPR secara konstruktif dan komprehensif. Gus Dur juga meminta SBY membuat konsep pelimpahan tugas dan wewenang Presiden kepada orang yang ditugaskan. Demikian tinggi kepercayaan Presiden Gus Dur pada SBY saat itu.
Hasil dari Tim Tujuh yang diketuai SBY adalah perlunya dikeluarkan Maklumat Presiden yang intinya melimpahkan wewenang pada pejabat yang ditunjuk. Maka atas saran SBY, pada tanggal 28 Mei 2001, Gus Dur membuat Maklumat Presiden yang memberi perintah untuk diambilnya langkah dan tindakan khusus dalam rangka menciptakan ketertiban, keamanan dan hukum secepat-cepatnya. Maklumat Presiden itu diserahkan kepada SBY. Gus Dur berharap SBY benar-benar dapat mengatasi keadaan sehingga situasi menjadi tenang.
Namun, apa yang terjadi? SBY sama sekali tak berbuat apa-apa. Ia tak melobi DPR, Wapres Megawati atau tokoh-tokoh politik kunci yang beroposisi terhadap Gus Dur. Sebaliknya, SBY menaikkan posisi tawar dirinya dalam pentas politik nasional. Ia menempatkan diri seolah-olah pihak yang bijak yang tak mau menggunakan kekuasaan sewenang-wenang.
Keinginan-keinginan Gus Dur ditepisnya. Inilah pengkhianatan paling telanjang dalam politik Indonesia mutakhir: Gus Dur ditikam dari belakang. Lagi-lagi peristiwa ini mengingatkan kita pada Marcus Brutus yang menikam Julius Caesar.
Gus Dur sungguh kecewa. Harapan Presiden Gus Dur kepada SBY tak kesampaian. Di saat cucu Khadratus Syaikh Hasyim Asy'ari itu di ujung tanduk, SBY mengabaikan perintahnya. Malah, tak disangka, orang yang begitu dipercayanya justru menikamnya dari belakang. SBY yang menganjurkan Maklumat, ia pula yang mementahkannya. Gus Dur tak tahu bahwa SBY bukan semata-mata mengambil langkah itu karena rasional politik, tapi juga karena kawan-kawannya di pemerintahan Bush (AS) sudah memesankan agar Gus Dur diganti. Pengamat Jeffrey Winters pada saat itu mengatakan bahwa Washington sudah memutuskan bahwa Gus Dur harus pergi.
Indikatornya, IMF tidak mengucurkan bantuan dana 400 juta dollar. Bahkan SBY juga beberapa kali melakukan kontak dengan Wakil Menteri Pertahanan AS, Paul Wolfowitz.
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2081199
copas dari kaskus gan
cendolnya ya :D
please jangan dibata
Tag: Pemilu, SBY, presiden, website
Terkait:
-
Saya rasa ayah saya juga lebih hebat daripada SBY
Selasa, 16 Jun '09 12:15 -
Situs SBY-pun Berjualan
Kamis, 11 Jun '09 13:41 -
Perolehan PNBP Depkominfo sebesar Rp 9,228 Trilyun
Selasa, 5 Jan '10 13:39
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
heriyadi: Penting
-
LCFR: Menarik
-
kampungraja: Menarik
-
Carneira: Bagus
-
R A P: Menarik
-
Korvezee: Penting
-
Rusdi Mathari: Bagus
-
hamatamu: Menarik
-
Logical Fallacy: Bagus
-
Atma Sanjaya: Bagus
-
daengrusle: Menarik
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
Peltu69: Menarik
-
yusro: Menarik
-
Yudiantoro: Menarik
-
tongat:
-
Denx: Menarik
-
Arten®: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Saya agak ga ngeliat alasan SBY menggulingkan GusDur. Seperti yang kita semua tahu, pada akhirnya yang mendapat tongkat komando adalah Megawati, bukan SBY.
Soal SBY 'menggunakan' Wiranto...well, kalau dia ngga pinter, mungkin sampai saat ini dia cuma jadi veteran biasa. Fortune favors the brave and cunning. Mungkin kesannya memang seperti menusuk dari belakang, but really, this is politics. What do you expect?
makanya saya copas sengaja
uang lembur naik ?..hahahahaaa...
