Kebebasan Berpendapat, Kebablasan Berpendapat, dan Politikana 68
Selasa, 30 Jun '09 15:41
32 tahun kebebasan berbicara dan berpendapat dibungkam dan ditekan. 32 tahun informasi dibatasi. 32 tahun masyarakat dikendalikan dengan teror dan ketakutan. 32 tahun masyarakat dininabobokan dengan kemudahan ekonomi yang bertopang pada pondasi yang keropos.
Tahun 1998 merupakan tahun perubahan. Reformasi. Bebas. Rezim Soeharto yang kerap dikenal sebagai Orde Baru akhirnya tumbang oleh people power dari mahasiswa dan elemen-elemen masyarakat lainnya. Setelah itu, kebebasan berbicara dijamin. Kebebasan berekspresi dijamin. Keran keterbukaan informasi dibuka selebar-lebarnya. Media massa yang dulu dibredel mendapatkan kembali haknya. Masyarakat tidak takut melontarkan kritik kepada pemerintahnya, entah melalui surat kabar, demonstrasi di jalanan, hingga dunia world wide web.
11 tahun sudah berlalu dari tahun 1998. Sekarang tahun 2009. Sebulan lewat beberapa minggu yang lalu, peringatan tragedi Mei 1998 berlangsung. Meskipun katanya sekarang ini Orde Reformasi, tetapi pengusutan kasus-kasus pelanggaran HAM belum selesai. Wangi korupsi, kolusi, dan nepotisme masih tercium di Senayan. Tetapi bagaimana dengan kehidupan masyarakat pada umumnya?
Informasi rasanya tak pernah habis di kalangan masyarakat akar rumput. Berbagai macam tayangan infotainment di televisi, surat kabar yang beritanya tidak diketahui kebenarannya, tayangan-tayangan sinetron, berita, iklan dari segala macam sumber, gosip jalanan, obrolan di warung kopi... panjang sekali daftarnya apabila saya teruskan. Dan di dunia maya, obrolan tentang politik pun selalu ramai menjelang Pemilu. Dari yang kampanye terang-terangan, kampanye terselubung, kampanye positif, kampanye negatif, black campaign, sampai adu ad hominem dan ad nauseam antar pendukung.
Sebagai wadah pendidikan demokrasi 2.0, saya tahu Politikana mendukung sepenuhnya kebebasan berpendapat dari semua anggotanya. Di kolom biru sebelah kiri, yang bertuliskan "tentang politikana", jelas sekali tujuan politikana : "Tempat buat kita ikut bicara dan berbuat tentang "politik" dalam arti yang luas".
Dan sebagai tempat bicara dan berbuat tentang politik dalam arti luas, Politikana tentu memiliki aturan main tersendiri, apalagi Politikana memposisikan diri sebagai jurnalisme publik, yang artinya semua hal yang ditulis oleh anggota Politikana harus berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan oleh anggota yang menulisnya, baik berupa artikel maupun komentar. Saya sadar, sebagai anggota Politikana, keterlibatan saya di website ini diukur dari seberapa aktif saya dan seberapa berkualitas artikel saya melalui sistem rating dan pamor. Bahkan sekarang komentar pun ada ratingnya, thumb up dan thumb down. Hal ini tentu adalah masukan dari anggota Politikana dan diwujudkan oleh tim pengurus Politikana.
Sayangnya, diskusi sehat dan berbobot yang dahulu sempat mengisi halaman demi halaman artikel dan komentar di Politikana, semakin surut seiring dengan mendekatnya Pemilihan Presiden Langsung Putaran Pertama tahun 2009. Tuduhan tak berdasar di komentar, artikel-artikel yang menyerang calon tertentu tanpa memberi porsi yang berimbang, kampanye di artikel-artikel, saya tidak heran apabila banyak member sepuh Politikana yang menyatakan hiatus sampai Pilpres selesai.
Eforia kebebasan berpendapat yang dijamin dalam konstitusi tertinggi dan juga dijamin dalam Ketentuan Layanan Politikana, akhirnya mewujudkan dirinya dalam sebuah kebablasan berpendapat yang benar-benar kebablasan. Tuduhan yang dibantah sering kali justru beralamat pada tuduhan baru. Artikel yang mengangkat masalah penipuan dan sebagainya yang dilakukan tim sukses, tetapi tidak disertai fakta dan bukti yang memadai. Diskusi yang berakhir pada perang tuduhan, perang ad hominem, dan perang ad nauseam.
