Review Debat Capres Final 8

Jumat, 3 Jul '09 12:15

Sang Moderator, Pak Tikno, memang mampu memancing SBY dan JK untuk saling berdebat. Akan tetapi, Aviliani raise the bar terlebih dahulu, sehingga debat capres terakhir ini seperti mengulang debat-debat sebelumnya. Tentu, panggungnya lebih megah dan kemasannya lebih baik, tapi saya kurang merasakan kesungguhan para capres untuk menawarkan sesuatu yang baru.

Sepanjang debat, Megawati terus-menerus mengulang mantra “pada waktu saya jadi presiden dulu”. Saya yakin Ibu Mega adalah nasionalis sejati. Saya juga yakin, seperti kebanyakan orang Indonesia, Bu Mega merasakan kemakmuran Indonesia masih jauh di angan-angan. Permasalahannya, Megawati terlalu banyak fokus pada permasalahan. Kampanye Mega Prabowo terjebak dalam kampanye negatif yang berlarut-larut hingga kehabisan porsi untuk memperinci program mereka sendiri.

SBY, dengan pengalaman politiknya, memiliki pemahaman yang baik dalam konsep-konsep kenegaraan, seperti demokrasi dan otonomi daerah. Saya rasa sikap beliau untuk selalu mengikuti undang-undang menunjukkan pola kerja yang tepat untuk negara demokrasi. Sayangnya, kebanyakan orang tidak peduli undang-undang. Sikap antipati terhadap politik dan beban pikiran sehari-hari membuat masyarakat ingin solusi cepat—yang kalau perlu melabrak undang-undang.

Ini yang membuat penampilan JK terlihat istimewa. JK tidak banyak pusing membahas undang-undang, beliau lebih banyak berkelakar soal hal-hal di lapangan. Dengan ekspresi yang jenaka dan jawaban yang witty, JK telah menghibur kita. Akan tetapi JK tidak menunjukkan itikadnya untuk bekerja di bawah undang-undang. Menilik kebiasaan JK yang suka menerabas aturan, debat semalam belum menjawab keraguan saya.

Pak Tikno, menyimpan pertanyaan terakhir setelah para capres memaparkan pernyataan penutupnya. Apa yang akan dilakukan para capres jika kalah? Mega menjawab dengan singkat. SBY menjawab dengan gaya seorang negarawan. Jawaban JK jenaka dan cerdas.

Acungan jempol saya berikan kepada SBY dan JK yang selalu minta maaf sebelum menyerang lawannya, dan bersalaman setelah menyerang. Mungkin inilah yang disebut gaya berdebat ketimuran?

Secara umum terlihat bahwa SBY dan JK tidak memiliki perbedaan yang mendasar dalam melihat otonomi daerah, sementara Mega mungkin kurang lebih begitu. Yang jelas kita harus sangat bersyukur telah mampu melalui banyak rintangan menuju proses demokrasi yang semakin terbuka.


Tag: SBY, demokrasi, jk, megawati, debat, otonomi daerah, debat capres, pada waktu saya jadi presiden dulu

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    gunawanrudy 0 0
    Kemaren malam nonton di warung burjo.

    Nggak tau kenapa orang-orang yang nonton bareng sama saya pada bilang "moderatornya nggak sopan tuh, suka memotong pembicaraan orang." : ))
    Funkshit 0 0
    rudyat telly
    maksudnya, moderator selalu memotong kalimat2 nya megawati ya : ))
    gunawanrudy 0 0
    Funkshit:
    Bisa dimaklumi mungkin, warung burjonya basis fanboy Prabowo tuh. : ))

    *hikmah malam itu: ya nanti saya akan beli TV sendiri*
    Blogpreneur 0 0
    secara singkat mega selalu menggunakan "pada waktu" jadi seakan2 waktu itu semua adalah momen terbaik... padahal semua nya punya hal yg disukai dan ngak disukai..


    yang terakhir, saya sendiri lebih suka kalau semua presiden mau bersatu ... atau sekalian aja. kita lanjutkan birokrasi namun dengan lebih cepat yang penting kemauan rakyat terpenuhi...

    karna esensi dasarny adalah, yang penting rakyat bukan birokrasi..
    Aad Gym 1 suka | 0
    SBY & JK yang selalu saling meminta maaf menurut saya bisa menjadi pendidikan Politik yang baik bagi masyarakat, meskipun berbeda dan saling mengkritik tapi tetap harus saling menghormati dan menghargai
    Engelberth Marien 0 0
    Mega ngk on time, JK is okey tampil bagai sang professor,...SBY????

    spertix JK bakal melanjutkan tongkat estafet SBY...dengan lebih cepat lebih baik kalo JK yg mimpin.

    dewanto 0 0
    debat hanya wacana bukan tolak ukur sebenarnya . seorang pemimpin harus membuktikan kebenaran ucapannya dengan bukti.
    jangan hanya pintar berbicara atau berdebat .
    Sutan 0 0
    All : se 7

    Silahkan login untuk memberikan pendapat