Sekalian gitu dari tahun-tahun sebelumnya.
Misalnya di seminar AD thn 96. sehari sebelum kongres pdi medan, SBY mengetuai tim pengarah untuk mempersiapkan masukan-masukan untuk GBHN, yang kesimpulannya:
Kritikan terhadap aparatur negara yang dilukiskan tidak konsisten dalam kebijakan, tidak disiplin, berwatak feodalistik, egois, dan terkotori oleh nepotisme.
Kritikan terhadap campur tangan eksekutif dalam masalah yg seharusnya diselesaikan lewat orsospol.
Seruan diambilnya langkah-langkah untuk mengurangi dominasi eksekutif melalui komunikasi yang demokratis dan terbuka.
Jelas-jelas sudah menusuk-nusuk soeharto dari 96!
Kemungkinan besar gara-gara itulah kasus 27 juli dibiarkan terjadi agar SBY bisa dimutasi ke sumut, seperti pendahulunya agum gumelar.
Kasus 27 juli sendiri menurut majalah Time setahun kemudian(artikel berjudul "all is not calm"), terindikasi melibatkan kopassus secara lekat.
Jadi bukan dari 98 saja sby nusuk soeharto, sudah dari 96....
GAIUS JULIUS CAESAR for president 2009!!!
Btw, Brutus itu menusuk dari depan dan terang-terangan loh
mang waktu kejadian anda lihat ya?
kalo terang-terangan dari depan ga mungkinlah, kan dia punya pengawal Caesar pasti ada perlawananlah, paling tidak ada perkelahian...
Nggak usah lihat sendiri, pakai logika aja. Omongan "Et tu Brute..." itu nggak akan keluar kalau dia nggak melihat penusuknya.
tapi akhirnya cita cita SBY jadi presiden terkabul kan?
saya jadi membayangkan Brutus itu bak Rembo kali ya...! datang menghadap Caesar dengan membawa pedang/piso terhumus kedepan melangkah dengan penuh emosi dan tatapan tajam, sementara Caesar berdiri tegap tanpa melawan ato menagkis.... lalu zep tertusuklah Caesar jatuh bersimbah darah.
Caesar itu ternyata cemen yach...?
hamatamu: Nggak sih, nggak ada waktu luang buat nonton DVD. Ugly Betty aja gak abis-abis
Hm... semua orang si kayaknya punya jusifikasi 'niat baik' ini ya?
wah ga tau tuh, sumpeh... tapi kalau lebih dari 1 berati bukan cuma Brutus dong yang nusuk, tapi Brutus dan Rekan-rekan?
saya cuma manut comment anda sebelumnya : [ Btw, Brutus itu menusuk dari depan dan terang-terangan loh ], tidak ada tersirat lebih dari 1!
* Gaius Cassius Longinus
* Marcus Junius Brutus
* Servius Sulpicius Galba
* Quintus Ligarius
* Lucius Minucius Basilus
* Servilius Casca
* Gaius Servilius Casca
* Decimus Junius Brutus Albinus
* Tillius Cimber
* Caius Trebonius
* Caecilius
* Bucolianus
* Rubrius Ruga
* Marcus Spurius
* Sextius Naso
* Minucius Basilus
* Pontius Aquila
Peltu69; cari Pluttarch & Cassius Dio, atau kalau suka fiksi ya nonton 'Rome', HBO series
Yas, saya setuju dng anda, brutus tdk menusuk dari belakang akan tetapi caesar memang dikeroyok..(katanya)
Mungkin karena kelompok Brutus berada di pihak yg kalah, maka dia (brutus) cenderung diposisikan berada di pihak yg salah / antagonis (back stabbing etc...)
Dan rezim yg berkuasa setelah masa perang saudara tersebut adalah dari keluarga Julii (Brutus berasal dari keluarga Junii) dng... cucu keponakan Julius Caesar sebagai pimpinan barunya yaitu Gaius Octavius Thurinus, yg kemudian menjadi kaisar pertama dari kekaisaran Rome dng gelar "...Gaius Julius Caesar Augustus...", menandakan berakhirnya masa Republik.