Saya tidak mengklaim bahwa diri saya tidak ikut berperan serta dalam hal ini. Saya menikmatinya, dan jujur ini adalah salah satu guilty pleasure saya selain belanja gila-gilaan. Tetapi saya ingin kita semua sadar, sebagai penghuni Politikana, bahwa Politikana punya aturan main sendiri, Politikana punya etiket dan tata cara sendiri. Tinggalkan etiket lama anda di tempat lama anda, dan pelajarilah etiket baru yang anda temukan di tempat baru.
Semoga bermanfaat.
Gambar ngembat di Google.
Tag: politikana, Pilpres, ad hominem, tuduhan, curhat, etika, putaran satu, putaran dua, putar putar, ad nauseam, fitnah, guilty pleasure, curcol, dipaksa nulis, tata cara, kangen Politikana yang dulu
Terkait:
-
Politikana yang Semakin Liar
Jumat, 9 Okt '09 11:45 -
Biar Negatif, Asal Ngetop!
Jumat, 3 Jul '09 12:05 -
FOX dan Peluang Bisnis Politik
Kamis, 2 Jul '09 01:24
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
pujangga: Menarik
-
spidolhitam: Bagus
-
daengrusle: Menarik
-
hamatamu: Bagus
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
Chairman Mao: Menarik
-
dimsci: Bagus
-
tkp: Bagus
-
yusro: Penting
-
jeung Medya: Menarik
-
Apprayo: Menarik
-
MFH: Bagus
-
Nenda Fadhilah: Menarik
-
gunawanrudy: Lucu
-
heriyadi: Menarik
-
LCFR: Menarik
-
Orang Marginal: Menarik
-
Riyono: Terkini
-
Logical Fallacy: Bagus
-
Red-White Porridge: Keren
-
boiga: Bagus
-
Herman Saksono: Inspiratif
-
MosheDayan: Menarik
-
gsvir: Menarik
-
afreeze: Bagus
-
Peminpin Tidak Besar Kaum Pendidik Anak Kurang Ajar: Menarik
-
rif: Menarik
-
Wonggantenk: Menarik
-
wong gareng: Bagus
-
lat: Penting
-
taraman : Menarik
-
Harrie: Penting
-
Ardani P: Penting
-
Pedy: Menarik
-
Alexkib: Inspiratif
-
Aries: Penting
-
YS: Penting
-
dony: Menarik
-
republikfoto: Penting
-
Airin: Bagus
-
mufa: Penting
-
Tefran: Menarik
-
BD cafe: Biasa



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
"coba ganti judul tapi tetep pake POLITIKANA"
"" dan jujur ini adalah salah satu guilty pleasure saya selain belanja gila-gilaan. ""
dan lebih salah karena ga pernah bagi2 belanjaan
Emangnya mau dibagi?
makanya ayo tanam pohon yang menyejukkan, maksudnya, nulis soal lingkungan aja. soal lingkungan juga masuk kategori diskusi politik dalam arti luas kan ya?
I have fun, a great time here spending my time, reading and all
but keep it safe
kayak lihat tackling keras waktu pertandingan bola, seneng aja liat orang kerja keras dan komitmen, tapi kalau dah berantem, meludah, narik-narik kaos .... ga seru lagi deh
[...Sayangnya, diskusi sehat dan berbobot yang dahulu sempat mengisi halaman demi halaman artikel dan komentar di Politikana, semakin surut seiring dengan mendekatnya Pemilihan Presiden Langsung Putaran Pertama tahun 2009...]
wah, saya yg nubie disini jadi ngerasa bersalah, jangan2 salah satu nya adalah gw....
anyway, sebagai sebuah produk, poilitikana tentu juga punya life cycle, sesuai dengan momen-frame yang ada. Saat ini politikana-er lagi euphoria soal dukung mendukung pilpres, salah satu caranya ya nulis postingan soal ini.
mari melihatnya sebagai orang tua (hehe), ini adalah masa pembelajaran demokrasi. pada saat life cycle nya ada di titik jenuh, tentu yg euphoria akan minggir ke samping...
btw, saya hampir yakin, postingan ini akan nampang di kolom PILIHAN MODERATOR..secara isi postingan bernas dan keren, juga ada kata POLITIKANA nya..
*ngepak barang*
hihihi...*komen ga penting*
Perhatikan lingkungan anda, masa anda tidak bisa tahu kalau Politikana punya etiket juga? Kalau anda tidak bisa melakukannya, jadi pembaca dulu deh...
Tai Chi Master
Satu hal yang perlu anda tahu, anonimitas adalah hal yang dihargai di sini, jualan anda tidak laku...
Komentar! Ini kan gue nulis atas paksaan elo!
