Lepasnya Jilbab Istri JK-Wiranto (Belajar dari Modernisme Politik PKS) 18
Kamis, 25 Jun '09 02:38
Politik aliran telah mati. Keyakinan itu sempat diragukan oleh beberapa teoritisi-teoritisi politik kita. Tetapi fenomena yang terjadi pada pemilihan Presiden sekarang ini membuktikan bahwa hal itu benar adanya. Salah satu pilar politik aliran yaitu keyakinan agama telah rubuh di Indonesia. Ini tentu saja menggembirakan, bukan hanya karena ini menggambarkan betapa fanatisme beragama telah mulai luntur, tetapi juga menunjukkan kemajuan pola pikir masyarakat kita. Orang-orang tidak lagi mau terjebak dalam simbol-simbol keagamaan yang biasanya begitu mudah memancing opini publik. Mereka lebih rasional dalam memilih. Matinya politik aliran ke arah pilihan-pilihan rasional tentu saja dipicu oleh pragmatisme partai-partai politik yang tidak sakleg memegang ideologi partai demi kebutuhan politik mereka selama lima tahun ke depan. Mungkin pragmatisme politik ini bisa diperdebatkan, tetapi cara pandang partai politik yang cenderung semakin rasional adalah sebuah kemajuan. Maka tema-tema seperti syariat Islam, piagam Jakarta, Perda-perda bermasalah yang melaksanakan hukum Arab di tanah Indonesia tinggal menunggu waktu saja untuk dilupakan oleh partai politik Islam dan para pengikut mereka.
Saya, adalah orang yang dari dulu setuju dengan perlunya pemisahan negara dan agama. Saya menjunjung tinggi kebebasan berpikir seluas-luasnya. Termasuk tafsir ulang terhadap agama-agama yang diimpor ke Indonesia. Saya juga adalah orang yang setuju bahwa jilbab misalnya, adalah budaya Arab yang tidak memiliki konteks yang tepat untuk diterapkan di Indonesia. Makanya saya sangat bergembira pada saat "jualan' jilbab istri JK Wiranto mendapat tanggapan sepi di tengah masyarakat kita. Lebih gembira lagi mendapati ini juga tidak menggoyahkan dukungan parpol Islam yang dulu sensitif sekali dengan masalah perempuan. Tampaknya bagi kader-kader partai Islam pendukung SBY -Boediono terutama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) hitung-hitungan rasional politik mereka tidak boleh rusak oleh masalah ideologi. Lunturnya ideologi politik PKS yang dulu sangat rentan oleh politik tentunya sejalan dengan dinamika politik yang membutuhkan inklusivisme keyakinan. Pada titik ini, saya yang dulu "memusuhi" segala sesuatu yang berbau PKS, (walaupun banyak berteman dengan beberapa petinggi partai) harus memberikan salut dan tabik kepada PKS. Kader-kader progresif modern yang sering menjadi sparing partner diskusi dengan saya ternyata mampu meng-Indonesia-kan partai ini. Hitung-hitungan posisi strategis dalam kabinet, perhitungan politik yang matang dan menjaga hasrat untuk menjadi partai berkuasa jauh lebih penting dibandingkan hanya dan hanya masalah jilbab belaka.
Arah pragmatisme positif politik PKS ini bukannya tidak saya duga dari awal. Perkenalan dan perkawanan saya dengan beberapa orang petinggi partai membuka mata, bahwa partai yang mengusung dakwah ini perlahan akan berubah. Satu hal yang dulu saya dan beberapa kawan lupa tentang PKS yang kami anggap sebagai kekuatan setan dari padang pasir ini adalah bahwa orang-orang yang mengawaki partai ini juga manusia biasa. Kita bisa saja takut dengan fanatisme bersenjata Sayyid Quthb dan Hassan Al Banna lewat gerakan Ikhwanul Muslimin yang coba diterjemahkan di Indonesia oleh beberapa orang dalam jalinan gerakan dakwah. Tetapi mereka tetaplah manusia biasa yang lebih mencintai kehidupan dari pada kematian. Mereka tetaplah insan-insan Indonesia yang cerdiknya bukan main. Mereka tahu bagaimana cara masuk dalam chaos politik aliran. Mereka membelah umat untuk mendapatkan simpati. Mereka berhasil membius mahasiswa-mahasiswa dari kampus sekuler untuk menjadi kader militan. Mereka berhasil menciptakan sistem sel sehingga para kader begitu patuh dan taat pada setiap ketentuan partai. Maka dulu saya pernah berkelakar pada seorang kawan, tampaknya PKS berhasil bikin tentara yang disiplin dan taatnya melebihi hierarki TNI. Walaupun telah menjadi massa, kader inti PKS tetap bisa mengontrol diri. Tetap saja semua kendali partai di tangan satu orang yaitu Al Ustadz Hilmi Aminuddin sedangkan gerak partai dikomandani orang-orang kepercayaannya Anis Matta, Fakhri Hamzah dan "Uda" Irel. Lebih dari dua puluh tahun membesarkan jaringan dakwah ini, Hilmi telah menjadi nabi di PKS, ucapannya adalah sabda. Kepemimpinan partai hanyalah formalitas belaka. Itulah kekuatan kasat mata PKS sehingga apapun pilihan politik mereka (bahkan dengan tidak mengindahkan dua orang perempuan berjilbab hehehehe) pasti akan diikuti oleh para kader tanpa perlu bertanya, tanpa perlu banyak berteori.