Mungkin ...saja karena dia bertindak berdasarkan rasionalitas, dng menutup mukanya ....mungkin dia berusaha menutupi perasaan nya yg sebenarnya kepada JC yg mungkin..sangat dihormatinya..???
Numpang nanya dong, Plutarch membuat catatan ini di zaman siapa yah....
mohon pencerahan..???
yaa ...itu mungkin bisa saja menerangkan/ menjadi latar belakang yg kurang obyektif dari penuturannya...mungkin
biografi pertama yg dia tulis adalah augustus...
Sepaham sih, dng ndaru....
lebih ke praduga....
btw menurut anda film ini bisa mendekati kejadian yang sebenarnya?
Mungkin saya bisaa membantu untuk menambahkan perspektif...
Ada dua orang dng nama Brutus yg terlibat dalam pembunuhan tersebut.
Yg pertama adalah Decimus Junius Brutus Albinus dan yg kedua (brutus yg ngetop) Marcus Junius Brutus, dua2nya adalah sepupu jauh JC.
Yg pertama adalah yg dikenal sebagai orang yg disayangi oleh JC dan yg kedua adalah Brutus yg ibunya menjadi "simpanan" JC.
kalo bisa mendapatkan "...Cicero's collected correspondence..." mungkin bisa menambah perspektif lagi.....
di dalamnya ada beberapa surat pribadi brutus yg pertama pd saat terakhir hidupnya...
saya belum dapat ....ihihihihihihhhih
Harusnya kita membuat postingan artikel baru niiihh, ntuk membahas hal ini..
Menarik sekali....
maksud saya "ada di surat2 cicero tersebut" bukan menunjukan keterlibatan dia ...perspektifnya...
apakah sebaiknya tidak dibicarakan di tempat lain...tidak disini.....sudah jauuuuh...out of topic ..kita...ihihihihihihihihihihihihihihih
nanti momod ....bingung lageee.......
ok...nanti yah..
hahahhahahaha.....ROME (HBO) ituh.....hahhahaha...selain detil2 keadaan sosio kultural film tersebut .....saya lebih menganggapnya seperti film2 "Batman" "Ironman"....ihihihihihihihihihihih.....terlal u subyektif....film itu....sudah dijelaskan di wikiped juga ada....
hihihihihihih
hari ini kita belajar sejarah
maaf absen dulu tadi...ihihihihihi
halo lagi...
Seperti anda bilang sendiri kan...bila ada bukti tertulis , bisa menjadi obyektif sejarah....bukan????
karena kan tidak berkaitan langsung dng JAGOAN nya,.....ihihihihihihihihihi akan tetapi situasi dan kondisi, disaat JAGOAN itu tercatat gerak geriknya dalam sejarah.
yg walaupun begitu, apabila kita membicarakan sejarah, ......sangat tergantung pihak / perspektif mana / siapa yg menuliskannya ,...bukan begitu bukan.....
OOT:
BTW gue suka banget ...tuh ama ROME, season 1 atau 2 yaaahhhh... episode (lupa).....setelah JC tewas...lalu kemudian Mark Anthony beserta Octavian berunding dng Brutus dan satu lagi lupa.....KEREEEEEE......!!!!!!
yaz
hihiihihiihihihihihii
hmm
Apakah Anda merupakan dukungan grup sania terhadap JK win?
http://www.mediai…anjutkan-SBY
Sebagaimana dalam kehidupan kita keseharian, kita sendiri pun sebenarnya bertanggung jawab terhadap kejadian2 negatif yg terjadi dimana2. Yg mungkin sering kita semua kecilkan esensinya.
ihihihihihihihihihihihihih ihihihi
yang jadi masalah adalah bahwa mereka mencari figur seorang pemimpin yang cepat dalam mengambil keputusan dan tepat serta tanggap dalam menghadapi permasalahan yang polemik dinegara ini...
Mengenai IMF kan pa boediono masih menjabat sebagai direcotr IMF...so...? kita belum berani mengatakan say No to IMF...
IMF...IMF...IMF...IMF...IMF...IMF
hihihi
: D
Apa ada kemungkinan SBY akan mengganti calon wakilnya itu karena 'washington' melihat boediono sebagai calon neolib yang akan 'berkhianat?
Silahkan login untuk memberikan pendapat