Bahasa Politik 8
Kamis, 25 Jun '09 05:30
Sebagai seorang praktisi manajemen, saya sangat paham bahwa bahasa manajemen itu haruslah spesifik, terukur (measurable), atau dalam istilah lain, harus definitif. Kalau tidak, maka setiap pihak bisa menafsirkan suatu istilah "sesuai dengan iman masing-masing", dan ini tentu kurang bagus untuk perjalanan sebuah organisasi. Walaupun manajemen membutuhkan "creative thinking", tetapi tetap ada koridor kebijakan di dalam organisasi yang definitif dan jelas, sedapat mungkin menutup peluang multi-interpretasi. Inilah prinsip manajemen yang disampaikan oleh pendekatan balanced scorecard, ataupun pendahulunya seperti management by objectives. Intinya begini, we could not manage what could not measured.
Sementara itu, sepanjang pengamatan saya, ranah politik memiliki paradigma yang berbeda. Bahasa politik ternyata penuh dengan retorika, "istilah-istilah yang menakjubkan", membuat orang terpesona, dan seringkali (saya pernah melakukan survei kecil-kecilan) maknanya tidak dipahami. Tujuannya bukan untuk membuat orang lain paham, tetapi justru membuat orang lain terpesona (walaupun dengan alasan yang tidak jelas). Apakah benar bahwa bahasa politik itu demikian? Wallahualam.
Ada yang bisa memberi saya pencerahan? Terima kasih.
Tag: bahasa politik
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Arie: Penting
-
Alvin Yudistira: Penting
-
daengrusle: Penting
-
mpokb: Menarik
-
kakilangit: Penting
-
Pedy: Biasa
-
hamatamu: Biasa
-
indira: Menarik


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Kedua, untuk istilah2 itu sebenarnya sudah dijabarkan oleh McGee pada tahun 1980. Istilah seperti "ekonomi kerakyatan","kemakmuran","lebih cepat, lebih baik","good governance" dan lain2nya itu lah yang kini disebut Ideograf. Ideograf inilah yang sebenarnya sangat fleksibel. Karena wujudnya hanya sebatas normatif; dan implementasinya bisa bermacam2. Contoh: pada waktu kampanye presiden Amerika Serikat; Obama dan McCain memakai ideograf "Peace". Tetapi, ketika ditanya bagaimana implementasinya, mereka berdua mendekati "peace" dari sudut yang berbeda, terlabih dalam hal perang Irak. Obama, pada waktu itu, berkata bahwa Irak hanya bisa damai apabila pasukan AS ditarik. McCain pada waktu itu mendefinisikan "peace" atau "damai" sebagai kemenangan atas pemberontak di Irak.
Semoga komentar saya bisa membantu mas. Saya harap kampanye presiden di masa depan bisa lebih dari sekedar penyajian konsep, tapi ada wujud execution plan nya yang rill..
trims.
Soal ukuran, ya beda ranah beda rujukan. Di manajemen, bos bilang, "Kinerja Anda bagus" atau "Penjualan kita sukses" itu antara lain diukur dari dokumen target. Diukur dari patokan di dalam.
Di politik mah bisa lari ke sana-sini. Tetapi ukuran, minimal rujukan, kan bisa diminta. Misalnya pernyataan "mayoritas menghormati minoritas", itu apa ukuran, atau apa komitmennya, atau malah buktinya, bisa ditagih.
Adapun dalam diplomasi, nuansa (nuance) memang kaya tetapi bisa dipahami bersama oleh masing-masing pihak. Pernyataan "pada dasarnya kedua belah saling memahami masalah masing-masing dan sepakat untuk meningkatka dialog" kadang diringkas sebagai "sepakat untuk terus berembuk" -- entah kapan mulainya, dan apa hasilnya.
bukankah ia juga sedang 'menjual' sesuatu?
we could not manage what could not be measured
Silahkan login untuk memberikan pendapat