PKS adalah Indonesia dan bukan Islam. Sebab Islam hanyalah jargon, sedangkan jilbab, celana bahan dan penampilan khas lainnya adalah kreasi pemikiran jenius untuk memantapkan identifikasi diri kader yang militan. Saya bertemu dengan kawan-kawan petinggi PKS bukan di masjid, warung lesehan sederhana atau di kantor DPP mereka yang tampak seperti Ruko Sederhana di Mampang. Saya bertemu dengan beberapa di antara mereka di salah satu resto di Grand Indonesia, Hotel Nikko, salah satu kamar di hotel Shangrilla dan lobby Hotel Sheraton yang jadi favorit dari salah seorang yang bertanggung jawab terhadap pendanaan politik partai. Tidak seperti kebanyakan kader mereka yang teguh (terjebak) dalam padanan pakaian ala kadarnya, orang-orang ini tahu memadankan diri. Mereka mengenakan pakaian yang beberapa di antaranya jauh lebih mahal dibanding yang dikenakan oleh pengusaha kelas atas kita. Mereka tidak membawa Al Quran sebagaimana gambaran ketakutan saya, tetapi kuitansi dan berkas politik yang harus ditandatangi. Orang-orang ini yang menjadi mesin utama partai telah lepas dari segala sesuatu yang berbau simbol keagamaan. Mereka menyukai yang enak-enak, mereka tidak makan berjamaah. Mereka punya hasrat untuk berkuasa yang tidak lebih kecil dibanding partai lain. Mereka tahu bagaimana mengelola uang negara sehingga pos anggaran partai bisa diamankan. Mereka menyukai perempuan, cara mudahnya lewat poligami. Ini tentu lebih elegan dibandingkan punya perempuan simpanan. Walaupun pada hakikatnya ini sama saja. Mereka suka mobil bermerk, harga tidak pernah jadi masalah bagi mereka. Tentu penampilan ala ustad kampung dengan motor butut tidak akan cukup membuat mereka terhormat pada saat bertemu dengan pengusaha, politisi lain atau partner kerja. Mereka tidak canggung dalam diskusi, penuh percaya sebab didukung dengan penampilan sederhana. Inilah modernisme ala petinggi PKS yang membuat saya yakin bahwa mereka bisa berubah. Dan hal itu sekarang terbukti.
Banyak yang mempertanyakan komitmen PKS terhadap identitas Islam mereka, saya tidak hendak membantu kawan-kawan PKS , tetapi seandainya pertanyaan ini diajukan kepada saya, maka saya akan menjawab, inilah realitas politik modern Bung. Jalan panjang yang telah dibuka oleh PKS untuk menciptakan kader yang patuh dan mudah dibikin mengerti terhadap tindak tanduk petingginya adalah sebuah keberhasilan partai kader. Makanya saya sangat yakin, bahkan seandainya nanti PKS menanggalkan identitas ke Islaman sebagaimana pilihan rasional mereka saat ini mendukung dua orang tokoh sekuler modernis SBY-Boediono, para kader tetap tanpa perlu bertanya akan mengikuti para pimpinan mereka. Sebab, satu hal yang tidak disadari oleh partai konservatif lain adalah, keberhasilan PKS membius para kadernya untuk mensejajarkan kepatuhan pada Yang Kuasa dengan kepatuhan kepada Kader Inti. Itulah yang membuat saya tidak bisa bohong, perlahan saya jatuh cinta dengan PKS, karena mereka mampu menerjemahkan konsep Ketuhanan ala Syech Siti Jenar menjadi kekuatan politik modern. Pada titik ini saya berani memprediksi, pada Pemilu 2014, kawan-kawan saya, petinggi PKS yang progresif akan mampu mengubah haluan partai ini menjadi partai berbasis Nasionalis terbuka dan bukan lagi partai Islam belaka. Percaya pada saya, tidak akan pernah ada gejolak dalam partai, sebab mereka punya konsep jenius menciptakan ilusi indah bagi kader militan sebagaimana saya paparkan di atas.