I can't be more awed... _ _" gue yang nulis aja gak tahu berapa kali gue ngetik kata itu...
sampai sekarang si rachel itu ga memenuhi janjinya utk kasih screenshoot. hehehe
http://tinyurl.com/nxvssw
hmm...mikir2 mesti meng-edit postinganku soal tips membuat judul di http://politikana…i-politikana untuk memasukkan poin nomor 6: ada kata politikana nya di judul tulisan..
Saya selalu suka dengan tag2nya
Terima kasih...
bukankah dalam Pollitikana orang dinilai dari apa yg ditulis? mungkin disinilah pencantuman nama asli mempunyai arti penting.. yah siapa tau jadi punya beban moral
Ingat tulisan di atas? Itu yang saya sebut jualan...
Proses yang terjadi di sini selalu menarik--meski memang wajar. Dan saking menariknya itu, menjadi lurker sekarang ini lebih pas bagi anak ini.
Saking sudah banyak artikel "kebablasan"Ev saja sampai ga tahu etiketnya gimana..
Tapi memang ini perlu...sebelum budaya kebablasan itu menjadi nilai-nilai para anggota politikana. Mungkin kita bahas saja...
arisan yuk...soal etiket.
"harus belajar SEO"
Thanks ya Sri Kirana ...
Selama ini jarang nulis lagi karena baca komen2 yang nggak penting itu malah bisa menurunkan kecerdasan...
Sepertinya sekarang dunia diluar lebih cerah dari politikana padahal dulu politikana lebih cerahan lagi... (sori - Curcol)
namanya juga proses belajar..
Sekarang lagi nulis2 disini
http://laurier.ngerumpi.com/
yang mau off dulu kesitu aja
asik lho godain ibu2 sama kang tutur hahaha..
jadi tau deh
Doyannya ibu2 ya.. hmmm...
Makanya saya tulis di tagnya kan? curcol...
Wah, menarik juga tuh ngerumpinya. Lumayan buat melepas lelah.
huahaha...
Sri Kirana
katanya mau nulis.. tapai banyak yang 17 tahun keatas lho. ( Halah saya pake bahasa yang dulu saya benci)
hamatamu
tongat
iya.. melepas lelah di politikana gitu?
Dipikir2 gak jadi deh, abis ibu-ibu kayaknya kurang demokratis kalau dibanding bapak-bapak...
hamatamu
Gue no comment aja deh, no comment...
oh jadi penasaran kondisi sebelumnya itu seperti apa.
What an irony, padahal katanya sudah tidak mau berdebat dengan saya lagi, apakah ini bisa dikategorikan menjilat ludah sendiri?
Ah, guilty pleasure itu tidak salah sekali...
buatku, makin malas.. hihihi
Setuju non...Message and not the messenger.
Hehehe....Padahal dulu nona satu ini sebel banget sama anonimitas & klonengan... CMIIW
Saya sebel sama klonengan yang dibuat oleh orang2 untuk mengesankan kalau pendukungnya banyak dan malah ngejunk...
Subroto
Ingin tahu dengan siapa kita bicara itu wajar kan?
apa boleh buat, kita memang masih dalam tahap belajar. belajar berselisih dengan etika dan argumentasi..
salam politikana, teruskan tulisan2 berbobot, demi pencerahan Indonesia kedepan LEBIH CEPAT LEBIH BAIK, demi PRO RAKYAT..
kikikik.. curcol iklan, asal jangan kayak FR, Politikana jadi ajang Iklan aja pagi2 pasang foto diri 2014 capres, emang bisa apa? dengan jargon kaum muda..ingat orang2 politikana well educated semua..Iklan kayak gitu ga laku...wakakak..
takaran kebebasan diukur dari ekuilibrium diskusi forum. tidak lewat acuan dan batas2 kelihatan atau yang terkonsep dengan namanya kebablasan.
Apakah anda founder, pemilik atau pemodal Politikana ? Sepertinya anda memposisikan diri seperti itu, kalau memang benar sich mungkin tidak menjadi masalah, karena itu adalah hak anda.
Tetapi jika anda juga sama seperti yg lainnya, hanya anggota, alangkah baiknya tidak mengadili apalagi merasa anda lebih lama dari yg lainnya, terutama yg anda tuduh tidak beretika sesuai yg berlaku di Politikana, karena pendatang baru dari forum yg lain.
Semua sayang, suka dan peduli thd Politikana, selama Politikana masih bebas sebebas-bebasnya untuk mengekspresikan pendapat dan tentu selama Politikana belum ditutup oleh pemiliknya, karena mungkin merasa tujuan, misi dan visi yg diinginkan untuk menSEPILISkan Indonesia gagal.
Jadi pada dasarnya semua sama, tinggal dari mana sudut pandang anda terhadap anggota yg lain, yg mungkin tidak sefaham dengan anda.
Silahkan login untuk memberikan pendapat