Indomie Bersuara! 8

Rabu, 1 Jul '09 09:16


KEMARIN, waktu menikmati seporsi Indomie Goreng sembari mbaca beberapa opini miring di Politikana seputar Indomie (dan SBY), saya bergumam, "Apa benar dengan SBY mengangkat Indomie sebagai alat kampanyenya, ini mengindikasikan sebuah neo-librealisasi?"

Si Indomie yang sedang saya santap itu tiba-tiba bersuara.

"Mas, Mas, FYI aja yah, Indomie itu, meski sudah memakai mesin-mesin canggih, tetap saja, Indomie membutuhken lebih banyak tenaga kerja. Indofood sebagai tempat kita-kita bernaung saja, punya karyawan 64.513 orang lho, coba bandingin dengan Indosat, perusahaan yang benar-benar capital-intensive, karyawannya cuma 7.356.

Jika ada yang berpendapat bahwa dengan jingle-nya SBY menggunakan Indomie hanya akan menguntungkan Indomie saja, tolong disanggah, itu tidak sepenuhnya benar. Memang bisa jadi jika Indomie meraih keuntungan lebih besar akan melakukan pengadaan mesin-mesin yang lebih canggih, tapi justru dari situlah, dampak positifnya bakal dirasakan banyak orang. Dengan teknologi pengemasan yang serba canggih misalnya, akan membuat mie tahan lama dan bisa menjangkau seluruh pelosok Indonesia. Ini akan berakibat pada kebutuhan akan adanya pabrik pemasok kardus, pembuat bungkus plastik, orang-orang periklanan, lalu bagian transportasi membutuhkan lebih banyak lagi supir, gudang mie membutuhkan banyak lagi penjaga, distributornya juga membutuhkan penambahan ahli pembukuan, dan lain-lain.

Nah, makin membutuhkan tenaga kerja lebih banyak 'kan? Dan jangan dilupakan, para petani cabe pun ketiban berkah jika Indomie makin berkembang. Dan tidak menutup kemungkinan pula, Indomie melakukan inovasi untuk tidak lagi memakai gandum impor sebagai bahan dasar mienya, yang mana jika hal itu terjadi, akan lebih banyak lagi tenaga kerja yang terlibat dan petani-petani dalam negeri yang mendapat berkah."

Saya manggut-manggut saja mendengar penuturannya, dan kembali melahap mie yang seenaknya main interupsi itu.

Setelah sadar dengan apa yang baru saja saya dengar, saya tercekat, menelan ludah, dan perlahan menatap Indomie yang sedang dalam masa pembantaian saya itu. Si Indomie yang kriuk-kriuk itu menatap saya sambil mrenges,

"Napa, Bang? Ane ganteng, yah, pake natap-natap gitu. Hihi"

.
.
.

"SEEETAAAAAAAAAAAAANNN!!!"


Tag: indomie, why so serious, opini surealis, hotwin, no offense

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Dh2L 0 0
    apakah akan menjadi makanan alternative,kajian lebih dalam Masuk Kantong kiri keluar kantong kanan,Pada dua sisi.Makanan Pokok Masuk kantong kiri keluar kantong kanan yang tinggal Bakteri uang mau makan cuci tangan dulu ya NAk,,,,,,
    Riyono 0 0
    Indomie Setan?
    just_me 0 0

    indomie atau plesetannya
    dimsci 0 0
    belum ditambah lagi dengan warung2 InTerNet+roti bakar yang makin rame pengunjung,. : D
    Sri Kirana 0 0
    Huahahahahaha, segerrr : D : D : D
    dimsci 0 0
    ketipu mulu ni tiap baca komen Dh2L,.
    dibaca bener2,.mencoba memahami,.baca lagi 2-3 kali,.tetep gak ngerti,.kayak bahasa program komp,.
    Alexkib 0 0
    Kalau begitu bisa jadi kena UU antimonopoli dong,

    gimana dengan Salamie, mie sedap atau miesehati-nya CNI.

    Gimana nasibnya Mie ABC dan Mie ing bagito, atau bagaimana nasib tukang Mie ayam di pinggir jalan yang menganut ekonomi kerakyatan ?

    Tapi yang paling seneng, tukang Indomie rebus yang biasanya bareng sama warkop
    Dh2L 0 0
    o la... la.....pertukaran idea di warkop ya Tapi yang paling seneng, tukang Indomie rebus yang biasanya bareng sama warkop.

    Silahkan login untuk memberikan pendapat