Jadi jilbab bukanlah masalah ideologis. Jilbab hanyalah masalah kecil dibanding realitas politik Indonesia. Bagi PKS, jilbab dulunya hanyalah kreasi politik jenius untuk menciptakan identifikasi diri spesial bagi kader-kadernya. Sehingga mereka memiliki kebanggaan diri sebagai manusia pilihan Tuhan yang akan melakukan apa saja demi orang-orang yang telah menunjukkan jalan itu pada mereka. Hari ini, Al Ustadz Hilmi Aminuddin mengajarkan kepada semua praktisi dan teoritisi politik Indonesia bahwa kesabaran membina kader dengan cara-cara yang tidak biasa, di luar mainstream, telah membuahkan hasil. Maka bersyukur lah kita, sekian tahun diberikan pendidikan politik yang penuh liku oleh PKS.
Ini seharusnya menjadi pelajaran bagi partai konservatif untuk tidak lagi bermain dalam ranah politik aliran. Jilbab bukan lagi sesuatu yang penting bahkan bagi partai sekaliber PKS. Itu sebabnya Jilbab tidak akan pernah (lagi) menciptakan sentimen politik di Indonesia. Inilah kegembiraan terbesar saya sebagai putera Indonesia yang tidak ingin rusak oleh adat padang pasir. Karena jilbab ternyata tidak menarik massa muslim lagi, saya ingin menantang istri JK-Wiranto, bagaimana kalau jilbab mereka lepaskan; akankah suara akan berubah?
Terkait:
-
Jualan Jilbab
Sabtu, 30 Mei '09 15:12 -
STOP, Goddammit!
Kamis, 28 Mei '09 14:09 -
PKS jadi Musuh Politik Penguasa?
16 jam yang lalu
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
GA: Menarik
-
Forlorn Hermit:
-
pujangga:
-
alakazam: Lucu
-
ErwienSamantha: Lucu
-
Mas Paman: Menarik
-
di-re-mo:
-
Herman Saksono: Menarik
-
daengrusle:
-
mpokb: Bagus
-
Pedy: Biasa
-
harry:
-
hamatamu: Biasa
-
Ibed sembiring: Inspiratif
-
indira: Biasa
-
MFH: Menarik
-
aramichi:
-
Bocah Angon:
-
muhipro: Keren
-
sulami: Bagus
-
cosmiclawyer: Menarik
-
Arten®: Biasa
-
gunawanrudy: Menarik
-
anti-fenomena:
-
Wonggantenk:
-
masardi:
-
Maximillian:


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
7/10 lucu...
Bagi orang lain bisa ditafsir dari sisi fungsi dan keindahannya semata, sementara bagi orang yang lainnya lagi bisa ditafsir dari sisi simbolisnya.
Manakah yang benar? Ini soal tafsir. Kadang membingungkan. Bisa saja saya pakai kaos bergambar Che, atau Mao, karena menurut saya secara grafis keren. Tetapi bagi orang lain, bisa saja saya dituntut untuk punya spirit bahkan jalan hidup "kiri".
Menjadi masalah ketika kaos saya ditarik ke urusan yang bukan wilayah saya. Orang Koramil dan Kodim akan mencatat sebagai sesuatu yang harus diawasi. Lantas orang lainnya lagi akan membawa foto saya ke kelompoknya, "Kita punya satu teman lagi..."
Ketika suatu saat saya bosan memakai kaos itu makan orang Koramil tak mau mengoreksi catatannya, dan orang yang merasa saya jadi temannya jadi kecewa, "Tuh dia sekarang pake kaos gambar dollar Amrik."
[....Jalan panjang yang telah dibuka oleh PKS untuk menciptakan kader yang patuh dan mudah dibikin mengerti terhadap tindak tanduk petingginya adalah sebuah keberhasilan partai kader....]
saya meramal, jalan panjang yg dibentang itu kini rusak dimakan keserakahan...lihatlah nanti 2014, bangunan simpati akan kesantunan mereka akan rubuh...
menohok....
Tulisan ini beda..dia mencoba memberikan pada pandangan berbeda. Ini bukan sekedang Jilbab ditantang untuk dibuka..tapi bagaimana menulis melihat sudut pandang berbeda...yang mungkin bagi banyak orang itu diluar kelaziman atau jadi masalah.
Hebar rl saya sedang dengan tulisan anda.
memang mereka dihadapkan oleh pilihan yang sulit saat ini. tetapi hal itu idak merubah saya menilai kader2nya
Mungkin saya akan rating artikel ini menarik kalau saya tidak membaca respons terhadap artikel ini di kompasiana :
http://public.kom…politik-pks/
Di sana majoritas respons adalah antipati, karena tulisan terkesan sekuler dan meremehkan publik yang masih menganggap jilbab bukan sekedar simbol.
Karena berbau reverse psychology lagi dengan modus operandi mirip dengan artikel GA saya akhirnya merating bosenin.
Silahkan login untuk memberikan pendapat